Anda di halaman 1dari 28

Proses terbentuknya alam semesta dan penghuninya menurut ilmu pengetahuab alam barat dan al-

Quran

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Ilmu Biologi Perspektif Islam

Ilmu pengetahuan (sains) adalah teori-teori yang dikumpulkan manusia melalui suatu
proses pengajian dan dapat diterima oleh rasio. Dalam pengumpulan data dan berbagai
observasi dan pengukuran pada gejala alamiyah itu dianalisis, kemudian diambil kesimpulan.
Inilah yang diberi istilah intizhar suatu kajian yang ada hubungannya dengan nazhar, yang
bunyi dan artinya dekat dengan nalar. Ciri khas dan sains natural, ialah disusun atas dasar
intizhar terhadap gejala-gejala alamiyah yang dapat di teliti ulang oleh orang lain, dan
merupakan hasil konsensus masyarakat ilmuan yang bersangkutan.

Bila ditelusuri ayat-ayat Alquran, akan dijumpai 854 kali kata „ilmu disebut dalam
berbagai bentuk dan arti. Antara lain sebagai proses pencapaian pengetahuan dan objek
pengetahuan. Semua ilmu pengetahuan kealaman berkembang secara induktif dan intizhar,
maka dengan semakin dewasanya sains natural itu sendini dan matematika, ia dapat
berkembang secara deduktif. Dengan matematika dapat dirumuskan model-model alam atau
gejala alamiyah yang sifat dan kelakuannya dapat dijabarkan secara matematis. Namun dari
sekian banyak model yang dapat direkayasa, hanya mereka yang konsekuensinya sesuai
dengan gejala alamiyah yang teramatilah yang dapat diterima oleh masyarakat ilmuan yang
bersangkutan.

Intizhar akan melahirkan teori-teori baru, kemudian menghasilkan teknologi sebagai


penerapan sains secara sistematis untuk mengubah/ rnempengaruhi alam rnateri di sekeliling
kita dalam suatu proses produktif ekonomis untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi
umat manusia. Teknologi pembuatan mesin, pembuatan obat-obatan, pembuatan beraneka
ragam bahan, termasuk bahan makanan, dan sebagainya adalah hasil penerapan ilmu fisika,
kimia, biologi, dan lain-lain ilmu kealaman yang sesuai.
Aya-ayat Alquran tidak satu pun yang menentang ilmu pengetahuan, tetapi sebaliknya
banyak ayat-ayat Alquran menghasung dan menekankan kepentingan ilmu pengetahuan.
Bahkan salah satu pembuktian tentang kebenaran Alquran adalah ilmu pengetahuan dan
berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak ayat-ayat Alquran
yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiyah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun
terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti: (a) Teori tentang
expanding universe (kosmos mengembang), QS: 51: 47), (b) Matahari adalah planet yang
bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan cahaya matahari. (QS: 10 5), Bumi bergerak
mengelilingi matahari ...(QS: 27: 88), (c) Zat hijau daun (klorofil) yang berperan dalam
mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses fotosintesis sehingga
menghasilkan energi (QS: 36: so). Bahkan, istilah Al-Quran al-syajar al-akhdhar (pohon yang
hijau) justru lebih tepat dan istilah klorofil (hijau daun), karena zat tersebut bukan hanya
terdapat dalam daun, tetapi di semua bagian pohon, dan (d) Bahwa manusia diciptakan dari
sebagian kecil sperma pria dan setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim
(QS:86: 6 dan 7; 96: 2).

Banyak lagi yang lain tidak mungkin dikemukakan satu persatu, sehingga tepat sekali
kesimpulan yang dikemukakan Dr. Murice Bucaille, bahwa tidak satu ayat pun dalam Alquran
yang bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah seorang tokoh pembaharuan dalam Islam, Muhammad Abduh mengatakan, Islam
adalah agama yang rasional, agama yang Sejalan dengan akal, bahkan agama didasarkan atas
akal. Pemikiran rasional merupakan dasar pertama dari dasar-dasar Islam yang lain. Pemikiran
rasional menurutnya adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. Iman, tidaklah sempurna,
kalau tidak didasarkan atas akal.

Alquran antara lain menganjurkan untuk mengamati alam raya, melakukan eksperimen
dan menggunakan akal untuk memahami fenomenanya, yang dalam hal ini ditemukan
persamaannya dengan para ilmuan, namun di lain segi terdapat pula perbedaan yang sangat
berarti antara pandangan atau penerapan keduanya. Dibalik alam raya ini ada Tuhan yang
wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia, dan bahwa tanda-tanda wujud-Nya itu akan
diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran
Alquran. Hal ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan bagaimana Alquran selalu
rnengaitkan perintah-perintah-Nya yang berhubungan dengan alam raya dengan perintah
pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan-Nya. Bahkan, ilmu dalam pengertian
yang umum sekalipun oleh wahyu pertama Alquran (iqra'), telah dikaitkan dengan bismi
rabbika. Ini memberi isyarat bahwa “ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, regional,

atau nasional, dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan lainnya‟.

Ilmu pada saat dikaitkan dengan bismi rabbika kata Prof. Dr. „Abdul Halim Mahmud,

syaikh Jami‟ Al-Azhar- menjadi “demi karena Tuhan Pemeliharamu, sehingga harus dapat
memberikan manfaat kepada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada
manusia secara umum. Ia harus membawa bahagia dan cahaya keseluruh penjuru dan
sepanjang masa.”

Di Italia pernah diadakan suatu permusyawaratan ilmiyah tentang cultural relations for
the future, yang kesimpulannya antara lain; Untuk menetralkan pengaruh tenologi yang
menghilangkan kepribadian, kita harus menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual.

Muhammad Iqbal, pernah mengungkapkan senada dengan pernyataan di atas, ketika ia


menyadari dampak negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Katanya; kemanusiaan saat ini
membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spritual atas alam raya, emansipasi spritual atas
individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi
masyarakat manusia atas dasar spiritual. Sungguhpun ungkapan ini lebih dahulu dan
pertemuan di Italia tersebut, namun tujuannya sama yakni pentingnya nilai-nilai agama untuk
pengendalian diri dan pengaruh negatif yang timbul dan teknologi dan perkembangan ilmu
pengetahuan.

Allah dalam ayat-ayat-Nya, disamping menggambarkan bahwa alam raya dan seluruh
isinya adalah intelligible, sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal dan daya fikir manusia, juga
rnenjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada dialam raya ini telah dimudahkan untuk
dimanfaatkan manusia. Dengan demikian, ayat ini dan ayat lain yang senada dengan ini,
memberi tekanan yang sama pada sasaran ganda: tafakkur yang menghasilkan sains, dan
tasykhir menghasilkan teknologi guna kemudahan dan kemanfantan manusia. Ini memberi
isyarat, bahwa Alquran membenarkan bahkan mewajibkan usaha-usaha pengembangan ilmu
dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk menusia serta memberi kemudahan bagi
mereka. "Tuhan menginginkan kemudahan untuk kamu dam tidak menginginkan kesukaran".
Dan Tuhan “tidak ingin menjadikan sedikit kesulitan pun untuk kamu." Ini berarti bahwa
segala produk perkembangan ilmu dan teknologi dibenarkan oleh Alquran, selama untuk
kemudahan dan kesejahteraan manusia itu sendiri.

Dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan, Ibnu al-Baitar (wafat 1248), ia meninggalkan


sebuah risalah tentang obat-obatan. Ibnu al- Awwan dan Sevilla, telah menulis buku yang
menguraikan 585 jenis tanam-tanaman, dan cara pembiakan, pengolahan, serta menguraikan
gejala-gejala penyakit tanaman lengkap dengan cara pemberantasannya.

Teori evolusi Darwin (1804-1872) yang dianggap sebagai penemuan terbesar dan
mengagumkan, padahal „Abdu al-Rahman Ibn Khaldun (1532-1406), lima abad sebelum
Darwin, telah menulis dalam bukunya tentang hal yang sama. Apa yang telah penulis
kemukakan merupakan bukti sikap positif Islam terhadap ilmu pengetahuan. Umat Islam
adalah yang pertama menyatukan seluruh ilrnu pengetahuan warisan kemanusiaan, kemudian
dikembangkan dengan menambah berbagai unsur yang kelak menjadi benih-benih ilmu
pengetahuan moderan seperti aljabar, penemuan lensa tentang cahaya kimia, dan menciptakan
berbagai instrumen teknis seperti alembic (al-anbiq) untuk distilasi parfum. Oleh karena itu
tidak benar penilaian subyektif beberapa sarjana Barat bahwa kaum muslim dahulu
kurang/kekurangan kreatifitas dan orisinalitas dalam ilrnu pengetahuan. Memang diakui
sumbangan kekayaan falsafah Yunani juga dan yang lain, namun dalam ilmu pengetahuan
empiriklah Islam memberikan kontribusi yang amat menentukan.

B. Perkembangan Ilmu Fisika Perspektif Islam

Kaum muslimin meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan berasal dari Allah. dan Al-
Qur'an merupakan Kalamullah.Pengetahuan tentang zat, energi, ruang waktu dan interaksi
benda-benda di alam ini sering disebut dengan fisika.
Untuk ilusterasi ada 3 contoh disini :
1. Teori bahwa bumilah yang pusat tata surya (geosentris), bahkan alam semesta , karena di Al
Qur'an tidak pernah menyebutkan ada ayat menyatakan bumi beredar, tetapi matahari,
bulan, dan bintanglah yg beredar (QS 13:2, 14:33). Teori ini bahkan didukung seorang
syeikh terkemuka dari Arab Saudi, yg memfatwakan bahwa percaya kepada teori
heliosentris bisa menjerumuskan pada kemusrikan.

2. Teori bahwa besi magnet dapat digunakan sebagai pembangkit energi yg tak ada habisnya,
dengan dalil QS 57:25 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan besi yg di dalamnya
terdapat kekuatan yang hebat, yang ia tafsirkan sebagai energi.

3. Teori 7 lapis atmosfir, karena dikatakan hujan turun dari langit QS 35:27 sedangkan Allah
menciptakan tujuh langit QS 41:12, sehingga hujan itu terjadi pada lapis langit pertama.

Dengan melihat teori dan klaim tersebut, sepertinya mereka mengulang apa yg pernah
dilakukan kaum mutakalimin (Pencipta filsafat) di amsa lalu, yg mencari-cari suatu
kesimpulan hanya berdasarkan asumsi, sekalipun asumsi itu berasal dari suatu ayat Qur'an yg
ditafsirkan secara subyektif.Tentu saja, cara berpikir mutakalimin seperti ini tidak pernah
menghasilkan terobosan ilmiah yang hakiki, apalagidapat dipakai untuk keperluan praktis.

Para fisikawan muslim pada masa keemasan Islam adalah orang-orang yang dididik
dari awal dengan aqidah Islam,rata2 mereka hapal Qur'an sebelum baligh.Mereka sagat
memahami bahwa alam memiliki hukum-hukumnya yang obyektif, yang dapat terungkap
sendiri pada mereka yag sabar melakukan pengamatan dan penelitian dengan sangat cermat.

Ibnu Al-Haytsam (al-Hazen) adalah pioner modern ketika menerbitkan bukunya pada
tahun 1021 M.Dia menemukan bahwa proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata, bukan
karena sorot mata sebagaimana diyakini orang sejak zaman Aristoteles.Dalam kitabnya Al-
Haytsam menunjukkan berbagai cara untuk membuat teropong dan juga kamera sederhana
(Camera obscura).

Perlu diketahui bahwa al-haytsam melakukan eksperimen optiknya pada saat ia


mengalami tahanan rumah, setelah gagal memenuhi tugas Amir Mesir untuk mewujudkan
proyek bendungan sungai Nil.Dia baru dilepas setelah penemuan optiknya dinilai impas untuk
investasi yg telah dikeluarkan sang Amir.

Ibn al-Haytsam juga memulai suatu tradisi metode ilmiah untuk menguji sebuah
hipotesis, 600 tahun mendahului Rene Descartes yg dianggap bapak metode ilmiah eropa di
zaman rennaisance.Metode ilmiah Ibn al-haytsam dimulai dari pengamatan empiris,
perumusan masalah, formulasi hipotesisi,uji hipotesis,dgn eksperimen,analisis hasil
eksperimen,interprestasi data dan formulasi kesimpulan, dan diakhiri dengan publikasi.

Publikasi kemudaian dinilai dengan peer-review yg memungkinkan setiap orang


melacakdan bila perlu mengulangiapa yg dikerjakan seorang peneliti.Proses peer review telah
mjd tradisi dalam dunia medis sejak Ishaq bin Ali al Rahwi (854-931 M) Ibnu Sina atau
Avecenna (980-1037 M) setuju bahwa kecepatan cahaya pasti terbatas.Abu Rayhan al-Biruni
(973-1048) juga menemukan bahwa cahaya jauh lebih cepat dari suara. Qutubuddin al-Syirazi
(1236-1320) dan Kamaluddin al-Farisi (1260-1320) memberi penjelasan pertama yang benar
pada fenomena pelangi.

”Fisikawan terbesar sepanjang sejarah.” Begitulah Charles C Jilispe, editor Dictionary


of Scientyfic Bibliography menjuluki saintis Muslim, al-Khazini. Para sejarawan sains
menempatkan saintis kelahiran Bizantium alias Yunani itu dalam posisi yang sangat terhormat.
Betapa tidak, ilmuwan Muslim yang berjaya di abad ke-12 M – tepatnya 1115-1130 M – itu
telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan sains modern, terutama dalam
fisika dan astronomi. al-Khazini merupakan saintis Muslim serbabisa yang menguasai
astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika serta filsafat.
Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman. al-Khazini
merupakan ilmuwan yang mencetuskan beragam teori penting dalam sains seperti: metode
ilmiah eksperimental dalam mekanik; energi potensial gravitasi; perbedaan daya, masa dan
berat; serta jarak gravitasi.
“Teori keseimbangan hidrostatis yang dicetuskannya telah mendorong penciptaan
peralatan ilmiah. al-Khazini adalah salah seorang saintis terbesar sepanjang masa,” ungkap
Robert E Hall (1973) dalam tulisannya berjudul ”al-Khazini” yang dimuat dalam A Dictionary
of Scientific Biography Volume VII.
Sejatinya, al-Khazini bernama lengkap Abdurrahman al-Khazini. Menurut Irving M
Klotz, dalam tulisannya bertajuk “Multicultural Perspectives in Science Education: One
Prescription for Failure”, sang ilmuwan hidup di abad ke-12 M. ”Dia berasal dari Bizantium
atau Yunani,” tutur Klotz. al-Khazini menjadi budak Dinasti Seljuk Turki, setelah kerajaan
Islam itu menaklukkan wilayah kekuasaan Kaisar Konstantinopel, Romanus IV Diogenes.
Al-Khazini kemudian dibawa ke Merv, sebuah metropolitan terkemuka pada Abad ke-
12 M. Merv berada di Persia dan kini Turkmenistan. Sebagai seorang budak, nasib al-Khazini
sungguh beruntung. Oleh tuannya yang bernama al-Khazin, ia diberi pendidikan sang sangat
baik. Ia diajarkan matematika dan filsafat.
Tak cuma itu, al-Khazini juga dikirimkan untuk belajar pada seorang ilmuwan dan
penyair agung dari Persia bernama Omar Khayyam. Dari sang guru, dia mempelajari sastra,
metematika, astronomi dan filsafat. Menurut Boris Rosenfeld (1994) dalam bukunya “Abu’l-
Fath Abd al-Rahman al-Khazini, saat itu Omar Khayyam juga menetap di kota Merv.Berbekal
otak yang encer, al-Khazini pun kemudian menjelma menjadi seorang ilmuwan berpengaruh.
Ia menjadi seorang matematikus terpandang yang langsung berada di bawah perlindungan,
Sultan Ahmed Sanjar, penguasa Dinasti Seljuk. Sayangnya, kisah dan perjalanan hidup al-
Khazini tak banyak terekam dalam buku-buku sejarah.
Salah Zaimeche PhD (2005) dalam bukunya berjudul Merv menuturkan, al-Khazini
adalah seorang ilmuwan yang bersahaja. Meski kepandaiannya sangat dikagumi dan
berpengaruh, ia tak silau dengan kekayaan. Menurut Zaimeche, al-Khazini sempat menolak
dan mengembalikan hadiah sebesar 1.000 keping emas (dinar) dari seorang istri Emir Seljuk.
”Ia hanya merasa cukup dengan uang tiga dinar dalam setahun,” papar Zaimeche.
Para sejarawan sains mengungkapkan, pemikiran-pemikiran al-Khazini sangat
dipengaruhi oleh sejumlah ilmuwan besar seperti Aristoteles, Archimedes, Al-Quhi, Ibnu
Haitham atau Alhacen, al-Biruni serta Omar Khayyam. Selain itu, pemikiran al-Khazini juga
sangat berpengaruh bagi pengembangan sains di dunia Barat dan Islam. Salah satu ilmuwan
Barat yang banyak terpengaruh al-Khazini adalah Gregory Choniades – astronom Yunani yang
meninggal pada abad ke-13 M.
1. Pemikiran
Kontribusi penting lainnya yang diwariskan al-Khazini dalam bidang fisika adalah
kitab Mizan al-Hikmah atau Balance of Wisdom. Buku yang ditulisnya pada 1121 M itu
mengungkapkan bagian penting fisika Islam. Dalam buku itu, al-Khazini menjelaskan
sacara detail pemikiran dan teori yang diciptakannya tentang keseimbangan hidrostatika,
konstruksi dan kegunaan, serta teori statika atau ilmu keseimbangan dan hidrostatika.
Selain menjelaskan pemikirannya tentang teori-terori itu, al-Khazani juga
menguraikan perkembangan ilmu itu dari para pendahulu serta ilmuwan yang sezaman
dengannya. Dalam bukunya itu, al-Khazini juga menjelaskan beberapa peralatan yang
diciptakan ilmuwan pendahulunya seperti araeometer buatan Pappus serta pycnometer
flask yang diciptakan al-Biruni.
Buku itu dinilai Nasr sebagai sebuah karya ilmiah Muslim yang paling esensial tentang
mekanika dan hidrostatika, dan terutama studi mengenai pusat gravitasi. Dalam buku itu pula, al-
Khazini mengupas prinsip keseimbangan hidrostatis dengan tingkat ketelitian obyek sampai
ukuran mikrogram (10-6 gr), suatu level ketelitian yang menurut K Ajram dalam The Miracle of
Islamic Science hanya tercapai pada abad ke 20 M. Al-Biruni and al-Khazini merupakan dua
ilmuwan Muslim yang pertama kali mengembangkan metode ilmiah dalam bidang ilmu
keseimbangan atau statika dan dinamika. Metode itu dikembangkan untuk menentukan berat yang
didasarkan pada teori kesembangan dan berat. Al-Khazini dan ilmuwan pendahulunya menyatukan
ilmu statika dan dinamika ke dalam ilmu baru bernama mekanika.
Al-Khazini wafat pada abad ke-12 M. Meski begitu, pemikiran-pemikiran yang telah
diwariskannya bagi peradaban dunia hingga kini masih tetap abadi dan dikenang. heri ruslan/desy
susilawati
2. Sumbangan Sang Ilmuwan
Al-Khazini sungguh luar biasa. Ilmuwan Muslim dari abad ke-12 M itu tak hanya
mencetuskan sejumlah teori penting dalam fisika dan astronomi. Namun, dia juga berhasil
menciptakan sejumlah peralatan penting untuk penelitian dan pengembangan astronomi.
Ia berhasil menemukan sekitar tujuh peralatan ilmiah yang terbilang sangat penting.
Ketujuh peralatan yang diciptakannya itu dituliskannya dalam Risala fi’l-alat atau
Manuskrip tentang Peralatan. Ketujuh alat yang diciptakannya itu adalah triquetrum,
dioptra, perlatan segi tiga, quadran dan sektan, astrolab serta peralatan asli tentang refleksi.
Selain berjasa mengembangkan fisika dan astronomi, al-Khazimi juga turut
membesarkan ilmu kimia dan biologi. Secara khusus, dia menulis tentang evolusi dalam
kimia dan biologi. Dia membandingkan transmutasi unsur dengan transmutasi spesies.
Secara khusus, al-Khazini juga meneliti dan menjelaskan definisi ”berat”. Menurut
dia, berat merupakan gaya yang inheren dalam tubuh benda-benda padat yang
mnenyebabkan mereka bergerak, dengan sendirinya, dalam suatu garis lurus terhadap pusat
bumi dan terhadap pusat benda itu sendiri. Gaya ini pada gilirannya akan tergantung dari
kerapatan benda yang bersangkutan.
Al-Khazini juga mempunyai gagasan mengenai pengaruh temperatur terhadap
kerapatan, dan tabel-tabel berat spesifiknya umumnya tersusun dengan cermat. Sebelum
Roger Bacon menemukan dan membuktikan suatu hipotesis tentang kerapatan air saat ia
berada dekat pusat bumi, al-Khazini lebih dahulu telah mendalaminya.
Al-Khazini pun telah banyak melakukan observasi mengenai kapilaritas dan
menggunakan aerometer untuk kerapatan dan yang berkenaan dengan temperatur zat-zat
cair, teori tentang tuas (pengungkit) serta penggunaan neraca untuk bangunan-bangunan
dan untuk pengukuran waktu.

C. Perkembangan Ilmu Kimia Perspektif Islam

Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan
Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun
mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak
heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai 'Bapak
Kimia Modern'."Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia," cetus Ilmuwan
berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam The
Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di
zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.

Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh
peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya
sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkapnya.

Sedangkan, peradaban Islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat,
eksperimen yang terkontrol, serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.Tak hanya itu,
sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam
bidang kimia.

Kimiawan Muslim telah mengubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang
penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, Ilmuwan Islam di zaman
kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat
dirasakan manfaatnya hingga kini.

Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal
berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa
alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium--senyawa penting dalam kehidupan
manusia modern--merupakan penemuan para kimiawan Muslim. Revolusi ilmu kimia yang
dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik
sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam
akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti
industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga
militer.

Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para
ilmuwan seperti Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-Biruni, Ibnu Sina, dan masih
banyak yang lainnya. Setiap kimiawan Muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-
beda bagi pengembangan ilmu kimia. Jabir (721 M-815 M), misalnya, telah memperkenalkan
eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah
laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang
dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan Muslim berjuluk 'Bapak Kimia Modern' itu juga
tercatat sebagai penemu sederet proses kimia, seperti penyulingan/distilasi, kristalisasi,
kalnasi, dan sublimasi.

Cendekiawan-cendikiawan Barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 H.)


adalah orang yang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya
dalam bidang alkemi yang kemudian oleh ilmuan Barat diambil dan dikembangkan menjadi
apa yang dikenal sekarang sebagai ilmu kimia. Jabir, di Barat dikenal Geber, adalah orang
yang pertama mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-
mineral dan mengekstraksi dan mineral-mineral itu zat-zat kimiawi serta
mengklasifikasikannya.

Muhammad Ibnu Zakaria, al-Rozi (865-925), telah melakukan kegiatan yang lazim
dilakukan oleh ahli kimia dengan menggunakan alat-alat khusus, seperti distilasi, kristalisasi,
dan sebagainya. Buku al-Razi (Razes), diakui sebagai buku pegangan laboratorium kimia
pertama di dunia.

Sang ilmuwan yang dikenal di Barat dengan sebutan 'Geber' itu pun tercatat berhasil
menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu
menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan
kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.Berkat jasanya pula, teori oksidasi-reduksi
yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam
klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir.
Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam
merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.

Muhammad Ibn Zakariya ar-Razi Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa melakukan
revolusi dalam ilmu kimia adalah Al-Razi (lahir 866 M). Dalam karyanya berjudul, Secret of
Secret, Al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat
yang ada di alam menjadi tiga, yakni zat keduniawian, tumbuhan, dan zat binatang. Soda serta
oksida timah merupakan hasil kreasinya.Al-Razi pun tercatat mampu membangun dan
mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20
peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang
dilakukannya. "Al-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium
modern," ungkap Anawati dan Hill.

Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakannya pada zaman itu masih tetap dipakai
hingga sekarang. "Kontribusi yang diberikan Al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa
penting," cetus Erick John Holmyard (1990) dalam bukunya, Alchemy. Berkat Al-Razi pula
industri farmakologi muncul di dunia.
Sosok kimiawan Muslim lainnya yang tak kalah populer adalah Al-Majriti (950 M-
1007 M). Ilmuwan Muslim asal Madrid, Spanyol, ini berhasil menulis buku kimia bertajuk,
Rutbat Al-Hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam
mulia. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip
kekekalan masa --yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan Barat bernama
Lavoisier.

Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi Al-Biruni (wafat 1051 M) dalam
bidang kimia dan farmakologi. Dalam Kitab Al-Saydalah (Kitab Obat-obatan), dia
menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan
pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan Muslim di era kekhalifahan
berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia.

Dulu dunia islam sangat maju sebelum terjadi perang salib, mulai dari ilmu kedokteran,
kimia, biologi, sosial, ilmu perbintangan/astronomi, aljabar, science, filsafat dll semua ada di
perpustakaan baghdad irak.

dimana selama masa perang salib, banyak buku2 islam yang diambil, dan dibawa oleh
pasukan salib dan sebagian lain dibakar oleh pasukan salib. karena pada saat terjadi serangan
pasukan salibis, buku2 di perpustakaan baghdad dibakar dan dibuang ke sungai tigris. Jadi
hampir semua teknologi dan science yang ada di tangan orang2 barat berasal dari kebudayaan
Islam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Untuk menutup uraian diatas penulis perlu mengemukakan beberapa kesimpulan :

1. Ajaran Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ayat-ayat Alquran banyak sekali
memberi motivasi untuk intzhar/ meneliti, baik secara tersurat atau tersirat.
2. Pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu alam secara khusus, sejalan dengan
ajaran Islam yang meiginginkan kemudahan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

3. Pengembangan ilmu pengetahuan dan ilmu alam yang bertujuan untuk kepentingan pribadi
atau kelompok, tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, bertentangan dengan tujuan
ajaran Islam.

B. Saran-saran

Kalau orang Diluar Islam saja dapat menemukan kebenaran ilmiah tentang Islam
melalui pengamatannya terhadap sunnatullah ini masuk Islam maka orang Islam yang
mendalami saings atau ilmu fisika dapat menghantarkan mereka ketingkat keimanan dan
ketakwaan yang tinggi insya Allah. Oleh karena itu bagi teman-teman di STAIN marilah kita
bersama-sama mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang hal di atas agar kita menjadi
manusia yang hebat, apalagi teman-teman sudah memiliki pondasi iman yang kuat maka jika
kita mendalami tentang ilmu biologi, fisika dan kimia maka kita dapat mempertemukan antara
ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan biologi, fisika dan kimia (ayat-
ayat Qauliyah) dengan ayat -ayat Allah berupa ayat-ayat Qauniahnya (Bentangan Alam
semesta) Allah Swt.

DAFTAR PUSTAKA

Baiquni, A, Islam Dan Ilmu Pengetahuan Modern, penerbit Pustaka, Jakarta, cet. I, 1983.

Arsyad M. Natsir, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, Mizan, Bandung, cet. I, 1989.

Hilmi, Ahmad Kamal al-Din, al-Salajiqah fi al-Tarikh Wa al-Hadharat, Dar al-Buhus al-Ilmiyah,
Kuwait, 1975.

Hitti, Philip K., The Arabs A Short History, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung, Dunia
Arab, Sumur Bandung, Bandung, cet. III, t. th.

Mattulada, A, Ilmu-Ilmu Kemasyaiaan (Humaniora) Tantangan, Harapan-harapan Dalam


Pembangunan, UNHAS, 1991.

Madjid, Nurcholish, Reaktualisasi Nilai-Nilai Kultural Dalam Proses Transformasi Masyarakat,


Simposium nasional ICHI, Malang, 6-8 Desember 1990.
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, cet. II, 1992.

Dr.Ing.Fahmi Amhar . Fisikawan Islam Mendahului Zaman. 2009

BAB II

PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN ILMU BIOLOGI MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT DAN AL QUR’AN

1.Pengertian

Biologi adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil dari bahasa Belanda "biologie", yang
juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, bio("hidup") dan logos ("lambang", "ilmu"). Akan
tetapi ada juga yang menggunakan istilah ilmu hayat (diambil dari bahasa Arab, artinya "ilmu
kehidupan").

2.Perkembangan Ilmu Biologi Menurut Ilmu Pengetahuan Barat

Manusia selalu ingin tahu dan gemar mencari tentang asal usul dan permulaan dari adanya
sesuatu. Bagi para ahli biologi zaman dulu kehidupanlah yang menjadi objeknya, sehingga mereka
membuat pertanyaan “apakah hidup itu” dan “dari manakah asalnya kehidupan”.

Kemudian muncullah anggapan-anggapan pemikiran tentang asal usul kehidupan, anggapan kuno
yang pertama dikemukakan oleh Aristoteles dengan teorinya abiogenesis atau generatio spontanea
menjelaskan bahwa makhluk hidup terjadi begitu saja dari benda mati. Pada pertengahan abad XVII,
Leeuwenhoek dengan mikroskop buatannya telah berhasil mengamati benda-benda kecil yang aneh
dalam setitik air yang di ambil dari tempat merendam jerami. Dia pun beranggapan bahwa makhluk
hidup dapat muncul begitu saja dari benda-benda mati.1[1]

Seiring berjalannya waktu, muncullah teori baru yang di kenal nama Omne vivum ex ovo dan
Omne ovum ex vivo, artinya bahwa makhluk hidup itu berasal dari telur dan semua telur berasal dari
makhluk hidup, dari teori ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan dapat terjadi karena telah ada
kehidupan sebelumnya. Akan tetapi teori ini belum bisa memberi jawaban dari pertanyaan tentang asal
mula kehidupan pertama di bumi ini, hal ini karena teori di atas hanya menerangkan perkembangan
makhluk hidup sesudah adanya makhluk tersebut.

Pada tahun 1893 Hawold Uray, seorang ahli kimia dari University of Chicago mengemukakan
sebuah teori yang dikenal dengan teori Uray, Ia berpendapat bahwa suatu saat atmosfer bumi kaya
akan molekul-molekul metana(CH4), amoniak(NH3), serta H2 dalam bentuk gas,kemudian karena
pengaruh aliran listrik halilintar dari radiasi-radiasi sinar kosmos, unsur-unsur tersebut mengalami reaksi
kimia dan membentuk asam amino yang merupakan bagian penting dari protoplasma. Oleh karena itu
teori Uray dipandang sebagai dasar konsep tentang terjadinya makhluk hidup menurut biologi modern.

Kita telah mengetahui bahwa telah ada kehidupan dibumi ini pada zaman dulu dari berbagai fosil
yang telah ditemukan. Berdasarkan usia fosil-fosil itu, kehidupan dibumi dibagi menjadi beberapa
zaman, yaitu;

1). Zaman Azoikum, yaitu zaman sebelum ada kehidupan, sekitar 5000juta tahun yang lalu.

2). Zaman Archaezoikum, yaitu zaman ketika bumi masih dingin, sekitar 3500juta tahun yang lalu.

3). Zaman Proterozoikum, yaitu zaman kehidupan binatang lunak, sekitar 1000juta tahun yang lalu.

4). Zaman Paleozoikum, yaitu zaman ketika amphibi, kepiting, dan reftilia pertama, sekitar 200-600juta
tahun yang lalu.

5). Zaman Mesozoikum, yaitu zaman mamalia pertama, burung pertama, dan reftil raksasa(dinosaurus)
sekitar 230-135juta tahun yang lalu.

6). Zaman Kenozoikum, yaitu zaman manusia purba punah, awal manusia dan binatang modern, sekitar
70juta tahun yang lalu sampai sekarang.

Karena begitu luasnya ilmu pengetahuan yang terkandung didalam ilmu biologi, para ahli pun
membagi cabang-cabangnya agar mempermudah mempelajarinya, cabang- cabang ilmu biologi tersebut
yaitu:

1). Botani; mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan.

2). Zoologi; mempelajari tentang hewan.

3). Morfologi; mempelajari tentang bentuk dan struktur luar makhluk hidup.

4). Anatomi; mempelajari tentang bentuk dan struktur dalam makhluk hidup.

5). Fisiologi; mempelajari tentang fungsi bagian tubuh atau organ makhluk hidup.

6). Sitologi; mempelajari tentang sel secara mendalam.

7). Histologi; mempelajari tentang jaringan-jaringan organ secara mendalam.

8). Palaentologi; mempelajari tentang makhluk-makhluk hidup masa lampau2[2].


3.Perkembangan Ilmu Biologi Menurut Al Qur’an

Selama berabad-abad manusia mencari jawaban tentang asal usulnya, dengan berbagai fosil dan
artefak yang telah di temukan, mereka menerka-nerka awal kehidupan, tapi mereka hanya
mendapatkan sebuah anggapan yang tak tentu kebenarannya.3[3] Al Qur’an memberi jawabannya
dengan jelas dari pertanyaan di atas, yaitu Q.S. 21 : 30 ;

Artinya:

“Dan KAMI menjadikan setiap yang hidup dari air”

Q.S. 24 : 45 ;

Artinya:

“Dan ALLAH telah menciptakan semua jenis hewan dari air”

Kemudian makhluk-makhluk berkembang biak dan proses kejadian makhluk pun berubah menjadi
pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Hal ini sesuai dengan teori omne vivum ex ovo dan omne
ovum ex vivo.

Sebenarnya ayat-ayat Al Qur’an telah menerangkan kepada kita tentang awal terjadinya kehidupan
dibumi, serta proses-proses alam lainnya, misalnya;

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Dia mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat)
demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Q.S Al-An’am [6]: 95)

PERKEMBANGAN ILMU FISIKA MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT DAN AL QUR’AN

1.Pengertian

Fisika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang mempelajari benda tak hidup dari aspek wujud
dengan perubahan-perubahan yang bersifat sementara.

2.Perkembangan Ilmu Fisika Menurut Ilmu Pengetahuan BARAT


Menurut Richtmeyer, sejarah perkembangan ilmu fisika dibagi dalam empat periode yaitu:

· Periode Pertama,

Dimulai dari zaman prasejarah sampai tahun 1550-an. Pada periode pertama ini dikumpulkan
berbagai fakta fisis yang dipakai untuk membuat perumusan empirik. Dalam periode pertama ini belum
ada penelitian yang sistematis. Beberapa penemuan yang berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan
pada periode ini terutama penemuan pada:
2400000 SM - 599 SM: Di bidang astronomi sudah dihasilkan Kalender Mesir dengan 1 tahun = 365 hari,
prediksi gerhana, jam matahari, dan katalog bintang. Dalam Teknologi sudah ada peleburan berbagai
logam, pembuatan roda, teknologi bangunan (piramid), standar berat, pengukuran, koin (mata uang).

600 SM – 530 M: Perkembangan ilmu dan teknologi sangat terkait dengan perkembangan matematika.
Dalam bidang Astronomi sudah ada pengamatan tentang gerak benda langit (termasuk bumi), jarak dan
ukuran benda langit. Dalam bidang sain fisik Physical Science, sudah ada Hipotesis Democritus bahwa
materi terdiri dari atom-atom. Archimedes memulai tradisi “Fisika Matematika” untuk menjelaskan
tentang katrol, hukum-hukum hidrostatika dan lain-lain. Tradisi Fisika Matematika berlanjut sampai
sekarang.

530 M – 1450 M: Mundurnya tradisi sains di Eropa dan pesatnya perkembangan sains di Timur Tengah.
Dalam kurun waktu ini terjadi Perkembangan Kalkulus. Dalam bidang Astronomi ada “Almagest” karya
Ptolomeous yang menjadi teks standar untuk astronomi, teknik observasi berkembang, trigonometri
sebagai bagian dari kerja astronomi berkembang. Dalam Sain Fisik, Aristoteles berpendapat bahwa gerak
bisa terjadi jika ada yang nendorong secara terus menerus; kemagnetan berkembang ; Eksperimen
optika berkembang, ilmu Kimia berkembang (Alchemy).

1450 M- 1550: Ada publikasi teori heliosentris dari Copernicus yang menjadi titik penting dalam revolusi
saintifik. Sudah ada arah penelitian yang sistematis

· Periode Kedua

Dimulai dari tahun 1550an sampai tahun 1800an. Pada periode kedua ini mulai dikembangkan
metoda penelitian yang sistematis dengan Galileo dikenal sebagai pencetus metoda saintifik dalam
penelitian. Hasil-hasil yang didapatkan antara lain:

Kerja sama antara eksperimentalis dan teoris menghasilkan teori baru pada gerak planet.
Newton: meneruskan kerja Galileo terutama dalam bidang mekanika menghasilkan hukum-hukum gerak
yang sampai sekarang masih dipakai.
Dalam Mekanika selain Hukum-hukum Newton dihasilkan pula Persamaan Bernoulli, Teori Kinetik Gas,
Vibrasi Transversal dari Batang, Kekekalan Momentum Sudut, Persamaan Lagrange.

Dalam Fisika Panas ada penemuan termometer, azas Black, dan Kalorimeter.
Dalam Gelombang Cahaya ada penemuan aberasi dan pengukuran kelajuan cahaya.
Dalam Kelistrikan ada klasifikasi konduktor dan nonkonduktor, penemuan elektroskop, pengembangan
teori arus listrik yang serupa dengan teori penjalaran panas dan Hukum Coulomb.

· Periode Ketiga

Dimulai dari tahun 1800an sampai 1890an. Pada periode ini diformulasikan konsep-konsep fisika
yang mendasar yang sekarang kita kenal dengan sebutan Fisika Klasik. Dalam periode ini Fisika
berkembang dengan pesat terutama dalam mendapatkan formulasi-formulasi umum dalam Mekanika,
Fisika Panas, Listrik-Magnet dan Gelombang, yang masih terpakai sampai saat ini.

Dalam Mekanika diformulasikan Persamaan Hamiltonian (yang kemudian dipakai dalam Fisika
Kuantum), Persamaan gerak benda tegar, teori elastisitas, hidrodinamika.
Dalam Fisika Panas diformulasikan Hukum-hukum termodinamika, teori kinetik gas, penjalaran panas
dan lain-lain.

Dalam Listrik-Magnet diformulasikan Hukum Ohm, Hukum Faraday, Teori Maxwell dan lain-lain.

Dalam Gelombang diformulasikan teori gelombang cahaya, prinsip interferensi, difraksi dan lain-lain.

· Periode Keempat

Dimulai dari tahun 1890an sampai sekarang. Pada akhir abad ke 19 ditemukan beberapa fenomena
yang tidak bisa dijelaskan melalui fisika klasik. Hal ini menuntut pengembangan konsep fisika yang lebih
mendasar lagi yang sekarang disebut Fisika Modern. Dalam periode ini dikembangkan teori-teori yang
lebih umum yang dapat mencakup masalah yang berkaitan dengan kecepatan yang sangat tinggi
(relativitas) atau/dan yang berkaitan dengan partikel yang sangat kecil (teori kuantum).

Teori Relativitas yang dipelopori oleh Einstein menghasilkan beberapa hal diantaranya adalah
kesetaraan massa dan energi E=mc2 yang dipakai sebagai salah satu prinsip dasar dalam transformasi
partikel.

Teori Kuantum, yang diawali oleh karya Planck dan Bohr dan kemudian dikembangkan oleh
Schroedinger, Pauli , Heisenberg dan lain-lain, melahirkan teori-teori tentang atom, inti, partikel sub
atomik, molekul, zat padat yang sangat besar perannya dalam pengembangan ilmu dan teknologi4[4].
Secara klasikilmu fisika terbagi ke dalam :

1). Mekanika

2). Panas

3). Bunyi

4). Cahaya

5). Gelombang

6). Listrik

7). Magnit

8). Fisika terapan(tehnik mekanik, sipil, dan listrik)

3. Perkembangan Ilmu Fisika Menurut Al Qur’an.

Ayat-ayat Al Quran Berhubungan dengan ilmu fisika :

Gejala Fisis

Artinya:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal". (Al Imran :190)

Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain adalah:
alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali gejala dalam seluruh
dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang.

Artinya:
" Hanya kepada Allah lah tunduk/patuh segala apa yang ada dilangit dan di bumi baik atas
kesadarannya sendiri ataupun karena terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan
petang" (ar Raad :15)

Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kita bahwa apapun nama dan bentuk gejala yang
ditunjukan-Nya selalu mengikuti suatu sistem dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.
Artinya:
" Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah diwaktu senja, dan dengan malam dan
apa yang diselubunginya. Dan dengan bulan apabila jadi purnama, sesungguhnya kamu melalui tingkat-
demi tingkat". (Al Insyiqaaq 16-19)

Allah SWT menampilkan gejala fisis untuk diartikan sebagai perumpamaan antara lain behwa
terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu : pertama, adanya ketidaktahuan kita seperti kita
melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya keragu-raguan kita seperti halnya kepekaan kita
melihat cahaya merah di waktu senja dan ketiga, ditunjukan-Nya gejala fisis serta penjelasan secara
nyata dan membawa isyarat keindahan dan keagungan-Nya.

Model dan Perumusan Fisika

Artinya:

" Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur'an ini setiap macam perumpamaan
supaya mereka dapat memetik pelajaran " (az Zumar :27)

Artinya:
"Kepunyaan Allah lah segala apa yang dilangit dan dibumi, Sesungguhnya Allah, Dialah Maha kaya lagi
Maha Terpuji. "(Luqman :26)

Untuk memenuhi keingintahuan terhadap rahasia-rahasia alam ini penjelasan-penjelasannya selalu


dipakai pendekatan-pendekatan dalam bentuk atau keadaan yang sederhana atau keadaan-keadaan
ideal. Keadaan ideal ini dinyatakan dalam bentuk perumusan matematika yang selanjutnya kita sebut
sebagai hukum-hukum fisika.

Besaran Fisis

Artinya:

" Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran". (Al Qamar: 49)
Artinya:

" Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya."
(Al Furqan :2)

Kedua ayat diatas mengisyaratkan bahwa kata " Ukuran" adalah apa yang ada di alam ini dapat
dinyatakan dalam dengan dua peran, yang pertama sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian yang
terkandung didalamnya dan yang keduanya sebagai hukum atau aturan.

Dimensi dan Ruang

Artinya:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada
diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah
Tuhanmu tidak cukup ( bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?"
(Al Fushshilat :53)

Dalam kata kata "tanda-tanda (kekuasaan) Allah" tersirat sifat dan perilaku seluruh ciptaan Nya
dengan berbagai proses dan gejalanya. Adapun yang terkandung dalam pengertian "ufuk", selain yang
berlaku sebagai dimensi ruang juga termasuk dalam makna dimensi-dimensi.

Dinamika

Artinya:

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula." (Ar Rahman: 60)
Secara harfiah dapat diartikan bahwa munculnya balasan kebaikan merupakan buah dari interaksi.
Dalam ayat ini tersirat pula makna dari pemberian dan balasan berupa potensiyang dimiliki suatu benda.

Usaha dan Energi

Artinya:
"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan …
(ar Rad : 4)

Secara harfiah diartikan sebagai berdekatan dalam dimendi tempat, sebagi daerah, wilayah,
negara dsb. Yang mempunyai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang
mengolah, mengembangkan dan meningkatkan.. Berikutnya potensi tersebut saling dipertukarkan baik
dari sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.

Impuls dan momentum

Artinya:
" Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri
terhadap apa yang dikerjakan, dan mereka tidak akan merugikan." (Al Jaatsiyah :22)

Ayat diatas merupakan penjabaran interaksi yang terjadi dialam secara lebih luas lagi. Interaksi
tidak sekedar saling pengaruh mempengaruhi, saling memberi dan saling menerima antar manusia,
mahluk atau benda.

Getaran

Artinya:

" Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al Qur'an ini bermacam-macam
perumpamaan. Dan manusia adalah mahluk yang paling banyak membantah." (Al Kahfi :54)

Ayat diatas merupakan pernyataan Allah SWT tentang kandungan al Quran yang mengingatkan
kita dengan berbagai perumpamaan secara berulang-ulang. Apabila kita perluas makna ayat diatas
dengan peristiwa atau gejala fisis bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan wujudnya atau
materinya selalu bergerak secara berulang-ulang. Gerak berulang dalam ruang berdimensi satu sering
kita sebut sebagai getaran.

Gelombang
Artinya:

" Dan diantara tanda -tanda kekuasaanNya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa
berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya dan supaya kapal dapat
berlayar dengan perintahNya dan supaya kamu dapat mencari karuniaNya, mudah-mudahan kamu
bersyukur." (Ar Ruum : 46)

Secara umum "angin" disini sebagai angin yang bertiup membawa awan untuk menurunkan air
hujan dan angin yang meniup kalpal layar agar dapat berlayar dilautan. Kita merasakan kedekatan
makna "angin" dalam ayat ini adalah gelombang, bukan saja gelombang bunyi yang membawa berita
tetapi juga gelombang radio atau gelombang elektromagnet yang mampu dipancarkan kesegala penjuru
dunia bahkan seluruh jagad raya ini.

Elastisitas

Artinya:

" Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca." (ar Rahman: 7)

Dalam ayat ini tersirat yang berhubungan dengan kenyataan yang telah diketahui manusia dari
berbagai gejala yang terlihat atau telah dilakukan percobaan dan pengukurannya. Dalam kaitan masalah
yang akan di bahas di sini, bukan peristiwa pemuaiannya atau keseimbangannya , namun ada suatu sifat
yang menertai dalam peristiwa itu yaitu sifat kelenturan atau elastis.

Fluida bergerak atau mengalir

Artinya:

" Dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berakal. (Al
Jaatsiyah : 5)
Artinya:

" Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai
rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kekuasaanNya bagi kaum yang berfikir." (Al Jaatsiyah : 13)

Kedua ayat diatas sangat berkaitan erat dengan teknologi keudaraan.. Diawali dengan ayat 5,
dengan terjemahan "tshriifirriyaahi" sebagai perkisaran angin kita dituntun untuk mempelajari sifat
fluida yang bergerak atau mengalir. Disambung oleh ayat 13, menegaskan dasar dari teknologi
keudaraan.

Suhu dan Kalor

Artinya:

"Dan Dia {menundukan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainnan
macamnya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaannya.
(An Nahl :13)

Secara harfiah memang kita melihat dan merasakan banyak wujud dan jenis benda yang diciptakan
Allah SWT. Dibalik itu banyak juga yang tidak tampak dan berupa sifat atau potensi, antara lain seperti
energi yang disediakan untuk manusia. Energi itu termasuk suhu dan kalor.

PERKEMBANGAN ILMU KIMIA MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT DAN AL QUR’AN

1.PENGERTIAN ILMU KIMIA

Ilmu kimia adalah salah satu cabang dari IPA yang mempelajari tentang materi, komposisi materi,
sifat materi, dan perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan tersebut.

Materi adalah sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa, misalnya batu, kayu, udara,
dan lain-lain.

Komposisi materi adalah unsur-unsur yang menyusun suatu materi berdasarkan proporsi tertentu,
misalnya air(H2O), maksudnya unsur-unsur air terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen.

Sifat materi adalah ciri khas yang dapat digunakan untuk membedakan suatu materi dengan
materi yang lainnya, misalnya air bersifat cair berbeda dengan batu yang bersifat keras5[5].
Perubahan materi adalah proses berubahnya suatu materi menjadi materi yang baru, misalnya
kayu berubah menjadi arang atau abu setelah mengalami proses pembakaran.

2.PERKEMBANGAN ILMU KIMIA MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT

Pada saat manusia masih berfikir secara primitif, mereka tidak bisa mengatasi kesulitan-kesulitan
yang berasal dari alam seperti gempa, banjir dan lain sebagainya, sehingga mereka cenderung memuja
apa yang menjadi penyebab kesulitan tersebut dengan harapan bahwa kesulitan itu tidak menimpa
mereka lagi. Pada abad pertengahan hal tersebut berubah menjadi mistik. Para ahli kimia beranggapan
bahwa dengan kekuatan gaib mereka dapat membuat emas dari tembaga, timah atau bahan yang
lainnya, Mereka mencari berbagai cara untuk merubah material yang tidak berharga seperti tembaga
dan sebagainya menjadi sesuatu yang sangat berharga seperti emas degan cara melapisinya dengan
emas asli, untuk meyakinkan masyarakat saat itu.

Ilmu kimia baru berkembang sebagai ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-17 setelah Antoine
Lauzent Lavoisier melakukan suatu penelitian dengan metode yang dikenal dengan “metode ilmiah”. Dia
melakukan suatu penelitian kuantitatif pada pembakaran zat-zat besi, timah dan sebagainya di dalam
sebuah tabung. Ternyata hasil dari pembakaran memiliki massa yang lebih besar dari zat semula
sebelum dibakar, sedangkan tekanan udara dalam tabung tersebut menurun. Lavoisier pun menarik
kesimpulan bahwa saat terjadi pembakaran, ada suatu zat yang di ambil dari udara.

Dari pengamatan tersebut, Lavoisier mengenal adanya suatu zat yang terdapat di dalam udara yang
bersenyawa dengan zat yang mengalami pembakaran, zat tersebut oleh Lavoisier disebut dengan
oksigen. Lavoisier akhirnya menyimpulkan bahwa pembakaran adalah suatu peristiwa bersenyawa unsur
suatu zat dengan oksigen dari udara. Berawal dari hal ini metode ilmiah pun berkembang pesat. Pada
tahun 1665 ilmuwan bangsa inggris Robert Hooke menemukan sel, tahun 1869 Friendrich M. seorang
ahli Bio-kimia menemukan asam deoksiribonukleat(DNA), tahun 1950 Maurice W. menemukan struktur
DNA, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, ilmu
pengetahuan tentang kimia pun menjadi semakin sulit untuk di kuasai, sehingga ilmu Kimia pada
umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula beberapa cabang antar-bidang dan
cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.

· Kimia analitik adalah analisis cuplikan bahan untuk memperoleh pemahaman tentang susunan kimia
dan strukturnya. Kimia analitik melibatkan metode eksperimen standar dalam kimia. Metode-metode ini
dapat digunakan dalam semua subdisiplin lain dari kimia, kecuali untuk kimia teori murni.

· Biokimia mempelajari senyawa kimia, reaksi kimia, dan interaksi kimia yang terjadi dalam organisme
hidup. Biokimia dan kimia organik berhubungan sangat erat, seperti dalam kimia medisinal atau
neurokimia. Biokimia juga berhubungan dengan biologi molekular, fisiologi, dan genetika.

· Kimia anorganik mengkaji sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik. Perbedaan antara bidang organik
dan anorganik tidaklah mutlak dan banyak terdapat tumpang tindih, khususnya dalam bidang kimia
organologam.

· Kimia organik mengkaji struktur, sifat, komposisi, mekanisme, dan reaksi senyawa organik. Suatu
senyawa organik didefinisikan sebagai segala senyawa yang berdasarkan rantai karbon.
· Kimia fisik mengkaji dasar fisik sistem dan proses kimia, khususnya energitika dan dinamika sistem
dan proses tersebut. Bidang-bidang penting dalam kajian ini di antaranya termodinamika kimia, kinetika
kimia, elektrokimia, mekanika statistika, dan spektroskopi. Kimia fisik memiliki banyak tumpang tindih
dengan fisika molekular. Kimia fisik melibatkan penggunaan kalkulus untuk menurunkan persamaan,
dan biasanya berhubungan dengan kimia kuantum serta kimia teori.

· Kimia teori adalah studi kimia melalui penjabaran teori dasar (biasanya dalam matematika atau
fisika). Secara spesifik, penerapan mekanika kuantum dalam kimia disebut kimia kuantum. Sejak akhir
Perang Dunia II, perkembangan komputer telah memfasilitasi pengembangan sistematik kimia
komputasi, yang merupakan seni pengembangan dan penerapan program komputer untuk
menyelesaikan permasalahan kimia. Kimia teori memiliki banyak tumpang tindih (secara teori dan
eksperimen) dengan fisika benda kondensi dan fisika molekular6[6].

3.Perkembangan Ilmu Kimia Menurut Al Qur’an

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS:3:190) Sebagaimana telah dikemukan pada
urain sebelumnya, Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan atau kitab kimia dalam pengertian
harfiahnya. Akan tetapi, Al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi umat manusia. Dalam berbagai konteks,
Al-Qur’an memberikan petunjuk mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dan sekaligus
menjadi gudang ilmu pengetahuan serta menjadi pintu pembuka untuk melakukan penelitian tentang
berbagai aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam Al-Qur’an di sana-sini kita temukan ayat-
ayat yang mendorong pembacanya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan, termasuk ilmu kimia.

Untuk itu, tidak mengherankan jika para ilmuwan Muslim memperoleh inspirasi yang amat besar dari Al-
Qur’an untuk mengembangkan ilmu ini. Misalnya, dengan berbagai konteks yang berbeda kita temukan
dalam Al-Qur’an tentang emas dan perak sebagai logam mulia (Q.S Ali ‘Imran [3]: 14 dan Al-Taubah [9]:
34), sebagai barang perhiasan yang mewah (Q.S Al-Zukhruf [43]: 33-53), dan sebagai tanda karunia Allah
yang akan diberikan kepada para penghuni surga (Q.S Al-Hajj [22]: 23 dan Al-Kahfi [18]: 31).

Besi disebut-sebut sebagai logam yang mengandung banyak manfaat (Q.S Al-Hadid [57]: 25), sebagai
contoh benda yang paling keras (Q.S Al-Isra’ [17]: 51), sebagai zat yang berwarna merah jika dipanaskan
sehingga dapat digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan (Q.S Al-Kahfi [18]: 96), menjadi bahan
pokok untuk membuat barang-barang lainnya seperti baju besi (baju perang, Q.S Saba’ [34]: 10-11), dan
menjadi alat penyiksaan di neraka (Q.S Al-Hajj [22]: 21).

Demikian pula dengan timah dan tembaga yang disebut Al-Qur’an sebagai bahan pelengkap konstruksi
sebuah bangunan (Q.S Al-Kahfi [18]: 96) serta ter yang dalam Surah Ibrahim [14]: 50) disebutkan sebagai
pakaian penghuni neraka.
Al-Qur’an juga menyebutkan adanya sebuah benda yang mungkin bisa disebut sebagai “atom” dan
benda lain yang lebih kecil dari atom (Q.S Al-Zalzalah [99]: 7-8) dalam kaitannya dengan nilai perbuatan
manusia. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari Tuhan, apakah itu lebih besar atau lebih kecil
daripada atom (Q.S Saba’[34]:22). Dalam Al-Qur’an, ditemukan pula keterangan tentang reaksi-reaksi
exothermal dan endothermal dalam hubungannya dengan pemanasan benda tertentu yang
dikemukakan dalam konteks hukum neraka (Q.S Al-Kahfi [18]: 29; Al-Hajj [22]: 21 dan Ibrahim [14]: 50;
dalam hubungannya dengan konstruksi bangunan (Q.S Al-Kahfi [18]: 96;

KESIMPULAN

Ilmu Pengetahuan Alam Barat berkembang pesat ejak zaman “renaissance” pada abad ke-18. Sedangkan
Al Qur’an di wahyukan oleh Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad S.A.W pada abad ke-6. Dari
pendekatan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Al Qur’an lebih dulu ada sebelum ilmu
pengetahuan alam barat berkembang.

Apabila ada suatu ilmu pengetahuan alam, maka kita dapat mengkonfirmasikannya dengan Al Qur’an.
Apabila sesuai dengan apa yang terkandung di dalam Al Qur’an, maka Al Quran akan mengokohkan ilmu
pengetahuan tersebut, namun bila tidak sesuai maka Al Qur’an akan menyalahkan ilmu pengetahuan
tersebut. Seperti teori Darwin yang menganggap bahwa manusia berasal dari kera yang telah berevolusi.

Pertanyaannya dari mana nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad yang lalu itu
mengetahui semua ini? Padahal kenyataan membuktikan diperlukan waktu berpuluh-puluh bahkan
ratusan tahun bagi para ilmuwan untuk mengetahui suatu rahasia alam walaupun dengan alat yang
canggih sekalipun.

Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-
Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para
ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang
tepat. Tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena dengan makin majunya tehnologi,
pengetahuan juga makin berkembang, maka akibatnya penafsiran terhadap Al-Quranpun juga dapat
berkembang, terutama dalam hal yang berkaitan dengan ilmu ke-alam semestaan.

DAFTAR PUSTAKA
.

Mawardi, Drs, Nur Hidayat, Ir. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Bandung : Pustaka Setia

Bucauille, Maurice. 1999. Asal Usul Manusia, Surabaya : Mizan

Jasin, Maskoeri,Drs. 1997. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta : Rajawali Pers

http;//budakfisika.blogspot.com

Supartono, Drs, dkk. 1999. Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta : Graha Indonesia

Rano, Sumbawa P. 1987. Ilmu Alamiah Dasar, Surabaya : Usaha Nasional

Anda mungkin juga menyukai