Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

“Analgetik Antipiretik”
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi

Dosen Pembimbing :
Dra. Nurlailah, Apt., M.Si

OLEH :
KELOMPOK 8
Rizka Zalecha Rahim P07131215117
Rizki Amelia P07131215118
Rosalina P07131215119
Sekar Oktaviana Prabaningrum P07131215120
Siska Yusfarini P07131215121

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


Politeknik Kesehatan Banjarmasin
Program Diploma IV
Jurusan Gizi
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman. Untuk ke depannya agar sekiranya dapat diperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah
ini.

Banjarbaru, April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... .i

DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2

1.3 Tujuan ........................................................................................................................... 2

BAB II ISI

2.1 Pengertian Analgetik, Antipiretik dan Analgetik Antipiretik ....................................... 3

2.2 Cara Kerja Analgetik dan Antipiretik ........................................................................... 9

2.3 Bahaya Penggunaan Analgetik Antipiretik ................................................................... 9

2.4 Efek Samping dari Analgetik Antipiretik ..................................................................... 11

2.5 Saran Penggunaan Analgetik Antipiretik ...................................................................... 11

2.6 Contoh Obat Analgetik Antipiretik ............................................................................... 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 19

3.2 Saran .............................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Obat merupakan bahan kimia yang memungkinkan terjadinya interaksi
bila tercampur dengan bahan kimia lain baik yang berupa makanan, minuman
ataupun obat-obatan. Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat
pemakaian obat dengan bahan-bahan lain tersebut termasuk obat tradisional
dansenyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika
duaatau lebih obat sekaligus dalam satu periode (polifarmasi)
digunakanbersama-sama. Interaksi obat berarti saling pengaruh antarobat
sehingga terjadi perubahan efek. Di dalam tubuh obat mengalami berbagai
macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-
proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi),
dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan
secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga
dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan
obat.
Obat antipiretik dan analgesik merupakan obat yang sudah di kenal luas
seperti obat asetaminofen. Bayak dijual sebagai kemasan tunggal maupun
kemasan kombinasi dengan bahan obat lain. Obat ini tergolong sebagai obat
bebas sehingga mudah ditemukan di apotik toko obat maupun warung pinggr
jalan. Karena mudah didapatkan resiko untuk terjadi penyalahgunaan obat ini
semakin besar. Di Amerika Serikat di laporkan lebih dari 100.000 kasus per
tahun yang menghubungi pusat informasi keracunan, 56.000 kasus datang ke
unit gawat darurat, 26.000 kasus memerlukan perawatan intensif di rumah
sakit.
Pada umumnya (sekitar 90%) analgesik mempunyai efek antipiretik.
Bagi para pengguna mungkin memerlukan bantuan dalam mengkonsumsi obat
yang sesuai dengan dosisi-dosis obat. Penggunaan Obat Analgetik Narkotik
atau Obat Analgesik ini mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit
tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek

1
menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik atau Analgesik ini tidak
mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian analgetik, antipiretik dan analgetik antipiretik?
2. Bagaimana cara kerja analgetik antipiretik?
3. Bagaimana bahaya penggunaan analgetik antipiretik?
4. Bagaimana efek samping dari analgetik antipiretik?
5. Bagaimana saran penggunaan analgetik antipiretik?
6. Apa saja contoh dari analgetik antipiretik?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengertian analgetik,
antipiretik dan analgetik antipiretik.
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami cara kerja analgetik
antipiretik.
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bahaya penggunaan
analgetik antipiretik.
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami efek samping dari analgetik
antipiretik.
5. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami saran penggunaan analgetik
antipiretik.
6. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami contoh dari analgetik
antipiretik.

2
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Analgetik, Antipiretik dan Analgetik Antipiretik.

2.1.1 Pengertian Analgetik


Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk
mengurangi atau menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Obat ini digunakan untuk
membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering
mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah
satu komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik
atau pereda nyeri.
Analgetik dibagi menjadi dua, yaitu analgetik narkotik dan
analgetik non narkotik.

1. Analgetik Narkotik
Analgetik narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa
nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker. Nyeri pada kanker
umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat, yaitu :
obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol,
asetosal, obat perifer bersama kodein atau tramadol, obat sentral
(Opioid) peroral atau rectal, obat Opioid parenteral. Guna
memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-
analgetikum, seperti psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin
atau prednisone).
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali
dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat.
Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan
menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat
mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta
ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-

3
gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Semua analgetik
narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, teteapi potensi.
Onzer, dan efek samping yang paling sering adalah mual, muntah,
konstipasi, dan mengantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan
hipotansi serta depresi pernafasan.
Morfin dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling
banyak dipakai untuk nyeri walaupun menimbulkan mual dan
muntah. Obat ini di Indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan
masih merupakan standar yang digunakan sebagai pembanding
bagi analgetik narkotika lainnya. Selain menghilangkan nyeri,
morfin dapat menimbulkan euphoria dan ganguan mental.
Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang samapi sekarang
masih digunakan di Indonesia :
 Morfin HCL,
 Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
 Fentanil HCL,
 Petinidin, dan
 Tramadol.
Khusus untuk tramadol secara kimiawi memeng tergolong
narkotika tetapi menurut undang-undang tidak sebagai narkotik,
karena kemungkinan menimbulkan ketergantungan.

2. Analgetik Non – Narkotik


Analgetik non-narkotik terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat- obat ini
dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi
Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki
kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan
demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya
berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di
hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit)

4
dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya
banyak keringat.
Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik hipotalamus
atau di tempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa
inflamasi, udem, serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG,
dan histamine. PG dan brankinin menstimulasi ujung staraf
perifer dengan membawa implus nyeri ke SSP. AINS dapat
menghambat sintesis PG dan brankinin sehingga menghambat
terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang banyak
digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan
salisilat dan asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah
penghambat sintesis PG paling efektif dari golongan salisilat.
Salisilat merupakan protipe AINS yang sampai sekarang
masih digunakan. Termasuk salisilat adalah Na-salisilat, aspirin
(asam asetil salisilat), salisid, dan meril salisilat bersifat toksik
jika tertelan oleh Karen itu, hanya dipakai topical untuk
menghangatkan kulit dan antigatal ( antpruritus). Golongan
salisilat dapat mengiritasi lapisan mukosa lambung. Organ yang
peka pada efek ini akan mengalami mual setelah minum aspirin.
Dalam lambung . PG berperan serta dalam mekanisme
perlindungan mukosa dari asam lambung atau gantrin. PG
berfungsi meningkatkan daya tahan membrane mukosa lambung.
Aspirin selain berefek analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi,
daalam dosis kecil juga berfungsi sebagai antitrombosis
(antiplatelet). Pada dosis kecil, aspirin dapat menghambat agreasi
trombosit (antikoagulan) mencegah terbentuknya thrombus pada
penderita infark jantung sehingga ddapat mengurangi timbulnya
stroke.

5
2.1.2 Pengertian Antipiretik
Sebelum kita mengulas tentang antipiretik, akan diingatkan
kembali mengenai demam, penyebab dan mekanisme terjadinya
demam.
Demam adalah kenaikan suhu tubuh di atas normal yang bila
diukur pada rektal >38°C dan diukur pada oral >37,8°C. Demam
merupakan gejala bukan penyakit dan merupakan respon normal tubuh
terhadap adanya infeksi mikroorganisme. Demam mengacu pada
peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan tingkat
sitokin pirogen (antibodi) yang diproduksi untuk mengatasi berbagai
rangsangan, misalnya terhadap toksin bakteri, peradangan dan
rangsangan pirogenik lain. Bila produksi sitokin pirogen secara sistemik
masih dalam batas yang dapat ditoleransi maka efeknya akan
menguntungkan tubuh secara keseluruhan, tetapi bila telah melampaui
batas kritis tertentu maka sitokin ini membahayakan tubuh.
Batas kritis sitokin pirogen sistemik tersebut sejauh ini belum
diketahui. Sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik, maka
monosit, makrofag, dan sel - sel Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia
yang dikenal sebagai pirogen endogen IL-1 (interleukin 1), TNF α
(Tumor Necrosis Factor α ), IL-6 (interleukin 6) dan INF (interferon)
yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk
meningkatkan patokan termostat. Hipotalamus mempertahankan suhu
di titik patokan yang baru dan bukan di suhu normal. Sebagai contoh,
pirogen endogen meningkatkan titik patokan menjadi 38,9° C,
hipotalamus merasa bahwa suhu normal prademam sebesar 37° C
terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanisme -mekanisme respon
dingin untuk meningkatkan suhu tubuh (Ganong, 2002).
Respon sitokin akan menyebabkan sintesa prostaglandin pada
sistem saraf pusat tingkat OVLT (Organum Varculosum Laminae
Terminalis), terutama prostaglandin E2 melalui metabolisme asam
arakidonat jalur COX-2 (siklooksigenase 2) dan menimbulkan
peningkatan suhu tubuh terutama demam. Mekanisme demam dapat

6
juga terjadi melalui jalur non prostaglandin melalui sinyal aferen nervus
vagus yang dimediasi oleh produk lokal MIP-1 (machrophage
inflammatory protein - 1) ini tidak dapat dihambat oleh antipiretik.
Menggigil merupakan suatu respon alamiah saat terjadi demam.
Keadaan ini disebabkan karena suhu tubuh yang lebih tinggi
dibandingkan suhu lingkugan sehingga proses ini mempercepat proses
pengeluaran panas.

Gambar 1. Patofisiologi Demam


Pernyataan diatas mejelaskan mengenai penyebab dan mekanisme
terjadinya demam, setelah itu akan dilanjutkan penjelasan tentang
antipiretik. Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan panas atau
untuk obat mengurangi suhu tubuh (suhu tubuh yang tinggi). Hanya
menurunkan temperatur tubuh saat panas dan tidak berefektif pada
orang normal. Obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat
produksi prostaglandin di hipotalamus anterior (yang meningkat
sebagai respon adanya pirogen endogen). Contoh Obat Antipiretik :
Parasetamol, panadol, paracetol, paraco, praxion, primadol, santol,
zacoldin, poldan mig, acetaminophen, asetosal atau asam salisilat,
salisilamida.

7
2.1.3 Pengertian Analgetik Antipiretik
Analgetik atau analgesik, merupakan obat untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman
pada orang yang menderita. Antipiretik adalah obat yang menurunkan
suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang
mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang
tinggi.
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi
tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan,
infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang
mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan
kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator nyeri
(pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada
ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat
ini rangsang dialihkan melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat
(SSP), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian
ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai nyeri.
Cara Pemberantasan Rasa Nyeri:
1. Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer
oleh analgetik perifer atau oleh anestetik lokal.
2. Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris,
misalnya dengan anestetik local\
3. Menghalangi pusat nyeri dalam SSP dengan analgesik sentral
(narkotik) atau dengan anestetik umum.
Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan
menghambat sintesa neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan
rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut,
maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal" nyeri, sehingga rasa
nyerinya berangsur-angsur menghilang.

8
2.2 Cara Kerja Analgetik dan Antipiretik
Untuk mengatasi demam dan nyeri digunakan obat yang dikenal dengan
analgetik dan antipiretik. Obat analgetik dan antipiretik memiliki mekanisme
kerja yang sama. Para ahli menggolongkannya dalam satu kelompok obat,
karena memiliki fungsi yang sama hanya saja susunanya berbeda. Mekanisme
kerja obat analgetik dan antiperetik adalah untuk menghambat kerja enzim
siklookcygenasi (COX), Enzim yang berperan dalam mengubah asam
arakhidonat menjadi prostaglandin.
Analgetik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf
secara selektif. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi
kesadaran. Analgetik bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi
rasa sakit. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul, analgetik
dibagi menjadi dua golongan yaitu analgetik narkotik dan analgetik non-
narkotik

2.3 Bahaya Penggunaan Analgetik Antipiretik


Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi ibu
hamil harus diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara
sembarangan dapat menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang
diminum oleh ibu hamil dapat menembus plasenta sampai masuk ke dalam
sirkulasi janin, sehingga kadarnya dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan
kadar dalam darah ibu yang dalam beberapa situasi akan membahayakan
bayi.
Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum dapat bersifat toksik,
teratogenik, maupun letal tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan
pada saat minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum
selama masa kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau
bio-kimiawi dari janin yang dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul
beberapa saat setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik, jika
menyebabkan terjadinya malformasi anatomik (kelainan/kekurangan organ
tubuh) pada pertumbuhan organ janin. Pengaruh teratogenik ini biasanya
terjadi pada dosis subletal. Sedangkan pengaruh obat yang bersifat letal

9
adalah yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.
Secara umum pengaruh obat pada janin dapat beragam sesuai dengan fase-
fase berikut:
a. Fase Implantasi yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu.Pada
fase ini obat dapat member pengaruh buruk atau mingkin tidak sama
sekali.Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian
embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).
b. Fase Embrional atau Organogenesis,yaitu pada umur kehamilan antara
4-8 minggu.Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk
pembentukan organ-organ tubuh, sehingga merupakan fase yang paling
peka untuk terjadinya malformasi anatomik (pengaruh teratogenik).
Selama embriogenesis kerusakan bergantung pada saat kerusakan
terjadi, karena selama waktu itu organ-organ dibentuk dan blastula
mengalami deferensiasi pada waktu yang berbeda-beda. Jika blastula
yang dipengaruhi masih belum berdeferensiasi dan kerusakan tidak
letal maka terdapat kemungkinan untuk restitutio ad integrum.
Sebaliknya jika bahan yang merugikan mencapai blastula yang sedang
dalam fase deferensiasi maka terjadi cacat (pembentukan salah)

Berbagai pengaruh buruk yang terjadi pada fase ini antara lain:
- Gangguan fungsional atau metabolic yang permanen yang biasanya
baru muncul kemudian jadi tidak timbul secara langsung pada saat
kehamilan
- Pengaruh letal berupa kematian janin atau terjadinya abortus
- Pengaruh sub-letal,tidak terjadi kematian janin tetapi terjadi malformasi
anatomik (struktur) pertumbuhan organ atau pengaruh teratogenik. Kata
teratogenik sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti monster.
- Fase Fetal yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.Dalam fase
ini terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin.Pengaruh
buruk senyawa asing bagi janin dalam fase ini dapat berupa gangguan
pertumbuhan baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi
organ-organ.

10
2.4 Efek Samping Analgetik Antipiretik
2.4.1 Gangguan Saluran Cerna.
Selain menimbulkan demam dan nyeri, ternyata prostaglandin
berperan melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat
pengeluaran asam lambung dan mengeluarkan cairan(mukus) sehingga
mengakibatkan dinding saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam
lambung yang bisa merusak.
2.4.2 Gangguan Hati (Hepar)
Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol.
Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain.
2.4.3 Gangguan Ginjal
Hambatan pembentukan prostaglandin juga bisa berdampak pada
ginjal. Karena prostaglandin berperan homestasis di ginjal. Jika
pembentukan terganggu, terjadi gangguan homeostasis.
2.4.4 Reaksi Alergi
Penggunaan obat aspirin dapat menimbulkan raksi alergi. Reaksi
dapat berupa rinitis vasomotor, asma bronkial hingga mengakibatkan
syok.

2.5 Saran Penggunaan Analgetik Antipiretik


Hal-hal yang harus diperhatikan :
 Perhatikan zat aktif obat
 Waspadai jika sedang menggunakan obat lain
 Penderita penyakit maag, gangguan hati dan gangguan ginjal sebaiknya
berkonsultasi dengan dokter
 Perhatikan Lama Penggunaan

2.6 Contoh Obat Analgesik – Antipiretik


Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di
Indonesia saat ini :

11
1. Aspirin
Deskripsi: Aspirin menghambat pengaruh dan biosintesa dari pada zat-
zat yang menimbulkan rasa nyeri dan demam (prostaglandin). Daya
kerja antipiretik dan analgetik dari pada Aspirin diperkuat oleh pengaruh
langsung terhadap susunan saraf pusat.
Farmakokinetika Aspirin
Asam salisilat adalah asam organic sederhana dengan pKa 3,0.
Aspirin mempunyai pKa 3,5. Sodium salisilat dan aspirin adalah obat
antiinflamasi yang sama efektifnya , walaupun aspirin mungkin lebih
efektif sebagai analgesik. Salicylate dengan cepat diserap oleh lambung
dan usus kecil bagian atas, menghasilkan kadar puncak plasma salysilate
dalam 1-2 j1m. Aspirin diserap dalam cara yang sama dan dihidrolisis
cepat menjadi acetic acid dan salicylate oleh esterase-esterase dalam
jaringan dan darah.
Indikasi : untuk meringankan rasa sakit, terutama sakit keala dan pusing,
sakit gigi dan nyeri otot serta menurunkan demam.
Kontra indikasi : Penderita tukak lambung dan peka terhadap derivat
asam salisilat, penderita asma, dan alergi. Penderita yang pernahatau
sering mengalami pendarahan bawah kulit, penderita yang sedang terapi
dengan antikoagulan, penderita hemofolia dan trombositopenia
Farmakodinamika
a. Efek-efek anti inflamasi. Aspirin adalah penghambat non-selektif
kedua isoform COX , tetapi salicylate jauh lebih kurang efektif
dalam menghambat kedua isoform. Salicylate yang tidak di asetilasi
mungkin bekerja sebagai pemangsa (scavenger) radikal oksigen.
Dari catatan diketahui bahwa berbeda dari kebanyakan AINS
lainnya, aspirin menghambat COX secara irreversible, dan bahkan
dosis rendah bisa efektif dalam keadaan tertentu, misalnya
penghambatan agregasi platelet.
b. Efek-efek analgesik. Aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri
dengan intensitas ringan sampai sedang. Ia bekerja secara perifer

12
melalui efeknya terhadap inflamasi, tetapi mungkin juga
menghambat rangsangan nyeri pada daerah subkortikal.
c. Efek-efek antipiretik. Aspirin menurunkan suhu yang meningkat,
sedangkan suhu badan normal hanya terpengaruh sedidkit. Efek
antipiretik aspirin mungkin diperantarai oleh hambatan kedua COX
dalam sistem saraf pusat dan hambatan IL-1 (yang dirilis dari
makrofag selama episode inflamasi). Turunnya suhu, dikaitkan
dengan meningkatnya panas yang hilang karena vasodilatasi dari
pembuluh darah permukaan (superfisial) dan disertai keluarnya
keringat yang banyak.
Dosis
Dosis analgesik atau antipiretik yang optimal dari aspirin yang
secara umum dipergunakan adalah kurang dari 0,6 gram dosisi oral.
Dosis yang lebih besar mungkin memprpanjang efek. Dosisi biasa
tersebut bisa di ulang setiap 4 jam dan dosisi yang lebih kecil (0,3 g)
setiap 3 jam sekali. Dosisi untuk anak-anak adalah 50-75 mg/kg/hari
dalam dosisi yang terbagi.
Dosis antiinflamasi rata-rata dapat sampai 4 gram per hari. Untuk
anak-anak 50-75 mg/kg/hari. Kadar dalam darah 15-30 mg/dl. Waktu
paro 12 jam. Biasanya dosi terbagi 3 kali/hari, sesudah makan

2. Paracetamol
Nama dagang : Asetaminopen, Panadol (glaxso), Tylenol, Tempra,
Nipe, pamol (intrbat), sanmol (sanbe) .
Paracetamol merupakan derivat-asetanilida, adalah metabolit dari
fenasetin, yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetik, tetapi pada
tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya
(nefrotoksisitas dan karsinogen). Komposisi dari obat parasetamol :
- Tiap sendok teh (5ml) mengandung paracetamol 120mg
- Tiap tablet mengandung paracetamol 100mg

13
Cara kerja obat parasetamol:
Derivate paminofenol yang mempunyai sifat antipiretik atau
analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan
mekanismenya diduga berdasarkanefek sentral. Sifat analgesic
parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.
Pada penggunaan oral parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran
cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit
sampai 60 menit setelah pemberian, dapat diekskresikan melalui ginjal,
kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam
bentuk terkonyugasi.
Indikasi:
Untuk nyeri dan demam. Khasiat paracetamol antara lain sebagai
analgetik (nyeri ringan sampai sedang) dan antipiretik tetapi tidak anti
radang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat anti nyeri yang
paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan mandiri).Nyeri
ringan sampai sedang termasuk dysmenorrhea, sakit kepala; pereda
nyeri pada osteoarthritis dan lesi jaringan lunak; demam termasuk
demam setelah imunisasi; serangan migren akut, tension headache.
Kontraindikasi :
Tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi
hati berat, hipersensitif terhadap paracetamol. Hipersensitif terhadap
paracetamol dan defisiensi glucose-6 fosfat dehidrogenase.
Peringatan dan Perhatian :
- Pemberian harus berhati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal
serta penggunaan jangka lama pada pasien anemia
- Jangan melampaui dosis yang disarankan
- Harap ke dokter bila gejala demam belum sembuh dalam waktu
2hari atau rasa sakit tidak berkurang selama5 hari.
Efek samping :
Efek samping jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas
dan kelainan darah. Pada penggunaan kronis dari 3-4 gram sehari dapat
terjadi kerusakan hati, pada dosis 6 gram mengakibatkan necrosis hati

14
yang tidak reversibel. Dosis besar menyebabkan kerusakan fungsi
hati.Wanita hamil dapat menggunakan parasetamol dengan aman, juga
selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Dosisnya itu sendiri
melalui :
a. Oral 2-3x sehari 0,5-1 gram, maximum 4 gram per hari, pada
gangguan kronis maksimum 2,5 gram per hari, anak-anak 4-6x
10mg/kg BB, yakni rata-rata usia 3-12 bulan 60mg, 1-4 tahun 120-
180mg, 4-6 th 180mg, 7-12 th 240-360mg, 4-6x sehari.
b. Rectal 20mg/kg setiap kali, dewasa 4x sehari 0,5-1 gram. Anak-
anak usia 3-12 bulan 2-3x 120mg, 1-4 th 2-3x 240mg, 4-6 th 4x
240mg, dan 7-12th 2-3 x 0,5 g.
Cara penyimpanan dalam wadah tertutup rapat, dapat terlindung
dari cahaya.

3. Asam Asetilsalisilat
Nama dagang : asetosal, Aspirin, Cafenol, Naspro
Asetosal adalah obat anti nyeri tertua (1899), yang sampai kini
paling banyak digunakan di dunia. Zat ini juga berkhasiat anti-demam
kuat. Komposisi dari obat asam asetilsalisilat yaitu tiap tablet
mengandung asam asetilsalisilat 100mg . Cara kerja obat asam
asetilsalisilat bekerja dengan mempengaruhi pusat pengatur suhu di
hipotalamus sehingga dapat menurunkan demam, dan menghambat
pembentukan prostaglandin sehingga meringankan rasa sakit.
Indikasi :
Dapat menurunkan demam, meringankan sakit kepala, sakit gigi
dan nyeri otot.
Kontraindikasi:
Anak-anak kecil yang menderita cacar air atau flu sebaiknya
jangan diberikan asetosal melainkan parasetamol, karena beresiko
terhadap syndrom grey yang berbahaya. Syndrom ini bercirikan muntah
hebat, termangu-mangu, gangguan pernafasan, konvulsi dan adakalanya
koma.Wanita hamil tidak dianjurkan menggunakan asetosal dalam dosis

15
tinggi, terutama pada triwulan terakhir dan sebelum persalinan, karena
lama kehamilan dan persalinan dapat diperpanjang, juga kecenderungan
perdarahan meningkat.
Dosis dan cara pemberian :
Pada nyeri dan demam oral dewasa 4x 0,5-1g setelah makan,
maksimum 4g sehari, anak-anak sampai 1th 10mg/kgBB 3-4x sehari, 1-
12th 4-6x, diatas 12th4x 320-500mg, maksimum 2g per hari
Rectal dewasa 4x 0,5-1gr, anak-anak sampai 2th 2x 20mg/kgBB,
diatas 2th 3x 20mg/kg BB.
Efek samping:
Efek samping yang paling sering terjadi berupa iritasi mukosa
lambung dengan resiko tukak lambung dan perdarahan samar.
Penyebabnya adalah sifat asam dari asetosal, yang dapat dikurangi
dengan kombinasi dengan suatu antasidum (MgO,
alumuniumhidroksida, CaCO3atau garam kalsiumnya (carbasalat,
Ascal).
Pada dosis besar, faktor lain memegang peranan yakni hilangnya
efek pelindung dari prostasiklin terhadap mukosa lambung. Selain itu
asetosal menimbulkan efek –efek spesifik, seperti reaksi alergi kulit dan
tinnitus (telinga mendengung) pada dosis lebih tinggi. Efek yang lebih
serius adalah kejang-kejang bronki hebat pada pasien asma meski
dalam dosis kecil dapat mengakibatkan serangan.

4. Asam mefenamat
Nama dagang : mefinal, (sanbe), mefentan (kalbe)
Cara kerja obat itu sendiri yaitu asam mefenamat merupakan
kelompok anti inflamasi non steroid, bekerja dengan cara menghambat
sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat
enzyme siklooksigenase sehingga mempunyai efek antiinflamasi dan
antipiretik.

16
Indikasi :
Meredahkan nyeri ringan sampai sedang sehubung dengan sakit
kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma,
nyeri otot dan nyeri sesudah operasi.
Kontraindikasi :
- Pasien yang hipersensitif terhadap asam mefenamat.
- Penderita dengan tukak lambung dan usus.
- Penderita dengan gangguan ginjal berat.
Dosis :
Pada dewasa dan anak-anak > 14 tahun dosis awal 500 mg,
selanjutnya 250 mg setiap 6 jam sesuai kebutuhan.
Peringatan dan perhatian :
Pemberian asam mefenamat itu sebaiknya
- Diminum sesudah makan
- Jangan digunakan lebih dari 7 hari atau melebihi dosis yang
dianjurkan kecuali atas petunjuk dokter
- Hati-hati jika digunakan pada wanita hamil dan menyususi
Efek samping :
- Sistem pencernaan terasa mual, muntah, diare dan rasa sakit pada
abdominal
- Pada sistem saraf akan terasa ngantuk, pusing, penglihatan kabur
dan insomnia.
Cara penyimpanan :
Dapat disimpan pada suhu kamar (25-30)OCdan tempat kering
serta terhindar dari cahaya langsung.

5. Praxion
Praxion adalah obat untuk menurunkan demam, meringankan rasa
sakit pada keadaan sakit kepala dan sakit gigi.
Komposisi :
Praxion drops tiap ml mengandung 100 mg paracetamol
micronized.

17
Praxion 120 suspensi tiap 5 ml mengandung 120 mg paracetamol
micronized.
Cara kerja obat :
Sebagai analgesik- antipiretik, dimana sebagai analgesik bekerja
dengan meningkatkan ambang rangsangan rasa sakit, sedangkan
antipiretik diduga bekerja langsung pada pusat pengatur panas di
hipotalamus.
Kontra indikasi :
- Pada penderita gangguan fungsi hati yang berat.
- Penderita hipersensitif terhadap komponen obat ini.
Dosis :
- Dibawah 1 tahun dosis 60 mg ( alat tetes0,6 ml) 3-4 kali sehari.
- 1-2 tahun dosis 60-120 mg ( alat tetes 0,6 ml-1,2 ml) 3-4 kali
sehari atau sesuai petunjuk dokter.
Peringatan dan perhatian :
- Hati hati pengguna obat ini pada penderitapenyakit ginjal.
- Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri
tidak menghilang, segera hubungi unit pelayanan kesehatan.
- Penggunaan obat ini penderita mengkonsumsi alkohol dapat
meningkatkan kerusakan hati.
Efek samping :
Pada penggunaa obat jangka lama dan dosis besar dapat
menyebabkan kerusakan hati dan reaksi hipersensitifitas.

18
BAB III
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Efek Analgetik s hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah
sampai sendang, misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia, dan nyeri lain
yang berasal dari integument, juga efek terhadap nyeri berkaitan dengan
inflamasi.
Antipiretik yaitu obat demam yang mekanisme kerja obat antipiretik,
bekerja,dengan cara menghambat produksi prostalglandin E2 di
hipotalamusanterior (yang meningkatkan sebagai respon adanya pirogen
endogen).yang termasuk obatnya itu parasetamol, panadol,
paracetol,paraco, praxion, primadol, santol, zacoldin, poldan mig,
acetaminophen, asetosal atau asam salisilat,salisilamida.Efek Antipiretik
sebagai antipiretik obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan.
Penggunaan obat Analgetik-Antipiretik pada saat mengandung bagi
ibu hamil harus diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara
sembarangan dapat menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang
diminum oleh ibu hamil dapat menembus plasenta sampai masuk ke dalam
sirkulasi janin, sehingga kadarnya dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan
kadar dalam darah ibu yang dalam beberapa situasi akan membahayakan
bayi.

5.2 Saran
Kiranya kita para mahasiswa dan mahasiswi setelah membaca makalah
ini dapat memahami lebih dalam lagi tentang analgesik antipiretik
berdasarkan pemakaiannya maupun efek sampingnya. Dan juga kita sebagai
mahasiswa dan mahasiswa lebih meningkatkan rasa ingin tahu kita tentang
ilmu farmakologi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Informai spesialite obat indonesia : volume 41; Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia : Jakarta . (Online) Diakses melalui
http://deybijuliantinapitu.blogspot.co.id/2014/11/antipiretik.html pada 8
April 2017.

Berman, Audrey., dkk. 2009. Buku Ajar Praktis Keperawatan Klinis. Jakarta :
EGC.

dr. Theodorus. Penuntun Praktis Peresepan Obat. Jakarta : EGC.

Fitrianingsih Dwi, dkk.2009. Farmakologi Obat-Obat Dalam Praktek Kebidanan.


Yogyakarta : Binari Media Utama. (Online) Diakses melalui
http://deybijuliantinapitu.blogspot.co.id/2014/11/antipiretik.html pada 8
April 2017.

Ganiswara, Silistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy


Pharmacology). Jakarta : Alih Bahasa: Bagian Farmakologi F K U I.

Katzung. G. Bertram 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik EdisiVIII Bagian ke II.
Jakarta : Salemba Medika.

Schmitz, Gery, dkk. 2008. Farmakologi dan Toksikologi. Jakarta : EGC.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fak. Kedokteran UNSRI. 2008.


Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC.

20