Anda di halaman 1dari 5

Neuromuscular Blocking Drugs (Obat

Pelumpuh Otot)
 Transmisi rangsangan saraf  otot melalui Neuromuscular junction
 Acetyl cholin  Perangsang saraf (Neurotransmitter) yang dibuat di ujung
serabut saraf melalui Acetylasi cholin dgn ko-enzym A  bantuan enzym Asetyl
transferase
 Asetil kolin disimpan dalam vesikel
 Dalam keadaan istirahat (Resting Membran Potential), membran lebih mudah
ditembus (permeabel) ion K+ Ekstra sel dibanding ion Na+ (- 90 mV)
 Saat pelepasan Ach  membran lebih permeabel terhadap Na+  terjadi depolarisasi
dan aksi potensial
 Bila depolarisasi cukup kuat  diikuti kontraksi otot
 Repolarisasi (+) : o.k. kerja Acetyl Cholin berakhir (Hidrolisa oleh enzym
Acetyl Cholinesterase)

Klasifikasi
1. Depolarisasi : Succynil Choline, Dekamethonium
2. Non Depolarisasi :
a. Long Acting : Pancuronium, D–tubokurarin, Galamin, Metokurine, Dexocurium,
Pipecurium
b. Intermediate : Atracurium, Vecuronium, Mivacurium, Rocuronium

Ciri-ciri Kelumpuhan
1. Depolarisasi :
 Fasciculus otot (+)/terjadi kejang otot
 Berpotensiasi dengan anticholinesterase
 Tidak menunjukkan kelumpuhan yang bertahap pada perangsangan tunggal/tetanik
 Belum ada antagonis

2. Non Depolarisasi :
 Fasciculus otot (-)/tidak terjadi kejang otot
 Kelumpuhan otot yang bertahap pada perangsangan tunggal/tetanik
 Berpotensiasi dengan : Anestesi inhalasi, Hypokalemi, Hypothermi
 Diantagonis oleh anti-cholinesterase

Succinyl Choline®
 Sediaan : Larutan 2%  5 cc, Bubuk 100 mg  lar. 2%
 Pelumpuh otot jangka pendek (paling lama 5 mnt)
 Untuk mempermudah intubasi
 Reposisi tulang (fraktur, luksasio)
 Dapat juga untuk memelihara relaksasi otot  kontinyu per infus (efek lebih
lama)
 Menyebabkan fasciculasi otot  dapat dikurangi dengan cara prekurarisasi
(pemberian pelumpuh otot non depolarisasi ¼ dosis sebelumnya)

 Dosis :
 intubasi : 1–2 mg/kgbb/IV
 infus kontinu : 1 mg/cc, 1 -2 cc/ 3 mnt
 Inactive oleh pseudocholinesterase
 Onset : 1 – 2 mnt
 Durasi : 3 – 5 mnt

 Efek Samping :
 Nyeri otot paska fasciculasi
 Bradikardia  terutama setelah pemberian berulang
 Hiperkalemia (terutama luka bakar, trauma, Neurologi, muscular disorder)
 Histamin release  mencetuskan serangan asma
 Peningkatan Tekanan Intra Okuler & TIK  dapat dikurangi dengan pemberian
sedative sebelumnya
 Phase II/dual block
 Malignan hiperthermi

Pelumpuh Otot Non Depolarisasi


 Kegunaan :
1. Untuk memudahkan tindakan laryngoskopi dan intubasi trakea
2. Relaksasi otot sebelum pembedahan (laparatomy, reposisi)
3. Memudahkan nafas kembali
4. Menghilangkan spasme laryng dan refleks jalan nafas
5. Mencegah fasciculasi pd pemakaian obat depolarisasi

Teori Kompetisi dari Pelumpuh Otot Non Depolarisasi

Pancuronium Bromida (Pavulon®)


 Banyak dipakai
 Ampul : 2 ml  2 mg/cc
 Steroid sintetis  non depolarisasi
 Kerja : Kompetisi dengan Asetil kolin
 Onset : 2 – 3 mnt
 Durasi : 30 – 40 mnt
 Berikatan kuat dengan protein plasma fraksi globulin
 Efek kumulatif (+)  hati–hati pemberian berulang
 Dosis maintenance/rumatan  harus dikurangi & diperpanjang terutama pada
gangguan fungsi ginjal
 Efek pelepasan histamin (-)/sedikit  baik untuk asma
 Inotropik (+)  hipertensi (o.k. kontraksi otot jantung  )
 Vagolitik  Tachicardia
 15–30% metabolisme  deasetilasi
 Eksresi : 60 - 80% di ginjal, 20 - 40% di empedu
 Dosis awal : 0,08 – 1 mg/kgbb
 Rumatan : ½ dari dosis awal
 Intubasi : 0,15 mg/kg bb
 Efek Meningkat pada Keadaan :
a. Hypokalemia
b. Hypermagnesia
c. Hypoproteinemia
d. Hypocalcemia
e. Dehidrasi, asidosis
f. Hypercapnia
g. Myastenia grafis
h. Gangguan fungsi ginjal
i. Anestesi yang dalam

Atracurium®
 Ampul : 2,5 – 5 ml  10 mg/cc
 Struktur : Benzilisoquinolin
 Relatif baru
 Keunggulan :
a. Metabolisme terjadi pada plasma darah  eliminasi Hoffmann (tidak tergantung
pada fungsi hati dan ginjal)
b. Efek kumulasi (-) pada pembuluh berulang
c. Perubahan CV minimal
 Dosis intubasi / relaksasi otot : 0,5 – 0,6 mg/kg/iv
 Rumatan : 0,1 – 0,2 mg/kgbb
 Onset : 3 mnt
 Durasi : 15 – 35 mnt
 Reversibel oleh anticholinesterase
 Tidak terpengaruh pada orang sakit defisiensi Pseudocholinesterase
 Side effect  Histamin release (+)
 Baik digunakan pada :
 Gangguan fungsi ginjal
 Gangguan fungsi liver
 Geriatrik

Mivacurium (Mivacron®)
 Ampul : 5 – 10 ml  2mg/cc
 Obat baru
 Short acting Benzilisoquinolin
 Inactive oleh pseudocholinesterase
 Minimal CV effect
 Histamin release ±/sedikit
 Vagolitik (-)
 Efek samping : prolonged duration pada orang sakit atypical/penurunan
pseudocholinesterase
 Onset : 30 – 40 detik  max 3 - 4 mnt
 Durasi : 12 – 20 mnt
 Indikasi : Intubasi, Operasi singkat
 Dosis :
 Intubasi : 0,15 – 0,25 mg/kgbb
 Rumatan : 0,1 mg/kgbb (10-15 mnt)
Vecuronium (Norcuron®)
 Ampul : 4 mg powder  2 mg/ml
 Steroid Non depol, homolog pancuronium
 Kerja : kompetisi dengan Ach
 Histamin release (-)  baik untuk asma
 Reversible dgn acetyl cholin
 Eliminasi 20%  ginjal ; Eliminasi terutama  liver
 Tidak menyebabkan perubahan CV yg bermakna
 Akumulasi (-)
 Dosis : 0,08 – 0,1 mg/kgbb/IV
 Rumatan : 0.03 – 0,05 mg/kgbb/IV
 Onset : 2 – 3 mnt
 Duration : 20 – 30 mnt

ANTAGONIS PELUMPUH OTOT


NON DEPOLARISASI
(REVERSAL)
Neostigmin Methyl Sulfat (Prostigmin®)
 Sediaan : Ampul 0,5 mg/cc
 Merupakan Anticholinesterase  mencegah hidrolisis & menyebabkan akumulasi Ach
 Mempunyai Efek : Muskarinik, Nikotinik, Stimulasi otot
 Efek samping  sering karena efek muskarinik :
1. Bradikardia
2. Hyperperistaltik, Spasme saluran cerna
3. Hipersekresi kelenjar Ludah & saluran nafas
4. Bronkospasme
5. Kontraksi Vesika urinaria
6. Miosis

 Efek samping tersebut dapat dihambat dengan pemberian R/ Sulfas atropin


 Dosis Prostigmin : 0,02 – 0,08 mg/kgbb/iv
 Biasa diberikan bersama R/Sulfas Atropin dengan dosis : 0,01 – 0,04 mg/kgbb/iv
PERIPHERAL NERVE STIMULATION
 Monitor untuk melihat efek , pengaruh Muscle relaxant pada otot masih ada/tidak
 Test untuk melihat fungsi otot rangka sudah baik/belum  bila nerve stimulator
(-) post relaksan :
1. Hand grip test
2. Angkat kepala
3. Buka mata lebar
4. Keluarkan lidah
5. Ventilasi paru/TV  sudah baik
INGAT!!! Setiap pemberian obat pelumpuh otot (Muscle Relaxant) nafas harus dibantu
dengan nafas buatan (Control Respiration)