Anda di halaman 1dari 7

MACAM-MACAM TANAMAN UMBI

1. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

Dari berbagai jenis umbi-umbian yang ditemukan dalam perjalanan ini tampaknya ubi jalar merupakan
jenis yang paling umum dibudidayakan dan diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Beberapa
daerah pembudidayaan dan pengolahan yang cukup besar, antara lain di Kabupaten Malang. Salah satu
kultivar ubi jalar yang mengandung antosianin yang tinggi yaitu ubi jalar ungu diolah menjadi es krim,
campuran selai buah, berbagai macam kue kering, kripik, tepung, kubus instan untuk bahan kolak dan
sawut ubi jalar.
Dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan
shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan
kita. Selain karbohidrat sebagai kandungan utamanya, ubi jalar juga mengandung vitamin, mineral,
fitokimia (antioksidan) dan serat (pektin, selulosa, hemiselulosa).
Ada beberapa varietas ubi jalar yang ada di Indonesia yaitu Daya, Borobudur, Prambanan, Mendut,
Kalasan, Muara Takus, Cangkuang, Sewu. Sedangkan varietas-varietas yang baru dilepas tahun 2001
antara lain Cilembu yang berasal dari Sumedang. Masing-masing varietas memiliki rasa khas yang
berbeda-beda.

Ubi Cilembu merupakan salah satu produk pertanian unggulan bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang.
Daerah penghasil ubi cilembu adalah Cilembu, Cadas, Pangeran, Sumedang. Ubi cilembu berkulit gading,
berurat, dan panjang, sedangkan getahnya akan meleleh seperti madu ketika dipanggang. Ubi ini sangat
manis dan pulen, berbeda dengan ubi kebanyakan. Rasa manis dari ubi Cilembu akan lebih terasa
apabila ubi dibakar dalam open, terutama apabila ubi mentah telah disimpan lebih dari satu minggu.

2. Singkong (Manihot esculenta Crantz)

Di Indonesia singkong atau ubi kayu, bodin, sampeu mempunyai arti ekonomi penting
dibandingkan dengan umbi-umbi lainnya. Jenis ini kaya akan karbohidrat dan merupakan makanan
pokok di daerah tandus di Indonesia. Selain umbinya, daunnya mengandung banyak protein yang
dipergunakan berbagai macam sayur, dan daun yang telah dikayukan digunakan sebagai pakan ternak.
Batangnya digunakan sebagai kayu bakar dan seringkali dijadikan pagar hidup.
Produk olahan dari bahan singkong dapat ditemukan di beberapa tempat seperti Malang,
Kebumen, DI Yogyakarta, Temanggung dan masih banyak lagi.Berbagai macam produknya antara
lain mie, krupuk, tiwul instan, kue lapis, bidaran, stick, pluntiran, tiwul, gatot, tepung tapioka dan
lain-lain.
Salah satu umbi yang memiliki nilai strategis sebagai pengganti nasi putih adalah singkong.
Singkong mengandung karbohidrat sangat tinggi, sekitar 34 sampai 38 gram per 100 gram. Kandungan
energinya 146 sampai 157 kalori per 100 gram bahan. Namun, kadar protein dalam singkong tergolong
rendah, sehingga harus diimbangi dengan pangan sumber protein saat mengonsumsinya.
Dibandingkan singkong putih, singkong kuning memiliki keunggulan kandungan provitamin A,
yang di dalam tubuh diubah menjadi vitamin A. Kadar provitamin A pada singkong kuning setara dengan
385 SI vitamin A per 100 gram, sedangkan singkong putih tidak mengandung vitamin A.
Satu hal yang perlu diwaspadai pada pengolahan singkong adalah kandungan asam sianida
(HCN) yang bersifat racun. Ada empat golongan singkong berdasarkan kadar HCN-nya: golongan yang
tidak beracun (sekitar 50 mg HCN per kg umbi segar), golongan beracun sedikit (50 sampai 80 mg HCN
per kg umbi segar, golongan beracun (80 sampai 100 mg HCN per kg umbi segar), dan golongan sangat
beracun (lebih dari 100 mg HCN per kg umbi segar).
Singkong pun menjadi makanan utama di daerah Gunung Kidul. Tetapi, kedudukan singkong
mulai bergeser karena penduduk sudah mulai terbiasa makan nasi yang didatangkan ke daerah itu.

3. Suweg (Amorphophallus paeoniifolius (Dennstedt) Nicolson)

Suweg merupakan salah satu jenis Araceae yang berbatang semu, memiliki satu daun tunggal
yang terpecah-pecah. Jenis ini jarang dibudidayakan, umumnya tumbuh di hutan-hutan jati atau kebun
yang tidak dipelihara. Seperti halnya talas, suweg juga mengandung kristal kalsium oksalat yang
membuat rasa gatal. Senyawa ini dapat dihilangkan dengan cara perlakuan dan perebusan. Umbinya
dapat dipanen 8 sampai 10 bulan. Beberapa daerah penghasil suweg iniantara lain Wonosari dan
Malang.
Suweg merupakan salah satu jenis Araceae yang berbatang semu, memiliki satu daun tunggal
yang terpecah-pecah. Jenis ini jarang dibudidayakan, umumnya tumbuh di hutan-hutan jati atau kebun
yang tidak dipelihara. Seperti halnya talas, suweg juga mengandung kristal kalsium oksalat yang
membuat rasa gatal. Senyawa ini dapat dihilangkan dengan cara perlakuan dan perebusan. Suweg
memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi baik
bagi anak maupun orang dewasa. Umbinya dapat dipanen 8 sampai 10 bulan.

4. Garut (Maranta arundinacea L.)


Kata garut berasal dari kata arrowroot yang berarti tanaman yang mempunyai akar rimpang (umbi)
berbentuk seperti busur panah. Umbi garut memiliki tekstur lembut dan mudah dicerna. Itu sebabnya
umbi garut sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh seseorang yang baru sembuh dari sakit. Juga cocok
dikonsumsi anak yang mengidap autis. Tingginya kadar karbohidrat dan energi membuat umbi garut
dapat digunakan sebagai pengganti karbohidrat. Kadar proteinnya relatif rendah ketimbang tepung
beras atau tepung jagung, tetapi setara dengan protein sagu, tepung singkong, tepung kentang,
maizena, dan tapioka.
Rendahnya protein tepung umbi garut dapat disiasati dengan mengombinasikannya bersama bahan pangan
sumber protein. Dalam industri makanan, pati garut dimanfaatkan sebagai bahan baku jenang (dodol),
kue dadar, kue semprit, cantik manis, roti, biskuit, cendol, puding, keripik, mi, glukosa cair, serta
makanan bayi.
Pati garut dapat digunakan sebagai pengganti sebagian atau seluruh tepung terigu pada industri makanan.
Dalam pembuatan roti tawar, tepung garut dapat mensubstitusi terigu sebanyak 10 sampai dengan 20%,
sedangkan pada pembuatan mi kering, dapat mensubstitusi tepung terigu hingga 15 sampai 20%.
Tanaman garut menyukai tumbuh pada tanah yang lembap dan di bawah naungan. Di Jawa
Barat, garut dikenal dengan sebutan sagu atau irut. Umbinya banyak mengandung tepung pati yang
sangat halus yang mudah dicerna. Beberapa daerah penanaman dan produksi tepung garut yang
dikunjungi antara lain di Malang, Yogyakarta dan Garut. Umbi tanaman ini dapat diolah menjadi tepung
garut, kue semprit dan emping garut.

5. Ganyong (Canna indica L.)

Seperti halnya dengan tanaman garut, ganyong umumnya tumbuh berumpun di bawah
naungan seperti di bawah jati, bambu, pisang, biasanya ditanam secara tumpang sari namun belum
secara intesif. Umumnya, hasilnya untuk konsumsi keluarga saja. Dikenal 2 macam ganyong yaitu
ganyong berdaun merah dan berdaun putih, meskipun umbinya berwarna putih dan mempunyai rasa
yang sama. Di Jawa Barat ganyong dikenal dengan nama ganyol.
Seperti halnya dengan tanaman garut, ganyong umumnya tumbuh berumpun di bawah naungan
antara lain di bawah jati, bambu, pisang, biasanya ditanam secara tumpang sari namun belum secara
intesif. Umumnya, hasilnya untuk konsumsi keluarga saja. Dikenal 2 macam ganyong yaitu ganyong
berdaun merah dan berdaun putih, meskipun umbinya berwarna putih dan mempunyai rasa yang sama.
Di Jawa Barat ganyong dikenal dengan nama ganyol.
Untuk umbi ganyong, data Direktorat Gizi Depkes RI menyebutkan bahwa kandungan gizi
Ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori 95,00 kal, protein 1,00 g, lemak 0,11 g,
karbohidrat 22,60 g, kalsium 21,00 g, fosfor 70,00 g, zat besi 1,90 mg, vitamin B1 0,10 mg, vitamin C
10,00 mg, air 75,00 g.

6. Gadung (Dioscorea hispida Dennst.)


Jenis ini dicirikan dari daunnya yang terdiri dari 3 helai daun dan batangnya yang berbulu dan
berduri tersebar sepanjang batang dan tangkai daun. Umbinya berwarna coklat muda, diliputi rambut-
rambut akar yang besar dan kaku. Umbi gadung tidak dapat dikonsumi secara langsung karena beracun
sehingga harus diberi perlakuan tertentu sebelum diolah. Produk hasil olahan biasanya berupa kripik
gadung. Dari pengamatan di pasar tradisional di beberapa daerah diketahui produk kripik gadung baik
mentah maupun matang telah jarang dijumpai, tampaknya telah didominasi oleh kripik kentang.
Jenis ini dicirikan dari daunnya yang terdiri dari 3 helai daun dan batangnya yang berbulu dan
berduri tersebar sepanjang batang dan tangkai daun. Umbinya berwarna coklat muda, diliputi rambut-
rambut akar yang besar dan kaku. Umbi gadung tidak dapat dikonsumi secara langsung karena beracun
sehingga harus diberi perlakuan tertentu sebelum diolah. Produk hasil olahan biasanya berupa kripik
gadung. Dari pengamatan di pasar tradisional di beberapa daerah diketahui produk kripik gadung baik
mentah maupun matang telah jarang dijumpai, tampaknya telah didominasi oleh kripik kentang.

7. Uwi (Dioscorea spp.)

Ada beberapa varietas dari uwi dan penamaannya di tiap daerah juga berbeda-beda. Di daerah
Wonosari (Yogyakarta) dan desa Poncokusumo (Malang-Jawa Timur), terdapat varietas uwi putih dan
uwi ungu (“gadung” dalam bahasa JawaTimur). Di Kutowinangun (Jawa Tengah), dikenal yang namanya
uwi abangkulit (kulit luarnya berwarna merah “abang” dalam bahasa Jawa Tengah), sedangkan di
daerah Garut dikenal varietas huwi manis/kalapa (karena rasanya manis seperti kelapa) dan
huwi hideung (karena warna hitam ”hideung” hitam dalam bahasa Sunda). Umbi uwi ini biasanya
dipanen sekitar umur 6 sampai 8 bulan. Pemanfaatan uwi sebagai sumber bahan pangan biasanya hanya
sebatas dikonsumsi sebagai pengganti nasi dengan cara dikukus, atau di kecamatan Leles, Kabupaten
Garut, uwi biasanya digunakan untuk acara sawaka (7 bulanan masa kehamilan).
Uwi memiliki fosfor dengan kandungan tinggi yang digunakan oleh tubuh untuk proses
metabolisme. Tidak ketinggalan dengan gadung, umbi ini ternyata mengandung vitamin C cukup tinggi,
bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta menghindari serangan flu di musim yang mudah
berubah seperti sekarang.
8. Gembili (Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill)

Jenis ini merupakan salah satu yang dibudidayakan dan jarang ditemukan tumbuh liar.
Umumnya ditanam secara terbatas di pekarangan rumah. Umbinya berwarna putih sampai putih
kekuningan dan pemanfaataannya sebatas dikonsumsi dengan cara dikukus sebagai pengganti makanan
pokok. Umbi gembili banyak dijual di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah antara lain Kebumen,
Kutowinangun, Wonosari dan Jawa Timur yaitu di Malang.
Jenis ini merupakan salah satu yang dibudidayakan dan jarang ditemukan tumbuh liar.
Umumnya ditanam secara terbatas di pekarangan rumah. Umbinya berwarna putih sampai putih
kekuningan dan pemanfaataannya sebatas dikonsumsi dengan cara dikukus sebagai pengganti makanan
pokok. Umbi gembili banyak dijual di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah (Kebumen,
Kutowinangun, Wonosari) dan Jawa Timur (Malang).

9. Kentang hitam (Coleus tuberosum Benth. Atau Plectranthus rotundifolius(Poiret) Sprengel)

Kentang hitam/ireng seringkali disebut juga sebagai kentang kleci (karena bentuk umbinya
kecil, bulat seperti bentuk kleci atau kelereng). Disebut sebagai kentang ireng karena kulit luarnya
berwarna hitam (“ireng” dalam bahasa Jawa). Biasanya dipanen pada musim panas. Hasil informasi
diketahui bahwa tanaman ini terdapat di daerah Jawa Tengah (seperti Kebumen, Kutowinangun,
Temanggung) dan Jawa Barat (daerah Sumedang) tampaknya populasinya sudah agak jarang. Umbi
kentang ireng biasanya dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat dengan cara dikukus atau untuk
campuran sayur dan sambal goreng.
Kentang mengandung vitamin C dan mineral yang cukup tinggi. Kandungan karbohidrat kentang
sekitar 18%, protein 2,4% dan lemak 0,1%. Total energi yang diperoleh dari 100 gram kentang sekitar 80
kalori.
Kentang merupakan satu-satunya jenis umbi yang kaya vitamin C, kadarnya mencapai 31 miligram
per 100 gram kentang. Umbi-umbian lainnya sangat miskin vitamin C. Kadar vitamin lain yang cukup
menonjol adalah niasin dan tiamin (vitamin B1).
Kentang juga mengandung berbagai mineral seperti kalsium (26 mg/100 g), fosfor (49 mg per 100
g), besi (1,1 mg/100 g), dan kalium (449 mg/100 g). Sementara kandungan natriumnya sangat rendah,
yaitu 0,4 mg/100 g.
Rasio kalium terhadap natrium yang tinggi pada kentang sangat menguntungkan bagi kesehatan,
khususnya dalam mencegah penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi).

10. Talas (Colocasia sp.)

Salah satu jenis umbi-umbian yang cukup banyak digemari orang adalah talas. Talas sembir
atau semir banyak dijumpai dan dibudidayakan di desa Sembir, Kabupaten Sumedang. Batang dan
daunnya dapat disayur. Selain talas sembir, penduduk setempat membudidayakan pula talas gadong
dengan ciri-ciri berbatang ungu dan mempunyai anakan banyak, namun batangnya tidak bisa disayur.
Menurut masyarakat setempat, rasa talas semir lebih enak dan daging umbinya lebih pulen dari talas
bogor (Colocasia esculenta (L.) Schotz).
Talas juga berpotensi menjadi makanan pokok selain betas karena mengandung karbohidrat dan
zat gizi lainnya. Karena kandungan karbohidrat pada talas cukup tinggi meskipun tidak sebesar
singkong, beras, maupun gandum. Komponen terbesar dari karbohidrat talas adalah pati yang mencapai
77,9%. Pati umbi talas terdiri atas 17 sampai 28% amilosa, sisanya 72 sampai 83% adalah amilopektin.
Tingginya kadar amilopektin menyebabkan talas bersifat pulen dan lengket seperti beras ketan.
Keunggulan lain dari pati talas adalah mudah dicerna, sehingga cocok digunakan sebagai makanan bayi
atau penyembuhan pasca sakit.
Talas juga memiliki kadar protein yang lebih baik. Protein ini mengandung beberapa asam amino
esensial meski miskin histidin, lisin, isoleusin, triptofan dan metionin.Untuk meningkatkan kualitas
protein, talas dapat dikonsumsi dengan kacang-kacangan.Talas juga mengandung lemak, vitamin dan
mineral.
Seperti umbi-umbian lain, umbi talas juga mengandung oligosakarida, terutama rafinosa.
Oligosakarida tersebut tidak tercerna di dalam usus halus, tetapi masuk ke dalam usus besar.Di dalam
usus besar, rafinosa difermentasi oleh sejumlah mikroflora menghasilkan bermacam gas, seperti metan
(CH4), karbon dioksida (CO2), dan hidrogen (H2).
Akumulasi gas-gas tersebut menyebabkan kembung, sehingga orang sering buang gas (kentut)
setelah makan talas.Namun, proses pemasakan seperti perebusan, penggorengan, pengukusan, atau
pemanggangan yang cukup dapat membantu mereduksi senyawa rafinosa pada talas.
11. Mbote (Xanthosoma sp.)

Di beberapa daerah di Jawa Timur, talas kadangkala disebut mbote. Seperti halnya kimpul,
mbote yang diambil anakan umbinya. Kulit luar umbi mbote berambut dan umbinya beruas-ruas. Di
pasar tradisional Malang juga banyak dijual umbi mbote, biasanya dikonsumsi dengan cara dikukus. Di
Kecamataan Turen, Malang, mbote ini sudah diolah menjadi kripik mbote dengan berbagai macam rasa,
renyah dan enaknya tidak kalah dengan talas, bahkan ada rasa khas mbote.

12. Kimpul (Xanthosoma nigrum (Vell.) Mansfeld)

Kimpul seringkali dicampur adukkan dengan talas. Jika talas yang diambil umbi induknya,
maka kimpul yang diambil umbi anakannya. Kulit luar umbi kimpul halus dan tidak beruas-ruas.
Pemanfaatan kimpul ini sebagai sumber bahan pangan dengan cara dikukus. Banyak dijumpai di pasar-
pasar tradisional di daerah Malang dan Temanggung.