Anda di halaman 1dari 20

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Latar Belakang
Radiasi nuklir tidak dapat ”dirasakan” oleh panca indera manusia oleh
karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan
mengukur radiasi nuklir. Materi ini akan membahas prinsip dasar
pengukuran radiasi mulai dari mekanisme deteksi, jenis detektor, dan
penggunaannya.

Tujuan Instruksional
Setelah mengikuti materi ini peserta diharapkan mampu menguraikan
prinsip kerja detektor yang digunakan dalam sistem pengukur radiasi.
Secara khusus setiap peserta akan mampu untuk:
1. menguraikan fungsi detektor dan peralatan penunjang dalam sistem
pengukur radiasi;
2. menguraikan dua mekanisme pendeteksian radiasi yang sering
digunakan;
3. menguraikan prinsip kerja detektor isian gas, sintilasi dan
semikonduktor;
4. membedakan fungsi alat ukur radiasi;
5. menyebutkan contoh alat ukur radiasi yabg digunakan di bidang
proteksi radiasi;
6. menyebutkan contoh aplikasi sistem pencacah radiasi.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 1


Materi Pembahasan
Pendahuluan
Latar Belakang
Tujuan Instruksional
Materi Pembahasan
Besaran yang Diukur
Kuantitas Radiasi
Energi Radiasi
Dosis Radiasi
Mekanisme Deteksi
Proses Ionisasi
Proses Sintilasi
Cara Pengukuran
Cara Pulsa
Cara Arus
Jenis Detektor
Detektor Isian Gas
o Kamar Ionisasi
o Proporsional
o Geigger Mueller
Detektor Sintilasi
o Bahan Sintilator
o Sintilator Cair
o Tabung Photomultiplier
Detektor Semikonduktor
Keunggulan dan Kelemahan
Penggunaan Alat Ukur Radiasi
Alat Ukur Proteksi Radiasi
Sistem Pencacah dan Spektroskopi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 2


Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Besaran yang Diukur


Secara definisi, radiasi merupakan salah satu cara perambatan energi dari
suatu sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau
bahan penghantar tertentu. Salah satu bentuk energi yang dipancarkan secara
radiasi adalah energi nuklir. Radiasi ini memiliki dua sifat yang khas, yaitu
tidak dapat dirasakan secara langsung oleh panca indra manusia dan
beberapa jenis radiasi dapat menembus berbagai jenis bahan.
Sebagaimana sifatnya yang tidak dapat dirasakan sama sekali oleh panca
indera manusia, maka untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir
diperlukan suatu alat, yaitu pengukur radiasi yang merupakan suatu susunan
peralatan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi baik kuantitas, energi, atau
dosisnya.

Kuantitas radiasi
Kuantitas radiasi adalah jumlah radiasi per satuan waktu per satuan luas,
pada suatu titik pengukuran. Kuantitas radiasi ini berbanding lurus
dengan aktivitas sumber radiasi dan berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak (r) antara sumber dan sistem pengukur.

Gambar 1: hubungan antara aktivitas dan kuantitas


Gambar 1 menunjukkan bahwa jumlah radiasi yang mencapai titik
pengukuran (kuantitas radiasi) merupakan sebagian dari radiasi yang
dipancarkan oleh sumber.

Energi radiasi (E)


Energi radiasi merupakan ‘kekuatan’ dari setiap radiasi yang dipancarkan
oleh sumber radiasi. Bila sumber radiasinya berupa radionuklida maka
tingkat atau nilai energi radiasi yang dipancarkan tergantung pada jenis
radionuklidanya. Kalau sumber radiasinya berupa pesawat sinar-X, maka

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 3


energi radiasinya bergantung kepada tegangan anoda (kV). Tabel 1
menunjukkan contoh energi radiasi yang dipancarkan oleh beberapa
radionuklida.
Tabel 1: probabilitas dan energi beberapa jenis isotop
Jenis radionuklida Energi Probabilitas

Cd-109 88 keV 3,70%

Cs-137 662keV 85%

Co-60 1173 keV dan 1332 keV 99% dan 100%

Dosis radiasi
Dosis radiasi menggambarkan tingkat perubahan atau kerusakan yang
dapat ditimbulkan oleh radiasi. Nilai dosis ini sangat ditentukan oleh
kuantitas radiasi, jenis radiasi dan jenis bahan penyerap. Dalam proteksi
radiasi pengertian dosis adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam medan
radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi.

Penggunaan sistem pengukur radiasi dapat dibedakan menjadi dua


kelompok yaitu untuk kegiatan proteksi radiasi dan untuk kegiatan
aplikasi/penelitian radiasi nuklir. Alat ukur radiasi yang digunakan untuk
kegiatan proteksi radiasi harus dapat menunjukkan nilai dosis radiasi yang
mengenai alat tersebut. Sedangkan alat ukur yang digunakan di bidang
aplikasi radiasi dan penelitian biasanya ditekankan untuk dapat menampilkan
nilai kuantitas radiasi atau spektrum energi radiasi yang memasukinya.
Setiap alat ukur radiasi terdiri atas dua bagian utama yaitu detektor dan
peralatan penunjang. Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap
radiasi, yang jadi bila dikenai radiasi akan menghasilkan suatu tanggapan
(response) tertentu yang lebih mudah diamati sedangkan peralatan
penunjang, biasanya merupakan peralatan elektronik, berfungsi untuk
mengubah tanggapan detektor tersebut menjadi suatu informasi yang dapat
diamati oleh panca indera manusia atau dapat diolah lebih lanjut menjadi
informasi yang berarti. Gambar 2. menunjukkan bagian utama deteksi
radiasi.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 4


Gambar 2: konstruksi alat ukur radiasi

Mekanisme Pendeteksian Radiasi


Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang terjadi di
dalam medium karena adanya penyerapan energi radiasi oleh medium
tersebut. Sebenarnya terdapat banyak mekanisme atau interaksi yang terjadi
di dalam detektor tetapi yang sering dimanfaatkan untuk mendeteksi atau
mengukur radiasi adalah proses ionisasi dan proses sintilasi.

Proses ionisasi
Ionisasi adalah peristiwa terlepasnya elektron dari ikatannya di dalam
atom. Peristiwa ini dapat terjadi secara langsung oleh radiasi alpha
atau beta dan secara tidak langsung oleh radiasi sinar-X, gamma dan
neutron.

Gambar 3: peristiwa terlepasnya elektron ketika dikenai radiasi


(ionisasi langsung)

Jumlah pasangan ion, elektron yang bermuatan negatif dan sisa atomnya
yang bermuatan positif sebanding dengan jumlah energi yang terserap.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 5


∑Ε
N =
w
N adalah jumlah pasangan ion, E adalah energi radiasi yang terserap dan
w adalah daya ionisasi bahan penyerap, yaitu energi yang dibutuhkan
untuk menghasilkan sebuah proses ionisasi.
Jadi dalam proses ionisasi ini, energi radiasi diubah menjadi pelepasan
sejumlah elektron (energi listrik). Bila diberi medan listrik maka elektron
yang dihasilkan dalam peristiwa ionisasi tersebut akan bergerak menuju
ke kutub positif. Pergerakan elektron-elektron tersebut dapat
menginduksikan arus atau tegangan listrik yang dapat diukur oleh
peralatan penunjang misalnya Amperemeter ataupun Voltmeter. Semakin
banyak radiasi yang mengenai bahan penyerap atau semakin besar energi
radiasinya maka akan dihasilkan arus atau tegangan listrik yang semakin
besar pula.

Proses Sintilasi
Proses sintilasi adalah terpencarnya sinar tampak ketika terjadi transisi
elektron dari tingkat energi (orbit) yang lebih tinggi ke tingkat energi yang
lebih rendah di dalam bahan penyerap. Dalam proses ini, sebenarnya,
yang dipancarkan adalah radiasi sinar-X tetapi karena bahan penyerapnya
(detektor) dicampuri dengan unsur aktivator, yang berfungsi sebagai
penggeser panjang gelombang, maka radiasi yang dipancarkannya berupa
sinar tampak.
Proses sintilasi ini akan terjadi bila terdapat kekosongan elektron pada
orbit yang lebih dalam. Kekosongan elektron tersebut dapat disebabkan
karena lepasnya elektron dari ikatannya (proses ionisasi) atau loncatnya
elektron ke lintasan yang lebih tinggi bila dikenai radiasi (proses eksitasi).
Jadi dalam proses sintilasi ini, energi radiasi diubah menjadi pancaran
cahaya tampak. Semakin besar energi radiasi yang diserap maka semakin
banyak kekosongan elektron di orbit sebelah dalam sehingga semakin
banyak percikan cahayanya.

Gambar 4: proses sintilasi penyerapan energi radiasi (kiri) dan


pemancaran cahaya (kanan)

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 6


Cara Pengukuran Radiasi
Terdapat dua cara pengukuran radiasi yaitu cara pulsa (pulse mode) dan cara
arus (current mode).

Cara pulsa
Setiap radiasi yang mengenai alat ukur akan dikonversikan menjadi
sebuah pulsa listrik. Bila kuantitas radiasi yang mengenai alat ukur
semakin tinggi maka jumlah pulsa listrik yang dihasilkannya semakin
banyak. Sedang energi dari setiap radiasi yang masuk sebanding dengan
tinggi pulsa yang dihasilkan. Jadi semakin besar energinya semakin tinggi
pulsanya. Tinggi pulsa yang dihasilkan dapat dihitung dengan persamaan.
Informasi yang dihasilkan oleh alat ukur cara pulsa ini adalah jumlah
pulsa (cacahan) dalam selang waktu pengukuran tertentu dan tinggi pulsa
listrik. Jumlah pulsa sebanding dengan kuantitas radiasi yang memasuki
detektor, sedangkan tinggi pulsa sebanding dengan energi radiasi.
Kelemahan alat ukur cara pulsa di atas adalah adanya kemungkinan tidak
tercacahnya radiasi karena kecepatan konversi. Untuk dapat mengubah
sebuah radiasi menjadi sebuah pulsa listrik dibutuhkan waktu konversi
tertentu. Bila kuantitas radiasi yang akan diukur sedemikian banyaknya
sehingga selang waktu antara dua buah radiasi yang berurutan lebih cepat
daripada waktu konversi alat, maka radiasi yang terakhir tidak akan
tercacah.

Cara Arus
Pada cara arus, radiasi yang memasuki detektor tidak dikonversikan
menjadi pulsa listrik melainkan rata-rata akumulasi energi radiasi per
satuan waktunya yang akan dikonversikan menjadi arus listrik. Semakin
banyak kuantitas radiasi per satuan waktu yang memasuki detektor, akan
semakin besar arusnya. Demikian pula bila energi radiasi semakin besar,
arus yang dihasilkannya semakin besar.
Alat ukur radiasi cara arus dapat mengeliminasi kerugian cara pulsa
karena yang akan ditampilkan di sini bukan informasi setiap radiasi yang
memasuki detektor melainkan integrasi dari jumlah muatan yang
dihasilkan oleh radiasi tersebut dalam satu satuan waktu.
Proses konversi pada cara pengukuran arus ini tidak dilakukan secara
individual setiap radiasi melainkan secara akumulasi. Informasi yang
ditampilkan adalah intensitas radiasi yang memasuki detektor.
Kelemahan cara ini adalah ketidakmampuannya memberikan informasi
energi dari setiap radiasi, sedangkan keuntungannya proses
pengukurannya jauh lebih cepat daripada cara pulsa. Sistem pengukur
yang digunakan dalam kegiatan proteksi radiasi, seperti survaimeter dan

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 7


monitor radiasi biasanya menerapkan cara arus (current mode)
sedangkan dalam kegiatan aplikasi dan penelitian menerapkan cara pulsa
(pulse mode).

Jenis Detektor Radiasi


Detektor merupakan suatu bahan yang peka atau sensitif terhadap radiasi
yang bila dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme
yang telah dibahas sebelumnya. Perlu diingat bahwa setiap jenis radiasi
mempunyai cara berinteraksi yang berbeda-beda sehingga suatu bahan yang
sensitif terhadap suatu jenis radiasi belum tentu sensitif terhadap jenis radiasi
yang lain. Sebagai contoh, detektor radiasi gamma belum tentu dapat
mendeteksi radiasi neutron.
Sebenarnya terdapat banyak jenis detektor, tetapi di sini hanya akan dibahas
tiga jenis detektor yang biasa digunakan untuk mengukur radiasi yaitu,
detektor isian gas, detektor sintilasi, dan detektor semikonduktor.

Detektor Isian Gas


Detektor isian gas merupakan detektor yang paling sering digunakan
untuk mengukur radiasi. Detektor ini terdiri dari dua elektroda, positif
dan negatif, serta berisi gas di antara kedua elektrodanya. Elektroda
positif disebut sebagai anoda, yang dihubungkan ke kutub listrik positif,
sedangkan elektroda negatif disebut sebagai katoda, yang dihubungkan ke
kutub negatif. Kebanyakan detektor ini berbentuk silinder dengan sumbu
yang berfungsi sebagai anoda dan dinding silindernya sebagai katoda
sebagaimana gambar 1.

Gambar 5: konstruksi detektor isian gas


Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan
ion-ion positif dan ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan
dihasilkan tersebut sebanding dengan energi radiasi dan berbanding
terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas berkisar dari 25 eV

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 8


s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan
memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik.

Gambar 6: proses pembentukan ion positif dan negatif (ionisasi)


dalam gas.
Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju
elektroda yang sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan
pulsa atau arus listrik. Pergerakan ion tersebut di atas dapat berlangsung
bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan listrik. Bila medan
listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan
semakin besar sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain.

Gambar 7: karakteristik jumlah ion terhadap perubahan tegangan


kerja detektor
Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer disebut sebagai ion sekunder.
Bila medan listrik di antara dua elektroda semakin tinggi maka jumlah ion
yang dihasilkan oleh sebuah radiasi akan sangat banyak dan disebut
proses ‘avalanche’.
Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang bekerja pada daerah yang
berbeda yaitu detektor kamar ionisasi yang bekerja di daerah ionisasi,
detektor proporsional yang bekerja di daerah proporsional serta detektor
Geiger Mueller (GM) yang bekerja di daerah Geiger Mueller.

Detektor Kamar Ionisasi (ionization chamber)


Sebagaimana terlihat pada kurva karakteristik gas pada Gambar 3, jumlah
ion yang dihasilkan di daerah ini relatif sedikit sehingga tinggi pulsanya,
bila menerapkan pengukuran model pulsa, sangat rendah. Oleh karena

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 9


itu, biasanya, pengukuran yang menggunakan detektor ionisasi
menerapkan cara arus. Bila akan menggunakan detektor ini dengan cara
pulsa maka dibutuhkan penguat pulsa yang sangat baik. Keuntungan
detektor ini adalah dapat membedakan energi yang memasukinya dan
tegangan kerja yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi.

Detektor Proporsional
Dibandingkan dengan daerah ionisasi di atas, jumlah ion yang dihasilkan
di daerah proporsional ini lebih banyak sehingga tinggi pulsanya akan
lebih tinggi. Detektor ini lebih sering digunakan untuk pengukuran
dengan cara pulsa.
Terlihat pada kurva karakteristik (Gambar 3) bahwa jumlah ion yang
dihasilkan sebanding dengan energi radiasi, sehingga detektor ini dapat
membedakan energi radiasi. Akan tetapi, yang merupakan suatu kerugian,
jumlah ion atau tinggi pulsa yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh
tegangan kerja dan daya tegangan untuk detektor ini harus sangat stabil.

Detektor Geiger Mueller (GM)


Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat banyak, mencapai nilai
saturasinya, sehingga pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan
penguat pulsa lagi. Kerugian utama dari detektor ini ialah tidak dapat
membedakan energi radiasi yang memasukinya, karena berapapun
energinya jumlah ion yang dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya.
Detektor ini merupakan detektor yang paling sering digunakan, karena
dari segi elektonik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rangkaian
penguat. Sebagian besar peralatan ukur proteksi radiasi, yang harus
bersifat portabel, terbuat dari detektor Geiger Mueller.

Detektor Sintilasi
Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan
photomultiplier. Bahan sintilator merupakan suatu bahan padat, cair
maupun gas, yang akan menghasilkan percikan cahaya bila dikenai radiasi
pengion. Photomultiplier digunakan untuk mengubah percikan cahaya
yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik. Mekanisme
pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua
tahap yaitu :
proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan
cahaya di dalam bahan sintilator dan

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 10


proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam
tabung photomultiplier

Bahan Sintilator
Proses sintilasi pada bahan ini dapat dijelaskan dengan Gambar 4. Di
dalam kristal bahan sintilator terdapat pita-pita atau daerah yang
dinamakan sebagai pita valensi dan pita konduksi yang dipisahkan
dengan tingkat energi tertentu. Pada keadaan dasar, ground state, seluruh
elektron berada di pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Ketika
terdapat radiasi yang memasuki kristal, terdapat kemungkinan bahwa
energinya akan terserap oleh beberapa elektron di pita valensi, sehingga
dapat meloncat ke pita konduksi. Beberapa saat kemudian elektron-
elektron tersebut akan kembali ke pita valensi melalui pita energi bahan
aktivator sambil memancarkan percikan cahaya.

Gambar 8: proses terjadinya percikan cahaya di dalam sintilator


Jumlah percikan cahaya sebanding dengan energi radiasi diserap dan
dipengaruhi oleh jenis bahan sintilatornya. Semakin besar energinya
semakin banyak percikan cahayanya. Percikan-percikan cahaya ini
kemudian ‘ditangkap’ oleh photomultiplier.
Berikut ini adalah beberapa contoh bahan sintilator yang sering
digunakan sebagai detektor radiasi.
Kristal NaI(Tl)
Kristal ZnS(Ag)
Kristal LiI(Eu)
Sintilator Organik

Sintilator Cair (Liquid Scintillation)


Detektor ini sangat spesial dibandingkan dengan jenis detektor yang lain
karena berwujud cair. Sampel radioaktif yang akan diukur dilarutkan
dahulu ke dalam sintilator cair ini sehingga sampel dan detektor menjadi
satu kesatuan larutan yang homogen. Secara geometri pengukuran ini

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 11


dapat mencapai efisiensi 100 % karena semua radiasi yang dipancarkan
sumber akan “ditangkap” oleh detektor. Metode ini sangat diperlukan
untuk mengukur sampel yang memancarkan radiasi β berenergi rendah
seperti tritium dan C14.

Gambar 9: sampel dilarutkan ke dalam sintilator


Masalah yang harus diperhatikan pada metode ini adalah quenching yaitu
berkurangnya sifat transparan dari larutan (sintilator cair) karena
mendapat campuran sampel. Semakin pekat konsentrasi sampel maka
akan semakin buruk tingkat transparansinya sehingga percikan cahaya
yang dihasilkan tidak dapat mencapai photomultiplier.

Tabung Photomultiplier
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, setiap detektor sintilasi terdiri
atas dua bagian yaitu bahan sintilator dan tabung photomultiplier. Bila
bahan sintilator berfungsi untuk mengubah energi radiasi menjadi
percikan cahaya maka tabung photomultiplier ini berfungsi untuk
mengubah percikan cahaya tersebut menjadi berkas elektron, sehingga
dapat diolah lebih lanjut sebagai pulsa / arus listrik.
Tabung photomultiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya
dengan photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu
ujungnya dan terdapat beberapa dinode untuk menggandakan elektron
seperti terdapat pada gambar 5. Photokatoda yang ditempelkan pada
bahan sintilator, akan memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan
panjang gelombang yang sesuai. Elektron yang dihasilkannya akan
diarahkan, dengan perbedaan potensial, menuju dinode pertama. Dinode
tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila dikenai oleh
elektron.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 12


Gambar 10: konstruksi tabung photomultiplier
Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju
dinode kedua dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan
seterusnya sehingga elektron yang terkumpul pada dinode terakhir
berjumlah sangat banyak. Dengan sebuah kapasitor kumpulan elektron
tersebut akan diubah menjadi pulsa listrik.

Detektor Semikonduktor
Bahan semikonduktor, yang diketemukan relatif lebih baru daripada dua
jenis detektor di atas, terbuat dari unsur golongan IV pada tabel periodik
yaitu silikon atau germanium. Detektor ini mempunyai beberapa
keunggulan yaitu lebih effisien dibandingkan dengan detektor isian gas,
karena terbuat dari zat padat, serta mempunyai resolusi yang lebih baik
daripada detektor sintilasi.

Gambar 11: struktur pita energi elektron

Pada dasarnya, bahan isolator dan bahan semikonduktor tidak dapat


meneruskan arus listrik. Hal ini disebabkan semua elektronnya berada di
pita valensi sedangkan di pita konduksi kosong. Perbedaan tingkat energi
antara pita valensi dan pita konduksi di bahan isolator sangat besar
sehingga tidak memungkinkan elektron untuk berpindah ke pita
konduksi ( > 5 eV ) seperti terlihat pada Gambar 6. Sebaliknya,
perbedaan tersebut relatif kecil pada bahan semikonduktor ( < 3 eV )
sehingga memungkinkan elektron untuk meloncat ke pita konduksi bila
mendapat tambahan energi.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 13


Energi radiasi yang memasuki bahan semikonduktor akan diserap oleh
bahan sehingga beberapa elektronnya dapat berpindah dari pita valensi
ke pita konduksi. Bila di antara kedua ujung bahan semikonduktor
tersebut terdapat beda potensial maka akan terjadi aliran arus listrik. Jadi
pada detektor ini, energi radiasi diubah menjadi energi listrik.

Gambar 12: konstruksi Detektor Semikonduktor

Sambungan semikonduktor dibuat dengan menyambungkan


semikonduktor tipe N dengan tipe P (PN junction). Kutub positif dari
tegangan listrik eksternal dihubungkan ke tipe N sedangkan kutub
negatifnya ke tipe P seperti terlihat pada Gambar 7. Hal ini menyebabkan
pembawa muatan positif akan tertarik ke atas (kutub negatif) sedangkan
pembawa muatan negatif akan tertarik ke bawah (kutub positif), sehingga
terbentuk (depletion layer) lapisan kosong muatan pada sambungan PN.
Dengan adanya lapisan kosong muatan ini maka tidak akan terjadi arus
listrik. Bila ada radiasi pengion yang memasuki lapisan kosong muatan ini
maka akan terbentuk ion-ion baru, elektron dan hole, yang akan bergerak
ke kutub-kutub positif dan negatif. Tambahan elektron dan hole inilah
yang akan menyebabkan terbentuknya pulsa atau arus listrik.
Oleh karena daya atau energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan ion-
ion ini lebih rendah dibandingkan dengan proses ionisasi di gas, maka
jumlah ion yang dihasilkan oleh energi yang sama akan lebih banyak. Hal
inilah yang menyebabkan detektor semikonduktor sangat teliti dalam
membedakan energi radiasi yang mengenainya atau disebut mempunyai
resolusi tinggi. Sebagai gambaran, detektor sintilasi untuk radiasi gamma
biasanya mempunyai resolusi sebesar 50 keV, artinya, detektor ini dapat
membedakan energi dari dua buah radiasi yang memasukinya bila kedua
radiasi tersebut mempunyai perbedaan energi lebih besar daripada 50
keV. Sedang detektor semikonduktor untuk radiasi gamma biasanya
mempunyai resolusi 2 keV. Jadi terlihat bahwa detektor semikonduktor
jauh lebih teliti untuk membedakan energi radiasi.
Sebenarnya, kemampuan untuk membedakan energi tidak terlalu
diperlukan dalam pemakaian di lapangan, misalnya untuk melakukan
survai radiasi. Akan tetapi untuk keperluan lain, misalnya untuk

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 14


menentukan jenis radionuklida atau untuk menentukan jenis dan kadar
bahan, kemampuan ini mutlak diperlukan.
Kelemahan dari detektor semikonduktor adalah harganya lebih mahal,
pemakaiannya harus sangat hati-hati karena mudah rusak dan beberapa
jenis detektor semikonduktor harus didinginkan pada temperatur
Nitrogen cair sehingga memerlukan dewar yang berukuran cukup besar.

Keunggulan - Kelemahan Detektor


Dari pembahasan di atas terlihat bahwa setiap radiasi akan diubah menjadi
sebuah pulsa listrik dengan ketinggian yang sebanding dengan energi
radiasinya. Hal tersebut merupakan fenomena yang sangat ideal karena pada
kenyataannya tidaklah demikian. Terdapat beberapa karakteristik detektor
yang membedakan satu jenis detektor dengan lainnya yaitu efisiensi,
kecepatan dan resolusi.
Efisiensi detektor adalah suatu nilai yang menunjukkan perbandingan
antara jumlah pulsa listrik yang dihasilkan detektor terhadap jumlah radiasi
yang diterimanya. Nilai efisiensi detektor sangat ditentukan oleh bentuk
geometri dan densitas bahan detektor. Bentuk geometri sangat menentukan
jumlah radiasi yang dapat 'ditangkap' sehingga semakin luas permukaan
detektor, efisiensinya semakin tinggi. Sedangkan densitas bahan detektor
mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat berinteraksi sehingga
menghasilkan sinyal listrik. Bahan detektor yang mempunyai densitas lebih
rapat akan mempunyai efisiensi yang lebih tinggi karena semakin banyak
radiasi yang berinteraksi dengan bahan.
Kecepatan detektor menunjukkan selang waktu antara datangnya radiasi
dan terbentuknya pulsa listrik. Kecepatan detektor berinteraksi dengan
radiasi juga sangat mempengaruhi pengukuran karena bila respon detektor
tidak cukup cepat sedangkan intensitas radiasinya sangat tinggi maka akan
banyak radiasi yang tidak terukur meskipun sudah mengenai detektor.
Resolusi detektor adalah kemampuan detektor untuk membedakan energi
radiasi yang berdekatan. Suatu detektor diharapkan mempunyai resolusi yang
sangat kecil (high resolution) sehingga dapat membedakan energi radiasi
secara teliti. Resolusi detektor disebabkan oleh peristiwa statistik yang terjadi
dalam proses pengubahan energi radiasi, noise dari rangkaian elektronik,
serta ketidak-stabilan kondisi pengukuran.
Aspek lain yang juga menjadi pertimbangan adalah konstruksi detektor
karena semakin rumit konstruksi atau desainnya maka detektor tersebut akan
semakin mudah rusak dan biasanya juga semakin mahal.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 15


Tabel berikut menunjukkan karakteristik beberapa jenis detektor secara
umum berdasarkan beberapa pertimbangan di atas.
Tabel 2: spesifikasi keunggulan dan kelemahan detektor

Jenis Detektor
Spesifikasi
Isian Gas Sintilasi Semikonduktor
Efisiensi ☺
Kecepatan ☺
Resolusi ☺
Konstruksi ☺

Pemilihan detektor harus mempertimbangkan spesifikasi keunggulan dan


kelemahan sebagaimana tabel di atas. Sebagai contoh, detektor yang
digunakan pada alat ukur portabel (mudah dibawa) sebaiknya adalah
detektor isian gas, detektor yang digunakan pada alat ukur untuk radiasi alam
(intensitas sangat rendah) sebaiknya adalah detektor sintilasi, sedangkan
detektor pada sistem spektroskopi untuk menganalisis bahan sebaiknya
detektor semikonduktor.

Penggunaan Alat Ukur Radiasi


Berdasarkan kegunaannya, alat ukur radiasi dapat dibedakan menjadi dua
yaitu sebagai alat ukur proteksi radiasi dan sebagai sistem pencacah
(counting system).
Alat ukur proteksi radiasi digunakan untuk kegiatan keselamatan kerja
dengan radiasi, oleh karena itu nilai ukur yang ditampilkan biasanya dalam
satuan dosis radiasi seperti Rontgent, rem, atau Sievert. Alat ukur proteksi
radiasi dikelompokkan menjadi dosimeter perorangan, surveimeter, dan
monitor kontaminasi. Sedangkan sistem pencacah digunakan untuk
melakukan pengukuran intensitas radiasi dan energi radiasi secara akurat.
Sistem pencacah lebih banyak digunakan di fasilitas laboratorium.

Alat Ukur Proteksi Radiasi


Sebagai suatu ketentuan yang diatur dalam undang-undang bahwa setiap
pengguna zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya harus
memiliki alat ukur proteksi radiasi. Alat ukur proteksi radiasi dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu dosimeter perorangan, surveimeter, dan monitor
kontaminasi. Sebagaimana alat ukur radiasi lainnya, alat ukur radiasi juga
terdiri atas detektor dan peralatan penunjang.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 16


Dosimeter perorangan digunakan untuk “mencatat” dosis radiasi yang
telah mengenainya secara akumulasi dalam selang waktu tertentu,
misalnya selama satu bulan. Pada beberapa dosimeter perorangan seperti
film badge dan TLD, detektor dan peralatan penunjangnya tidak menjadi
satu kesatuan. Setiap pekerja radiasi diwajibkan mempunyai dan
menggunakan dosimeter perorangan yang diidentifikasi dengan baik.
Surveimeter digunakan untuk mengukur laju dosis (intensitas) radiasi
secara langsung. Surveimeter mutlak diperlukan dalam setiap pekerjaan
yang menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi pengion lainnya
agar setiap pekerja mengetahui atau dapat memperkirakan dosis radiasi
yang akan diterimanya setelah melaksanakan kegiatan tersebut.
Surveimeter harus bersifat portabel, mudah dibawa dalam kegiatan survei
radiasi di segala medan.

Gambar 13: beberapa contoh surveimeter

Monitor kontaminasi digunakan untuk mengukur tingkat kontaminasi zat


radioaktif, baik di udara, di tempat kerja, maupun yang melekat di tangan,
kaki atau badan pekerja. Peralatan ini mutlak diperlukan bagi fasilitas
yang menggunakan zat radioaktif terbuka, misalnya untuk keperluan
teknik perunut menggunakan zat radioaktif.
Sehubungan dengan fungsinya yang berkaitan langsung dengan
keselamatan terhadap radiasi maka setiap alat ukur proteksi radiasi harus
dikalibrasi oleh lembaga yang berwenang.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 17


Sistem Pencacah dan Spektroskopi
Berbeda dengan kelompok alat ukur sebelumnya sistem pencacah
digunakan untuk aplikasi yang memanfaatkan zat radioaktif atau sumber
radiasi pengion lainnya. Sebagai contoh aplikasi thickness gauging untuk
mengukur tebal lapisan, level gauging untuk menentukan batas permukaan
fluida, XRF untuk menentukan jenis dan kadar material, dan sebaginya.
Secara umum sistem pencacah dapat dikelompokkan menjadi sistem
pencacah integral, sistem pencacah diferensial, dan sistem spektroskopi.
Peralatan ini lebih banyak digunakan di laboratorium (bukan di lapangan)
sehingga itu tidak perlu bersifat portabel tetapi harus dapat menunjukkan
hasil pengukuran yang sangat akurat.
Kegunaan sistem pencacah integral dan sistem pencacah diferensial
sebenarnya hampir sama yaitu mengukur kuantitas (jumlah) radiasi yang
mengenai detektor. Perbedaannya, pada sistem pencacah integral tidak
membedakan energi radiasi sedangkan pada sistem pencacah diferensial
hanya mengukur kuantitas radiasi pada rentang energi tertentu saja.
Prinsip kerja sistem pencacah integral lebih sederhana karena tidak perlu
membedakan energi radiasi. Sistem pencacah integral yang paling
sederhana menggunakan detektor GM. Sedangkan prinsip kerja sistem
pencacah diferensial sedikit lebih rumit karena harus mampu mengukur
energi radiasi.
Salah satu contoh penggunaan sistem pencacah integral atau diferensial
adalah pada aplikasi pengukuran tebal kertas, sebagaimana gambar
berikut.
D a ta
K e rta s

Detektor

Sumber

Kolimator
Peralatan
Penunjang

Gambar 13: konstruksi pengukuran tebal kertas

Metode di atas dapat digunakan untuk pengukuran lapisan bahan yang


lain, misalnya plastik atau bahkan lapisan logam. Tentu saja untuk setiap
jenis bahan diperlukan pengaturan jenis sumber radiasi dan detektor yang
berbeda.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 18


Sistem spektroskopi mempunyai prinsip yang sangat berbeda dengan
dua sistem pencacah sebelumnya karena alat ini mengukur energi dari
setiap radiasi yang mengenai detektor. Hasil pengukuran alat ini berupa
spektrum distribusi energi radiasi sebagaimana contoh pada gambar
berikut.

Gambar 14: contoh spektrum distribusi energi radiasi


Terlihat dari contoh spektrum di atas bahwa terdapat beberapa tingkat
energi yang menghasilkan cacahan relatif lebih tinggi dari pada daerah
lain. Posisi atau tingkat energu tersebut disebut sebagai puncak energi
(energy peak).
Spektrum energi radiasi yang ditandai oleh puncak-puncak energinya
merupakan karakteristik dari setiap unsur atau zat radioaktif. Sehingga
jenis unsur atau isotop yang terkandung di dalam suatu bahan dapat
ditentukan bila spektrum energinya dapat diukur.
Salah satu contoh aplikasi yang harus menggunakan sistem spektroskopi
adalah penentuan jenis dan kadar unsur yang menerapkan metode XRF
(X ray fluresence) dan metode NAA (neutron activation analysis).

ooOoo

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 19


Daftar Pustaka
1. Kenneth S. Crane, Introductory Nuclear Physics, John Wiley & Sons,
Toronto, 1988.
2. G.F. Knoll, Radiation Detection and Measurement, John Wiley,
Toronto, 1989.
3. Tsoulfanidis, Detection and Measurement of Radiation, Taylor and
Francis, New York, 1995
4. K. Debertin and R.G. Helmer, Gamma and X-ray Spectrometry with
Semiconductor Detectors, North-Holland, Amsterdam, 1988.

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Halaman 20