Anda di halaman 1dari 47

ETNOGRAFI PAPUA

Disusunoleh :

Kelompok 2

- Hana Puspita Soerjoputeri (201504022)


- Imran Ali (201604025)
- Yuris Octavian Sihombing (201504046)
- Firdha Metturan (201604008)
- Sahrul Gunawan (201604018)
- Sakinah Sarnia Iriani (201604019)

SEMESTER VI

Program StudiFarmasi

DosenPengampuh : Carlos Malibela S.Gz

YAYASAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PAPUA (YPMP)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PAPUA
SORONG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah “Etnografi
Papua” kami meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita.

Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun dari anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Sorong, Juli 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1


B. Rumusan masalah ................................................................................. 3
C. Tujuan .................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Asal Mula Orang Papua…………………………….……….…….… 4


B. Asal Mula Nama Papua…………………………….……….…….…. 5
C. Pemetaan Suku-Suku Dan Etnis Yang Ada Di Papua……………… 10
D. Pemetaan Bahasa Di Papua…………………………….……….…… 36
E. System Kepercayaan Orang Papua…………………………….……. 36
F. Kebudayaan Nabire…………………………….……….……….……. 37

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ·········································································· 43

BAB IV Daftar Pustaka ···································································· 44

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menelusuri sejarah Etnografi tidak terlepas dari sejarah perkembangan
Antropologi sebagai sebuah disiplin ilmu, yang telah menapaki perjalanan panjang
sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari manusia dan budaya serta perubahan
dan perkembangannya.

Pada umumnya para antropolog sependapat bahwa antropologi muncul sebagai


suatu cabang keilmuan yang jelas batasannya pada sekitar pertengahan abad ke-19,
tatkala perhatian orang pada evolusi manusia berkembang. Antropologi sebagai
disiplin akademik baru dimulai tidak lama setelah itu, ketika pengakatan pertama
antropolog profesional di universitas, museum, dan kantor-kantor pemerintahan.
Namun, tidak ada keraguan bahwa gagasan antropologi sudah ada jauh sebelumnya.
Tetapi ihwal kapan? adalah yang diperdebatkan meski tidak khusus. Setiap
antropolog dan ahli sejarah memiliki alasan sendiri-sendiri untuk menentukan kapan
antropologi dimulai.

Antropologi pada abad ke-49, terlebih abad ke-20, berkembang dalam arah yang
lebih spesifik dan menggunakan peralatan metodologi ‘ilmiah’. Persoalan paradigma
menjadi semakin penting. Evolusionisme yang dapat dikatakan induk dari semua
paradigma antropologi yang lahir dan berkembang kemudian turut mempengaruhi
perkembangan percabangan kajian antropologi. Percabangan kajian antropologi juga
semakin kompleks dan berkembang seperti : antropologi biologi (yaitu kajian
mengenai biologi manusia, khususnya dalam kaitannya dengan antropologi yang
dikonsepkan secara luas-suatu ilmu mengenai manusia); arkeologi (perbandingan
ciri-ciri anatomis dari temuan fosil, hubungan temuan tersebut dengan habitanya,
mencari dan membangun alasan akademik mengenai struktur masyarakat prehistori);
antropologi linguistik (kajian rnengenai bahasa terutama terkait dengan

1
keanekaragamannya); dan antropologi budaya sebagai subdisiplin yang terbesar
(Saifuddin, 2006: 17-22).

Antropologi budaya sebagai cabang ilmu antropologi yang hendak menyoroti


kebudayaan manusia secara perbandingan, merupakan ilmu atau disiplin yang akhir-
akhir ini semakin luas cakupannya. Bidang-bidang perhatian yang menekuni segi-segi
tertentu dari kehidupan manusia semakin bertambah dengan semakin kompleksnya
kehidupan manusia itu (Ihromi, 2006: viii). Kompleksitas manusia dan
kebudayaannya menyebabkan antropologi budaya mengalami perkembangan cabang
kajian ilmu, antara lain yaitu etnograft (pelukisan tentang bangsa bangsa).

Masyarakat-masyarakat manusia yang masih hidup, artinya masih ada, dicoba


direkam keadaannya, atau dibuat suatu deskripsi atau gambaran mengenai semua
segi-segi kehidupannya seperti ; mengenai sistem-sistem pencarian makanan, sistem-
sistem kerja sama, aturan-aturan yang berlaku mengenai sistem keluarga, misalnya
dicatat bahwa pada orang Minangkabau seseorang menarik garis keturunan melalui
garis ibu, sedang pada orang batak yang tinggal berdekatan dengan mereka, ditarik
garis keturunan melalui bapak. Cabang antropologi budaya yang menyibukkan diri
dengan pelukisan-pelukisan kebiasaan dalam berbagai masyarakat itu dikenal sebagai
etnograft (etno: bangsa; grafi : pelukisan) (Ihromi, 2006 : xi).

Maka, dapat dijelaskan secara sederhana bahwa etnografi adalah salah satu
cabang ilmu antropologi budaya yang mendeskripsikan, melukiskan, dan
menggambarkan suku-suku bangsa di dunia dan kebudayaannya. Etnografi berarti
lukisan, gambaran. Atau deskripsi tentang suku bangsa. Etnografi memberikan
gambaran secara umum tentang berbagai aspek budaya manusia dalam kehidupan
suku bangsa.

Saat ini, etnografi telah menjadi sebuah metode dan pendekatan dalam kegiatan
akademik dan praktis untuk menjelaskan berbagai fenomena masalah sosial dan
budaya dalam bingkai masyarakat yang semakin kompleks permasalahannya guna

2
menjadi alat dalam mencari solusi atas persoalan dan alternatif pemecahan masalah
sosial maupun budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Maka
dapat dikatakan bahwa Etnografi Papua adalah upaya-upaya memberikan deskripsi,
lukisan dan gambaran secara umum tentang berbagai aspek kebudayaan manusia
Papua dalam kehidupan suku bangsanya. Etnografi Papua dapat digunakan sebagai
salah satu alat atau metode untuk mengungkapkan berbagai persoalan dalam
kehidupan masyarakat Papua dan upaya-upaya alternatif menyelesaikan berbagai
persoalan-persoalan sosial budaya masyarakat di Tanah Papua.

B. Rumusan Masalah

a. Bagaimanakah asal mula orang Papua?


b. Bagimanakah asal mula nama Papua?
c. Pemetaan suku-suku dan etnis yang ada di Papua?
d. Pemetaan bahasa di Papua?
e. Apa system kepercayaan orang papua?
f. Apa sajakah kebudayaan Nabire?

C. Tujuan
a. Untuk mengetahui bagaimanakah asal mula orang Papua?
b. Untuk mengetahui bagimanakah asal mula nama Papua?
c. Untuk mengetahui pemetaan suku-suku dan etnis yang ada di Papua?
d. Untuk mengetahui pemetaan bahasa di Papua?
e. Untuk mengetahui apa system kepercayaan orang papua?
f. Untuk mengetahui apa sajakah kebudayaan Nabire?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Asal Mula Orang Papua


Nenek moyang orang Papua dan Aborigin meninggalkan Afrika sekitar
72.000 tahun yang lalu dan berhasil tiba di benua yang dinamakan “Sahul” sekitar
50.000 tahun yang lalu. Selanjutnya sekitar 31.000 tahun yang lalu sebagian besar
masyarakat Aborigin terisolasi secara genetis satu dengan lainnya yang membuat
kelompok Aborigin ini memiliki keragaman genetik yang tinggi.

Hal lain yang menarik adalah ternyata nenek moyang orang Papua dan Orang
Aborigin merupakan gelombang migrasi yang lebih awal jika dibandingkan dengan
gelombang migrasi orang Eurasia. Studi ini juga berhasil menemukan penciri
genomic khas dari nenek moyang orang Aborigin dan Papua yang pertama kali tiba di
benua “Sahul” ini yang terkonservasi selama 40.000 tahun dan masih dapat
ditemukan di masyarakat Aborigin modern saat ini.

Nenek moyang orang Papua dan Aborgin yang kemungkinan besar berasal
dari satu keturunan meninggalkan Afrika sekitar 72.000 tahun yang lalu dan kedua
kelompok ini memisahkan diri sekitar 58.000 tahun yang lalu. Benua yang
dinamakan “Sahul" ini adalah gabungan benua Australia, Papua dan Tasmania yang
pernah ada dalam satu daratan sekitar 50.000 tahun lalu. Pada zaman es diperkirakan
sekitar 20.000-30.000 tahun yang lalu benua Australia dan pulau Irian masih dalam
satu daratan.

Nenek moyang orang Papua dan orang Aborigin ternyata berpisah sekitar 37.000
tahun yang lalu jauh sebelum benua Australia akhirnya terpisah dengan pulau Irian
sekitar 8.000 tahun yang lalu. Setelah kedua kelompok ini terisolasi satu dengan
lainnya, kedua kelompok ini selanjutnya mengalami adaptasi dan evolusi secara
terpisah dalam kondisi lingkungan yang berbeda.

4
B. Asal Mula Nama Papua
Papua berada di wilayah paling timur negara Indonesia. Ia merupakan pulau
terbesar kedua setelah Pulau Greendland di Denmark. Luasnya capai 890.000 Km²
(ini jika digabung dengan Papua New Guinea). Besarnya diperkirakan hampir lima
kali luas pulau Jawa.

Pada sekitar tahun 200 M , ahli Geography bernama Claudius Ptolemaeus


(Ptolamy) menyebut pulau Papua dengan nama Labadios. Sampai saat ini tak ada
yang tahu, kenapa pulau Papua diberi nama Labadios.

Sekitar akhir tahun 500 M, oleh bangsa China diberi nama Tungki. Hal ini dapat
diketahui setelah mereka menemukan sebuah catatan harian seorang pengarang
Tiangkok, Ghau Yu Kuan yang menggambarkan bahwa asal rempah-rempah yang
mereka peroleh berasal dari Tungki, nama yang digunakan oleh para pedagang China
saat itu untuk Papua.

Selanjutnya, pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua
dengan menggunakan nama Janggi. Dalam buku Kertagama 1365 yang dikarang
Pujangga Mpu Prapanca “Tugki” atau “Janggi” sesungguhnya adalah salah eja
diperoleh dari pihak ketiga yaitu Pedagang Cina Chun Tjok Kwan yang dalam
perjalanan dagangnya sempat menyinggahi beberapa tempat di Tidore dan Papua.

Di awal tahun 700 M, pedagang Persia dan Gujarat mulai berdatangan ke Papua,
juga termasuk pedangan dari India. Tujuan mereka untuk mencari rempah-rempah di
wilayah ini setelah melihat kesuksesan pedangang asal China. Para pedagang ini
sebut nama Papua dengan Dwi Panta dan juga Samudranta, yang artinya Ujung
Samudra dan Ujung Lautan.

5
Pada akhir tahun 1300, Kerajaan Majapahit menggunakan dua nama, yakni
Wanin dan Sram. Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah
Fak-Fak dan Sram, ialah pulau Seram di Maluku. Ada kemungkinan, budak yang
dibawa dan dipersembahkan kepada Majapahit berasal dari Onin dan yang
membawanya ke sana adalah orang Seram dari Maluku, sehingga dua nama ini
disebut.

Sekitar tahun 1646, Kerajaan Tidore memberi nama untuk pulau ini dan
penduduknya sebagai Papa-Ua, yang sudah berubah dalam sebutan menjadi Papua.
Dalam bahasa Tidore artinya tidak bergabung atau tidak bersatu (not integrated).
Dalam bahasa melayu berarti berambut keriting. Memiliki pengertian lain, bahwa di
pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah.

Ada juga yang memakai nama Papua sebagai bentuk ejekan terhadap warga
setempat—penduduk primitif, tertinggal, bodoh— yang merupakan slogan yang tidak
mempunyai arti apapun dengan nama Papua.

Respon penduduk terhadap nama Papua cukup baik. Alasannya, sebab nama
tersebut benar mencerminkan identitas diri mereka sebagai manusia hitam, keriting,
yang sangat berbeda dengan penduduk Melayu juga kerajaan Tidore. Tapi, tentu
mereka tak terima dengan ejekan yang selalu dilontarkan warga pendatang.

Pada tahun 1511 Antonio d’Arbau, pelaut asal Portugis menyebut wilayah Papua
dengan nama “Os Papuas” atau juga llha de Papo. Don Jorge de Menetes, pelaut asal
Spanyol juga sempat mampir di Papua beberapa tahun kemudian (1526–1527), ia
tetap menggunakan nama Papua. Ia sendiri mengetahui nama Papua dalam catatan
harian Antonio Figafetta, juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia
menyebut dengan nama Papua. Nama Papua ini diketahui Figafetta saat ia singgah di
pulau Tidore.

6
Berikutnya, pada tahun 1528, Alvaro de Savedra, seorang pimpinan armada laut
Spanyol beri nama pulau Papua Isla de Oro atau Island of Gold yang artinya Pulau
Emas. Ia juga merupakan satu-satunya pelaut yang berhasil menancapkan jangkar
kapalnya di pantai utara kepulauan Papua. Dengan penyebutan Isla Del Oro membuat
tidak sedikit pula para pelaut Eropa yang datang berbondong-bondong untuk mencari
emas yang terdapat di pulau emas tersebut.

Pada tahun 1545, pelaut asal spanyol Inigo Ortiz de Retes memberi nama
Nueva Guinee. Dalam bahasa Inggris disebut New Guinea. Ia awalnya menyusuri
pantai utara pulau ini dan karena melihat ciri-ciri manusianya yang berkulit hitam dan
berambut keriting sama seperti manusia yang ia lihat di belahan bumi Afrika bernama
Guinea, maka diberi nama pulau ini Nueva Guinee/Pulau Guinea Baru.

Nama Papua dan Nueva Guinea dipertahankan hampir dua abad lamanya,
baru kemudian muncul nama Nieuw Guinea dari Belanda, dan kedua nama tersebut
terkenal secara luas diseluruh dunia, terutama pada abad ke-19. Penduduk nusantara
mengenal dengan nama Papua dan sementara nama Nieuw Guinea mulai terkenal
sejak abad ke-16 setelah nama tersebut tampak pada peta dunia sehingga dipakai oleh
dunia luar, terutama di negara-negara Eropa.

Pada tahun 1956, Belanda kembali mengubah nama Papua dari Nieuw Guinea
menjadi Nederlands Nieuw Guinea. Perubahan nama tersebut lebih bersifat politis
karena Belanda tak ingin kehilangan pulau Papua dari Indonesia pada zaman itu.

Pada tahun 1950-an oleh Residen JP Van Eechoud dibentuklah sekolah


Bestuur. Di sana ia menganjurkan dan memerintahkan Admoprasojo selaku Direktur
Sekolah Bestuur tersebut untuk membentuk dewan suku-suku. Di dalam kegiatan
dewan ini salah satunya adalah mengkaji sejarah dan budaya Papua, termasuk
mengganti nama pulau Papua dengan sebuah nama lainnya.

7
Tindak lanjutnya, berlangsung pertemuan di Tobati, Jayapura. Di dalam turut
dibicarakan ide penggantian nama tersebut, juga dibentuk dalam sebuah panitia yang
nantinya akan bertugas untuk menelusuri sebuah nama yang berasal dari daerah
Papua dan dapat diterima oleh seluruh suku yang ada.

Frans Kaisepo selaku ketua Panitia kemudian mengambil sebuah nama dari
sebuah mitos Manseren Koreri, sebuah legenda yang termahsyur dan dikenal luas
oleh masyarakat luas Biak, yaitu Irian.

Dalam bahasa Biak Numfor “Iri” artinya tanah, "an" artinya panas. Dengan
demikian nama Irian artinya tanah panas. Pada perkembangan selanjutnya, setelah
diselidiki ternyata terdapat beberapa pengertian yang sama di tempat seperti Serui dan
Merauke. Dalam bahasa Serui, "Iri" artinya tanah, "an" artinya bangsa, jadi Irian
artinya Tanah bangsa, sementara dalam bahasa Merauke, "Iri" artinya ditempatkan
atau diangkat tinggi, "an" artinya bangsa, jadi Irian adalah bangsa yang diangkat
tinggi.

Secara resmi, pada tanggal 16 Juli 1946, Frans Kaisepo yang mewakili Nieuw
Guinea dalam konferensi di Malino-Ujung Pandang, melalui pidatonya yang
berpengaruh terhadap penyiaran radio nasional, mengganti nama Papua dan Nieuw
Guinea dengan nama Irian.

Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo
pernah mengatakan “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti
historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik
Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, dan semakin terpojoknya Belanda oleh
dunia internasional dalam rangka mempertahankan Papua dalam wilayah jajahannya,
pada 1 Desember 1961, Belanda membentuk negara boneka Papua. Pada tanggal
tersebut Belanda memerintahkan masyarakat Papua untuk mengibarkan bendera

8
nasional baru yang dinamakan Bintang Kejora. Mereka menetapkan nama Papua
sebagai Papua Barat.

Sedangkan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), sebuah


badan khusus yang dibentuk PBB untuk menyiapkan act free choice di Papua pada
tahun 1969 menggunakan dua nama untuk Papua, West New Guinea/West Irian.

Berikutnya, nama Irian diganti menjadi Irian Barat secara resmi sejak 1 Mei
1963 saat wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke dalam pangkuan
Negara republik Indonesia. Pada tahun 1967, kontrak kerja sama PT Freeport Mc
Morran dengan pemerintah Indonesia dilangsungkan. Dalam kontrak ini Freeport
gunakan nama Irian Barat, padahal secara resmi Papua belum resmi jadi bagian
Indonesia.

Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Negara
Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.
Dan kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 sesuai dengan peraturan Nomor 5 tahun
1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto menjadi nama Irian Jaya.

Memasuki era reformasi sebagian masyarakat menuntut penggantian nama


Irian Jaya menjadi Papua. Presiden Abdurrahman Wahid memenuhi permintaan
sebagian masyarakat tersebut. Dalam acara kunjungan resmi kenegaraan Presiden,
sekaligus menyambut pergantian tahun baru 1999 ke 2000, pagi hari tanggal 1
Januari 2000, dia memaklumkaan bahwa nama Irian Jaya saat itu diubah namanya
menjadi Papua seperti yang diberikan oleh Kerajaan Tidore pada tahun 1800-an.

Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang
seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa-bangsa asing dengan masyarakat
Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa lokal dalam memaknai nama Papua.

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Indonesia di Pulau Papua.


Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini

9
Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada
bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai
Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti
menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas
Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua mengamanatkan nama


provinsi ini untuk diganti menjadi Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai
protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua
provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua
sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian
menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada
saat ini.

C. Pemetaan Suku-Suku Dan Etnis Yang Ada Di Papua

1. Suku Asmat-Dani

a. Sejarah
Perkampungan yang pertama kali diketahui di Lembah Baliem diperkirakan
sekitar ratusan tahun yang lalu. Banyak eksplorasi didataran tinggi pedalaman Papua
yang dilakukan, salah satu diantaranya yang pertama adalah Expedisi Lorentz pada
tahun 1909-1910 (Netherlands), tetapi mereka tidak beroperasi di Lembah Baliem.
Kemudian penyidik asal Amerika yang bernama Richard Archold anggota timnya
adalah orang pertama yang mengadakan kontak dengan penduduk asli yang belum
mengadakan kontak dengan negara lain sebelumnya. Ini terjadi pada tahun 1935,
kemudian telah diketahui bahwa penduduk suku Dani adalah para petani yang
terampil dengan menggunakan kapak batu, alat pengikis, pisau yang terbuat dari
tulang binatang, bambu, atau tombak kayu dan tongkat galian Pengaruh Eropa dibawa

10
oleh para Missionaris yang membangun pusat misi Protestan di Hetegima sekitar
tahun 1955. Bangsa Belanda mendirikan kota Wamena maka agama Katolik mulai
berdatangan.
Sebutan "Dani" untuk kelompok masyarakat yang menghuni Lembah Baliem
sebenarnya diberikan oleh orang Amerika dan Belanda untuk orang Moni yang
bermukim di dataran tinggi Paniai (Moni: orang asing). Kata asing ini selanjutnya
berubah menjadi Ndani untuk mereka yang tinggal di Baliem. Penduduk lembah
Baliem sendiri menyebut diri mereka "Nut Akuni Pallimeke " (kami dari Baliem).

b. Letak Geografis.
Secara geografi Kabupaten Jayawijaya terletak antara 3,20o-5,20° LS serta
137,19° -141° BT. Batas-batas daerah Kabupaten Jayawijaya adalah sebagai berikut:
a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen
Waropen,
b) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Paniai
c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Merauke dan
d) Sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guinea.
Topografi Kabupaten Jayawijaya terdiri dari gunung-gunung yang tinggi dan
lembah-lembah yang luas. Diantara puncak-puncak gunung beberapa diantaranya
selalu tertutup salju, misalnya puncak Trikora 4.750 m. puncak Yamin 4.595 m dan
puncak Mandala 4.760 m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan
granit terdapat didaerah pegunungan sedangkan disekeliling lembah merupakan
percampuran antara endapan lumpur, tanah liat dan lembung .(Kebudayaan Papua,
2008)

c. Flora dan Fauna.


Daerah ini terdapat banyak marga satwa yang aneh dan menarik, yang hidup
ditengah hutan tropis yang luas dan beranekaragam pada gunung yang lebih tinggi.
Hutan tropis memberi kesempatan bagi tumbuh-tumbuhan dan hutan cemara, semak

11
Rhodedendronds dan species tanaman pakis dari anggrek yang sangat
mengagungkan. Dekat daerah bersalju di puncak gunung terdapat lumut dan tanaman
tundra. Hutan juga beranekaragam jenis kayu yang sangat penting bagi perdagangan
seperti Irttsia, Pometis, Callophylyum, Drokontomiko, Pterokorpus dan jajaran pohon
berlumut yang dieksploitasi dan diproses dapat menghasilkan harga yang sangat
tinggi jika diperdagangkan. Hutan dan padang rumput Jayawijaya merupakan tempat
hidup Kanguru, Kuskus, Kasuari dan banyak Spesies dari burung endemik seperti
burung Cenderawasih, Mambruk, Nuri yang bermacam-macam Insect dan Kupu-
kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.

d. Penduduk.
Penduduk asli yang mendiami Kebupaten Jayawijaya ini adalah suku Dani,
Kimyal, dan suku Yale. Selain penduduk asli terdapat juga penduduk yang berasal
dari daerah lain di Indonesia yang berada di Kabupaten Jayawijaya, dan bekerja
sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI dan Polri, Pengusaha, Pedagang,
Transmigran dan lain sebagainya.

e. Budaya.
Setiap daerah pasti memiliki ciri khas, begitu pula dengan penduduk Jayawijaya.
Di Kabupaten ini, babi memegang peranan penting dalam kehidupan sosial
masyarakat. Babi merupakan prestise dan melambangkan status sosial seseorang.
Tetapi babipun bisa menyebabkan pecahnya perang suku, dan binatang ini juga
berperan sebagai maskawin (uang mahar). Hutan lebat di Pegunungan Jayawijaya
adalah rumah suku Dani. Mereka hidup dari berburu/meramu hasil hutan dan sungai
sekitar kampung mereka. Hutan rimba dan alam Baliem yang heterogen membentuk
laki-laki Dani menjadi “prajurit-prajurit" tangguh. Mereka adalah ahli-ahli kehutanan
yang gagah berani dalam mempertahankan rumahnya dari gangguan pihak asing.
Pelanggaran zona dan aturan adat oleh pihak asing akan dihadapi prajurit-prajurit
Dani, hingga memungkinkan terjadinya peperangan (win abiyokoi). Namun

12
demikian, mereka juga mengenal perdamaian (kong gualim) sebagai penyelesaian
perselisihan.
Disamping memanfaatkan hasil hutan, kesuburan tanah Lembah Baliem
berpotensi untuk diolah lanjut. Suku Dani membuka hutan menjadi ladang pertanian.
Pembukaan hutan menjadi ladang dan penjagaan keamanannya adalah tugas laki-laki
Dani. Sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman yang lebih memerlukan
kepekaan perasaan terhadap alam menjadi tugas kaum wanita. Pembagian tugas ini
terjadi pula dalam permukiman mereka. Tugas membuka hutan menjadi permukiman,
membangun rumah, dan menjaga ketentramarmya adalah tugas laki-laki. Memelihara
hunian seisinya, termasuk menumbuh kembangkan generasi penerus adalah tugas
kaum wanita (Kebudayaan Papua, 2008).
Suku Dani tinggal dalam kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan
dalam sebuah usilimo/sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki
kedekatan hubungan kekerabatan. Kelompok sili yang terbentuk karena hubungan
darah atau yang terbentuk atas dasar persatuan teritorial dan politik membentuk suatu
kampung. Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Suku didampingi panglima
perang. Pentinya kedudukan panglima perang _ dalam struktur kehidupan masyarakat
Dani menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai
gangguan atas ketentraman yang mereka bina dalam lingkungannya. Hal ini terjadi
karma orang Dani tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi.
Gangguan itu bisa datang dari binatang buas, bencana alam, atau kelompok manusia
lain. Perang (win abiyokoi) merupakan salah satu wujud tingginya tingkat
kewaspadaan masyarakat hutan Baliem terhadap norma-norma adat suatu suku oleh
kelompok lain. Penghargaan yang tinggi terhadap panglima perang yang sudah
meninggal dan dipandang berjasa besar, diwujudkan dengan mengawetkan jasad
mereka dalam bentuk Mumi.
Usilimo/sili merupakan zona inti pemukiman Dani, yang dihuni oleh sebuah
keluarga. Usilimo terbentuk dari hutan yang sudah dibuka, diolah dan ditata menurut
jalinan potensi alam dan sosial budaya lokal. Tidak sembarang orang dapat memasuki

13
zona ini. Ini terlihat dari pagar kayu rapat berketinggian 8-12 m yang mengelilmgi
usilimo (disebut leget). Satu-satunya pintu masuk, adalah mokarai. Mokarai
berhadapan langsung dengan honei (rumah) kepala keluarga. Aktivitas berhuni
banyak dilakukan didalam sili. Seperti halnya dalam kegiatan berladang, pembukaan
hutan menjadi sili, membangun ruman (honei) dan fasilitas lainnya serta
penjagaannya dilakukan oleh kaum pria. Kegiatan domestik dan hubungan intern
keluarga yang menyangkut kegiatan penumbuh kembangkan generasi, banyak
dilakukan kaum ibu yang notabene lebih memiliki kepekaan perasaan dibandingkan
kaum pria. Tampaknya leget sebagai penanda fisik yang sangat tegas dan kuat pada
usilimo juga merupakan salah satu bentuk kewaspadaan suku Dani terhadap
gangguan pihak asing atas ketentraman seluruh anggota keluarga. Meskipun sehari-
hari para wanita bekerja diladang diluar batas usilimo, tetapi mereka masih dalam
lingkup penjagaan prajurit-prajurit Dani.
Setiap sili/usilimo dari beberapa kelompok honei yaitu honei laki-laki (pilamo),
honei wanita (ebe-ae/enai), dapur (hunila/hunu) dan kandang babi (wam dabula).
Honei berasal dari kata hun yang berarti laki-laki dewasa dan ai yang berarti rumah
Honei adalah sebutan umum untuk rumah. Sangat boleh jadi penyebutan dengan
mengetengahkan unsur "laki-laki dewasa" itu menunjukkan unsur "kepemilikan" atau
"kepala keluarga". Untuk mempertegas eksistensi laki-laki sebagai kepala keluarga,
benda-benda berharga termasuk harta benda dan pusaka turun temurun (misalnya
jimat/kaneje, kalung, untaian kerang/jetak eken atau walimo eken, dan mikhak)
disimpan didalam pilamo. Kadang-kadang babi pun dimasukan dalam pilamo karena
babi juga merupakan harta berharga perlambangan status sosial dan simbol yang
dipakai dalam upacara adat.
Rumah wanita (biasanya dihuni oleh seorang ibu, anak-anak dan kerabat
wanitanya) disebut abe-ae atau ebai. "Ebe" artinya tubuh dalam arti hadir, tetapi juga
bermakna utama, pusat atau sentral. Diruang pusat atau utama inilah awal mula
proses kehadiran atau kelahiran serta penumbuh kembangan generasi penerus suku
Dani. Bentuk perhatian dan kasih sayang demi terbentuknya generasi penerus yang

14
mempunyai arti penting. Salah satu dituangkan dalam mitos yang menyebutkan
bahwa hubungan suami-isteri tabu dilakukan oleh ibu yang sedang hamil menyusui
dan yang sedang mengasuh anak balita (dibawah tiga tahun). Diatas usia 3 tahun,
seorang anak sudah lebih mandiri sehingga ibu bisa membagi perhatiannya pada anak
yang lahir berikutnya. Terhalang oleh mitos yang kontradiksi dengan kebutuhan laki-
laki Dani akan kelembutan wanita, maka diperbolehkan seorang laki-laki memiliki
isteri lebih dari satu. Isteri-isteri itu hidup bersama dalam sebuah sili, namun dalam
ebe-ae yang berbeda. Berbeda dengan honei yang berdenah lingkaran, hunila (dapur)
dan wam dabula (kandang babi) berdenah persegi panjang. Letak hunila berdekatan
dengan ebae-ae. Didalamnya terdapat beberapa tungku, masing-masing tungku untuk
seorang ibu.
Demi keamanan harta keluarga, wam dabula terletak di dekat pilamo. Daging
babi, minyak dan bagian-bagian tubuh tertentu (misalnya telinga dan ekor)
dipergunakan untuk upacara dan pesta adat. Tulang rahang babi biasanya digantung
didalam pilamo sebagai penanda status sosial. Jumlah babi menunjukkan tingkat
kekayaan keluarga, babi dipergunakan sebagai maskawin. Halaman tengah sili
(hikno) merupakan ruang berkumpul. Pesta dan upacara adat seperti kematian dan
kremasi jenazah, upacara kelahiran, perayaan kemenangan, dan sebagainya dilakukan
disini. Upacara adat biasanya diikuti bakar batu yaitu membakar babi dan bahan
makanan lain untuk disantap bersama. Tata susunan sili menunjukkan harmoni
hubungan sosial masyarakat didalamnya terdapat upaya mengelola lingkungan makro
yang berhubungan dengan hutan rimba Baliem hingga lingkungan mikro keluarga.
Perubahan ladang menjadi lahan budidaya padi dan kopi menggeser aktivitas suku
Dani dari hutan ke ladang, dari sistem ekonomi subsistem ke sistem ekonomi modem.
Kini suku Dani cenderung hidup menetap disuatu tempat dengan lingkungan
keamanan yang lebih kondusif. Pergeseran ruang aktivitas ini jarang dibarengi
pembahan perilaku. Yang muncul selanjutnya adalah ketidakseimbangan peran laki-
laki dan wanita sehingga wanitalah yang tampak sibuk diladang (Kebudayaan Papua,
2008)

15
Pembahan aktivitas masyarakat Dani, kini membuka pula sekat-sekat ruang
tradisional yang memberi peluang pada pembahan sosio-kultural. Pandangan
modernisme yang berupaya memberadabkan keprimitifan suku Dani seingkali tidak
disertai penanganan menyeluruh. Pembakaran kaneke, jimat/ dan benda-benda
keramat lain serta rekontekstualisasi wim abiyokoi menjadi sekedar atraksi eksotis
bagi wisatawan dan peneliti. Kini hanya suku Dani Lembah yang masih bertahan
dalam tradisi mereka, karena kepercayaan bahwa merekalah yang menjadi cikal bakal
suku Dani dan diberi amanah nenek moyang untuk bertahan dalam tradisi. Sementara
generasi muda Dani dikelompok lain sudah tidak banyak lagi yang memahami nilai
luhur budayanya.
Batas teritorial suku Dani terbagi atas tiga wilayah. Daerah terluar adalah hutan
dibawah "kewenangan pengelolaan" suku Dani. Dalam masyarakat Dani, kaum laki-
lakilah yang banyak berhubungan dengan keliaran rimba Balierm. Norma-norma adat
yang mengatur pengelolaan hutan diwilayah ini misalnya, aturan mengenai binatang
yang boleh diburu, kayu yang boleh ditebang untuk membuat rumah, larangan
membuang sampah dan kotoran apapun di sungai, dan bagian hutan yang boleh
dibuka untuk permukiman dan perladangan baru, biasanya dituangkan dalam bentuk
mitos yang dikaitkan dengan hal mistik. Pelanggaran atas zona pengelolaan oleh
pihak asing akan dihadapi oleh laki-laki Dani sehingga mengakibatkan perang suku.
Batas pengelolaan kedua adalah ladang. Pembukaan hutan menjadi ladang
(pembahan hutan liar menjadi lingkungan yang diolah potensinya) adalah tugas kaum
pria. Apabila ladang sudah siap ditanami, maka kaum wanita Danilah yang menanam
bibit tanaman.) Tanaman yang biasa ditanam seperti, hipere (ubi) dan talas.
Selanjutnya wanita Dani pula yang memelihara tanaman di ladang hingga dapat
dipetik hasilnya. Saat ini sayur-mayur banyak ditanam di ladang. Hasilnya sebagian
dijual para wanita ke pasar. Pada awalnya kegiatan ini tidak berorientasi pada
keuntungan ekonomis, melainkan untuk kepentingan sosialisasi saja. Biasanya hasil
ladang ditukar dengan babi. Suku Dani adalah masyarakat subsistem yang
menggantungkan kehidupannya pada kekayaan yang diberikan alam sekitarnya.

16
Kegiatan jual beli hasil ladang merupakan kegiatan baru bagi masyarakat Dani. Di
daerah ini masih banyak orang yang mengenakan "koteka" (penutup penis) yang
terbuat dari kunden kuning dan para wanita menggunakan pakaian "wah", yang
berasal dari rumput/serat dan tinggal di honai-honai (gubuk yang beratapkan
jerami/lalang). Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku masih terjadi
(walaupun tidak sebesar waktu lampau), walaupun orang Asmat-Dani telah menerima
agama Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama
yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap "
Rekwasi".
Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian, dan persembahan
terhadap nenek moyang. Upacara peperangan dan permusuhan biasanya melintasi
daerah perbatasan, wanita, pencurian babi, dan masalah kedi lainnya.
Para prajurit memberi tanda terhadap mereka sendiri dengan babi lemak, Kerang,
Bulu-bulu, Kus-kus, Sagu rekat, getah dari pohon Mangga dan Bunga-bungaan,
mempersenjatai diri dengan Tombak, Busur, dan anak panah. Didalam masyarakat
suku Dani jika salah seorang menjadi manusia buangan karena melanggar tabu ia
biasanya dihina/ diejek oleh warga lain pada pertemuan adat, dan ia harus membayar
denda. Orang Asmat-Dani jika bekerja diladang atau pergi berburu, mereka bernyanyi
ekspresi heroic atau kisah menyedihkan. Alunan suara dari lagu itu mendorong
semangat orang Asmat-Dani dalam bekerja. Alat-alat musik yang mengiringi lagu
disebut "Pikon". Sepanjang perjalanan berburu, Pikon diselipkan kedalam lubang
yang besar di kuping telinga mereka. Dengan Pikon tanda isyarat dapat dikirim
dengan berbagai suara yang berbeda selam berburu untuk memberi isyarat kepada
teman atau lawan di dalam hutan. Suara Pikon, hanya dapat dikenal didalam suku
orang Asmat-Dani sendiri. Patung "Hukumiarek" dijadikan sebagai patung
perdamaian. Hukumiarek adalah nama salah satu Kepala Suku di Wamena yang
menjadi korban akibat perang suku. Patung ini dibangun untuk mengingatkan kepada
masyarakat Wamena agar tidak- terjadi lagi perang antara sesama suku serta
memohon untuk senantiasa menjaga dan memelihara perdamaian.

17
2. Suku Arfak

a. Nama dan Bahasa


Suku Arfak mendiami bagian timur kepala burung Papua, yaitu pedalaman
kota Manokwari. Orang Arfak terdiri dari empat sub suku yaitu suku Meyakh,
Hatam, Moile, dan Sough. Bahasa keempat suku tersebut sangat berbeda
termasuk dalam dua golongan bahasa yang berbeda yaitu, Bahasa Hatam dan
Moile termasuk fila kepala burung bagian barat sedang bahasa Meyach dan Sough
termasuk fila kepala burung bagian timur.
b. Lokasi
Pegunungan Arfak merupakan daerah persebaran orang-orang Arfak.
Pegunungan ini terleak di Kabupaten Manokwari yang adalah salah satu
Kabupaten di wilayah Kepala Burung Provinsi Papua Barat. Kawasan
pegunungan ini secara geografis membentang antara 01’29 LS dan 133 53’
sampai 134 15’ BT (Kabupaten Manokwari dalam Angka, 2005:2). Orang Arfak
mendiami daerah sekitar kabupaten Manokwari lembah-lembah serta lereng-
lereng pegunungan Arfak yaitu distrik Anggi Minyambouw, Sururei, Masni,
Warmare, Ransiki, Oransbari, Tanah Rubuh, Manokwari Timur, Manokwari
Barat, Manokwari Selatan, dan Kabupaten Teluk Bintuni. Saat ini secara
administrative Manokwari telah terbagi lagi atas dua kabupaten yaitu : Kabupaten
Pegunungan Arfak dan Manokwari Selatan.
c. Sistem Mata Pencaharian Hidup
Orang Arfak mempunyai sistem mata pencaharian utama adalah beratni
dengan pola perladangan berpindah-pindah (slah and burn agriculture). Kebun
mereka dibiarkan mereka anggap subur. Kecuali itu juga mereka berusaha
memperluas lahan yang berada dalam hak ulayat, ke tanah yang mereka ketahui
masih kosong. Mereka akan kembali bercocok tanam dilokasi semula apabila
pohon-pohon yang terdapat di dalam lahan hutan sekunder telah mencapai tinggi
kurang lebih 10-15 meter. Tanah ladang yang dianggap oleh keluarga pada

18
umumnya berada disuatu bagian dari tanah luas yang berdasarkan ketentuan
hukum adat berada di bawah hak ulayat klen yang bersangkutan. Dalam
melaksanakan aktivitas bercocok tanam orang Arfak telah mengenal sistem
pembagian kerja yang umumnya didasarkan atas berat ringannya suatu pekerjaan
yang dapat dilaksanakan. Pekerjaan yang dilakukan oleh pria adalah
membersihkan semak belukar, menebang pohon besar dan kecil lalu membakar
dan membuat pagar. Pekerjaan wanita adalah memilih bibit untuk ditanam,
membuat persemian, menanam, memelihara tanaman dan panen. Anak-anak
biasanya membantu ibu dalam melaksanakan pekerjaannya. Dalam melaksanakan
aktivitas bercocok tanam orang Arfak menggunakan peralatan seperti kapak,
parang, cangkul, dan garu yang diperkenalkan oleh para penyuluh pertanian
kepada mereka. Sebelum mengenal peralatan tersebut orang Arfak menggunakan
tugal yang disebut mu’gha untuk menanam. Jenis tanaman yang ditanam adalah
ubi jalar, keladi dan berbagai jenis sayur-sayuran terutama bayam. Sekarang
mereka juga telah menanam berbagai jenis tanaman yang berasal dari luar Papua
seperti kentang, bawang, wortel, kubis, buncis, sawi dan seledri.
Berburu hanya merupakan mata pencaharian sampingan yang dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan akan protein hewani. Jenis hewan yang biasanya diburu
adalah babi hutan, tikus tanah, kuskus dan kangguru pohon. Alat yang digunakan
dalam berburu adalah busur dan panah yang terbuat dari bamboo dan nibung yang
telah tua serta gelegah. Aktivitas ini hanya dilakukan oleh kaum pria. Mata
pencaharian lain yang juga mereka lakukan adalah menangkap ikan di tepi danau
Anggi. Sebelum mereka mengenal kail dan nilon, alat yang digunakan adalah
anghrom, satu alat yang terbuat dari serat akar pohon pandan, dengan
menggunakan cacing yang diikatkan di ujung tali itu sebagai umpan. Selain
anghrom alat tradisional lainnya yang digunakan adalah iboisi, yaitu alat yang
terbuat dari kayu atau nibon yang berlubang.
Suku Arfak terdiri dari 4 sub suku antara lain:

19
1) Suku Hatam.
2) Suku Moilei.
3) Suku Meihag.
4) Suku Sohug.

Setiap suku ada Kepala Sukunya, dalam satu suku terdapat beraneka ragam
marga, misalnya Suku Moilei, ada marga Kowi, Saiba, Mandacan, Sayori, Ullo,
Ayok, Indow, Wonggor dan masih banyak marga lainnya. 5 suku 5 Bahasa artinya
bahwa setiap suku terdapat 1 bahasa dan budaya yang berbeda-beda.

3. Suku Ekagi
a. Lokasi Suku Ekagi
Orang Ekagi yang diperkirakan berjumlah sekitar 100.000 orang menghuni bagian barat
pegunungan pusat. Ciri khas daerah kediaman mereka adalah tiga danau besar. Sehubungan
dengan ketiga danau itu maka penduduk dibagi-bagi sebagai penduduk Danau Paniai,
penduduk Danau Tage, dan penduduk Danau Tigi, yang meliputi Juga penduduk dataran
Kamu dm daerah Mapia.
b. Kehidupan Sehari-hari
Orang Ekagi berperawakan kecil (pygmoid) dan rumah- rumah mereka sangat sederhana.
Rumah mereka berupa pondok-pondok berukuran 3,5 x 3,5 meter dengan atap daun- daunan,
ranting-ranting atau kulit kayu. Di dalam rumah itu ada lantai terbuat dari batang kayu yang
kecil. Sekeliling tungku api yang terdapat di tengah - tengah ruangan rumah itu berlangsunglah
kehidupan mereka. Rumah kediaman yang sederhana ini bukanlah tempat tinggal suatu suku
bangsa yang miskin dan terbelakang, yang hanya menunggu saat kepunahan. Yang
mengherankan justru didalam dan di dekat rumah itu kita menemukan orang yang tahu baik
sekali membangun dunia mereka yang kecil itu berdasarkan kebun-kebun, wanita-wanita dan
uang siput. Orang Ekagi sangat kaya dengan ikatan-ikatin sosial dan ekonomi.

20
Kebutuhan kami akan makanan, begitu kata orang Ekagi, kami penuhi melalui
"jalan atas" dan secara kuantitatif dengan penghasilan kebun, tetapi secara kualitatif
dengan daging, yang diperoleh melalui perburuan binatang-binatang liar yang kecil
dan beternak babi. Pengurusan kepentingan ini menimbulkan pembagian kerja di
antara jenis kelamin. Tanah perkebunan diperoleh wanita biasanya dari suaminya,
terkadang dari saudaranya. Kaum pria harus membuat pagar sekeliling dan menggali
parit; kaum wanita membuat pematang, mengurus pupuk, menanam, menyiangi
rumput dan menggali ubi- ubian. Urusan beternak babi ditangani kaum wanita tetapi
soal menjualnya adalah pekerjaan kaum pria. Melaksanakan tugas sehari-hari dengan
baik merupakan kebanggaan tersendiri bagi kedua jenis kelamin. Kaum pria
mengetahui bahwa berladang merupakan pekerjaan yang kurang bernilai, padahal
kaum wanita menyadari baik sekali, bahwa makanan untuk manusia dan hewan
bergantung pada tetesan keringatnya. Kaum pria dapat membanggakan diri sebagai
pemilik tanah, tenaga kerja dan penghasilan, tetapi kaum wanita berani menghujani
kaum maki-makian dan ejekan bila ternyata mereka lalai, malas, dan tidak becus
melaksanakan tugas mereka. Demikian pula pembagian makanan di dalam keluarga
dan di dalam lingkungan kaum kerabat memperlihatkan, bagaimana hubungan antara
pria dan wanita. Menjelang malam hari suami mengumpulkan kayu bakar, baik untuk
rumah kediaman keluarganya maupun untuk tempat tinggal, kaum pria berkumpul.
Pada waktu yang sama isteri kembali dari kebun membawa ubi-ubian dan sayuran.
Semuanya ini harus disiapkannya untuk makan malam anggota keluarganya dan
sebagian untuk makan pagi dan siang keesokan harinya. Begitu tiba di rumah dia
menyiapkan sesuatu untuk dirinya sendiri dahulu kemudian makanan untuk anggota
keluarganya. Setelah itu dia membagi-bagikan makanan itu, juga bagian yang belum
disiapkan dan dibawa suaminya ke rumah kediaman kaum pria. Sisa makan malam
itu disimpannya untuk besok pagi supaya dihidangkannya sebelum orang pergi ke
tempat kerja masing-masing sebagai bekal untuk siang hari. Daging dan ikan dibagi-
bagikan oleh mereka yang menghasilkannya.

21
Orang Ekagi membedakan kerja dan kegiatan roh/akal budi, yakni mereka
membedakan kerja tangan dan kerja rohani. Kerja, menurut pendapat kaum pria,
meskipun merupakan suatu yang mutlak harus dilakukan, sebenarnya dibawah
martabat pribadi mereka. Maka sebanyak mungkin mereka akan menyerahkan urusan
itu kepada kaum wanita. Tugas kaum pria terdiri atas memotong kayu untuk pagar kebun,
ramuan rumah dan perahu. Akan tetapi "pekerjaan" kaum pria adalah mengatur urusan-urusan,
urusan hukum atau urusan yang berkaitan dengan kepentingan politik di dalam lingkungan
pemukiman itu. Ada peristiwa-peristiwa pencurian, ada perkara wanita, ada dugaan tentang
magi hitam. Di dalam urusan inilah kaum pria menjalankan hak mereka, di sinilah dia berada di
dalam fungsinya. Maka harus ada kata-kata yang diucapkan, terkadang ditegaskan dengan apa
yang dinamakan tari kemarahan. Tidak munculnya seseorang pada kegiatan semacam itu bisa
merupakan tanda bahwa orang tersebut tidak merasa senang atau puas dengan kelakuan orang
terhadapnya. Namun perasaan hatinya tidak diucapkan dengan kata-kata yang terang.
Kebutuhan akan hubungan seksual, menurut orang Ekagi, dipuaskan melalui "jalan
bawah". Keinginan akan makanan dan hubungan seksual selalu "mengejar" setiap orang.
Keinginan seorang pria dibandingkan dengan rasa gatal, yang menang harus dipuaskan dan
keinginan seorang wanita tidak akan padam tanpa mengadakan hubungan dengan pria. Hawa
nafsu selalu dibangkitkan oleh roh-roh, yang disebutkan dengan nama masing-masing dan
merupakan manifestasi kekuatan yang misterius. Hawa nafsu itu dirangsang oleh bagian-
bagian erotik badan manusia, termasuk juga dubur. Oleh karena itu orang wanita patut
menutupi bagian dubur mereka dengan jala gendongan mereka. Anak-anak diajar supaya
duduk atau berbaring dengan sopan; kaum pria mandi bersama-sama dan begitu juga kaum
wanita. Pada umumnya pembicaraan mengenai seks diantara kaum pria biasa berterus terang
sedangkan kaum wanita lebih secara tersamar. Apabila seorang anak wanita mengalami haid
yang pertama kalinya, maka bersama beberapa orang kerabat wanita pergi mendiami sebuah
pondok, setelah di dalam pondok itu api yang lama diganti dengan api yang baru. Api
baru dan darah anak wanita itu menarik uang siput untuk ayahnya. Pematuhan
peraturan-peraturan yang didengar anak gadis itu pada kesempatan tersebut, akan
melindungi dia dari kemungkinan suaminya akan mati terlalu dini dan keluarga

22
suaminya akan mempersalahkan dia karena hal itu, Di dalam kaitan ini terutama
impiannya penting artinya, sebab dari mimpi Itulah dapat dibayangkan jalannya
perkawinannya di masa mendatang. Daun-daun yang berlumuran darah harus
disimpan baik-baik, supaya jangan sampai tersentuh oleh kerabat prianya.
Pengaturan perkawinan terletak di tangan orang tua yaitu di tangan orang tua
pemuda sejauh mereka bersedia mengumpulkan maskawin yang diminta. Dengan
sendirinya disini terbuka peluang untuk merundingkan dengan sopan tawaran dan
penolakan. Pada pihak pemuda itu, sekali pun pada mulanya dia mungkin bisa
memperlihatkan harta bendanya yang sudah berhasil dikumpulkannya, akhirnya toh
tidak dapat mengumpulkan jumlah yang diminta, maka dia akan cenderung menyerah
saja, terkadang sangat apatis, kepada keputusan orang tuanva. Tetapi bisa terjadi juga
bahwa si pemuda itu memakai kehamilan sebagai senjata untuk memenuhi
keinginannya. Seorang pemuda boleh menikah kalau "perutnya sudah kuat" dan
pemudi setelah dia mengenal haid. Tetapi orang tetap memperhatikan bahwa kawin
terlalu muda mengandung bahaya, bahwa si isteri belum bisa memikul tanggung
jawab untuk suatu rumah tangga. Pengakuan resmi suatu perkawinan meliputi
pertama-tama pembayaran maskawin. Hal ini menyangkut penawaran, pemilihan,
penukaran kulit kerang yang bernilai sama. Sesudah itu kadang kadang-kadang ada
perayaan antara suami dan isteri. Isteri memperoleh gaun baru dan menanggalkan
yang lama. Tindakan ini untuk mencegah roh-roh dari klennya mengikuti dia di
dalam lingkungan yang baru. Dia mendapat nasihat-nasihat dari kaum tua-tua supaya
"menjadi lantai rumah tanpa lubang" didalam rumah kediaman keluarga. Sekeliling
mereka seorang dukun menutupi lubang di tanah dengan potongan kayu. Perayaan itu
ditutup dengan bersama-sama makan seekor babi. Tetapi dengan itu, bagi seorang
Ekagi urusannya belum selesai secara tuntas. Maskawin baru memperoleh
imbalannya yang memadai dalam diri anak. Melalui anak itu si isteri memperoleh
posisi yang dapat diterima di dalam lingkungan kaum kerabat suaminya.
Kalau sudah menikah maka kerja sama dan hidup bersama merupakan tugas
sehari-hari. Suami menentukan tempat berkebun, ikut membuka kebun itu dan seperti

23
sudah dikatakan mengumpulkan bahan untuk membangun rumah, mencari dan
mengumpulkan sabut kulit kayu untuk keperluan membuat pakaian dan jala
gendongan serta membuat perahu. Sesuai dengan semakin banyaknya dia melaksanakan
tanggung jawabnya, dia pun membuat dirinya menjadi pemilik dan dia dapat
mengajukan tuntutan sendiri, supaya segala sesuatu melayani statusnya dan
kemauannya. Tetapi keduanya sama- sama berkeinginan menjadi kaya dan dengan
demikian menjadi orang yang terpandang. Suami ingin menjadi tonowi yaitu seorang
pengatur urusan-urusan yang tangguh, sementara itu si isteri ingin sekali mempunyai
suami semacam itu.
Kelahiran seorang anak harus berlangsung di atas tanah (dan rumah) ayah. Bapak
bersangkutan berdiri di belakang isterinya yang melahirkan. Dia dapat mempercepat
kelahiran itu dengan meloncat dari suatu ketinggian. Tetapi kalau ini tetap tidak
berhasil, maka dia akan menuntut isterinya supaya menyebutkan nama pasangannya
yang telah berzinah dengan dia. Pada waktu melahirkan ibu itu harus menutupi
duburnya dengan kakinya supaya anaknya jangan sampai lahir melalui jalan itu.
Pemotongan tali pusat membebaskan anak dari dunia roh-roh. Kemandulan suami atau isteri
diterima sebagai akibat pengaruh orang yang sudah meninggal, yang sendiri tetap mempunyai
anak. Kemandulan juga merupakan sesuatu paling berat, yang akan diatasi oleh parang orang
tua.
Di daerah sekeliling Danau Tage sepertiga keluaiga hidup secara poligami. Seorang Ekagi
baru memandang dirinya berhasil, apabila dia sudah mencapai status "tonowi". Penyakit dan
kematian (kecuali peristiwa perzinahan) jarang diterima sebagai hal yang disebabkan oleh
kesalahan sendiri. Orang lebih cepat berpikir tentang perbuatan roh-roh jahat atau orang-orang
sekampung yang berkemauan jahat dan praktek magi hitam. Oleh karena itu penyembuhannya
diminta dari dukun untuk membantu.

c. Pandangan Hidup
Orang Ekagi adalah peladang yang tahu mengubah apa yang diperolehnya dari tanahnya
yang sedikit itu, menjadi keuntungan yang langsung kelihatan melalui tindakannya sendiri.

24
Disamping dia sebagai suami, berdirilah isteri yang mengetahui bahwa suami mereka hanya
menjadi besar berkat pekerjaan mereka di kebun, berkat usaha mereka beternak babi dan
usaha mereka dalam membesarkan anak. Oleh karena suami mengetahui kelebihan isterinya
dan takut, bahwa kelebihan itu akan dapat membayangi pengaruhnya, maka setiap kali dia
bertindak berlebihan, apabila dia ingin memberlakukan posisinya yang lebih tinggi, sementara
isteri terus menerus membangun suatu permainan imbangan melalui kegiatannya
kecerdikannya, keluarganya, dan anak laki-lakinya. Mata pencaharian yang pertama dari
orang Ekagi adalah pedagang. Kehidupan dagang yang serba keras, usaha adat ini disebut
realitas, yang tulen, yang baka, yang menentukan kehidupan. Syarat-syarat yang selalu
ditetapkan dan kewajiban yang selalu hams dipatuhi merupakan undang-undang
yang abadi. Orang Ekagi berpendapat bahwa ada suatu makhluk asal yang
memanifestasikan dirinya di dalam gejala besar dunia yang kelihatan. Dalam hal ini
orang Ekagi berpikir tentang matahari dan memandang matahari sebagai wanita/
sebagai iibu asal. Tetapi ibu asal itu sendiri tidak efektif secara langsung. Dia baru
menjadi efektif melalui sinar yang dipancarkannya dan yang memberi kesuburan
kepada manusia/ hewan dan tumbuh- tumbuhan. Sinar itu merupakan anak prianya
(sebagai pria yang bertindak). Selanjutnya dia membayangi bumi ini sebagai ibu
yang memangku anaknya. Bumi sebagai ibu yang memangku segala sesuatu yang
bertumpu padanya. Tetapi sekali lagi ibu itu berdiri dilatar belakang ; anak laki-laki
itulah suami yang harus memberi bentuk kehidupan ibu di bumi ini. Ibu bumi
disaamakan atau dibandingkan dengan lantai sebuah rumah, yang di atasnya berdiri
tegak tiang utama yang menyangga atap. Maka mereka selalu mengatakan bahwa
ibu rumah tangga berdiri guna memberi status dan kesejahteraan kepada keluarga.
Lantai ini tidak boleh berlubang harus kuat dan dapat dipercaya.
Ada cerita mengenai seorang pemuda yang memanjat sebatang pohon yang
tinggi dan jauh di atas pohon itu menemukan seorang tua di dalam rumahnya. Orang
tua hidungnya ditusuki gigi taring babi yang melintang dari timur sampai ke barat.
Orang tua itu menawarkan kepada pemuda segala sesuatu yang baik yang terdapat di
dalam rumah tersebut. Tetapi waktu hendak berangkat pemuda itu malah mengambil

25
sebuah jala gendongan tertentu yang tergantung di dinding rumah itu. Padahal itulah
kantung yang berisi segala kemalangan dan semua hawa nafsu khususnya keinginan
untuk berzinah. Dengan jala gendongan inilah pemuda itu tiba di bumi. Orang tua itu
dihubungkan dengan bulan sama seperti ibu asal dikaitkan dengan matahari.
Pada umunya di antara roh-roh itu ada satu yang disebut namanya yang rupanya
diduga berpengaruh di dalam semua roh yang lain dan yang katanya tampil dan
bertindak di dalam bentuk gejala yang bersifat jantan maupun betina. Tokoh ini
namanya Teege. Makhluk ini mewakili kekuasaan yang mengganjar tetapi terutama
dipandang sebagai kekuasaan yang membalas dendam. Rasa iri hati tercantum pada
hidup orang Ekagi, sebab dia memiliki kemauan dan tenaga untuk bisa mencapai
puncak tonowi sendiri kalau saja dia kesempatan.

Selain suku-suku yang diatas masih banyak lagi suku-suku dan etnis yang ada di
papua antara lain:

1. Kabupaten Biak Numfor (1 Suku)

1) Suku Biak
2. Kabupaten Fak-fak (21 Suku)

1) Suku Arguni
2) SukuBaham
3) Suku Bedoanas
4) Suku Buruwai
5) Suku Erokwanas
6) Suku Iha
7) Suku Irarutu
8) Suku Kamberau
9) Suku Kamoro
10) Suku Karas

26
11) Suku Kowiai
12) Suku Mairasi
13) Suku Mor1
14) Suku Mer
15) Suku Nabi
16) Suku Nduga
17) Suku Onin
18) Suku Sekar
19) Suku Semimi
20) Suku Sempan
21) Suku Uruangnirin
3. Kabupaten Jayapura (85 Suku )

1) Suku Airoran
2) Suku Anus
3) Suku Awyi
4) Suku Baguasa
5) Suku Bapu
6) Suku Baso
7) Suku Bauzi
8) Suku Berik
9) Suku Betaf
10) Suku Biritai
11) Suku Bonerif
12) Suku Bonggo
13) Suku Burmeso
14) Suku Dabe
15) Suku Dabra
16) Suku Demta

27
17) Suku Dera
18) Suku Doutai
19) Suku Dubu
20) Suku Emumu
21) Suku Eritai
22) Suku Foau
23) Suku Foya
24) Kebudayaan Gresi
25) Suku Isirawa
26) Suku Itik
27) Suku Kai
28) Suku Kapitiauw
29) Suku Kapori
30) Suku Kaure
31) Suku Kauwerawek
32) Suku Kayu Pulau
33) Suku Keder
34) Suku Kemtuk
35) Suku Kwansu
36) Suku Kwerba
37) Suku Kwerisa
38) Suku Kwesten
39) Suku Liki
40) Suku Mander
41) Suku Manem
42) Suku Maremgi
43) Suku Masimasi
44) Suku Massep
45) Suku Mawes

28
46) Suku Mekwei
47) Suku Molof
48) Suku Morwap
49) Suku Nafri
50) Suku Narau
51) Suku Nimboran
52) Suku Nopuk
53) Suku Obukuitai
54) Suku Ormu
55) Suku Orya
56) Suku Papasena
57) Suku Pauwi
58) Suku Podena
59) Suku Samarokena
60) Suku Sangke
61) Suku Sause
62) Suku Senggi
63) Suku Sentani
64) Suku Sikaritai
65) Kebudayaan Sko
66) Suku Sobei
67) Suku Tabla
68) Suku Taikat
69) Suku Tarpia
70) Suku Taworta
71) Suku Tobati
72) Suku Tofanma
73) Suku Towei
74) Suku Turu

29
75) Suku Usku
76) Suku Waina
77) Suku Wakde
78) Suku Warembori
79) Suku Wares
80) Suku Waris
81) Suku Waritai
82) Suku Yafi
83) Suku Yamna
84) Suku Yarsun
85) Suku Yoki
4. Kabupaten Jayawijaya (27 Suku )

1) Suku Biksi
2) Suku Dani (Grand Valley)
3) Suku Dani (Western)
4) Suku Eipomek
5) Suku Hupla
6) Suku Kembra
7) Suku Ketengban
8) Suku Kimki
9) Suku Kimyal
10) Suku Kopka
11) Suku Kosare
12) Suku Lepki
13) Suku Momuna
14) Suku Mukim
15) Suku Narca
16) Suku Nduga

30
17) Suku Ngalum
18) Suku Nggem
19) Suku Nipsan
20) Suku Pyu
21) Suku Silimo
22) Suku Tofanma
23) Suku Una
24) Suku Walak
25) Suku Yale
26) Suku Yali
27) Suku Yetfa
5. Kabupaten Manokwari (19 Suku )

1) Suku Arandai
2) Suku Dusner
3) Suku Hatam
4) Suku Irarutu
5) Suku Kaburi
6) Suku Kemberano
7) Suku Maibrat
8) Suku Mantion
9) Suku Meoswar
10) Suku Mer
11) Suku Meyakh
12) Suku Moskona
13) Suku Mpur
14) Suku Nabi
15) Suku Ron
16) Suku Tanah Merah

31
17) Suku Tandia
18) Suku Wandamen
19) Suku Yeretuar
6. Kabupaten Merauke (42 Suku )

1) Suku Aghu
2) Suku Asmat (Causarian Coast)
3) Suku Asmat (Central)
4) Suku Asmat (North)
5) Suku Asmat (Yaosakor)
6) Suku Atohwaim
7) Suku Awyu
8) Suku Bian Marind
9) Suku Citak
10) Suku Iwur
11) Suku Kanum
12) Suku Kauwol
13) Suku Kayagar
14) Suku Kimaghama
15) Suku Kombai
16) Suku Koneraw
17) Suku Korowai
18) Suku Makleu
19) Suku Mandobo
20) Suku Marind
21) Suku Mombun
22) Suku Momuna
23) Suku Moraori
24) Suku Muyu (North)

32
25) Suku Muyu (South)
26) Suku Ndom
27) Suku Nduga
28) Suku Ninggerum
29) Suku Pisa
30) Suku Riantana
31) Suku Sawi
32) Suku Siagha-Yenimu
33) Suku Tamagario
34) Suku Tamnim
35) Suku Tsak Wambo
36) Suku Wambon
37) Suku Warkay-Bipim
38) Suku Yair
39) Suku Yaqhay
40) Suku Yelmek
41) Suku Yei
42) Suku Yonggom
7. Suku Paniai (21 Suku )

1) Suku Auye
2) Suku Damal
3) Suku Dani (Western)
4) Suku Dao
5) Suku Dem
6) Suku Duvle
7) Suku Edopi
8) Suku Ekari
9) Suku Fayu

33
10) Suku Iresim
11) Suku Kirikiri
12) Suku Moni
13) Suku Mor2
14) Suku Nduga
15) Suku Tarunggare
16) Suku Tause
17) Suku Turu
18) Suku Wano
19) Suku Waropen
20) Suku Wolani
21) Suku Yaur
8. Kabupaten Sorong (22 Suku )

1) Suku Abun
2) Suku As
3) Suku Amber
4) Suku Duriankere
5) Suku Gebe
6) Suku Kais
7) Suku Kalabra
8) Suku Karon Dori
9) Suku Kokoda
10) Suku Kawe
11) Suku Konda
12) Suku Legenyem
13) Suku Maybrat
14) Suku Matbat
15) Suku Moi

34
16) Suku Morait
17) Suku Puragi
18) Suku Salawati
19) Suku Seget
20) Suku Suabo
21) Suku Tehit
22) Suku Yahadian
9. Kabupaten Yapen Waropen (28 Suku )

1) Suku Ambai
2) Suku Ansus
3) Suku Awera
4) Suku Barapase
5) Suku Bauzi
6) Suku Burate
7) Suku Busami
8) Suku Demisa
9) Suku Kufei
10) Suku Kurudu
11) Suku Marau
12) Suku Munggumi
13) Suku Nisa
14) Suku Papama
15) Suku Pom
16) Suku Rasawa
17) Suku Saponi
18) Suku Sauri
19) Suku Saweru
20) Suku Serui laut

35
21) Suku Tause
22) Suku Tefaro
23) Suku Warembori
24) Suku Waropen
25) Suku Woi
26) Suku Woria
27) Suku Woriasi
28) Suku Yawa

D. Pemetaan Bahasa Di Papua


Secara umum penduduk Papua dapat dibagi dalam dua kelompok besar menurut
pembagian bahasa yang digunakan. Adapun dua bahasa itu adalah bahasa Austronesia
dan bahasa Non Austronesia. Bahasa-bahasa yang disebut pertama sering disebut juga
bahasa Papua. Dua bahasa ini merupakan bahasa induk yang didalamnya terdapat
bahasa-bahasa lokal yang terdapat di Papua. Jumlah bahasa-bahasa lokal di Papua
menurut hasil penelitian Summer Institute for Linguistic (SIL) pada tahun 1990,
berjumlah 250 (Mansoben, 1997). Bahasa berfungsi sebagai wahana komunikasi
antara warga kelompok dan juga digunakan sebagai simbol untuk menyatakan jati diri
kelompok tersebut kepada kelompok lain.

E. System Kepercayaan Orang Papua


Sebelum agama-agama besar seperti Kristen dan Islam masuk di Papua, tiap suku
bangsa mempunyai sistem kepercayaan tradisi. Setiap suku bangsa mempunyai
kepercayaan tradisi, yaitu percaya akan adanya satu dewa atau tuhan yang berkuasa
atas dewa-dewa. Misalnya pada orang Biak Numfor, dewa tertinggi “Manseren
Nanggi”, orang Moi menyebut “Fun Nah”, orang Seget menyebut “Naninggi”, orang
Wandamen menyebut “Syen Allah”. Sementara orang Marind-Anim menyebut

36
“Dema”, orang Asmat menyebut “Mbiwiriptsy”, dan orang Mee menyebut
“Ugatame”.
Semua dewa atau tuhan diakui dan dihormati karena dianggap dewa pencipta
yang mempunyai kekuasaan mutlak atas nasib kehidupan manusia, makhluk yang
tidak Nampak, juga dalam unsur alam tertentu (angin, hujan, petir, pohon besar,
sungai, pusaran air, dasar laut, tanjung tertentu). Kekuatan alam itu dibujuk untuk
melindungi manusia dengan pemberian sesaji dan upacara tertentu. Sistem
kepercayaan tradisi ini sudah tidak dilaksanakan secara intensif lagi sejak orang
Papua memeluk agama-agama Islam dan Kristen. Namun dalam menghadapi
persoalan-persoalan dasar yang menimpa kehidupan manusia seperti tertimpa
kecelakaan, sakit, dan mati, sehingga masih banyak orang Papua mencari jawabannya
melalui kepercayaan itu.

F. Kebudayaan Nabire
“Nabire” demikian sekarang disebut, adalah suatu wilayah Pemerintahan Kabupaten
yang terhampar di seputar “Leher Burung” pulau Papua. Kabupaten Nabire
merupakan bagian dari wilayah Provinsi Papua yang terletak pada bagian utara Pulau
Papua di tepi Teluk Cendrawasih dan Samudra Pasifik, serta secara astromis
kabupaten Nabire berada pada posisi antara 134º,35’ BT – 136,37’ BT dan 2º,25’ LS
– 4º,15’ LS. Kota ini memiliki luas wilayah 6.861,65 km2.

Kabupaten Nabire memiliki topografi yang bervariasi mulai dari dataran


rendah, bergelombang, berbukit dan bergunung. Wilayah datar ± 47 % dari luas
wilayah yang terhampar disepanjang wilayah pantai sedangkan wilayah perbukitan ±
53% yang meliputi wilayah pedalaman.

Berdasarkan perbedaan geomorfologis wilayah Kabupaten Nabire dapat


dikelompokkan menjadi 3 (tiga) Zona agrolosistem, yaitu :

37
1) Zone Dataran rendah dengan ketinggian ± 600 dpl.
2) Zone Ketinggian sedang ± 600 - 1500 dpl.
3) Zone Dataran tinggi ± yaitu di atas 1500 dpl.

Secara administratif, batas wilayah Kabupaten Nabire adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Perairan Laut Kabupaten Yapen


2. Sebelah Timur : Kabupaten Waropen, Paniai dan Dogiyai
3. Sebelah Selatan : Kabupaten Dogiyai
4. Sebelah Barat : Kabupaten Kaimana dan Teluk Wondama

Asal Nama Kota Nabire

1. Versi Suku Wate


Berdasarkan cerita dari suku wate, bahwa kata “Nabire” berasal dari kata “Nawi”
pada zaman dahulu dipertimbangkan dengan kondisi alam Nabire pada saat itu yang
banyak terdapat binatang jangkrik, terutama disepanjang kali Nabire. Lama kelamaan
kata “Nawi” mengalami perubahan penyebutan menjadi Nawire dan akhirnya
menjadi “Nabire”. Suku Wate yang terdiri dari suku yaitu Waray, Nomei, Raiki,
Tawamoni dan Wali yang menggunakan satu bahasa terdiri dari enam kampung dan
tiga distrik. Pada tahun 1958, Konstein Waray yang menjabat sebagai Kepala
Kampung Oyehe menyerahkan tempat/lokasi kepada Pemerintah.

2. Versi Suku Yerisyam


Menurut versi suku Yerisyam Nabire berasal dari kata “Navirei” yang artinya
daerah ketinggalan atau daerah yang ditinggalkan. Penyebutan Navirei muncul
sebagai nama suatu tempat pada saat diadakan pesta pendamaian ganti daerah antara
suku Hegure dan Yerisyam. Pengucapan Navirei kemudian berubah menjadi Nabire
yang secara resmi dipakai untuk membei nama daerah ini oleh Bupati pertama yaitu
Bapak A.K.B.P. Drs. Surojotanojo, SH (Alm). Versi lain suku ini bahwa Nabire

38
berasal dari Na Wyere yang artinya daerah kehilangan. Pengertian ini berkaitan
dengan terjadinya wabah penyakit yang menyerang penduduk setempat, sehingga
banyak yang meninggalkan Nabire kembali ke kampungnya dan Nabire menjadi sepi
lambat laun penyebutan Na Wyere menjadi Nabire.

3. Versi Suku Hegure


Versi dari suku ini bahwa Nabire berasal dari Inambre yang artinya pesisir pantai
yang ditumbuhi oleh tanaman jenis palem-palem seperti pohon sapu ijuk, pohon enau
hutan, pohon nibun dan jenis pohon lainnya. Akibat adanya hubungan/komunikasi
dengan suku-suku pendatang, lama kelamaan penyebutan Inambre berubah menjadi
Nabire.

4. Dalam Hubungannya dengan Penyelenggaraan Pemerintahan

Nabire dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan


saat ini merupakan kependekan dari kata-kata N-nyaman, A-Aman, B-bersih, I-indah,
R-ramah, E-elok yang mengandung makna bahwa ”Nabire” (nyaman, aman, bersih,
indah, ramah dan elok) tersebut merupakan suatu kondisi yang diharapkan dan
membutuhkan keterlibatan semua lapisan masyarakat untuk mewujudkannya.

Nabire memiliki banyak budaya, diantaranya ialah:

1. Tari tradisional

Papua memiliki berbagai macam tarian yang unik dan menarik, seperti tari
selamat datang yang merupakan tarian khas papua yang menggambarkan
kegembiraan hati para penduduk dalam menyabut para tamu terhormat yang datang
ke wilayah mereka. Tari ini memiliki gerakan yang menarik, dinamik dan dilakuakan
dengan semangat

39
Tari Yospan, tari ini merupakan kepanjangan dari yosim pancar ini adalah tarian
pergaulan yang sering dibawakan muda-mudi sebagai bentuk persahabatan.

2. Rumah Adat

Papua memiliki rumah adat yang sama di setiap kabupatennya, rumah adat ini
disebut Honai. Honai ini terbuat dari kayu dengan atapnya berbentuk kerucut yang
terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai mempunyai pintu yang
kecil dan tidak berjendela. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri
dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai
tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.

3. Pakaian Tradisional

Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat
itu memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa bentuk burung cendrawasih,
gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada
pergelangan kaki. Namun ada juga masyarakat suku pedalaman Papua yang hanya
menggunakan koteka dalam membalut tubuhnya.

4. Senjata Tradisional

Papua memiliki senjata tradisional yang digunakan untuk melawan musuh.


Seperti pisau belati papua yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulu
burung tersebut yang menghiasi pinggiran belati tersebut. Namun ada senjata lain
yang biasanya di gunakan yaitu busur dan panah serta lembing yang digunakan untuk
berburu.

5. Alat Musik Tradisional

Papua memiliki banyak alat musik tradisional salah satunya yaitu tifa. Tifa
merupakan salah satu alat musik pukul yang bentuknya hampir mirip dengan
gendang. Alat musik Tifa terbuat dari kayu yang mana pada bagian tengah kayu

40
tersebut dibuat lubang besar yang dibersihkan. Lalu diujung salah satu kayu tersebut
ditutup dengan mengunakan kulit rusa yang telah dikeringkan yang berfungsi agar
alat musik Tifa ini bisa menghasilkan suara yang indah dan bagus.

6. Kerajinan Tangan

Masyarakat papua biasanya membuat kerajinan tangan yang di buat dari bahan-
bahan yang tersedia dialam. Seperti kerajinan tas yang bernama Noken. Kerajinan ini
di buat dari kulit kayu yang di anyam, dan warna yang diguanakan berasal dari
pewarna alami akar tumbuhan dan buah-buahan. Noken ini biasa di gunakan dan di
bawah dengan menyangkutkan noken di atas kepala. Kerajinan ini hanya dibuat oleh
kaum wanita Papua mulai dari anak-anak hingga wanita lanjut usia.

7. Makanan Khas dari Nabire

Makanan khas dari nabire adalah sagu yang di buat jadi bubur atau yang dikenal
dengan nama papeda. Masyarakat Nabire biasanya menyantap papeda bersama kuah
kuning, yang terbuat dari ikan tongkol atau ikan mubara yang di bumbui kunyit dan
jeruk nipis.

Tanaman ubi jalar (petatas) dan keladi (kastela) merupakan makanan khas dari
Nabire, menjadi makanan khas berkualitas tinggi dan disajikan pada semua momen
acara besar atau kecil di daerah ini. Singkong juga merupakan makanan khas nabire
yang sangat diminati penduduknya.

8. Ciri khas Nabire

Satwa yang terdapat di Papua pada umumnya dan Nabire pada khususnya
memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang tidak terdapat di daerah lain di
Indonesia.

Berbagai jenis satwa baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi antara lain :

41
1. Berbagai jenis burung : cenderawasih, kaswari, merak, nuri, beo, mambruk, taun-
taun dan lain-lain.

2. Berbagai jenis reptil : buaya, soa-soa, ular kaki empat, kadal dan lain-lain.

3. Berbagai jenis binatang mamalia: rusa, kuskus, babi hutan, tikus tanah dan lain-
lain.

4. Berbagai jenis serangga: kupu-kupu, kumbang pohon dan lain-lain.

Batik Papua juga termasuk ciri khas dari Nabire. Yang membedakan batik papua
dengan batik yang ada di daerah lain di luar Papua ialah motif dan warna. Motif yang
terdapat pada batik papua biasanya berupa gambar Burung Cenderawasih, alat musik
Tifa dan Rumah Honai, serta warna batik papua lebih terang atau mencolok seperti
warna biru, merah dan kuning.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1) Nenek moyang orang Papua dan Aborgin yang kemungkinan besar berasal dari
satu keturunan meninggalkan Afrika sekitar 72.000 tahun yang lalu dan kedua
kelompok ini memisahkan diri sekitar 58.000 tahun yang lalu. Benua yang
dinamakan “Sahul" ini adalah gabungan benua Australia, Papua dan Tasmania
yang pernah ada dalam satu daratan sekitar 50.000 tahun lalu. Pada zaman es

42
diperkirakan sekitar 20.000-30.000 tahun yang lalu benua Australia dan pulau
Irian masih dalam satu daratan.

2) Sebelum agama-agama besar seperti Kristen dan Islam masuk di Papua, tiap suku
bangsa mempunyai sistem kepercayaan tradisi. Setiap suku bangsa mempunyai
kepercayaan tradisi, yaitu percaya akan adanya satu dewa atau tuhan yang
berkuasa atas dewa-dewa. Misalnya pada orang Biak Numfor, dewa tertinggi
“Manseren Nanggi”, orang Moi menyebut “Fun Nah”, orang Seget menyebut
“Naninggi”, orang Wandamen menyebut “Syen Allah”. Sementara orang Marind-
Anim menyebut “Dema”, orang Asmat menyebut “Mbiwiriptsy”, dan orang Mee
menyebut “Ugatame”.

DAFTAR PUSTAKA

Mentansan George. 2014. ETNOGRAFI PAPUA. Yogyakarta: Kepel Press

https://www.kompasiana.com/rrnoor/orang-papua-dan-aborigin-berasal-
dari-satu-nenek-moyang_57e314acfc22bd48095b8b4e

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Papua
https://skministry1202.wordpress.com/etnografi-papua/

43
https://sobari07.wordpress.com/suku-di-pulau-papua/

44