Anda di halaman 1dari 21

PENAMBAHAN LIMBAH LELE, KOTORAN AYAM, SEBAGAI

SUMBER NUTRIEN PADA KULTUR Dapnia sp.


(Laporan Praktikum Teknik Budidaya Pakan Hidup)

Oleh

Ris Restu Pertiwi


1514111008
Kelompok 2

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Ris Restu Pertiwi

NPM : 1514111008

Judul Praktikum :Penambahan Limbah Lele, Kotoran Ayam Sebagai


Sumber Nutrien Pada Kultur Daphnia sp.

Tanggal Praktikum : 29 September-14 Oktober 2017

Tempat Praktikum : Laboratorium Budidaya Perairan

Program Studi : Budidaya Perairan

Jurusan : Perikanan dan Kelautan

Fakultas : Pertanian

Universitas : Univeristas Lampung

Kelompok : 2 (Dua)

Bandar Lampung, 24 Oktober 2017


Mengetahui
Asisten,

Tri Yana Wulan Sari


NPM. 1414111076
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan alami merupakan hal penting dalam budidaya ikanterutama pada


pemeliharaan larva. Larva ikan sangat membutuhkan pakan alamikarena organ
pencernaannya yang belum sempurna dan belum dapat memproduksienzim.
Pemenuhan kebutuhan akan pakan alami dalam kegiatan budidaya sering
kalihanya mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Permintaan pasar nasional
dan penguasaan teknologi budidaya ikan lele yang tinggi telah memicu
peningkatan produksinya. Peningkatan produksi dengan intensifikasi teknik
budidaya sudah sangat dikuasai oleh para pembudidaya. Pada sistem intensifikasi
budidaya yang menggunakan padat penebaran tinggi, sumber nutrisi secara
keseluruhan hanya diperoleh secara langsung dari pakan yang diberikan dengan
kandungan protein yang tinggi Sebagai konsekuensinya maka sudah dapat
dipastikan limbah buangan budidaya yang dihasilkan untuk lingkungan sekitar
budidaya juga semakin meningkat.

Kultur Daphnia sp. dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan pakan alami pada
kegiatan budidaya. Daphnia sp. mudah sekali dikultur dalam berbagai media yang
memilki nutrient yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan
Daphnia sp. serta stok oksigen yang cukup. Daphnia sp. hidup pada kisaran pH
yang netral dan relatif basa, yaitu pada pH 7,1-8,0 dan masih dapat hidup
berkembangbiak dengan baik pada kandungan amoniak 0,35 ppm-0,61 ppm
dengan selang suhu 18-24oC. Waktu hidup Daphnia sp. berkisar 12-14 hari.Pada
praktikum ini dilakukan kultur Daphnia sp. pada media susu skim, limbah lele
dan kotoran ayam.
1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah
lele, kotoran ayam dan susu skim sebagai sumber nutrien Daphnia sp.
II. TINJUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Daphnia sp.

Menurut Pennak (1989), klasifikasi Daphnia sp. adalah sebagai berikut :


Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Branchiopoda
Subkelas : Diplostraca
Ordo : Cladocera
Subordo : Eucladocera
Famili : Daphnidae
Subfamili : Daphnoidea Gambar 1. Daphnia sp.
Genus : Daphnia
Spesies : Daphnia magna

Daphnia sp. adalah krustasea berukuran kecil yang hidup di perairan tawar, sering
juga disebut sebagai kutu air. Disebut demikian karena cara bergerak yang unik
dari organisme ini dalam air. Ada terdapat banyak spesies (kurang lebih 400
spesies) dari Daphniidae dan distribusinya sangat luas. Dari semua spesies yang
ada, Daphnia sp. dan Moina yang paling dikenal, dan sering digunakan sebagai
pakan untuk larva ikan (Pangkey, 2009).

Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas


Branchiopoda, Divisi Oligobranchiopoda, Ordo Cladocera, Famili Daphnidae, dan
Genus Daphnia. Di alam, Genus Daphnia mencapai lebih dari 20 spesies dan
hidup pada berbagai perairan tawar, terutama di daerah sub tropis. Daphnia sp.
memiliki ukuran 1 – 2 mm, tubuh berbentuk lonjong, pipih, dan terdapat ruas-
ruas/segmen (Chumaidi dan Djajadireja, 2006).
2.2 Morfologi Daphnia sp.

Gambar 2. Morfologi Daphnia sp.

Keterangan:
A: Otak G: Usus
B: Ruang Pengeraman I: Jantung
C: Caecum Pencernaan J: Ocellus
D: Mata K: Ovarium
E: Fornix L: Paruh
F: Atena M: Kelenjar Kulit

Daphnia sp. memiliki lima pasang kaki pada bagian tubuhnya. Sepasang kaki
pertama dan kedua berfungsi untuk menciptakan arus air dan partikel tersuspensi,
sepasang kaki ketiga dan keempat berperan sebagai filter, dan sepasang kaki
kelima berperan untuk menghisap air. Bagian tubuh Daphnia sp. tertutup oleh
cangkang dari khitin yang transparan, sedangkan pada bagian perut memiliki
rongga. Bagian antara cangkang dan bagian tubuh ini berfungsi sebagai tempat
pengeraman dan perkembangan telur. Pada ujung perut terdapat dua kuku yang
berbulu keras berfungsi untuk melakukan seleksi penyerapan partikel makanan
dengan cara melakukan pemisahan komponen yang tidak dapat dimakan
(Mokoginta, 2003).
Daphnia sp. adalah salah satu pakan alami yang mudah untuk di kultur pada
berbagai media. Bagian tubuh Daphnia sp. terdiri dari bagian kepala, bagian
tubuh dan bagian ekor. Pada bagian kepala terdapat sebuah mata majemuk,
occellus, dan lima pasang alat tambahan. Alat tambahan yang pertama disebut
antena pertama, terletak di bagian ventral, berukuran kecil, tidak bersegman, dan
berfungsi sebagai alat penciuman.Alat tambahan yang kedua disebut antena
kedua, berukuran besar, berjumlah satu pasang, dan berfungsi sebagai alat
berenang atau gerak.Tiga pasang antena yang terakhir adalah bagian-bagian dari
mulut (Casmuji, 2002).

Morfologi Daphnia terdiri dari bagian kepala, bagian tubuh dan bagian ekor. Pada
bagian kepala terdapat sebuah mata majemuk (ocellus) dan lima pasang alat
tambahan, yang pertama disebut antena pertama, yang kedua disebut antena kedua
yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir
adalah bagian-bagian dari mulut. Kemudian Bentuk tubuh Daphnia sp. adalah
lonjong, pipih secara lateral dan memiliki ruasruas tubuh walaupun tidak terlihat
dengan jelas. Bagian tubuh sampai ekor ditutupi oleh cangkang transparan yang
mengandung khitin. Cangkang pada bagian kepala menyatu dengan punggung
sedangkan pada bagian perut berongga menutupi lima pasang kaki yang disebut
kaki toraks (Pangkey, 2009).

2.3 Siklus Hidup Daphnia sp.

Gambar 3. Siklus Hidup Daphnia sp.


Daphnia sp. berkembangbiak dengan dua cara yaitu parthenogenesis dan seksual.
Pada keadaan yang baik Daphnia sp. berkembangbiak secara parthenogenesis
dimana individu berasal dari sel yang tidak dibuahi. Pada Cara ini hanya
menghasilkan individu betina saja dan menghasilkan telur dengan rata-rata 10 –20
butir dengan variasi antara 2-40 butir. Sedangkan pada saat kondisi kurang baik,
seperti adanya temperatur yang berfluktuasi, kurangnya ketersediaan makanan dan
akumulasi limbah akibat tingginya populasi, produksi telur secara parthenogenesis
menjadi berkurang bahkan beberapa telur menetas dan berkembang menjadi
individu jantan, hal ini disebabkan karena kondisi tersebut dapat mengubah
metabolisme Daphnia sp.., sehingga mempengaruhi mekanisme kromosomnya.
Dengan munculnya Daphnia sp. jantan maka populasi mulai bereproduksi secara
seksual, dimana seekor Daphnia sp. jantan mampu membuahi ratusan betina
dalam satu periode dan telur yang dihasilkan mempunyai cangkang tebal yang
berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap kondisi buruk, berwarna gelap
atau buram, berukuran lebih besar dan memiliki kuning telur yang lebih banyak.
Daphnia sp. jantan berukuran lebih kecil dibandingkan Daphnia sp. betina. Pada
individu jantan terdapat organ tambahan yang terletak di bagian abdominal untuk
memeluk betina dari belakang dan membuka carapacae betina, kemudian
spermateka masuk untuk membuahi sel telur. Telur yang sudah dibuahi kemudian
akan dilindungi oleh lapisan yang disebut sebagai ephipium untuk mencegah dari
ancaman lingkungan buruk sampai kondisi ideal untuk menetas (Mokoginta,
2003).

Daphnia sp. adalah zooplankton yang mempunyai 2 fase reproduksi dalam siklus
hidupnya, yaitu fase reproduksi aseksual (parthenogenesis) yang menghasilkan
keturunan individu muda yang semuanya berjenis kelamin betina dan fase seksual
(perkawinan antara induk betina dan induk jantan) yang menghasilkan ephipia.
Perkawinan antara induk betina dan induk jantan Daphnia sp. memerlukan sex
ratio yang tepat untuk mendukung kualitas perkawinan dan produksi ephipia yang
tinggi. Dalam sekali reproduksi 1 induk jantan Daphnia sp. dapat mengkopulasi
ratusan induk betina dalam 1 periode perkawinan, serta induk jantan memerlukan
waktu dan jarak yang optimal untuk mengkopulasi induk betina dalam jumlah
yang banyak (Aidia, 2014).
Siklus hidup Daphnia sp. bervariasi tergantung pada spesies dan lingkungannya.
Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari,
selanjutnya setiap 2 hari sekali dapat menghasilkan keturunan sebanyak 29 ekor,
selama hidupnya mampu bareproduksi sebanyak 7 kali, dan hanya bertahan
sampai 12 hari. Daphnia sp. hidup pada kisaran pH yang netral dan relatif basa,
yaitu pada pH 7,1 – 8,0 dan masih dapat hidup berkembangbiak dengan baik pada
kandungan amoniak 0,35 ppm – 0,61 ppm (Kusumaryanto, 2001).

2.4 Habitat Daphnia sp.

Daphnia sp termasuk kedalam golongan zooplankton yang hidup diperairan


tawar. Zooplankton secara umum ditemui di kolam yang memiliki kandungan
organik yang tinggi dan memiliki jenis variasi musim dalam dinamika populasi
yang berhubungan langsung dengan kerapatan yang tinggi selama musim semi
dan awal musim panas, dimana pasokan makanan dan temperatur air optimum.
Daphnia sp. adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami
kolam-kolam, sawah, dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung
bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia sp. dapat hidup di perairan yang
berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi air yang berpengaruh untuk Daphnia sp.
yaitu kesadahan, suhu, oksigen terlarut, dan pH (Leung, 2009).

Populasi Daphnia dapat ditemukan pada seluruh badan air, dari danau yang dalam
hingga kolam yang dangkal, termasuk kolam banjiran dan kolam yang hanya terisi
di musim semi saja. Daphnia termasuk dalam zooplankton yang dominan, dan
merupakan bagian penting dari jaring-jaring makanan di danau dan kolam. Pada
beberapa danau, Daphnia merupakan makanan utama ikan planktivorous.
Akibatnya, distribusi spesies Daphnia sangat berkaitan erat dengan sejarah hidup
mereka dengan predator. Biasanya spesies Daphnia ditemukan di danau dengan
ikan planktivorous yang lebih kecil dan lebih transparan dari spesies yang
ditemukan pada badan air yang minim ikan (Ebert, 2005).

Habitat hidup Daphnia pada perairan tawar dengan selang suhu 18-24°C.Selang
suhu ini merupakan selang suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan
Daphnia. Diluar selang tersebut, Daphnia akan cenderung dorman. Daphnia
membutuhkan pH sedikit alkalin yaitu antara 6.7 sampai 9.2. Seperti halnya
mahluk akuatik lainnya pH tinggi dan kandungan amonia tinggi dapat bersifat
mematikan bagi Daphnia, sehingga habitat Daphnia pada sistem budidaya harus
dijaga. Seluruh spesies Daphnia diketahui sangat sensitif terhadap ion-ion logam,
seperti Mn, Zn, dan CU, dan bahan racun terlarut lain seperti pestisida, bahan
pemutih, dan deterjen.Selain keberhasilan kultur Daphnia sp. dan moina sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu intensitas cahaya, oksigen terlarut, dan
salinitas (Naziri, 2010).

2.5 Media Kultur Daphnia sp.

Lele merupakan hewan yang mampu hidup di daerah berlumpur, Pada beberapa
ikan yang biasanya hidup di lumpur mengeluarkan kotoran yang yang cukup
banyak dan berbau busuk yang dapat mengotori air dimana ikan tersebut
hidup,selalu berwarna cokelat keruh dan berbau menyengat dan harus sering
diganti dengan air yang baru.biasanya para peternak ikan lele saat mengganti air
tersebut langsung membuang air limbah lele tersebut langsung kesungai, sehingga
ekosistem sungai akan terganggu dan tentunya membuat kekacauan rantai
makanan, misalnya banyak tumbuhan dan ikan mati. Padahal limbah lele dapat
digunakan sebagai media kultur untuk pakan hidup khususnya daphnia, (Mufidah,
2009).

Media budidaya Daphnia sp. yang digunakan merupakan air buangan (waste)
budidaya yang diambil dari kolam budidaya ikan lele sistem tertutup seluas 25 m2
dengan padat tebar 160 ekor/m2 (budidaya intensif), yang telah dipelihara selama
100 hari, pemberian pakan sebanyak 5% bobot biomas/hari, dan bobot akhir rata-
rata 150 gram/ekor (ukuran konsumsi). Keunggulan Daphnia sp. sebagai sumber
pakan alami memiliki beberapa keuntungan yaitu kandungan nutrisinya tinggi,
berukuran kecil sehingga sesuai dengan ukuran mulut larva, pergerakannya
lambat, sehingga mudah ditangkap oleh larva ikan, dan tingkat pencemaran
terhadap media pemeliharaan larva lebih rendah dibandingkan dengan
penggunaan pakan buatan (Darmawan, 2014).

Media kultur Daphnia sp. dapat memanfaatkan limbah lele yang biasanya dibuang
ke perairan dan dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan. Nitrogen dan
bahan organik di perairan akan terdekomposisi yang mengakibatkan terjadinya
peningkatan konsentrasi nitrit dan amonia dalam bentuk TAN (Total Ammonia
Nitrogen). Peningkatan kandungan bahan organic di perairan yang mengakibatkan
peningkatan kelimpahan fitoplankton juga berdampak pada penurunan kandungan
oksigen terlarut perairan terutama pada waktu kritis (dini hari). Oleh karena itu
dimanfaatkan untuk media kultur Daphnia sp. karena memilki kandungan
nitrogen dan bahan organic yang tinggi baik bagi pertumbuhan Daphnia sp.
(Rohmana, 2009).

2.6 Kandungan Nutrisi Limbah Lele

Limbah air kolam ikan lele berpotensi untuk dijadikan media tumbuh Daphnia sp.
karena mengandung nitrogen dan phospor.Nitrogen dan phospor dalam limbah air
budidaya lele berasal dari feses, sisa pakan dan urine ikan yang memiliki
kandungan protein tinggi. Protein dan urea adalah sumber utama nitrogen dalam
limbah ini yang secara keseluruhan atau sebagiannya terdiri atas sejumlah besar
amino, karbon, hidrogen, sulfur dan fosfor (Sumoharjo, 2010).

Kolam ikan lele berisi unsur kimia air, nitrogen, fosfor, oksigen (bahan organik),
dan oksigen terlarut (DO). Ikan panen hanya menyerap 26,8% dari nitrogen,
30,1% fosfor, dan 25,5% dari bahan organik (COD) dikandung dalam pakan. Sisa
nitrogen dan bahan organik dari kolam bersiklus setiap hari tanpa akumulasi zat-
zat ini terdeteksi pada lumpur. Denitrifikasi dan volatilisasi amonia mengubah
sejumlah besar nitrogen, bahan organik yang dikonsumsi ikan lele dan biota
lainnya dalam respirasi. Kebanyakan fosfor tidak melekat pada ikan tetapi tetap
terserap dalam kolam. Rembesan dan tumpahan hanya jumlah kecil dari nitrogen,
fosfor, dan zat organik. Sehingga limbah lele mengandung nitrogen, fosfor dan
bahan organik yang baik bagi pertumbuhan fitoplankton (Ekasari, 2009).
III. METODOLOGI PRAKTIUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum penambahan limbah lele, kotoran ayam sebagai sumber nutrient pada
kultur Daphnia sp. dilaksanakan pada tanggal 29 September-14 Oktober 2017
bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum adalah Akuarium, aerasi, selang aerasi batu
aerasi, kain kassa, timbangan, gelas ukur, benang wol, dan pipet tetes. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Daphnia sp., susu skim,
limbah lele, dan kotoran ayam.

3.3 Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut ini:
1. Siapkan akuarium yang telah dibersihkan dan dikeringkan.
2. Akuarium diisi dengan 3 L air, dipasang aerasi dan dimasukkan susu skim
sebanyak 1,4 gr pada setiap akuarium.
3. Setelah 3 hari, dimasukkan Daphnia sp. yang telah dihitung kepadatan
sebanyak 50 ekor/L kedalam akuarium.
4. Dilakukan pemeliharaan selama 12 hari, dengan sampling setiap hari sebanyak
10 ml perakuarium.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh hasil sebagai berikut:


Tabel 1. Pertumbuhan Populasi Daphnia sp.
No Hari/Tanggal Pengulangan

1 2 3
1 Jumat, 29-9-2017 0 8 0
2 Senin, 2-10-2017 0 5 3
3 Selasa, 3-10-2017 1 6 1
4 Rabu, 4-10-2017 2 5 3
5 Kamis, 5-10-2017 2 8 7
6 Jumat, 6-10-2017 4 5 11
7 Sabtu, 7-10-2017 5 10 5
8 Minggu, 8-10-2017 14 8 7
9 Senin, 9-10-2017 14 10 7
10 Selasa, 10-10-2017 15 7 6
11 Rabu, 11-10-2017 14 3 1
12 Kamis, 12-10-2017 10 2 1
Grafik Pertumbuhan Daphnia sp.
16
14
12
10
Jumlah

8
6
4 Pengulangan 1
2
0 Pengulangan 2

Kamis, 5-10-2017
Senin, 2-10-2017

Sabtu, 7-10-2017
Hari/Tanggal

Minggu, 8-10-2017
Senin, 9-10-2017
Selasa, 3-10-2017

Selasa, 10-10-2017

Kamis, 12-10-2017
Rabu, 4-10-2017
Jumat, 29-9-2017

Jumat, 6-10-2017

Rabu, 11-10-2017

Sabtu, 14-10-2017
Jumat, 13-10-2017
Pengulangan 3

Grafik 1.Pertumbuhan Populasi Daphnia sp.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan tabel beserta grafik diatas diketahui bahwa pada fase eksponensial
(puncak populasi) pada kultur Daphnia sp. terjadi pada pengulangan pertama pada
hari ke 10. Pada pengulangan kedua fase eksponensial terjadi pada hari ke 8 dan 9
sedangkan pada pengulangan ketiga terjadi pada hari ke 11. Pada pengulangan
pertama setelah fase eksponensial pertumbuhan Daphnia sp. karena sumber
nutrient yang ada semakin sedikit dan berkurangnya intensitas cahaya yang masuk
ke perairan akibat terlalu padatnya populasi Daphnia sp. Kemudian fase kematian
terjadi penurunan populasi secara drastis. Hal ini sesuai dengan literatur Sarida
(2007), bahwa apabila kepadatan Daphnia sp. terlalu tinggi maka aktivitas
metabolisme akan meningkat, kandungan amoniak juga akan meningkat, sehingga
kebutuhan akan oksigen juga akan meningkat. Menurut Sitanggang dan Sarwono
(2002), pada kompetisi tersebut beberapa Daphnia sp. yang mampu beradaptasi
akan tetap bertahan hidup, sedangkan yang lemah akan mengalami kematian.

Media yang paling baik digunakan adalah kotoran ayam. Sedangkan menurut
makanan terbaik bagi I sp. adalah alga hijau yaitu dari genus Scenedesmus atau
Chlamydomonas. Oleh sebab itu, air limbah buangan budidaya lele yang memiliki
bahan organik tinggi dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bioflok serta dapat
menjadi media budidaya Daphnia sp. sehingga bioflok diharapkan dapat
mengurangi pencemaran di sekitar lokasi budidaya, menstabilkan kualitas air dan
kebutuhan pakan Daphnia sp. dapat terpenuhi (Ebert, 2005).

Sedangkan penggunaan susu skim setiap penambahan susu skim menghasilkan


kadar protein yang berbeda nyata pada setiap perlakuan. Kandungan protein susu
skim yang tinggi sangat mempengaruhi kadar protein yang dihasilkan pada kultur
daphnia. Menurut Buckle (2007), penambahan susu skim pada kultur
daphniabertujuan untuk meningkatkan kadar protein, total padatan, dan juga
berguna meningkatkan nilai gizi serta memberikan konsistensi dan bentuk yang
lebih baik. Protein yang terdapat pada susu skim yang ditambahkan akan
dimanfaatkan oleh BAL untuk pertumbuhannya. Protein ini akan dirombak
menjadi senyawa asam amino yang lebih sederhana. Sebagian protein akan
berguna untuk membentuk sel-sel bakteri tersebut (Yusmarini dan Efendi, 2004).

Pertumbuhan Daphnia sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sumber
nutrient yang tersedia diperairan, kualitas air yang masih dalam batas optimum
bagi pertumbuhan Daphnia sp. Hal ini sesuai dengan literatur Noerdjito (2004),
pola pertumbuhan Daphnia sp. ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,antara lain
kondisi fisik perairan, jenis pakan dan konsentrasi pakan. Ketika ketiga faktor
tersebut mendukung, maka laju pertumbuhan Daphnia sp. akan berlangsung lebih
cepat dan menghasilkan puncak populasi yang lebih banyak.

Faktor kegagalan pada praktikum ini adalah aerasi yang mati pada waktu yang
cukup lama sehingga menghambat pertumbuhan Daphnia sp. dan benih yang
digunakan tidak melalui proses sortir sehingga benih yang digunakan banyak yang
telah lemas ataupun mati sehingga saat dimasukkan dalam akurium tidak
mengalami pertumbuhan dan perkembangbiakan.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah penambahan limbah lele,
susu skim dan kotoran ayam yaitu sangat berpengaruh karena pada pemberian
ketiga media tersebut pertumbuhan Daphnia sp. dapat berkembang dengan baik,
tetapi pada limbah lele tidak begitu baik.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah alat dan bahan yang
dibutuhkan dalam praktikum disediakan oleh laboratorium sehingga praktikum
dapat dilaksanakan dengan lancer dan tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Aidia. 2014.Teknik Produksi Pakan Alami Budidaya Daphnia sp dan Moina sp.
Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelaut an Institut Pertanian Bogor.

Casmuji.2002. Penggunaan Supernatan Kotoran Ayam Dan Tepumg Terigu


Dalam Budidaya Daphnia sp. Skripsi.Fakultas Institut Pertanian Bogor.

Chumaidi dan Djajadireja. 2006. Kultur Massal Daphnia sp. di Kolam dengan
Menggunakan Pupuk Kotoran Ayam. Buletin Perikanan. Penelitian
Perikanan Darat, 3 (2): 17 – 20.

Darmawan, Jadmiko. 2014. Pertumbuhan Populasi Daphnia Sp. Pada Media


Budidaya Dengan Penambahan Air Buangan Budidaya Ikan Lele Dumbo
(Clarias Gariepinus).Jurnal Berita Biologi (1): 57-68.

Ebert D, 2005. Ecology, Epidemiology, and Evolution of Parasitism in Daphnia,


98.National Library of Medicine (US)-National Center for Biotechnology
Information, Bethesda.

Ekasari, J. 2009. Teknologi Biotlok: Teori dan Aplikasi dalam Perikanan


Budidaya Sistem Intensif. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol.8 No.2
Hal:117-126.

Khairuman. 2008. Kultur Budidaya Daphnia sp. Sebagai Pakan Alami Ikan Air
Tawar.Kanisius.Yogyakarta.

Kusumaryanto, H. 2001. Pengaruh Jumlah Inokulasi Awal Terhadap Pertumbuhan


Populasi, Bimassa dan Pembentukkan Epipium Daphnia sp. Skripsi.
Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Leung YFJ. 2009. Reproduction of the zooplankton, Daphnia carinata and Moina
australiensis: implication as live food for aquaculture and utilization of
nutrient loads in effluent, 189. School of Agriculture, Food, Wine -The
Universityof Adelaide, Adelaide.

Mokoginta, I. 2003. Budidaya Pakan Alami Air Tawar.Modul Daphnia sp.


Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.Bidang Budidaya
Ikan Program Keahlian Budidaya Ikan Air Tawar.

Mufidah, N. B. W., Boedi S. R., dan Woro H. S. 2009. Pengkayaan Daphnia spp.
Dengan Viterna Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan
LarvaIkan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan Vol. 1 No. 1.

Naziri, Z. 2010. Daphnia: Klasifikasi, Ciri Morfologi, Siklus Hidup, Cara


Reproduksi, Habitat dan Penyebaran dari Daphnia serta Teknik Mengkultur
atau Membudidayakan Daphnia. Makalah Akuakultur. Kalimantan Barat: 1-
13.

Noerdjito DR. 2004. Optimasi suhu, ph, serta jumlah dan jenis pakan pada kultur
Daphnia sp. Jurnal Aquqculture (2) : 57-63.

Pangkey, H., 2009. Daphnia dan Penggunaanya.Jurnal Perikanan dan Kelautan.


V (3): 33-36.

Pennak RW. 1989. Coelenterata. Fresh-water Invertebrates of the United States:


Protozoa to Mollusca, 110-127, 3redition, John Wiley and Sons, Inc. New
York.

Rohmana D. 2009.Konversi limbah budidaya ikan lele, Clarias sp. menjadi


biomassa bakteri heterotrof untuk perbaikankualitas air dan makanan udang
galah, Macrobrachium rosenbergii, 64.Tesis. Institut PertanianBogor,
Bogor.

Sarida M. 2007. Pengaruh konsentrasi ragi yang berbeda terhadap pertumbuhan


populasi Daphnia sp, 269-272.Makalahdalam Seminar Hasil Penelitian dan
Pengabdian KepadaMasyarakat. Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Sitanggang M dan B Sarwono. 2002. Budidaya Gurame, 72. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Sumoharjo. 2010. Penyisihan Limbah Nitrogen Pada Pemeliharaan Ikan Nila


Oreochromis niloticus Dalam Sistem Aquaponik: Konfigurasi Desain
Bioreaktor. Skripsi.Institut Pertanian Bogor.

Yusmarini dan R. Efendi. 2004. Evaluasi mutu soyghurt yang dibuat dengan
penambahan beberapa jenis gula. Jurnal Natur Indonesia. volume 6 : 104-
110.