Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu penyusun tubuh manusia adalah darah. Darah adalah cairan yang
terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan)tingkat tinggi yang
berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan
dengan darahdiawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari
bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF) adalah cairan yang
menggenangi otak dan akord tulang belakang. Cairan serebrospinal adalah satu dari
tiga komponen utama di dalam tengkorak, dua lainnya adalah pembuluh darah dan
otak itu sendiri. CSF diproduksi oleh pleksus koroid, serangkaian pembuluh
darah infolded bahwa proyek ke dalam ventrikel otak, dan itu diserap ke dalam
sistem vena. Jika produksi melebihi penyerapan, tekanan CSF naik, dan hasilnya
adalah hidrosefalus. Ini juga dapat terjadi jika jalur CSF yang terhambat,
menyebabkan cairanmenumpuk. CSF diperoleh dalam pungsi lumbal dianalisa
untukmendeteksi penyakit.
Cairan serebrospinal yang berada di ruang subarakhnoid merupakan salah satu
proteksi untuk melindungi jaringan otak dan medula spinalis terhadap trauma atau
gangguan dari luar. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml,
volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata 104
ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan, baik ekstra sel
maupun intra sel. Rata-rata cairan serebrospinal dibentuk sebanyak 0,35 ml/menit atau
500 ml/hari, sedangkan total volume cairan serebrospinal berkisar 75-150 ml dalam
sewaktu. Ini merupakan suatu kegiatan dinamis, berupa pembentukan, sirkulasi dan
absorpsi. Untuk mempertahankan jumlah cairan serebrospinal tetap dalam sewaktu,
maka cairan serebrospinal diganti 4-5 kali dalam sehari. Perubahan dalam cairan
serebrospinal dapat merupakan proses dasar patologi suatu kelainan klinik.
Pemeriksaan cairan serebrospinal sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit-
penyakit neurologi. Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan
penyakit, serta menentukan prognosa penyakit. Pemeriksaan cairan serebrospinal
adalah suatu tindakan yang aman, tidak mahal dan cepat untuk menetapkan diagnosa,
mengidentifikasi organism penyebab serta dapat untuk melakukan test sensitivitas
antibiotika.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud darah manusia?
2. Apa saja komposisi darah manusia?
3. Apa saja fungsi dari darah manusia?
4. Apa saja golongan darah manusia?
5. Apa saja penyakit pada darah?
6. Apa itu cairan serebrospinal ?

1
7. Bagaimana Pembentukan, Aliran dan Absorpsi Cairan Serebrospinal
8. Berapa tekanan cairan serebrospinal ?
9. Bagaimana pengukuran tekanan cairan serebrospinal ?
10. Bagaimana warna cairan serebrospinal ?
11. Apa fungsi cairan serebrospinal ?
12. Apa saja yang terdapat dalam cairan serebrospinal ?

1.3 Tujuan Penulisan


Diharapkan agar mahasiswa dapat mengetahui dan lebih memahami mengenai
darah dan cairan serebrospinal itu seperti apa, apa fungsi dari darah dan cairan
serebrospinal.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Darah

2
1. Pngertian darah
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh.
Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-
zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai b a h a n p e n y u s u n
sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari
b e r b a g a i penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga
diedarkan melalui darah.. Darah manusia berwarna merah, antara merah
terang apabila kaya oksigen sampai merah tuaapabila kekurangan
oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein
pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.Manusia memiliki
sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam
pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh
jantung m e n u j u p a r u - p a r u u n t u k m e l e p a s k a n s i s a m e t a b o l i s m e
b e r u p a k a r b o n d i o k s i d a d a n menyerap oksigen melalui pembuluh
arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena
pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh
saluran pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh
tubuh melalui saluranhalus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah
kemudian kembali ke jantung melalui p e m b u l u h d a r a h v e n a c a v a
s u p e r i o r d a n v e n a c a v a i n f e r i o r. D a r a h j u g a m e n g a n g k u t bahan
bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk
diuraikanke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.

2. Struktur dan komponen darah


Darah memiliki komposisi yang terdiri atas sekitar 55% cairan darah (plasma)
dan 45% sel-sel darah. Terdapat tiga macam sel darah, yaitu sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
a Plasma Darah
Sekitar 91% plasma darah terdiri atas air. Selebihnya adalah zat terlarut
yang terdiri dari protein plasma (albumin, protrombin, fibrinogen, dan
antibodi), garam mineral, dan zat-zat yang diangkut darah (zat makanan,
sisa metabolisme gas-gas, dan hormon). Fibrinogen yang ada dalam
plasma darah merupakan bahan penting untuk pembekuan darah jika
terjadi luka. Proses pembekuan darah ini akan dijelaskan pada bahasan
selanjutnya
b Sel-Sel Darah
Sel-sel darah pada manusia, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel
darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Dalam sel-sel darah,
kandungan sel darah putih dan keping darah sebanyak 1%, sedangkan sel

3
darah merah
sebanyak 99%.
1. Sel darah merah (eritrosit)
Sel darah merah tidak memiliki inti sel dan mengandung hemoglobin.
Hemo- globin (Hb) meru pakan protein yang mengandung zat besi.
Fungsi hemoglobin adalah untuk mengikat oksigen dan karbon
dioksida dalam darah. Hemoglobin berwarna merah, karena itu sel
darah merah berwarna merah. Jumlah sel darah merah yang normal
kurang lebih adalah 5 juta sel/mm3 darah. Sel darah merah dibentuk
pada tulang pipih di sumsum tulang dan dapat hidup hingga 120 hari.
Jika sel darah merah rusak atau sudah tua maka sel ini akan dirombak
dalam limfa. Hemoglobin dari sel darah merah yang dirombak akan
terlepas dan dibawa ke dalam hati untuk dijadikan zat warna empedu.
Sel darah merah baru akan dibentuk kembali dengan bahan zat besi
yang berasal dari hemoglobin yang terlepas tadi.

2. Sel darah putih (leukosit)


Sel darah putih sesungguhnya tidaklah berwarna putih, tetapi jernih.
Disebut sel darah putih untuk membedakannya dari sel darah merah
yang berwarna merah. Sel darah putih bentuknya tidak teratur atau
tidak tetap. Tidak seperti sel darah merah yang selalu berada di dalam
pembuluh darah, sel darah putih dapat keluar dari pembuluh darah.
Kemampuan untuk bergerak bebas diperlukan sel darah putih agar
dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga tubuh. Sel darah putih
memiliki inti sel tetapi tidak berwarna atau tidak memiliki pigmen.
Berdasarkan zat warna yang diserapnya dan bentuk intinya sel darah
putih dibagi menjadi lima jenis, yaitu basofil, neutrofil, monosit,
eosinofil, dan limfosit. Secara normal jumlah sel darah putih pada
tubuh kita adalah kurang lebih 8.000 pada tiap 1 mm3 darah. Sel darah
putih hanya hidup sekitar 12 – 13 hari. Fungsi sel darah putih sebagai
pertahanan tubuh dari serangan penyakit. Jika tubuhmu terluka dan ada
kuman yang masuk, sel- sel darah putih akan menyerang atau
memakan kuman- kuman tersebut. Ibarat sebuah negara, sel darah
putih adalah pasukan tempur. Jika seseorang diserang penyakit. Tubuh

4
akan memproduksi lebih banyak sel-sel darah putih untuk
melawanbibit penyakit tersebut.

3. Keping darah (trombosit)


Keping darah berbentuk bulat atau lonjong. Ukuran keping darah lebih
kecil daripada sel darah merah. Jumlahnya kurang lebih 300.000 pada
tiap 1 mm3 darah. Keping darah hidupnya singkat, hanya 8 hari.
Keping darah berfungsi pada proses pembekuan darah. Saat terjadi
luka, darah keluar melalui luka tersebut. Keping darah menyentuh
permukaan luka, lalu pecah dan mengeluarkan trombokinase. Masih
ingatkah kamu tentang plasma darah yang mengandung zat untuk
proses pembekuan darah, yaitu protrombin dan fibrinogen.
Trombokinase dibantu dengan ion kalsium akan mengubah
protrombin menjadi trombin. Trombin diperlukan untuk mengubah
fibrinogen menjadi benang-benang fibrin. Luka akan ditutup oleh
benang fibrin yang berupa benang-benang halus, sehingga darah
berhenti keluar.

3. Fungsi darah
 Sebagai alat pengangkut yaitu:
- Mengambil oksigen/ zat pembakaran dari paru-
p a r u u n t u k d i e d a r k a n keseluruh jaringan tubuh.
- Mengangkut karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan
melalui paru- paru.
- Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk
diedarkandandibagikanke seluruh jaringan/ alat tubuh.
- Mengangkat / mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi
tubuh untuk dikeluarkan melalui ginjaldan kulit.
 Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit danracun
dalam tubuhdengan perantaraan leukositdanantibodi/ zat–zat anti racun.
 Menyebarkan panas keseluruh tubuh.

4. Golongan Darah
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu
berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran
sel darah merah. Hal ini disebapkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat
dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Dua jenis

5
penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus
(faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen
ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan
yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang
berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi
yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
 Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan
antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi
terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan
golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan
golongan darah A-negatif atau O-negatif.
 Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel
darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam
serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya
dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-
negatif.
 Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan
antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A
maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan
disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-
positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
 Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang
dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun,
orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari
sesama O-negatif. Secara umum, golongan darah O adalah yang paling
umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan
Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum
dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan
keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang
paling jarang dijumpai di dunia.

5. Penyakit pada darah manusia

6
1. Anemia / Penyakit Kurang Darah
Anemia adalah suatu kondisi di mana tubuh kita
k e k u r a n g a n d a r a h a k i b a t kurangnya kandungan hemoglobin dalam
darah. Akibatnya tubuh akan kekurangan o k s i g e n d a n b e r a s a
lemas karena hemoglobin bertugas mengikat oksigen
u n t u k disebarkan ke seluruh badan.
2. Hemofili / Hemofilia / Penyakit Darah Sulit Beku
Hemofilia adalah suatu penyakit atau kelainan
p a d a d a r a h y a n g s u k a r membeku jika terjadi luka. Hemofili
merupakan penyakit turunan.
3. Hipertensi / Penyakit Darah Tinggi
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang
d i a k i b a t k a n o l e h a d a n y a penyempitan pembuluh darah dengan
sistolis sekitar 140-200 mmHg serta tekanan diastolisis kurang lebih
antara 90-110 mmHg.
4. Hipotensi / Penyakit Darah Rendah
Hipotensi adalah tekanan darah rendah dengan tekanan sistolis di bawah
100mmHg (milimeter Hydrargyrum / mili meter air raksa)(Hydrargyrum = air
raksa).

5. Varises / Penyakit Otot Nimbul


Varises adalah pelebaran pada pembuluh vena yang membuat
pembuluh dasar membesar dan terlihat secara kasat mata yang umumnya
terdapat pada bagian lipatan betis.
6. Penyakit Kuning Bayi
Penyakit kuning pada anak bayi adalah kelainan akibat
a d a n y a g a n g g u a n kerusakan sel-sel darah oleh aglutinin sang ibu.
7. Sklerosis
Sklerosis adalah penyakit kelainan pada pembuluh nadi
sistem transportasiyang menjadi keras.
8. Miokarditis
Miokarditis adalah suatu kelainan akibat terjadinya radang pada otot
jantung.
9. Trombus / Embolus
Trombus adalah kelainan yang terdapat pada jantung yang
disebabkan oleh adanya gumpalan di dalam nadi tajuk.
10. Leukimia / Penyakit Kanker Darah
Leukimia adalah penyakit yang mengakibatkan produksi sel darah
putih tidak terkontrol pada sistem transportasi.

7
2.2 Cairan Serebrospinal
1. Pengertian
Cairan Serebro Spinal (CSS) ditemukan di ventrikel otak dan
sisterna dan ruang subarachnoid yang mengelilingi otak dan medula
spinalis. Seluruh ruangan berhubungan satu sama lain, dan tekanan
cairan diatur pada suatu tingkat yang konstan.
Cairan Serebro Spinal (CSS) ditemukan di ventrikel otak dan
sisterna dan ruang subarachnoid yang mengelilingi otak dan medula
spinalis. Seluruh ruangan berhubungan satu sama lain, dan tekanan cairan
diatur pada suatu tingkat yang konstan.

2. Pembentukan, Aliran dan Absorpsi Cairan Serebrospinal


Sebagian besar CSS (dua pertiga atau lebih) diproduksi di pleksus
choroideus ventrikel serebri (utamanya ventrikel lateralis). Sejumlah kecil
dibentuk oleh sel ependim yang membatasi ventrikel dan membran
arakhnoid dan sejumlah kecil terbentuk dari cairan yang bocor ke
ruangan perivaskuler disekitar pembuluh darah otak (kebocoran sawar
darah otak).
Pada orang dewasa, produksi total CSS yang normal adalah sekitar
21 mL/jam (500 mL/ hari), volume CSS total hanya sekitar 150 mL. CSS
mengalir dari ventrikel lateralis melalui foramen intraventrikular (foramen
Monroe) ke venrikel ketiga, lalu melewati cerebral aquaductus
(aquaductus sylvii) ke venrikel keempat, dan melalui apertura medialis
(foramen Magendi) dan apertura lateral (foramen Luschka) menuju ke
sisterna cerebelomedular (sisterna magna). Dari sisterna cerebelomedular,
CSS memasuki ruang subarakhnoid, bersirkulasi disekitar otak dan medula
spinalis sebelum diabsorpsi pada granulasi arachnoid yang terdapat pada
hemisfer serebral.

3. Tekanan Cairan Serebrospinal


Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang
berbaring pada posisi horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg),

8
meskipun dapat juga serendah 65 mm air atau setinggai 195 mm air pada
orang normal.
Normalnya, tekanan cairan serebrospinal hampir seluruhnya diatur
oleh absorpsi cairan melalui vili arakhnoidalis. Alasannya adalah bahwa
kecepatan normal pembentukan cairan serebrospinal bersifat konstan,
sehingga dalam pengaturan tekanan jarang terjadi faktor perubahan dalam
pembentukan cairan. Sebaliknya, vili berfungsi seperti katup yang
memungkinkan cairan dan isinya mengalir ke dalam darah dalam sinus
venosus dan tidak memungkinkan aliran sebaliknya. Secara normal, kerja
katup vili tersebut memungkinkan cairan serebrospinal mulai mengalir ke
dalam darah ketika tekanan sekitar 1,5 mmHg lebih besar dari tekanan
darah dalam sinus venosus. Kemudian, jika tekanan cairan serebrospinal
masih meningkat terus, katup akan terbuka lebar, sehingga dalam
keadaan normal, tekanan tersebut tidak pernah meningkat lebih dari
beberapa mmHg dibanding dengan tekanan dalam sinus.
Sebaliknya, dalam keadaan sakit vili tersebut kadang-kadang
menjadi tersumbat oleh partikel-partikel besar, oleh fibrosis, atau bahkan
oleh molekul protein plasma yang berlebihan yang bocor ke dalam cairan
serebrospinal pada penyakit otak. Penghambatan seperti ini dapat
menyebabkan tekanan cairan serebrospinal menjadi sangat tinggi.

4. Pengukuran Tekanan Cairan Serebrospinal


Prosedur yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan cairan
serebrospinal adalah sebagai berikut : Pertama, orang tersebut berbaring
horizontal pada sisi tubuhnya, sehingga tekanan cairan spinal sama
dengan tekanan dalam ruang tengkorak. Sebuah jarum spinal kemudian
dimasukkan ke dalam kanalis spinalis lumbalis di bawah ujung terendah
medula spinalis dan dihubungkan dengan sebuah pipa kaca. Cairan spinal
tersebut dibiarkan naik pada pipa kaca sampai setinggi-tingginya. Jika
nilainya naik sampai setinggi 136 mm di atas tingkat jarum tersebut,
tekanannya dikatakan 136 mm air atau, dibagi dengan 13,6 yang
merupakan berat jenis air raksa, kira-kira 10 mmHg.

9
Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang
berbaring pada posisi horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg), meskipun
dapat juga serendah 65 mm air atau setinggai 195 mm air pada orang normal.

5. Warna Cairan Serebrospinal


Cairan serebrospinal normal tidak berwarna. Adanya warna pada cairan ini
biasanya menunjukkan hal abnormal.
1. Xantokrom (kekuningan) : perdarahan subarakhnoid, meningitis
tuberkulosis, dan neonatus normal.
2. Kuning : hiperbilirubinemia, hemolisis.
3. Oranye : hiperkarotenemia, hemolisis.
4. Merah muda : hemolisis.
5. Hijau : hiperbilirubinemia, meningitis bakterial.
6. Coklat : meningitis melanomatosis.

6. Fungsi Cairan Serebrospinal


Cairan serebrospinal berfungsi sebagai bantalan untuk jaringan lunak otak
dan medulla spinalis,juga sebagai media pertukaran nutrien dan zat buangan
antara darah dan otak serta medulla spinalis. Secara klinis cairan serebrospinal
dapat diambil untuk pemeriksaan melalui prosudur pungsi lumbal , yaitu jarum
berongga diinsersi ke dalam ruang subaraknoid di antara lengkung saraf vertebra
lumbal ke tiga dan ke empat.
Cairan serebrospinal menyediakan keseimbangan dalam sistem saraf.
Unsur-unsur pokok pada Cairan serebrospinal berada dalam keseimbangan dengan
cairan otak ekstraseluler, jadi mempertahankan lingkungan luar yang konstan
terhadap sel-sel dalam sistem saraf. Cairan serebrospinal mengakibatkann otak
dikelilingi cairan, mengurangi berat otak dalam tengkorak dan menyediakan
bantalan mekanik, melindungi otak dari keadaan/trauma yang mengenai tulang
tengkorak Cairan serebrospinal mengalirkan bahan-bahan yang tidak diperlukan
dari otak, seperti CO2,laktat, dan ion Hidrogen. Hal ini penting karena otak hanya
mempunyai sedikit sistem limfatik. Dan untuk memindahkan produk seperti
darah, bakteri, materi purulen dan nekrotik lainnya yang akan diirigasi dan
dikeluarkan melalui villi arakhnoid.
Cairan serebrospinal bertindak sebagai saluran untuk transport
intraserebral. Hormon-hormon dari lobus posterior hipofise, hipothalamus,

10
melatonin dari fineal dapat dikeluarkan ke CSS dan transportasi ke sisi lain
melalui intraserebral. Mempertahankan tekanan intrakranial. Dengan cara
pengurangan CSS dengan mengalirkannya ke luar rongga tengkorak, baik dengan
mempercepat pengalirannya melalui berbagai foramina, hingga mencapai sinus
venosus, atau masuk ke dalam rongga subarachnoid lumbal yang mempunyai
kemampuan mengembang sekitar 30%.

7. Yang Terdapat Dalam Cairan Serebrospinal


a. Protein
Protein pada cairan serebrospinal normal mengandung 18-58 mg/dL
protein. Peningkatan protein dapat terjadi akibat infeksi, perdarahan, multiple
sclerosis, dan keganasan. Sedangkan protein yang rendah mungkin ditemukan
pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun dan pada intoksikasi air.
Hipoproteinemia atau hipoalbuminemia tidak menyebabkan protein cairan
serebrospinal menurun.
b. Glukosa
Glukosa pada cairan serebrospinal biasanya sama dengan 2/3 kali
glukosa darah orang yang bersangkutan 2-4 jam sebelumnya. Satu-satunya
penyebab peningkatan glukosa pada cairan serebrospinal adalah diabetes
melitus. Namun glukosa cairan dalam kasus ini tidak pernah melebihi 300
mg/dL. Penurunan glukosa cairan serebrospinal biasanya disebabkan infeksi.
Infeksi bakteri menyebabkan glukosa turun sampai sangat rendah, namun
infeksi virus yang hanya menyebabkan glukosa turun sedikit. Pemeriksaan ini
tidak selalu sensitif menyingkirkan infeksi karena 50% pasien meningitis
menunjukkan kadar glukosa cairan serebrospinal normal.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Salah satu penyusun tubuh manusia adalah darah. Darah adalah cairan yang
terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan)tingkat tinggi yang
berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan
dengan darahdiawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari
bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus
choroideus di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi,
sedangkan 30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga
subarachnoid. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml,
volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata
104 ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan, baik
ekstra sel maupun intra sel.

3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar
dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis
ucapkan terimakasih.

12