Anda di halaman 1dari 24

Ginjal Kanan : liver, duodenum, dan ascending colon.

ANATOMI SISTEM GUS Ginjal kiri : Stomach, spleen, pancreas, jejenum, decending colon.

Organ superior dari urinary system (ginjal dan ureter) beserta


pembuluhnya terletak retroperitoneum.
Perinepheric fat mengelilingi ginjal. Ginjal, pembuluh, dan lemak yang
mengelilinginya dilingkupi oleh renal fascia. Di sekelililing fascia
terdapat paranephric fat. Semua struktur tersebut mempertahankan
ginjal pada tempatnya.

A. GINJAL
- Ginjal berfungsi mengeluarkan kelebihan air, garam, dan produk
buangan protein. Ginjal terletak retroperitoneum di bagian
abdomen posterior, setinggi vertebra T1-L3 (ginjal kanan lebih
rendah).
- Pada batas medial dari tiap ginjal terdapat renal hilum (tempat
masuknya pembuluh darah, syaraf, dan pelvis)
- Renal hilum adalah pintu masuk ke dalam ginjal yaitu renal sinus
yang dikelilingi renal pelvis, calices, pembuluh, dan syaraf.
- Tiap ginjal memiliki permukaan anterior-posterior, batas lateral-
medial, kutub inferior-superior.
- Struktur penting ginjal yaitu renal pelvis merupakan perpanjangan
ureter berbentuk corong, di ujungnya berhubungan dengan
calices (major-minor). Tiap calices berhubungan dengan renal
papilla yang merupakan renal pyramid
- Topografi Ginjal
a. Superior : diafragma
b. Inferior : Quadratus lumborum muscle.
c. Posterior : subcostal nerve and vessel, illiohypogastric nerve,
dan illioinguinal nerve.
d. Anterior :

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


1
ANATOMI INTERNAL GINJAL Glomerulus dikelilingi oleh kapsul epitel ganda yaitu kapsula
1. Renal medulla (bagian lebih dalam) bowman. Lapisan internal (visceral) melapisi kapiler
Terdiri atas renal pyramid, bagian puncaknya yaitu renal glomerulus. Lapisan eksternal (parietal) membentuk lapisan
papilla yang menghubungkan dengan calices luar. Diantara keduanya ada capsular space.
2. Renal cortex (Bagian lebih luar)
Memanjang dari kapsul renalis sampai dasar dari renal
pyramid dan juga ruang diantaranya (renal column) .Lobus
renalis terdiri atas renal pyramid dan setengah renal column
di dekatnya.

b. Renal Tubule
Tubulus ginjal terdiri atas tubulus proksimal, loop of henle
(thick-thin), distal convoluted tubule.
Terdapat 2 jenis nefron yaitu juxtamedullary (renal corpuscle di
korteks terdalam dan memiliki loop henle yang panjang) dan
cortical (renal corpuscle di bagian luar renal cortex dan memiliki
loop henle yang pendek)
VASKULARISASI GINJAL
NEFRON GINJAL
a. Arteri
Nefron merupakan unit fungsional terkecil dari ginjal.
Renal arteri muncul setinggi IV disc antara L1-L2.
Tiap nefron terdiri atas 2 bagian yaitu : Renal corpuscle dan Renal
b. Vena
tubule.
a. Renal Corpuscle Renal vein (kanan-kiri)-ascending lumbar vein-IVC
Dua komponen penting dari renal corpuscle adalah glomerulus
dan kapsula bowman.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


2
LIMFATIK
Pembuluh limfatik renalis akan berdrainase ke dalam lumbar lymph
node (kanan-kiri).
B. URETER
PERSYARAFAN
Tabung muskular yang membawa urin dari ginjal ke bladder.
Berasal dari renal plexus dan terdiri atas syaraf simpatis dan
Memanjang dari apex renal pelvis, melintasi pelvis brim, memanjang
parasimpatis. Pleksus ini disuplai oleh fiber syaraf dari abdominopelvic
di dinding lateral pelvis dan masuk ke urinary bladder.
splanchic nerve.
Ureter memiliki 3 konstriksi yaitu :
- Pada perbatasan ureter dan renal pelvis
- Saat ureter menyilangi brim (pelvic inlet)
- Saat memasuki urinary bladder.
Ureter pada pria terletak posterolateral ductus deferens sedangkan di
wanita menyilang di uterine artery, melintas pada aspek lateral vagina
dan masuk di sudut posterosuperior bladder.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


3
VASKULARISASI URETER INERVASI
a. Arteri
Berasal utamanya dari cabang renal arteri. Selain itu ada cabang
lain dari testicular/ovarian artery, abdominal aorta, dan common
iliac artery.

b. Vena
Vena ureter berdrainase ke renal dan gonadal vein.
C. Urinary Bladder
Adalah organ muskular (detrusor muscle) berongga yang berfungsi
LIMFATIK
sebagai penampungan urin sementara. Saat kosong bladder terletak di
Pembuluh limfatik dari ureter berdrainase ke lumbar lymph node dan lesser pelvis. Terletak sedikit superior dan posterior dari tulang pubis
common iliac lymph node. (dipisahkan oleh retropubis space)

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


4
Saat kosong bladder berbentuk tetrahedral (memiliki apex, fundus, Bladder bebas, hanya dilapisi oleh jaringan lemak extraperitoneum
body, dan neck). Memiliki permukaan superior, 2 inferolateral, dan kecuali pada bagian leher ditahan oleh puboprostatic (male)/
posterior) pubovesical (female).
Memiliki 2 sphincter yaitu internal dan eksternal. Dalam keadaan terisi volume bladder dapat membesar hingga greater
pelvis atau umbilicus.
Vaskularisasi, Limfatik , dan inervasi
 Arteri
Cabang dari internal iliac arteri. Superior vesical arteri
memvaskularisasi bagian anterosuperior sedangkan inferior
vesical arteri memvaskularisasi fundus dan leher bladder.
 Vena
Berdrainase ke vesical venous plexus. Berdrainase lewat inferior
vesical vein ke internal iliac vein
 Limfatik
Pembuluh limfatik dari aspek superolateral bladder berdrainase ke
external iliac lymph node sedangkan dari fundus dan neck ke
internal iliac lymph node.
 Inervasi
Simpatis : inferior thoracic dan upper lumbar spinal cord via
hypogastric plexus and nerve.
Parasimpatis : sacral spinal cord via pelvic splanchic nerve dan
inferior hypogastric plexus.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


5
Vaskularisasi, Limfatik , dan Inervasi
 Arteri
Cabang prostatic dari inferior vesical dan middle rectal arteri.
 Vena
Berdrainase ke prostatic venous plexus
 Limfatik
Berdrainase ke internal iliac lymph node atau external iliac
lymph node.
 Inervasi
Prostatic plexus (mixed symphatetic, parasymphatetic,
visceral afferent fiber)
E. Prostat
 Prostat adalah sebuah organ fibromuskular sebesar kemiri yang
berfungsi sebagai kelenjar aksesoris dan mengelilingi pars
prostatica urethra.
 Berukuran 4×3×2 cm
 Berat normal sekitar 20 gram
 Mengandung posterior urethra yang penjangnya 2,5 cm
D. Proximal Male Urethra  Memiliki capsula fibrosa yang padat dan diliputi oleh sarung
Merupakan tabung muskular (18-22 cm) yang mengalirkan urin prostat jaringan ikat sebagai bagian fascia pelvis visceralis.
dari internal urethral orifice dari urinary bladder ke external  Topografi:
urethral orifice. Urethra juga merupakan saluran untuk semen.
Uretra terbagi atas 4 bagian : - Alasnya berhubungan dengan cervix vesicae
- Puncaknya bersandar pada diaphragma urogenitale
- Preprosthatic :memanjang secara vertical dari leher bladder.
- Permukaan ventralnya terpisah dari symphysis pubica oleh
- Prostatic : melewati struktur prostat (urethral crest). Terdapat lemak retroperitoneal dalam spatium retropubicum.
pembukaan lain dari prostatic sinuse dan seminal colliculus. - Permukaan dorssl berbatas pada ampulla recti
- Intermediate: melewati perineal pouch, dikelilingi external - Permukaan laterokaudal berhubungan dengan musculus
urethral sphincter, menembus perineal membrane. levator ani
- Spongy : menembus corpus spongiosum

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


6
 Lobus Prostat
Klasifikasi Lowsley, prostat dibagi menjadi 5 lobus (lobus-lobus tidak
terpisah satu sama lain): anterior, posterior, kanan, kiri, dan medius
 Cairan prostat menyumbang sekitar 20% dari volume cairan
semen.
Vaskularisasi, Limfatik, dan Persyarafan
a. Vaskularisasi
- Arteri
Terutama berasal dari arteria vesicalis inferior dan arteria
rectalis media, cabang arteria iliaca interna.
- Vena
Vena-vena bergabung untuk membentuk plexus venosus
prostaticus yang kemudian berdrainase ke vena iliaca
interna.
b. Limfatik
Berdrainase ke nodus limfoid illiaca interna, nodus limfoid di daerah
sacrum, dan illiaca externa
c. Persarafan
 Serabut parasimpatis berasal dari nervus splanchic pelvic
(S2-S4).
 Serabut simpatis berasal dari plexus hypogastricus inferior.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


7
HISTOLOGI SISTEM GUS
A. GINJAL
Setiap ginjal memiliki batas medial, yaitu hilum dimana pembuluh
darah, limfatik, syaraf, dan renal pelvis keluar. Lapisan parietal kapsula bowman terdiri atas simple squamous
epithelium yang disokong oleh lapisan retikuler tipis. Pada urinary pole
Renal pelvis berasal dari ujung ureter dan akan membentuk 2-3 major epitel berubah menjadi simple cuboidal columnar (epitel yang menjadi
calices dan beberapa cabang kecil minor calices. karakteristik tubulus proksimal).
Ginjal dapat dibagi menjadi bagian outer korteks dan inner medulla Lapisan visceral dari kapsula bowman dilapisi oleh sel podosit, badan
(terdiri atas struktur pyramid yang memiliki proyeksi kecil yaitu selnya memiliki beberapa prosesus primer yang kemudian bercabang
medullary ray) menjadi beberapa prosesus sekunder (pedicel)
Setiap ginjal terdiri atas jutaan nefron, dimana tiap nefron terdiri atas Antara glomerulus dan pososit dibatasi membrane basalis yang terdiri
renal corpuscle dan sistem tubulus (proksimal, loop henle, dan tubulus atas lamina rara (filter makromolekul >10 nm) dan lamina densa (filter
distal). muatan negatif).
RENAL CORPUSCLE Selain sel endotel dan podosit terdapat juga sel mesangial pada
Terdiri atas rangkaian kapiler. Glomerulus dilapisi kapsul epitel ganda kapiler glomerulus. Sel kontraktil yang memiliki reseptor angiotensin II
yaitu kapsula bowman. Bagian internal (visceral) melapisi langsung penyusun juxtaglomerular apparatus.
kapiler sedangkan lapisan eksternalnya (parietal) membentuk suatu a. Proximal Tubule
batas luar renal corpuscle. Dilapisi epitel kuboid atau kolumnar rendah. Sitoplasma asidofilik
Diantara 2 lapisan tersebut terdapat urinary space, dimana tiap kaya mitokondria. Apex sel memiliki mikrovili yang membentuk
corpuscle memiliki 2 kutub yaitu vascular pole dan urinary pole. brush border.
b. Loop of Henle
Terdiri atas thick descending limb, thin descending limb , thin
ascending limb, dan thick ascending limb. Bagian yang tebal
strukturnya seperti tubulus distal. Bagian tipis dilapisi sel epitel
gepeng selapis.
c. Tubulus Distal

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


8
Dilapisi cuboidal epithelium. Tidak memiliki brush border, apical  Di bagian luar urinary bladder dilapisi membran adventitia,
cannaliculi, dan ukuran sel lebih kecil. kecuali pada bagian upper bladder yang dilapisi peritoneum
Tubulus distal berkontak dengan vascular pole renal corpuscle, serosa.
sel pada segmen ini berubah menjadi kolumnar yang disebut D. PROSTAT
macula densa.  Prostat adalah kumpulan 30-50 kelenjar tubuloalveolar
d. Collecting tubule and duct bercabang yang salurannya bermuara ke dalam uretra pars
Dilapisi cuboidal epithelium, prostatika.
e. Juxtaglomerular Apparatus  Menghasilkan cairan prostat dan disimpan di bagian dalam
Di dekat renal corpuscle, tunika media dari afferent arteriol untuk dikeluarkan selama ejakulasi.
memiliki sel otot polos yang termodifikasi yaitu juxtaglomerular  Dikelilingi oleh sebuah jaringan ikat fibroelastis dengan
cell. Cirinya adalah kaya granul sekretoris. Makula densa dari banyak otot polos di sekelilingnya.
tubulus distal yang berdekatan dengan afferent arteriol yang  Jaringan ikat ini masuk diantara kelenjar dan membaginya
memiliki JG cell, komleks ini disebut juxtaglomerular apparatus. menjadi lobus.
 Struktur kelenjar dikelilingi stroma fibromuskular
Zona-zona postat:
B. URETER - Zona sentralis volume kelenjarnya 25%
Mukosa ureter dilapisi transitional epithelium. Terdapat lapisan - Zona perifer volume kelenjarnya 70%  carcinoma prostat
lamina propia yang terdiri atas jaringan ikat longgar. Terdapat 2 - Zona trasnsisional volume kelenjarnya 5%  BPH
lapisan otot polos yaitu inner longitudinal dan outer circular.  Kelenjar dibatasi 2 lapisan sel ; lapisan basal low cuboidal
epithelium yang ditutupi oleh sel sekretori kolumnar.
C. URINARY BLADDER E. MALE URETHRA
 Lumen dari bladder dilapisi oleh epitel transisional. Pada  Berdasarkan histologinya, dibagi menjadi 3 bagian:
keadaan tidak terdistensi ketebalannya sekitar 3-5 sel, sel 1. pars prostatika
yang terletak di permukaan berbentuk kuboid rendah. Pada
keadaan teregang lapisan sel sekitar 2-3 sel, sel yang terletak 2. pars membranosa
di permukaan berbentuk squamous.
3. pars spongiosa
 Lapisan berikutnya adalah lamina propia yang terdiri dari
jaringan ikat longgar yang dikelilingi struktur otot polos yang 1. Urethra pars prostatika:
memanjang ke segala arah (kecuali pada neck of bladder bisa
dibedakan menjadi : internal longitudinal dan outer circular) - epitel transisional khas. Semakin distal dari daerah ini 
epitel bertingkat / epitel berlapis kolumnar dengan sedikit sel
goblet penghasil mukus

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


9
- kebanyakan sel nya berbentuk poligonal dengan mikrovili FISIOLOGI RENAL
pendek
Untuk memproduksi urin, nefron dan tubulus pengumpul melakukan 3
2. Urethra pars membranosa: proses dasar yaitu : Filtrasi Glomerulus, Reasorbsi tubular, dan
- Epitelnya tidak berubah sekresi tubular.
- Otot rangka yang mengelilingi urethra dalam diaghfragma 1. Glomerular Filtration
urogenital membentuk spingter uretra eksterna Proses masukknya cairan yang masuk capsular space. Fraksi
3. Urethra pars spongiosa: plasma darah yang menjadi filtrate glomerulus disebut filtration
fraction (normalnya : 0,16-0,20 / 16-20%)
- Dilapisi epitel berlapis kolumnar sampai fossa navikularis
Filtrat harridan pria 150 liter dan wanita 180 liter, lebih dari 99%
(bagian melebar urethra terminal yang dilapisi epitel berlapis
direasorbsi sehingga hanya 1-2 liter dieksresikan via urin.
gepeng seperti yang melapisi glans penis)
- Disepanjang urethra terdapat lekukan dangkal dalam a. Membran filtrasi
membran mukosa = lakuna Morgagni. Padanya bermuara - Glomerular endothelial cell (memiliki fenestra 0,07-0,1 um).
kelenjar Littre. Semua solute di darah dapat keluar kecuali sel darah dan platelet.
Terdapat mesangial sel diantara afferent-efferent yang mengatur
FISIOLOGI SISTEM GUS GFR.
- Basal lamina, suatu lapisan matriks aseluler diantara endotel dan
Fungsi Ginjal podosit (campuran kolagen dan proteoglikan).
- Pedicel , membrane diantara pedicel disebut filtration slit.
- Eksresi produk bekas metabolisme dan bahan kimia asing. Memungkinkan keluarnya molekul berukuran <0,006-0,007 (air,
- Regulasi keseimbangan elektrolit dan air. glukosa, vitamin, asam amino, protein kecil, urea, dan ion.
- Regulasi osmolalitas dari cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit. 2. Net Filtration Pressure
- Regulasi tekanan arterial Filtrasi glomerulus tergantung 3 tekanan utama :
- Regulasi keseimbangan asam dan basa. a. Glomerular blood hydrostatic pressure : merupakan tekanan di
- Sekresi, metabolisme, eksresi hormone. kapiler glomerulus (55 mmHg). Mendorong air dan solute dalam
- Gluconeogenesis. darah melewati membrane filtrasi.
Aliran darah ke ginjal normalnya 22% dari cardiac output, sekitar 1100 b. Capsular Hydrostatic Pressure
ml/min. Tekanan hidrostatik di dalam kapiler glomerulus sekitar 60 Tekanan hidrostatik yang berlawanan terhdapa GBPH (
mmHg (memungkinkan filtrasi cepat) dan di peritubuler lebih rendah, backpressure : 15 mmHg)
13 mmHg (memungkinkan reasorbsi). c. Blood Colloid Osmotic Pressure

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


10
Tekanan yang muncul akibat ada protein seperti albumin,
globulin, dan fibrinogen yang melawan arah filtrasi (30 mmHg)
Net filtration pressure (NFP)= GBPH – CHP – BCOP
NFP = 55 mmHg – 15 mmHg – 30 mmHg = 10 mmHg
3. Glomerular Filtration Rate
Adalah jumlah filtrate yang terbentuk dalam renal corpuscle tiap
menitnya . Normalnya GFR dewasa = 125 mL/min pada pria dan
105 mL/min pada wanita. GFR berperan penting dalam 4. Sekresi dan Reasorbsi Tubular
homeostasis cairan tubuh. 99% hasil filtrasi direasorbsi kembali di tubulus ginjal. Solute
Mekanisme pengaturan GFR : mengatur aliran dalam ke dalam seperti : glukosa, asam amino, urea, ion (kalium,sodium, chloride,
dan keluar glomerulus, mempengaruhi permukaan kapiler bicarbonate, dan HPO4) direasorbsi baik secara pasif atau aktif.
glomerulus untuk filtrasi Selain reasorbsi, pada lumen tubulus juga terjadi sekresi subtansi
I. Renal autoregulation GFR seperti hidrogen, kalium, ammonium,kreatinine, dan obat-obatan.
Ginjal mennjaga dan mengatur aliran darah renal agar a. REASORBSI TUBULUS
selalu konstan, kemampuan ini disebut Renal Dapat bersifat paracellular (lewat celah tight junction secara
autoregulation melalui mekanisme : pasif) dan transcellular (lewat membrane/ protein transport
- Mekanisme myogenic khusus)
Terjadi saat adanya stimulus regangan di dinding Mekanisme transport dalam proses reasorbsi dapat bersifat
otot polos di afferent arteriol. pasif atau aktif. Transport aktif dapat dibagi menjadi primer
- Tubuloglomerular feedback (hidrolisis ATP) atau sekunder (energy dari gradient
Macula densa mendeteksi kecepatan reasorbsi elektrokimia ion). Transporter pada transport aktif sekunder
Na,Cl dan air. Jadi ketika filtrasi yang tinggi bisa satu arah (simport) atau berlawanan (antiport)
menyebabkan kadar ion tersebut tinggi dalam dalam I. Reasorbsi-Sekresi Tubulus Proximal
tubulus distal (akibat tubulus proksimal dan loop R: Terjadi reasorbsi 65% air, sodium, dan kalium + 100%
henle tidak ada waktu untuk menyerap), ini akan
glukosa dan asam amino + 50% Cl dan urea + 80-90%
menyebabkan inhibisi pelepasan No (vasodilator)
bicarbonate + berbagai konsentrasi kalsium,magnesium,
dan HPO4.
S: berbagai konsentrasi hidrogen dan ammonium

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


11
T: sodium dan glukosa via : Na-Glucose symporter,
Sodium dan hidrogen via sodium hidrogen antiporter, Cl-
K,Ca,dan Mg berdifusi pasif mengikuti gradient
konsentrasi.

II. Reasorbsi-Sekresi Loop of Henle


R: Terjadi reasorbsi 15% air + 20-30% sodium dan kalium
+ 35% Cl + 10-20% bicarbonate + berbagai konsentrasi
kalsium dan magnesium
S: hidrogen
T: Bagian thin descending sangat permeable air-
impermeabel ion sedangkan thin-thick decending
sebaliknya (Na-H antiporter dan Na-2Cl-K simporter)

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


12
III. Reasorbsi-sekresi Tubulus distal
LATE DISTAL TUBULE
EARLY DISTAL TUBULE
R: sodium, kalium, dan bicarbonate
R: Terjadi reasorbsi 10-15% air + 5% sodium dan kalium + S: Kalium dan hidrogen
5% Cl + 10-20% bicarbonate + berbagai konsentrasi kalsium
dan magnesium T: Principal cell (reasorbsi Na dan sekresi kalium) dan
intercalated cell (reasorbsi kalium, HCO3- dan sekresi
S: Hidrogen)
T: Reasorbsi dan sekresi tubular diregulasi oleh mekanisme
hormonal yaitu
1) Sistem renin angiotensin : meningkatkan reasorbsi sodium,
air, dan Cl di PCT via stimulasi NA/H antiporter. Stimulasi

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


13
pelepasan aldosterone yang menyebabkan principle cell Countercurrent Multiplication
mereasorbsi lebih banyak Na dan Cl serta sekresi kalium.
2) Hormon ADH
Meningkatkan permeabilitas principle cell terhadap air
(aktivasi aquaporin).
3) Atrial Natriuretic peptide
Inhibisi reasorbsi sodium dan air PCT. Supresi sekresi ADH
dan aldosterone.
4) Paratiroid
Reasorbsi kalsium pada early distal convulated tubule .
5. Pembentukan Urin Pekat dan Encer

URIN ENCER
Pada keadan asupan cairan cukup/ berlebih maka akan
menyebabkan : osmolaritas antara cairan tubulus dan
intersisial kurang lebih sama (jadi tidak terjadi perubahan
berate) dan tidak ada aktivitas ADH yang meningkatkan
reasorbsi air di tubulus distal

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


14
Evaluasi Fungsi Ginjal
1) Urinalisis
Menilai volume, (normalnya 1-2 liter) karakteristik fisik,
kimia, dan mikroskopik. Urin normal tidak mengandung
protein dan hanya mengandung sedikit urea, kreatinin,
asam urat, urobilinogen, dan asam lemak, enzim, dan
hormon.

URIN PEKAT
Dipengaruhi sirkulasi ADH pada plasma, apabila ADH tinggi
karena keadaan cairan tubuh yang rendah maka akan terjadi
reasorbsi air tambahan di distal convulated tubule.

2) Tes darah
Blood urea nitrogen dan plasma creatine. Orang dengan
penyakit ginjal akan memiliki BUN / plasma creatine
yang meningkat / tinggi akibat GFR menurun.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


15
3) Renal Plasma Clearance Gabungan reaksi
Yaitu jumlah darah / subtansi yang dieksresikan ginjal
dalam satuan ml/menit.

Apabila terdapat peningkatan asam maka reaksi akan


berjalan kearah kanan, apabila terjadi penambahan basa
4) Menghitung Creatinine Clearance maka reaksi akan berjalan kearah kiri.
b. Sistem Buffer Phosphate
Cocroft-Gault Formula =
Berperan dalam buffer extrasel, renal tubul, dan cairan
([(140-age) x weight] / (72 x Serum Creatinine))*
intrasel.
*multiply by 0,85 if female

Keseimbangan Asam-Basa Saat adanya asam kuat contohnya HCL, maka hidrogen akan
ditangkap oleh HPO4= yang akan berubah menjadi H2PO4-
Keseimbangan asam basa sangat dipengaruhi oleh konsentrasi H+
Reaksi ini akan menurunkan pH
dalam tubuh. Dalam mempertahankan keseimbangan tersebut tubuh
memiliki 3 mekanisme utama yaitu :
1. Sistem Buffer Pada keadaan penambahan basa, contohnya NaOH, OH-
Adalah lini pertama pengaturan, jenisnya : akan dibuffer pleh H2PO4- untuk membentuk HPO4- + H2O,
a. Sistem bikarbonat Reaksi ini akan meningkatkan pH.
Sistem ini terdiri atas 2 komponennya yaitu c. Buffer Protein
asam lemah H2CO3 Berperan dalam buffer intrasel.
2. Sistem buffer Respirasi
Sistem lini kedua pengatur keseimbangan asam basa.
- Peningkatan pH melalui peningkatan ventilasi alveolar
(CO2 menurun)
- Penurunan pH (peningkatan H+) melalui penurunan
garam bicarbonate ventilasi alveolar (CO2 meningkat)

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


16
3. Sistem kontrol Renal
Melalui mekanisme eksresi basa (HCO3-) atau pun asam (H+).
Jika jumlah H+ dieksresikan lebih banyak dari HCO3- maka
akan terjadi penurunan asam dalam cairan tubuh dan begitu
pun sebaliknya.
KETIDAK SEIMBANGAN ASAM-BASA

Blood Pressure
Tekanan darah dipengaruhi oleh CO dan Resistensi Perifer
Blood pressure = Cardiac output x Peripheral resistence
 Cardiac output
- Adalah total blood flow dalam aliran sistemik
selama 1 menit. Cardiac output dipengaruhi :
CO = heart rate x Stroke volume
- Stroke volume dipengaruhi oleh : kontraktilitas,
Preload, dan After load

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


17
 Resistensi Perifer - 2 reflex yang penting yaitu carotid sinus reflex dan
Resistensi perifer dipengaruhi oleh : ukuran dari lumen aortic reflex
pembuluh darah, Panjang total pembuluh darah, dan - Saat BP turun, baroreseptor akan berkurang
viskositas darah regangannya sehingga impuls yang disampaikan ke
CV akan lambat. Efeknya adalah CV akan
KONTROL TEKANAN DARAH
menstimulasi jantung via nervus akselerator.
a. Peran cardiovascular Centre - Saat BP naik, impuls disampaikan lebih cepat. CV
CV center pada medulla oblongata membantu akan meningkatkan rangsang parasimpatis an
meregulasi heart rate dan stroke volume. CV juga menurunkan simpatis yang berefek pada
mengatur sistem neural, hormonal, dan local negative penurunan kekuatan kontraksi dan heart rate
feedback yang mempengaruhi tekanan darah dan aliran
darah ke organ tertentu.

 Chemoreceptor Reflex
b. Kontrol Neural Suatu sensoris kimia yang terletak di dekat
 Baroreceptor reflex baroreceptor carotid sinus dan arch of aorta dalam
- Baroreseptor merupakan reseptor sensoris tekanan suatu struktur yang disebut carotid bodies dan aortic
yang terletak di aorta, internal carotid arteries, dan bodies. Mendeteksi perubahan O2, H+, dan CO2.
arteri besar lain di leher dan thorax.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


18
- Keadaan hipoksia (O2 rendah), asidosis, dan  ANP
hypercapnia (CO2 tinggi) akan menstimulasi Menurunkan tekanan darah melalui mekanisme
chemoreceptor yang akan menyampaikan impuls vasodilatasi dan menstimulasi eksresi garam dan air
ke CV. CV kemudian akan meningkatkan rangsang pada urin (muncul akibat regangan yang berlebihan
simpatis ke arteriol dan vena sehingga pada atrium jantung).
menimbulkan vasokonstriksi. d. Autoregulasi
c. Kontrol Hormonal Jaringan beserta pembuluh (arteri) yang
 Renin Angiotensin memperdarahinya memiliki kemampuan untuk meregulasi
Saat BP turun , sel juxtraglomerular pada ginjal akan aliran darah secara lokal melalui mekanisme vasodilatasi
mensekresikan renin ke aliran darah yang kemudian dan vasokonstriksi.
akan dikonversi menjadi Angiotensin satu lalu dua
secara berturut-turut. Nyeri
Angiotensin 2 akan meningkatkan tekanan darah
melalui 2 cara yaitu : Nyeri yaitu suensasi yang tidak nyaman yang terlokalisasi pada suatu
- Vasokonstriksi, meningkatkan reistensi vascular bagian tubuh tertentu.
sistemik. Dibagi 2 jenis :
- Stimulasi aldosterone yang meningkatkan
1. Nyeri cepat → muncul dalam waktu sekitar 0,1 detik
reasorbsi NA dan air oleh ginjal. Retensi cairan ini
meningkatkan tekanan darah. 2. Nyeri lambat → muncul seelah 1 detik atau lebih
 Epinephrine dan Norephinephrine Receptor untuk nyeri dinamakan nociceptor yang merupakan free
Muncul sebagai respon terhadap stimulasi simpatis,
meningkatkan CO dengan meningkatkan heart rate dan nerve ending. Receptor nyeri ini bisa terangsang oleh 3 stimulus :
kekuatan kontraksi jantung. Selain itu juga 1. Mekanik (Cepat-lambat)
menyebabkan vasokonstriksi arteriol dan vena di kulit
2. Suhu (Cepat-lembat)
dan organ abdominal serta vasodilatasi arteriol di
jantung dan otot skeletal. 3. Kimiawi (lambat)
 ADH Jaras penjalaran rasa nyeri ke system saraf pusat menggunakan
Dihasilkan hypothalamus, meningkatkan retensi urin
2 jaras yang terpisah yaitu :
dan vasokonstriksi yang meningkatkan tekanan darah.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


19
 Serabut nyeri perifer- serabut cepat pendek tambahan di dalam cornu dorsalisnya sebelum
Serabut : tipe Aδ memasuki lamina V sampai VII, juga di cornu dorsalis.
Neurotransmitter : gutamat Jenis Nyeri
 Serabut nyeri perifer- serabut lambat Nyeri somatic
Serabut : tipe C dimana  Superficial somatic : nyeri yang muncul dari stimulasi
Neurotransmitter : substansi P reseptor pada kulit.
Sewaktu memasuki medulla spinalis, siyal rasa nyeri melewati 2 jaras  Deep somatic : stimulasi reseptor pada otot skelet,
ke otak, melalui : sendi, tendon dan fascia.
 Tractus neospinothalamicus ( Untuk rasa nyeri cepat ) Nyeri visceral
Serabutnya berkhir pada lamina I ( lamina marginalis ) pada Akibat stimulasi reseptor pada organ visceral. Jika stimulasinya
cornu dorsalis, dan disini merangsang neuron penghantar ke-2 diffuse ( melibatkan area yang luas). Stimulusnya meliputi ischemia
dari tractus neospinothalamicus.Neuron ini akan mengirimkan dari jaringan visceral, chemical damage pada permukaan visceral,
sinyal ke serabut panjang yang terletak di dekat sisi lain spasm dari otot polos,
medulla spinalis dalam comissura anterior dan selanjutnya naik
ke otak dalam columna anterolateralis. Colic pain (Akibat Mass Obstruksi)
 Tractus paleospinothalamicus ( untuk rasa nyeri lambat Merupaka sakit pada abdomen di sekitar umbilicus,dimana mengenai
– kronik ) pada organ yang berongga baik itu saluran cerna atau diluar itu,ini
Dalam jaras ini serabut – serabut perifer berakhir hampir terjadi pada spasm dan berhubungan dengan konstipasi,mual dan
seluruhnya di lamina II dan III cornu dorsalis, yang bersama – muntah.
sama disebut substansia geatinosa. Sebagian besar sinyal Etiologi : appendicitis,gallstone,inflammatory liver dan ovaries
kemudian melewati satu atau lebih neuron – neuron serabut
Referred pain

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


20
Merupakan nyeri pada bagian tubuh yang letaknya jauh dari jaringan EMBRIOLOGI PENIS
yang menyebabkan rasa nyeri ,biasanya nyeri ini mula-mula timbul di
dalam salah satu organ visceral dan dialihkan ke daerah - Pada minggu ketiga , sel mesenkim dari primitive streak
bermigrasi ke sekitar membrane kloaka untuk membentuk cloacal
NEISERRIA GONORRHOEA fold.
- Pada bagian kranial membrane kloaka lipatan tersebut bergabung
N gonorrhea merupakan bakteri aerob, tidak membentuk spora, membentuk genital tubercle. Pada arah kaudal lipatan terbagi
oksidase positif, gram negative kokus yang umumnya muncul menjadi urethral fold di bagian anterior dan anal fold di posterior.
berpasangan (diplokokus). Tahan asam, bersifat intra/ekstra sel
(leukosit), cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu diatas
39.
Membran bagian luar dari gonokokus terdiri atas fosfolipid, LPS, LOS,
dan OMP : porin (protein IA dan IB) dan protein penempel (Opa).
Memiliki pili untuk membantu penempelan.
Patogenesis
- Di bawah pengaruh androgen, genital tubercle memanjang
- Saat kontak dengan permukaan mukosa lewat kontak seksual, membentuk phallus. Dalam proses ini phallus menarik urethral
ligan berupa pili, protein opa, dan LOS akan menginisiasi fold kedepan sehingga terbentuk urethral groove (tapi tidak
penempelan bakteri terhadap reseptor (CD46 dan CD 66) di epitel sampai bagian paling distal). Di bagian dalam grovee tersebut
tanpa silia. dilapisi endoderm (urethral plate)
- Setelah penempelan berikutnya gonokokus akan menginvasi sel - Pada akhir bulan ketiga, 2 urethral fold berfusi membentuk penile
epitel. Mikrovili yang mengelilingi bakteri akan membantu invasi urethra. Bagian paling distal dari urethra terbentuk pada bulan
melalui proses parasite-directed endocytosis (difasilitasi OMP) keempat ketika sel ectodermal di ujung glans berinvaginasi dan
- Setelah berada di submukosa, bakteri harus bertahan terhadap membentuk external urethral meatus.
respon imun, Lewat pembentukan LOS dari asam sialat sel host/
ikatan antara antibody dan OMP bakteri . Pili dan protein Opa juga
membuat fagositosis tidak efektif.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


21
SISTEM REPRODUKSI PRIA Epididimis
Organ dari sistem reproduksi pria : Struktur berbentuk koma di aspek posterior dari testis. Terdiri atas
duktus epididymis yang berkelok. Memiliki bagian head (larger and
- Testis superior), body (narrow midportion), dan tail (smaller inferior).
- Sistem duktus : epididymis, ductus deferens, duktus ejakulasi, dan
urethra Pada bagian distalnya berhubungan dengan duktus defferent . Dilapisi
- Kelenjar aksesoris : seminal vesicle, prostate, bulbourethral, littre, oleh sel epitel kolumnar pseudostratified yang dilingkupi oleh otot
Tyson polos. Bagian permukaan epitel terdapat struktur mikrovili (stereocilia).
- Extrenal genitalia : scrotum dan penis
PENIS
TESTIS Merupakan organ kopulasi pada pria, tempat keluarnya urin dan
Merupakan sepasang kelenjar oval di dalam scrotum, besar 2x2,5 cm. semen.

Dilapisi oleh tunica vaginalis (membrane serosa). Di bagian dalam Memiliki bagian root, body, dan glans. Terdiri atas 3 badan erektil
tunica vaginalis terdapat jaringan ikat (tunica albuginea) yang silindris : 2 corpora cavernosa dan satu corpus spongiosum. Setiap
membentuk septa antar lobule testis. corpora cavernosa memiliki lapisan fibrosa yang mengelilinginya yaitu
tunica albuginea. Di bagian luar dilapisi deep fascia dan juga kulit.
Setiap lobul testis memiliki struktur berkelok yaitu tubulus seminiferous
dimana sperma diproduksi. Corpus spongiosum mengandung spongy urethra.

Tubulus seminiferous mengandung 2 tipe sel yaitu sel spermatogenik Corpora cavernosa menyatu satu dengan lainnya di bagian midline
dan sertoli. (dipisahkan septum penis) kecuali di bagian posterior dimana terpisah
membentuk crura of penis.
Bagian root dari penis memiliki bagian penempelan ke bagian pubis
yaitu : crura, bulb, ischiocavernosus, dan bulbospongiosus muscle.

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


22
Berdrainase ke superficial inguinal nodes.

FISIOLOGI MIKTURISI
Proses pengisian bladder dan berkemih meliputi proses kompleks dari
sinyal afferent dan efferent parasimpatis (pelvic nerve), symphatetic
nerve (Hypogastric nerve), dan somatic (pudendal nerves)
a. Jalur parasimpatis
Memediasi kontraksi otot detrusor dan relaksasi region outflow.
Neuron preganglion terletak si sacral parasympathetic nucleus di
level S2-S4. Via pelepasan asetilkolin pada reseptor nicotinic.
b. Jalur Simpatis
Berasal dari intermediolateral nuclei selevel T10-L2. Efek :
kontraksi bagian dasar bladder dan urethra.
c. Jalur Simpatis
Inervasi rhabdosphincter dan otot perineal oleh pundendal nerve.
Berasal dari motor neuron selevel S2-S4.
Refleks Mikturisi
Vaskularisasi, Limfatik, dan Inervasi
Stimulus : volume urin 200-400 mL yang dapat menimbulkan impuls
 Vaskularisasi sensoris (akibat regangan) yang menuju sacral spinal cord. Impuls
a. Arteri : cabang pundendal arteri yaitu dorsal arteri penis, deep kemudian diteuskan oleh syaraf parasimpatis ke otot detrusor yang
arteri penis, dan arteri bulb of penis menimbulkan kontraksi dan pembukaan sphincter internal. Apabila
b. Vena : Darah dari cavernosa Deep dorsal vein berdrainase ke eksternal urethral sphincter secara volunteer terbuka maka akan terjadi
prostatic venous pleksus. Darah dari kulit berdrainase ke mikturisi.
superficial external pundendal vein.
Pengaturan Mikturisi Oleh Otak
 Inervasi
Berasal dari S2-S4. Syaraf sensoris dan simpatis via dorsal nerve Dikontrol oleh pusat mikturisi di pons dan cerebral cortex. Dapat
of penis (cabang distal dari pundendal nerve). Parasimpatis oleh menginhibisi reflex mikturisi secara parsial melalui kontraksi external
Cavernous nerve yang menginervasi arteri jaringan erektil. bladder sphincter.
 Limfatik

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


23
- Streptolisin O : sitotoksin, melisiskan leukosit dan platelet. Masuk
E COLI secara langsung ke membrane sel membentuk pori yang
Bentuk bisa berupa cocobacilli sampai batang filamentous. Tidak kemudian menyebabkan lisis.
memiliki spora. Merupakan gram negative. - Pyrogenic exotoxin : menyebabkan demam, rash, T cell
proliferation, supresi B limfosit.
Memiliki Lipopolisakarida pada membrane luar yang disebut antigen - C5a peptidase yang dapat mendegradasi komplemen dan
O dan pili/ protein flagella yang disebut antigen H (E coli = O157:H7) streptokinase yang menyebabkan lisis fibrin.
Klasifikasi : Enteropathogenic E coli (EPEC) , Enterotoxigenic E coli
(ETEC), Enteroinvasive E Coli (EIEC), dan Enteroaggregative E Coli
(EAEC)
Toksin : alfa hemolisin menyebabkan bocornya komponen sitoplasma,
shiga toxin menyebabkan hambatan sintesis protein, Labile toxin
menyebabkan enterosit terus menerus mensekresikan CL dan
menghambat asorbsi NaCl, stable toxin menyebabkan sekresi cairan
dan elektrolit pada lumen GI.
Pada penyakit UTI, struktur pili dan alfa hemolysin dari UPEC
(uropathic E coli) memiliki peran penting dalam proses penempelan
dan penyebaran di sistem GUS (setelah adanya minor trauma, faktor
yang merusak integritas sel ex: kateter, dan obstruksi)

STREPTOCOCCUS ALFA HEMOLYTIC


Dinding sel terdiri atas matriks peptidoglikan, merupakan bakteri gram
positif. Di dalam matriks tersebut terdapat grup antigen karbohidrat
seperti protein M dan Lipoteichoic acid (LTA).
Molekul permukaan lain : fibronectin F.
Produk aktif ekstrasel :

Lucky Ananto Wibowo – SOOCA Draft Genitourinary System 2014


24