Anda di halaman 1dari 10

Sejarah HMI :

Sejarah Perjuangan Kaum Intelegensia Muslim Indonesia*)

Oleh Arip Musthopa


Ketua Bid. Pembinaan Anggota PB HMI 2006-2008

Sejarah HMI bukanlah sejarah HMI semata. Sejarah HMI adalah


sejarah pergumulan umat dan bangsa di bumi nusantara. Tepatnya, sejarah
pergumulan kaum intelegensia muda Islam-Indonesia dalam interaksinya
dengan umat dan bangsa di bumi nusantara. Dengan pemaknaan demikian,
maka makna kehadiran HMI tidak bisa dilihat hanya sejak tahun 1940-an
ketika Lafran Pane dkk menjadi mahasiswa dan berinisiatif mendirikan HMI
hingga saat ini, melainkan harus ditarik jauh hingga ke masa pemberlakuan
politik etis Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19
masehi; dan bahkan ditarik hingga abad ke-13 masehi ketika pertama kali
Islam masuk di bumi nusantara. Penarikan sejarah yang jauh ke belakang ini
untuk menggapai makna yang lebih utuh karena makna kelahiran dan
keberadaan HMI merupakan bagian integral dari semangat Islam masuk ke
bumi nusantara dan semangat perjuangan kaum intelegensia muslim
sebagai ‘blok historis’ yang menginisiasi kelahiran Negara Republik
Indonesia pada awal abad ke-20.
HMI merupakan produk sejarah yang tak terhindarkan dari dua
peristiwa penting sejarah (umat) Islam di bumi nusantara, yakni sejarah
permulaan Islam masuk di bumi nusantara dan sejarah kebangkitan muslim
nusantara (yang dipimpin kaum intelegensia) untuk membebaskan bumi
nusantara dari penjajah kolonial Belanda. Pemaknaan yang seperti ini
bukanlah sesuatu yang mengada-ada karena semangat Islam masuk ke
bumi nusantara yakni syiar Islam, dan semangat kaum intelegensia muslim
awal abad ke-20 untuk memerdekakan Indonesia tercermin dalam dua
tujuan awal berdirinya HMI pada 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14
Rabiul Awal 1366 H, yaitu (1) mempertahankan Negara Republik Indonesia
dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan (2) menegakkan dan
mengembangkan ajaran agama Islam.1
Petunjuk tertua tentang permulaan Islam dipeluk oleh penduduk bumi
nusantara ditemukan di bagian utara Sumatera, tepatnya di Pemakaman

1 Agussalim Sitompul, Sejarah Perjuangan HMI (Th 1947-1975), Penerbit Bina Ilmu,
Surabaya, 1976, hal 13.

1
Lamreh. Disana ditemukan nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir
yang wafat tahun 608 H/1211 M.2 Masuknya Islam ke bumi nusantara
memiliki makna yang sangat penting bagi penduduk bumi nusantara.
Karena pada periode itu Islam sedang mengalami puncak kejayaan sebagai
suatu peradaban dan bahkan pemimpin peradaban global. Pada masa-masa
itu (abad ke-5 s.d. 7 H), hidup pemikir-pemikir besar dunia (Islam), seperti
Ibn Sina (wafat 428 H/1037 M), Al Ghazali (wafat 505 H/1111 M), Ibn Rusyd
(wafat 594 H/1198 M), dan Ibn Taymiyyah (wafat 728 H/1328 M).3 Dengan
demikian, Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang sudah mapan
sebagai suatu ajaran agama dan peradaban4 sehingga merupakan hal yang
sudah sepatutnya apabila M.C. Ricklefs, profesor kehormatan di Monash
University Australia menulis buku A History of Modern Indonesia Since c.
12005 untuk menggambarkan sejarah Indonesia modern yang dimulai dari
sejak pertama kali Islam dipeluk penduduk bumi nusantara. Kata ‘modern’
yang disematkan kepada bumi nusantara yang kemudian dikenal dengan
‘Indonesia’ sejak tahun 1200-an tersebut menunjukkan bahwa peradaban di
bumi nusantara ketika itu belum modern karena berada di bawah
kekuasaan feodalisme Hindu-Budha dan Islam hadir dengan membawa
kemodernan. Dengan kata lain, Islam membawa misi memodernkan
penduduk di bumi nusantara (Indonesia).
Misi Islam untuk memodernkan penduduk bumi nusantara tidaklah
berlangsung dengan mudah dan lancar karena pada saat yang bersamaan

2 MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 cet II, penerjemah Satrio


Wahono dkk, Serambi, Jakarta, 2005, hal 28.
3 Sebagian pemikiran-pemikiran dari tulisan mereka dapat dibaca dalam
Nurcholish Madjid (editor), Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1994.
4 Karena telah mapan, maka tanda-tanda kemundurannya sudah mulai nampak.
Ajaran Islam yang telah mapan tersebut masuk melalui daerah pantai yang
merupakan pusat perdagangan. Namun demikian, Islam di Jawa baru berkembang
setelah jatuhnya Majapahit pada tahun 1478 (berdiri 1294 M), hampir bersamaan
dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Malaka ketika itu
merupakan pelabuhan dan pusat perdagangan besar yang dikuasai Islam. Dengan
demikian, Islam (terutama di Jawa) baru dapat berkembang di bumi nusantara
justru ketika dunia Islam mulai kehilangan dominasi peradabannya di dunia global.
5 Dalam Prakata pertama buku tersebut, 1981, Ricklefs menulis, ”Dalam
pandangan saya, periode sejak tahun ±1300 telah menjadi unit sejarah yang padu,
yang dalam buku ini disebut Sejarah Indonesia Modern.” Op. Cit., hal 14. Perlu
diketahui bahwa versi awal buku ini memang mencantumkan periode sejarah
Indonesia modern dimulai tahun ±1300, sebelum kemudian direvisi pada edisi
ketiga tahun 2001 setelah ditemukannya nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-
Basir yang wafat tahun 608 H/1211 M. Di bagian I buku tersebut, Ricklefs
memberikan judul ‘Lahirnya Zaman Modern’.
dengan mulai masuknya Islam ke bumi nusantara, hinduisme dan budhisme
mulai menemukan puncak kejayaannya di bumi nusantara dengan
berdirinya kerajaan Majapahit (1294 M) dan berkembang menjadi kerajaan
terbesar di Asia Tenggara hingga runtuh pada 1478 M. Proses Islamisasi
yang berjalan secara damai di bumi nusantara, terutama di daerah Utara
Sumatera berhasil menunjukkan eksistensinya dengan tampilnya kerajaan
Islam di Aceh. Sebelum kira-kira tahun 1500, Aceh belumlah begitu
menonjol. Sultan pertama kerajaan yang sedang tumbuh ini adalah Ali
Mughayat Syah (m.1514-30). Selama masa pemerintahannya, sebagian
besar komunitas dagang Asia yang bubar karena direbutnya Malaka oleh
Portugis menetap di Aceh.6 Aceh kemudian tumbuh menjadi salahsatu
kerajaan terkuat di kawasan Malaya-Nusantara.
Islam yang sedang tumbuh dan mulai membangun peradabannya di
bumi nusantara pasca keruntuhan Majapahit sempat terinterupsi selama 3,5
abad (1596-1942 M) ketika bumi nusantara dijajah oleh VOC dan
Pemerintah Kolonial Belanda. Pada masa itu, penduduk bumi nusantara
yang mayoritasnya telah muslim kehilangan kekuasaan baik secara
ekonomi maupun politik sehingga tidak dapat dengan leluasa menjalankan
misinya, yakni memodernkan penduduk bumi nusantara. Kondisi ini
dipersulit dengan kemunduran peradaban dunia Islam pada umumnya sejak
abad ke-15 M.7 Pada masa itu, muslim di bumi nusantara dengan kerajaan-
kerajaannya seperti Aceh, Demak (didirikan pada perempat terakhir abad
ke-15 M), Cirebon (berdiri akhir abad ke-15 M), Banten (berdiri abad ke-16
M), Pajang dan Mataram (berdiri pertengahan kedua abad ke-16 M), Gowa
(raja Gowa memeluk Islam tahun 1605, awal abad ke-17), Ternate, Tidore
dan sejumlah kerajaan lain yang lebih kecil; serta dengan dinamika internal
yang rumit8 di bawah kepemimpinan sultan dan ulama serta kaum
intelegensia sejak abad ke-20 M, selama ratusan tahun berusaha mengusir

6 MC Ricklefs, Ibid, hal 81.


7 Kondisi ini menyebabkan Islam tidak memiliki momentum yang cukup untuk
mengembangkan peradabannya di bumi nusantara.
8 Dinamika internal yang dimaksud adalah konflik kekuasaan (suksesi
kepemimpinan) diinternal kerajaan dan persaingan diantara kerajaan-kerajaan
tersebut yang kemudian membuat diantara mereka harus bersekutu dengan VOC
untuk memperoleh bantuan. Contoh paling nyata dalam hal ini adalah persaingan
antara Ternate dan Tidore yang menyebabkan keduanya pernah bersekutu dengan
VOC untuk menaklukkan saingannya. Jadi, dalam hal ini konflik internal bersifat
kontraproduktif.

3
VOC dan Pemerintah Kolonial Belanda, merebut dominasi ekonomi dan
politik di bumi nusantara dari tangan mereka.9
Ikhtiar untuk merebut kembali kekuasaan ekonomi dan politik baru
dapat dilakukan secara signifikan pada awal abad ke-20 ketika mulai
muncul kaum intelegensia muslim sebagai produk pendidikan pemerintah
kolonial Belanda yang dikenal dengan politik etis pada akhir abad ke-19 M.
Perlu diketahui bahwa penduduk pribumi (bumiputera) ketika itu merupakan
kelas sosial ketiga setelah orang Eropa dan keturunan Asia (China, India,
dan Arab). Akses mereka terhadap ekonomi dan birokrasi pemerintahan
sangat terbatas dan sumber daya manusia mereka tidak pernah
diberdayakan karena pemerintah kolonial Belanda tidak pernah membuka
akses pendidikan bagi penduduk pribumi hingga diberlakukannya politik etis
tersebut.10
Ikhtiar merebut kekuasaan ekonomi dan politik tersebut
memunculkan gerakan nasionalisme Indonesia yang menginginkan
kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Peranan Islam dalam kelahiran
nasionalisme ini sangat penting karena Islam merupakan media persemaian
nasionalisme Indonesia itu sendiri sejak awal hingga ke depannya. George
Mc. Turnan Kahin dalam buku Nationalism and Revolution in Indonesia
melukiskan faktor-faktor atau kondisi awal abad ke-20 yang berperan
melahirkan nasionalisme Indonesia sebagai berikut. Pertama, munculnya
gerakan Pan-Islam (terinspirasi oleh Mohammad Abduh, Kairo) yang dibawa
mahasiswa yang pulang belajar. Kahin menulis:
Agama Islam tidak begitu saja menyerap nurani suatu
9 Menurut Nurcholish Madjid, pengabdian yang dicurahkan untuk berjuang
melawan orang-orang Barat (selain Belanda, muslim di bumi nusantara juga pernah
berhadapan dengan Portugis dan Inggris --penulis) yang muncul dalam semangat
antikolonialisme dan antiimperialisme. Hampir semua pemberontakan dipimpin oleh
ulama atau sultan. Tetapi, harga yang kemudian harus ditebus ternyata luar biasa
mahal. Yaitu, bahwa umat Islam Indonesia selama ratusan tahun terbiasa hanya
berpikir reaktif dan bersikap fight against, yakni berjuang untuk melawan, melawan,
dan melawan, karena memang kondisinya seperti itu. Inilah yang menyebabkan
mengapa umat Islam sampai sekarang masih relatif belum sampai kepada sikap
fight for (pro aktif, membangun --penulis). Tentu, ada beberapa pengecualian.
Misalnya, mereka yang berusaha membangun ekonomi. Nurcholish memandang hal
ini sebagai salah satu faktor yang membuat umat Islam di Indonesia belum sempat
menciptakan peradaban yang berarti karena persoalan-persoalan yang menyerap
hamper seluruh energi tersebut. Lihat, Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi
Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Jakarta, Mizan, 2006, hal
1198-1200.
10 Itu pun dengan catatan bahwa pendidikan sebagai buah politik etis pada
umumnya hanya dapat dinikmati oleh kalangan pribumi-priyayi (bangsawan).
kebangsaan secara pasif. Agama ini menjadi pengadaan
saluran dini dari perkembangan nasionalisme yang matang,
nasionalisme modern, suatu saluran yang sampai sekarang
masih sangat penting.11

Kedua, lahirnya pemimpin atau elit terpelajar pribumi yang justru


dilahirkan oleh pendidikan barat yang digerakkan Pemerintah Belanda
sendiri. Kahin menyimpulkan:

Perhatian Belanda yang terlalu besar terhadap bahaya-bahaya


Pan-Islam menyebabkan mereka tidak terlalu mengacuhkan
bahaya-bahaya yang terkandung dalam pergerakan Modernis
terhadap rezim mereka. Sementara itu, senjata yang mereka
pilih untuk memerangi Pan-Islam, yaitu pendidikan Barat,
segera tumbuh menjadi mata pisau kedua yang memotong ke
arah lain. Ini benar-benar merupakan suatu ironi bagi
pemerintahan Belanda, karena cara-cara yang dipilih untuk
membela rezim kolonial dari ancaman Pan-Islam yang dibesar-
besarkan, justru berkembang ke dalam salah satu kekuatan
yang paling potensial untuk mengalahkan rezim tersebut.12

Ketiga, kaum terpelajar, dengan mata pisau analisa yang mereka


peroleh selama pendidikan di Belanda sendiri mulai merasakan adanya
ketidakberesan kondisi negaranya. Mereka juga dapat membandingkan
kondisi di negeri Belanda sendiri dengan kondisi di tanah air. Mereka juga
merasakan diskriminasi dalam pekerjaan di Pemerintah Hindia Belanda dan
mulai tumbuh perasaan tidak menerima perlakukan tersebut. Akibatnya,
mereka menuntut diperlakukan setara karena mereka pun merasa kaum
terpelajar yang sederajat dengan pegawai-pegawai Belanda. Mereka tidak
menerima bila gaji mereka dibayar lebih murah dari pegawai Belanda dalam
pemerintahan Hindia belanda. Selain itu, Pengalaman bekerja di
pemerintahan Hindia Belanda juga menumbuhkan keyakinan bahwa elit
pribumi tersebut merasa yakin dan mampu memerintah bangsanya sendiri.

11 George Mc Turnan Kahin, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik Nasionalisme


dan Revolusi di Indonesia (Nationalism and Revolution in Indonesia), Penerjemah
Nik Bakdi Soemanto, Pustaka Sinar Harapan dan UNS-Press, Solo, 1995, hal 59.
12 Ibid, Hal 58

5
Tiga kondisi utama di intern (elit) masyarakat Hindia Belanda di awal
abad ke-20 inilah yang mengkristalkan kelahiran atau asal mula kesadaran
nasionalisme Indonesia, disamping perkembangan di Negeri Belanda dan
dunia internasional. Kesadaran ini diperjuangkan melalui organisasi-
organisasi pergerakan nasional yang kemudian banyak bermunculan.13
Senada dengan Kahin, Yudi Latif dalam Genealogi Intelegensia Muslim
Indonesia Abad ke-20 menggambarkan bahwa lahirnya Republik Indonesia
tidak terlepas dari terbentuknya suatu ’blok historis’ yang disebutnya kaum
intelegensia muslim. Kaum intelegensia muslim inilah yang karena
kesadaran atas ketertinggalan dan penderitaan rakyat Hindia Belanda
ketika itu bertekad dan berjuang memerdekakan Hindia Belanda dan
berhasil mendirikan Negara Republik Indonesia.14
Latar sejarah di atas, dengan tegas menuturkan kepada kita bahwa
hadirnya Islam di Indonesia adalah untuk memperbaiki kualitas hidup
penduduk bumi nusantara, menghantarkannya pada tingkat peradaban
yang lebih tinggi sebagaimana Muhammad diutus ke muka bumi. Ikhtiar
tersebut sempat terinterupsi oleh hadirnya penjajah Belanda pada akhir
abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20. Kini bangsa Indonesia, yang
mayoritasnya muslim, secara legal-formal telah dapat memegang kembali
kendali atas bumi nusantara dengan berdirinya Negara Republik Indonesia
di atasnya. Namun demikian, apakah semangat yang dicita-citakan Islam
sehingga ia masuk ke bumi nusantara abad ke-13 dan menjadi media
persemaian nasionalisme Indonesia pada permulaan abad ke-20 telah
tercapai ?
Yudi Latif menggambarkan sejarah HMI dalam kontinuitas sejarah
genealogi intelegensia muslim sebagai suatu blok historis yang memiliki
peranan penting dalam kesejarahan Indonesia khususnya sejak awal abad
ke-20. Sehingga tidak berlebihan bila HMI kerapkali mengidentikkan diri
sebagai anak kandung umat dan bangsa, serta juga tidak berlebihan apabila
Jenderal Besar Sudirman menyebutkan HMI bukan saja kepanjangan dari
Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan juga Harapan Masyarakat Indonesia.

13 Peran agama Islam dalam menumbuhkan nasionalisme Indonesia akhirnya


mengejawantah ke dalam pergerakan kebangsaan Indonesia pertama yang kuat,
yaitu Sarekat Islam. Ibid, hal 64.
14 Lihat Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim
Indonesia Abad XX, Mizan, Bandung, 2005.
Dalam perjalanannya, HMI memiliki fase kesejarahannya sendiri
dalam interaksinya dengan umat dan bangsa. Prof. Dr. H. Agussalim
Sitompul, sejarawan HMI, membagi kesejarahan HMI dalam lima zaman
perjalanan HMI dan 10 fase perjuangan, yakni, pertama, zaman perang
kemerdekaan dan masa kemerdekaan (1946-1949) yang dibagi dalam fase
konsolidasi spiritual dan proses berdirinya HMI (November 1946-5 Februari
1947), fase berdiri dan pengokohan (5 Februari-30 November 1947), dan
fase perjuangan bersenjata dan perang kemerdekaan, dan menghadapi
pengkhianatan dan pemberontakan PKI I (1947-1949). Kedua, zaman liberal
(1950-1959). Pada masa ini HMI sibuk membina dan membangun dirinya
sehingga menjadi organisasi yang solid dan tumbuh membesar. Bulan Juli
1951 PB HMI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta. Ketiga, zaman
organisasi terpimpin atau zaman Orde Lama (1950-1965). Zaman ini dibagi
dua fase, yakni fase pembinaan dan pengembangan organisasi (1950-
1963), dan fase tantangan I (1964-1965). Pada fase tantangan I, HMI
menghadapi upaya pembubaran oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang
dihadapi HMI dengan strategi PKI (Pengamanan, Konsolidasi, dan Integrasi).
Pada masa ini juga Ketua HMI, Mar’ie Muhammad pada 25 Oktober 1965
berinisiatif mendirikan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Keempat,
zaman Orde Baru (1966-1998). Zaman ini dibagi ke dalam fase kebangkitan
HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor kebangkitan angkatan 66
(1966-1968), fase partisipasi HMI dalam pembangunan (1969-sekarang),
dan fase pergolakan dan pembaruan pemikiran (1970-1998) yang ”gong”-
nya dilakukan Nurcholish Madjid (Ketua Umum PB HMI ketika itu) dengan
menyampaikan pidatonya dengan topik ”Keharusan Pembaruan Pemikiran
dalam Islam dan Masalah Integrasi Umat” tahun 1970 di Taman Ismail
Marzuki. Kelima, zaman reformasi (1998 – sekarang). Zaman ini dibagi
dalam fase reformasi (1998-2000) dan fase tantangan II (2000-sekarang).
Dalam fase tantangan II HMI dituntut dapat terus eksis meskipun alumninya
banyak tertimpa musibah dan HMI digerogoti berbagai macam
permasalahan termasuk konflik internal yang ditingkat PB HMI sempat
15
menimbulkan dua kali dualisme kepemimpinan.

15 Lihat, Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Mendiagnosa Lima Zaman Perjalanan HMI
(Suatu Tinjauan Historis dan Kritis Fase-Fase Perjuangan HMI), makalah LK II HMI
Cabang Tanjung Pinang Kepulauan Riau,Tanjung Pinang , 14 Maret 2007. Uraian
lebih lengkap dapat dilihat dalam Agussalim Sitompul, Historiografi HMI Tahun

7
Dalam mengenali kesejarahan HMI misalkan juga ditampilkan dalam
pendekatan ‘gelombang’ atau karakteristik utama dari tahun-tahun
kesejarahan HMI.16 Dalam perspektif kesejarahan ini, tahun 1947-1960an
merupakan era ‘gelombang heroisme’ yang ditandai dengan keseluruhan
gerak HMI yang diabdikan ke dalam perjuangan untuk mempertahankan
eksistensi negara sekaligus eksistensi HMI dari segala hal yang berupaya
menggugat dan menghancurkannya. Pada masa ini, HMI dihadapkan pada
upaya pendudukan kembali penjajah Belanda, perpecahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan penyebaran faham komunisme oleh Partai Komunis
Indonesia. Gelombang berikutnya adalah intelektualisme. Gelombang ini
dihasrati oleh gairah mewujudkan kontribusi HMI, ber-itjihad, atas
kemandekan berpikir dalam tradisi Islam di Indonesia. Gelombang ini mulai
muncul tahun 1960-an akhir hingga tahun 1980-an dan memunculkan
gelombang pembaruan pemikiran Islam yang sangat menonjol dengan icon
utamanya Nurcholish Madjid (alm).
Meski gelombang intelektualisme ini terus berkembang dan
bermetamorfosa di luar HMI, namun di dalam HMI, gelombang ini segera
digantikan dengan ‘gelombang politisme’. Gelombang politisme mengusung
dominasi logika kekuasaan dan mainstream berpikir politis dalam tubuh dan
aktivis HMI. Gelombang ini diawali dengan pemaksaan asas tunggal oleh
penguasa Orde Baru pada tahun 1980-an awal. Logika kekuasaan tersebut
membekas sangat kuat, karena “memaksa” HMI untuk lebih erat dengan
kekuasaan negara. Akibatnya, HMI larut dalam logika kekuasaan tersebut
dan menghantarkan HMI pada gelombang berikutnya, yaitu ‘gelombang
beku’ (freezed) di akhir tahun 1990-an hingga saat ini. Gelombang beku
ditandai dengan tampilnya generasi aktivis HMI yang memitoskan generasi
sebelumnya, berlindung dan menuai keberkatan dari kebesaran generasi
sebelumnya. Maka jangan heran bila saat ini banyak kader yang cenderung
berpikir pragmatis, minim inisiatif, dan miskin kreatifitas. Dengan demikian
menjadi wajar apabila generasi ini juga mudah larut dalam agenda politik
pihak eksternal dan berkonflik di internal ketimbang menjunjung tinggi

1947-1993, Penerbit Intermasa, Jakarta, 1995.


16 Pendekatan gelombang ini tidak begitu jelas siapa yang pertama kali
melontarkan. Secara teks, penulis menemukan pendekatan gelombang ini dalam
tulisan Zulfikar Arse Sadikin, Membangun Gelombang Baru HMI: Epistemic
Community, Centre of Zulfikar Information, Yogyakarta, 2006; dan dalam teks
Pidato Ketua Umum PB HMI pada Dies Natalis HMI ke-60 M, 5 Februari 2007.
persatuan dan program membangun HMI. Gelombang beku merupakan titik
nadir dari produk gelombang politisme.
HMI telah mengakumulasi fakta-fakta sosial dan pengetahuan dalam
dirinya selama 60 tahun. Fakta-fakta sosial dan pengetahuan tersebut –-
dalam perspektif arkeologi pengetahuan Michel Foucault— membentuk
suatu sistem pengetahuan tersendiri melalui proses diskursif yang rumit
dimana terdapat proses seleksi, distribusi, dan sirkulasi wacana di
dalamnya. Dalam proses diskursif tersebut terdapat fakta-fakta sosial dan
pengetahuan yang dapat terus eksis, bahkan muncul sebagai “pemenang”
dan menjadi ‘arus utama’ namun juga ada fakta-fakta sosial dan
pengetahuan yang jadi “pecundang” dan terpinggirkan. Oleh karena itu,
dalam wacana keagamaan di HMI misalnya, berkembang beragam wacana.
Namun proses diskursif nampaknya memenangkan wacana keagamaan
yang berwatak modern-moderat-inklusif dan wacana keagamaan lain seperti
yang tradisional-radikal-eksklusif menjadi pecundang. Proses diskursif juga
nampaknya kini telah memenangkan kerangka berpikir political oriented
dan menyisihkan kerangka berpikir berorientasi keilmuan dan profesi.
Kemudian, dalam political oriented, yang dominan bukan yang
mengedepankan pengaruh atau politik kebudayaan melainkan yang
17
mengedepankan jabatan politik atau politik struktural.
Pemaparan beberapa perspektif dalam mengenali sejarah HMI di atas
menjelaskan beberapa hal. Pertama, HMI telah berhasil meletakkan dirinya
dalam kanvas kesejarahan Indonesia dan umat Islam di Indonesia sehingga
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia dan umat Islam
di Indonesia. Hal ini tentu saja disebabkan karena sikap HMI yang
memandang Indonesia dan Islam sebagai satu kesatuan integratif yang
tidak perlu dipertentangkan.18 Kedua, karakteristik perilaku interaksi HMI
17 Perspektif gelombang sejarah HMI dan penggunaan metode arkeologi
pengetahuan dalam membaca sejarah HMI dapat dilihat di Pidato Ketua Umum PB
HMI pada Dies Natalis HMI ke-60, 5 Februari 2007. Pendekatan arkeologi
pengetahuan juga digunakan dalam penjelasan tema Kongres XXV HMI Februari
2006 di Makassar.
18 Pandangan ini harus dipertahankan disamping karena faktor kesejarahan
sebagaimana dipaparkan di atas, melainkan juga karena kita harus waspada
terhadap upaya yang hendak memperkecil arti kehadiran Islam di Indonesia yang
merupakan praktek kaum penjajah (Kristen). Di kalangan penginjil Kristen di
Indonesia, menurut Karel Steenbrink sebagaimana dikutip Nurcholish Madjid,
menerapkan strategi memisahkan Islam dari orang Jawa khususnya dan orang
Indonesia umumnya, dengan membangun gambaran seolah-olah Islam di Jawa dan
di Indonesia ini tidak ada artinya, dan seolah-olah budaya Jawa dan budaya asli

9
dengan umat dan bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-
politik yang terjadi pada umat dan bangsa, utamanya dalam konteks
bernegara. Ketiga, dalam interaksinya tersebut, HMI coba bersikap
kooperatif terhadap arus dominan dengan tetap menjaga identitas dirinya
yang pokok. Keempat, sejarah HMI adalah sejarah panjang yang didalamnya
terdapat dinamika internal HMI yang sangat dinamis, kaya, dan rumit.
Sehingga corak dominan yang tampil pada merupakan produk seleksi
wacana yang bersifat temporer dan akan segera digantikan oleh corak yang
lain apabila tidak ”pintar” mempertahankan diri di tengah pertarungan
wacana yang dinamis, kaya, dan rumit tersebut.@

*) Disampaikan dalam LK II HMI Cabang Manado, Manado 3 Juli 2007.

Indonesia lainnya adalah lebih penting. Dengan kata lain, strategi mereka ialah
menekankan pemisahan antara keduanya itu dan menegaskan kenyataan bahwa
Islam bukanlah aspek yang esensial dalam budaya Jawa. Lihat Budhy Munawar-
Rachman, Op. Cit., hal 1193-1195.