Anda di halaman 1dari 87

RINGKASAN EKSEKUTIF

Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan KPHL IV Seluma bertujuan untuk menyusun


rencana strategis pengelolaan hutan sebagai bahan acuan atau pedoman pelaksanaan dan standar
evaluasi proses pembangunan guna memberikan arah dan bentuk yang jelas tentang berbagai hal
yang terkait dengan penyusunan rencana pengelolaan hutan yang komprehensif dengan tetap
berpedoman pada pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Kesatuan pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit IV Seluma ditetapkan sebagai
Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu sesuai Keputusan
Menteri Menteri Kehutanan nomor: 643/MENHUT-II/2013 seluas ± 82.240 ha, yang terdiri dari
Hutan Lindung (HL) Bukit Sanggul seluas 66.533,80 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas
15.708,2 ha yang terdiri dari HPT Bukit Badas 10.598, 70 ha, HPT Talo 2.282 ha, HPT Bukit
Rabang 2.827,50 ha, dan meliputi beberapa Resort Pengelolaan Hutan (RPH) yaitu RPH
Pilubang, RPH Seluma, RPH Talo, RPH Alas dan tersebar mulai dari Kecamatan Lubuk Sandi,
Seluma Utara, Ulu Talo, Semidang Alas. Hutan Lindung KPHL Seluma Unit IV dibagi menjadi
2 blok yaitu Blok inti seluas 34.535,8 ha dan Blok Pemanfaatan seluas 31.998,0 sedangkan HPT
dibagi menjadi 4 blok yang terdiri dari Blok Perlindungan seluas 383,0 ha, Blok Pemanfaatan
HHK-HA seluas 4.813,2 ha, Blok Pemanfaatan Kawasan seluas 3.549,0 ha dan Blok
Pemberdayaan seluas 6.963,0 ha.
Organisasi pengelolaan telah ditetapkan melalui SK Bupati nomor: 22 Tahun 2014 yang
membentuk UPTD pada dinas Kehutanan Kabupaten Seluma. Organisasi KPHL dalam bentuk
UPT ini dikepalai oleh Kepala KPH (eselon IVa), dibantu Kasubag TU (Eselon IV b) dan
kelompok fungsional selaku kepala resort KPHL.
Pada wilayah kerja KPHL IV Seluma telah berlangsung Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan
(IPPKH) yaitu IPPKH PT. Bara Indah Lestari seluas 991,27 ha, PT Ratu Samban Mining seluas
127,61 ha dan PT Energy Swa Dinamika seluas 31.984,88 ha.

|i
Wilayah tertentu pada KPHL Unit IV Seluma memiliki luas 26.632,2 ha antara lain:

1. Blok Pemberdayaan seluas 6.963 Ha.


2. Blok Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) tanaman
Jelutung dan dammar mata kucing seluas 4.813,20 Ha.
3. Blok Pemanfaatan untuk Hkm, HD seluas 14.856,0 Ha
Visi KPHL Unit IV Seluma adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN HUTAN
LESTARI MELALUI PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN MENUJU KPHL
MANDIRI, MASYARAKAT SEJAHTERA.
Untuk mencapi visinya, KPHLUnit IV Seluma memiliki misi sebagai berikut:
1. Membangun kelembagaan pengelolaan hutan di tingkat tapak melalui penguatan kapasitas
organisasi KPHL dengan merekrut dan melatih tenaga teknis kehutanan yang kompeten
serta pelibatan masyarakat secara aktif.
2. Memantapkan kawasan di wilayah KPHL.
3. Membuka peluang dan mendorong investasi dalam pemanfaatan jasa lingkungan hutan dan
hasil hutan kayu maupun non kayu guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4. Memberdayakan masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga masyarakat desa
hutan, bimbingan teknis, pengembangan lembaga perekonomian petani hutan agar
masyarakat mandiri.
5. Merehabilitasi hutan yang rusak dengan tanaman kayu-kayuan/MPTS sebagai sumber
kehidupan masyarakat dan melindungi tanah dan tata air serta melindungi keragaman
hayati yang ada di dalam hutan.

Adapun tujuan pengelolaan hutan yang akan dicapai oleh KPHL Seluma Unit IV pada akhir
jangka pengelolaan tahun 2025 adalah :
1. Menjamin tata air kebutahan didalam dan diluar kawasan hutan
2. Meningkatkan kesejahteraan taraf hidup masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan
melalui pemberdayaan masyarakat
3. Membangun jaringan bisnis dengan pihak investor
4. Mewujudkan KPHL yang mandiri

Oleh karena itu, melalui kegiatan penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
(RPHJP) oleh KPHL Unit IV Seluma diharapkan informasi yang dimiliki oleh KPHL Unit IV

|ii
Seluma yang meliputi kondisi kawasan baik biofisik, sosial, ekonomi, kelembagaan dilengkapi
dengan isu dan permasalahan serta tantangan yang dihadapinya dapat tersusun sebagai sebuah
baseline data yang menjadi dasar dalam penentuan prioritaspengelolaan. Sehingga kedepannya
dapat memberikan hasil yang sesuai denganrencana dan target dari dibentuknya KPHL Unit IV
Seluma.

|iii
KATA PENGANTAR

Hutan merupakan sumberdaya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga
harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Lindung (KPHL)
Unit IV Seluma, Kabupaten Seluma merupakan usaha pemerintah untuk mewujudkan
pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Agar pengelolaan hutan berjalan efektif maka disusunlah
buku Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) Kesatuan Pengelolaan Hutan
Lindung (KPHL) Unit IV Seluma.
Rencana Pengelolaan ini disusun berdasarkan pada kajian potensi biogeofisik dan aspek
sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar hutan serta mempertimbangkan visi dan misi
Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah Kabupaten Seluma. Dengan adanya rencana jangka
panjang ini pengelola KPHLUnit IV Seluma memiliki pedoman untuk melaksanakan kegiatan
selama sepuluh tahun mendatang. Dalam waktu lima tahun rencana ini dapat dievaluasi dan
direvisi jika perlu sesuai dengan perkembangan kebijakan pemerintah dan dinamika masyarakat.
Kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan Rencana
Pengelolaan ini diucapkan terima kasih.

Seluma, Oktober 2016


Kepala KPHL Seluma Unit IV

Immer Nainggolan, S.P


NIP.19630429 199303 1003

|iv
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................................ i

Daftar Isi ....................................................................................................................... ii

Daftar Tabel .................................................................................................................. v

Daftar Gambar.............................................................................................................. viii

I. PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2. Tujuan ......................................................................................................... 2
1.3. Sasaran ........................................................................................................ 2
1.4. Ruang Lingkup ............................................................................................ 2
1.5. Batasan / Pengertian ..................................................................................... 3

II. DESKRIPSI KAWASAN .................................................................................... 7


2.1. Risalah Wilayah KPHL SELUMA UNIT IV................................................. 7
2.1.1. Letak dan Luas Wilayah KPHL Seluma Unit IV ............................. 7
2.1.2. Fungsi Kawasan ............................................................................. 9
2.1.3. Pembagian Blok dan Petak KPHL Seluma Unit IV ......................... 10
2.1.4. Wilayah Resort KPHL Seluma Unit IV .......................................... 10
2.1.5. Iklim ............................................................................................. 13
2.1.6. Topografi ...................................................................................... 14
2.1.7. Hidrologi ...................................................................................... 15
2.1.8. Geologi dan Tanah ........................................................................ 16
2.1.9. Aksesbilitas ................................................................................... 18
2.2. Potensi Wilayah KPHL UNIT IV SELUMA ................................................ 21
2.2.1. Kondisi Penutupan Vegetasi ........................................................... 21
2.2.2. Potensi Kayu dan Bukan Kayu ....................................................... 23
2.2.3. Potensi Jasa Lingkungan ................................................................ 23
2.2.4. Potensi Satwa ................................................................................. 24
2.3. Keadaan Sosial Budaya Masyarakat ............................................................. 25
2.3.1. Wilayah Administrasi Desa Sekitar Kawasan KPHL Seluma Unit IV ...... 25
2.3.2. Kepadatan Penduduk ...................................................................... 26
2.3.3. Sejarah Perambahan di KPHL Seluma Unit IV ................................ 27
2.3.4. Mata Pencaharian ............................................................................ 28
2.3.5. Keberadaan Masyarakat Adat .......................................................... 28
2.3.6. Informasi ijin-Ijin Pemanfaatan ...................................................... 35
2.3.7. Kegiatan Kehutanan Pada Wilayah KPHL Seluma Unit IV ............ 37
2.4. Data Informasi Ijin-ijin Pemanfaatan ............................................................ 28

|ii
2.4.1. Kawasan Hutan Lindung ................................................................. 28
2.4.2. Kawasan Hutan Produksi Terbatas .................................................. 29
2.4.3. Rehabilitasi Kawasan Hutan ............................................................ 30
2.4.4. Kegiatan Pembangunan Kehutanan Pada Wilayah KPHL Seluma
Unit IV............................................................................................ 31
2.5. Posisi Areal Kerja Dalam Tata Ruang Wilayah dan Pengembangan Daerah .. 32
2.6. Organisasi KPHL Unit IV Seluma ............................................................... 32
2.7. Manajemen Sumberdaya Manusia Organisasi KPHL ................................... 34
2.8. Isu Strategis, Kendala dan Permasalahan ..................................................... 34
2.8.1. Isu Strategis ................................................................................... 34
2.8.2. Kendala ........................................................................................... 36
2.8.3. Permasalahan .................................................................................. 37

III. VISI DAN MISI KPHL UNIT IV SELUMA ..................................................... 38


3.1. Visi .............................................................................................................. 38
3.2. Misi ............................................................................................................. 39

IV. ANALISIS DAN PROYEKSI ............................................................................. 40


4.1. Analisis Data dan Informasi ......................................................................... 40
4.1.1. Kelembagaan dan Organisasi KPHL Unit IV Seluma ..................... 40
4.1.2. Kondisi Hutan ................................................................................ 41
4.1.3. Potensi Jasa Lingkungan ................................................................ 41
4.1.4. Adat Budaya Masyarakat Setempat ................................................ 42
4.1.5. Kegiatan Ekonomi Masyarakat dan Ketegantungan
Terhadap Hutan .............................................................................. 42
4.2. Proyeksi Kondisi Wilayah ............................................................................ 43
4.2.1. Keserasian Pembangunan KPHL Unit IV Seluma
Dengan Pembangunan Daerah ........................................................ 43
4.2.2. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat ........................................ 44
4.3. Analisis Strategi Pengembangan KPHL Unit IV Seluma .............................. 44
4.3.1. Strategi Memakai Kekuatan Untuk Memanfaatkan Peluang ........... 44
4.3.2. Strategi Mengatasi Kelamahan dengan Memanfaatkan
Peluang .......................................................................................... 48
4.3.3. Strategi Memanfaatkan Kekuatan untuk Mengatasi
Ancaman ........................................................................................ 48
4.3.4. Strategi Memperkecil Kelemahan dan Mengatasi
Ancaman ........................................................................................ 49

V. RENCANA KEGIATAN ..................................................................................... 50


5.1. Rencana Inventariasi Berkala Wilayah Kelola KPHL ................................... 53
5.1.1. Inventarisasi ................................................................................... 53
|iii
5.1.2. Penataan Kawasan Hutan ............................................................... 54
5.2. Pemanfaatan Hutan Pada Wilayah Tertentu ................................................. 55
5.3. Pemberdayaan Masyarakat ........................................................................... 56
5.4. Pembinaan dan Pemantauan pada Areal KPHL Berijin dan Blok Pemanfaatan
Kawasan ...................................................................................................... 58
5.5. Penyelenggaraan Rehabilitasi ....................................................................... 59
5.6. Pembinaan dan Pemantauan Pelaksanaan Rehabilitasi ................................. 61
5.7. Penyelenggaraan Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam ........................ 61
5.8. Penyelenggaraan Koordinasi dan Sinkronisasi Pemegang Ijin ...................... 62
5.9. Koordinasi dan Sinergi dengan Stakeholder Terkait ..................................... 63
5.10. Penyediaan dan Peningkatan Kapasitas SDM ............................................... 63
5.11. Penyediaan Pendanaan ................................................................................. 65
5.12. Peningkatan Sarana dan Prasarana ................................................................ 65
5.13. Pengembangan Database .............................................................................. 66
5.14. Rasionalisasi Wilayah Kelola ....................................................................... 67
5.15. Review Rencana Pengelolaan ...................................................................... 68
5.16. Pengembangan Investasi .............................................................................. 69

VI. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN ............................... 70


6.1. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Ijin Pemanfaatan Kawasan
Hutan di Wilayah KPHL Seluma Unit IV .................................................... 70
6.2. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Ijin Penggunaan Kawasan
Hutan di Wilayah KPHL Seluma Unit IV .................................................... 71
6.3. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Rehabilitasi Hutan di Wilayah
KPHL Seluma Unit IV ................................................................................. 71

VII. PEMANTAUAN, EVALUASI, DAN PELAPORAN ......................................... 73


7.1. Pemantuan ................................................................................................... 73
7.2. Evaluasi ....................................................................................................... 73
7.3. Pelaporan ..................................................................................................... 74

VIII. PENUTUP ........................................................................................................... 75

|iv
DAFTAR TABEL
Tabel

1. Sebaran Administratif Kawasan KPHL Unit IV Seluma .................................... 8

2. Fungsi dan Luas di KPHL Unit IV Seluma ........................................................ 9

3. Pembagian Blok Pengelolaan KPHL Unit IV Seluma ....................................... 10

4. Pembagian RPH, Blok dan Petak KPHL Unit IV Seluma .................................. 11

5. Hari Hujan dan Curah Hujan Wilayah KPHL Seluma Unit IV ........................... 13

6. Klasifikasi Curah Hujan di KPHL Seluma Unit IV ............................................ 14

7. Tingkat Kelerengan KPHL Seluma Unit IV....................................................... 14

8. Daerah Aliran Sungai (DAS) Wilayah KPHL Seluma Unit IV .......................... 16

9. Kondisi Batuan KPHL Seluma Unit IV ............................................................. 17

10. Jenis Tanah di KPHL Seluma Unit IV ............................................................... 17

11. Aksesbilitas KPHL Seluma Unit IV .................................................................. 19

12. Tutupan Kawasan Hutan KPHL Unit IV Seluma ............................................... 21

13. Jenis dan Luas Tutupan Lahan KPHL Seluma Unit IV ...................................... 22

14. Potensi Pemanfaatan Jasa Lingkungan PLTMH................................................. 24

15. Jenis-Jenis Satwa di KPHL Seluma Unit IV. ..................................................... 25

16. Wilayah Administrasi Desa Sekitar Wilayah KPHL Seluma Unit IV ................. 25

17. Desa definitif di dalam kawasan KPHL ............................................................. 26

18. Jumlah Penduduk KPHL Seluma Unit IV .......................................................... 26

19. Jumlah Kepala Keluarga (KK) KPHL Seluma Unit IV ...................................... 27

20. Ijin Pemanfaatan Kawasan di Hutan Lindung KPHL Seluma Unit IV ................ 29

|v
21. Ijin Pemanfaatan di HPT Seluma Unit IV .......................................................... 29

22. Ijin Pinjam Pakai Kawasan di HPT KPHL Seluma Unit IV ............................... 30

23. Lahan Kritis di KPHL Seluma Unit IV .............................................................. 31

24. Pelaksanaan Kegiatan KPHL Seluma Unit IV Tahun 2015-2016 ....................... 31

25. Analisis SWOT ................................................................................................. 47

26. Rencana Kegiatan dan Arahan kegiatan jangka panjang di KPHL


Unit IV Seluma ............................................................................................... 50

27. Rencana Kegiatan Inventarisasi dan Penataan Hutan .................................. 54

28. Kegiatan Pemanfaatan Wilayah Tertentu ...................................................... 55

29. Rencana Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat ............................................. 58

30. Rencana Kegiatan Pembianaan dan Pemantauan Areal berijin dan

Areal pemanfaatan ......................................................................................... 59

31. Rencana Kegiatan Rehabilitasi .................................................................... 60

32. Rencana Kegiatan Pembinaan dan Pemantauan.......................................... 61

33. Rencana Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Alam ...................................... 62

34. Rencana Kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi ................................................. 63

35. Rencana Kegiatan Koordinasi dan Sinergi dengan Instansi Terkait .................... 63

36. Jumlah Personil di KPHL Seluma Unit IV......................................................... 64

37. Perkiraan Sumber Pembiayaan (%) KPHL Unit IV Seluma .............................. 65

38. Rencana Kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana ........................................ 66

39. Rencana Kegiatan Pengembangan Database ............................................... 67

40. Rencana Kegiatan Review Rencana Pengelolaan ............................................... 68

|vi
41. Rencana Pengembangan Investasi ..................................................................... 69

|vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar

1. Peta Wilayah KPHL Seluma Unit IV ................................................................ 8

2. Peta Fungsi Kawasan KPHL Unit IV Seluma ................................................... 9

3. Peta Pembagian Blok dan Petak KPHL Unit IV Seluma .................................... 10

4. Peta Pembagian RPH KPHL Unit IV Seluma .................................................... 11

5. Peta RPH Pilubang KPHL Seluma Unit IV........................................................ 12

6. Peta RPH Seluma KPHL Seluma Unit IV .......................................................... 12

7. Peta RPH Talo KPHL Seluma Unit IV .............................................................. 12

8. Peta RPH Alas KPHL Seluma Unit IV .............................................................. 13

9. Peta Curah Hujan Wilayah KPHL Seluma Unit IV ............................................ 14

10. Peta Topografi KPHL Seluma Unit IV .............................................................. 15

11. Peta Das Wilayah KPHL Seluma Unit IV .......................................................... 16

12. Peta Geologi KPHL Seluma Unit IV ................................................................. 18

13. Peta Tanah KPHL Seluma Unit IV .................................................................... 18

14. Peta Aksesbilitas KPHL Seluma Unit IV ........................................................... 20

15. Peta Jalan Tembus Padang Capo (Bengkulu)- Air Kelinsar (Sumsel) ................. 20

16. Peta Tutupan Lahan KPHL Seluma Unit IV ...................................................... 22

17. Peta Ijin Penggunaan di Kawasan KPHL Seluma Unit IV ................................. 30

18. Peta Lahan Kritis KPHL Seluma Unit IV .......................................................... 31

19. Struktur Organisasi KPHL Seluma Unit IV ....................................................... 41

20. Konsep Alur Instrument Kegiatan Menuju Dampak .......................................... 50

|viii
|ix
BAB. I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945, Hutan merupakan sumberdaya
alam yang menyangkut hajat orang banyak sehingga harus dikelola untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Terlebih Hutan Lindung yang karena keadaan sifat alamnya
diperuntukkan guna mengatur tata air, pencegahan banjir dan erosi serta memelihara
kesuburan tanah, harus dikelola dengan baik sesuai amanah Undang Undang 41 Tahun 1999.
Sejak era reformasi dan penyerahan kewenangan dari pusat ke pemerintah daerah, kondisi
hutan lindung semakin mengalami degradasi baik fungsi maupun kawasannya.
Pemerintah melalui PP nomor 6 Tahun 2007 dan aturan perubahannya PP nomor 3
Tahun 2008 berupaya untuk mengelola setiap jengkal kawasan hutan sesuai yang
diamanatkan dalam Undang-Undang nomor 41 Tahun 1999. Untuk dapat mengelola hutan
secara efektif dan lestari maka diperlukan organisasi pengelola tingkat tapak, yang akan
memahami betul permasalahan di lapangan. Organisasi ini disebut Kesatuan Pengelolaan
Hutan. Konsep KPH sudah lama dikenal oleh rimbawan Indonesia dan sudah diterapkan di
Pulau Jawa. Dengan terbentuknya KPH yang dilengkapi dengan tenaga-tenaga teknis
kehutanan yang kompeten diharapkan pengelolaan hutan yang lestari dapat diwujudkan dan
dalam jangka panjang seluruh kawasan hutan di Indonesia akan terbagi habis dalam KPH.
Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit IV Seluma telah dicadangkan
wilayah kelolanya melalui Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 643/MENHUT-II/2013
seluas 82.242 Ha. Organisasi pengelolaannya juga telah ditetapkan melalui SK Bupati nomor:
22 Tahun 2014 yang membentuk UPTD pada dinas Kehutanan Kabupaten Seluma. Organisasi
KPHL dalam bentuk UPT ini dikepalai oleh Kepala KPH (eselon IVa), dibantu Kasubag TU
(Eselon IV b) dan kelompok fungsional selaku kepala resort KPHL. Peraturan Bupati ini
diperlukan sebagai dasar awal untuk mengikuti Permendagri No. 61 Tahun 2010 yang
mengamanahkan bentuk organisasi KPHL ditetapkan dengan Peraturan Daerah, dan
bertanggung jawab kepada Gubernur atau Bupati / Walikota melalui Sekretaris Daerah.
Untuk melaksanakan pengelolaan KPH, pengelola KPH memerlukan pedoman berupa
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (berlaku 10 tahun) yang selanjutnya dijabarkan
dalam rencana jangka pendek. Penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang ini mengikuti
petunjuk teknis tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan kesatuan pengelolaan hutan

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |1


yang diterbitkan oleh Dirjen Planologi. Rencana ini didasarkan pada visi dan misi yang
dijabarkan sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial di lapangan dan dengan
mempertimbangkan visi Kementerian Kehutanan, Pemerintah daerah Provinsi Bengkulu dan
Pemerintah Daerah Kabupaten Seluma.

1.2. Tujuan
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) KPHL Unit IV Seluma bertujuan
untuk :
1. Terselenggaranya pengelolaan hutan lestari wilayah kelola KPHL Seluma Unit IV
2. Terwujudnya bisnis bidang kehutanan dengan core bisnis kayu jelutung, bambang
lanang, pala, HHBK berupa dammar, budidaya dan pemungutan madu serta jasa
lingkungan melalui PLMTH dan objek wisata dengan melalui pembentukan kelompok
tani, HKm dan pembentukan koperasi
3. Terwujudnya masyarakat yang sejahtera baik dari segi pendidikan serta terpenuhinya
sandang dan pangan
4. Terwujudnya pengelolaan KPHLyang mandiri.

1.3. Sasaran
Dengan adanya rencana pengelolaan jangka panjang ini diharapkan menjadi acuan bagi
rencana pengelolaan jangka pendek dalam mewujudkan kelestarian fungsi dan manfaat dari
KPHL IV Seluma untuk membangun hutan yang produktif dan lestari serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.

1.4. Ruang lingkup


Ruang lingkup dari RPHJP KPHL Unit IV Seluma meliputi:

1. Perencanaan pengembangan kelembagaan sesuai Visi Misi KPHL Unit IV Seluma


2. Perencanaan pengembangan sumberdaya manusia KPHL Unit IV Seluma
3. Perencanaan pengembangan infrastruktur pendukung operasional KPHL Unit IV
Seluma
4. Perencanaan pengembangan investasi, pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun non
kayu (HHBK), jasa lingkungan hutan guna meningkatkan kemandirian KPHL,
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penerimaan daerah

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |2


5. Perencanaan rehabilitasi hutan Hutan Produksi dan Hutan Lindung untuk fungsi
perlindungan dan konservasi kawasan hutan dalam wilayah KPHL Unit IV Seluma
6. Perencanaan tata batas dan pendataan KPHL Unit IV Seluma sesuai fungsinya.
7. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian.
8. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan.

1.6. Batasan / Pengertian


1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya
alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya,
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/ atau ditetapkan oleh
Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
3. Pengelolaan Hutan adalah kegiatan yang meliputi tata hutan dan penyusunan rencana
pengelolaan hutan; pemanfaatan hutan; penggunaan kawasan hutan; rehabilitasi dan
reklamasi hutan; perlindungan hutan dan konservasi alam.
4. Pemanfaatan hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan,
memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan kayu dan bukan kayu serta
memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu secara optimal dan adil untuk
kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestariannya.
5. Penggunaan kawasan hutan merupakan penggunaan untuk kepentingan pembangunan
di luar kehutanan tanpa mengubah status dan fungsi pokok kawasan hutan.
6. Rehabilitasi hutan dan lahan adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan
peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
7. Perlindungan hutan adalah usaha untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan,
kawasan hutan dan hasil hutan, yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak,
kebakaran, daya-daya alam, hama dan penyakit, serta mempertahankan dan menjaga
hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan,
investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.
8. Tata Batas dalam wilayah KPH adalah melakukan penataan batas dalam wilayah
kelola KPH berdasarkan pembagian Blok dan petak.
9. Inventarisasi hutan adalah rangkaian kegiatan pengumpulan data untuk mengetahui
keadaan dan potensi sumber daya hutan serta lingkungannya secara lengkap.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |3


10. Blok adalah bagian wilayah KPH yang dibuat relatif permanen untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pengelolaan.
11. Petak adalah bagian dari blok dengan luasan tertentu dan menjadi unit usaha
pemanfaatan terkecil yang mendapat perlakuan pengelolaan atau silvikultur yang
sama.
12. Kesatuan Pengelolaan Hutan selanjutnya disebut KPH adalah wilayah pengelolaan
hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien dan
lestari.
13. Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung selanjutnya disebut KPHL adalah KPH yang
luas wilayahnya seluruh atau sebagian besar terdiri dari kawasan hutan lindung.
14. Wilayah tertentu adalah wilayah hutan yang situasi dan kondisinya belum menarik
bagi pihak ketiga untuk mengembangkan usaha pemanfaatannya.
15. Pengukuhan Kawasan Hutan adalah rangkaian kegiatan penunjukan, penataan batas,
pemetaan dan penetapan kawasan hutan dengan tujuan untuk memberikan kepastian
hukum atas status, letak, batas dan luas kawasan hutan.
16. Penunjukan Kawasan Hutan adalah penetapan awal peruntukan suatuwilayah tertentu
sebagai kawasan hutan.
17. Penataan Batas Kawasan Hutan adalah kegiatan yang meliputi proyeksibatas,
pemancangan patok batas, pengumuman, inventarisasi danpenyelesaian hak-hak pihak
ketiga, pemasangan pal batas, pengukurandan pemetaan serta pembuatan Berita Acara
Tata Batas.
18. Penetapan Kawasan Hutan adalah suatu penegasan tentang kepastianhukum mengenai
status, batas dan luas suatu kawasan hutan menjadi kawasan hutan tetap.
19. Penataan Hutan (Tata Hutan) adalah kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan,
mencakup pengelompokan sumber daya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan
potensi yang terkandung didalamnya dengantujuan untuk memperoleh manfaat yang
sebesar-besarnya bagi masyarakatsecara lestari.
20. Pinjam Pakai Kawasan Hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasanhutan kepada
pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatankehutanan tanpa
mengubah status, peruntukan dan fungsi kawasan tersebut.
21. Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) adalah suatu model pengelolaan suatukawasan hutan
yang dapat memberikan manfaat ekologis, ekonomis, sosialdan fungsi poduksi yang
dikelola secara optimal dan lestari.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |4


22. Rencana Pengelolaan Hutan KPH adalah suatu rencana induk pengelolaan hutan
jangka panjang KPH yang memuat unsur-unsur tujuan yang akan dicapai, kondisi
yang dihadapi, dan strategi kelayakan pengembangan pengelolaan hutan, yang
meliputi tata hutan, rehabilitasi dan reklamasi hutan, perlindungan hutan dan
konservasi alam, serta pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan.
23. Rehabilitasi Hutan dan Lahan adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan
peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
24. Hutan/Lahan Kritis adalah hutan/lahan yang berada di dalam dan di luar kawasan
hutan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai media pengatur tata air dan unsur
produktivitas lahan sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem
DAS.
25. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan,
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami,
yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan
daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
26. Hutan Kemasyarakatan (HKm) adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya
ditujukan untuk memberdayakan masyarakat.
27. Pemanfaatan Jasa Lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan potensi jasa
lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya.
28. Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan
mengusahakan hasil hutan berupa kayu dengan tidak merusak lingkungan dan tidak
mengurangi fungsi pokoknya.
29. Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan
mengusahakan hasil hutan berupa bukan kayu dengan tidak merusak lingkungan dan
tidak mengurangi fungsi pokoknya.
30. Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL) adalah izin usaha yang diberikan
untuk memanfaatkan jasa lingkungan pada hutan lindung dan/atau hutan produksi.
31. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan/atau Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK) adalah izin usaha yang diberikan
untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dan/atau bukan kayu dalam hutan alam
pada hutan produksi melalui kegiatan pemanenan atau penebangan, pengayaan,
pemeliharaan dan pemasaran.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |5


32. Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK) adalah izin untuk mengambil
hasil hutan berupa bukan kayu pada hutan lindung dan/atau hutan produksi antara lain
berupa rotan, madu, buah-buahan, getah getahan, tanaman obat-obatan, untuk jangka
waktu dan volume tertentu.
33. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) adalah pungutan yang dikenakan kepada
pemegang izin sebagai pengganti nilai intrinsik dari hasil hutan yang dipungut dari
hutan negara.
34. Kemitraan kehutanan adalah kerjasama antara masyarakat setempat dengan pemegang
izin pemanfaatan hutan atau pengelola hutan, pemegang izin usaha industri primer
hasil hutan, dan/atau Kesatuan

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |6


BAB. II
DESKRIPSI KAWASAN

2.1 Risalah Wilayah KPHL UNIT IV SELUMA


2.1.1. Letak dan Luas Wilayah KPHL Unit IV Seluma
Wilayah adminstrasi KPHL Seluma Unit IV berada dalam beberapa kecamatan yang
terkait dengan keberadaan kawasan KPHL Unit IV Seluma yaitu Kecamatan Lubuk Sandi,
Seluma Utara, Ulu Talo dan Semidang Alas .
Secara geografis, KPHL Seluma Unit IV terletak antara 102°33’20” BT 102°59’58”
BT dan 03°48’03”LS 04°12’48”LS. Adapun batas KPHL Seluma Unit IV sebagai berikut :
 Sebelah Barat berbatasan dengan APL / Pemukiman masyarakat dan Samudera
Hindia
 Sebelah Timur berbatasan dengan kawasan Hutan Lindung Kabupaten Seluma
dan Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan.
 Sebelah utara berbatasan dengan kawasan hutan, Kabupaten Bengkulu Tengah
dan Kabupaten Lintang Empat Lawang
 Sebelah selatan berbatasan dengan Hutan lindung dan Hutan Produksi Terbatas
Kabupaten Bengkulu Selatan

Pencadangan 7 (tujuh) unit KPH di provinsi Bengkulu beserta luas komponen hutan
yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 91/Menhut-II/2010. Luas yang
tercantum dalam tabel di bawah telah dihitung kembali dan disesuaikan dengan hasil revisi
kawasan hutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 643/Menhut-II/2011 dan
No 784/Menhut-II/2012. KPHL Seluma Unit IV telah dicadangkan wilayah kelolanya melalui
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK 643/MENHUT-II/2013 seluas 82.242 Ha, dengan
rincian :

 Hutan Lindung (HL) seluas 66.533,80 ha


 Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 15.708,20 ha, terdiri atas HPT Bukit
Badas, HPT Air Talo dan HPT Bukit Rabang

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |7


Tabel 2.1. Sebaran administrasi Wilayah KPHL Seluma Unit IV
No Kawasan Hutan Kecamatan Desa sekitar
Lubuk Sandi Padang Capo Ulu, Padang Capo Ilir, Cawang, Rena
1. Hutan Lindung Panjang, Talang Giring, Dusun Tengah, Arang
Bukit Sanggul Safat, Lubuk Terentang, Talang Kebun, Air
Periukan, Muara Timput dan Napal Jungur
Seluma Utara Lubuk Resam, Talang Empat, Selinsingan, Rupit
Semidang Alas Kayu elang, Rena Gajah mati I, Rena Gajah Mati II,
Mekar Sari Mukti, Napalan , Muara Dua
Ulu Talo Hargo Binangun, Mekar Jaya, Pagar Banyu, Muara
Nibung, P. Agung , Talang Panjang
2. Hutan Produksi Seluma Utara Lubuk Resam, Talang Empat, Puguk, Sinar Pagi,
Terbatas Bukit Sekalak, Talang Beringin, Simpang, Talang Sawah
Badas
3. Hutan Produksi Ulu Talo Hargo Binangun, Mekar Jaya, Pagar Banyu, Air
terbatas Air Talo Keruh, Air Keruh, Simpur Ijang, Giri Nanto, Giri
Mulya, Banyu Kencana, Muara Nibung
4. Hutan Produksi Semidang Alas Kayu elang, Rena Gajah mati I, Rena Gajah Mati II,
terbatas Bukit Mekar Sari Mukti, Napalan , Muara Dua Pajar
Rabang Bulan. Gunung Megang
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2015

Gambar 2.1. Peta wilayah KPHL Seluma Unit IV

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |8


2.1.2. Fungsi Kawasan
Kawasan hutan pada KPHL Seluma Unit IV menurut fungsinya terdiri dari Hutan
Lindung dan Hutan Produksi Terbatas. Total luas KPHL Seluma Unit IV adalah 82.242 ha.

Tabel 2.2. Fungsi dan Luas Kawasan KPHL Seluma Unit IV


No Fungsi Hutan Luas (Ha) Persentase
1 Hutan Lindung Bukit Sanggul (Reg. 37) 66.533,80 80,90
66.533,80
2 Hutan Produksi Terbatas 15.708,20
a. HPT Bukit Badas (Reg. 76) 10.598,70 12,89
b.HPT Air Talo (Reg. 77) 2.282,00 2,77
c.HPT Bukit Rabang (Reg. 78) 2.827,50 3,43
Jumlah 82.242,00 100
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Gambar 2.2. Peta Fungsi Kawasan KPHL Seluma Unit IV

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |9


2.1.3. Pembagian Blok KPHL Seluma Unit IV
KPHL Unit IV Seluma dibagi menjadi 7 (tujuh) blok besar yaitu Blok Inti, Blok
Pemanfaatan Jasa Lingkungan - HHBK, Blok Perlindungan, Blok Pemanfaatan HHK-HA,
Blok Pemanfaatan Kawasan dan Blok pemberdayaan.
Tabel 2.3. Pembagian blok pengelolaan KPHL Seluma Unit IV
Jumlah
No Fungsi Hutan Nama Blok Luas (Ha) Petak
Blok Inti 34.535,80 131
1 Hutan Lindung Blok Pemanfaatan Jasling dan
HHBK 31.998,00 187
Blok Perlindungan 383,00 -
Hutan Produksi Blok Pemanfaatan HHK-HA 4.813,20 48
2
Terbatas Blok Pemanfaatan Kawasan Hutan 3.549,00 32
Blok Pemberdayaan 6.963,00 70
Jumlah Total 82.242,00 468
Sumber : Peta Pembagian Blok KPHL Seluma Unit IV, 2016

Gambar 2.3. Peta Pembagian Blok dan Petak KPHL Seluma Unit IV

2.1.4. Wilayah Resort KPHL Seluma Unit IV


KPHL Unit IV Seluma dibagi menjadi 4 wilayah Resort Pengelolaan Hutan (RPH)
yaitu RPH Pilubang, RPH Seluma, RPH Talo dan RPH Alas. Pembagian wilayah RPH
tersebut didasarkan pada pertimbangan :

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |10


a. Tingkat kerusakan hutan
Kawasan hutan yang memiliki tingkat kerusakan yang tinggi membutuhkan skala
prioritas penanganan untuk memulihkan fungsi hutan.
b. Aksessibilitas kawasan
c. Pemusatan pemukiman penduduk

Tabel 2.4. Pembagian RPH, Blok dan Petak KPHL Unit IV Seluma.
LUAS Luasan dalam RPH (ha) Jumlah
No Nama Blok (ha) Pilubang Seluma Talo Alas Petak

1 HL Blok Inti 34.535,80 5.186,8 8.086,9 9.232,8 12.029,3 131


2 HL Blok Pemanfaatan 31.998,00 5.420,0 4.313,0 5.206,0 17.059,0 187
Jasling dan HHBK
3 HPT Blok Perlindungan 383,00 126 164 93 - -
4 HPT Blok Pemanfaatan 4.813,20 - - 2.105,6 2.707,6 48
HHK-HA
5 HPT Blok Pemanfaatan 3.549,00 1.118,8 2.430,2 - - 32
Kawasan
6 HPT Blok Pemberdayaan 6.963,00 6.483 480 - - 70
Total Luas 82.242,0 19.182,1 14.884,6 13.780,5 34.393,3 468
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Gambar 2.4. Peta Pembagian RPH KPHL Seluma Unit IV

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |11


Gambar 2.5. Peta RPH Pilubang KPHL Seluma Unit IV

Gambar 2.6. Peta RPH Seluma KPHL Seluma Unit IV

Gambar 2.7. Peta RPH Talo KPHL Seluma Unit IV

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |12


Gambar 2.8. Peta RPH Alas KPHL Seluma Unit IV

2.1.5. Iklim
Berdasarkan perhitungan dari beberapa stasiun klimatologi yang dekat dengan KPHL
Unit IV Seluma diketahui rata-rata curah hujan per tahunnya sebesar 2.659 mm dengan rata-
rata hari hujan 14 hari per bulan. Rata-rata bulan basah per tahun adalah 8 bulan dan rata-rata
bulan kering 2 bulan, sehingga diperoleh nilai Q sebesar 0,15. Berdasarkan klasifikasi Smith
dan Ferguson kawasan KPHL Unit IV Seluma termasuk dalam iklim tipe A. Jenis tanaman
yang akan ditanam disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.

Tabel 2.5. Hari Hujan dan Curah Hujan Wilayah KPHL Seluma Unit IV
Curah Hujan Hari Hujan Suhu Kelembaban
No Bulan (mm) Rata-rata
1 Januari 174 20 26,7 83
2 Februari 21 17 26,3 81
3 Maret 475 21 26 84
4 April 165 16 26,8 83
5 Mei 84 6 26,6 83
6 Juni 79 11 26,6 84
7 Juli 72 8 25,9 84
8 Agustus 227 15 26,2 85
9 September 190 20 26,4 85
10 Oktber 294 21 26,5 85
11 November 322 21 26,2 86
12 Desember 304 19 25,8 87
Sumber : Stasiun Klimatologi Pulai Bai,2015

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |13


Tabel 2.6. Klasifikasi Curah Hujan KPHL IV Seluma
No Klasifikasi Luas (Ha)
1 Sedang (1500-5200) 5,78
2 Agak tinggi (1400-5500) 46,49
3 Tinggi (1700-5500) 76.080,31
4 Sangat tinggi (1400-6000) 2.307,34
Sumber : Peta Curah Hujan BPKH XX Bandar Lampung, 2016

Gambar 2.9. Peta Curah Hujan Wilayah KPHL Seluma Unit IV

2.1.6. Topografi
Luas dan prosentase untuk masing-masing tingkat kelerengan secara detail disajikan
pada Tabel 2.7.
Tabel 2.7. Tingkat Kelerengan KPHL Seluma Unit IV
Luas Prosentase
No Tingkat Kelerengan
(Ha) (%)
1. Datar (300-700) 35.356,92 43
2. Landai (700-1000) 2.400,23 3
3. Agak Curam (900-1300) 224,68 1
4. Sangat Curam (1000-2000) 42.425,27 53
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Topografi di wilayah KPHL Seluma Unit IV didominasi perbukitan antara lain Bukit
Badas, Bukit Sanggul, Bukit Rabang. Berdasarkan tingkat kelerengan topografi, KPHL Unit
IV Seluma memiliki topografi landai sampai sangat curam. Sebagian besar kawasan KPHL

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |14


Unit IV Seluma mempunyai tingkat kelerengan sangat curam yaitu seluas 42.425,27 ha atau
sekitar 53% dari luas total KPHL Seluma Unit IV.
Dengan kondisi tersebut kedepannya sebagai KPH Lindung maka dalam
pengelolaannya perlu dilakukan secara bijak dengan teknik dan pola pengelolaan yang tepat,
sehingga akan diarahkan sebagai wilayah pemanfaatan secara terbatas serta lebih menekankan
pada aspek perlindungan mengingat kondisi topografinya yang sangat rentan untuk terjadinya
erosi dan degradasi lahan akibat faktor topografi.

Gambar 2.10. Peta Topografi KPHL Seluma Unit IV

2.1.7. Hidrologi
Di dalam Kawasan KPHL Unit IV Seluma terdapat beberapa daerah aliran sungai
(DAS) yaitu Nelas, Seluma, Talo, Kungkai, Alas, Manna dan Pino . Sungai Nelas yang
berhulu di kawasan hutan lindung Bukit Sanggul telah dimanfaatkan sebagai sumber air baku
PDAM Kota Bengkulu, sedangkan Sungai seluma dimanfaatkan untuk irigasi pertanian yaitu
bendung seluma. Di hulu sungai Nelas, tepatnya di Desa Padang Capo Ulu dan Desa Lubuk
Resam juga dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikoro Hidro, namun kondisinya saat ini
sudah tidak termanfaatkan lagi karena mengalami kerusakan dan masyarakat beralih ke aliran
listrik PLN.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |15


Tabel 2.8. Daerah Aliran Sungai (DAS) Wilayah KPHL Seluma Unit IV
No DAS Panjang (m) Lokasi
1. Kungkai 45 000 Kec. Lubuk Sandi
2. Seluma 80 000 Kec. Seluma Utara
3. Talo 38 750 Kec. Ulu Talo
4. Alas 56 250 Kec. Semidang Alas
5. Nelas Kec. Lubuk Sandi
6. Manna
7. Pino
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Gambar 2.11. Peta DAS Wilayah KPHL Seluma Unit IV

2.1.8. Geologi dan Tanah


Jenis batuan yang ditemukan di KPHL Unit IV Seluma adalah jenis batuan Batu Lava,
breksi dan tuf, andesit sampai bas, Batu pasir, batu lumpur dan batu bara . Jenis Lava, breksi
dan tuf, andesit sampai bas seluas 55.100,0 Ha ( 35 %) dan Batu pasir, batu lumpur dan batu
bara memiliki luas 26.316,0 Ha ( 25 %). Uraian mengenai sebaran jenis batuan di kawasan
Hutan Lindung Bukit Sanggul dapat dilihat pada Tabel 2.9.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |16


Tabel 2.9. Kondisi Batuan KPHL Seluma Unit IV
Penyebaran
No Jenis Batuan
Prosentasi (%)
1. Lava, breksi dan tuf, andesit sampai bas 35
2. Batu pasir, batu lumpur dan batu bara 25
3. Breksi dasitan, batu lumpur dan batu pasir 15
4. Batu lumpur dan batu pasir 15
5. Granit, granodorit, diorit 10
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Jenis tanah yang terdapat di KPHL Seluma unit IV, yang memiliki luasan paling besar
adalah kelompok Tropopsamments, Hydraquents, Psammaquents yaitu sekitar 30 % dari luasan
wilayah KPHL Seluma IV. Secara umum tanah ini lebih dikenal dengan jenis tanah grup
marine, yang merupakan tanah muda yang masih belum matang, sehingga masih memiliki
sifat/ciri dari bahan induknya untuk mengembangkan tanaman tahunan dalam meningkatkan
kesuburan tanah . Selengkapnya sebaran tanah di KPHL Seluma Unit IV disajikan di Tabel
2.10.

Tabel 2.10. Jenis Tanah KPHL Seluma Unit IV


Tingkat
No Jenis Tanah Kepekaan Luas Persentase
Erosi (ha) (%)
1. Tropopsamments, Hydraquents, Psammaquents Peka 19,755 30
2. Dystropepts, Eutrandepts, Humitropepts Peka 14,277 20
Dystropepts, Hapludults, Humitropepts, 7,692 15
3. Peka
Eutropepts
4. Tropopsamments, Tropofluvents Peka 7,008 13
5. Dystropepts, Haplohumults, Humitropepts Peka 6,489 10
6. Hapludults, Haplohumults, Humitropepts Peka 5,237 7
7. Dystropepts, Hapludults, Haplohumults, Peka 798 5
Humitropepts
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

Jenis tanah terbesar seluas 30 % kelompok Tropopsamments, Hydraquents,


Psammaquents atau yang dikenal secara umum sebagai tanah Entisols, tanah ini merupakan
tanah yang sangat muda, masih permulaan. Tanah ini sangat peka terhadap erosi karena masih
tanah muda, memiliki bahan organik rendah. Sehingga kegiatan pengelolaan memerlukan
tindakan yang konservatif. Tanah kelompok Dystropepts, Eutrandepts, Humitropepts
memiliki tingkat pelapukan tergolong sedang serta memiliki tingkat kesuburan tanah yang
relatif subur, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tanaman holtikultura hingga ke perkebunan
kelapa sawit, kakao dan kopi. Dan tanah ini tergolong peka terhadap erosi, karena umumnya

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |17


memiliki tekstur dari debu, lempung debu, hingga lempung sehingga pemanfaatan dan
pengelolaan tanah perlu memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah agar mampu
melindungi dari erosi.

Gambar 2.12. Peta Geologi KPHL Seluma Unit IV

Gambar 2.13. Peta Tanah KPHL Seluma Unit IV

2.1.9. Aksesbilitas
Akses menuju KPHL Unit IV Seluma ini dapat ditempuh melalui jalan darat dari
ibukota Provinsi maupun dari ibukota kabupaten Seluma yaitu Tais. Jarak terdekat dengan
ibukota kabupaten adalah wilayah Kecamatan Seluma Utara yang dapat ditempuh selama
lebih kurang 30 menit, sedangkan yang terjauh adalah wilayah Kecamatan Semidang Alas

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |18


yang memerlukan perjalanan 3,5 jam. Akses menuju desa-desa yang terdekat dengan kawasan
Unit IV Seluma umumnya jalan darat yang berupa jalan aspal dan jalan tanah. Di dalam
kawasan hutan KPHL Unit IV Seluma juga ditemukan jalan-jalan setapak yang sebagian juga
dapat dilalui dengan mengendarai sepeda motor yang digunakan juga untuk alat transportasi
menuju ke lahan garapan atau untuk pengangkutan hasil budidaya masyarakat dalam kawasan
KPHL Unit IV Seluma.
Aksesibilitas jalan di sekitar dan didalam KPHL Unit IV Seluma selengkapnya dapat
dilihat pada Tabel 2.11. dan Gambar 2.14.
Tabel 2.11. Aksesbilitas KPHL Seluma Unit IV
No Penggunaan Lokasi Jalan Panjang Ket
Jalan Jalan

1 Jln.Tambang eks. TB.SB.Kabu ± 20 Km Jln.Tanah/Batu Koral


PT.BBU HPT.B.Badas
2 Jln.Tambang TB.SB.Kabu ±25 Km Jln.Tanah/Batu Koral
PT.BIL HPT.B.Badas
3 Jln.Lubuk Resam HPT.B.Badas ±25 Km Jln.Aspal dan Jln.Tanah buatan TMMD
Akses Masyarakat Desa Sinar
pagi,Tl.Empat,Lb.Resam dan Sekalak
4 Jln.Tambang eks. HPT.B.Badas ±15 Km Eks Jln.Tambang namun masih
PT.Kili Suci HL.Bukit digunakan oleh masyarakat
Sanggul
5 Jln. Padang Capo TB. Semidang ± 23 Km Jalan Tembus dari Padang Capo
(Bengkulu)- Air Bukit Kabu dan Bengkulu) ke Air Kelinsar (Sumsel)
Kelinsar HL. Bukit
(Sumsel) Sanggul
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |19


Gambar 2.14. Peta Aksesbilitas KPHL Seluma Unit IV

Gambar 2.11. Peta jalan tembus Padang Capo (Bengkulu) – Air Kelinsar (Sumsel)

Sukaraja, Tumbuan, dan Tais merupakan nama-nama desa yang berada di lintas jalan
negara sehingga dapat diakses dari ibukota Provinsi Bengkulu maupun dari Ibukota
Kabupaten Seluma. Apabila menuju ke kawasan KPHL Unit IV Seluma maka harus
menggunakan mobil double gardan atau sepeda motor trail.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |20


2.2 Potensi Wilayah KPHL Seluma Unit IV
2.2.1. Kondisi Penutupan Vegetasi
Berdasarkan peta penutupan lahan KPHL Seluma Unit IV seperti Tabel 2.12 yang di
hasilkan dari hasil penafsiran Citra Lansat menunjukkan bahwa terdapat 7 kelas tutupan
lahan.

Tabel 2.12. Tutupan Kawasan Hutan KPHL Unit IV Seluma


No Fungsi Nama Fungsi Tutupan Luas(Ha) %
Kawasan Kawasan
1 Hutan HL BT. Hutan Lahan Kering Primer 44.049,48 53,56
Lindung Sanggul
Hutan Lahan Kering Sekunder 11.402,09 13,86

Semak Belukar 483,81 0,6

Perkebunan 614,90 0.7

Pertanian Campuran 9.507,34 11,6

Sawah 423,04 0,5

Lahan Terbuka 52,34 0,06

Jumlah 66.533,80

2 Hutan HPT Air Hutan Lahan Kering Primer


Produksi Talo 77,88
Terbatas 0,09
Hutan Lahan Kering Skunder 997,28
1,21
Semak Belukar 67,77
0,08
Perkebunan 715,58
0,87
Tubuh Air 5,71
0,007
Pertanian Campuran 398,94
0,48
Sawah 18,84
0,02
Jumlah 2.282,00

HPT Hutan Lahan Kering Skunder 7,02 0,009


Bukit
Badas
Semak Belukar 1.678,29 2,04

Pertanian Campuran 6.483,64 7,88

Sawah 2.429,75 2,95

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |21


Jumlah 10.598,70

HPT Bt Hutan Lahan Kering Primer 892,52 1,09


Rabang
Hutan Lahan Kering Skunder 1.004,23 1,22

Semak Belukar 67,27 0,08

Perkebunan 699,18 0,85

Pertanian Campuran 164,30 0,20

Jumlah 2.827,50

Total 82.242,00 100

Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2015

Gambar 2.12. Peta Tutupan Lahan KPHL Seluma Unit IV


Adapun jenis penutupan pada KPHL Unit IV Seluma berupa hutan primer, hutan
sekunder, dan kawasan perambahan (Gambar 2.12). Hutan primer pada Hutan Lindung
menempati luasan terbesar yaitu seluas 45.244,69 ha (55%), Hutan sekunder 13.436,18 ha
(16.3%), areal perambahan berupa kebun campur seluas 23.878,56 ha (29%) sisanya lahan
terbuka (52,34 ha) dan tubuh air (5,71 ha).

Tabel 2.13. Jenis dan Luas Tutupan Lahan KPHL Seluma Unit IV
No. Jenis Penutupan Luas (Ha) Presentase Jenis dominan
(%)
1. Hutan
a) Hutan Primer 45.244,69 55 Kelompok Balam,
b) Hutan Sekunder 13.436,18 16,3 kelompok meranti,
kelompok medang

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |22


2. Pertanian Campur 16.563,80 20 Kopi
Semak Belukar 2.297,14 2,7 Tanaman Belukar
Perkebunan 2.145,99 2,6 Kopi, Sawit
Sawah 2.871,63 3.4 Padi
Lahan Terbuka 52,34 0.063
Tubuh Air 5,71 0.007 Sungai
Total 82.242,00 100
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2015

2.2.2. Potensi Kayu dan Bukan Kayu

Wilayah KPHL Unit IV Seluma sebagian besar di sekitar kawasan hutan telah
dirambah oleh masyarakat untuk usaha perkebunan kopi. Sedangkan areal yang masih utuh
belum dirambah masyarakat berupa hutan tropis basah dengan vegetasi didominasi oleh
pepohonan yaitu kelompok meranti dan rimba campuran.
Kelompok Meranti masih mendominasi areal hutan dengan penutupan vegetasi yang
baik dan berpotensi sebagai penghasil hutan kayu dengan rata-rata volume diatas diameter 40
cm sebesar 115 m3/ha (data risalah Inven BPKH, 2015). Apabila topografi dan aksesibilitas
memungkinkan, potensi ini masih bisa dimanfaatkan dengan pola pemanfaatan terbatas hasil
hutan kayu di KPHL Unit IV Seluma. Pada Wilayah KPHL Unit IV Seluma banyak dijumpai
bermacam – macam jenis kayu antara lain: Balam Putih (Palaquium macrophyylum), Meranti
Bunga (Shorea parvifolia), Medang Kuning (Litsea bractachya), Tapus (Elateriopesmum
tapos) dan Meranti merah (Shorea sp), Surian, Pulai, damar, Rotan dan berbagai jenis meranti
serta medang.
Potensi hasil hutan bukan kayu yang dapat dikembangkan di KPHL Seluma Unit IV
dapat berupa damar, madu hutan, buah-buahan dan tanaman obat. Apabila produk tersebut
dapat dikelola dengan baik dan optimal akan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi
pembangunan kehutanan di daerah.
2.2.3. Potensi Jasa Lingkungan
Potensi jasa lingkungan merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan sebagai
sumber pendapatan untuk mewujudkan KPH yang mandiri. Dana dari luar bisa masuk melalui
mekanisme pembayaran jasa lingkungan (payment for environmental services) seperti
misalnya melalui PLTMH (Potensi Listrik Tenaga Mikro Hidro). Saat ini potensi PLTMH di
KPHL Unit IV Seluma cukup sangat menjanjikan untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Pembangkit Listrik Tenaga Air (microhydro power) merupakan salah satu solusi
altenatif untuk menjawab keterbatasan energi saat ini. Penyediaan energi yang memadai serta
ramah lingkungan merupakan salah satu persyaratan untuk pembangunan sosial ekonomi

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |23


yang berkelanjutan, akan tetapi dengan pesatnya perkembangan/ kemajuan ekonomi dan
pertumbuhan penduduk serta tingginya tingkat konsumsi telah memperhadapkan kita dengan
berbagai permasalahan energi yang semakin meningkat. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya
air di dalam kawasan KPHL di arahkan pada :
1. Peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Seluma pada umumnya dan
masyarakat didalam kawasan KPHL Unit IV Seluma.
2. Peningkatan pelayanan publik terutama pada penyediaan air bersih dan penyediaan
sumberdaya energi listrik yang ramah lingkungan bagi masyarakat sekitar KPHL Unit
IV Seluma, terutama Air Pilubang yang sudah tahap perencanaan di tahun 2015.
3. Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pelayanan air bersih dan
energi listrik terbarukan yang berada di sekitar kawasan untuk pendayagunaan jasa
lingkungan;
4. Pengembangan ekonomi kerakyatan dengan melihat potensi pasar pengembangan jasa
lingkungan, ekowisata.
Pengembangan kerjasama dengan masyarakat luas dalam upaya pemanfaatan potensi
jasa lingkungan, yang diarahkan pada upaya peningkatan penyediaan lapangan kerja dan
peluang berusaha bagi masyarakat sekitar kawasan.
Berdasarkan hasil inventarisasi produk jasa lingkungan yang berpotensi sebagai
berikut :
Tabel 2.14. Potensi Pemanfaatan Jasa Lingkungan
Jenis Lokasi Status Kondisi
Air / Sungai HPT Bukit Badas / Sungai Suplai PDAM di Bengkulu
Nelas
Air HL. Bukit Sanggul Ekowisata
Air / Sungai Air Seluma, Air Talo dan Air Irigasi pertanian / Bendung
Alas
Air / Sungai Air Pilubang PLTA /Mikrohidro
Air Panas HPT Bukit Badas (Desa Diarahkan untuk ekowisata
Lubuk Resam)

2.2.4. Potensi Satwa


Jenis satwa pada kawasan KPHL Unit IV Seluma tersaji dalam Tabel 2.20. Di
kawasan KPHL dijumpai jenis satwa yang mendominasi beberapa diantaranya Harimau
(Panthera trigis), Beruang madu (Helarctos malayanus), Burung rangkong (Rasbora
trilineata), Kancil (Tragulus javanica), Siamang (Hilobates syndactylus) dan lain-lain.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |24


Tabel 2.15. Jenis-Jenis Satwa KPHL Seluma Unit IV.
No Nama satwa Nama Latin
1 Harimau Panthera trigis
2 Beruang madu Helarctos malayanus
3 Burung rangkong Rasbora trilineata
4 Kancil Tragulus javanica
5 Siamang Hilobates syndactylus
6 Kucing hutan Felis bengalensis
7 Biawak Hijau Ortilia borneensis
8 Babirusa Babyrousa babyrussa
9 Macan dahan Neofelis sp
Sumber : Risalah Hutan Lindung Seluma, 2010 dan RP Taman Buru SBK, 2014

2.3 Keadaan Sosial Budaya Masyarakat


2.3.1. Wilayah Administrasi Desa Sekitar Kawasan KPHL Seluma Unit IV

Wilayah KPHL Unit IV Seluma yang terletak di 4 Kecamatan dan 19 desa yang
berdekatan. (Tabel 2.16.)
Tabel 2.16. Wilayah Administrasi Desa Sekitar Kawasan KPHL Seluma Unit IV
No Kecamatan Kelurahan / Desa Luas (Ha)
1. Lubuk Sandi 1. Talang Giring 1564
2. Dusun Tengah
3. Arang Safat
4. Lubuk Terentang
5. Talang Kebun
2. Seluma Utara 6. Talang beringin 3470
7. Talang Empat 1498
8. Puguk
3. Ulu Talo 9. Mekar Jaya 1081
10. Simpur Ijang
11. Air Keruh 1463
12. Giri Nanto 913
13. Giri Mulya 1351
14. Banyu Kencana
15. Pagar Banyu 822
4. Semidang Alas 16. GunungMegang 1717
17. Kayu Elang
18. Muara Dua
19. Renah Gajah Mati
Jumlah 19 Desa di sekitar KHPL
Sumber : Invent BPKH XX Bandar Lampung, 2015

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |25


Tabel 2.17. Desa Definitif di Dalam Kawasan KPHL Seluma Unit IV
No Kecamatan Kelurahan / Desa Luas (Ha)
1. Lubuk Sandi 1. Padang Capo Ulu 1564
2. Padang Capo Ilir
3. Cawang

2. Seluma Utara 1. Sekalak


2. Sinar Pagi
3. Lubuk Resam
4. Talang Empat
Jumlah
Jumlah 8761
Sumber : Invent BPKH XX Bandar Lampung, 2015
Dari 4 Kecamatan yang ada di sekitar wilayah kelola KPHL Unit IV Seluma, terdapat
3 Kecamatan yang memiliki jumlah desa paling banyak dan berdekatan langsung dengan
KPHL Unit IV Seluma, dan memiliki pengaruh paling besar terhadap aktivitas masyarakat
terhadap kawasan yakni kecamatan Seluma Utara, Lubuk Sandi dan Ulu Talo.
2.3.2. Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk di KPHL IV Seluma dapat dikatakan sudah tinggi yaitu sekitar 32
jiwa/km2. Jika dilihat secara spesifik perkecamatan maka kepadatan tertinggi berada di dua
kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Sandi dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 58
jiwa/km2, Kecamatan Semidang Alas dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 25 jiwa/km2.
Sedangkan kecamatan lainnya kepadatan penduduk berada dibawah angka 25 jiwa/km2.
Kecamatan di sekitar hutan terdata Lubuk Sandi yang paling tinggi yaitu 58 jiwa/km2.
Tabel 2.18.Jumlah Penduduk KPHL IV Seluma
Luas Jumlah Penduduk (Jiwa)
Sex Ratio Kepadatan
Kecamatan Kecamatan
Laki – laki Perempuan (%) per Km2
(Km2)
1 2 3 4 5 6
Semidang Alas 554,75 7.313 6.768 108 25
Ulu Talo 227,16 2.628 2.362 111 22
Seluma Utara 410,89 4.227 3.798 111 20
Lubuk Sandi 175,19 5.336 4.886 109 58
JUMLAH 1.367,99 19.504 17.814 439 125
Sumber: Data Statistik BPS, 2015

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |26


Tabel 2.19. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Perambah di KPHL Seluma Unit IV
No Jenis Kawasan Luas Luas Jumlah KK Jenis
Hutan Total Dirambah Perambah tanamam
( Ha ) ( Ha )
1 HL.Bukit Sanggul 66.533,8 4.680,0 1.561 Kopi/karet

2 HPT.Bukit Badas 10.598,7 5.300,0 1.766 Kopi/karet

3 HPT.Air talo 2.282,0 568,0 156 Kopi/karet

4 HPT.Bukit Rabang 2.827,5 548,0 170 Kopi/karet

Jumlah 82.242,0 6.416,0 3.653,0 Kopi/karet

Sumber : Data Inventarisasi (BPKH, 2015)


Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya menunjukkan bahwa tingkat
ketergantungan masyarakat akan kebutuhan lahan dan sumber daya hutan semakin tinggi.
Tahun 2015 jumlah penduduk sekitar kawasan hutan KPHL Seluma Unit IV sebesar 20,6 %
dari jumlah penduduk Kabupaten Seluma, ini menggambarkan bahwa potensi sumber daya
manusia yang ada di KPHL Seluma Unit IV sekaligus menggambarkan tingginya
ketergantungan masyarakat akan lahan dan sumber daya hutan untuk mencukupi kebutuhan
hidup.
2.3.3. Sejarah Perambahan di KPHL Seluma Unit IV
Masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan KPHL Seluma Unit IV mulai
memasuki hutan pada tahun 1993. Masukknya masyarakat ke dalam kawasan hutan sudah
di dahuluin sebelum dikeluarkannya ijin tambang batu bara IPPKH PT. Bukit Bara Utama,
PT. BIL yang sebelumnya didahului ijin Pemanfaatan kayu karena lokasi ijin berada di Hutan
Produksi Terbatas dan di Hutan Lindung. Pemberian ijin ini mengakibatkan semakin
terbukanya akses hutan. Dalam pelaksanaannya IPPKH tersebut menggunakan banyak
kendaraan operasional hingga akhirnya akses inilah yang dimanfaatkan masyarakat untuk
masuk kedalam hutan secara berkesinambungan. PT. BIL dalam kurun 3 tahun (tahun 2013-
2015) sempat berhenti operasional yang mengakibatkan masyarakat mulai ramai memasuki
kawasan hutan. Tidak adanya pengelola hutan tingkat tapak dan mulai terbukanya akses ke
dalam areal tersebut melalui jalan IPPKH memberikan peluang masyarakat untuk menggarap
areal tersebut secara bertahap.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |27


2.3.4. Mata Pencaharian
Sebagian besar mata pencaharian penduduk yang berada di sekitar kawasan KPHL
Unit IV Seluma adalah dari sektor pertanian berupa persawahan irigasi dan non irigasi,
pertanian lahan kering dan perkebunan khususnya kebun kopi, kebun karet dan sawit (Tabel
2.13.). Sebagian kecil dari penduduk bekerja dibidang usaha perdagangan, pegawai negeri
sipil dan lain-lainnya.
Kegiatan ekonomi masyarakat terbagi menjadi 2 (dua), yaitu kegiatan usahatani dan
non usahatani. Kegiatan usahatani berupa kebun kopi dan karet, ada juga sawah kakao, dan
padi, beberapa penduduk juga ada yang mengusahakan tanaman sawit sedangkan non
usahatani yaitu sebagai peternak, penarik kayu, penarik rotan, operator chainsaw, pengolah
kayu. Pemasaran hasil usahatani pada umumnya dilakukan di rumah (40 %), di pasar (30 %),
dan sisanya (30 %) dijual di tempat lainnya. Transaksi jual - beli hasil usahatani pada
umumnya dilaksanakan secara tunai dengan status pembeli merupakan pedagang/tengkulak .
2.3.5. Keberadaan Masyarakat Adat
Tahun 2007 penduduk Kabupaten Seluma berjumlah 181.242 jiwa yang menyebar di
seluruh wilayah. Sedangkan luas Kabupaten Seluma adalah 2.400,044 km2dengan
pemanfaatan ruang 30 persen berupa Hutan Lindung. Pada awalnya penduduk di wilayah
KPHL Seluma Unit IV memiliki masyarakat adat yaitu etnis Serawai (merupakan penduduk
asli yang berasal dari Palang Kenidai Pagar Alam Sumatera Selatan) namun mulai terkikis
dikarenakan mulai banyaknya berdatangan masyarakat yang berasal dari orang-orang
pendatang (perantauan) dari etnis Jawa, Sunda, Bugis, Minangkabau, Bali, dan Batak
sehingga saat ini masyarakat adat sudah sulit ditemukan.
Sebagai Daerah Otonom Baru, Kabupaten Seluma merupakan wilayah yang termasuk
ke dalam kategori Daerah Tertinggal. Indikator ketertinggalan wilayah ini terlihat dengan
belum terbukanya isolasi desa-desa pedalaman seperti Hulu Sukaraja (Talang Tais dan
Padang Capo), Hulu Tumbuan (Cawang), Hulu Seluma (Lubuk Resam, Talang Empat, dan
Sekalak), Hulu Talo dan Hulu Semidang Alas. Dari 168 desa dan kelurahan yang ada di
wilayah Seluma, 95 desa di antaranya masih terisolir.

2.4 Data Informasi Ijin-Ijin Pemanfaatan


2.4.1. Kawasan Hutan Lindung
Pemanfaatan kawasan hutan lindung sampai tahun 2015 sebagian besar masih dalam
proses usulan pemanfaatan kawasan. Usulan –usulan pemanfaatan kawasan hutan lindung

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |28


berupa usulan pemanfaatan jasa lingkungan, ekowisata dan aliran air untuk tenaga mikro
hidro.
Tabel 2.20. Ijin Pemanfaatan Kawasan di Hutan Lindung KPHL Seluma Unit IV
NAMA LUAS
NO NAMA IPPKH SK IPPKH FUNGSI
KAWASAN (Ha)
Energi Swa Dinamika Hutan
proses Hutan Lindung
1 Muda B.G Emas, PT Lindung 31.984,88
perpanjangan Bukit Sanggul
(Emas) (HL)
TB. Semidang
Taman
Jalan Tembus Padang Bukit Kabu dan
Buru dan
2 Capo (Bengkulu) - Airproses perijinan HL. Bukit ±23 Km
Hutan
Kelinsar (Sumsel) Sanggul Kab.
Lindung
Seluma
Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) XX Bandar Lampung, 2016

2.4.2. Kawasan Hutan Produksi Terbatas


Kawasan hutan produksi terbatas di KPHL Seluma Unit IV Kabupaten Seluma,
sebagian besar telah dimanfaatkan baik secara legal dan ilegal oleh masyarakat.
Perkembangan saat ini, kawasan hutan KPHL Seluma Unit IV telah terdapat ijin pinjam pakai
kawasan hutan untuk penggunaan non kehutanan.
Tabel 2.21. Ijin Pemanfaatan di HPT KPHL Seluma Unit IV
Pemanfaatan Fungsi Kawasan Desa/Kelurahan Keterangan
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Banyu Kencana
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Giri Mulya
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Muara Nibung
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Mekar Jaya
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Selinsingan
Pencadangan HKm, Usulan dalam
HD, HTR HPT Air Talo Talang Empat pencadangan
Pencadangan HKm, HKm
HD, HTR HPT Air Talo Lubuk Resam
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Sekalak
Pencadangan HKm,
HD, HTR HPT Air Talo Giri Nanto

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |29


Tabel. 2.22. Ijin Pinjam Pakai Kawasan di HPT KPHL Seluma Unit IV
NAMA LUAS
NO NAMA IPPKH SK IPPKH FUNGSI
KAWASAN (Ha)

Ratu Samban Mining, SK.600/Menhut- HPT Bukit


1 HPT 127,61
PT (batu bara) II/2010 Badas
Bara Indah Lestari, PT SK.710/Menhut- HPT Bukit
2 HPT 991,27
(batu bara) II/2009 Badas
Sumber : Peta Ijin Penggunaan KPHL Seluma Unit IV, 2016

Gambar 2.17. Peta Ijin Penggunaan di Kawasan KPHL Seluma Unit IV

2.4.3. Rehabilitasi Kawasan Hutan


Berdasarkan data potensi wilayah KPHL Seluma Unit IV kondisi penutupan lahan
hutan primer 45.244,69 Ha, Hutan Sekunder 13.436,18 Ha dan tidak berhutan 23.930,90 Ha.
Kawasan tidak berhutan ini terdiri dari belukar, lahan pertanian, perkebunan, sawah.
Penetapan lahan kritis didasarkan pada tingkat kerusakan lahan yang diakibatkan karena
kehilangan penutupan vegetasi sehingga kehilangan atau berkurangnya fungsinya sebagai
penahan air, pengendali erosi, siklus hara dan pengatur iklim mikro. Sasaran penilaian adalah
lahan-lahan dengan fungsi lahan yang ada kaitannya dengan kegiatan reboisasi dan
penghijauan, yaitu fungsi kawasan lindung bagi kawasan hutan dan fungsi lindung di luar
kawasan hutan, serta fungsi kawasan budidaya untuk usaha pertanian.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |30


Gambar 2.18. Peta Lahan Kritis KPHL Seluma Unit IV

Tabel 2.23. Lahan kritis di KPHL Seluma Unit IV


Tingkat Tingkat Kekritisan
Fungsi Luas (ha)
Kekritisan
HL Kritis 2.821,4 Sangat Kritis: 13.033,3 Ha (15,8 %)

Agak Kritis 3.805,0 Kritis: 10.615,2 Ha (12%)

Potensial Kritis 41.189 Agak kritis: 12.377,2 Ha (15%)

Tidak Kritis 80,0 Potensial Kritis: 46.136,3Ha (56%)

HPT Sangat Kritis 13.033,3 Tidak Kritis: 80 Ha (1%)

Kritis 7.793,8

Agak Kritis 8.572,2

Potensial Kritis 4.947,3

Jumlah 82.242,0

Sumber : Peta Lahan Kritis KPHL Seluma Unit IV, 2015

2.4.4. Kegiatan Pembangunan Kehutanan Pada Wilayah KPHL Seluma Unit IV


Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang telah dilaksanakan di wilayah KPHL
Unit IV Seluma dari tahun 2015 sebagaimana Tabel 2.24 :
Tabel 2.24. Pelaksanaan Kegiatan KPHL Seluma Unit IV Tahun 2015-2016
No Kegiatan S/d. Hasil Permasalahan Solusi
Tahun Pelaksanaan
Kegiatan
1 Reboisasi 2015 400 Ha Tingkat keberhasilan Penanaman
rendah kembali dg jenis
sesuai keinginan
masyarakat

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |31


2 Dam pengendali 2015 2 Baik Di kawasan
penyangga
3 Dam penahan 2015 4 Baik Di kawasan
penyangga
4 Pembangunan Model 2016 2 ha Akan dilaksanakan Perjanjian
Penanaman Jenis Lokal setelah dibuatnya kerjasama sudah
(Kayu Bawang dan rancangan teknis ditandatangani
Durian Bengkulu Utara)
5 Reboisasi 2016 100 ha Proses Pelaksanaan di HL Sudah selesai
Bukit Sanggul MPTs
Sumber: Dinas Kehutanan Seluma, 2015-2016

2.5. Posisi Areal Kerja Dalam Tata Ruang Wilayah dan Pengembangan Daerah
Implementasi Perbub tentang pembentukan KPHL merupakan perwujudan dari good
forestry governance yang dicirikan oleh adanya kelembagaan pengurusan hutan yang
menggambarkan keseimbangan peran dan tanggung jawab pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat madani, serta ditopang oleh kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan dan
lembaga penegakan hukum yang dapat dipercaya. Kelembagaan KPHL Unit IV Seluma saat
ini ditetapkan melalui peraturan Bupati Nomor 22 Tahun 2014 dalam bentuk Unit Pelaksana
Teknis (UPT) dari Dinas Kehutanan Kabupaten Seluma. Kondisi ini membutuhkan
pencermatan khusus dalam tata hubungan kerja antara UPT KPHL Unit IV Seluma, Dinas
Kehutanan dengan unit kerja lainnya baik kehutanan maupun non kehutanan yang terkait.
Prinsip pokok dalam tata hubungan kerja ini akan menempatkan KPHL Unit IV
Seluma sebagai fungsi manajemen unit pengelolaan hutan sedangkan fungsi koordinasi,
sinkronisasi dan integrasi dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Seluma. Sejalan
dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2010 tentang kelembagaan KPH,
maka kelembagaan KPH ini perlu disempurnakan dan dimantapkan baik dalam tugas, fungsi
dan kedudukuannya dalam organisasi di Kabupaten Seluma, termasuk wacana pelaksanaan
UU No. 23 Tahun 2014 dimana KPHL akan berada di Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu .

2.6. Organisasi KPHL Unit IV Seluma


Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Kepemerintahan No 61 tahun 2010 tentang
pedoman organisasi dan tata kerja KPHP dan KPHL merupakan salah satu terobosan untuk
melakukan pengelolaan hutan yang lebih baik. Perwujudan dari Permendagri ini telah di
jawab oleh Pemerintah Kabupaten Seluma dengan menetapkan Peraturan Bupati No 22 Tahun
2014 tentang Pembentukan UPT Dinas Kehutanan Kabupaten Seluma, dengan komposisi
pegawai sampai tahun 2016 jumlah PNS 9 orang, Tenaga Harian 2 orang dan tenaga
baktirimbawan 6 orang.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |32


Berdasarkan PP Nomor 3 Tahun 2008 menjelaskan bahwa Menteri menetapkan
Organisasi KPH , yang mempunyai bentuk :
1. Sebuah organisasi pengelolan hutan yang :
b. Mampu menyelenggarakan pengelolaan yang dapat menghasilkan ekonomi dan
pemanfaatan hutandalam keseimbangan dengan fungsi konservasi,perlindungan
dan sosial dari hutan;
c. Mampu mengembangkan investasi dan menggerakan lapangan kerja;
d. Mempunyai kompetensi menyusun perencanaan dan monitoring /evaluasi berbasis
spasial; mempunyai kompetensi untuk melindungi kepentingan hutan ( termasuk
kepentingan publik dari hutan );
e. Mampu menjawab jangkauan dampak pengelolaan hutan yang bersifat
lokal,nasional dan sekaligus global ( misal; peran hutan dalam mitigasi perubahan
iklim global/ climatechange ); dan
f. Berbasis pada profesionalisme kehutanan.
2. Organisasai yang merupakan cerminan integrasi (kolaborasi/sinergi) dari
pusat,provinsi dan kabupaten/kota.
3. Pembentukan organisasi KPH tetap menghormati keberadaan unit-unit ( izin-izin)
pemanfaatan hutan yang telah ada.
4. Struktur organisasi dan rincian tugas dan fungsinya memberikan jaminan dapat
memfasilitasi terselenggaranya pengelolaan hutan secara lestari.
5. Organisasai yang mempunyai kelenturan ( fleksibel) untuk menyesuaikan dengan
kondisi/tipologi setempat serta perubahan lingkungan strategis yang berpengaruh
terhadap pengelolaan hutan.
6. Dalam memberikan pertimbangan teknis dan mengusulkan penetapan organisasi
KPH, khususnya yang berkaitan dengan sumber daya manusia, Pemerintah Provinsi
Bengkulu harus memperhatikan antara lain, syarat kompetensi kerja yang diterbitkan
oleh lembaga sertifikasi profesi di bidang kehutanan atau pengakuan oleh Menteri.
Menurut Pasal 9 PP No.6 Tahun 2007 jo PP Nomor 3 Tahun 2008, tugas dan fungsi
organisasai KPH adalah : “Menyelenggarakan pengelolaan hutan yang meliputi: tata hutan
dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan, penggunaan kawasan hutan,
rehabilitasi hutan dan reklamasi, dan perlindungan hutan dan konservasi alam”.
1) Menjabarkan kebijakan kehutanan Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota bidang
kehutanan dan di implementasikan;

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |33


2) Melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan diwilayahnya mulai dari
perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan serta pengendalian;
3) Melaksanakan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan
hutan di wilayahnya;
4) Membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan;
Berdasarkan PP No 3 Tahun 2008 menjelaskan bahwa tugas dari kepala KPH adalah
penyusunan rencana pengelolaan hutan, penyusunan rencana pengelolaan hutan dilakukan
dengan mengacu pada rencanakehutanan Nasional, Provinsi Bengkulu dan memperhatikan
aspirasi, nilai budaya masyarakat setempat.

2.7. Manajemen Sumberdaya Manusia KPHL Seluma Unit IV


Untuk mewujudkan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma yang baik sesuai dengan tugas
dan fungsi KPH dalam PP Nomor 3 Tahun 2008, maka diperlukan sumber daya manusia
yang terampil, kreatif, profesional dan berpengalaman, oleh sebab itu individu yang akan
duduk pada tingkat atau jenjang organisasi KPHL Unit IV Seluma perlu memenuhi
persyaratan-persyaratan formal untuk struktur organisasai KPHL.
Berdasarkan SK Bupati No. 821.2-50 tahun 2015 tanggal 15 Januari 2015 telah dilantik
KKPHL Unit IV Seluma dan telah mengikuti diklat KKPH angkatan V di Pusdiklat Bogor,
diharapkan menjadi awal peningkatan kompetensi personil KPH.

2.8. Isu Strategis, Kendala dan Permasalahan


2.8.1. Isu Strategis
Berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholder yang berkepentingan dengan
pengelolaan hutan di Kabupaten Seluma maka terdapat lima isu strategis yang perlu
diperhatikan dalam implementasi Rencana Pengelolaan Jangka Panjang KPHL Unit IV
Seluma yaitu :
(1) Isu kebijakan
Pengelolaan hutan di Kabupaten Seluma telah lama di lakukan, Pengelolaan hutan di
Kabupaten Seluma diimplementasikan melalui beberapa program dan kegiatan
pembangunan yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
memperkuat ekonomi daerah, akan tetapi sampai saat ini program dan kegiatan
tersebut belum tepat sasaran. Hal ini dibuktikan dengan masih terjadinya
perambahan yang dilakukan oleh beberapa oknum masyarakat. Isu kebijakan penting

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |34


lainnya adalah lemahnya kemampuan pemerintah dalam mengatur akses
pemanfataan hutan. berujung pada rendahnya inisiatif dan inovasi masyarakat dalam
pengelolaan hutan sehingga masyarakat menjadi pasif dan tidak mandiri. Lemahnya
kebijakan seperti yang disebutkan diatas mengakibatkan pemborosan dana, waktu,
tenaga dan sumber daya hutan.
(2) Isu sosial ekonomi
Umumnya masyarakat disekitar kawasan hutan identik dengan kemiskinan karena
rendahnya pendapatan. Konsekuensi dari rendahnya pendapatan masyarakat adalah
sumber daya hutan cenderung semakin rusak, masyarakat semakin sulit
mengembangkan potensi diri, standar minimal kebutuhan masyarakat sulit terpenuhi,
dan pada akhirnya masyarakat kurang dapat berpartisipasi dalam program
pembangunan. Tingginya angka kemiskinan merupakan permasalahan klasik yang
marak dijumpai di negara dunia ketiga, termasuk Kabupaten Seluma. Meskipun
berbagai upaya telah dan terus dilakukan dalam rangka memerangi kemiskinan,
namun kemiskinan hingga kini tetap menjadi masalah yang cukup rumit untuk
dipecahkan. Hal ini dapat memicu meningkatnya permasalahan sosial dan konflik
sosial, rendahnya posisi tawar masyarakat, masyarakat sangat tergantung pada
sumber daya hutan, semakin beratnya tekanan terhadap kelestarian hutan, dan
masyarakat semakin tidak berdaya untuk maju, sehingga dapat mengakibatkan
meningkatnya tindak kriminalitas dan tingginya ketergantungan masyarakat
terhadap bantuan pemerintah. Penting digaris bawahi bahwa himpitan kemiskinan
masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan (dapat) menjadi salah satu faktor
pendorong tingginya laju pembalakan liar dan perambahan hutan.
(3) Isu kelembagaan
Kurangnya peran dan sinergitas diantara para pihak (stakeholder), baik sinergitas
antar sektor maupun antar tingkat pemerintahan mengakibatkan terjadinya tumpang
tindih dan/atau kesenjangan kegiatan sehingga tidak efektif dan efesien. Hal ini juga
berakibat pada sulitnya menciptakan komitmen bersama dalam mengembangkan
potensi sumberdaya hutan secara optimal yang bermuara pada kurang optimalnya
kegiatan pemberdayaaan masyarakat. Akhirnya, akibat dari kurangya peran dan
sinergitas diantara para pihak maka laju pemberdayaan masyarakat sektor kehutanan
menjadi lambat. Disamping itu adanya gap atau proses peralihan lembaga yang
menangani kehutanan sesuai dengan UU No. 23 tahun 2014 tentang kewenangan
daerah dalam bidang kehutanan yang saat ini memasuki masa peralihan sehingga

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |35


lembaga yang menangani kehutanan belum dapat berfungsi secara optimal. Apabila
gap antara kebijakan dan pelaksanaan menganga lebar, maka akan semakin
mempersulit pelaksanaan pengelolaan hutan.
(4) Isu sumber daya manusia
Kurangnya kemampuan (kuantitas dan kualitas) aparat pemerintah dalam
memfasilitasi proses perencanaan pembangunan kehutanan, berakibat: kegiatan
kegiatan pembangunan kurang berproses dengan baik, pencapaian tujuan dan
sasaran program kurang optimal, kegiatan usaha produktif masyarakat tidak berjalan
lancar, masyarakat tetap tidak berdaya, daya inovasi kurang, dan informasi ke
masyarakat bias. Selanjutnya, program pemberdayaan menjadi tidak terintegrasi dan
berpotensi terjadi penyimpangan yang bermuara pada rendahnya kualitas pelayanan.
(5) Isu sumber daya hutan
Isu penting yang berkaitan dengan sumber daya hutan adalah semakin luasnya hutan
yang rusak, besarnya tekanan terhadap sumber daya hutan dari sektor lain, sumber
daya hutan kurang memberikan manfaat sesuai dengan harapan masyarakat,
tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya hutan, kurangnya
keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pelestarian sumber daya hutan,
kurangnya kepedulian dan kemampuan multipihak dalam pelestarian sumber daya
hutan, dan rendahnya akseptabilitas terhadap eksistensi tata ruang kawasan huta.
Besarnya tekanan terhadap sumber daya hutan dari sektor lain mengakibatkan
kawasan hutan banyak berubah status dan fungsi, semakin tingginya deforestasi,
kesulitan dalam menerapkan program kerja, semakin sulit memenuhi kebutuhan
hasil hutan. Akhirnya muara dari besarnya tekanan terhadap sumber daya hutan
adalah terganggunya ekosistem.
2.8.2. Kendala
Secara umum kendala yang dihadapi adalah cepatnya perubahan kebijakan yang
tidak terantisipasi dengan baik di tingkat lokal. Hal tersebut menjadi kendala terbesar
mengingat pentingnya legal aspek dari semua kegiatan di lapangan. Dengan semakin majunya
penyerapan arus informasi dan keterbukaan public, upaya di lapangan kerapkali mendapat
kendala terkait partisipasi masyarakat. Banyak kepentingan berkaitan dengan peningkatan
kesejahteraan masyarakat namun belum ada sinkronisasi dan acapkali membuat masyarakat
enggan berpartisipasi. Kendala kedua adalah personil KPHL yang sangat sedikit dan tidak
memungkinkan menangani kawasan seluas 82.240 ha.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |36


2.8.3. Permasalahan
Permasalahan umum yang dihadapi adalah konsep hutan beserta ekosistemnya, belum
termasuk manusia di dalam ekosistem tersebut sehingga dalam program penangannannya
kepentingan manusia dalam ekosistem terabaikan. Secara riil, kondisi hutan yang ada di
KPHL Unit IV Seluma sebagian telah diusahakan oleh masyarakat (manusia) untuk sumber
penghidupan. Hal ini yang paling krusial untuk ditangani. Program apapun tidak akan
berkelanjutan tanpa menyentuh akar permasalahan yaitu sumber penghidupan masyarakat di
kawasan hutan KPHL Unit IV Seluma.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |37


BAB. III
VISI DAN MISI KPHL SELUMA UNIT IV
3.1 VISI

Mengacu pada pengelolaan hutan nasional, Kementerian Kehutanan melalui Permenhut


No. P.51/Menhut-II/2010 tentang Renstra Kementrian Kehutanan tahun 2010-2014 menetapkan
visi yaitu HUTAN LESTARI UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT YANG
BERKEADILAN. Untuk mencapai visi tersebut telah dirumuskan enam kebijakan prioritas
pembangunan kehutanan yaitu: (1) Pemantapan kawasan hutan; (2) Rehabilitasi hutan dan
peningkatan daya dukung DAS; (3) Pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan; (4)
Konservasi keanekaragaman hayati; (5) Revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan;
dan (6) Pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.11
Selain itu, KPHL Unit IV Seluma juga memperhatikan visi Kabupaten Seluma,
yaitu“Terwujudnya masyarakat yang maju, sejahtera dan damai dalam wilayah Kabupaten
Seluma”.
Dengan memperhatikan visi dan misi di atas dan issue-issue strategis di Kabupaten
Seluma, maka Visi KPHL Unit IV Seluma adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN
HUTAN LESTARI MELALUI PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN MENUJU
KPHL MANDIRI, MASYARAKAT SEJAHTERA.
Penjelasan dari visi di atas adalah sebagai berikut:
Pengelolaan hutan lestari adalah perwujudan pengelolaan KPHL yang menerapkan best
practices dan menjamin kelestarian hutan yang secara berkelanjutan dapat memenuhi seluruh
fungsinya, yaitu fungsi ekologi, fungsi ekonomi dan fungsi sosial. Fungsi ekologi hutan adalah
sebagai pengatur tata air, pelindung kesuburan tanah, penyerap karbon, penghasil oksigen, dan
pelindung keragaman hayati atau sebagai habitat satwa dan tumbuhan. Fungsi ekonomi hutan
adalah sebagai penghasil hasil hutan kayu dan bukan kayu dan jasa lingkungan yang dapat
memberikan pendapatan bagi daerah dan khususnya masyarakat sekitar hutan. Fungsi sosial
hutan adalah sebagai tempat untuk rekreasi, upacara adat dan keagamaan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |38


3.2 MISI
Untuk mencapai visinya, KPHLUnit IV Seluma memiliki misi sebagai berikut:
1. Membangun kelembagaan pengelolaan hutan di tingkat tapak melalui penguatan
kapasitas organisasi KPHL dengan merekrut dan melatih tenaga teknis kehutanan yang
kompeten serta pelibatan masyarakat secara aktif.
2. Memantapkan kawasan di wilayah KPHL.
3. Membuka peluang dan mendorong investasi dalam pemanfaatan jasa lingkungan hutan
dan hasil hutan kayu maupun non kayu guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4. Memberdayakan masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga masyarakat
desa hutan, bimbingan teknis, pengembangan lembaga perekonomian petani hutan agar
masyarakat mandiri.
5. Merehabilitasi hutan yang rusak dengan tanaman kayu-kayuan/MPTS sebagai sumber
kehidupan masyarakat dan melindungi tanah dan tata air serta melindungi keragaman
hayati yang ada di dalam hutan.

Adapun tujuan pengelolaan hutan yang akan dicapai oleh KPHL Unit IV Seluma pada akhir
jangka pengelolaan tahun 2025 adalah :

5. Menjamin tata air kebutahan didalam dan diluar kawasan hutan


6. Meningkatkan kesejahteraan taraf hidup masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan
hutan melalui pemberdayaan masyarakat
7. Membangun jaringan bisnis dengan pihak investor
8. Mewujudkan KPHL yang mandiri

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |39


BAB. IV
ANALISIS DAN PROYEKSI

4.1 Analisis Data dan Informasi


Data dan informasi yang sudah diuraikan pada bab-bab terdahulu dianalisis dalam BAB IV
ini dengan menggunakan metoda SWOT analysis. Dari analisis tersebut ditentukan strategi apa
yang akan diambil dalam pengelolaan KPHL Unit IV Seluma yang selanjutnya dituangkan dalam
rencana pengelolaan.

4.1.1. Kelembagaan dan Organisasi KPHL Unit IV Seluma


Kelembagaan KPHL Unit IV Seluma secara administratif mendapatkan dukungan yang
cukup kuat dari Pemerintah Kabupaten Seluma dengan terbitnya Peraturan Bupati nomor: 22
Tahun 2014 tentang Pembentukan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit IV
Seluma di bawah Dinas Kehutanan Kabupaten Seluma. Sumberdaya manusia pengelola UPTD
juga telah ditetapkan dengan Keputusan Bupati Seluma nomor: 821.2-50 tahun 2015 tentang
Penunjukan Personil Kepala UPTD KPHL Unit IV Seluma. Hal ini memperlihatkan bahwa
Pemerintah Kabupaten Seluma memberikan dukungan penuh akan terbangunnya kelembagaan
pengelolaan KPHL. Pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) sebagai induk pembuat
kebijakan kehutanan nasional juga terus memberikan dukungan dengan fasilitasi dalam
perencanaan dan Sumber Daya Manusia. Berlakunya UU No. 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah maka posisi KPHP / KPHL berada di bawah Provinsi sehingga saat ini
KPHL Seluma Unit IV berada pada masa Transisi proses perpindahan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |40


Gambar 4.1. Struktur Organisasi KPHL Seluma Unit IV

4.1.2. Kondisi Hutan


Secara umum kondisi hutan seperti dituangkan pada Bab II, penutupan hutan primer
masih cukup terjaga, tetapi telah teridentifikasi juga terjadi penurunan kualitas hutan dengan
adanya illegal logging dan perubahan tutupan dari hutan menjadi kebun kopi, kebun campur
maupun ladang/tegalan. Kondisi ini dapat menyebabkan kekritisan lahan dan pada akhirnya
merusak ekosistem hutan. Sesuai Visi Misi dan tujuan pengelolaan KPHL yang ingin mencapai
pengelolaan hutan lestari menuju kemandirian KPHL Unit IV Seluma maka perlu upaya serius
dalam rehabilitasi hutan dengan melibatkan masyarakat untuk menjamin keberhasilannya .
4.1.4. Potensi Jasa Lingkungan
KPHL Unit IV Seluma memiliki potensi hasil hutan kayu dan jasa lingkungan yang
cukup besar seperti diuraikan pada Bab II. Potensi jasa tersebut berupa hasil hutan kayu dimana
masih terdapat sekitar 2.000 Ha hutan primer di HPT dan hasil hutan bukan kayu (HBBK)
seperti damar, madu hutan, bambu dan tanaman obat lainnya; potensi air bersih dan hydropower,
potensi ekowisata, potensi serapan karbon dan potensi keanekaragaman hayati lainnya. Potensi
jasa lingkungan ini merupakan cadangan sumberdaya yang dapat dikembangkan menjadi
kegiatan-kegiatan pemanfaatan yang pada ujungnya dapat menjadi sumber penerimaan (income
generating) KPHL Unit IV Seluma.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |41


4.1.4. Adat Budaya Masyarakat Setempat
Adat dan Budaya merupakan potensi immaterial yang cukup besar. Sebagain besar adat
budaya masyarakat setempat adalah budaya yang berasal dari suku dominan di daerah Seluma.
Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan KPHL Unit IV Seluma berasal dari Suku
Serawai yang merupakan masyarakat agraris dengan aktifitas seperti pertanian tanaman
perkebunan berupa Kopi dan Karet. Adat masyarakat Serawai secara umum melakukan
pengembaraan di hutan dengan mengusahakan kehidupan baru berbasis tanaman perkebunan
dalam hal ini kopi dan karet. Setelah usaha yang dirintis berhasil, masyarakat Serawai cenderung
mengajak sanak saudara untuk mengikuti usahanya yang dinilai berhasil. Sehingga terbentuklah
komunitas/Talang di dalam kawasan hutan.
Pengaruh budaya dan adat istiadat terhadap kehidupan masyarakat Seluma terjadi pada
pola pengelompokan sosial, dimana pada umumnya masyarakat di Kabupaten Seluma beretnis
Serawai maka kebiasaan dan adat istiadat Seluma yang hidupnya berkelompok dan mengumpul
dalam sebuah lingkungan kecil terbawa dan teraplikasikan dalam kondisi bermasyarakat saat ini,
yaitu lingkungan permukiman menjadi mengelompok di suatu area dan bahkan pada kondisi asli
tidak memiliki batas yang jelas antara satu rumah dengan rumah yang lainnya. Hal ini akan
semakin kelihatan dengan jelas apabila yang bermukim tersebut masih memiliki ikatan keluarga
yang erat, sehingga kadang kala akan terbentuk kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda
karena hubungan tali persaudaraan/ kekeluargaan tersebut. Oleh karenanya, penguatan kelompok
menjadi sangat penting untuk meningkatkan kebersamaan dan di lain pihak harus dapat dijalin
komunikasi yang baik antar kelompok yang ada. Strategi pendekatan pendampingan harus
mengedepankan usaha bersama untuk mencapai tujuan bersama, penguatan kelompok dengan
pendampingan yang kontinyu menjadi strategi pengelolaan kegiatan berbasis masyarakat.
4.1.4. Kegiatan Ekonomi Masyarakat dan Ketergantungan Terhadap Hutan
Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan KPHL Unit IV Seluma sebagian
besar menggantungkan hidupnya dari sumberdaya hutan, baik dalam memanfaatkan hasil hutan
kayu dan bukan kayu maupun yang bercocok tanam di kawasan hutan. Di satu sisi keberadaan
masyarakat di dalam hutan merupakan ancaman, akan tetapi di sisi lain mereka merupakan ujung
tombak dalam pengelolaan KPHL di masa depan apabila dikelola dan diawasi dengan baik dan
kredibel.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |42


4.2. Proyeksi Kondisi Wilayah
4.2.2. Keserasian Pembangunan KPHL Seluma Unit IV dengan Pembangunan
Daerah
Rencana pembangunan Kabupaten Seluma tertuang dalam dua dokumen yakni RPJMD
dan RTRW. Dua dokumen ini menjadi dasar dalam melakukan analisis dan proyeksi dalam
kaitannya dengan pengelolaan hutan. Dari RPJMD Kabupaten Seluma (2010-2015), ditetapkan
arah pembangunan Kabupaten Seluma sesuai visinya: “Terwujudnya masyarakat yang maju,
sejahtera dan damai dalam wilayah Kabupaten Seluma”.

Visi tersebut diturunkan menjadi misi pembangunan daerah sebagai berikut:


1. Mewujudkan supremasi Hukum dan Pemerintahan yang bersih dan bertanggung
jawab
2. Mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis agribisnis
3. Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang sinergis dan berkualitas dalam
mendukung percepatan pembangunan daerah
4. Pembangunan dan pengembangan kawasan wisata
5. Menggali, membangun dan menanfaatkan nilai-nilai agama, budaya lokal, moral
etika dalam melandasi pelaksanaan pembangunan.
Dari Visi Misi tersebut, terlihat jelas kaitan antara arah pembangunan daerah dengan
arah pembangunanKPHL Unit IV Seluma. Dari lima misi pembangunan daerah, misi 1, 2, 4 dan
5 terkait langsung dengan pengelolaan hutan melalui KPHL. Dengan demikian terlihat jelas
bahwa kebijakan pembangunan daerah merupakan peluang bagi penguatan peran KPHL Unit IV
Seluma dalam pembangunan daerah. Hal tersebut juga didukung dengan dokumen RTRW yang
sedah membagi jelas antara kawasan budidaya dan kawasan lindung.

Dengan arah pembangunan yang lebih berorientasi meningkatkan kesejahteraan


masyarakat Seluma, maka Kabupaten Seluma mendukung penuh upaya pengelolaan hutan
berbasis tapak pada pengelolaan KPHL Unit IV Seluma dengan menerbitkan Peraturan Bupati
nomor: 22 Tahun 2014. Hal tersebut selaras dengan visi dan misi Provinsi Bengkulu.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |43


4.2.2. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat
Dari sisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat terdapat tiga hal yang saling terkait
yakni: pertumbuhan penduduk, kegiatan ekonomi masyarakat berbasis pertanian, khususnya
kebun kopi, dan potensi konflik horizontal karena ketidakjelasan batas lahan (land tenure
conflict).

4.3. Analisis Strategi Pengembangan KPHL Seluma Unit IV


Analisa lingkungan strategis dan faktor penentu keberhasilan dilakukan dengan SWOT
analysis, meliputi faktor lingkungan internal dan faktor lingkungan eksternal sebagai berikut:
(lihat Tabel SWOT).
4.3.1. Strategi Memakai Kekuatan Untuk Memanfaatkan Peluang.
1. Mengembangkan kegiatan kehutanan yang didukung oleh pembiayaan dari Pemerintah
Pusat (S1, S2 vs O1).
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Rehabilitasi dan reboisasi hutan yang rusak
b. Pembuatan persemaian permanen untuk bibit Meranti dan tanaman khas lainnya
serta MPTS
c. Pengembangan usaha masyarakat di bawah tegakan hutan dengan dukungan
instansi terkait
d. Penangkaran tumbuhan langka (misalnya anggrek dll) maupun hewan
2. Memasarkan potensi dan peluang investasi bidang kehutanan dan pemanfaatan jasa
lingkungan (S3 vs O2, O3).
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Inventarisasi dan kajian financial jasa lingkungan yang berpotensi menarik
investasi
b. Mempromosikan potensi investasi dalam kawasan KPHL Unit IV Seluma
3. Mengembangkan kerjasama dengan masyarakat dalam mengelola lahan dan hasil hutan
(S3 vs O4).
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Kajian inventarisasi dan kajian financial pengembangan usaha dibawah tegakan
hutan bersama masyarakat

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |44


b. Pengembangan usaha pemanfaatan HHK dan HHBK melalui kerjasama KPHL
dengan masyarakat, terutama kelompok tani/pehutan
4. Membangun Network untuk program pemanfaatan hutan (S3 vs O5)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan :
a. Menjadi anggota jaringan Sustainable Development Good (SDG)
b. Mengikuti seminar/symposium dan even yang terkait dengan SDG
c. Meningkatkan kapabilitas SDM dalam skema SDG.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |45


Tabel 4.1. Analisis SWOT
FAKTOR INTERNAL KEKUATAN (Strenght) KELEMAHAN (Weakness)
1. Legalitas formal KPHL Unit IV 1. Jumlah dan kualitas SDM Pengelola KHPL Unit
Seluma dan kawasan hutan IV Seluma masih sangat rendah
2. Potensi Keanekaragaman, jasa 2. Belum tersedia sumber pembiayaan yang jelas
lingkungan, HHBK dan hulu DAS 3. Belum tegas kewenangan antara pihak KPHL
besar dengan lembaga instansi lain
FAKTOR EKSTERNAL 3. Sarpras kantor cukup memadai 4. Organisasi belum selevel SKPD, masih UPT
dibawah Dinas Kehutanan
PELUANG (Opportunity) STRATEGI MEMAKAI KEKUATAN STRATEGI MENANGGULANGI KELEMAHAN
1. Komitmen yang tinggi dari UNTUK MEMANFAATKAN DENGAN MEMANFAATKAN PELUANG
pemerintah pusat (Kementrian PELUANG 1. Mengelola kegiatan di KPHL yang bersifat
Lingkungan Hidup dan Kehutanan) 1. Mengembangkan kegiatan yang strategis dengan meningkatkan kegiatan yang
dan Pemerintah Daerah untuk didukung oleh pembiayaan dari sudah berkembang dan menghasilkan
mewujudkan pengelolaan hutan Kementerian Kehutanan dan penerimaan dalam waktu relative singkat (W1,
berbasis KPH pemerintah pusat (S1, S3 vs O1) W2 vs O2, O3, O5)
2. Minat investasi dan pemanfaatan 2. Memanfaatkan potensi investasi 2. Memperkuat kelembagaan KPHL menjadi
jasa lingkungan bidang kehutanan dalam pemanfaatan SKPD mandiri (W3, W4 vs O1)
3. Adat budaya masyarakat yang dapat jasa lingkungan dan HHBK (S2 vs
mendukung pengelolaan dalam O2, O5)
kawasan KPH 3. Mengemangkan kerjasama dengan
4. Usaha lebah madu yang telah masyarakat dalam mengelola lahan
diusahakan masyarakat dan hasil hutan (S3 vs O2, O3)

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |46


ANCAMAN (Threat) STRATEGI MEMAKAI KEKUATAN STRATEGI MEMPERKECIL KELEMAHAN
1. Pencurian dan illegal logging UNTUK MENGATASI ANCAMAN DAN MENGATASI ANCAMAN
2. Perambahan untuk membuka kebun 1. Pemberdayaan masyarakat dalam 1. Mengembangkan insentif bagi masyarakat untuk
kopi yang baru pemanfaatan kawasan KPHL Unit IV merehabiltasi hutan (T6 vs W1)
3. Penduduk di dalam dan sekitar hutan Seluma (T2, T3 vs S1, S2) 2. Memperkuat koordinasi antar instansi (T4 vs
masih miskin 2. Meningkatkan perlindungan dan W3)
4. Lemahnya koordinasi antar instansi pengawasan hutan (T1, T2 vs S1, S2)
pemerintah dalam pengelolaan hutan 3. Melakukan sosialisasi KPHL ke
5. Pemahaman masyarakat tentang istansi terkait dan kelompok
KPHL masih minim masyarakat (T4, T5 vs S1, S2)
6. Terdapat lahan kritis dalam kawasan 4. Merehabilitasi dengan jenis potensial
(T6 vs S2)

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |47


4.3.2. Strategi Mengatasi Kelemahan dengan Memanfaatkan Peluang
1. Mengelola kegiatan KPHL yang paling strategis dengan mengelola kegiatan yang
sudah ada dan berjalan serta dapat memperoleh income dalam waktu cepat (W1, W2
vs O1, O2)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Pengembangan pengelolaan madu hutan
b. Pengembangan dan pengolahan rotan
c. Mendorong investasi untuk penamfaatan air minum, mokro hidro/pembangkit
listrik.
2. Memperkuat kelembagaan KPHL Unit IV Seluma menjadi kelembagaan SKPD yang
mandiri (W3, W4 vs O1)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Memasukkan pembentukan kelembagaan KPHL Unit IV Seluma dalam
organisasi tatalaksana Pemda Provinsi Bengkkulu.
b. Penguatan kelembagaan dan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma
4.3.3. Strategi Memanfaatkan Kekuatan Untuk Mengatasi Ancaman
1. Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan kawasan KPHL Unit IV Seluma (T1,
T2 vs S3)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Program pemberdayaan masyarakat dalam kelompok tani dan legalitas
kelompok.
b. Penguatan kelembagaan kelompok masyarakatdalam bentuk koperasi
2. Meningkatkan pengawasan hutan (T1 vs S2)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Operasi perlindungan hutan dan pengamanan hutan
b. Penyuluhan kepada masyarakat
c. Pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan
d. Pencegahan pencurian hasil hutan dan perburuan liar
e. Program inventarisasi berkala wilayah kelola
3. Melakukan sosialisasi KPHL Unit IV Seluma ke masyarakat (T5, T6 vs S1)
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Sosialisasi KPHL Unit IV Seluma
b. Ikut serta dalam kegiatan pameran pembangunan nasional

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |48


4.3.4. Strategi Memperkecil Kelemahan dan Mengatasi Ancaman
1. Mengembangkan insentif bagi masyarakat untuk merehabilitasi lahan dan hutan (T6
vs W1).
Kegiatan yang dapat dilaksanakan:
a. Diversifikasi Pemanfaatan hutan pada wilayah tertentu
b. Membuka akses informasi potensi pemanfaatan kawasan KPHL yang
memnungkinkan dikembangkan untuk usaha rakyat
Kegiatan-kegiatan yang telah disusun berdasarkan strategi di atas, akan disusun
kembali sesuai petunjuk teknis penyususnan Rencana Pengelolaan KPHL dan akan tersaji
pada BAB V.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |49


BAB. V
RENCANA KEGIATAN

Konsep rencana kegiatan merupakan hal mendasar dalam semua kebijakan menuju
perubahan dampak/ impact yang akan dicapai dalam kebijakan pembentukan KPH di
Indonesia. Secara umum konsep kegiatan menuju pencapaian dampak nyata pembentukan
KPH tersaji pada Gambar 5.1.

Hasil Pembangunan yang Diperoleh dari


Pencapaian Outcome

Manfaat yang Diperoleh Dalam Jangka


Menengah untuk Beneficieries Tertentu
Sebagai Hasil dari Output

Produk/Barang/Jasa Akhir yang Dihasilkan

Proses/Kegiatan Menggunakan Input dan


Menghasilkan Output yang Diinginkan

Sumberdaya yang Memberikan Kontribusi


dalam Menghasilkan Produk

Gambar 5.1. Konsep alur instrument kegiatan menuju dampak.

Matrik Kegiatan jangka panjang KPHL Unit IV Seluma mengacu pada arah yang sesuai
dengan tujuan pembentukan KPH.

Tabel 5.1. Rencana Kegiatan dan Arahan kegiatan jangka panjang KPHL Seluma Unit IV.

NO. KEGIATAN ARAH RENCANA KEGIATAN

1. Inventarisasi Berkala Wilayah Inventarisasi hutan secara berkala dan


Kelola serta Penataan Hutannya menyeluruh akan dilakukan untuk mendapatkan
data dan informasi yang lengkap tentang progres
kegiatan dan dampaknya terhadap neraca
sumber daya alam di wilayah KPHL Unit IV
Seluma.

2. Pemanfaatan Hutan pada Wilayah Mengacu pada fungsi hutan yang merupakan
Tertentu hutan lindung dan Hutan Produksi Terbatas
berdasarkan PP N0.3 tahun 2008 dan PP No.6

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |50


Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Rencana
Pengelolaan hutan, maka pemanfaatan ditujukan
pada pemanfaatan kawasan hutan, HHK-HA,
HHBK dan jasa lingkungan. Oleh karena itu,
pemanfaatan kawasan KPHL Unit IV Seluma
untuk kelima bloknya, baik blok inti, blok
pemanfaatan dan blok pemberdayaan harus
diarahkan kepada fungsi seperti yang tertuang
dalam aturan tersebut.

3. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat diarahkan pada


penentuan pilihan sumber-sumber penghidupan
yang berkelanjutan, dengan memberikan
peningkatan kapasitas dan kesempatan untuk
mengembangkan diri berdasarkan potensi yang
dimiliki, dengan memperhatikan lima modal
kehidupan, yaitu: fisik, sosial, finansial, manusia
dan modal alam

4. Pembinaan dan Pemantauan Pembinaan dan pemantauan pelaksanaan


(Controlling) Pelaksanaan rehabilitasi dan reklamasi pada areal yang sudah
Rehabilitasi dan Reklamasi pada dan akan mendapatkan ijin pemanfaatan dan
Areal yang Sudah Ada Ijin penggunaan kawasan hutan akan dilakukan
Pemanfaatan dan Penggunaan secara intensif dan ketat dengan membangun
Kawasan Hutannya SOP yang memadai, terutama pada IPPKH
untuk tambang.

5. Penyelenggaraan Rehabilitasi Pada Penyelenggaraan rehabilitasi pada areal di luar


Areal Areal di Luar Ijin ijin akan dibangun melalui kerjasama dengan
para pengusaha tambang dalam rangka
reklamasi areal tambang.

6. Pembinaan dan Pemantauan Pembinaan dan pemantauan pelaksanaan


(Controlling) Pelaksanaan rehabilitasi dan reklamasi pada afreal yang
Rehabilitasi dan Reklamasi pada sudah dan akan mendapatkan ijin pemanfaatan
Areal yang Sudah Ada Ijin dan penggunaan kawasan hutan akan dilakukan
Pemanfaatan dan Penggunaan secara intensif dan ketat dengan membangun
Kawasan Hutannya SOP yang memadai.

7. Penyelenggaraan Perlindungan Penyelenggaraan perlindungan hutan dan


Hutan dan Konservasi Alam konservasi alam ditujukan pada pencegahan
illegal logging, perambahan, pengendalian
kebakaran hutan/lahan, dan over harvesting
sumberdaya alam agar kelestarian
keanekaragaman hayati tetap terjaga.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |51


8. Penyelenggaraan Koordinasi dan Penyelenggaraan koordinasi dan sinkronisasi
Sinkronisasi Antar Pemegang Ijin antar pemegang ijin maupun pengelola
kawasan/areal kerja akan dibangun melalui
komunikasi yang efektif dan efisien.

9. Koordinasi dan Sinergi dengan Penyelenggaraan koordinasi dan sinergi antar


Instansi dan Stakeholder Terkait stakeholder maupun pengelola kawasan/areal
kerja akan dibangun melalui komunikasi yang
efektif dan efisien.

10. Penyediaan dan Peningkatan Penyediaan dan peningkatan kapasitas SDM


Kapasitas SDM akan dilakukan kepada Sektor Publik, Sektor
Swasta dan CSO baik untuk aspek akademis,
teknis dan profesionalisme. Selanjutnya,
penyediaan dan peningkatan SDM ini akan
didukung dengan adanya kelembagaan yang
memadai dalam pengelolaan kawasan KPHL
Unit IV Seluma tersebut.

11. Penyedian Pendanaan Penyediaan pendanaan akan lebih difokuskan


kepada bantuan pihak ketiga yang tidak
mengikat baik secara langsung ataupun tidak
langsung, seperti fasilitasi berbagai perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan.
12. Peningkatan Sarana dan Prasarana Penyediaan dan peningkatan sarana dan
prasarana untuk optimalisasi pengelolaan di
tingkat tapak dan pelayanan masyarakat

13. Pengembangan Database Pengembangan database merupakan hal


mendasar yang harus dilakukan secara rutin
dengan kualitas data dasar yang memiliki
ketepatan dan ketelitian tinggi sebagai bahan
utama perencanaan dan evaluasi kegiatan dan
keberhasilan pengelolaan. Pengembangan
database ini diikuti pula dengan peningkatan
kompetensi parapihak, baik sebagai operator
maupun sebagai analis dan pengambil
kebijakan.

14. Rasionalisasi Wilayah Kelola Rasionalisasi wilayah kelola akan dilakukan


sesuai dengan kemajuan cara dan sistem
perencanaan, serta perkembangan pengetahuan
akan kondisi biogeofisik dan sosial budaya
masyarakat di dalam dan sekitar wialayah
kelola.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |52


15. Review Rencana Pengelolaan Review rencana akan dilakukan minimal 5
Wilayah KPHL (Minimal 5 tahun sekali yang sedapat mungkin disesuaikan
Tahun Sekali) dengan tatawaktu penyusunan RPJM dan
Pemerintah Provinsi Bengkulu dan diselaraskan
dengan target serta prioritas pembangunan
daerah.

16. Pengembangan Investasi Pengembangan investasi akan dilakukan dengan


tetap mempertibangkan keberlanjutan ekosistem
dan tetap memperhatikan tujuan utama atau
fungsi lindung.

1.1.4. Rencana Inventarisasi Berkala Wilayah Kelola KPHL


5.1.1. Inventarisasi
Inventarisasi hutan berkala diperlukan untuk lebih memantapkan data yang diperoleh
dari survey awal tentang keadaan dan potensi sumberdaya hutan dan lingkungan di KPHL
Unit IV Seluma. Kegiatan ini sangatdiperlukan untuk mendukung perhitungan asset dan
pengembangan kemanfaatan potensi hutan dan harus dilakukan setiap tahun atau secara
berkala.
Inventarisasi hutan diarahkan untuk mendapatkan data dan informasi detail yang
berkaitan dengan potensi sumberdaya hutan antara lain:
1. Status penggunaan dan tutupan hutan
2. Jenis tanah, kelerengan, iklim
3. Hidrologi/tata air, bentang alam dan gejala alam lainnya
4. Kondisi sumberdaya manusia dan demografi
5. Jenis, potensi dan sebaran flora
6. Jenis, potensi dan sebaran fauna
7. Potensi tumbuhan tanaman obat
8. Potensi jasa lingkungan
9. Potensi ekowisata
10. Potensi lebah madu
11. Potensi anggrek hutan
12. Potensi lainnya

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |53


Kegiatan inventarisasi tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam perbaikan
pembagian blok yang sebelumnya telah ditetapkan. Pembagian blok dan petak adalah
kegiatan membagi-bagi wilayah KPHL menjadi unit-unit pengelolaan dengan maksud untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan. Pembagian Blok dilaksanakan dengan
memperhatikan:
1. Kondisi biofisik lapangan
2. Kondisi sosial masyarakat sekitar
3. Potensi sumberdaya hutan
4. Keberadaan hak/ijin pemanfaatan hutan
Inventarisasi dilakukan secara bertahap dimulai tahun 2016 sehingga pada akhir tahun
2025 semua wilayah kelola sudah diinventarisasi dengan baik. Diharapkan pembiayaan
kegiatan ini mendapat dukungan dari pemerintah pusat sampai KPHL Unit IV Seluma dapat
mandiri dan diprediksi dapat membiayai sendiri kegiatan ini di tahun 2025.
5.1.2. Penataan Kawasan Hutan
Tabel 5.2. Rencana Kegiatan Inventarisasi dan Penataan Hutan
WAKTU
No Uraian Kegiatan Target Indikator Keberhasilan (Tahun ke-)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Inventarisasi, 82.240 ha ( Tersedia data dan


meliputi pengadaan RPH Alas, RPH informasi sumber daya
citra, inventarisasi Talo, RPH hutan di dalam dan sekitar
terestris dan Pilubang dan di wilayah kelola
inventarisasi RPH Seluma)
sosekbud

2. Penataan Tata Batas 34.066,7 ha Tertata kawasan hutan di


Blok dan Petak, (RPH Pilubang tingkat RPH
Pemetaan dan RPH
Seluma)
3. Penataan Tata Batas 48.173,8 ha Tertata kawasan hutan di
Blok dan Petak, (RPH Talo dan tingkat RPH
Pemetaan RPH Alas)
4. Sosialisasi batas 82.240 ha ( Pengakuan oleh
kawasan blok dan RPH Alas, RPH masyarakat di dalam dan
petak Talo, RPH di luar kawasan hasil tata
Pilubang dan batas
RPH Seluma)

5. Penyusunan Dokumen Tersedianya dokumen


Rencana Rencana Rencana Pengelolaan
Pengelolaan Hutan Pengelolaan Hutan
Hutan

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |54


5.2. Pemanfaatan Hutan Pada Wilayah Tertentu
Wilayah tertentu pada KPHL Unit IV Seluma memiliki luas 26.632,2 ha antara lain:
1. Blok Pemberdayaan seluas 6.963 Ha.
2. Blok Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) tanaman
Jelutung dan dammar mata kucing seluas 4.813,20 Ha.
3. Blok Pemanfaatan untuk Hkm, HD seluas 14.856,0 Ha
Pemanfaatan Wilayah Tertentu akan mempedomani Peraturan Menteri Kehutanan
nomor: P.47/Menhut-II/2013 tentang pedoman, kriteria, dan standart pemanfaatan hutan.
Pemanfaatan wilayah tertentu pada KPHL Unit IV Seluma dikembangkan untuk menunjang
bisnis utama (CORE BUSSINES) sesuai potensi pada setiap blok dan petak yang terdapat di
wilyah kelola KPHL. Bisnis utama KPHL diarahkan untuk pengusahaan budidaya tanaman
Kayu Bambang lanang dan atau jelutung, Durian/Pala di RPH Pilubang dan RPH Seluma
sedangkan di RPH Talo kayu Bawang dan durian Bentara sedangkan di RPH Alas akan
dikembangkan dammar mata kucing. Pala dan damar mata kucing diprioritaskan untuk
menjadi core bussines. Tentu saja Kopi tetap diberi ruang untuk berproduksi. KPHL Seluma
Unit IV untuk kedepannya akan membentuk dan memfasilitasi koperasi simpan pinjam
Pengusulan wilayah tertentu dapat dilaksanakan dengan fasilitasi dari KPHL dan
diusulkan dengan pola kemitraan. Kegiatan pemanfaatan wilayah tertentu sangat menentukan
keberhasilan usaha KPHL Unit IV Seluma yang pada akhirnya dapat menetukan kemandirian
pengelolaan hutannya. Termasuk didalamnya pemanfaatan potensi sumber air bersih,
ekowisata yang dapat dikerjasamakan dengan investor/industri maupun sebagai sumber
bahan baku air kemasan dan sumber tenaga pembangkit listrik. Pemanfaatan air dapat juga
menjadi supporting core bussines yang dapat meningkatkan pendapatan KPHL menuju
KPHL yang lestari menuju kemandirian.
Tabel 5.3. Kegiatan Pemanfaatan Wilayah Tertentu
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Program Kegiatan
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 Pemanfaatan hutan 1. Optimalisasi Kapasitas


di wilayah tertentu pemanfaatan hasil hutan pengelolaan
untuk core bussines kayu : Kayu Bambang hutan
Kayu Bambang Lanang, Kayu Bawang, meningkat baik
lanang dan Kayu Durian dan dari segi
jelutung, Kayu Jelutung kuantitas,
Durian, dammar kualitas
serta Pala dan 2. Peningkatan meningkat
sumber air pemanfaatan Hasil serta
Hutan Bukan Kayu :
kemasan pendapatan
dammar, durian, wisata
masyarakat dan
alam, air (PLMTH), air
daerah
minum kemasan, air

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |55


PDAM dan kopi meningkat
Sosialisasi dan publikasi
Rencana Pengelolaan
Sosialisasi potensi Hutan kepada pihak
2.
Wilayah Tertentu ketiga.

Memperkenalkan potensi
Promosi dan Adanya
yang besar baik dari hasil
Publikasi kerjasama
3. hutan kayu dan bukan
bersama pihak
kayu serta jasa
investor
lingkungan
Melakukan aktifitas
Pembentukan
4. dengan pola pengelolaan
Koperasi
Badan Layanan Umum

5.3. Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya hutan secara optimal dapat
dilakukan melalui pengembangan kapasitas maupun pemberian akses pemanfaatan
sumberdaya hutan untuk peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar hutan. Sesuai Visi dan
Misi KPHL Unit IV Seluma bahwa pengelolaan KPHL dilakukan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Masyarakat di dalam dan sekitar hutan harus mendapat perhatian
serius agar tujuan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma dapat tercapai dan dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat.
Pola pemberdayaan yang ada haruslah mencerminkan pendekatan partisipatif dan
mengarah sesuasi tujuan. Pendekatan penguatan kelompok masyarakat untuk lebih
meningkatkan kemampuan diri dan peningkatan kesejahteraan untuk mencapai hidup mandiri
dan menyesuaikan keinginan kelompok akan menjamin kekuatan kelompok masyarakat
dalam menyikapi perubahan yang ada . Penguatan usaha kelompok misalnya dengan
pendekatan pola Hutan Kemasyarakatan, kemitraan dan penguatan lembaga ekonomi dengan
pembentukan koperasi dimana kelompok merupakan tulang punggung pemanfaatan hutan
akan menguatkan keberadaan hutan dan masyarakat penerima manfaat.
KPHL Unit IV Seluma menetapkan budidaya Kayu Bambang lanang dan atau jelutung
serta Pala sebagai bisnis utama (core bussines) dalam mendapatkan pendapatan untuk
menunjang pengelolaan hutan lestari. Pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan
penanganan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan jenis utama core bussines harus terus
menerus dilaksanakan sampai pada model bisnisnya. Pendampingan masyarakat dalam
penguatan dan penguasaan teknologi sangat diperlukan dan dengan adanya tenaga Bakti
Rimbawan dan pendamping yang kompeten diharapkan program pemberdayaan dapat
berjalan sesuai harapan pengelola.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |56


Target pemberdayaan diutamakan masyarakat di dalam hutan baik di hutan produksi
maupun hutan lindung dan masyarakat yang telah mempunyai “kebun” di dalam kawasan
hutan dalam wilayah pengelolaan KPHL Unit IV Seluma.
Keberadaan desa devenitif di dalam kawasan KPHL Unit IV Seluma perlu
mendapatkan perhatian dalam kerangka pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar
hutan. Pendekatan yang dipakai untuk desa-desa enclave akan dilakukan pemberdayaan
dengan penguatan struktur desa yang sudah ada. Pola pemberdayaan yang akan dilakukan
tetap berbasis kemandirian petani dalam wadah kelompok-kelompok tani.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |57


Tabel 5.4. Rencana Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat.
WAKTU
Indikator
No Program Kegiatan (Tahun ke-)
Keberhasilan
4 5 6 7 8 9 10
1 2 3
-membentuk dan
1. Pembentukan Terbentuknya
mendampingi
Kelompok Tani kelompok tani
kelompok tani
Hutan dan hutan.
hutan dari
pendampingan
masyarakat
kelompok tani
setempat.

-pencandangan
2. Fasilitasi HKm Diterbitkannya Ijin
wilayah Hkm
sesuai core HKM kemitraan
(14.856 ha)
bussines Kayu dan ijin
-pengembangan
Bambang pemanfaatan jasling
kelembagaan
lanang dan atau air
kelompok
jelutung serta
masyarakat
Pala-Durian dan
setempat.
sumber air
-pengajuan
permohonan izin
-penyusunan
rencana kerja
HKM

-penyusunan
3. Fasilitasi Core Rencana kerja dan
rencana kerja
bussines rencana tindak
untuk mendukung
pelaksanaan core
pelaksanaan Core
bussines
Bussines
-pendidikan dan Tersedianya tenaga
latihan Bisnis trampil pengelola
core bussines

4. Pengembangan Peningkatan Mutu Meningkatnya


Agroforestri kebun kayu produktifitas kebun
Intensif bambang dengan berkaidah
lanang/Jelutung konservasi
dan Pala
masyarakat dalam
kawasan dengan
konservasi

5.4. Pembinaan dan Pemantauan Pada Areal KHPL Berijin dan Blok Pemanfaatan
Kawasan

Di dalam kawasan KPHL Unit IV Seluma terdapat areal yang telah diberikan ijin
pemanfatan kawasan yaitu ijin pemanfaatan kawasan untuk kegiatan pertambangan batubara
(PT. Bara Indah Lestari dan PT. Ratu Samban Mining) dan terdapat blok khusus pemanfaatan
sawah oleh masyarakat secara turun temurun. Selain itu telah dikeluarkan ijin ekplorasi
tambang emas oleh Bupati Seluma (IUP no. 99 tahun 2014 tanggal 25 November 2014 seluas
30.785,9 ha). Untuk perihal ijin tambang emas, KPHL Unit IV Seluma akan menunggu

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |58


perkembangannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Pemanfaatan kawasan ijin tambangini
lebih ditekankan pada rehabilitasi kawasan berupa reklamasi lahan dan lebih diutamakan
dengan pola kemitraan. Sedangkan untuk blok khusus sawah pembinaan dan pemantauan
areal sawah akan diajukan untuk mendapat petunjuk khusus dari kementrian LHK.

Tabel 5.5. Rencana Kegiatan Pembinaan dan Pemantauan areal berijin dan areal pemanfaatan
WAKTU
No Uraian Kegiatan Target Indikator Keberhasilan (Tahun ke-)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kinerja telah dilakukan
1. Pembinaan, -pemanfaatan jasa
sesuai dengan rencana
Monitoring dan lingkungan dan
pengelolaan
Evaluasi HHBK
Pemanfaatan Hutan
di Hutan Lindung
Kinerja telah dilakukan
2. Pembinaan, -pemanfaatan
sesuai dengan rencana
Monitoring dan kawasan
pengelolaan
Evaluasi
-pemanfaatan hasil
Pemanfaatan Hutan
hutan kayu dalam
di HPT
hutan alam
-pemungutan hasil
hutan bukan kayu
dalam hutan alam
Kinerja telah dilakukan
3. Pembinaan, Penggunaan
sesuai dengan rencana
Monitoring,Evaluasi kawasan hutan untuk
pengelolaan
dan Pelaporan petambangan, sarana
perhubungan/jalan,
sarana
telekomunikasi,
pinjam pakai
kawasan hutan

5.5.Penyelenggaraan Rehabilitasi
Pada kawasan hutan yang telah mengalami degradasi, baik karena aktifitas penebangan
hutan maupun perubahan tutupan menjadi “kebun kopi” perlu dilakukan rehabilitasi dengan
penanaman jenis pohon sesuai dengan kondisi ekologis dan peruntukan lahan. Jika kerusakan
terjadi di sempadan sungai maka jenis pohon yang dipilih adalah pohon-pohon jenis asli
(indigenous species) dengan tujuan untuk melindungi tanah dari erosi. Jika kerusakan terjadi
di areal lain yang datar, dekat dengan permukiman, maka jenis yang dipilih adalah pohon-
pohon kehidupan yang memiliki nilai ekonomi sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
untuk menambah pendapatan.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2015
Tentang Rehabilitasi Dan Reklamasi Hutan, rehabilitasi hutan diselenggarakan melalui
kegiatan:

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |59


a. reboisasi;
b. pemeliharaan tanaman;
c. pengayaan tanaman; atau
d. penerapan teknik konservasi tanah.
Sasaran rehabilitasi adalah hutan lindung dan hutan produksi yang telah terdegradasi
dan telah terdegradasi dan merupakan DAS Prioritas berdasarkan kriteria kondisi spesifik
biofisik, sosial ekonomi, Lahan kritis pada bagian hulu DAS dan wilayah hutan yang rentan
perubahan iklim. DAS prioritas I dengan kriteria lahan yang sangat kritis. DAS Prioritas itu
terutama pada :
a. Bagian hulu DAS yang rawan memberikan dampak bencana banjir, kekeringan dan
tanah longsor.
b. Daerah tangkapan air (catchment area) dari waduk, bendungan dan danau.
c. Daerah resapan air (recHarge area) di hulu DAS.
d. Daerah sempadan sungai, mata air, danau dan waduk.
Tabel 5.6. Rencana Kegiatan Rehabilitasi
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pembuatan rencana 4 RPH Tersedianya
teknik tanaman rencana rehabilitasi
rehabilitasi di tingkat
berbasis core tapaksemua pihak
bussines :
-penyiapan areal
-pemeliharaan
tanaman
-pengayaan
tanaman
-penerapan teknik
konservasi
2. Pelaksanaan 5.000 Ha Terbangunnya
rehabilitasi di areal (60 petak) tegakan Core
terganggu/kebun di bussinesdi 3 RPH
kawasann KPHL
3. Pengawasan dan 4 RPH Tercatatnya
perawatan perkembangan
tumbuhan/ tanaman tanaman dan
rehabilitasi silvikulturnya
4. Studi Peningkatan 4 RPH Tersedia SOP
pertumbuhan peningkatan
tanaman hutan pertumbuhan
tanaman

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |60


5.6.Pembinaan dan Pemantauan Pelaksanaan Rehabilitasi
Pembinaan dan pemantauan pada kawasan KPHL yang telah dikeluarkan ijinnya dapat
dilakukan sesuai kebutuhan, misalnya bisa setiap bulannya atau setiap tiga bulanan atau
setiap semester, tergantung dari urgensi masing-masing kegiatan yang tercakup dalam
perijinan yang telah dikeluarkan. Peran KPHL sangat penting dalam pembinaan dan
pemantauan untuk menjamin agar pemegang ijin dalam melaksanakan kegiatannya sesuai
dengan rencana kerjaumum maupun rencana kerja tahunan dan memastikan agar tidak terjadi
penyalah gunaan ijin yang telah diterbitkan.
Dengan pembinaan dan pemantauan maka aktifitas pemegang ijin baik yang sedang
melakukan tahapan rehabilitasi maupun tahap operasional lainnya dapat dipantau dan
diketahui aktifitasnya.
Tabel 5.7. Rencana Kegiatan Pembinaan dan Pemantauan
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pemantauan dan 4RPH Tersedianya data
pembinaan aktifitas kegiatan
5 ijin
pemanfaatan penerima ijin
kawasan berijin
2. Pemantauan 5.000 Ha Terpantau
Pelaksanaan (60 petak) pembangunan
rehabilitasi di areal tegakan Core
terganggu/kebun di bussinesdi 3 RPH
kawasann KPHL
3. Pembinaan Lahan Terbinanya
Penyelenggaraan kritis penyelenggaraan
Pengelolaan DAS DAS

5.7.Penyelenggaraan Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam


Rencana perlindungan hutan dan konservasi sumberdaya alam dapat difokuskan pada
tiga kegiatan inti yaitu pengendalian kawasan perlindungan sebagai kawasan konservasi,
pengendalian kebakaran hutan dan pengelolaan keanekaragaman hayati. Pengendalian
kawasan perlindungan dan konservasi dimaksudkan untuk mewujudkan pengelolaan KPHL
yang lestari dengan mempertahankan kawasan konservasi dari berbagai ancaman seperti
illegal logging, perubahan tutupan areal konservasi dll. Kegiatan perlindungan dapat juga
dilakukan dengan patroli rutin dan operasi gabungan dan koordinasi pengamanan hutan.
Pencegahan dan pengendalian kebakaran dimaksudkan untuk mempertahankan
keutuhan hutan dari bencana kebakaran yang dapat terjadi karena ulah manusia. Upaya ini

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |61


dapat dilakukan baik secara internal KPHL maupun dengan mengikut sertakan masyarakat
dalam tim pemantau kebakaran hutan dan lahan.
Pengelolaan keanekaragaman hayati dimaksudkan untuk menjaga, mengawetkan dan
mempercepat pemulihan jenis-jenis produk tanaman hutan dan hewan yang berada di dalam
kawasan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma.
Tabel 5.8. Rencana Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Alam
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pembentukan tim 4 RPH Terbentuknya tim
pengamanan hutan pengamanan hutan
berbasis
masyarakat
2. Pelaksanaan 4 RPH Kawasan hutan
operasi rutin dan aman dari kegiatan
berkala di kawasan illegal di 3 RPH
KPHL
3. Pembangunan 2 RPH Tersedianya akses
akses jalan patroli (RPH jalan patroli
di kawasan hutan Pilubang
lindung dan RPH
Talo)
4. Pembuatan sekat 2 RPH Terbangunnya
batas api untuk (RPH sekat batas api
menanggulangi Pilubang kebakaran
kebakaran dan RPH
Alas)
5. Sosialisasi 4 RPH Masyarakat paham
kebakaran hutan dan sadar
dan perlindungan perlindungan hutan
hutan
6. Studi perambahan 4 RPH Tersedia kajian
dan alternative perambahan
solusinya

5.8.Penyelenggaraan Koordinasi dan Sinkronisasi Pemegang Ijin


Koordinasi dengan para pemegang ijin yang telah ada dan para pemegang ijin baru, jika
nanti sudah ada pemegang ijin baru, dapat dilakukan secara periodic untuk menghindari
konflik batas areal kerja dan penyamaan persepsi terhadap peraturan-peraturan yang berlaku
sesuai dengan arah dan tujuan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma. Sinkronisasi diperlukan
untuk dapat saling mendukung upaya2 rencana KPHL menuju KPHL yang mandiri.
Koordinasi dan sinkronisasi juga melibatkan pihak-pikah terkait dalam pengelolaan potensi
kawasan hutan sehingga dapat menciptakan hubungan kerja yang baik dan kesamaan visi
yang diinginkan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |62


Tabel 5.9. Rencana Kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi
WAKTU
Indikator
No Uraian Kegiatan Target (Tahun ke-)
Keberhasilan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Koordinasi dengan 4 Kec, 26 Kesepahaman visi
pemegang ijin dan desa dan misi KPHL
stakeholder ttg
rencana
pengelolaan
2. Koordinasi dan 5 (lima) Terjadi sinergisme
sinkronisasi para pemegang kegiatan menuju
pemegang ijin ijin kemandirian KPHL
3. Sosialisasi potensi 4 RPH Terdapat investor
kawasan untuk ijin baru untuk
pemanfaatan pemanfaatan hutan

5.9.Koordinasi dan Sinergi dengan Stakeholder Terkait


Koordinasi dan sinergi dimaksudkan untuk menyamakan langkah semua SKPD terkait
baik di tingkat Kabupaten Seluma maupun di tingkat Kecamatan. Koordinasi juga harus
dilakukan dengan SKPD di tingkat Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Pusat (terutama
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).
Koordinasi lebih ditujukan untuk saling bertukar data, informasi dan pengalaman antar
pengelola KPHL dengan stakeholder. Sinkronisasi lebih diupayakan untuk menserasikan dan
mensinergikan semua kegiatan di dalam kawasan kelola KPHL Unit IV Seluma agar sejalan
dengan berbagai tujuan dalam kepentingan pembangunan yang lebih besar.

Tabel 5.10. Rencana Kegiatan Koordinasi dan Sinergi dengan Instansi Terkait
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Koordinasi di Sekali Terjalinnya
tingkat kabupaten pertahun komunikasi dengan
dan provinsi pihak terkait
2. Kordinasi dan Dua kali Terjadi
sinergi dengan per tahun sinkronisasi
pemerintah pusat kegiatan dan
peluang program
baru

5.10.Penyediaan dan Peningkatan Kapasitas SDM


Peningkatan kapasitas dan efektifitas pengelolaan KHPL Unit IV Seluma dapat
dilakukan dengan penambahan personil untuk mengisi formasi yang tersedia. Dengan jumlah
personil yang memadai maka target pengelolaan dapat tercapai dengan baik dan tepat waktu.
Penambahan pegawai dan rekrutmen petugas lapangan disesuaikan dengan kebutuhan
lapangan dan prosedur yang ada baik pengusulan maupun penambahan formasi pegawai

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |63


harus disampaikan ke Gubernur Provinsi Bengkulu. Sedangkan rekrutmen petugas lapangan
sebisa mungkin mengutamakan masyarakat sekitar hutan dengan sistem tenaga upah/kontrak.
Potensi SDM yang tersedia di KPHL Unit IV Seluma masih sangat terbatas, dengan
demikian perlu dilakukan upaya-upaya pengembangan dan perbaikan. Upaya yang dapat
dilakukan dalam jangka panjang berupa:
1. Perbaikan jenjang pendidikan
2. Pemetaan dan peningkatan kompetensi
3. Pendidikan dan pelatihan SDM
4. Studi banding/ Pertukaran staf pengelola
5. Magang Pegawai

Saat ini KPHL Seluma Unit IV memiliki struktur organisasi dengan jumlah personil
dan jabatan personil sebagai berikut :
Tabel Jumlah personil di KPHL Seluma Unit IV
No Jabatan Jumlah (orang)
1 Kepala KPH 1
2 KSBTU 1
3 Polhut 6
4 Bakti Rimbawan 6
5 Tenaga Honor 2

Analisis kebutuhan tenaga teknisi lapangan termasuk Jagawana didasarkan pada


pertimbangan bahwa setiap staf tenaga teknis pada tingkat Resort Pengelolaan Hutan (RPH)
kemampuan mengurus hutan adalah 20.000 Ha/orang, sedangkan pada tingkat lapangan
(Jagawana) adalah 1.000 – 2.000 Ha/orang dengan latar belakang pendidikan teknis
kehutanan, pertanian, hukum dan lain-lain. Luas areal unit KPHL Seluma Unit IV ± 82.242
ha, dari luasan ini KPHL IV Seluma masih membutuhkan peningkatan jumlah personil baik
kuantitas maupun kualitas SDM yang ada.

5.11.Penyediaan Pendanaan
Penyediaan pendanaan KPHL Unit IV Seluma dapat berasal dari APBN, APBD
maupun sumber lain yang telah dirancang dan relevan model Core Bussines yang disusun.
Secara prinsip, model sumber pembiayaan dikaitkan dengan perkembangan pengelolaan
KPHL Unit IV Seluma. Pada tahun-tahun awal pendirian KPHL ini berasal dari program dan
kegiatan pemerintah pusat dan kontribusi pemerintah Provinsi Bengkulu juga diharapkan

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |64


lebih besar. Namun dengan semakin berkempangnya pengelolaan KPHL, peran pemerintah
pusat semakin berkurangdan pembiayaan akan ditopang dari APBD Provinsi Bengkulu yang
salah satunya bersumber dari penerimaan PAD yang disetor oleh KPHL Unit IV Seluma.
Perkiraan presentase sumber pembiayaan setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel. Sesuai
visi KPHL Unit IV Seluma yakni mandiri di tahun 2025, maka terlihat bahwa sumber
pembiayaan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah semakin menurun dengan
berjalannya waktu dan kemandirian KPHL dicapai pada tahun 2025.

Tabel 5.11. Perkiraan Sumber Pembiayaan (%) KPHL Unit IV Seluma


WAKTU
No Uraian Kegiatan (Tahun ke-)
2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
1. Pemerintah Pusat 90 80 75 60 50 35 25 15 5 -
2. Pemerintah Provinsi 5 20 25 30 25 25 25 20 15 -
4. Mandiri oleh KPHL - - - 10 25 40 50 65 80 100

5.12.Peningkatan Sarana dan Prasarana


Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, KPH memerlukan sarana dan prasarana guna
menunjang kegiatan KPH. Berdasarkan Permenhut No. 41 tahun 2011 pasal 3 dan PP
45 Pasal 10 bahwa sarana prasarana KPH terdiri dari :
a. Bangunan Kantor
b. Kendaraan operasional yang meliputi kendaraan roda empat, kendaraan roda
dua dan atau kendaraan perairan
c. Kendaraan kantor yang meliputi : meja dan kursi kerja lemari kantor dan
peralatan elektronik kantor
d. Peralatan operasional meliputi alat komuknikasi dan perangkat lunak
computer.
e. Perangkat keras computer dan peralatan survey.
f. Sarana pendukung kegiatan pengelolaan hutan misalnya pembuatan pal batas
blok atau petak.
g. Pembuatan jalan pendukung pengelolaan hutan.
h. Perangkat yang berhubungan dengan penglolaan hutan antara lain pal batas
hutan, pos jaga, papan informasi, menara pengawas, sarana komunikasi dan
sarana transportasi.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |65


i. Sarana perlindungan hutan dapat berupa alat pemadam kebakaran hutan baik
perangkat lunak maupun perangkat keras, alat komunikasi, perlengkapan
satuan pengaman hutan, tanda batas kawasan hutan plang/tanda tanda
larangan.
j. Prasarana perlindungan hutan dapat berupa asrama satuan pengaman hutan,
rumah jaga, jalan jalan pemeriksaan, menara pengawas dan parit batas.

Tabel 5.12. Rencana Kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana


WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pengadaan Kantor KPH 1 unit Tersedianya
kantor KPH
2. Pembangunan Kantor 4 unit Tersedianya
KRPH kantor KRPH
3. Peralatan kantor (meja, Pm Tersedia
kursi, lemari kantor dan peralatan
alat elektronik kantor) kantor
4. Peralatan Operasional Tersedia
(alat komunikasi, peralatan
perangkat lunak, operasional
perangkat keras Pm
komputer, laptop
peralatan Survey)
5. Sarpras pendukung 4 RPH Tersedia
kegiatan pengeolaan Sarpras
hutan : pendukung
kegiatan
- Pembuatan jalan
pengeolaan
patroli di sepanjang
hutan
hutan
primer/sekunder dan
hutan yang rusak
- Pembuatan pos jaga,
asrama satuan
pengamanan hutan,
papan infomasi
- Pembuatan menara
pengawas

5.13.Pengembangan Database
Database yang lengkap dan terbaru sangat berguna bagi pengambil keputusan dalam
pengelolaan KPHL Unit IV Seluma. Database yang tersedia berbasis tapak/petak sehingga
semua kegiatan dapat terdokumentasi dan memudahkan perencana dalam merencanakan
kegiatan ke depannya. Selain itu database juga sangat bermanfaat bagi pihak luar misalnya
perguruan tinggi, Lembaga penelitian dalam dan luar negeri, LSM, instansi pemerintah

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |66


maupun individu; terutama bila data yang bisa diterbitkan untuk umum telah diunggah di
web-site KPHL Unit IV Seluma.
Dalam organisasi KPHL sebaiknya dibuat unit khusus yang mengani database dan
website. Unit ini bertanggung jawab dalam pengumpulan data, penyimpanan data,
pengolahan dan penyajian data dan informasi yang siap digunakan. Data yang digunakan
dapat berupa analog (peta, dokumen, data penelitian dll) dan bisa juga berupa digital
(dokumen, data GIS dan data digital lainnya).
Tabel 5.13. Rencana Kegiatan Pengembangan Database
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pengadaan 2 PC dan Tersedianya
computer dan Plotter perangkat software
plotter utk database dan hardware
2. Pembuatan website 1 website Tersedia website
dan maintenance KPHL
3. Pelatihan staf 2 org Staf terampil
database pengelola database

4. Membangun 3 display Tersedia ruang


system pusat pusat informasi
informasi

5.14.Rasionalisasi Wilayah Kelola


Pengelolaan KPHL Unit IV Seluma dimasa yang akan datang menghadapi tantangan
yang berat. Tantangan terberat adalah bertambahnya populasi penduduk sekitar kawasan
KPH yang dapat mempengaruhi ekosistem hutan di KPHL Unit IV Seluma. Hal ini menuntut
pihak pengelola KPH untuk melakukan kalkulasi yang scientific based yang dapat
dipertanggungjawabkan. Rasionalisasi pengurusan wilayah kelola mencakup 2 aspek yaitu: 1)
aspek fisik (kawasan) yang mencakup aspek silvikultur, tata guna hutan, eksplorasi potensi
dan lainnya dan 2) aspek non teknis yang meliputi rasionalisasi kelembagaan wilayah kelola
hutan mulai dari tingkat blok sampai dengan tingkat petak (organisasi, kewenangan dan
personil).
Rasionalisasi wilayah kelola dari aspek fisik merupakan bentuk penilaian kembali
terhadap kawasan blok atau petak pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan yang
mengalami perubahan. Misalnya jika blok pemanfaatan HHBK yang dikelola oleh kelompok
masyarakat tidak mampu dikelola dengan efektif dan efisien maka perlu dirasionalisasi
wilayah kerjanya. Perubahan wilayah kelola juga akan mempengaruhi operasional personil
dilapangan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |67


KPHL Unit IV Seluma menginginkan terwujudnya kepastian areal kerja melalui
kegiatan tata batas, penataan ruang yang efisien dan efektif. Inventarisasi hutan di wilayah ini
dilakukan untuk memperbaiki strategi dan pengembangan wilayah kelola yang sesuai dengan
kondisi terkini. Pelaksanaan rasionalisasi wilayah kelola ini dapat dilakukan bekerjasama
dengan pemegang ijin pemanfaatan maupun pengguna kawasan pada areal masing-masing.
Untuk di luar areal konsesi seperti pada wilayah pemanfaatan tertentu, Pengelola KPHL Unit
IV Seluma dapat melakukannya secara mandiri.
Bentuk rasionalisasi wilayah kelola diarahkan pada:
a. Tata batas kawasan pada areal pemanfaatan.
b. Tata batas kawasan pada areal di luar area pemanfatan.
c. Identifikasi dan inventarisasi kinerja pemanfaatan wilayah tertentu

5.15.Review Rencana Pengelolaan


Untuk memperoleh rencana pengelolaan jangka panjang (10 tahun) KPHL Unit IV
Seluma yang sesuai dengan kondisi terkini maka diperlukan kegiatan untuk meninjau
kembali rencana pengelolaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Review RPHJP akan
dilakukan secara bertahap yaitu dalam lima tahun perlaksanaan RPHJM, meskipun
penyesuaian dapat dilakukan rutin setiap tahun sehingga dapat dilakukan tindakan apabila
target pencapaian pengelolaan tidak tercapai. Kesesuaian antara rencana dan data serta fakta
di lapangan, akan memudahkan pelaksanaan di tingkat tapak. Selain itu, upaya pengelolaan
hutan yang efektif dan efisien dalam kerangka kelestarian hasil dan kelestarian hutan dapat
terwujud. Dengan mereview kembali, dapat melihat keberhasilan dan hambatan dalam
perjalanan pelaksanaan RPHJP tahun berjalan sehingga dapat diambil langkah-langkah
strategis untuk percepatan pencapaian target.
Tabel 5.14. Rencana Kegiatan Review Rencana Pengelolaan
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Evaluasi tahunan Satu per Tersedianya
RP tahun masukan untuk RP
jangka pendek
2. Pembuatan Satu Tersedia website
Rencana Tindak pertahun KPHL
3. Inventarisasi detail 4 RPH Database tersedia
untuk review RP

4. Review RP Satu RP Tersedia RP aktual

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |68


5.16.Pengembangan Investasi
Sebagai suatu unit kelola yang memiliki kewenangan untuk mengelola kawasannya
sendiri, upaya untuk mengembangkan investasi menjadi dimungkinkan. Investasi yang
dilakukan oleh KPHL Unit IV Seluma diarahkan pada kelola produksi yang memberikan
manfaat ekonomi bagi KPHL Unit IV Seluma sendiri maupun pemerintah/daerah dan
masyarakat. Pengelolaan produksi ini dapat berupa hasil hutan non kayu maupun dari
pengelolaan jasa lingkungan. Skema-skema pengembangan investasi dapat dilakukan dan
sesuai dengan kondisi di tingkat tapak.
Investasi hasil hutan non kayu yang dapat dikembangkan yaitu pala, pinang, aren,karet,
damar, gaharu dan jelutung. Pengembangan jenis pala pinang dan pala aren pada areal
wilayah tertentu dengan pola kemitraan. Hasil buah dari tanaman pala tersebut akan
menghasilkan dalam waktu 7 tahun dan dapat dipasarkan malalui pabrik penyulingan pala.
Bentuk pengembangan investasi diarahkan pada:
a. Menyusun Bussines Plan dalam pengembangan investasi pada produksi hasil hutan
kayu (Bambang lanang dan atau Jelutung serta dammar mata kucing) dan bukan kayu
yaitu pala, durian dan karet serta sumber bahan baku air kemasan.
b. Pengembangan kerjasama dengan investor dalam hal pemanfaatan kawasan hutan dan
jasa lingkungan.
Tabel 5.15. Rencana Pengembangan Investasi
WAKTU
Indikator (Tahun ke-)
No Uraian Kegiatan Target
Keberhasilan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Penyusunan 5 Core Tersedianya
Rencana Bisnis bussines perangkat software
plan dan hardware
2. Pelatihan bisnis 5 staf Tersedia tenaga
trampil
3. Road show ke 5 kali Tersedia peluang
bussines man investasi

4. Melakukan MoU 5 MoU Tersedia


dan Rencana kesepahaman
Tindak usaha bisnis

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |69


BAB. VI
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah terkait dengan pelaksanaan Norma,


Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang terkait dengan pengelolaan hutan produksi.
Selain itu juga mencakup pembinaan terhadap pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas
perbantuan, pinjaman dan hibah luar negeri sejauh terkait dengan pengelolaan KPHL Unit IV
Seluma. Pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas
Kehutanan Provinsi Bengkulu meliputi pembinaan terhadap pelaksanaan pengelolaan KPHL
Unit IV Seluma yang berskala regional.
Selain mendapat pembinaan dari Menteri, Gubernur dan Bupati, Kepala KPH
berkewajiban melakukan pembinaan pemantauan dan evaluasi terhadap :
a. Pelaksanaan Ijin Pemanfaatan Hutan di KPHL Seluma Unit IV
b. Pelaksanaan Ijin Pemanfaatan Kawasan Hutan di KPHL Seluma Unit IV
c. Pelaksanaan rehabilitasi di KPHL Seluma Unit IV
6.1. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Ijin Pemanfaatan Kawasan
Hutan di Wilayah KPHL Seluma Unit IV
Pemanfaatan hutan dalam bentuk pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan,
pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu harus mendapat izin sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku. Dalam wilayah KPHL Seluma Unit IV terdapat beberapa izin
pemafaatan hutan yaitu izin pemanfaatan kawasan. Pemegang izin pemanfaatan harus
menggunakan izinnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu,pembinaan,
pemantauan dan evaluasi diperlukan untuk:
1. Memastikan agar pemanfaatan hutan sesuai dengan izin yang diberikan\
2. Memastikan agar pemanfaatan hutan sesuai dengan lokasi, luas dan
batas-batas kawasan yang diizinkan.
Selain memberikan pembinaan, KPH juga bertugas untuk melakukan koordinasi
dengan pemegang izin, memberikan bimbingan teknis pemanfaatan sesuai peraturan yang
berlaku. Selain pembinaan kepala KPH juga bertugas melakukan pematauan terhadap izin
pemanfaatan hutan. Pemantauan ini bertujuan untuk memperoleh data dan infomrasi tentang
pelaksanaan izin pemanfaatan yang dapat akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan
mencegah terjadinya penyimpanagan izin pemanfaatan hutan sejak dini. Hasil monitoring dan
evaluasi dilaporkan kepada Bupati, Gubernur.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |70


6.2. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Ijin Penggunaan Kawasan Hutan di
Wilayah KPHL Seluma Unit IV
Penggunaan kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi dan peruntukan
kawasan hutan tersebut. Penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk mengatur penggunaan
sebagian kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan.
Penggunaan kawasan hutan diluar kegiatan kehutanan di wilayah KPHL Seluma Unit
IV antara lain. a). instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik serta teknologi energi
baru dan terbarukan; b). jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, dan stasiun relay
televisi; c). jalan umum; d). prasarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai prasarana
transportasi umum untuk keperluan pengangkutan hasil produksi; e). sarana dan prasarana
sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan saluran air bersih dan/atau air
limbah.
Kepala KPH berkerjasama dengan instansi tekait pemegang izin penggunaan kawasan
hutan melakukan pembinaan, pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan izin
penggunaan kawasan hutan. Pembinaan dilakukan melalui koordinasi dengan pemegang izin.
Pemantauan/monitoring dilaksanakan untuk memperoleh data tetang pelaksanaan izin
penggunaan. Data hasil pemantauan ini digunakan untuk mengevaluasi dan sekaligus
mencegah terjadinya penyimpangan izin penggunan kawasan hutan sejak dini.

6.3. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Rehabilitasi Hutan di Wilayah KPHL


Seluma Unit IV
Rehabilitasi kawasan hutan yang rusak menjadi tanggung jawab pengelola hutan.
Pemegang izin berkewajiban melakukan pembinaan dalam wilayah izinnya. Dalam hal ini
berkewajiban melakukan pembinaan, pemantauan dan monitoring dan evaluasi terhadap
pelaksanaan kegiatan rehabilitasi oleh pemegang izin. Kepala KPH sesuai peraturan juga
berkewajiban melakukan pembinaan melalui koordinasi dengan pemegang izin kawasan.
Pembinaan yang dilakukan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembinaan
teknis pelaksanaan kegiatan RHL oleh KPH dapat dilakukan berkerjasama dengan Ditjen
RHL antara lain melalui penerbitan pedoman/juklak/juknis, sosialisasi, diseminasi,
bimbingan dan supervisi. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan RHL meliputi
kegiatan monitoring, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut pelaksanaan kegiatan. Kegiatan
ini meliputi pengumpulan data numerik, spasial dan visual (dokumentasi) setiap tahapan
kegiatan RHL untuk kegiatan perencanaan, persiapan lapangan, pembibitan, penanaman dan

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |71


pemeliharaan. Monitoring pelaksanaan rehabilitasi dilakukan oleh KPH berkoordinasi dan
bekerjasama dengan Ditjen PDASHL dan Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota sesuai lokasi dan
jenis kegiatan, dan UPT Ditjen PHKA untuk rehabiltasi kawasan lindung. Dalam hal evaluasi
kegiatan rehabiltasi, KPH bekerjasama Lembaga Penilai Independen (LPI) yang terdiri atas
pelaksana kegiatan, tim pembina RHL kabupaten/Kota dan pihak lain.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |72


BAB. VII
PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN

Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan merupakan alat pengelolaan untuk menyesuaikan


kembali kegiatan-kegiatan KPHL Unit IV Seluma akibat perubahan-perubahan temporal
yang terjadi.

7.1. Pemantauan
Pemantauan pengelolaan KPHL Unit IV Seluma dimulai dari tingkat pusat hingga
daerah. Di tingkat pusat, pemantauan dapat dilakukan oleh Kementerian Kehutanan melalui
UPT-UPT kemenhut yang ada di wilayah Provinsi Bengkulu. Di tingkat daerah, pemantauan
dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Gubernur dan Kepala Dinas
Kehutanan Provinsi serta Pemerintah Kabupaten Seluma melalui Bupati dan Kepala Dinas
Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten. Sedangkan di tingkat tapak dapat dilakukan oleh
Pengelola KPHL Unit IV Seluma sendiri.
Pemantauan dilakukan secara berkala setiap semester (6 bulan). Namun dalam keadaan
tertentu dapat dilakukan pemantauan secara khusus. Hasil pemantauan dapat dijadikan alat
untuk perbaikan dan penyesuaian kembali terhadap kegiatan-kegiatan pengelolaan KPHL
Unit IV Seluma agar tetap sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi.

7.2. Evaluasi
Evaluasi dapat diberikan dilakukan oleh Kementerian Kehutanan melalui Menteri
Kehutanan untuk tingkat pusat. Pada tingkatan daerah, Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui
Gubernur dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi serta Pemerintah Kabupaten Seluma melalui
Bupati dan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten dapat memberikan
penilaian atau evaluasi terhadap kegiatan KPHL Unit IV Seluma. Adapun evaluasi secara
internal dilakukan dilakukan oleh Pengelola KPHL Unit IV Seluma sendiri untuk tingkat
tapak.
Evaluasi dilakukan secara berkala setiap semester (6 bulan). Namun dalam keadaan
tertentu dapat dilakukan evaluasi secara khusus. Hasil evaluasi dapat dijadikan bahan rujukan
untuk perbaikan dan penyesuaian kembali terhadap kegiatan-kegiatan pengelolaan KPHL
Unit IV Seluma agar tetap berjalan sesuai dengan target dan tingkat pencapaian yang telah
ditentukan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |73


7.3. Pelaporan
Pelaporan dilakukan kepada instansi vertikal yang memiliki keterkaitan secara
kewenangan teknis dan politis (kebijakan). Di tingkat Pusat, pelaporan disampaikan kepada
Kementerian Kehutanan melalui Menteri Kehutanan. Di tingkat Provinsi, pelaporan
disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Gubernur dan Kepala Dinas.
Sedangkan di tingkat Kabupaten, pelaporan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten
Seluma.
Pelaporan dilakukan secara berkala setiap semester (6 bulan). Namun untuk
kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu, pelaporan dapat diberikan sesuai waktu
yang dibutuhkan.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |74


BAB. VIII
PENUTUP

Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) KPHL Unit IV


Seluma 2015-2024 ini merupakan pedoman dan arahan dalam Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan Jangka Menengah (RPHJM), maupun Rencana Kerja Tahunan KPHL
Unit IV Seluma dan pelaksanaan pengelolaan kawasan hutan di tingkat tapak dalam jangka
panjang. Oleh karena itu dokumen perencanaan ini masih bersifat makro dan indikatif.
Dengan demikian masih diperlukan penjabaran lebih lanjut ke dalam rencana-rencana yang
lebih rinci dan dengan cakupan masa perencanaan yang lebih pendek (tahunan).
Rencana pengelolaan yang telah disusun ini diharapkan dapat dipedomani oleh semua
pihak yang memiliki kepentingan dan keterkaitan dengan KPHL Unit IV Seluma.
Pelaksanaan dan penjabaran lebih lanjut dari rencana pengelolaan ini perlu dimonitor
pencapaian pelaksanaannya agar tetap konsisten sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Namun disadari pula bahwa masa perencanaan ini cukup panjang sehingga seringkali
sulit untuk dapat memprediksi dinamika yang terjadi baik dari sisi teknis, kebijakan, maupun
politis. Dalam kerangka ini maka rencana pengelolaan KPHL Unit IV Seluma jangka panjang
ini terbuka untuk dapat direview agar dapat sinkron dan tetap bersinergi terhadap kebijakan
maupun kepentingan banyak pihak, selama dapat memberikan dampak yang lebih untuk
pembangunan kehutanan khususnya di wilayah KPHL Unit IV Seluma.

RPHJP KPHL Unit IV Seluma |75