Anda di halaman 1dari 19

PENGKAJIAN

a. Pola aktifitas dan istirahat :


Fatique, Aktivitas berat timbul sesak (nafas pendek), Sulit tidur, Berkeringat pada
malam hari
b. Pola Nutrisi :
Anorexia, Mual, tidak enak diperut, BB menurun
c. Respirasi :
Batuk produktif (pada tahap lanjut), sesak nafas, Nyeri dada.
d. Riwayat Keluarga :
Biasanya keluarga penderita ada yang mempunyai kesulitan yang sama (penyakit
yang sama)
e. Riwayat lingkungan :
Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman padat, ventilasi rumah yang
kurang, jumlah anggauta keluarga yang banyak.
f. Aspek Psikososial :
 Merasa dikucilkan
 Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.
 Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.
 Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang
lama dan biaya yang bayak.
 Masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien.
 Tidak bersemangat, putus harapan.
g. Riwayat Penyakit sebelumnya :
 Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh sembuh.
 Pernah berobat, tetapi tidak sembuh.
 Pernah berobat tetapi tidak teratur (drop out).
Pengobatan:
1. Nama obat : INH
Dosis : 1 x 400 mg
Farmakokinetik:

 Diabsorbsi : dari saluran pencernaan, makanan mengurangi kecepatan dan tingkat


absorbsi
 Puncak : 1 - 2 jam
 Distribusi : Keseluruh jaringan tubuh dan cairan termasuk CNS, melewati plasenta
 Metabolisme : Tidak diaktifkan oleh acetylation di dalam hati
 Eliminasi : waktu paruh 1 - 4 jam, 75 - 96% diekresikan dalam urin dalam 24 jam,
diekskresikan dalam air susu
Efek samping : biasanya dihubungkan dengan dosis
CNS : parestesias, perifeal neuropaty, nyeri kepala, kelemahan, tinitus, pusing, vertigo,
ataxia, somnolen, insomnia, amnesia,euphoria, toxis psikosis, perubahan tingkah laku,
depresi, kerusakan memori, hyperpireksia, halusinasi, konvulsi, otot kejang, mimpi
yang berlebihan , menstruasi
Mata : Penglihatan kabur, terganggunya penglihatan, optik neuritis, atropi
GI : Mual , muntah , epigastrium distress, mulut kering, konstipasi
Hematologi : Agranulositosis, hemolitik atau anemia aplastik, trombositopenia,
eosinophilia, methemoglobinemia
Hepatotoksisitas: panas dingin, kulit yang melepuh (mosbiliform, macula papular,
purpura, urticaria) limpadenitis, vaskulitis
Metabolik endokrin : Penurunan absorbsi vitamin B12, defisiensi pridoksin (vitamin
B6), pellagra, gynecomastia, hyperglikemia, glikosuria, hyperkalemia,
hipophosphathemia, hipokalsemia, acetonia, asidosis metabolik, proteinemia
Lain-lain : dyspnea, retensi urine, demam yangdisebabkan obat-obat, rematik, lupus
erythromatosus syndrome, iritasi di tempat bekas injeksi.
Implikasi perawatan :
Pengelolaan :
 Obat oral INH lebih baik diberikan sebelum makan 1 - 2 jam sebelum makanan
diabsorbsi, jika terjadi iritasi GI, obat boleh diberikan bersama makanan
 Isoniazid dalam bentuk larutan disimpan dalam bentuk kristal dan disimpan dalam
temperatur yang rendah. Jika hal ini terjadi obat disimpan ditempat yang hangat atau
dalam temperatur ruangan.
 Nyeri lokal sementara setelah injeksi IM, massage daerah injeksi dengan cara
memutar daerah injeksi
 Obat disimpan harus ditutup rapat, temperatur 15 - 30 C kecuali diberikan secara
sebaliknya
Pengkajian /efek obat :
 Tes adanya kelemahan yang tepat, sebelum pemberian therapy untuk mendeteksi
kemungkinan bakteri yang resisten
 Efek therapetik biasanya menjadi jelas dalam 2 - 3 minggu pertama pemberian
therapi. Lebih dari 90% pasien yang diberikan therapi mempunyai sputum
yang berkurang setelah 6 bulan
 Pemeriksaan mata
 Monitor Tekanan darah selama pemberian obat
 Pasien seharusnya secara hati-hati dengan interview dan diperiksa dalam interval
bulanan untuk mendeteksi dini dari tanda dan gejala hepatotoksisitas
 Therapi INH yang kontinyu setelah onset dari disfungsi hepatik meningkatkan resiko
kerusakan hati yang lebih berat
 Isoniazid hepatitis (kadang-kadang fatal) biasanya berkembang selama 3 - 6 bulan
pertama, tetapi mungkin terjadi setiap waktu selama pemberian therapi, hal ini lebih
banyak frekwensinya pada pasien dengan umur 35 tahun atau lebih atau terutama yang
meminum alkohol setiap hari
 Cek berat badan 2 kali seminggu, di bawah kondisi standart
 Pasien DM seharusnya diabsorbsi untuk hilangnya kontrol diabetes antara glikosuria
yang nyata dan tes benedik positif; yang palsu segera dilaporkan
 Neuritis peripheral lebih banyak menimbulkan afek toksik seringkali didahului oleh
parestesikaki dan tangan. Pasien yang bebas kerentanan meliputi (termasuk) alkoholik
atau pasien denga penyakit liver, malnutrisi, diabetik, inaktivator lambat, wanita hamil
dan kekuatan.
Pendidikan kesehatan kepada keluarga dan pasien
 Memeperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung tyramine (keju,
ikan) yang menjadi penyebab dari palpitasi, peningktan tekanan darah.
 Instruksi pasien untuk melapor kepada medis bila ada tanda dan gejala dari
perkembangan hepatotoksik
 Memperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung histamin (ikan tuna)
yang bisa menjadi penyebab dari palpitasi memperbesar respon obat (nyeri kepala,
hipotensi,palpitasi,berkeringat, diare)
 Umumnya therapi INH diberikan 6 bulan - 2 tahun untuk pengobatan TBC yang
aktif, bila digunakan untuk terapi preventif, INH diberikan 12 bulan.
2. Nama obat : Ethambutol hydrochloride
Dosis: Dewasa 15 mg/kgBB (oral), untuk pengobatan ulang mulai dengan 25 mg
kg/BB/hari atau 60 hari, kemudian diturunkan sampai 15 mg/kgBB/hr
Anak: : 6 - 12 tahun: 10 - 15 mg/kgBB/hari
Farmakokinetik:
 Absorbsi : 70% - 80% diabsorbsi di saluran pencernaan
 Puncak 2 - 4 jam
 Distribusi: diodistribusi ke seluruh jaringan tubuh, konsentrasi tertinggi dalam
eritrosit, ginjal, paru-paru, saliva, melalui plasenta, didistribusi kedalam air susu.
 Metabolisme: dimetabolisme dalam hati
Eliminasi : waktu paruh 3 - 4 jam, 50% diekresikan dalam urin selama 24 jam, 20 - 22
% dikeluarkan dalam feses
Efek samping :
 CNS : Nyeri kepala , pening/pusing, kebingungan, halusinasi, parestesia, neuritis
peripheral, nyeri tulang sendi, kelemahan pada ekstremitas bagian bawah
 Mata : Toksisitas bola mata : neuritis retrabulbar optik, kemungkinan neuritis
anterior optik dengan penurunan dalam ketajaman penglihatan, menyempitnya luas
lapang pandang, kebutaan pada warna merah-hijau, skotoma pada bagian pusat dan
periferal, mata nyeri, fotophobia, perdarahan dan edema retina.
 Saluran pencernaan : anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen
 Hypersensitifitas : pruritis , dermatitis, anafilaktis
 Hyperuresemia, demam , malaise, leukopenia (jarang), sputum yang mengandung
darah, gangguan sementara dalam fungsi liver (kemungkinan hepatotoksisitas),
nefrotoksisitas, gout artritis akut, abnormalitas EKG, pengeluaran keringat

Implikasi Perawatan
 Ethambutol mungkin diberikan setelah makan jika iritasi saluran pencernaan
terjadi. Absorpsi tidak begitu dipengaruhi oleh makanan dalam perut.
 Lindungi ethambutol dari cahaya, kelembaman dan panas. Letakan dalam kemasan
yang tertutup rapat-rapat pada suhu 15 - 30 C kecuali kalau diberikan langsung .

Pengkajian dan efek obat


 Kultur dan tes kerentanan seharusnya seharusnya ditentukan sebelum dimulainya
tindakan/dan pengulangan secara periodik pada terapi secara keseluruhan .
 Toksisitas okuli secara umum kelihatan dalam 1 - 7 bulan setelah dimulainya tyerapi.
Gejala biasanya tidak tampak selama beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah
obat tidak dilanjutkan
 Uji opthalmoskopik meliputi tes luas lapang pandang , tes untuk ketajaman
penglihatan menggunakan kertas mata, dan tes untuk penggolongan diskriminasi warna
seharusnya ditentukan lebih dulu untuk memulai therapi dan dalam interval bulanan
selama therapi. Mata seharusnya dites secara terpisah sama baiknya secara bersama-
sama
 Monitor rasio input dan output pada pasien dengan kerusakan ginjal . Laporkan
adanya oliguria atau perubahan yang penting pada ratio atau dalam laporan
laboratorium tentang fungsi ginjal. Akumulasi sistemik dengan toksisitas dapat
dihasilkan dari ekresi obat-obat yang lambat
 Tes fungsi ginjal dan hepatik, hitung sel darah dan determinan serum asam urat
seharusnya ditentukan dalam interval yang teratur pada terapi secara menyeluruh.
a. Pendidikan pasien dan keluarga
 Secara umum, therapi dapat berlanjut selama 1-2 terapi lebih lama, meskipun
teraturnya pengobatan yang lebih pendek bisa digunakan dengan baik
 Jika pasien hamil, selama pengobatan sarankan untuk melaporkan pada dokter
dengan segera . Obat seharusnya tersendiri.
 Sarankan pasien untuk melaporkan dengan tepat pada dokter tentang kejadian
mengaburnya pandangan , perubahan persepsi warna, mengecilnya luas lapang
pandang , beberapa gejala penglihatan lainnya. Pasien seharusnya secara periodik
ditanyakan tentang matanya
 Jika dideteksi secara dini, defek visual secara umum tidak kelihatan lebih dari
beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada beberapa instansi (jarang), pemulihan
mungkin lambat. Selama setahun atau lebih atau defek mungkin irreversibel.
3. Nama obat : Rifampisin
 Dosis : 1 x 450 mg
Farmakokinetik:
 Absorbsi: Dengan mudah diabsorbsi di saluran pencernaan
 Puncak: 2 - 4 jam
 Distribusi : didistribusikan kemana-mana meliputi CSF, melalui plasenta,
didistribusikan ke dalam air susu
 Metabolisme: Dimetabolisme dalam liver untuk metabolisme aktif dan inaktif siklus
enterohepatik
Eliminasi : Waktu paruh 3 jam. Sampai 30 % diekresikan dalam urin 60% - 65% dalam
feses
Efek samping :
 CNS: fatigue, drowsiness, nyeri kepala, ataxia, kebingungan, pusing, ketidak
mampuan berkonsentrasi, mati rasa secara umum, nyeri pada ekstremitas, kelemahan
otot, gangguan penglihatan , konjungtivitis, hilangnya pendengaran frekuensi rendah,
secara sementara.
 GI : heart burn, distress epigastrium, mual, muntah, anoreksia, flaturens, kram,
diare, kolitis pseudomembran
Hematologi : Trombositopenia, leukopeni sementara, anemia, meliputi (termasuk)
anemia hemolitik
Hypersensitivitas : panas, pruritis, urtikaria, erupsi kulit, rasa sakit pada mulut dan
lidah, eosinophilia, hemolisis
Ginjal : hemoglobinuria, hematuria, Akut Renal Failure
Lain-lain: hemoptisis, light-chain proteinuria, sindrom “flulike”, gangguan menstruasi,
sindroma hepatorenal (dengan terapi intermitten). Peningkatan sementara pada tes
fungsi hati (bilirubin, BSP, alkaline fosfatase,ALT,AST), pankreatitis
Overdosis: Gejala GI, meningkatnya lethargi, pembesaran liver dan pengerasan,
jaundice, berkeringat, saliva, air mata, feces

Implikasi Perawatan
 Kapsul bisa dibuka diisi dan diminum/diteguk dengan air atau dicampur dengan
makanan
 Suspensi oral dapat disiapkan dari kapsul untuk digunakan pada pasien pediatri
 Berikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Puncak dari tingkat
serum diperlambat dan mungkin agak rendah ketika diberikan dengan makanan
 Pengawetan seharusnya dijaga dalam kapsul yang dikemas dalam botol , dapat
menjadi tidak stabil dalam keadaan lembab
Pengkajian dan efek obat
 Tes serologi dan kerentanan seharusnya ditentukan paling utama selama dan dalam
keadaan / waktu kultur positif
 Disarankan tes fungsi hepatik secara periodik . Pasien dengan penyakit hepar harus
dimonitor secara tertutup (closely)
 Jika pasien juga mendapat anti koagulan , waktu protrombin seharusnya ditentukan
secara harian atau seringkali untuk membuat dan menjaga aktifitas antikoagulan
Pendidikan kepada pasien dan keluarga
 Informasikan kepada pasien bahwa obat bisa memberi warna pada urin merah -
oranye, feces, sputum, keringat dan air mata. Terutama yang menggunakan kontak
lensa atau kaca berwarna lainnya yang permanen
 Pasien dengan kontrasepsi oral, seharusnya mempertimbangkan alternatif metode-
metode kontrasepsi. Hal-hal yang sama menggunakan Rimfapisin dan kontrasepsi oral
menurunkan keefektifan dari kontrasepsi dan untuk gangguan menstruasi (spotting,
perdarahan)
 Perhatikan pasien agar menjaga obat dari jangkauan anak-anak
4. Nama obat : Pyrazinamide
Dosis : 2 x 500 mg
Farmakokinetik :
 Absorbsi : Langsung diabsorpsi dari saluran pencernaan
 Puncak : 2 jam
 Distribusi : Melewati barier darah otak
 Metabolisme : di metabolisme di hati
 Eliminasi : waktu paruh 9 - 10 jam, diekresikan secara perlahan-lahan di dalam urin
Efek samping :
Astralgia, aktif gout, kesulitan dalam kencing, nyeri kepala, fotosensitif, urtikaria, skin
rash (jarang), anemia hemolitik, splenomegali, limphadenopathy, hemoptisis, peptik
ulser, uric asid dalam serum, hepatotoksik, tes fungsi ginjal yang abnormal, penurunan
plasma protrombin.

Implikasi perawatan
 Obat seharusnya tidak dilanjutkan jika ada reaksi hepar (jaundice,pruritis, sklera
ikterik, yellow skin) atau hyperursemia dan akut gout
 Tempatkan dalam tempat tertutup (suhu 15 - 13 C)
Efek obat
 Pasien harus diobservasi dan mendapat petunjuk dari supervisi medis
 Pasien harus diperiksa secara teratur , dan kemungkinan adanya tanda toksik:
pembesaran hepar, jaundice, kerusakan integritas vaskuler (echymosis, ptekie,
perdarahan abnormal)
 Reaksi hepar lebih sering terjadi pada pasien yang diberikan dosis tinggi
 Tes fungsi liver (AST, ALT, serum bilirubin) harus diperiksa 2-4 minggu selama
terapi
Pendidikan kesehatan kepada pasien dalam keluarga
 Laporkan adanya kesulitan dalam pengosongan
 Pasien seharusnya berkeinginan untuk intake cairan 2000 ml/hari jika
memungkinkan
 Pasien dengan diabetes melitus seharusnya terbuka untuk memonitor dan meminta
saran terhadap kemungkinan kehilangan kontrol glikemia
5. Nama obat : Aldactone
Dosis : 2 x 100 mg
Farmakokinetik :
 Absorbsi : 73% disaluran pencernaan, onset : perlahan-lahan.
 Puncak : 2-3 hari , max. efeknya 2 minggu.
 Durasi : 2-3 hari atau lebih.
 Distribusi : melalui placenta, didistribusikan melalui air susu.
 Metabolisme : di hati dan di ginjal.
 Eliminasi : Waktu paruh : 1,3 - 2,4 Jam parent kompound, 18 - 32 jam
dimetabolisme, 40 - 57% di ekskresikan didalam urin , 35 - 40% di dalam empedu.
Efek samping :
 Letargi, Fatique(penurunan BB yang cepat), nyeri kepala dan ataksia.
 Endokrin : genekomastik, ketidakmampuan untuk mempertahankan ereksi , efek
endogenik (ketidakteraturan mens, hersutisme, suara dalam) , berubahnya para tyroid,
menurunnya glukosetoleransi .
 GI : Kram abdominal, nausea, muntah, anoreksia, diare.
 Kulit : Makulopapular, erythematosus rash, urtikaria.
 Lain-lain: Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (hiperkalemia, hiponatremia),
peningkatan BUN, asidosis, agranulasitosis, SLE, hipertensi(post sympatectomi) ,
hiperurecemia, Gout.

Implikasi perawatan :
Pengelolaan :
 Berikan dengan makanan untuk mempertinggi absorbsi makanan.
 Haluskan tablet sebelum diberikan dengan cairan yang dipilih oleh pasien.
 Obat disimpan dalam tempat tertutup, dalam kemasan tahan cahaya, dalam bentuk
suspensi lebih tahan dalam waktu I bulan dibawah refrigeration.

Pengkajian dan efek otot :


 Cek tekanan darah sebelum diberikan terapi.
 Serum elektrolit harus dimonitor, terutama selama permulaan terapi dan siapkan
bila ada tanda-tanda ketidak seimbangan elektrolit.
 Monitor intake dan output setiap hari dan cek adanya edema, laporkan kekurangan
respon diuretik atau perkembangan odem.
 Laporkan bila ada efek perubahan mental, letargi, stupor pada pasien dengan
penyakit hati.
 Reaksi yang merugikan, terjadi reversibel yang umum dengan tidak dilanjutkan obat.
Ginekomastik yang dihubungkan dengan dosis dan durasi terapi. Ini semua dilakukan
walaupun obat telah dihentikan.

Pendidikan pasien dan keluarga :


 Informasikan pada pasien dan keluarga efek obat deuretik yang maksimal mungkin
tidak terjadi sampai 3 hari pemberian terapi. Dan deuretik kontinue untuk 2-3 hari
setelah obat dihentikan.
 Intruksikan pasien untuk melaporkan tanda dari hiponatremi, yang lebih sering
terjadi pada pasien dengan serosis berat.
 Umumnya pasien harus menghindarkan intake yang belebihan dari makanan yang
tinggi potasium dan garam.
DIAGNOSA

1. Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif


2. Pola Nafas tidak efektif
3. Gangguan Pertukaran gas
4. Kurang Pengetahuan
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

INTERVENSI

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Intervensi


criteria Hasil
1 Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif NOC : NIC :
 Respiratory status : Airway suction
Definisi : Ketidakmampuan untuk Ventilation  Pastikan kebutuhan
membersihkan sekresi atau obstruksi Respiratory status : oral / tracheal
dari saluran pernafasan untuk Airway patency suctioning
mempertahankan kebersihan jalan  Aspiration Control  Auskultasi suara
nafas. nafas sebelum dan
Kriteria Hasil : sesudah suctioning.
Batasan Karakteristik :  Mendemonstrasikan  Informasikan pada
- Dispneu, Penurunan suara nafas batuk efektif dan klien dan keluarga
- Orthopneu suara nafas yang tentang suctioning
- Cyanosis bersih, tidak ada  Minta klien nafas
- Kelainan suara nafas (rales, sianosis dan dalam sebelum
wheezing) dyspneu (mampu suction dilakukan.
- Kesulitan berbicara mengeluarkan  Berikan O2 dengan
- Batuk, tidak efekotif atau tidak sputum, mampu menggunakan nasal
ada bernafas dengan untuk memfasilitasi
- Mata melebar mudah, tidak ada suksion nasotrakeal
- Produksi sputum pursed lips)  Gunakan alat yang
- Gelisah  Menunjukkan jalan steril sitiap
- Perubahan frekuensi dan irama nafas yang paten melakukan
nafas (klien tidak merasa tindakan
tercekik, irama  Anjurkan pasien
Faktor-faktor yang berhubungan: nafas, frekuensi untuk istirahat dan
- Lingkungan : merokok, pernafasan dalam napas dalam
menghirup asap rokok, perokok rentang normal, setelah kateter
pasif-POK, infeksi tidak ada suara dikeluarkan dari
- Fisiologis : disfungsi nafas abnormal) nasotrakeal
 Mampu  Monitor status
neuromuskular, hiperplasia dinding
bronkus, alergi jalan nafas, asma. mengidentifikasikan oksigen pasien
- Obstruksi jalan nafas : spasme dan mencegah  Ajarkan keluarga
factor yang dapat bagaimana cara
jalan nafas, sekresi tertahan,
banyaknya mukus, adanya jalan nafas menghambat jalan melakukan suksion
buatan, sekresi bronkus, adanya nafas  Hentikan suksion
eksudat di alveolus, adanya benda dan berikan oksigen
asing di jalan nafas. apabila pasien
menunjukkan
bradikardi,
peningkatan
saturasi O2, dll.

Airway
Management
 Buka jalan
nafas, guanakan
teknik chin lift atau
jaw thrust bila perlu
 Posisikan pasien
untuk
memaksimalkan
ventilasi
 Identifikasi
pasien perlunya
pemasangan alat
jalan nafas buatan
 Pasang mayo
bila perlu
 Lakukan
fisioterapi dada jika
perlu
 Keluarkan
sekret dengan batuk
atau suction
 Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
 Lakukan suction
pada mayo
 Berikan
bronkodilator bila
perlu
 Berikan
pelembab udara
Kassa basah NaCl
Lembab
 Atur intake
untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor
respirasi dan status
O2

2 Pola Nafas tidak efektif NOC : NIC :


 Respiratory status : Airway
Definisi : Pertukaran udara inspirasi Ventilation Management
dan/atau ekspirasi tidak adekuat  Respiratory status : Buka jalan nafas,
Airway patency guanakan teknik chin
Batasan karakteristik :  Vital sign Status lift atau jaw thrust
- Penurunan tekanan Kriteria Hasil : bila perlu
inspirasi/ekspirasi  Mendemonstrasikan  Posisikan pasien
- Penurunan pertukaran udara per batuk efektif dan untuk
menit memaksimalkan
suara nafas yang
- Menggunakan otot pernafasan ventilasi
bersih, tidak ada
 Identifikasi pasien
tambahan sianosis dan
perlunya pemasangan
- Nasal flaring dyspneu (mampu alat jalan nafas
- Dyspnea mengeluarkan buatan
- Orthopnea sputum, mampu  Pasang mayo bila
- Perubahan penyimpangan dada bernafas dengan perlu
- Nafas pendek mudah, tidak ada  Lakukan fisioterapi
- Assumption of 3-point position pursed lips) dada jika perlu
- Pernafasan pursed-lip  Menunjukkan jalan  Keluarkan sekret
- Tahap ekspirasi berlangsung sangat nafas yang paten dengan batuk atau
lama (klien tidak merasa suction
- Peningkatan diameter anterior- tercekik, 
irama Auskultasi suara
posterior nafas, frekuensi nafas, catat adanya
- Pernafasan rata-rata/minimal pernafasan dalam suara tambahan
 Bayi : < 25 atau > 60 rentang 
normal, Lakukan suction
 Usia 1-4 : < 20 atau > 30 tidak ada suara pada mayo
 Usia 5-14 : < 14 atau > 25 nafas abnormal)  Berikan
 Usia > 14 : < 11 atau > 24  Tanda Tanda vital bronkodilator bila
dalam rentang perlu
- Kedalaman pernafasan
normal 
(tekanan Berikan pelembab
 Dewasa volume tidalnya 500 ml saat
darah, nadi, udara Kassa basah
istirahat NaCl Lembab
 Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg pernafasan)
 Atur intake untuk
- Timing rasio cairan
- Penurunan kapasitas vital mengoptimalkan
keseimbangan.
Faktor yang berhubungan :  Monitor respirasi
- Hiperventilasi dan status O2
- Deformitas tulang
- Kelainan bentuk dinding dada Terapi Oksigen
- Penurunan energi/kelelahan  Bersihkan mulut,
- Perusakan/pelemahan muskulo- hidung dan secret
skeletal trakea
- Obesitas  Pertahankan jalan
- Posisi tubuh nafas yang paten
- Kelelahan otot pernafasan  Atur peralatan
- Hipoventilasi sindrom oksigenasi
- Nyeri  Monitor aliran
- Kecemasan oksigen
 Pertahankan posisi
- Disfungsi Neuromuskuler
pasien
- Kerusakan persepsi/kognitif
 Onservasi adanya
- Perlukaan pada jaringan syaraf tanda tanda
tulang belakang hipoventilasi
- Imaturitas Neurologis  Monitor adanya
kecemasan pasien
terhadap oksigenasi

Vital sign
Monitoring
 Monitor TD, nadi,
suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
 Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk,
atau berdiri
 Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari
nadi
 Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola
pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
 Monitor sianosis
perifer
 Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign
3 Gangguan Pertukaran gas NOC : NIC :
 Respiratory Status : Airway
Definisi : Kelebihan atau kekurangan Gas exchange Management
dalam oksigenasi dan atau  Respiratory Status : Buka jalan nafas,
pengeluaran karbondioksida di dalam ventilation guanakan teknik chin
membran kapiler alveoli  Vital Sign Status lift atau jaw thrust
Kriteria Hasil : bila perlu
Batasan karakteristik :  Mendemonstrasikan  Posisikan pasien
 Gangguan penglihatan peningkatan untuk
 Penurunan CO2 memaksimalkan
ventilasi dan
 Takikardi ventilasi
oksigenasi yang
 Hiperkapnia  Identifikasi pasien
adekuat perlunya pemasangan
 Keletihan  Memelihara alat jalan nafas
 somnolen kebersihan paru buatan
 Iritabilitas paru dan bebas dari  Pasang mayo bila
 Hypoxia tanda tanda distress perlu
 kebingungan pernafasan  Lakukan fisioterapi
 Dyspnoe  Mendemonstrasikan dada jika perlu
 nasal faring batuk efektif dan  Keluarkan sekret
 AGD Normal suara nafas yang dengan batuk atau
 sianosis bersih, tidak ada suction
 warna kulit abnormal (pucat, sianosis 
dan Auskultasi suara
kehitaman) dyspneu (mampu nafas, catat adanya
 Hipoksemia mengeluarkan suara tambahan
 hiperkarbia sputum, mampu  Lakukan suction
 sakit kepala ketika bangun bernafas dengan pada mayo
frekuensi dan kedalaman nafas mudah, tidak ada  Berika
abnormal pursed lips) bronkodilator bial
 Tanda tanda vital perlu
Faktor faktor yang berhubungan : dalam 
rentang Barikan pelembab
 ketidakseimbangan perfusi normal udara
ventilasi  Atur intake untuk
 perubahan membran kapiler- cairan
alveolar mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi
dan status O2

Respiratory
Monitoring
 Monitor rata –
rata, kedalaman,
irama dan usaha
respirasi
 Catat pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan, retraksi
otot supraclavicular
dan intercostal
 Monitor suara
nafas, seperti
dengkur
 Monitor pola nafas
: bradipena,
takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes, biot
 Catat lokasi trakea
 Monitor kelelahan
otot diagfragma
(gerakan paradoksis)
 Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi dan
suara tambahan
 Tentukan
kebutuhan suction
dengan
mengauskultasi
crakles dan ronkhi
pada jalan napas
utama
 auskultasi suara
paru setelah tindakan
untuk mengetahui
hasilnya

4 Kurang Pengetahuan NOC : NIC :


 Kowlwdge : disease Teaching : disease
Definisi : process Process
Tidak adanya atau kurangnya  Kowledge : health 1. Berikan
informasi kognitif sehubungan Behavior penilaian tentang
dengan topic spesifik. tingkat
Kriteria Hasil : pengetahuan pasien
Batasan karakteristik :  Pasien dan keluarga tentang proses
memverbalisasikan adanya masalah, menyatakan penyakit yang
ketidakakuratan mengikuti instruksi, pemahaman spesifik
perilaku tidak sesuai. tentang penyakit, 2. Jelaskan
kondisi, prognosis patofisiologi dari
dan program penyakit dan
Faktor yang berhubungan : pengobatan bagaimana hal ini
keterbatasan kognitif, interpretasi  Pasien dan keluarga berhubungan
terhadap informasi yang salah, mampu dengan anatomi
kurangnya keinginan untuk mencari melaksanakan dan fisiologi,
informasi, tidak mengetahui sumber- prosedur yang dengan cara yang
sumber informasi. dijelaskan secara tepat.
benar 3. Gambarkan
 Pasien dan keluarga tanda dan gejala
mampu yang biasa muncul
menjelaskan pada penyakit,
kembali apa yang dengan cara yang
dijelaskan tepat
perawat/tim 4. Gambarkan
kesehatan lainnya proses penyakit,
dengan cara yang
tepat
5. Identifikasi
kemungkinan
penyebab, dengna
cara yang tepat
6. Sediakan
informasi pada
pasien tentang
kondisi, dengan
cara yang tepat
7. Hindari harapan
yang kosong
8. Sediakan bagi
keluarga informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara
yang tepat
9. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan
penyakit
10. Diskusikan
pilihan terapi atau
penanganan
11. Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan, dengan
cara yang tepat
13. Rujuk pasien
pada grup atau
agensi di komunitas
lokal, dengan cara
yang tepat
14. Instruksikan
pasien mengenai
tanda dan gejala
untuk melaporkan
pada pemberi
perawatan
kesehatan, dengan
cara yang tepat

5 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :


kurang dari kebutuhan tubuh  Nutritional Status : Nutrition
food and Fluid Management
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup Intake  Kaji adanya alergi
untuk keperluan metabolisme tubuh. makanan
Kriteria Hasil :  Kolaborasi dengan
Batasan karakteristik :  Adanya peningkatan ahli gizi untuk
- Berat badan 20 % atau lebih di berat badan sesuai menentukan jumlah
bawah ideal dengan tujuan kalori dan nutrisi
- Dilaporkan adanya intake makanan Berat badan ideal yang dibutuhkan
yang kurang dari RDA (Recomended sesuai dengan tinggi pasien.
Daily Allowance) badan  Anjurkan pasien
- Membran mukosa dan konjungtiva  Mampu untuk
pucat mengidentifikasi meningkatkan
- Kelemahan otot yang digunakan kebutuhan nutrisi intake Fe
untuk menelan/mengunyah  Tidak ada tanda  Anjurkan pasien
- Luka, inflamasi pada rongga mulut tanda malnutrisi untuk
- Mudah merasa kenyang, sesaat  Tidak terjadi meningkatkan
setelah mengunyah makanan penurunan berat protein dan vitamin
- Dilaporkan atau fakta adanya badan yang berarti C
kekurangan makanan  Berikan substansi
- Dilaporkan adanya perubahan gula
sensasi rasa  Yakinkan diet yang
- Perasaan ketidakmampuan untuk dimakan
mengunyah makanan mengandung tinggi
- Miskonsepsi serat untuk
- Kehilangan BB dengan makanan mencegah
cukup konstipasi
- Keengganan untuk makan  Berikan makanan
- Kram pada abdomen yang terpilih (
- Tonus otot jelek sudah
- Nyeri abdominal dengan atau tanpa dikonsultasikan
patologi dengan ahli gizi)
- Kurang berminat terhadap  Ajarkan pasien
makanan bagaimana
- Pembuluh darah kapiler mulai membuat catatan
rapuh makanan harian.
- Diare dan atau steatorrhea  Monitor jumlah
- Kehilangan rambut yang cukup nutrisi dan
banyak (rontok) kandungan kalori
- Suara usus hiperaktif  Berikan informasi
- Kurangnya informasi, misinformasi tentang kebutuhan
nutrisi
Faktor-faktor yang berhubungan :  Kaji kemampuan
Ketidakmampuan pemasukan atau pasien untuk
mencerna makanan atau mendapatkan
mengabsorpsi zat-zat gizi nutrisi yang
berhubungan dengan faktor biologis, dibutuhkan
psikologis atau ekonomi.
Nutrition
Monitoring
 BB pasien dalam
batas normal
 Monitor adanya
penurunan berat
badan
 Monitor tipe dan
jumlah aktivitas
yang biasa
dilakukan
 Monitor interaksi
anak atau orangtua
selama makan
 Monitor lingkungan
selama makan
 Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan tidak
selama jam makan
 Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan
mudah patah
 Monitor mual dan
muntah
 Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan
kadar Ht
 Monitor makanan
kesukaan
 Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori dan
intake nuntrisi
 Catat adanya edema,
hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
oral.
 Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet
Tugas : Metodologi Keperawatan

ASKEP TB PARU (TBC)

OLEH

KELOMPOK

 ROBIN ASMARA
 MUH.RAMADHAN

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH


KABUPATEN MUNA
2016