Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hormon berasal dari kata Hormaein yang artinya memacu atau


menggiatkan atau merangsang. Dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang
tidak terlalu banyak (sedikit), tetapi jika kekurangan atau berlebihan akan
mengakibatkan hal yang tidak baik (kelainan seperti penyakit) sehingga
dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta proses
metabolisme tubuh
Hormon merupakan senyawa kimia, berupa protein yang
mempunyai fungsi untuk memacu atau menggiatkan proses metabolisme
tubuh. Dengan adanya hormon dalam tubuh maka organ akan berfungsi
menjadi lebih baik (Wibowo, 2003)
Aging atau penuaan berhubungan dengan adanya dua fenomena,
yaitu penurunan fisiologik tubuh dan peningkatan terjadinya penyakit .
Dengan kata lain, aging adalah suatu proses fisiologis yang akan di alami
oleh semua mahluk hidup (Wibowo, 2003).
Definisi aging menurut American Academy of Anti-Aging
Medicine (A4M) adalah kelemahan dan kegagalan fisik-mental yang
berhubungan dengan aging normal disebabkan oleh disfungsi fisiologik,
dalam banyak kasus dapat diubah dengan intervensi kedokteran yang tepat
(Klatz, 2003).
Anggapan dahulu bahwa menjadi tua memang hal yang wajar,
alamiah dan tidak bisa diintervensi, tetapi hal ini dipatahkan sejak
penelitian Rudman yang dipublikasikan bahwa menjadi tua adalah suatu
penyakit yang bisa dicegah dan dalam batas tertentu bisa disembuhkan
(Djuanda, 2005).
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 mencapai 201,4 juta
jiwa, terdiri dari 101,64 juta pria dan 101,81 juta wanita, dimana jumlah

1
wanita yang berusia diatas 50 tahun mencapai 14,3 juta orang. Dan jumlah
perempuan yang berusia diatas 50 tahun yang diperkirakan telah
memasuki usia menopause sebanyak 15,5 juta orang. Diperkirakan jumlah
perempuan yang hidup dalam usia menopause akan semakin melonjak
sekitar 30,3 juta orang pada tahun 2020. Dari laporan WHO tahun 2005
menunjukkan usia harapan hidup wanita Indonesia mencapai 68 tahun .
Angka ini diperkirakan akan terus meningkat dan pada tahun 2010 akan
mencapai sekitar lebih dari 70 tahun (Baziad, 2003).
Adanya peningkatan usia harapan hidup (Life Expectancy), ini
berarti meningkat pula jumlah wanita menopause di Indonesia dengan
berbagai masalah kesehatan yang dihadapinya. Angka ini di setiap negara
meningkat dari waktu ke waktu, baik di negara maju maupun negara
berkembang, yang dipengaruhi oleh adanya faktor sosial-ekonomi, gizi,
pelayanan kesehatan serta gaya hidup (Baziad,
2003; Djuanda, 2005).
Karena berbagai faktor itulah terjadi proses penuaan, sehingga
orang menjadi tua dan akhirnya meninggal. Tetapi kalau faktor penyebab
itu dapat dihindari, maka proses penuaan tentu dapat dicegah, diperlambat,
bahkan mungkin dibalikkan maka kualitas hidup dapat dipertahankan.
Anti-Aging Medicine secara progresif berupaya mengatasi proses penuaan
agar keluhan, disfungsi, atau penyakit tidak muncul serta menentukan dan
menggunakan pengobatan saat terdapat indikasi medis
Adanya peningkatan usia harapan hidup (Life Expectancy), ini
berarti meningkat pula jumlah wanita menopause di Indonesia dengan
berbagai masalah kesehatan yang dihadapinya. Oleh karena itu untuk lebih
mengenalkan gangguan hormonal pada lansia (menopause) secara nyata
maka dilakukan Tugas Pengenalan Profesi (TPP) blok XIX ini tentang
Identifikasi Gangguan Hormonal pada Lansia (Menopause) di Masyarakat.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengetahui gangguan hormonal pada lansia (menopause)
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi terjadinya menopause?
3. Apa saja etiologi terjadinya menopause pada lansia ?
4. Bagaimana perubahan metabolisme hormonal pada menopause ?
5. Apa saja gejala klinis yang terkait hormonal pada menopause?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu:
1. Mengidentifikasi gangguan hormonal pada lansia (menopause)
di masyarakat.
2. Memenuhi kewajiban tugas pengenalan profesi demi mencapai
kelulusan blok XIX.

1.3.2 Tujuan Khusus


Mahasiswa mampu :
1. Mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya menopause.
2. Mengetahui etiologi terjadinya menopause.
3. Mengetahui perubahan metabolisme hormonal pada
menopause.
4. Mengetahui gejala klinis yang terkait hormonal pada
menopause.

1.4 Manfaat
Hasil dari Tugas Pengenalan Profesi (TPP) diharapkan dapat bermanfaat
untuk:
1. Menambah ilmu tentang klasifikasi dari menopause.
2. Menambah ilmu tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya
menopause.
3. Menambah ilmu tentang etiologi terjadinya menopause.
4. Menambah ilmu tentang perubahan metabolisme hormonal pada
menopause.
5. Menambah ilmu tentang gejala klinis yang terkait hormonal pada
menopause

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Proses Penuaan


Sampai abad ke-21 ini menjadi tua atau menua masih merupakan
misteri, mekanisme proses menua masih sangat kurang dipahami. Oleh
karena itu kita belum yakin bagaimana penjelasannya. Selama ini
diperkirakan lebih dari 200 teori atau hipotesis tentang menua yang telah
diajukan. Dari teori-teori tersebut, berikut ini disajikan beberapa
diantaranya yang mendapat dukungan luas (Rochmah & Aswin, 2001).

1. Teori Radikal Bebas Harmon


Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki satu
atau lebih elektron yang bebas (tidak mempunyai pasangan).
Elektron bebas ini sangat reaktif mengikat atom atau molekul lain.
Hal ini dapat menimbulkan perubahan-perubahan di dalam tubuh.
Teori radikal bebas ini mengatakan bahwa produk samping

4
metabolisme oksidatif yang sangat reaktif dapat bereaksi dengan
unsur-unsur sel utama, termasuk protein, DNA, dan lipid untuk
menghasilkan molekul-molekul disfungsional yang mengganggu
fungsi sel.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa molekul yang terganggu
tersebut berakumulasi menurut perjalanan umur tetapi relatif sedikit
bukti bahwa akumulasi molekul tersebut menyebabkan penurunan
fungsi dan gangguan yang dapat menerangkan perbedaan laju menua
antar spesies. Meskipun demikian, berbagai bukti menunjukkan
bahwa pembatasan kalori (calorie restriction) pada rodentia
menyebabkan kecenderungan berkurangnya kepekaan terhadap efek
merusak oksidan (termasuk radikal bebas).
Selain itu, lalat transgenik atau keturunan selektif yang
menunjukkan kadar perlindungan antioksidan sangat tinggi, ternyata
hidup lebih lama dibandingkan kontrol. Dengan demikian, masih
mungkin bahwa gangguan produksi oksidan dan pengendalian
kerusakan karena oksidan dapat dipertimbangkan perannya dalam
timbulnyaa perbedaan laju menua antar spesies

2. Teori Glikosilasi Monnier


Teori Glikosilasi mengatakan bahwa glikosilasi non-enzimatik
dapat menghasilkan perubahan protein, dan mungkin juga
makromolekul lainnya, yang berakumulasi dan menyebabkan
disfungsi pada binatang tua. Berbagai glikosilasi kolagen manusia
berakumulasi menurut umur di dalam tendo dan kulit, meskipun
protein berumur panjang lainnya hanya berubah sedikit menurut
umur. Teori Glikosilasi ini didukung oleh temuan bahwa tikus CR
(Calorie Restriction) mempunyai kadar glukosa darah rendah, dan
dengan demikian akumulasi produk-produk glikosilasi juga lebih
lambat sehingga umurnya menjadi lebih panjang.

3. Teori Laju Reparasi DNA Hart dan Setlow

5
Penelitian Hart dan Setlow menunjukkan adanya perbedaan
pola reparasi kerusakan fibroblast antar spesies, setelah diberi
penyinaran ultraviolet pada kultur fibroblast. Fibroblast dari spesies
dengan lama hidup maksimum (maximum lifespan) yang panjang
menunjukkan reparasi DNA lebih cepat, dan menunjukkan korelasi
yang tinggi pada berbagai ordo mammalia. Hubungan yang sama,
meskipun dengan kemiringan (slope) yang berbeda, juga dijumpai
pada primates.

4. Teori Pemendekan Telomer Hastie dkk

Kromosom mammalia mempunyai bangunan khusus disebut


telomer di ujung tiap lengan kromosom, terdiri atas DNA nonkoding
yang memungkinkan replikasi RNA-primed ujung 5’ kromosom, dan
diduga dapat mencegah terjadinya aberasi kromosom tertentu. Pada
manusia panjang telomer sel-sel darah memendek secara
proporsional dengan umur. Sel-sel kelenjar dan jaringan fetus
ditemukan mempunyai telomer yang lebih panjang dibanding
jaringan somatik orang dewasa, sedangkan sel-sel tumor colon
ditemukan mempunya telomer yang lebih pendek daripada mukosa
colon normal. Pengamatan-pengamatan ini menunjukkan bahwa ada
pemendekan telomer terkait umur, setidak-tidaknya pada jaringan
proliferatif, yang dapat memberi kontribusi onkogenesis dengan
menghasilkan kromosom-kromosom yang tidak terlindung oleh
telomer.

Telomer terdiri atas urutan DNA yang berulang-ulang dan


terletak di ujung kromosom linear. Pada tahun 70-an ditemukan
bahwa DNA polimerase dapat mencegah replikasi penuh ujung linear
DNA. Disini terjadi apa yang disebut ‘end replication problem’, yaitu
ketidakmampuan DNA polimerase untuk secara sempurna
mereplikasi ujung 3’ DNA dupleks linear. Kemudian diketahui bahwa

6
sel spesies binatang tinggi mempunyai telomer yang mempunyai
urutan TTAGG yang sangat stabil.

5. Teori Mutasi DNA Mitokondria

Telah lama diduga bahwa metabolisme energi dan nutrisi


berperan penting dalam proses menua. Dugaan kontribusi jaringan
tepi didasarkan atas kajian DNA mitokondria yang diisolasi dari
berbagai jaringan manusia dan rodentia. Kajian-kajian tersebut
memperagakan peningkatan laju mutasi terkait dengan peningkatan
umur.
Keterlibatan disfungsi mitokondria dalam menua diduga
berdasarkan data tentang produksi radikal bebas di dalam
mitokondria burung versus rodentia: laju produksi radikal bebas di
dalam mitokondria burung yang berumur panjang lebih rendah
dibanding rodentia yang berumur pendek. Pendekatan baru interaksi
nutrisi serta penggunaan energi dan menua menunjukkan bahwa
pengaturan keseimbangan energi dan karakteristik bahan bakar yang
dipakai berperan bermakna dalam proses menua.
Perubahan mitokondria diduga mempengaruhi proses menua
pada manusia. Kerusakan pada mitokondria dapat mengurangi
pasokan energi sampai 80%. Keterlibatan langsung organella sel
dalam penurunan metabolisme energi terkait umur ditunjukkan oleh
kajian-kajian mutasi yang terjadi dalam DNA mitokondria. Terjadi
mutasi random DNA mitokondria di berbagai jaringan di sepanjang
hidupnya, dan mutasi ini berakumulasi di jaringan-jaringan menurut
umur, laju mutasi bersifat spesifik jaringan dan spesifik spesies, dan
beberapa penyakit terkait tua berkorelasi dengan adanya mutasi DNA
mitokondria.
Peneliti-peneliti tersebut mengajukan hipotesis bahwa mutasi
yang berakumulasi tersebut menyebabkan gangguan fungsi normal
mitokondria sehingga terjadi mosaik energi di dalam sel-sel dengan

7
kapasitas bioenergetik berbeda-beda; dengan hilangnya kapasitas
transduksi energi ini pada gilirannya merupakan dasar proses menua
dan penyakit terkait usia.

2.2 Gangguan Endokrin


Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran
(ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui
aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak
sebagai “pembawa pesan” dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel
dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut
menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar
eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar
lain dalam saluran gastrointestin. System endokrin merupakan bagian dari
system pengatur tubuh, pengaturan berbagai fungsi metabolism tubuh
(Sherwood, 2001)

2.3 Perubahan Sistem Endokrin pada Lansia


1. Produksi dari hampir semua hormon menurun
2. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
3. Pituitari : pertumbuhan ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam
pembuluh darah. Berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, dan
LH
4. Menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya BMR dan menurunnya daya
pertukaran zat
5. Menurunnya produksi aldosteron
6. Menurunnya sekresi hormone kelamin, misalnya progesterone,
estrogen, dan testosterone
7. Bertambahnya insulin, norepinephrin, parathormon, vasopressin
8. Berkurangnya tridotironin
9. Psikomotor melambat

2.4 Fisiologi Hormon Reproduksi Wanita

Fisiologi reproduksi wanita jauh lebih rumit dari pada pria. Tidak
seperti pembentukan sperma yang berlangsung terus-menerus dan sekresi

8
testosterone yang relatif konstan, sedangkan pengeluaran ovum bersifat
intermiten dan sekresi hormon-hormon seks wanita memperlihatkan
pergeseran siklus yang lebar. Hormon-hormon reproduksi wanita
meliputi :
1. Estrogen
Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen
tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen
berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada
wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan.
Estrogen juga berguna padasiklus menstruasi dengan membentuk
ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks
dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.
2. Progesteron
Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesteron
mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima
implantasi zygot. Kadar progesteron terus dipertahankan selama
trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon
HCG.
3. GnRH
GnRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus di
otak. GnRH akan merangsang pelepasan FSH (Folicle Stimulating
Hormon) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan
memberikan umpan balik ke hipotalamus sehingga kadar GnRH akan
menjadi rendah, begitupun sebaliknya.
4. FSH
Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin, hormon yang diproduksi
oleh hipofisis akibat rangsangan dari GnRH. FSH akan menyebabkan
pematangan dari folikel. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan
ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan
dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH (Sherwood, 2001).

9
Gambar 2. 1 Hormonal regulation of the female reproductive system
(FSH, GnRH, LH) (Adapted from Szar, 2007)

GnRH akan merangsang pelepasan FSH di hipofisis. Dimana FSH


akan menyebabkan pematangan folikel dan selanjutnya akan
menghasilkan ovum. LH mempertahankan korpus luteum untuk tetap
menghasilkan ovarium. Dibawah pengaruh LH, korpus luteum

10
mengeluarkan estrogen dan progesteron, dengan jumlah progesteron
jauh lebih besar. Kadar progesteron meningkat dan mendominasi
dalam fase luteal, sedangkan estrogen mendominasi fase folikel.
Walaupun estrogen kadar tinggi merangsang sekresi LH,
progesteron dengan kuat akan menghambat sekresi LH dan FSH.
Dibawah pengaruh progesteron akan mempertahankan sekresi
endometrium, sedangkan estrogen pada pertumbuhan organ
(Szar, 2007).

2.3.1 Estrogen
2.3.1.1 Struktur, Sintesis dan Sekresi Estrogen
Estrogen dikenal sebagai hormon wanita yang
utama bersama dengan progesteron, karena mempunyai
peranan penting dalam pembentuk kan tubuh wanita dan
mempersiapkan fungsi wanita secara khusus seperti
terjadinya kehamilan, juga pertumbuhan payudara dan
panggul. Disisi lain, vagina, uterus dan organ wanita
lainnya sangat tergantung keberadaan estrogen pada tubuh
sampai usia dewasa (Speroff et al., 2005).
Pengaturan estrogen membuat terjadinya perubahan
setiap bulannya dan mempersiapkan uterus untuk terjadinya
kehamilan. Estrogen merupakan hormon steroid dengan 10
atom C dan dibentuk terutama dari 17-ketosteroid
androstendion. Estrogen alamiah yang terpenting adalah
estradiol (E2), estron (E1), dan estriol (E3). Secara biologis,
estradiol adalah yang paling aktif. Perbandingan khasiat
biologis dari ketiga hormon tersebut E2 : E1 : E3=10 : 5 : 1.
Potensi estradiol 12 kali potensi estron dan 8 kali estriol
sehingga estradiol dianggap sebagai estrogen utama
(Speroff et al., 2005).

11
Selain di ovarium, estrogen juga di sintesis di
adrenal, plasenta, testis, jaringan lemak dan susunan saraf
pusat dalam jumlah kecil. Hal ini menyebabkan wanita
mempunyai kadar estrogen yang rendah setelah menopause.
Karena sel lemak juga dapat mensintesis estrogen dalam
jumlah sedikit, wanita gemuk yang memasuki fase
menopause, mungkin akan mengalami beberapa keluhan
seperti hot flashes dan osteoporosis, kedua keluhan ini
berhubungan dengan penurunan estrogen (Baziad, 2003:
Speroff et al., 2005).

Gambar 2. 2 Struktur kimia Estrogen


(dikutip dari Speroff et al., 2005)
Keuntungan penting yang lain dari estrogen adalah
merangsang pertumbuhan tulang dan membantu
mempertahankan kesehatan tulang, juga melindungi
jantung dan pembuluh darah dengan meningkatkan
kolesterol baik (HDL), serta menurunkan kolesterol jahat
(LDL). Estrogen disekresikan pada awal siklus menstruasi
oleh karena respon dari LH dan FSH. Sintesis estrogen
menempati perkembangan folikel ovarium, baik sel teka
dan sel granulosa. Akibat rangsangan LH, sel-sel teka akan
mengubah kolesterol menjadi androgen yang kemudian
berdifusi ke dalam sel-sel granulose melalui dasar
membran. Sel-sel granulosa, karena dirangsang oleh FSH
akan mengaktifkan enzim aromatase untuk mengubah

12
androgen menjadi estrogen. Sebagian estrogen tetap berada
di folikel ovarium untuk membentuk antrum, sedangkan
sebagian lainnya disekresikan ke dalam darah untuk
mengikat SHBG dan albumin yang bekerja melalui reseptor
intraseluler menuju sel target (Speroff et al., 2005).

13
Gambar 2.3 Synthesis Of Estrogen By The Developing
Follicle (FSH, LH)

14
(Adapted From Szar, 2007)

Karena kadar basal FSH yang rendah sudah cukup


untuk mendorong perubahan menjadi estrogen ini,
kecepatan sekresi estrogen oleh folikel terutama bergantung
pada kadar LH dalam darah, yang terus meningkat selama
fase folikel. Selain itu sewaktu folikel terus tumbuh,
estrogen yang dihasilkan juga meningkat karena
bertambahnya jumlah sel folikel penghasil estrogen.
Estrogen bekerja pada pituitari anterior dan hipotalamus
untuk mengatur sistem mekanisme umpan balik. Biasanya
mekanisme ini bersifat negatif, oleh karena konsentrsi
estrogen yang tinggi dalam waktu yang lama menyebabkan
terjadi mekanisme positif untuk merangsang LH
(Sherwood, 2001).
Sebelum menopause dan pascamenopause, hormon
estradiol memegang peranan, sedangkan sesudahnya
estradiol mengalami penurunan, disisi lain estron akan
meningkat (Speroff et al., 2005).
Konversi dari steroid pada jaringan peripheral tidak
selalu dalam bentuk yang aktif. Androgen yang bebas akan
diubah menjadi estrogen bebas, contohnya pada jaringan
kulit dan sel lemak. Lokasi dari sel lemak akan
mempengaruhi kerja androgen. Wanita yang gemuk, akan
menghasilkan lebih banyak androgen.
Percobaan yang dilakukan oleh Siiteri dan
MacDonald menemukan bahwa jumlah estrogen yang
cukup, yang berasal dari sirkulasi androgen dapat memicu
timbulnya perdarahan pada wanita postmenopause. Pada
wanita, kelenjar adrenal menyisakan sumber utama

15
androgen, khususnya androstenedion. Sedangkan pada pria,
hampir seluruh dari sirkulasi estrogen
berasal dari peripheral konversi androgen. (Speroff et al.,
2005)
2.3.1.2 Fungsi Hormon Estrogen
Fungsi secara umum estrogen adalah sebagai
perangsang sintesis DNA melalui RNA, pembentuk utusan
RNA (messenger RNA), sehingga terjadi peningkatan
sintesis protein (Sherwood, 2001; Speroff et al., 2005).
Sedangkan fungsi khusus meliputi:
1. Endometrium
Estradiol memicu proliferasi endometrium dan
memperkuat kontraksi otot uterus.
2. Serviks
Sawar (barrier) yang terutama menghalangi masuknya
spermatozoa ke dalam uterus adalah getah serviks yang
kental. Produksi estradiol yang kian meningkat pada fase
folikuler akan meninggikan sekresi getah serviks dan
mengubah konsentrasi getah pada saat ovulasi menjadi
encer dan bening, sehingga memudahkan penyesuaian,
memperlancar perjalanan spermatozoa dan meninggikan
kelangsungan hidupnya. Dalam praktik klinis, hal ini
dapat digunakan sebagai diagnostik untuk membuktikan
adanya estrogen.
3. Vagina
Estradiol menyebabkan perubahan selaput vagina,
meningkatkan produksi getah dan meningkatkan kadar
glikogen, sehingga terjadi peningkatan produksi asam
laktat oleh bakteri Doderlein. Nilai pH menjadi rendah,
dan memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi.
4. Ovarium

16
Estradiol memicu sintesis reseptor FSH di dalam sel-sel
granula, juga reseptor LH di sel-sel teka. Adanya khasiat
estrogen pada sistim reproduksi wanita dapat dengan
mudah dilihat, tanpa memerlukan pemeriksaan hormon
serum atau urin. (sherwood, 2001)
2.4 Masa Kehidupan Wanita
Masalah normal yang dialami wanita dari usia 8 sampai 65 tahun terdiri
dari :

Gambar 2. 4 Masa Kehidupan Wanita


(dikutip dari Rachman, 2009)

Pengertian perubahan-perubahan fisiologis ini sangat berguna bagi


wanita yang secara pasti akan mengalami masalah ini dalam
kehidupannya, sehingga ia bisa mempersiapkan diri sesuai dengan
pendidikan sosial ekonomi yang didapatnya (Rachman, 2009).
2.5 Menopause
2.5.1 Definisi Menopause

17
Menopause menurut WHO (2005) berarti berhentinya
siklus menstruasi untuk selamanya bagi wanita yang sebelumnya
mengalami menstruasi setiap bulan, yang disebabkan oleh jumlah
folikel yang mengalami atresia terus meningkat, sampai tidak
tersedia lagi folikel, serta dalam 12 bulan terakhir mengalami
amenorea, dan bukan disebabkan oleh keadaan patologis. Kini
wanita Indonesia rata-rata memasuki masa menopause pada usia 50
tahun. Tetapi sebagian ada yang mengalami pada usia lebih awal
atau lebih lanjut. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi
oleh keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan
(Baziad, 2003).
Diagnosis menopause dibuat setelah terdapat amenorea
sekurang-kurangnya 12 bulan terakhir, kadar FSH > 30 mIU/ml
dan kadar E2 < 30pg/ml (Baziad, 2003).
Berhentinya haid dapat didahului oleh siklus haid yang
lebih panjang, dengan perdarahan yang berkurang. Faktor fisik dan
psikis mempengaruhi kapan terjadinya menopause. Demikian juga
dengan adanya penyakit tertentu, operasi indung telur, stres, obat-
obatan, dan gaya hidup merupakan contoh faktor yang
mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause. Menopause
rupanya ada hubungannya dengan menarche. Makin dini menarche
terjadi, makin lambat menopause timbul, sebaliknya, makin lambat
menarche terjadi, makin cepat menopause timbul (Azhar, 2000).
Pada abad ini umumnya nampak bahwa menarche makin
dini timbul dan menopause makin lambat terjadi, sehingga masa
reproduksi menjadi lebih panjang. Menopause yang artifisial
karena operasi atau radiasi umumnya menimbulkan keluhan yang
lebih banyak dibandingkan dengan menopause alamiah
(Azhar, 2000).
2.5.2 Data Statistik Menopause

18
Beberapa studi menyebutkan umur rata-rata terjadinya
menopause di Negara-negara barat sekitar 50 tahun. Di Amerika
berkisar 49 tahun, sedangkan dibelahan Afika Selatan pada angka
48 tahun. Wanita diluar negara-negara Eropa, menopause terjadi
lebih awal, sedangkan di Afrika Selatan dan Amerika, wanita kulit
hitam mengalami menopause lebih dini dibandingkan wanita kulit
putih (Azhar, 2000).
Dilaporkan juga, bahwa wanita yang nulipara mengalami
menopause lebih awal, sedangkan wanita multipara menopause
terjadi lebih lambat (Baziad, 2003)
Ditemukan adanya laporan yang mengejutkan , bahwa ibu
yang memiliki anak kembar memasuki fase menopause satu tahun
lebih awal dibandingkan dengan ibu yang melahirkan anak
tunggal. Dalam hal ini tidak ditemukan adanya penjelasan yang
bermakna. Beberapa faktor seperti riwayat melahirkan, nutrisi, ras
dan merokok mempengaruhi umur terjadinya menopause
(Azhar, 2000).
Faktor yang tidak kalah penting yang menentukan usia
seseorang wanita memasuki menopause adalah jumlah folikel
ovarium (DeCherney, 2005). Jumlah folikel terus bertambah
hingga hilang saat bayi lahir, hal ini tergantung juga dengan
keadaan perubahan siklus hormonal atau fase psikologis wanita
(De Cherney, 2005).

19
2.5.3 Klimakterium dan Menopause
Klimakterik dibagi dalam beberapa fase :

Gambar 2. 5 Fase Klimakterium


(dikutip dari Baziad, 2003)

Sebelum memasuki menopause itu sendiri, ada beberapa


istilah yang berhubungan dengan menopause. Diantaranya fase
klimakterium, merupakan suatu masa peralihan yang normal, yang
berlangsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah
menopause, yang mulai kira-kira 2 tahun sebelum menopause
berdasarkan keadaan endokrinologik (kadar estrogen mulai turun
dan kadar hormon gonadotropin naik), dan jika ada gejala-gejala
klinis. Sedangkan senium adalah masa sesudah pascamenopause,

20
ketika telah tercapai keseimbangan baru dalam kehidupan wanita,
sehingga tidak ada lagi gangguan vegetatif maupun psikis
(Baziad, 2003).
Klimakterium berakhir kira-kira 8 tahun sesudah
menopause. Pada saat ini kadar estrogen telah mencapai nilai yang
rendah yang sesuai dengan keadaan senium, dan gejala-gejala
neurovegetatif telah terhenti. Dengan demikian, lamanya
klimakterium lebih kurang 13 tahun. Klimakterium bukan suatu
keadaan patologik.
Pada klimakterium juga terjadi penurunan produksi
estrogen dan kenaikan hormon gonadotropin. Kadar hormon akhir
ini terus tetap tinggi sampai kira-kira 15 tahun setelah menopause,
kemudian mulai menurun. Tingginya kadar hormone gonadotropin
disebakan oleh berkurangnya produksi estrogen, sehingga native
feedback terhadap produksi gonadotropin berkurang.

Gambar 2. 6 Perubahan kadar hormon seks dari


kematangan seksual sampai pascamenopause

21
(dikutip dari Baziad, 2003)

Dalam keadaan klimakterium, seorang wanita mengalami


perubahanperubahan tertentu, yang dapat menimbulkan gangguan-
gangguan ringan atau kadang-kadang berat. Walaupun
klimakterium merupakan masa perubahan, umumnya masa itu
dilalui oleh wanita tanpa banyak keluhan, hanya sebagian kecil
(25% pada wanita Eropa, agak kurang pada wanita Indonesia)
ditemukan keluhan yang cukup berat yang memerlukan
penanganan dokter. dan gangguan itu sifatnya berbeda-beda
menurut waktunya klimakterium (Gardner, 2007).

Gambar 2. 7 Stages of Reproductive Aging Workshop


(STRAW) (Adapted from Soules MR et al., 2001)

22
Pada fase reproduksi, siklus menstruasi bervariasi sampai
regular karena FSH masih normal serta terjadi peningkatan pada
fase lanjut. Fase peralihan menopause dimulai dengan
meningkatnya variabilitas siklus menstruasi yaitu lebih dari 7 hari
dengan meningkatnya FSH. Fase ini berakhir dengan berakhirnya
siklus haid. Perimenopause dini dimulai setelah 5 tahun dari
menstruasi terakhir. Sedangkan posmenopause bervariasi dari
lamanya perdarahan, dimulai 5 tahun setelah menstruasi terakhir
dan berlangsung sampai kematian (gardner,2007)
Karena menopause merupakan salah satu dari beberapa
tahap kehidupan reproduksi wanita, maka keseluruhan masa
peralihan menopause dapat dibagi menjadi beberapa tahap:

1. Premature menopause atau menopause dini


Menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun, baik secara
alamiah ataupun induksi oleh karena tindakan medis. Wanita
dengan premature menopause mempunyai gejala yang mirip
dengan menopause alami, seperti hot flashes, gangguan emosi,
kekeringan pada vagina serta penurunan gairah seksual.
Untuk beberapa wanita dengan premature menopause,
keluhan ini dialami sangat berat. Disamping itu, wanita juga
cenderung mengalami kejadian keropos tulang lebih besar
dibandingkan dengan wanita yang mengalami menopause lebih
lambat. Hal inilah yang meningkatkan terjadinya osteoporosis,
yang merupakan faktor resiko patah tulang.
2. Perimenopause
Perimenopause ditandai dengan terjadinya perubahan
kearah menopause, yang berkisar antara 2-8 tahun, ditambah
dengan 1 tahun setelah menstruasi terakhir. Tidak diketahui
secara pasti untuk mengukur berapa lama fase perimenopause
berlangsung. Hal ini merupakan keadaan alamiah yang dialami

23
seorang wanita dalam kehidupannya yang menandai akhir dari
masa reproduksi. Penurunan fungsi indung telur selama masa
perimenopause berkaitan dengan penurunan estrogen dan
progesterone serta hormon androgen.
3. Menopause
Menopause adalah perubahan alami yang dialami seorang
wanita saat siklus menstruasi terhenti. Keadaan ini sering
disebut “change of life”. Selama menopause, biasa terjadi antara
usia 45-55 tahun, tubuh wanita secara perlahan berkurang
menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.
Dikatakan menopause, jika dalam 12 bulan terakhir tidak
mengalami menstruasi dan tidak disebabkan oleh hal patologis.
Kadar estradiol 10-20 pg/ml yang berasal dari konversi
androstenedion.
4. Postmenopause
Masa setelah mencapai menopause sampai senium yang
dimulai setelah 12 bulan amenore serta rentan terhadap
osteoporosis dan penyakit jantung. (Sarwono, 2011)
Postmenopause atau pascamenopause adalah masa setelah
menopause sampai senium yang dimulai setelah 12 bulan
amenorea. Seorang wanita disebut senium bila telah memasuki
usia pascamenopause lanjut sampai usia >65 tahun. Kadar FSH
dan LH sangat tinggi (>35 mIU/ml) dan kadar estradiol sangat
rendah (<30 pg/ml). Rendahnya kadar estradiol mengakibatkan
endometrium menjadi atropi sehingga haid tidak mungkin
terjadi lagi. (Baziad, 2008)
Postmenopause, periode setelah perimenopause sampai
senilis. Masa yang berlangsung kurang lebih 3-5 tahun setelah
menopause. Keluhan lokal pada sistem urogenital bagian bawah,
atrofi vulva dan vagina menimbulkan berkurang produksi lendir/
timbulnya nyeri senggama. (Safitri, 2009)

24
2.5.4 Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Menopause
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi usia menopause seorang
wanita, antara lain:
1. Usia saat haid pertama (menarche)
Menurut Katharina D., wanita yang mendapatkan
menstruasi pada usia 16 atau 17 tahun akan mengalami
menopause lebih dini, sedangkan wanita yang haid lebih dini
seringkali akan mengalami menopause sampai pada usianya
mencapai 50 tahun. Ada pola keluarga yang berlaku secara
umum, bagi seluruh keluarga dan sebaliknya (Reitz, 1993).
Ada hubungan antara usia pertama kali mendapat haid
dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Semakin
muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua
atau lama ia memasuki masa menopause (Kasdu, 2002).

2. Status Perkawinan

Keadaan seorang wanita yang tidak menikah diduga


mempengaruhi perkembangan psikis wanita tersebut. Mereka
akan mengalami masa menopause lebih muda atau lebih cepat
dibandingkan dengan wanita yang telah menikah (Kasdu, 2002)

3. Jumlah Anak

Semakin sering seorang wanita melahirkan maka semakin


tua atau lama wanita tersebut memasuki masa menopause. Hal
ini dikarenakan kehamilan dan persalinan akan memperlambat
sistem kerja organ reproduksi wanita dan juga dapat
memperlambat penuaan tubuh (Yatim, 2001)

4. Usia Melahirkan

25
Menurut penelitian yang dilakukan di Beth Israel
Denconess Medical Centre di Boston, menemukan bahwa
wanita yang masih melahirkan di atas 40 tahun akan mengalami
usia menopause yang lebih tua. Semakin tua seseorang
melahirkan anak, semakin tua ia mulai memasuki usia
menopause. Hal ini terjadi karena kehamilan dan persalinan
akan memperlambat sistem kerja organ reproduksi. Bahkan
akan memperlambat proses penuaan tubuh (Kasdu, 2002).

5. Pemakaian Kontrasepsi

Pemakaian kontrasepsi, khususnya kontrasepsi hormonal,


pada wanita yang menggunakannya akan lebih lama atau lebih
tua memasuki usia menopause. Hal ini dapat terjadi karena cara
kerja kontrasepsi yang menekan fungsi indung telur sehingga
tidak memproduksi sel telur (Kasdu, 2002).

6. Kebiasaan Merokok

Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo dan


rekannya (1998) menyebutkan di antara 2.123 perempuan yang
berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok,
59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan
dengan perempuan yang tidak merokok.

Bagi perokok paling berat, resiko menopause dini hampir


dua kali lipat. Namun, perempuan yang dulunya merokok, tapi
berhenti setidaknya 10 tahun sebelum menopause, pada
dasarnya kurang mungkin untuk berhenti menstruasi secara
normal dibandingkan dengan perokok sebelum usia 45 tahun
(Safitri, 2009).

7. Penyakit

26
Ada beberapa hal yang bisa memicu menopause dini
terjadi, antara lain penyakit atau mengalami gangguan
hormonal sehingga estrogen tidak bisa diproduksi lagi. Ada
pula perempuan yang karena penyakit tertentu indung telurnya
harus diangkat. Begitu indung telur diangkat, perempuan akan
kekurangan estrogen karena yang memproduksi estrogen adalah
indung telur.

Beberapa penyakit seperti, infeksi kelenjar thyroid,


kelebihan hormon prolaktin, kelainan pada kelenjar pituitary,
penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang menyerang
ovarium) atau status gizi buruk juga dapat menyebabkan
berhentinya haid. Wanita yang memiliki riwayat keluarga
menopause dini, mengalami operasi pengangkatan ovarium,
menjalani terapi kanker seperti radiasi atau kemoterapi yang
merusak ovarium, punya kemungkinan lebih besar mengalami
enopause dini (Safitri, 2009).

2.5.5 Etiologi Menopause


1. Alami
Semakin tua, folikel wanita makin resisten terhadap
stimulasi hormon gonadotropin dan reaksi umpan balik negatif
terhadap hipotalamus. Akibatnya FSH dan LH di darah akan
naik dan berakibat stimulasi stromal terhadap ovarium. Kadar
estrogen dan progesteron pun menurun. Akhirnya terjadi
feedback negatif dengan peningkatan FSH dari kalenjar
hipofise. Tubuh pun bereaksi dengan menopause
2. Buatan
Akibat tindakan bedah (surgical menopause) atau
pengobatan kanker (medical menopause) Sehingga perlu
dilakukan operasi pengangkatan indung telur/ ovarium
(Sarwono, 2011)

27
2.5.6 Patofisiologi Menopause

Pada wanita menopause, hilangnya fungsi ovarium secara


bertahap akan menurunkan kemampuannya dalam menjawab
rangsangan hormon-hormon hipofisis untuk menghasilkan hormon
steroid. Saat dilahirkan wanita mempunyai kurang lebih 750.000
folikel primordial. Dengan meningkatnya usia jumlah folikel
tersebut akan semakin berkurang. Pada usia 40-44 tahun rata-rata
jumlah folikel primordial menurun sampai 8300 buah, yang
disebabkan oleh adanya proses ovulasi pada setiap siklus juga
karena adanya apoptosis yaitu proses folikel primordial yang mati
dan terhenti pertumbuhannya. Proses tersebut terjadi terus-menerus
selama kehidupan seorang wanita, hingga pada usia sekitar 50
tahun fungsi ovarium menjadi sangat menurun. Apabila jumlah
folikel mencapai jumlah yang kritis, maka akan terjadi gangguan
sistem pengaturan hormon yang berakibat terjadinya insufisiensi
korpus luteum, siklus haid anovulatorik dan pada akhirnya terjadi
oligomenore (Speroff et al., 2005).
Perubahan-perubahan dalam sistem vaskularisasi ovarium
sebagai akibat proses penuaan dan terjadinya sklerosis pada sistem
pembuluh darah ovarium diperkirakan sebagai penyebab gangguan
vaskularisasi ovarium. Apabila folikel sudah tidak tersedia berarti
wanita tersebut telah memasuki masa menopause. Pada usia
menopause berat ovarium tinggal setengah sampai sepertiga dari
berat sebelumnya. Terjadinya proses penuaan dan penurunan fungsi
ovarium menyebabkan ovarium tidak mampu menjawab
rangsangan hipofisis untuk menghasilkan hormon steroid
(Speroff et al., 2005).

28
Menopause terjadi oleh karena keadaan hipo-estrogenik
akibat penurunan fungsi dari ovarium. Keadaan ini dapat
menimbulkan perubahan pada banyak sistem dan organ tubuh.
Gejala vasomotor, urogenital atropi, peningkatan risiko
osteoporosis dan kelainan kardiovaskuler adalah gejala yang telah
diketahui dapat timbul pada wanita menopause. Perubahan
hormonal ini juga mempengaruhi biomekanik dari kulit. Setelah
menopause umumnya wanita mengeluh kulit lebih kering, bersisik
dan mudah memar. Penebalan epidermis, berkurangnya kolagen
dermis, menurunnya kelembaban dan kekenyalan kulit dilaporkan
sering ditemukan pada wanita menopause. Beberapa kelainan kulit
yang berhubungan dengan penurunan hormon estrogen antara lain
yang paling sering adalah flushes, atrophic vulvovaginitis, lichen
sclerosus, keratoderma klimakterium. Dengan adanya peningkatan
harapan hidup, sebagai dokter ahli dibidang kulit sebaiknya
memahami kelainan-kelainan kulit yang timbul pada wanita
menopause, patofisiologi, kelainan kulit yang berhubungan dengan
keadaan menopause, pengetahuan tentang penggunaan terapi
hormonal, pilihan terapi lainnya, sehingga memungkinkan untuk
pemberian terapi yang rasional (Sawitri dkk, 2009).
Flushing adalah suatu episode akut timbulnya eritema dan
sensasi rasa panas pada wajah, telinga, dan leher, kadang dapat
timbul pada dada bagian atas dan daerah epigastrium. Flushing
diduga berhubungan dengan keadaan defisiensi estrogen oleh
karena memberikan efek yang baik setelah pemberian terapi sulih
hormon. Beberapa laporan menunjukkan timbulnya keadaan ini
tidak berhubungan langsung dengan kadar plasma estrogen karena
perbandingan kadar serum estrogen pada penderita dengan flushing
dibandingkan dengan wanita yang tidak timbul gejala, tidak
menunjukkan hubungan yang berarti terhadap adanya penurunan
kadar estrogen dan beratnya gejala yang ditimbulkan. Pada

29
beberapa wanita berhubungan dengan adanya pelepasan dari
Luteinizing hormon (LH), kemungkinan akibat dari rendahnya
kadar estrogen yang beredar sehingga terjadi kegagalan dari
mekanisme feedback. Flushing bisa timbul juga setelah dilakukan
hipofisektomi. Dugaan lain adalah karena adanya mekanisme yang
berhubungan dengan penurunan kadar katekolamin hipotalamus
dan kegagalan dari pusat termoregulator yang bekerja melalui
neuron yang dipengaruhi oleh LH (Sawitri, 2009).
2.5.7 Masalah Defisiensi Hormonal
Masalah defisiensi hormonal pada usia menopause
diakibatkan oleh menurunnya produksi hormon estrogen ovarium
karena berkurangnya jumlah folikel yang aktif sampai
menghilangnya produksi estrogen ovarium akibat sudah tidak ada
sama sekali folikel yang masih aktif di ovarium. Keadaan
defisiensi estrogen ini dapat berakibat pada munculnya keluhan
jangka pendek ataupun jangka panjang. Tidak semua perempuan
menopause mempunyai keluhan. Sekitar 18% tanpa keluhan, 56%
dengan keluhan dalam 1 – 5 tahun setelah menopause dan 26%
setelah lebih dari 5 tahun (Sarwono, 2011).

2.5.8 Perubahan Metabolisme Hormonal Pada Menopause

Pada wanita dengan siklus haid yang normal, estrogen


terbesar adalah estradiol yang berasal dari ovarium. Di samping
estradiol terdapat pula estron yang berasal dari konversi
androstenedion di jaringan perifer. Selama siklus haid pada masa
reproduksi, kadar estradiol di dalam darah bervariasi. Pada awal
fase folikuler kadar estradiol berkisar 40-80 pg/ml, pada
pertengahan fase folikuler berkisar 60-100 pg/ml, pada akhir fase
folikuler berkisar 100-400 pg/ml dan pada fase luteal berkisar
100-200 pg/ml. Kadar rata-rata estradiol selama siklus haid

30
normal 80 pg/ml sedangkan kadar estron berkisar antara 40- 400
pg/ml (Speroff et al., 2005).

Memasuki masa perimenopause aktivitas folikel dalam


ovarium mulai berkurang. Ketika ovarium tidak menghasilkan
ovum dan berhenti memproduksi estradiol, kelenjar hipofise
berusaha merangsang ovarium untuk menghasilkan estrogen,
sehingga terjadi peningkatan produksi FSH. Meskipun perubahan
ini mulai terjadi 3 tahun sebelum menopause, penurunan produksi
estrogen oleh ovarium baru tampak sekitar 6 bulan sebelum
menopause. Terdapat pula penurunan kadar hormon androgen
seperti androstenedion dan testosteron yang sulit dideteksi pada
masa perimenopause. Pada pascamenopause kadar LH dan FSH
akan meningkat, FSH biasanya akan lebih tinggi dari LH sehingga
rasio FSH/ LH menjadi lebih besar dari satu. Hal ini disebabkan
oleh hilangnya mekanisme umpan balik negatif dari steroid
ovarium dan inhibin terhadap pelepasan gonadotropin. Diagnosis
menopause dapat ditegakkan bila kadar FSH lebih dari 30 mIU/ml
(Speroff et al., 2005).
Kadar estradiol pada wanita pascamenopause lebih rendah
dibandingkan dengan wanita usia reproduksi pada setiap fase dari
siklus haidnya. Pada wanita pascamenopause estradiol dan estron
berasal dari konversi androgen adrenal di hati, ginjal, otak,
kelenjar adrenal dan jaringan adipose. Proses aromatisasi yang
terjadi di perifer berhubungan dengan berat badan wanita. Wanita
yang gemuk mempunyai kadar estrogen yang lebih tinggi
dibandingkan wanita yang kurus karena meningkatnya aromatisasi
di perifer. Pada wanita pascamenopause kadar estradiol menjadi
13-18 pg/ml dan kadar estron 30-35 pg/ml (Speroff et al., 2005).
2.5.9 Diagnosis Menopause

31
Diagnosis menopause dapat ditegakkan baik dengan cara
sederhana maupun dengan cara yang canggih. Perempuan
menopause ada yang mengalami gejala dan juga yang tidak. Bila
pasien sudah lebih dari satu tahun memasuki menopause,
pemeriksaan hormon tidak mutlak. Diagnosis dapat ditegakkan bila
ditemukan usia 48 – 49 tahun, haid mulai tidak teratur, darah haid
mulai sedikit, atau banyak, haid berhenti sama sekali, timbul
keluhan klimakterik, atau tanpa keluhan klimakterik. Diagnosis
pasti ditegakkan bila usia > 40 tahun, tidak haid > 6 bulan,
dengan/tanpa keluhan klimakterik, kadar FSH > 40 mIU/ml, E2 <
30 pg/ml (Sarwono, 2011).
2.6. Gejala Klinis Menopause
Berbagai gejala yang dirasakan pada masa menopause
berdasarkan MRS (Menopause Rating Scale) dari Greene, yang
dikenal dengan istilah Skala Klimakterik Greene , dapat
dikelompokkan sebagai berikut

1. Gejala psikologik
Jantung berdebar, perasaan tegang atau tertekan, sulit tidur,
mudah tersinggung, mudah panik, sukar berkonsentrasi, mudah
lelah, hilangnya minat pada banyak hal, perasaan tidak bahagia,
mudah menangis.
2. Gejala somatik
Perasaan kepala pusing, atau badan terasa tertekan, sebagian
tubuh terasa tertusuk duri, sakit kepala, nyeri otot atau
persendian, tangan atau kaki terasa baal, dan kesukaran
bernapas.
3. Gejala vasomotor
Gejolak panas (hot flashes) dan berkeringat di malam hari.
(Sarwono, 2011).

32
Flushing adalah suatu episode akut timbulnya eritema dan
sensasi rasa panas pada wajah, telinga, dan leher, kadang dapat
timbul pada dada bagian atas dan daerah epigastrium. Keadaan
ini timbul karena adanya peningkatan aliran darah kulit yang
bersifat sementara.10 Jenis fisiologis flushing yang paling
banyak ditemukan adalah flushing yang timbul pada wanita
menopause, disebut dengan menopausal atau klimakterik
flushing atau lebih dikenal dengan "Hot flash". Kurang lebih
75% wanita mengalami flushing selama menjelang menopause
(klimakterik) atau setelah dilakukan oophorektomi dan
merupakan keluhan yang dianggap paling mengganggu. Timbul
rasa panas yang mendadak pada wajah, leher, disertai rasa tidak
nyaman dan berkeringat. Keadaan ini umumnya berlangsung
selama 3 sampai 5 menit, walaupun intensitas dan durasinya
bisa bervariasi pada tiap wanita. Pada beberapa orang keluhan
ini bisa disertai oleh gejala palpitasi, rasa berdenyut pada kepala
dan leher, nyeri kepala, kadang mual, dan ansietas. Perubahan
fisilologis yang dapat terlihat adalah peningkatan temperatur
tubuh, denyut nadi dan nafas. Hot flash juga bisa diprovokasi
oleh minuman panas, alkohol, stress emosional dan kegiatan
fisik yang berlebihan (Sawitri, 2009)
Gejala lain yaitu berupa perubahan fisik pada masa
menopause (Safitri, 2009). Ketika seseorang memasuki masa
menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan
linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya
pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku
ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan,
jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1993).
Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari
menopause yaitu:

33
1. Ketidakteraturan Siklus Haid

Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang


kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus
berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah
darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan
haid yang normal. Keadaan ini sering mengesalkan wanita
karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang
dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai
empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir
setelah satu minggu atau lebih (Nugroho, 1995).

2. Gejolak Rasa Panas

Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai


berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti.
Sheldon H.C mengatakan kira-kira 60% wanita mengalami arus
panas. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar
jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan
timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flushes ini sering
diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke
beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama
dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang
banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat
mengganggu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan
menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi
(Reitz, 1993).

3. Kekeringan Vagina

Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali


mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen
yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih
kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, liang

34
senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat
senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini
membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini
sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi
buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing
terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme (Kasdu,
2002).

4. Perubahan Kulit

Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika


menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang
elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan.
Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti
kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih
permanen dan jelas (Hurlock, 1993).

Dengan menggunakan percobaan tikus, estrogen menunjukkan


hambatan degradasi dari kolagen. Terdapat hubungan yang
kompleks antara faktor regulasi, reseptor, dan enzim dalam
mengatur keseimbangan kolagen, meskipun mekanisme
peranan estrogen terhadap integritas kolagen sendiri tidak
diketahui dengan pasti.4 Penurunan kolagen dalam dermis
merupakan faktor yang berperan dalam patogenesis atropi kulit
(Sawitri dkk, 2009).

Beberapa penelitian menunjukkan terdapat perubahan


degeneratif jaringan ikat elastis di dermis pada wanita muda
yang mengalami menopause dini (Sawitri dkk, 2009).

Aktivitas kelenjar sebasea pada kulit diatur oleh kadar hormon


yang beredar. Estrogen menurunkan jumlah dan ukuran kelenjar
sebaseus, juga produksi sebum, di mana androgen bekerja
sebaliknya yaitu merangsang sekresi kelenjar (Sawitri, 2009).

35
5. Keringat di Malam Hari

Berkeringat malam hari, bangun bersimbah peluh. Sehingga


perlu mengganti pakaian dimalam hari. Berkeringat malam hari
tidak saja mengganggu tidur melainkan juga teman atau
pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan
lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.

Cara kerjanya belum diketahui secara pasti, tetapi pancaran


panas pada tubuh akibat pengaruh hormon yang mengatur
thermostat tubuh pada suhu yang lebih rendah. Akibatnya suhu
udara yang semula dirasakan nyaman, mendadak menjadi
terlalu panas dan tubuh mulai menjadi panas serta
mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri (Kasdu, 2002).

6. Sulit Tidur

Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause,


tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat
berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang
lain (Nugroho, 1995).

7. Perubahan Pada Mulut

Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah


menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami
gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal
(Yudomustopo, 1989).

8. Badan Menjadi Gemuk

36
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa
letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk
dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak wanita
yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini
disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang
berolahraga (Kasdu, 2002).

9. Penyakit

Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita


menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan
paling penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu
meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh
darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang
(osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat
menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung.
Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang
yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan maka semakin
besar kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker
payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara
lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa
menopause (Yatim, 2001).

Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di


rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat
bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini
terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun. Gejala
yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah
persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda
diantara haid. Sementara kanker endometrium (kanker tubuh
rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang
paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat haid

37
agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan
darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya
adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid,
keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan
biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause.

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat Pelaksanaan


Lokasi : Masyarakat

38
Alamat : Palembang

3.2 Waktu Pelaksanaan


Hari dan Tanggal : Jumat, 19 Juni 2015
Waktu : 15:00 sd Selesai

3.3 Alat-Alat yang Digunakan


Adapun alat-alat yang digunakan dalam Tugas Pengenalan Profesi antara
lain kuisioner, pena, buku tulis, dan kamera.

3.4 Sampel
Sampel pada pelaksanaan TPP ini adalah lansia (menopause) di
masyarakat.

3.5 Langkah Kerja


1. Melakukan konsultasi dengan pembimbing Tugas Pengenalan Profesi
2. Membuat proposal kegiatan
3. Mengkonsultasikan proposal dengan pembimbing Tugas Pengenalan
Profesi
4. Setelah mendapat persetujuan atau acc dari pembimbing, menentukan
waktu kegiatan
5. Pelaksanaan kegiatan yaitu mengidentifikasi gangguan hormonal pada
lansia (menopause).
6. Mengumpulkan data hasil kerja lapangan untuk mendapatkan suatu
kesimpulan
7. Membuat laporan hasil Tugas Pengenalan Profesi dari data yang sudah
didapatkan

3.6 Cara Pengumpulan Data


Data primer dalam pelaksanaan TPP ini terdiri dari karakteristik pasien
yaitu jenis kelamin, usia, pola hidup, factor penyebab menopause , gejala
gangguan hormonal. Data primer diperoleh dengan wawancara langsung
berdasarkan kuesioner.

3.7 Cara Pengolahan Data

39
Pengolahan data dilakukan dengan cara deskriptif yaitu pengolahan data
yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan data atau hasil yang sudah di
dapatkan.

3.8 Jadwal Kegiatan

Tabel jadwal kegiatan tugas pengenalan profesi adalah :

Juni
No Jenis Kegiatan Minggu Minggu Minggu Minggu
I II III IV

1 Penyusunan proposal

2 Observasi

3 Pembahasan

4 Penyusunan Laporan

5 Pleno

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

4.1.1 Pasien Pertama

Nama : Ny. S

Umur : 58 Tahun

Status : Menikah

Alamat : Jalan Gresik, Sekip, Palembang

Pendidikan : Tamat SD

40
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

1) Pada usia berapa anda mendapatkan menstruasi (haid) yang


pertama ?
Jawab :
Usia 12 Tahun

2) Bagaimana siklus menstruasi anda selama ini ?


A. Normal (28 hari)
B. < 28 hari
C. >28 hari

3) Berapa hari biasanya anda mendapatkan menstruasi dalam satu


siklus ?
A. Normal (4-7 hari)
B. <4 hari
C. >4 hari
4) Berapa kali anda mengalami persalinan untuk melahirkan anak
hidup ?
Jawab :
Belum pernah melahirkan

5) Berapa jumlah anak yang anda punya ?


Jawab :
2 (Anak asuh)

6) Kapan terkahir kali melahirkan anak (Usia Melahirkan Terakhir)?


Jawab :
Belum pernah melahirkan

7) Apakah anda memiliki anak kembar ?


Jawab :
Tidak pernah

8) Apakah selama ini anda mengkonsumsi nutrisi yang baik ?


Jawab :
Baik

9) Kapar pertama kali mengalami haid (menarche)?


Jawab :
12 Tahun

10) Kapan terakhir kali mengalami haid (menopause)?


Jawab :

41
Setelah operasi Kista Ovarium (43 Tahun)

11) Apakah selama ini ada gangguan setiap menstruasi ?


Jawab :
Tidak
12) Apakah anda pernah menggunakan kontrasepsi?
Jawab :
Tidak ada

13) Apa jenis kontrasepsi yang pernah digunakan?


Jawab :
Tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi

14) Apakah anda pernah merokok? Berapa lama?


Jawab :
Pasien tidak merokok, tetapi suami perokok aktif
1 hari habis sekitar 2 bungkus

15) Apakah anda pernah menderita penyakit, seperti :


 Infeksi kelenjar thyroid
 Kelebihan hormon prolactin
 Kelainan pada kelenjar pituitary
 Penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang
menyerang ovarium)
 Status gizi buruk
 Penyakit lainnya
Jawab :
Kista Ovarium

16) Apakah anda memiliki riwayat keluarga menopause dini?


Jawab :
Tidak

17) Apakah anda penah mengalami operasi pengangkatan ovarium?


Jawab :
Pernah
18) Apakah anda pernah menjalani terapi kanker, seperti radiasi atau
kemoterapi?
Jawab :
Tidak pernah

19) Apa keluhan fisik yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :

42
 Haid tidak teratur
 Tidak haid sejak 12 bulan lalu
 Rasa panas pada bagian tubuh (Hot Flush)
 Nyeri saat senggama, keputihan
 Frekuensi BAK meningkat
 Perubahan pada kulit
 Keringat berlebih, terutama di malam hari
 Badan menjadi gemuk
 Rasa cepat lelah
 Sakit kepala
 Nyeri otot atau persendian
 Tangan atau kaki terasa baal
 Kesukaran bernapas.
Jawab :
Setelah menopause nyeri persendian

20) Apa keluhan psikologis yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :
 Jantung berdebar
 Perasaan tegang atau tertekan
 Sulit tidur
 Mudah tersinggung
 Mudah panic
 Sukar berkonsentrasi
 Mudah lelah
 Hilangnya minat pada banyak hal
 Perasaan tidak bahagia
 Mudah menangis
 Perasaan kepala pusing
Jawab :
Tidak ada

4.1.1.2 Kronologi Pasien Pertama :

Ny. S, 58 tahun, Ibu Rumah Tangga , mengalami menstruasi


pertama pada usia 12 tahun dengan siklus normal dan teratur yaitu 28 hari,
lama menstruasi berkisar antara 4-5 hari. Ny. S belum mempunyai anak
sejak awal pernikahannya. Beliau Menikah di usia 35 tahun dan suami saat
itu berusia 38 tahun. Suami Ny S Adalah seorang Perokok Berat (2
bungkus/hari). Ny. S tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi jenis

43
apapun sejak awal pernikahannya. Ny. S mengadopsi 2 anak dari adik
perempuannya.
Pada Usia 43 tahun, Ny. Dalilah di diagnosis menderita kista
ovarium dan harus dioperasi. Sejak Operasi tersebut, beliau dia lagi
mengalami menstruasi. Setelah operasi kista, Ny. Dalilah kadang
merasakan nyeri pada pinggang, TD : 140/90. Tidak ada riwayat
menopause dini dalam keluarga.

4.1.1.3 Pembahasan Pasien Pertama


Dari hasil wawancara kami kepada pasien pertama yaitu Ny. S, 58
Tahun. Ny. S mengalami menarche pada usia 12 tahun dengan siklus
normal dan teratur 28 hari dengan lama menstruasi sekitar 4-5 hari.
Berdasarkan teori, usia normal anak mengalami menarche adalah pada
usia 8-13 tahun

44
wanita yang haid lebih dini seringkali akan mengalami menopause
sampai pada usianya mencapai 50 tahun. Ada pola keluarga yang berlaku
secara umum, bagi seluruh keluarga dan sebaliknya (Reitz, 1993).
Pasien ini menikah saat beliau di usia 35 tahun dan suami berusia
38 tahun, Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) usia untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 30 tahun,
lebih atau kurang dari usia tersebut adalah berisiko, yang artinya menikah
pada saat usia 35 tahun merupakan risiko untuk hamil dan tidak
dianjurkan. Wanita disarankan untuk menikah dan hamil diusia tersebut
karena itu merupakan usia produktif, namun bukan tidak mungkin hamil di
usia lebih dari 30 tahun, namun memiliki risiko terhadap ibu dan janin.
Faktor usia memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkat kesuburan
wanita (BKKBN, 2006).

Ny. S belum mempunyai anak sampai sekarang. Berdasarkan teori


Belum mempunyai anak bagi pasangan suami istri yang telah menikah
selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur, tanpa
melakukan kontasepsi dapat dikatakan sebagai infertilitas, dimana
termasuk Infertil primer  Berarti pasangan suami istri belum mampu dan
belum pernah memiliki anak setelah satu tahun berhubungan seksual
sebanyak 2-3 kali perminggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam
bentuk apapun (Sarwono, 2011)

Suami Ny.S merupakan perokok berat dimana dalam 1 hari bisa


menghabiskan rokok 2 bungkus, maka kemungkinan pasien terpapar asap
rokok dari sangat suami (perokok pasif), berdasarkan teori rokok itu bisa
menyebabkan menopause dini, karena zat yang terkandung dalam rokok
bisa menyebabkan penurunan hormon estrogen yang bisa memacu
menopause dini dan bisa juga menjadi faktor risiko terjadi Kista Ovarium.

Pada Usia 43 tahun, Ny. Dalilah di diagnosis menderita kista


ovarium dan harus dioperasi. Sejak Operasi tersebut, beliau dia lagi
mengalami menstruasi, berdasarkan teori Fungsi Ovarium yang normal

45
tergantung pada sejumlah hormon dan kegagalan pembentukan salah satu
hormon tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan
berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormon
hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang
menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di
dalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal
melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium
karena itu terbentuk kista di dalam ovarium dan menyebabkan
kemandulan pada wanita (Helm, 2013)

Terdapat 2 macam kista fungsional, yaitu: kista folikuler dan kista


korpus luteum.

a. Kista Folikuler

Folikel sebagai penyimpan sel telur akan mengeluarkan sel telur


pada saat ovulasi bilamana ada rangsangan LH (Luteinizing
Hormon). Pengeluaran hormon diatur oleh kelenjar hipofisis di
otak. Bilamana semuanya berjalan lancar sel telur akan dilepaskan
dan mulai perjalanannya ke saluran telur untuk dibuahi. Kista
folikuler terbentuk jika lonjakan LH tidak terjadi dan reaksi rantai
ovulasi tidak dimulai, sehingga folikel tidak pecah atau
melepaskan sel telur dan bahkan folikel tumbuh terus hingga
menjadi sebuah kista. Kista folikuler biasanya tidak berbahaya,
jarang menimbulkan nyeri dan sering hilang dengan sendirinya
antara 2-3 siklus menstruasi.

b. Kista Korpus luteum

Bilamana lonjakan LH terjadi dan sel telur dilepaskan, rantai


peristiwa lain dimulai. Folikel kemudian beraksi terhadap LH
dengan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron dalam
jumlah besar sebagai persiapan untuk pembuahan. Perubahan
dalam folikel ini disebut sebagai korpus luteum. Tetapi kadang-

46
kadang setelah sel telur dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan
jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya, menyebabkan korpus
luteum membesar dan menjadi kista. Meski kista ini biasanya
hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, tetapi kista ini
dapat tumbuh hingga 4-9 inci (10 cm) diameternya dan berpotensi
untuk berdarah dengan sendirinya atau mendesak ovarium yang
menyebabkan nyeri panggul atau perut. Jika kista ini berisi darah,
kista ini dapat pecah dan menyebabkan perdarahan intestinal dan
nyeri tajam yang tiba-tiba (Vanholder, 2006)

Pada saat usia 43 tahun, Ny. S harus dioperasi pengangkatan


ovarium akibat kista ovariumnya tersebut, dimana berdasarkan teori
pengangkatan ovarium dapat terjadi menopause, karena tidak adanya sel
telur yang dihasilkan, merupakan etiologi menopause akibat tindakan
bedah (surgical menopause) atau pengobatan kanker (medical menopause)
Sehingga perlu dilakukan operasi pengangkatan indung telur/ ovarium
(Sarwono, 2011)
Ny. Dalilah kadang merasakan nyeri pada pinggang setelah
menopause. Berdasarkan teori ada beberapa penyakit yang seringkali
dialami oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua)
perubahan paling penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu
meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah
serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis).
Osteoporosis terjadi karena pada wanita mengalami menopause
sehingga terjadi penurunan hormon estrogen yang menyebabkan aktivitas
hormon osteoblast menurun dan meningkatkan ativitas hormon osteoklas.
Mineral tulang berfungsi merekatnya serat-serat kolagen matriks
tulang satu dengan lainnya dan juga sebagai cadangan isi calsium di tubuh.
Selain itu tulang mengalami metabolik aktif berupa proses remodelling

47
yaitu proses perusakan osteoclast dan proses pembentukkan osteoblast
tulang yang terutama terjadi pada tulang yang sudah tua diganti dengan
jaringan yang baru. Menurunnya hormon estrogen menyebabkan
penurunan aktivitas osteoblast dan osteoclast meningkat sehingga terjadi
osteoporosis primer. (Yatim, 2001)

4.1.2 Pasien Kedua

Nama : Ny. Z

Umur : 73 Tahun

Status : Menikah

Alamat : Jalan Gresik, Sekip, Palembang

Pendidikan : SGM (Sekolah Guru)

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

1) Pada usia berapa anda mendapatkan menstruasi (haid) yang


pertama ?
Jawab :
Usia 12 Tahun, sejak masih kelas 6 SD

2) Bagaimana siklus menstruasi anda selama ini ?


A. Normal (28 hari)
B. < 28 hari
C. >28 hari

3) Berapa hari biasanya anda mendapatkan menstruasi dalam satu


siklus ?
A. Normal (4-7 hari)
B. <4 hari

48
C. >4 hari

4) Berapa kali anda mengalami persalinan untuk melahirkan anak


hidup ?
Jawab :
8 kali

5) Berapa jumlah anak yang anda punya ?


Jawab :
8 orang anak dengan riwayat persalinan normal tanpa operasi dan
jarak antara kelahiran anak pertama dengan anak kedua sekitar 1
tahunan

6) Kapan terkahir kali melahirkan anak (Usia Melahirkan Terakhir)?


Jawab :
Hamil anak pertama pada usia 19 tahun dan terakhir melahirkan
sekitar usia 40 tahunan keatas

7) Apakah anda memiliki anak kembar ?


Jawab :
Tidak pernah

8) Apakah selama ini anda mengkonsumsi nutrisi yang baik ?


Jawab :
Baik

9) Kapar pertama kali mengalami haid (menarche)?


Jawab :
12 Tahun

10) Kapan terakhir kali mengalami haid (menopause)?


Jawab :
55 Tahun

11) Apakah selama ini ada gangguan setiap menstruasi ?


Jawab :
Pada saat mentruasi sering ganti pembalut sampai 3 kali sehari
karena setiap menstruasi darah yang dikeluarkan sangat banyak

12) Apakah anda pernah menggunakan kontrasepsi?


Jawab :
Pernah

13) Apa jenis kontrasepsi yang pernah digunakan?

49
Jawab :
Spiral dan pil

14) Apakah anda pernah merokok? Berapa lama?


Jawab :
Tidak ada

15) Apakah anda pernah menderita penyakit, seperti :


 Infeksi kelenjar thyroid
 Kelebihan hormon prolactin
 Kelainan pada kelenjar pituitary
 Penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang
menyerang ovarium)
 Status gizi buruk
 Penyakit lainnya
Jawab :
Hipertensi sejak usia 65 tahun

16) Apakah anda memiliki riwayat keluarga menopause dini?


Jawab :
Tidak

17) Apakah anda penah mengalami operasi pengangkatan ovarium?


Jawab :
Tidak
18) Apakah anda pernah menjalani terapi kanker, seperti radiasi atau
kemoterapi?
Jawab :
Tidak

19) Apa keluhan fisik yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :
 Haid tidak teratur
 Tidak haid sejak 12 bulan lalu
 Rasa panas pada bagian tubuh (Hot Flush)
 Nyeri saat senggama, keputihan
 Frekuensi BAK meningkat
 Perubahan pada kulit
 Keringat berlebih, terutama di malam hari
 Badan menjadi gemuk
 Rasa cepat lelah
 Sakit kepala
 Nyeri otot atau persendian

50
 Tangan atau kaki terasa baal
 Kesukaran bernapas.
Jawab :
Setelah menopause nyeri persendian

20) Apa keluhan psikologis yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :
 Jantung berdebar
 Perasaan tegang atau tertekan
 Sulit tidur
 Mudah tersinggung
 Mudah panic
 Sukar berkonsentrasi
 Mudah lelah
 Hilangnya minat pada banyak hal
 Perasaan tidak bahagia
 Mudah menangis
 Perasaan kepala pusing
Jawab :
Sebelum menopause Ny. Z mengalami keluhan-keluhan seperti
haid tidak teratur, sering merasa pusing, sering BAK, keringat
berlebihan terutama dimalam hari, cepat lelah, capek, susah tidur,
sulit berkonsentrasi setiap melakukan aktivitas atau pekerjaan,
mudah menangis, sering marah-marah, sering panic, jantung
berdebar-debar ,nyeri-nyeri pada persendian sejak 2 tahunan,
tangan dan kaki terasa baal atau sering kesemutan serta sering
merasa pegel-pegel atau kekakuan pada leher dan kepala

4.1.2.1 Kronologi Pasien Kedua :

Pada hari sabtu tanggal 20 Juni 2015 pukul 12.00 WIB s/d selesai
kami melakukan TPP di Jl Gresik Lr. Katu dengan nama Responden yang
di wawancarai Hj. Z usia 73 Tahun. Dari hasil wawancara yang telah
dilakukan didapatkan bahwa Hj. Z pertama kali mengalami menstruasi
pada usia 12 tahun sejak masih kelas 6 SD. Siklus selama menstruasi
normal yaitu setiap 28-30 hari sekali dan selama 7 hari pada saat mentruasi
sering ganti pembalut sampai 3 kali sehari karena setiap menstruasi darah

51
yang dikeluarkan sangat banyak serta tidak mengalami gangguan saat
mentruasi. Hj. Z menikah pada usia 18 tahun. Hamil anak pertama pada
usia 19 tahun dan terakhir melahirkan sekitar usia 40 tahunan keatas

Hj Z mempunyai 8 orang anak dengan riwayat persalinan normal


tanpa operasi dan tidak memiliki anak kembar, jarak antara kelahiran anak
pertama dengan anak kedua sekitar 1 tahunan, jarak anak ke dua dengan ke
tiga 1,5 tahun, jarak anak ke tiga , empat, lima , enam sampai ke tujuh
sekitar 2,5 tahun dan jarak anak ke tujuh dengan ke delapan 3 tahun

Hj Z juga pernah memakai kontrasepsi yakni jenis kontrasepsi


yang dipakai yaitu spiral dan pil. Hj Z menggunakan kontrasepsi spiral
setelah melahirkan anak ke tujuh selama 3 tahun tetapi walaupan telah
menggunakan kontrasepsi spiral masih terjadi kehamilan lagi dan lahirlah
anak ke delapan. Setelah lahir anak ke delapan Hj Z menggunakan
kontrasepsi jenis obat (pil) yang di konsumsi selama kurang lebih 10
tahun sampai Hj Z tidak menstruasi lagi atau ada tanda-tanda menopause.
Hj Z mengalami menopause sekitar usia 55 tahun

Sebelum menopause Hj Z mengalami keluhan-keluhan seperti haid


tidak teratur, sering merasa pusing, sering BAK, keringat berlebihan
terutama dimalam hari, cepat lelah, capek, susah tidur, sulit berkonsentrasi
setiap melakukan aktivitas atau pekerjaan, mudah menangis, sering marah-
marah, sering panic, jantung berdebar-debar ,nyeri-nyeri pada persendian
sejak 2 tahunan, tangan dan kaki terasa baal atau sering kesemutan serta
sering merasa pegel-pegel atau kekakuan pada leher dan kepala.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Drah 130/90 mmHg,


RR 85 x/menit, RR 100x/menit, Temperature 36,6o C serta kesdaran
compos mentis. Saat ini Hj Z menderita Hipertensi sejak usia 65 tahun dan
sampai saat inu rutin mengonsumsi obat anti hipertensi seperti Amlodipin,
Diovan 80 mg, Acetosol 80 mg dan Cardio Protector vitamin. Tidak
merokok dan riwayat penyakit lain disangkal.

52
4.1.2.2 Pembahasan Pasien Kedua

4.1.3 Pasien Ketiga

Nama : Ibu E

Umur : 54 Tahun

Status : Menikah

Alamat : Jalan Gresik, Sekip, Palembang

Pendidikan : S1 Ekonomi

Pekerjaan : Dinas PU (masih Aktif)

1) Pada usia berapa anda mendapatkan menstruasi (haid) yang


pertama ?
Jawab :
Pertama kali menstruasi pada usia 13 tahun

2) Bagaimana siklus menstruasi anda selama ini ?


A. Normal (28 hari)
B. < 28 hari
C. >28 hari

3) Berapa hari biasanya anda mendapatkan menstruasi dalam satu


siklus ?
A. Normal (4-7 hari)
B. <4 hari
C. >4 hari

4) Berapa kali anda mengalami persalinan untuk melahirkan anak


hidup ?
Jawab :

53
Ibu mengalami persalinan untuk melahirkan anak hidup sebanyak 2
kali

5) Berapa jumlah anak yang anda punya ?


Jawab :
2 orang

6) Kapan terkahir kali melahirkan anak (Usia Melahirkan Terakhir)?


Jawab :
Ibu E terakhir melahirkan pada usia 29 tahun

7) Apakah anda memiliki anak kembar ?


Jawab :
Tidak pernah

8) Apakah selama ini anda mengkonsumsi nutrisi yang baik ?


Jawab :
Ibu E kurang mengkonsumsi nutrisi dengan baik dikarenakan
beliau sibuk bekerja

9) Kapar pertama kali mengalami haid (menarche)?


Jawab :
13 Tahun

10) Kapan terakhir kali mengalami haid (menopause)?


Jawab :
Saat usia 47 tahun, Ibu E mengalami myoma uteri pada tahun 2008
dan langsung dilakukan pengangkatan.

11) Apakah selama ini ada gangguan setiap menstruasi ?


Jawab :
Tidak

12) Apakah anda pernah menggunakan kontrasepsi?


Jawab :
Pernah

13) Apa jenis kontrasepsi yang pernah digunakan?


Jawab :
Kontrasepsi yang digunakan adalah KB suntik 3bulan

14) Apakah anda pernah merokok? Berapa lama?


Jawab :

54
Tidak ada

15) Apakah anda pernah menderita penyakit, seperti :


 Infeksi kelenjar thyroid
 Kelebihan hormon prolactin
 Kelainan pada kelenjar pituitary
 Penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang
menyerang ovarium)
 Status gizi buruk
 Penyakit lainnya
Jawab :
Tidak ada

16) Apakah anda memiliki riwayat keluarga menopause dini?


Jawab :
Tidak

17) Apakah anda penah mengalami operasi pengangkatan ovarium?


Jawab :
Ya pernah pada tahun 2008 dikarenakan myoma uteri

18) Apakah anda pernah menjalani terapi kanker, seperti radiasi atau
kemoterapi?
Jawab :
Tidak

19) Apa keluhan fisik yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :
 Haid tidak teratur
 Tidak haid sejak 12 bulan lalu
 Rasa panas pada bagian tubuh (Hot Flush)
 Nyeri saat senggama, keputihan
 Frekuensi BAK meningkat
 Perubahan pada kulit
 Keringat berlebih, terutama di malam hari
 Badan menjadi gemuk
 Rasa cepat lelah
 Sakit kepala
 Nyeri otot atau persendian
 Tangan atau kaki terasa baal
 Kesukaran bernapas.

55
Jawab :
Sejak operasi myoma uteri Ibu E sering merasakan rasa panas pada
bagian tubuh (Hot Flush), keringat berlebih terutama pada malam
hari, merasa cepat lelah, sakit kepala, nyeri otot dan kulit kering.

20) Apa keluhan psikologis yang anda alami sebelum/saat/setelah


menopause?
Misal :
 Jantung berdebar
 Perasaan tegang atau tertekan
 Sulit tidur
 Mudah tersinggung
 Mudah panic
 Sukar berkonsentrasi
 Mudah lelah
 Hilangnya minat pada banyak hal
 Perasaan tidak bahagia
 Mudah menangis
 Perasaan kepala pusing

Jawab :

Ibu E mengalami keluhan sebagai berikut setelah menopause sulit


tidur, mudah marah, mudah berkonsentrasi dan mudah lelah serta
perasaan kepala pusing.

4.1.3.1 Kronologi Pasien Ketiga

Ibu tidak mempunyai riwayat nyeri pada saat menstruasi, siklus


menstruasi dan lama menstruasi normal yaitu siklus 28 hari dan lama
menstruasi 5 hari, tahun 2008 Ibu E pergi ker rumah sakit dikarenakan
menstruasi yang memanjang lalu dilakukan pemeriksaan USG oleh dokter
obgyn, dan Ibu E di diagnosis menderita myoma uteri. Tidak lama setelah
itu Ibu E langsung menjalankan operasi pengangkatan myoma uteri.
Setelah operasi tersebut timbul lah keluhan keluahan seperti berikut sering

56
merasakan rasa panas pada bagian tubuh (Hot Flush), keringat berlebih
terutama pada malam hari, merasa cepat lelah, sakit kepala, nyeri otot,
kulit kering, sulit tidur, mudah marah, mudah berkonsentrasi dan mudah
lelah serta perasaan kepala pusing.

4.1.3.2 Pembahasan Pasien Ketiga

4.1.4 Pasien Keempat

4.1.4.1 Kronologi Pasien Keempat

4.1.4.2 Pembahasan Pasien keempat

4.2 ASASA

4.3 JAKJSAS

57
DAFTAR PUSTAKA

Azhar, B.M. 2000. Hubungan Usia Menopause dengan Usia Menars dan Paritas
pada Wanita Usia 45-55 tahun di Kecamatan Kemuning Palembang. Jurnal
Kedokteran & Kesehatan Publikasi Ilmiah FK Universitas Sriwijaya. p.
851-855.
Baziad, A. 2003. Endokrinologi Ginekologi. Edisi kedua. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 82-84.
Baziad, A. 2003. Menopause dan Andropause. Cetakan Pertama. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. hal 5-40.

58
Berek, J.S. 2005. Novak’s Gynecology. 13th ed. Los Angeles California.
Lppincott Williams & Wilkins.
DeCherney, A.H and Nathan, L. 2005. Current Obstetric & Gynecologic
Diagnosis & Treatment. 19th ed. Los Angeles California. McGraw Hill.
Gardner, D. 2007. Greenspan’s Basic& Clinical Endocrinology. Eight Edition.
Lange Medical Book. p.537-540.
Greene, J.G. 2003. Measuring the symptom dimension of quality of life : General
and menopause specific scales and their subscale structure. In : Schneider
HPG, editor HRT and quality of life. The Parthenon Publising Group. Boca
Raton, London, NY, Washington ; 2003. Pp. 35-43.
Hurlock, E. B. Psikologi Perkembangan - Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Edisi Kelima. Erlangga : Jakarta.
Kasdu, D. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Cetakan Pertama.
Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara : Jakarta.
Klatz, 2003. Anti-Aging Revolution. Section One : on Aging. Chapter 1. Theories
on Aging. p. 20-23.
Nugroho, W. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Cetakan Ketiga. EGC : Jakarta.
Rachman, I.A. 2009. Protokol Terapi Sulih Hormon Pada Perempuan.
Disampaikan Pada Simposium Ilmiah Nasional Perkapi. Jakarta.18-19Juli.
Reitz, R. 1993. Menopause, Suatu Pendekatan Positif. Bumi Aksara : Jakarta.
Safitri, A. 2009. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Menopause Pada Wanita di
Kelurahan Titi Papan Kota Medan Tahun 2009. Publikasi Ilmiah Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. P. 25-31.
Sarwono, P. 2011. Ilmu Kandungan. Edisi 3. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo : Jakarta
Sawitri, E. I, dkk. 2009. Kulit dan Menopause dan Penatalaksanaan. Jurnal
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin, Vol. 21 No. 1. Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga : Surabaya.
Sherwood, L. 2001. Human Physiology: From cells to Systems). 2th. ed. Division
of International Thomson Publishing Inc. p.725-728.
Speroff, L., Glass,R.H., Kase, N.G. 2005. Menopause and Perimenopausal

59
Transition. In : Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility.
Lippincott Williamsand Wilkins. 7th. Ed. Philadelphia. p. 643-707
Szar, D.H. 2007. Part I: Basic Medical Science. Chapter 12. The Female
Reproductive System. In: Endocrine and Reproductive Systems.Third
Edition.Mosby Elsevier. p. 120-143, 178-190.
Wibowo, S. 2003. Andropause : Keluhan, Diagnosis dan Penanganannya.Dalam :
The Concepts of Anti Aging and How to Make Without Disorder. Jakarta :
FKUI. hal : 11-17.
Yatim, F. 2001. Haid Tidak Wajar dan Menopause. Edisi Pertama. Pustaka Populer
Obor : Jakarta.
Yudomustopo, B, dkk. 1989. Problema Wanita Menghadapi Menopause.
Kumpulan Makalah Ilmiah Populer. Rumah Sakit Hermana : Jakarta.

Helm William C, MZ MBBCh, FRCS(Edin), FRCS. Ovarian Cysts. 2012. [online]. Juli 2013.
Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0104

Vanholder Tom, Opsomer Geert, Kruif Aart De. Aetiology and Pathogenesis of Cystic
Ovarian Follicles in Dairy Cattle: A Riview. Reprod. Nutr. Dev. 46 (2006) 105–119.

LAMPIRAN

Kuesioner yang digunakan sewaktu melakukan wawancara

Identitas Pasien
Nama :
Umur :
Status :

60
Alamat :
Pendidikan :
Pekerjaan :

i. Pada usia berapa anda mendapatkan menstruasi (haid) yang pertama ?


ii. Bagaimana siklus menstruasi anda selama ini ?
1. Normal (28 hari)
2. < 28 hari
3. >28 hari
iii. Berapa hari biasanya anda mendapatkan menstruasi dalam satu siklus ?
1. Normal (4-7 hari)
2. <4 hari
3. >4 hari
iv. Berapa kali anda mengalami persalinan untuk melahirkan anak hidup ?
v. Berapa jumlah anak yang anda punya ?
vi. Kapan terkahir kali melahirkan anak (Usia Melahirkan Terakhir)?
vii. Apakah anda memiliki anak kembar ?
viii. Apakah selama ini anda mengkonsumsi nutrisi yang baik ?
ix. Kapar pertama kali mengalami haid (menarche)?
x. Kapan terakhir kali mengalami haid (menopause)?
xi. Apakah selama ini ada gangguan setiap menstruasi ?
xii. Apakah anda pernah menggunakan kontrasepsi?

xiii. Apa jenis kontrasepsi yang pernah digunakan?

xiv. Apakah anda pernah merokok? Berapa lama?

xv. Apakah anda pernah menderita penyakit, seperti :


- Infeksi kelenjar thyroid
- Kelebihan hormon prolaktin
- Kelainan pada kelenjar pituitary
- Penyakit autoimun (tubuh membentuk antibodi yang menyerang
ovarium)
- Status gizi buruk
- Penyakit lainnya
16. Apakah anda memiliki riwayat keluarga menopause dini?

17. Apakah anda penah mengalami operasi pengangkatan ovarium?

18. Apakah anda pernah menjalani terapi kanker, seperti radiasi atau kemoterapi?

19. Apa keluhan fisik yang anda alami sebelum/saat/setelah menopause?


Misal :

61
- Haid tidak teratur
- Tidak haid sejak 12 bulan lalu
- Rasa panas pada bagian tubuh (Hot Flush)
- Nyeri saat senggama, keputihan
- Frekuensi BAK meningkat
- Perubahan pada kulit
- Keringat berlebih, terutama di malam hari
- Badan menjadi gemuk
- Rasa cepat lelah
- Sakit kepala
- Nyeri otot atau persendian
- Tangan atau kaki terasa baal
- Kesukaran bernapas.
20. Apa keluhan psikologis yang anda alami sebelum/saat/setelah menopause?
Misal :
- Jantung berdebar
- Perasaan tegang atau tertekan
- Sulit tidur
- Mudah tersinggung
- Mudah panik
- Sukar berkonsentrasi
- Mudah lelah
- Hilangnya minat pada banyak hal
- Perasaan tidak bahagia
- Mudah menangis
- Perasaan kepala pusing

62