Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT II

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOGLIKEMIA

OLEH:

KELOMPOK 6

NOVITASARI
PIA INDAH SARI
NINA LISNAWATI
YANUAR SAPUTRA S
TIKA NISRINA
SURYA NOPRIATAMA

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH


PONTIANAK
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hipoglikemi adalah salah satu kegawatan yang mengancam bila tidak
segera teratasi, dimana terjadi akibat menurunnya kadar glukosa darah kurang
dari 50 mg/dl. Hipoglikemi dapat disebabkan oleh puasa, khususnya puasa yang
disertai olahraga, karena olahraga meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel-sel
otot. Hipoglikemia lebih sering disebabkan kelebihan dosis insulin pada
pengidap diabetes dependent insulin (IDDM).
Studi yang berlangsung dari tahun 1998-2002, melibatkan 1.465
partisipan dengan DM tipe 2 dan berusia rata-rata 65 tahun yang pernah
mengalami sekali atau lebih episode hipoglikemia, menunjukkan sebanyak 17%
menderita demensia, dibandingkan dengan 10,3% dari mereka yang tidak ada
riwayat hipoglikemia. Risiko terjadinya demensia ada 26% pada kelompok
pasien yang memiliki riwayat hipoglikemia berat sebanyak 1 kali, meningkat
15% pada pasien yang memiliki riwayat hipoglikemia berat sebanyak 2 kali, dan
menjadi 16% pada pasien yang memiliki riwayat hipoglikemia 3 kali atau lebih.
(Soemadji 2007, 1870)
Penyebab adanya Hipoglikemia adalah Dosis suntikan insulin terlalu
banyak.Lupa makan atau makan terlalu sedikit,Aktifitas terlalu berat, Minum
alkohol tanpa disertai makan, Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam
hari, Penebalan di lokasi suntikan, Kesalahan waktu pemberian obat dan
makanan, Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa,
Gangguan hormonal, Pemakaian aspirin dosis tinggi, Riwayat hipoglikemia
sebelumnya.
Penatalaksanaan hiperglikemi adalah Makanan kaya gula, Hal ini
merupakan pertolongan instan namun sementara untuk hipoglikemia, meskipun
hal ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang. Tujuan dari
makanan ini adalah untuk memberikan perawatan hipoglikemia instan untuk
mencegah seseorang agar tidak benar - benar pingsan. Minuman seperti soda
(bukan soda diet) dan makanan seperti permen keras, jus buah manis, susu,
madu dengan air hangat, dan gula mentah (satu sendok teh) bisa diberikan untuk
perawatan instan terhadap hipoglikemia. Peningkatan bertahap dari gula darah
akan muncul setelah mengonsumsi makanan tersebut diatas, dan harus diikuti
dengan memakan makanan ringan. Solusi yang lain yaitu Tablet glukosa/solusi
glukosa lewat mulut, Pilihan perawatan hipoglikemia instan bisa dalam bentuk
solusi glukosa lewat mulut atau tablet yang bisa dibeli di toko obat. Mereka yang
terkena Hipoglikemia harus selalu membawa beberapa pil ini kemanapun
mereka pergi, terutama ketika bepergian jauh. Setiap kali hipoglikemia terjadi,
mereka bisa dengan udah meminum tabletnya untul menjaga tingkat gula darah
mereka tetap berada dalam tingkat normal. Selain itu, tablet perawatan
hipoglikemia yang dipersiapkan secara komersil bisa bekerja dua kali lebih cepat
untuk mengembalikan tingkat gula darah ke tingkat normal dari pada
mengonsumsi makanan. Mengonsumsi makanan tidak secepat tablet glukosa
karena tablet ini bisa memberikan gula instan untuk hipoglikemia yang sudah
parah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa yang dimaksud hipoglikemia?
1.2.2 Apa penyebab hipoglikemia?
1.2.3 Apa saja tanda dan gejala hipoglikemia?
1.2.4 Bagaimana patofisiologi hipoglokemia ?
1.2.5 Bagaimana penatalaksanaan hipoglikemia?
1.2.6 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien hipoglikemia ?

1.3 Tujuan Umum


Untuk Mengetahui konsep dan Asuhan Keperawatan Hipoglikemia
1.4 Tujuan Khusus
1.4.1 Untuk Mengetahui Pengertian Hipoglikemia
1.4.2 Untuk Mengetahui Penyebab Hipoglikemia
1.4.3 Untuk Mengetahui Tanda dan gejala Hipoglikemia
1.4.4 Untuk Mengetahui Patofisiologi Hipoglikemia
1.4.5 Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Hipoglikemia
1.4.6 Untuk Mengetahui Asuhan keperawatan pada psien Hipoglikemia

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI HIPOGLIKEMIA


Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar
glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena ketidakseimbangan
antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom
hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas,
gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung
meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia).(Nabyl, 2009).
Otak memerlukan glukosa darah sebagai sumber energi utama. Oleh sebab itu jika
gula darah terlalu rendah maka organ pertama yang terkena dampaknya adalah sistem
saraf pusat, seperti sakit kepala akibat perubahan aliran darah otak, konfusi, iritabilitas,
kejang, dan koma. hipoglikemia juga menyebabkan pengaktifan sistem saraf simpatis
yang menstimulasi rasa lapar, gelisah, berkeringat dan takikardia.(CORWIN : 541,2000)
Hipoglikemia lebih berbahaya dibandingkan kelebihan kadar gula darah
(hiperglikemia) karena kadar gula darah yang terlalu rendah selama lebih dari 6 jam
dapat menyebabkan kerusakan tidak terpulihkan (irreversible) pada jaringan otak dan
saraf.

2.2 PENYEBAB HIPOGLIKEMIA


2.2.1 Dosis suntikan insulin terlalu banyak.
Penyutikan Insulin pada pasien diabetes uyang melebihi dosis, seharusnya
penderita diabetes militus melakukan pengecekan gula dalam darah (gds)
sebelum menyuntikan insulin sehingga pasien mengetahui dosis yang akan
digunakan.
2.2.2 Dosis suntikan insulin terlalu banyak.
Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja lambat
dua kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan. Kadar
insulin dalam darah harus seimbang dengan makanan yang dikonsumsi. Jika
makanan yang dikonsumsi kurang maka keseimbangan ini terganggu dan
terjadilah hipoglikemia.
2.2.3 Aktifitas terlalu berat.
Olah raga atau aktifitas berat lainnya memiliki efek yang mirip dengan
insulin. Pada saat berolahraga,tubuh akan menggunakan glukosa darah yang
banyak sehingga kadar glukosa darah akan menurun. Maka dari itu, olahraga
merupakan cara terbaik untuk menurunkan kadar glukosa darah tanpa
menggunakan insulin.
2.2.4 Minum alkohol tanpa disertai makan.
Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati sehingga kadar glukosa
darah akan menurun
2.2.5 Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari.
Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan untuk
mengkonsumsi obat diabetes pada malam hari terutama yang bekerja secara
lambat. Jika salah mengkonsumsi obat misalnya meminum obat insulin kerja
cepat di malam hari maka saat bangun pagi, anda akan mengalami
hipoglikemia.
2.2.6 Penebalan di lokasi suntikan.
Dianjurkan bagi yang menggunakan suntikan insulin agar merubah lokasi
suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam waktu lama pada
lokasi yang sama akan menyebabkan penebalan jaringan. Penebalan ini akan
menyebabkan penyerapan insulin menjadi lambat.
2.2.7 Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.
Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang dianjurkan.
Penderita harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan obat
sebaiknya disuntik atau diminum sehingga kadar glukosa darah menjadi
seimbang.
2.2.8 Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.
Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan
glukosa oleh usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran darah
dibandingan dengan glukosa. Insulin yang terlanjur beredar, ini akan
menyebabkan kadar glukosa darah menurun sebelum glukosa yang baru
menggantikannya.
2.2.9 Gangguan hormonal.
Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon glukagon.
Hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon ini
maka pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.
2.2.10 Pemakaian aspirin dosis tinggi.
Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi melebihi dosis
80 mg.
2.2.11 Riwayat hipoglikemia sebelumnya.
Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih terasa
dalam beberapa waktu. Meskipun saat ini penderuta merasa sudah sehat
akan tetapi belum menjamin tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.

2.3 TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala dari hipoglikemi terdiri dari dua fase antara lain:

2.3.1 Fase pertama

Gejala - gejala yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus


sehingga dilepaskannya hormone epinefrin. Gejalanya berupa palpitasi, keluar
banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa lapar dan mual (glukosa turun 50 mg
%).

2.3.2 Fase kedua


Gejala - gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya gangguan fungsi otak,
gejalanya berupa pusing, pandangan kabur, ketajaman mental menurun,
hilangnya ketrampilan motorik yang halus, penurunan kesadaran, kejang-
kejang dan koma (glukosa darah 20 mg%).
Adapun gejala- gejala hipoglikemi yang tidak khas adalah sebagai berikut:
 Perubahan tingkah laku
 Serangan sinkop yang mendadak
 Pusing pagi hari yang hilang dengan makan pagi
 Keringat berlebihan waktu tidur malam
 Bangun malam untuk makan
 Hemiplegi/ afasia sepintas

2.4 PATOFISIOLOGI HIPOGLIKEMIA


Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama
bergantung pada glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Saat jumlah
glukosa terbatas, otak dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di
astrosit, namun itu dipakai dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan kerja yang
begitu banyak, otak sangat tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus
dari darah ke dalam jaringan interstitial dalam system saraf pusat dan saraf-saraf di
dalam system saraf tersebut.
Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun,
maka akan mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan
mental seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah
65 mg/dl (3.6 mM). Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl
(0.55 mM), sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi sehingga dapat
menghasilkan koma.
2.5 PENATALAKSANAAN HIPOGLIKEMIA
2.5.1. Pengobatan Hipoglikemia
2.5.1.1 Glukosa Oral

Sesudah diagnosis hipoglikemi ditegakkan dengan pemeriksaan glukosa


darah kapiler, 10 - 20 gram glukosa oral harus segera diberikan. Idealnya
dalam bentuk tablet, jelly atau 150- 200 ml minuman yang mengandung
glukosa seperti jus buah segar dan non diet cola. Sebaiknya coklat manis
tidak diberikan karena lemak dalam coklat dapat mengabsorbsi glukosa. Bila
belum ada jadwal makan dalam 1- 2 jam perlu diberikan tambahan 10-20
gram karbohidrat kompleks.Bila pasien mengalami kesulitan menelan dan
keadaan tidak terlalu gawat, pemberian gawat, pemberian madu atau gel
glukosa lewat mukosa rongga hidung dapat dicoba.
2.5.1.2 Glukosa Intramuskular
Glukagon 1 mg intramuskuler dapat diberikan dan hasilnya akan tampak
dalam 10 menit. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau
pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari
cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan
dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Kecepatan
kerja glucagon tersebut sama dengan pemberian glukosa intravena. Bila
pasien sudah sadar pemberian glukagon harus diikuti dengan pemberian
glukosa oral 20 gram (4 sendok makan) dan dilanjutkan dengan pemberian 40
gram karbohidrat dalam bentuk tepung seperti crakers dan biscuit untuk
mempertahankan pemulihan, mengingat kerja 1 mg glucagon yang singkat
(awitannya 8 hingga 10 menit dengan kerja yang berlangsung selama 12
hingga 27 menit). Reaksi insulin dapt pulih dalam waktu5 sampai 15 menit.
Pada keadaan puasa yang panjang atau hipoglikemi yang diinduksi alcohol,
pemberian glucagon mungkin tidak efektif. Efektifitas glucagon tergantung
dari stimulasi glikogenolisis yang terjadi.

2.5.1.3 Glukosa Intravena


Glukosa intravena harus diberikan dengan berhati-hati. Pemberian glukosa
dengan konsentrasi 40 % IV sebanyak 10- 25 cc setiap 10-20 menit sampai
pasien sadar disertai infuse dekstrosa 10 % 6 kolf/jam.

. 2.5.2 PENANGANAN KEGAWATDARURATAN HIPOGLIKEMIA


Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah
penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun
minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami
hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet
glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang
konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula
diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama
(misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta
tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan
glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang
memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa
glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang
merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di
dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan
gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat
melalui pembedahan. Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat
pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang
sering mengalami hipoglikemia dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan
sering makan dalam porsi kecil.

Kadar Gula Darah Normal Menurut WHO


Untuk mengetahui berapa kadar gula darah yang ideal, kita bisa merujuk pada kadar
gula darah normal menurut WHO. Dengan demikian, kita memiliki acuran yang jelas
agar tetap bisa menjaga kadar gula tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.

- Ketika puasa: 4 - 7 mmol/l atau 72 - 126 mg/dl


- 90 menit setelah makan: 10 mmol/l atau 180 mg/dl
- Malam hari: 8 mmol/l atau 144 mg/dl

2.6 ASUHAN KEPERAWATAN HIPOGLIKEMI


Data dasar yang perlu dikaji adalah :
2.6.1 Anamnesa
Biodata pasien
2.6.2 Keluhan utama :
Pasien merasakan nyeri kepala seperti ditusuk-tusuk di kepala denagn skala
5 pada saat beraktivitas,kejang, kegelisahan, berkeringat, serta pasien
merasakan lapar terus menerus.
2.6.3 Keadaan umum
Pasien biasanya tampak pucat,lemas, gelisah, dan kesadaran menurun. Ini
disebabkan karena glukosa dalam darah kurang dari kebutuhan sehingga
membuat pasien mengalami kekurangan energi.
2.6.4 Pemeriksaan fisik
B1 : Breathing (Respiratory System) ada Sesak nafas, takipnea.
B2 : Blood (Cardiovascular system) misalnya takikardi, penurunan TD,
aritmia jantung.
B3 : Brain (Nervous system) gangguan sistem syaraf pusat, terjadi
peningkatan sistem syaraf simpatis.
B4 : Bladder (Genitourinary system) ada penurunan frekuensi / jumlah
urine.
B5 : Bowel (Gastrointestinal System) ada Anorexia, muntah, mual,
kekurangan nutrisi.
B6 : Bone (Bone-Muscle-Integument) ada kelemahan dan nyeri pada
daerah ekstremitas.
2.6.5 Pemeriksaan penunjang
 Prosedur khusus: Untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa
postprandial oral 5 jam menunjukkan glukosa serum <50 mg/dl setelah 5
jam.
 Pemeriksaan laboratorium: glukosa serum <50 mg/dl, spesimen urin dua
kali negatif terhadap glukosa.
 EKG: Takikardia.
2.6.6 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ditandai dengan
aliran darah ke otak menurun dan nyeri dirasakan sepditusuk-tusuk di
kepala dengan skala 5 pada saat beraktivitas.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif

3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelemahan Menyeluruh


2.6.7 NOC Dan NIC
2.6.7.1 Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ditandai
dengan aliran darah ke otak menurun dan nyeri dirasakan sepditusuk-
tusuk di kepala dengan skala 5 pada saat beraktivitas.
Noc : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam
dapat mengontrol nyeri
KH : mengenali faktor penyebab
Mengenali lamanya sakit
Menggunakan metode pencegahan
Penggunaan analgetik sesuiai kebutuhan
Nic
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Tingkatkan istirahat
Tingkatkan keefektifan kontrol nyeri
2.6.7.2 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif
Noc : fluid balance
Mampu mempertahankan urin output sesuai dengan usia dan berat
badan
Hematokrit dibatas normal
Tekanan darah, nadi, suhu dalam batas normal
Noc : status hidrasi
Tidak ada tabda-tanda dehidrasi
Elastisitas turgor kulit baik
Membran mukosa lembab
Tak ada rasa haus yang berlebihan
NIC : monitor tanda-tanda vital
Monitor status hidrasi
Kolaborasi pemberian cairan infus intravena
Motivasi pasien minum air putih banyak
2.6.7.3 Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelemahan Menyeluruh
NOC :
Fatigue Level

Kriteria hasil:
- Klien tidak megalami kelelahan
- Terjadi peningkatan kualitas istirahat
- Peningkatan kualitas tidur
- Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat

Activity Tolerance

Kriteria hasil:
- Frekuensi nadi saat beraktivitas dalam rentang normal (60-100
x/menit)
- RR saat beraktivitas dalam rentang normal (12-20 x/menit)
- Mudah bernapas saat beraktivitas
- Tekanan systolik saat beraktivitas dalam rentang normal (120-
140 mmHg)
- Tekanan diastolic saat beraktivitas dalam rentang normal (80-90
mmHg)
- Mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari

NIC :
1. AKTIVITAS TERAPI
 Berkolaborasi dengan terapis kegiatan, fisik, dan / atau rekreasi
dalam perencanaan dan monitoring program aktivitas, yang sesuai.
 Tentukan komitmen pasien untuk peningkatan frekuensi dan / atau
berbagai aktivitas.
 Membantu untuk mengeksplorasi makna pribadi aktivitas biasa
(misalnya, bekerja) dan / atau aktivitas rekreasi favorit.
 Membantu untuk memilih aktivitas sesuai dengan fisik, capabiliti
psikologi, dan sosial.
 Membantu untuk fokus pada apa yang dapat pasien lakukan, bukan
pada ketidakmampuan.
 Membantu untuk mengidentifikasi dan memperoleh sumber daya
yang dibutuhkan untuk aktivitas yang diinginkan

2. Manajemen Energi
 Tentukan keterbatasan fisik pasien
 Tentukan pasien/ yang lainnya yang signifikan penyebab persepsi
kelelahan
 Mendorong verbalisasi perasaan tentang keterbatasan
 Menentukan penyebab kelelahan (misalnya, perawatan, nyeri, dan
obat-obatan)
 Tentukan apa dan berapa banyak aktivitas yang dibutuhkan untuk
membangun ketahanan
 Memantau asupan nutrisi untuk memastikan sumber energi yang
memadai
 Konsultasikan dengan ahli gizi tentang cara-cara untuk
meningkatkan asupan makanan berenergi tinggi
 Memantau pasien untuk bukti dari kelelahan fisik dan emosional
yang berlebihan
 Memantau respons kardiorespirasi terhadap aktivitas (misalnya,
takikardia, dysrhytmias lainnya, dispnea, diaforesis, pucat, tekanan
hemodinamik, tingkat pernapasan).
 Pola tidur. Monitor / catatan pasien dan jumlah jam tidur

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah Hipoglikemia adalah salah satu
kegawatan diabetic yang mengancam, sebagai akibat dari menurunnya kadar gula
darah <60mg/dl. Tanda dan Gejala hipoglikemia terdiri dari fase 1. Gejala-Gejala
akibat aktivitas pusat atau autonom di hipotalamus sehingga hormon efineprin di
lepaskan. Gejala awal ini merupakan peringatan karenan saat itu pasien masih sadar
sehingga di ambil tindakan yang perlu untuk mengatsi hipoglikemia lanjut. Fase II,
Gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi Otak, karena itu
dinamakan gejala neurologis.

3.2 Saran

Untuk memudahkan pemberian tindakan Keperawatan dalam keadaan darurat


secara cepat dan tepat, mungkin perlu dilakukan prosedur tetap/ protokol yang
dapat digunakan setiap hari. Diharapkan kepada pembaca sekalian dapat
menjadikan makalah “asuhan keperawtan hipoglikemia” sebagai salah satu acuan
yang bermanfaat, walaupun masih penuh dengan keterbatasab dan kekurangan yang
sangat perlu kritik dan saran dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

 Herdman,T.Heather(2012).Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

 Corwin,Elizabeth j (2000).Buku Saku Patofisisologi Jakarta : EGC

 Sriyanti.2013.Askep Hipoglikemi.Retrieved from


http://chelyriyanti.blogspot.com/2013/08/askep-hipoglikemia_21.html
 Somantri.2014.Asuhan keperawatan pada klien dengan hipoglikemia.Retrieved
from http://rianisomantri.blogspot.com/2014/02/asuhan-keperawatan-pada-
klien-dengan_12.html