Anda di halaman 1dari 3

SANTA SKOLASTIKA

Saudara kembar St.Benediktus Sumber : Katakombe.Org


 Perayaan : 10 Februari

 Lahir : Tahun 480


 Kota asal : Narsia, Umbria, Italia
 Wafat : Tahun 543 di Monte Cassino, Italia - Oleh sebab alamiah
Dikuburkan di bawah altar di makam yang sama dengan saudara kembarnya
aaaaaaaaaaaaaSanto Benediktus
 Kanonisasi : Pre-Congregation

Santa Skolastika

St. Skolastika adalah saudara kembar dari St.Benediktus . Mereka dilahirkan di Nursia, Italia
pada tahun 480. Skolastika adalah seorang gadis yang cerdas dan peramah. Ia juga seorang yang
religius; sejak belia ia telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Ketika mereka berusia duapuluh tahun, Benediktus pergi mengasingkan diri sebagai pertapa
dalam sebuah gua terpencil di Subiako. Di kemudian hari, ia pergi ke Monte Kasino dan
mendirikan biara Benediktin di sana. Skolastika menyusul saudaranya dan tinggal di Plombariola
yang berjarak kurang lebih 5 mil dari biara Benediktus. Dengan bantuan dan petunjuk
Benediktus, Skolastika mendirikan dan memimpin biara wanita.

Setahun sekali Skolastika mengunjungi saudaranya untuk membicarakan masalah-masalah


rohani. Karena regula (peratutan) biara tidak memperbolehkan perempuan memasuki biara
Monte Kasino, maka Benediktus ditemani dengan beberapa muridnya akan menemui Skolastika
di sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari gerbang biara. Pada suatu hari Skolastika datang
berkunjung dan Benediktus menemuinya bersama beberapa orang murid. Sepanjang hari itu
mereka memuji Tuhan dan berbicara mengenai hal-hal rohani. Ketika malam tiba mereka makan
malam bersama. Pembicaraan terus berlanjut sementara malam semakin larut. Berkatalah
Skolastika kepada saudara kembarnya;

“Jangan tinggalkan aku malam ini; mari kita berbicara mengenai sukacita kehidupan rohani
sampai pagi.”

“Saudariku,” jawab Benediktus, “Apakah yang engkau katakan itu? Aku tidak boleh tinggal di
luar biaraku.”

Ketika didengarnya bahwa Benediktus menolak permintaannya, perempuan kudus itu


menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepala dan berdoa. Sementara ia
mengangkat kepalanya kembali, halilintar datang sambar-menyambar, gemuruh guntur bersahut-
sahutan dan hujan badai membasahi bumi, sehingga baik Benediktus maupun murid-muridnya
tidak dapat pulang. Karena sedih, Benediktus mengeluh :

“Semoga Tuhan mengampuni engkau, saudariku. Apa ini yang telah engkau lakukan?”

“Yah,” sahutnya, “aku mohon padamu tetapi engkau tidak mau mendengarkan aku; jadi aku
mohon pada Tuhan-ku dan Ia sungguh mendengarkan aku. Sekarang pergilah jika engkau bisa,
tinggalkan aku dan kembalilah ke biaramu.”

Jadi, demikianlah malam itu mereka tidak tidur semalaman, asyik dengan pembicaraan mereka
tentang sukacita kehidupan rohani.

Tiga hari kemudian, Benediktus sedang berada di kamarnya di biara. Ketika ia menengadah
menatap langit, ia melihat jiwa saudarinya meninggalkan jasadnya dalam rupa seekor burung
merpati, dan terbang tinggi menuju suatu tempat rahasia di surga. Benediktus amat bersukacita,
ia berterima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa dengan nyanyian serta puji-pujian. Kemudian
ia memerintahkan para muridnya untuk menjemput jenasah saudarinya dan membawanya ke
biara. Benediktus membaringkan jenasah Skolastika dalam kubur yang telah dipersiapkannya
bagi dirinya sendiri; kubur di mana kelak tubuhnya pun dibaringkan. Skolastika wafat pada tahun
543. Pestanya dirayakan setiap tanggal 10 Februari.