Anda di halaman 1dari 14

KELAS TERAPI

1. Antiinflamasi (NSAIDs)
2. Antimikroba
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan
manusia. Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi yang
dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.
Mekanisme Kerja : Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat
bakteriostatik masih tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes.
Peranan lamanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif juga
sangat menentukan untuk mendapatkan efek, khususnya pada tuberkulostatik.
Berdasarkan mekanisme kerjanya antimikroba dibagi dalam 5 kelompok :
1. Yang mengganggu metabolisme sel mikroba
2. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
3. Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba
4. Yang menghambat sintesis protein sel mikroba
5. Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.
OBAT – OBAT ANTIMIKROBA :

3. Antihistamin dan Alergi


Antihistamin atau Alergi adalah :
4. Sitostatiska
 Penanganan sediaan sitostatika yang aman perlu dilakukan secara disiplin dan hati-
hati untuk mencegah resiko yang tidak diinginkan, karena sebagian besar sediaan
sitostatika bersifat :
a. Karsinogenik = yang berarti dapat menyebabkan kanker
b. Mutagenik = yang berarti dapat menyebabkan mutasi gen
c. Teratogenik = yang berarti dapat membahayakan janin
 Sediaan yang biasa digunakan untuk obat – obat sitotoksik :
a. Cyclophospamide : bubuk steril putih dalam vial untuk dilarutkan
b. Methotrexate : cairan larutan isotonik kuning jernih untuk injeksi, atau bubuk
lyophilized kuning natrium methotrexate.
c. Cisplatin : putih kekuningan frez-kering, serbuk dilarutkan dengan air atau saline
d. Pemberian parenteral dapat diberikan melalui rute sebagai berikut :
 Dengan jarum suntik
 Dengan injeksi bolus lambat ke dalam kanula
 Dengan penambahan agen sitotoksik selama periode infus yang telah ditetapkan
 Penyiapan :
1. Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5
BENAR (benar pasien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian)
2. Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima (nama obat, jumlah, nomer
batch, tgl kadaluarsa), serta melengkapi form permintaan.
3. Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak
jelas/tidak lengkap.
4. Menghitung kesesuaian dosis.
5. Memilih jenis pelarut yang sesuai.
6. Menghitung volume pelarut yang digunakan.
7. Membuat label obat berdasarkan: nama pasien, nomer rekam medis, ruang
perawatan, dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan,
dan tanggal kadaluarsa campuran.
8. Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomer rekam
medis,ruang perawatan, jumlah paket.
9. Melengkapi dokumen pencampuran
10. Memasukkan alat kesehatan, label, dan obat-obatan yang akan dilakukan
pencampuran kedalam ruang steril melalui pass box.

 Pencampuran
Proses pencampuran sediaan sitostatika :
1. Memakai APD sesuai PROSEDUR TETAP
2. Mencuci tangan sesuai PROSEDUR TETAP
3. Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
4. Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai PROSEDUR TETAP
5. Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6. Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7. Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
8. Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9. Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja
BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi
sediaan sitostatika
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat yang
harus terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan
khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam
wadah untuk pengiriman.
15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi melalui
pass box.
16. Menanggalkan APD sesuai prosedur tetap
 Cara Pemberian sediaan sitostatika sama dengan cara pemberiaan obat suntik kecuali
intramuskular
 Penanganan tumpahan dan kecelakan kerja
A. Penanganan tumpahan
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan petugas tersebut
atau meminta pertolongan orang lain dengan menggunakan chemotherapy spill kit
yang terdiri dari:
1. Membersihkan tumpahan di luar BSC dalam ruang steril
a. Meminta pertolongan, jangan tinggalkan area sebelum diizinkan.
b. Beri tanda peringatan di sekitar area.
c. Petugas penolong menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
d. Angkat partikel kaca dan pecahan-pecahan dengan menggunakan alat
seperti sendok dan tempatkan dalam kantong buangan.
e. Serap tumpahan cair dengan kassa penyerap dan buang dalam kantong
tersebut.
f. Serap tumpahan serbuk dengan handuk basah dan buang dalam kantong
tersebut.
g. Cuci seluruh area dengan larutan detergent.
h. Bilas dengan aquadest.
i. Ulangi pencucian dan pembilasan sampai seluruh obat terangkat.
j. Tanggalkan glove luar dan tutup kaki, tempatkan dalam kantong pertama.
k. Tutup kantong dan tempatkan pada kantong kedua.
l. Tanggalkan pakaian pelindung lainnya dan sarung tangan dalam,
tempatkan dalam kantong kedua.
m. Ikat kantong secara aman dan masukan dalam tempat penampung khusus
untuk dimusnahkan dengan incenerator.
n. Cuci tangan.
2. Membersihkan tumpahan di dalam BSC
a. Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau handuk basah
untuk tumpahan serbuk.
b. Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang sarung tangan
baru.
c. Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus dengan alas
kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam wadah buangan.
d. Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan detergent, bilas
dengan aquadestilata menggunakan kassa. Buang kassa dalam wadah
pada buangan.
e. Ulangi pencucian 3 x.
f. Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
g. Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.
h. Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam wadah buangan
akhir untuk dimusnahkan dengan inscenerator.
i. Cuci tangan.
3. Penanganan kecelakaan kerja
a. Dekontaminasi akibat kontak dengan bagian tubuh:
1) Kontak dengan kulit:
a) Tanggalkan sarung tangan.
b) Bilas kulit dengan air hangat.
c) Cuci dengan sabun, bilas dengan air hangat.
d) Jika kulit tidak sobek, seka area dengan kassa yang dibasahi dengan
larutan Chlorin 5 % dan bilas dengan air hangat.
e) Jika kulit sobek pakai H2O2 3 %.
f) Catat jenis obatnya dan siapkan antidot khusus.
g) Tanggalkan seluruh pakaian alat pelindung diri (APD)
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan.
2) Kontak dengan mata
a) Minta pertolongan.
b) Tanggalkan sarung tangan.
c) Bilas mata dengan air mengalir dan rendam dengan air hangat
selama 5 menit.
d) Letakkan tangan di sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan
larutan NaCl 0,9%.
e) Aliri mata dengan larutan pencuci mata.
f) Tanggalkan seluruh pakaian pelindung.
g) Catat jenis obat yang tumpah.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
3) Tertusuk jarum
a) Jangan segera mengangkat jarum. Tarik kembali plunger untuk menghisap
obat yang mungkin terinjeksi.
b) Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
c) Jika perlu gunakan spuit baru dan jarum bersih untuk mengambil obat
dalam jaringan yang tertusuk.
d) Tanggalkan sarung tangan, bilas bagian yang tertusuk dengan air
hangat.
e) Cuci bersih dengan sabun, bilas dengan air hangat.
f) Tanggalkan semua APD.
g) Catat jenis obat dan perkirakan berapa banyak yang terinjeksi.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
j) Segera konsultasikan ke dokter.
4) Pengelolaan limbah sitostatika
Pengelolaan limbah dari sisa buangan pencampuran sediaan sitostatika
(seperti: bekas ampul,vial, spuit, needle,dll) harus dilakukan sedemikian rupa
hingga tidak menimbulkan bahaya pencemaran terhadap lingkungan.
Langkah – langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD).
b. Tempatkan limbah pada wadah buangan tertutup. Untuk bendabenda
tajam seperti spuit vial, ampul, tempatkan di dalam wadah yang tidak
tembus benda tajam, untuk limbah lain tempatkan dalam kantong
berwarna (standar internasional warna ungu) dan berlogo sitostatika
c. Beri label peringatan (Gambar 2) pada bagian luar wadah.
d. Bawa limbah ke tempat pembuangan menggunakan troli tertutup.
e. Musnahkan limbah dengan incenerator 1000ºC.
f. Cuci tangan.

OBAT – OBAT SITOSTATISKA :


5. Obat Sistem Saraf
Sistem syaraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh.
Sistem saraf pusat merupakan salah satu bagian dari sistem saraf pada manusia. Sistem
saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Fungsi sistem syaraf pusat :
1.Menerima atau menangkap rangsangan
2.Mengontrol gerakan-gerakan otot-otot kerangka
3.Pada otak sebagai pusat indera
4.Pada otak besar sebagai pusat daya rohaniah yang tinggi
5.Pada otak sebagai pengontrol fungsi pernapasan dan peredaran darah.

6. Obat Kardiovaskuler
Kardiaka adalah obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh darah baik arteri
maupun vena secara langsung dapat memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu
menjadi normal kembali.
Sistem kardiovaskular adalah organ sirkulasi darah yang terdiri dari jantung dan
komponen darah yang berfungsi memberikan dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi
ke seluruh jaringan tubuh yang diperlukan dalam metabolisme pada tubuh.
Kardiotonik : Adalah obat yang digunakan jika jantung gagal memompa darah
7. Obat Saluran Cerna
Saluran pencernaan adalah tabung pencernaan yang terdiri dari mulut, kerongkongan,
lambung, usus kecil, usus besar, rektum dan anus.
Obat saluran pencernaan atau obat yang bekerja pada sistem pencernaan terbagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu:
A. Obat pencernaan jenis antasida (maag) dan antiulserasi
a. Golongan Antasida:
1) Aluminium hidroksida (Al(OH)3)
Indikasi :
Ulkus peptikum, hiperasiditas gastrointestinal, gastritis, mengatasi gejala
dyspepsia (ulkus dan olkus), gastroesopageal, reflux disease,
hiperfostfatemia.
Mekanisme Kerja :
Kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap garam alumunium, hipofosfatemia, pendarahan saluran
cerna yang belum terdiagnosis appendicitis tidak cocok untuk bayi dan
neonates.
Dosis :
Dewasa :1-2 tablet dikunyah, 4 kali sehari dan sebelum tidur atau 5-10ml
suspensi 4kali sehari diantara waktu makan dan sebelum tidur.
Efek samping :
Konstipasi, mual, muntah, deplesi posfat, penggunaan dalam dosis besar
dapat menyebabkan penyumbatan usus hipofosfatemia, hipercalciuria,
penignkatan resiko osteomalasia. Demensia, anemia mikrositik pada
penderita gagal ginjal.
2) Magnesium hidroksida
Indikasi: :
Ulkus peptikum, hiperasiditas gastrointestinal, gastritis.
Mekanisme Kerja :
Kontra-indikasi:
Kerusakan ginjal berat
Dosis:
Dewasa: 5-10ml diulang menurut kebutuhan pasien.
Efek samping:
Diare, hipermagnesenia, sehingga mengurangi refleks tendon dan depresi
nafas, mual, muntah, kemerahan pada kulit, haus, hipotensi, mengantuk, lemah
otot, nami melemah, dan henti jantung (pada kelainan ginjal yang berat).
Contoh brand name : almacon, alucol dan magnesium trisilikat, aludonna,
alugel, antasida doen, atmacid, berlosid, bimalcus, biomag mps, bufantacid.
3) Magnesium trisiklat
Indikasi:
Ulkus peptikum, gastritis, hiperasiditas gastrointestinal
Mekanisme Kerja :
Kontra-indikasi:
Dosis:
Dewasa : 1-2, dimunum 3-4 kali sehari
Anak : 1/2 - 1tablet, diminum 3-4 kali sehari
Efek samping:
Diare, hipermagnesenia, sehingga mengurangi refleks tendon dan depresi
nafas, mual, muntah, kemerahan pada kulit, haus, hipotensi, mengantuk, lemah
otot, nami melemah, dan henti jantung (pada kelainan ginjal yang berat).
Contoh brand name: gastralex, gastromag, gastrinal, hufamag, konimag,
maagel, mixamag, sanmag dll.
4) Kalsium karbonat
Indikasi:
ulkus peptikum, gastritis, heartburn, hiperasiditas GI, menghilangkan
gangguan lambung yang disebabkan oleh hiperasiditas, tukak lambung, ulkus
duodenum, gastritis
Mekanisme Kerja :
Kontra-indikasi:
glukoma sudut tertutup obstruksi saluran kemih atau GI, ileus paralitik,
penyakit jantung berat, hipersensitif terhaddap salah satu bahan tablet,
hiperkalsemia, hiperkalsiuria berat,gagal ginjal berat.
Efeksamping:
pada dosis lazim tidak terjadi efek samping yang berarti. Dapat terjadi
konstipasi, kembung (flatulen) karena pelepasan karbondioksida(CO2), dosis
tinggi atau pemakain jangka waktu panjang menyebabkan hipersekresi asam
lambung dan acid rebound, Muntah dan nyeri abdomen(perut), hiperkalsemia
(pada gangguan ginjal atau setelah pemberian dosis tinggi).
Contoh brand name: maag gel , magard Fa, neosanmag
b. Antagonis Reseptor : Bekerja dengan menghambat sekresi asam lambung.
1) Ranitidin
Indikasi:
mengahambat sekresi asam lambungnya lebih kuat dari cimetidin
Mekanisme Kerja :
Efek samping: jarang terjadi pada: nyeri kepala, mual, muntah, reaksi-reaksi
kulit.
Dosis:
pengobatan sehari 2kali @150mg
Contoh brand name: aciblok, acran, anitid, khopintac, conranin, doranit,
fordin,getidin, graseric,hexer,hufadine, limaag, nofaxidin,nuvacobal, ranin,
ranitidine, ranoxin, ranivell, rantin, rattan, ratinal, titan, tricker, tyran,
ulceranin,wiacid, zeradin.
2) Famotidin
Indikasi: tukak usus duodenum
Mekanisme Kerja :
Efeksamping: nyeri kepala, mual, muntah, reaksi-reaksi kulit.
Dosis: pengobatan sehari 2kali @20mg
Contoh brand name : pramaag, pratifar, pompaton, rafico, nulcefam,
neosanmag, magard Fa, hufatidine, gasfamin, famos, famocid, gestofam,
denufam.
c. Penghambat Pompa Proton
1) Omeprazole
Indikasi:
tukak lambung
Mekanisme Kerja :
Kontra-indikasi:
hipersensitif terhadap omeprazol
Efeksamping:
dialami oleh lebih dari 1% yang memakai obat adalah sakit kepala, diare,
sakit perut, mual, pusing, masalah kebangkitan dan kurang tidur, meskipun
dalam uji klinis efek ini dengan omeprazol sebanding dengan yang ditemukan
dengan placebo.
Contoh brand name: omeprazole,carosec,dudencer,inhipump,lanacer,
lokev,losec, norsec, omed, omevell, opm, prilos, promezol, pumpitor.
2) Lansoprazol
Indikasi:
Pengobatan ulkus dan duodenum
Mekanisme Kerja :
Kontra-indikasi:
hipersensitif terhadap lansoprazol
Efeksamping:
mulut kering, sulit tidur, mengantuk, kabur penglihatan ruam.
Contoh brand name : lansoprazole, caprazol, digest, inhipraz,
inazol,lagas,lancid,lanvell, lanzogra,lapraz, laproton, lazol.
3) Esomeprazol
Indikasi:
pengobatana duodenum yang disebabkan oleh H.Pylori, mencegah dari ulkus
lambung kronis pada orang yang di NSAID terapi dan pengobatan ulkus
gastrointestinal berhubungan dengan penyakit chron
Mekanisme Kerja :
Kontraindikasi:
hipersensitif terhadap substansi aktif terhadap esomeprazol atau
benzimidasol atau komponen lain dari ini
Efeksamping:
sakit kepala, diare, mual, penurunan nafsu makan, konstipasi, mulut kering,
dan sakit perut.
Contoh brand name : Nexium
4) Pantoprazol
Indikasi:
patoprazol diogunakan untuk pengobatan jangka pendek dari erosi dan
ulserasi dari esophagus yang disebabkan oleh penyakit refluks
gastroesophageal
Mekanisme Kerja :
Kontraindikasi:
hipersensiti terhaadap pantoprazol
Efeksamping:
mual, muntah, gas, sakit perut, diare, sakit kepala
Contoh brand name : panoprazole, pantopump, panloc, pantocer, pantomex,
pandecta, ottozol, panvell, pepzol, pranza.
d. Anti kolenergik/antimuskarinik
Mekanisme kerjanya dengan menekan produksi getah lambung dan melawan
kejang-kejang serta mengurangi peristaltik.
Efek samping : mulut kering, midriasis, tachycardia.
Contoh obat : Pirenzepin, Fentonium, Ekstrak belladon
B. Obat pencernaan jenis antispasmodik
Anti spasmodika adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau melawan
kejang-kejang otot. Indikasi: untuk mengatasi kejang pada saluran cerna yang
mungkin disebabkan diare, gastritis, tukak peptik, dsb. Efek samping: menyebabkan
kantuk dan gangguan yang lain.
Contoh obat :
 Atrofin sulfat
 Alkaloida belladona
 Hiosin butil bromida
 Papaverin HCL
 Mebeverin HCL
 Propantelin bromida
 Pramiverin HCL
C. Obat diare (obat sakit perut )
Obat diare adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, kuman, virus, cacing atau keracunan makanan. Gejala diare
adalah BAB berulang kali disertai banyaknya cairan yang keluar kadang-kadang
dengan mulas dan berlendir/berdarah.
Indikasi: memperingan kerja lambung
Efek samping : bisa menyebabkan konmstipasi
Golongan Obat Diare :
a) Adsorben : kaolin, karbo adsorben, attapulgit (menyerap racun)
b) Anti motilitas : loperamid hidroklorida, kodein fosfat, morfin (menekan
peristaltik usus)
c) Adstringen: tannin/tannalbumin (menciutkan selaput usus)
d) Pelindung : mucilago (melindungi usus lambung yang luka)
D. Obat pencernaan jenis laksatif atau obat pencahar (obat sembelit) adalah obat-
obat yang mempercepat peristaltik usus sehingga mempermudah BAB.
1) Bysacodil
Indikasi: pengobatan sembelit, sebelit akut dan kronis, kostipasi menghilangkan
rsa nyeri pada saat buang air besar, pencahar sebelum dan setelah operasi.
Mekanisme Kerja :
Kontra indikasi: Ileus, radang usus akut, usus buntu, kondisi absorbs abdomen
akut, apendisitis, pendarahan rektal dan gastroentritis
Efek samping obat: Mual, muntah,keram usus, diare
Dosis: dewasa: 2-3 x sesuai kebutuhan
Konstipasi tablet: dewasa dan anak-anak diatas ≤ 10thn 1-2 x 2 tablet( 5-10
mg)
Contoh brandname: dulcolax, bicolax, custodial, laxana, prolaxan, stolax,
codilax, castodiol
E. Obat pencernaan kolagogum, kolelitolitik dan hepati protektor
a.kolagoga adalah obat yang digunakan untuk peluruh batu empedu.
1. Asam kenodeoksikolat
2. Asam ursodeoksikolat
3. Asamkenat
indikasi: untuk mengatasi penggumpalan batu
efek samping: sakit pada bagian perut, mual
b.protektor hati obat yang digunakan sebagai vitamin tambahan untuk
meringankan mengurangi, bahkan melindungi gangguan fungsi hati
obat protektor hati adalah:
a.Curcumarhizomadomestica
b.Curcumaxanthorrizae
c.Sylimarin
d.Mekonin
indikasi: untuk mengatasi, meringankan, mengurangi, bahkan melindungi
gangguan fungsi hati efek samping: menyebabkan kantuk

F. Obat pencernaan untuk hemoroid


Hemoroid adalah pembengkakan pembuluh vena pada jaringan di sekitar anus,
yang biasanya menonjol ke dalam lubang anus disebut dengan wasir internal,
sedangkan yang menonjol ke luar disebut dengan wasir eksternal.
1) Boraginol-S
BORRAGINOL-S adalah suatu sediaan berbentuk salep, untuk penyakit wasir.
Sediaan ini dapat digunakan pada peradangan, gatal-gatal, edema, rasa nyeri
dan gejala-gejala alergi serta pengobatan wasir.
Indikasi : Wasir bagian dalam dan luar, wasir yang disertai perdarahan,
anal prolapse, anal fistula, periproctitis, luka-luka terbuka pada dubur dan
perineum serta gatal-gatal pada dubur.
Mekanisme Kerja :
2) Haemocaine
INDIKASI : Hemoroid akut internal dan eksternal, firusa anal, proktitis.
Mekanisme Kerja :
KEMASAN : Tube 15 gram dengan aplikator
DOSIS : Gunakan 2-4 kali sehari dengan menggunakan aplikator.
3) Ultraproct-N
Indikasi : Hemoroid, prokitis, fisura anal superfisial, eksim anal,
pengobatan pra-paska operasi.
Mekanisme Kerja :
Kontra Indikasi : Ada proses TB atau sifilis pada area yang akan diobati.
Penyakit virus (vaksinia, cacar air).
Efek samping : Rasa panas terbakar, reaksi alergi
(jarang), iritasi kulit.
Dosis : Krim : oleskan sampai sehari 3x selama beberapa hari, suppositoria :
1x1 per hari, pada keluhan berat sehari 3x selama 3 hari, kurangi dosis sehari
1x, lama terapi maks 4 minggu.
4) Nuwasir
Ekstrak grapthophyllum 250mg. curcuma domestica rhizoma 25mg, centella herb
100 mg.
Mekanisme Kerja :
Indikasi : membantu meringkan wasir.
Dosis : Dewasa : sehari 3 x 1-2 kapsul.
8. Obat Saluran Nafas
9. Vitamin, Mineral, Enzim
10. Obat Sistem Endokrin
11. Penunjang / Pemeliharan Kesehatan dan Estetika