Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

HUKUM PIDANA
“PEMBUNUHAN BERENCANA”
DAFTAR ISI
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian .................................................................................. 2
2. Unsur –Unsur Pembunuhan Berencana .......................................... 6
3. Analis Kasus Pembunuhan Berencana ....................................................7
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan .................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 15
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasia dan
Undang Undang Dasar 1945 yang benar-benar menjunjung tinggi hak asasi manusia serta
menjamin warga negara bersama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan yang tidak
ada kecualinya, sedangkan untuk menjamin kataatan dan kepatuhan terhadap hukum adalah
di tangan semua warga negara. Kejahatan tindak pidana merupakan salah satu bentuk “
perilaku menyimpang “ yang selalu ada melekat pada masyarakat, tidak ada masyarakat yang
sepi dari kejahatan.
KUHP Indonesia, dalam pidana pokoknya mencantumkan pidana mati dalam urutan
pertama. Pidana mati di Indoensia merupakan warisan koonial Belanda, yyang sampai saat ini
masih tetap ada. Sementara praktik pidana mati masih diberlakukan di Indonesia, Belanda
telah menghapus praktik pidana mati sejak tahun 1870 kecuali untuk kejahatan militer.
Kemudian pada tanggal 17 Februari 1983, pidana mati dihapuskan untuk semua kejahatan.
Tentu saja hal ini merupakan hal yang sangat menarik, karena pada saat diberlakukan di
Indonesia melalui asas konkordansi, di negara asalnya Belanda ancaman pidana mati sudah
dihapuskan.
Pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah “Barang siapa
sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup
atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun”. Pembunuhan berencana itu
dimaksudkan oleh pembentuk undang-undang sebagai pembunuhan bentuk khusus yang
memberatkan, yang rumusannya dapat berupa “pembunuhan yang dilakukan dengan rencana
terlebih dahulu dipidana karena pembunuhan dengan rencana”. Berdasarkan uraian tersebut,
maka kami membuat makalah ini dengan judul “Makalah Pembunuhan Berencana”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pembunuhan berencana .
2. Apa saja unsur-unsur dari pembunuhan berencana.
3. Analisis kasus pembunuhan berencana.
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembunuhan Berencana

Pengertian pembunuhan mengacu pada 2 (dua) sudut pandang, yaitu:


a. Pengertian Menurut Bahasa
Kata pembunuhan berasal dari kata dasar “bunuh” yang mendapat awalan pe-
dan akhiran –an yang mengandung makna mematikan, menghapuskan (mencoret)
tulisan, memadamkan api dan atau membinasakan tumbuh-tumbuhan.5 Menurut
Purwadarmita (1976:169): “pembunuhan berarti perkosa, membunuh atau perbuatan
bunuh.” Dalam peristiwa pembunuhan minimal ada 2 (dua) orang yang terlibat,
orang yang dengan sengaja mematikan atau menghilangkan nyawa disebut
pembunuh (pelaku), sedangkan orang yang dimatikan atau orang yang dihilangkan
nyawanya disebut sebagai pihak terbunuh (korban).

b. Menurut Pengertian Yuridis


Pengertian dari segi yuridis (hukum) sampai sekarang belum ada, kecuali oleh
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sendiri. Pembunuhan berencana adalah
kejahatan merampas nyawa manusia lain, atau membunuh, setelah dilakukan
perencanaan mengenai waktu atau metode, dengan tujuan memastikan keberhasilan
pembunuhan atau untuk menghindari penangkapan.
Pembunuhan berencana dalam hukum umumnya merupakan tipe pembunuhan
yang paling serius, dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman mati. Istilah
"pembunuhan berencana" pertama kali dipakai dalam pengadilan pada tahun 1963,
pada sidang Mark Richardson, yang dituduh membunuh istrinya. Pada sidang itu
diketahui bahwa Richardson berencana membunuh istrinya selama tiga tahun. Ia
terbukti bersalah dan dipenjara seumur hidup.
Pembunuhan berencana diatur dalam Pasal 340 KUHP yang berbunyi:
“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebidahulu merampas nyawa
orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh
tahun”

Adapun unsur-unsur dari Pasal 340 KUHP yaitu:


a. Barangsiapa: Merupakan unsur subjek hukum yang berupa manusia dan badan
hukum.
b. Dengan sengaja: Artinya mengetahui dan menghendaki,maksudnya mengetahui
perbuatannya dan menghendaki akibat dari perbuatannya.
c. Dengan rencana: artinya bahwa untuk penerapan pasal 340 KUHP ini harus
memuat unsur yang direncanakan (voorbedachte raad), menurut Simons, jika
kita berbicara mengenai perencanaan terlebih dahulu, jika pelakunya telah
menyusun dan mempertimbangkan secara tenang tindakan yang akan di
lakukan, disamping itu juga harus mempertimbangakn kemungkinan-
kemungkinan tentang akibat-akibat dari perbuatannya, juga harus terdapat
jangka waktu tertentu dengan penyusunan rencana dan pelaksanaan rencana.
Nyawa orang lain: nyawa selain diri si pelaku tersebut.
3

Istilah "pembunuhan terencana" pertama kali dipakai dalam pengadilan pada tahun
1963, pada sidang Mark Richardson, yang dituduh membunuh istrinya. Pada sidang itu
diketahui bahwa Richardson berencana membunuh istrinya selama tiga tahun. Ia terbukti
bersalah dan dipenjara seumur hidup.

Berdasarkan wacana diatas Pembunuhan berencana adalah kejahatan merampas


nyawa manusia lain, atau membunuh, setelah dilakukan perencanaan mengenai waktu
atau metode, dengan tujuan memastikan keberhasilan pembunuhan atau untuk
menghindari penangkapan. Pembunuhan terencana dalam hukum umumnya merupakan
tipe pembunuhan yang paling serius, dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman mati atau
penjara seumur hidup.
Pembunuhan berencana terdiri dari pembunuhan dalam arti Pasal 338 ditambah
dengan unsur dengan direncanakan terlebih dahulu. Lebih berat ancaman pidana pada
pembunuhan berencana, jika dibandingkan dengan pembunuhan Pasal 338 maupun Pasal
339, diletakkan pada adanya unsur dengan rencana terlebih dahulu itu.
Pasal 340 dirumuskan dengan cara mengulang kembali seluruh unsur dalam Pasal
338, kemudian ditambah dengan satu unsur lagi yakni “dengan direncanakan terlebih
dahulu”. Oleh karena Pasal 340 mengulang lagi seluruh unsur Pasal 338, maka
pembunuhan berencana dapat dianggap sebagai pembunuhan yang berdiri sendiri (een
zelfstanding misdrijf) lepas dan lain dengan pembunuhan biasa dalam bentuk pokok
(Pasal 338).
Berdasarkan apa yang diterangkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
merumuskan Pasal 340 dengan cara demikian, pembentuk UU sengaja melakukannya
dengan maksud sebagai kejahatan yang berdiri sendiri.
Oleh karena di dalam pembunuhan berencana mengandung pembunuhan biasa (Pasal
338), maka mengenai unsur-unsur pembunuhan berencana yang menyangkut
pembunuhan biasa dirasa tidak perlu dijelaskan lagi, karena telah cukup dibicarakan di
muka.
Mengenai unsur dengan direncanakan terlebih dahulu, pada dasarnya mengandung 3
syarat/unsur, yaitu:
a. Memutuskan kehendak dalam keadaan tenang;
b. Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan
pelaksanaan kehendak;
c. Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang;

Memutuskan kehendak dalam suasana tenang adalah pada saat memutuskan kehendak
untuk membunuh itu dilakukan dalam suasana (batin) yang tenang. Suasana (batin) yang
tenang, adalah suasana tidak tergesa-gesa atau tiba-tiba, tidak dalam keadaan terpaksa
atau emosi yang tinggi. Sebagai indikatornya adalah sebelum memutuskan kehendak
untuk membunuh itu telah difikirnya dan dipertimbangkannya telah dikaji untung dan
ruginya. Pemikiran danpertimbangan seperti ini hanya dapat dilakukan apabila ada dalam
suasana hati yang tenang, dan dalam suasana tenang sebagaimana waktu ia memikirkan
dan mempertimbangkan dengan mendalam itulah ia akhirnya memutuskan kehendak
untuk berbuat. Sedangkan perbuatannya tidak diwujudkan ketika itu. 1
Ada tenggang waktu yang cukup, antara sejak timbulnya/diputuskannya kehendak
sampai pelaksanaan keputusan kehendaknya itu, waktu yang cukup ini adalah relative,
dalam arti tidak diukur dari lamanya waktu tertentu, melainkan bergantung pada keadaan

1 Andi Hamzah, Delik-Delik Tertentu (Speciale Delicten) di dalam KUHP, SINAR GRAFIKA, 2011 hlm 53
4

atau kejadian konkret yang berlaku. Tidak terlalu singkat, karena jika terlalu singkat,
tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berfikir, karena tergesa-gesa, waktu yang

demikian sudah tidak menggambarkan suasana yang tenang. Begitu juga tidak boleh
terlalu lama. Sebab, bila terlalu lama sudah tidak lagi menggambarkan ada hubungan
antara pengambilan putusan kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaan
pembunuhan.
Dalam tenggang waktu itu masih tampak adanya hubungan antara pengambilan
putusan kehendak dengan pelaksanaan pembunuhan. Sebagai adanya hubungan itu, dapat
dilihat dari indikatornya bahwa dalam waktu itu: (1) dia masih sempat untuk menarik
kehendaknya membunuh, (2) bila kehendaknya sudah bulat, ada waktu yang cukup untuk
memikirkan misalnya bagaimana cara dan dengan alat apa melaksanakannya, bagaimana
cara untuk menghilangkan jejak, untuk menghindari dari tanggung jawab, punya
kesempatan untuk memikirkan rekayasa.
Mengenai adanya cukup waktu, dalam tenggang waktu mana ada kesempatan untuk
memikirkan dengan tenang untung ruginya pembunuhan itu dan lain sebagainya.
Mengenai syarat yang ketiga, berupa pelaksanaan pembunuhan itu dilakukan dalam
suasana (batin) tenang. Bahkan syarat ketiga ini diakui oleh banyak orang sebagai yang
terpenting. Maksudnya suasana hati dalam melaksanakan pembunuhan itu tidak dalam
suasana yang tergesa-gesa, amarah yang tinggi, rasa takut yang berlebihan dan lain
sebagainya.
Tiga unsur/syarat dengan rencana lebih dulu sebagaimana yang diterangkan di atas,
bersifat kumulatif dan saling berhubungan, suatu kebulatan yang tidak terpisahkan.
Sebab bila sudah terpisah/terputus, maka sudah tidak ada lagi dengan rencana terlebih
dahulu.
Pengertian “dengan direncanakan terlebih dahulu” menurut M.v.T pembentukan Pasal
340 diutarakan, antara lain:
“dengan direncanakan terlebih dahulu” diperlukan saat pemikiran dengan tenang dan
berfikir dengan tenang. Untuk itu sudah cukup jika si pelaku berfikir sebentar saja
sebelum atau pada waktu ia akan melakukan kejahatan sehingga ia menyadari apa yang
dilakukannya.”
M. H. Tirtaamidjaja (Leden Marpaung: 2005: 31), mengutarakan “direncanakan terlebih
dahulu” antara lain sebagai berikut:
“bahwa ada suatu jangka waktu, bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan,
untuk berfikir dengan tenang.”
Telah dikemukakan di muka, yang menentukan adanya unsur ini ialah adanya keadaan
hati untuk melakukan pembunuhan, walaupun keputusan pembunuhan itu ada dalam hati
sangat dekat dengan pelaksanaannya. Jika ada rencana maka sudah pasti merupakan
moord (murder) tetapi tidak mesti ada rencana.

Adanya pendapat yang menyatakan bahwa unsur “dengan direncanakan terlebih


dahulu” adalah bukan bentuk kesengajaan, akan tetapi berupa cara membentuk
kesengajaan. Sebagaimana diungkapkan Hermien HK (Adami Chazawi: 2007: 85)
menyatakan bahwa unsur ini bukan merupakan bentuk opzet, tapi cara membentuk opzet,
yang mana mempunyai 3 syarat, yaitu:
a. “Opzet”nya itu dibentuk dengan direncanakan terlebih dahulu;

b. Dan setelah orang merencanakan (opzetnya) itu terlebih dahulu, maka yang penting
ialah caranya “opzet” itu dibentuk (de vorm waarin opzet wordt gevormd), yaitu harus
dalam keadaan yang tenang,
5

c. Dan pada umumnya, merencanakan pelaksanaan “opzet” itu memerlukan jangka waktu
yang agak lama.

Dengan memperhatikan pengertian dan syarat dari unsur direncanakan terlebih dahulu
sebagaimana yang telah diterangkan di atas, tampaknya proses terbentuknya
direncanakan terlebih dahulu (berencana) memang lain dengan terbentuknya kesengajaan
(kehendak).
Proses terbentuknya berencana memerlukan dan melalui syarat-syarat tertentu.
Sedangkan terbentuknya kesengajaan tidak memerlukan syarat-syarat sebagaimana
syarat yang diperlukan bagi terbentuknya unsur “dengan rencana terlebih dahulu”.
Terbentuknya kesengajaan, seperti kesengajaan pada Pasal 338 cukup terbentuk secara
tiba-tiba.
Juga dengan melihat pada proses terbentuknya unsur dengan rencana terlebih dahulu,
tampak bahwa kesengajaan (kehendak) sudah dengan sendirinya terdapat di dalam unsur
dengan rencana terlebih dahulu, dan tidak sebaliknya. Dengan demikian dapat diartikan
bahwa kesengajaan (kehendak) adalah bagian dari direncakan terlebih dahulu.
Umumnya pembunuhan dengan racun merupakan moord atau difikirkan lebih dahulu
karena harus mencari racun dan bagaimana memasukkan ke dalam makanan atau
minuman. Begitu pula pembunuhan dengan menggunakan bom (rakitan).
Contoh “seseorang menyuntikkan racun ke sebuah nenas, lalu menyerahkan kepada
orang lain dan dimakan yang mengakibatkan kematiannya”. Jelas pembunuhan yang
difikirkan lebih dulu karena harus mencari racun dan berfikir dimasukkan ke mana.
Sebaiknya dalam KUHP baru pun diciptakan secara khusus pemberatan pidana
terhadap pembunuhan orang tua atau mertua garis lurus ke atas, misalnya dengan pidana
mati atau pidana seumur hidup, karena kita adalah orang timur yang sangat menghormati
orang tua. Melawan orang tua saja sudah dipandang sebagai perbuatan durhaka, apalagi
membunuh dengan sengaja.
Dalam KUHP Federasi Rusia, delik pembunuhan dengan pemberatannya, diatur secara
terperinci dan beberapa macam. Dikenal:
1. Pembunuhan dua atau lebih orang (di Indonesia dan Belanda berlaku aturan concursus
atau gabungan tindak pidana dengan penambahan pidana dengan sepertiga.

2. Pembunuhan terhadap orang atau keluarganya dalam aktivitas resmi orang itu atau
dalam menjalankan tugas publik.

3. Pembunuhan terhadap orang yang diketahui oleh pembunuh dalam keadaan tidak
berdaya dan juga pembunuhan melalui penculikan atau untuk menahan sandera.

4. Pembunuhan terhadap perempuan yang diketahui oleh pembunuh dalam keadaan


hamil.

5. Pembunuhan yang dilakukan dengan sangat kejam.

6. Pembunuhan yang dilakukan secara umum dan sangat berbahaya.

7. Pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang melalui persekongkolan atau


kelompok terorganisasikan.
6

8. Pembunuhan dengan motif tanpa kasihan dengan menyewa, atau disertai dengan
perampokan dengan kekerasan, pemerasan atau secara bandit.

9. Pembunuhan yang dilakukan dengan sangat jahat.

10. Pembunuhan yang dilakukan untuk menyembunyikan kejahatan lain atau untuk
memudahkan pelaksanaannya dan juga pembunuhan yang disertai dengan perkosaan atau
tindakan seksual yang lain.

11. Pembunuhan yang dilakukan karena alas an nasional, rasial, atau kebencian agama
atau permusuhan darah.

12. Pembunuhan dengan tujuan untuk memperoleh organ atau jaringan tubuh.

Perbedaan antara pembunuhan dan pembunuhan direncanakan yaitu kalau


pelaksanaan pembunuhan yang dimaksud pasal 338 itu dilakukan seketika pada waktu
timbul niat, sedang pembunuhan berencana pelaksanan itu ditangguhkan setelah niat itu
timbul, untuk mengatur rencana, cara bagaimana pembunuhan itu akan dilaksanakan.
Jarak waktu antara timbulnya niat untuk membunuh dan pelaksanaan pembunuhan itu
masih demikian luang, sehingga pelaku masih dapat berfikir, apakah pembunuhan itu
diteruskan atau dibatalkan, atau pula nmerencana dengan cara bagaimana ia melakukan
pembunuhan itu.
Perbedaan lain terletak dalam apa yang terjadi didalam diri si pelaku sebelum
pelaksanaan menghilangkan jiwa seseorang (kondisi pelaku). Untuk pembunuhan
direncanakan terlebih dulu diperlukan berfikir secara tenang bagi pelaku. Didalam
pembunuhan biasa, pengambilan putusan untuk menghilangkan jiwa seseorang dan
pelaksanaannya merupakan suatu kesatuan, sedangkan pada pembunuhan direncanakan
terlebih dulu kedua hal itu terpisah oleh suatu jangka waktu yang diperlukan guna
berfikir secara tenang tentang pelaksanaannya, juga waktu untuk memberi kesempatan
guna membatalkan pelaksanaannya. Direncanakan terlebih dulu memang terjadi pada
seseorang dalam suatu keadaan dimana mengambil putusan untuk menghilangkan jiwa
seseorang ditimbulkan oleh hawa nafsunya dan di bawah pengaruh hawa nafsu itu juga
dipersiapkan pelaksanaannya.

B. Unsur –Unsur Pembunuhan Berencana

Pembunuhan berencana mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:


1. Unsur Subyektif:
a) Dengan sengaja atau Opzettelijk
b) Dengan rencana terlebih dahulu atau voorbedachte
2. Unsur Obyektif
a) Beroven atau menghilangkan
b) Leaven atau nyawa
c) Een ander atau orang lain.2
Tentang apa yang di maksud dengan pembunuhan berencana atau di rencanakan lebih dulu
itu undang-undang ternyata telah tidak memberikan penjelasannya hingga wajar apabila di

2 Lamintang, KEJAHATAN TERHADAP NYAWA, TUBUH,DAN KESEHATAN, SINAR GRAFIKA, 2012


7

dalam doktrin timbul pendapat untuk menjelaskan arti yang sebenarnya dari kata
pembunuhan berencana.

C. Analisis kasus pembunuhan berencana

KASUS PEMBUNUHAN DI PASAR BINTAN CENTRE


Tersangka : A Hiang/ Kie Hai/ Apek koboy
Korban : A bak/ Tjia Mei
Tempus : 4 Oktober 2010 sekitar pukul 04.00 WIB.
Locus : Pasar Bestari Bintan Center
Modus : cek-cok mulut dan rasa kesal yang berkepanjangan

Kronologi Kasus

Kejadian diawali dengan cekcok mulut saat dagangan mulai dipersiapkan. Ketika itu, A
Hiang sedang duduk di kedai kopi. Dari kejauhan A Hiang melihat Tjiang Ming alias A Bak
sedang memindahkan kayu untuk menggantung kantong plastik miliknya. A Hiang
mendatangi A Bak dan menanyakan tentang pemindahan gantungan kantong plastik tersebut,
A Bak mengungkapkan bahwa gantungan kantong plastik itu mengenai gantungan plastik
miliknya.3

Cekcok mulut pun terjadi hingga A Bak mengeluarkan bahasa kotor dalam bahasa Cina.
Mendengar bahasa kotor tersebut, A Hiang naik darah dan mengambil parang yang berada di
dekatnya dan mendaratkan ke batang leher sebelah kiri A Bak hingga mengeluarkan darah
segar. A Bak berusaha melarikan diri dengan membalikkan badannya.

Tapi tebasan kedua kalinya hinggap di kepalanya dan lalu tersungkur di lantai. Setelah
menebas leher A Bak dan meninggalkannya dalam kondisi bersimbah darah, A Hiang
mendatangi Polsek Tanjungpinang Timur yang berada di depan Pasar Bestari. A Hiang
mengatakan ke petugas jaga bahwa ia baru saja membunuh orang dengan parang yang masih
berada di tangannya.

Rumusan Masalah:

1. Apa yang dimaksud dengan pembunuhan?

2. Bagaimana analisa dari kasus tersebut, beserta pasal-pasal yang terkait di


dalamnya??

3 http://wahyuarif21.blogspot.co.id/2015/03/analisis-kasus-pembunuhan.html Di akses
pada tanggal 5 april 2017 9:38
8

Pengertian Pembunuhan

Seperti diketahui bahwa pembunuhan, merupakan suatu kesengajaan menghilangkan


nyawa orang lain. Pembunuhan merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang tidak
manusiawi dan atau suatu perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, karena pembunuhan
merupakan suatu tindak pidana terhadap nyawa orang lain tanpa mempunyai rasa
kemanusiaan. Pembunuhan juga merupakan suatu perbuatan jahat yang dapat mengganggu
keseimbangan hidup, keamanan, ketentraman, dan ketertiban dalam pergaulan hidup
bermasyarakat. Oleh karena itu, pembunuhan merupakan suatu perbuatan yang tercela,
ataupun tidak patut.

Pengertian pembunuhan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, adalah perkara


membunuh ; perbuatan (hal dan sebagainya) membunuh.

Analisa Kasus
Berdasarkan kasus, pelaku termasuk melakukan tindak pidana pembunuhan
berencana (moord). Moord adalah salah satu jenis pembunuhan dimana memuat unsur yang
memberatkan (gequalificeerde doodslag) yaitu yang berupa unsur perencanaan (voorbedachte
raad). Maka, pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Pasal 340 KUHP : “ Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun “

Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut
adalah :

1. Unsur Subjektif:

Dengan sengaja

Dan dengan rencana terlebih dahulu

2. Unsur Objektif

Perbuatan Menghilangkan nyawa

Objeknya ; nyawa orang lain

Pembunuhan berencana terdiri dari Pembunuhan dalam arti pasal 338 KUHP ditambah
dengan adanya unsur dengan rencana terlebih dahulu (mengandung 3 syarat/unsur yaitu:

a. Memutuskan kehendak dalam suiasana tenang

b. Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan pelaksanaan;

c. Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang


9

1. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP : (Asas Legalitas)

“ Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-
undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”

Berdasarkan pasal tersebut, Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada
peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut
mengandung asas-asas hukum pidana. A Hiang diancam dengan hukuman 14 tahun penjara
atas perbuatannya terhadap A Bak.

Antara unsur subjektif sengaja dengan wujud perbuatan menghilangkan nyawa terdapat
syarat yang harus juga dibuktikan adalah pelaksanaan perbuatan menghilangkan nyawa orang
lain harus tidak lama setelah timbulnya kehendak (niat) untuk menghilangkan nyawa orang
lain itu. Oleh karena apabila terdapat tenggang waktu yang cukup lama sejak timbulnya atau
terbentuknya kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaannya, dimana dalam tenggang
waktu yang cukup lama itu petindak dapat memikirkan tentang berbagai hal, misalnya
memikirkan apakah kehendaknya itu akan diwujudkan dalam pelaksanaan ataukah tidak,
dengan cara apa kehendak itu akan diwujudkan. Maka pembunuhan itu masuk kedalam
pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP), dan bukan lagi pembunuham biasa.

Unsur dengan sengaja (dolus/opzet) merupakan suatu yang dikehendaki dan diketahui. Dalam
doktrin, berdasarkan tingkat kesengajaan terdiri dari 3 bentuk, yakni:

1. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk)

2. Kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij zakerheids bewustzijn)

3. Kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheids bewustzijn atau dolus


eventualis).

Berdasarkan pandangan bahwa unsur opzettelijk bila dicantumkan dalam rumusan tindak
pidana, maka pengertian opzettelijk itu harus diartikan termasuk kedalam 3 bentuk
kesengajaan tersebut. Pandangan ini sesuai dengan praktik hukum yang dianut selama ini.
Rumusan Pasal 338 KUHP dengan menyebutkan unsur tingkah laku sebagai menghilangkan
nyawa orang lain, menunjukkan bahwa kejahatan pembunuhan adalah suatu tindak pidana
materil. Tindak pidana materil adalah suatu tindak pidana yang melarang menimbulkan
akibat tertentu (akibat yang dilarang).

KESIMPULAN

Dalam kasus di atas orang tersebut maka pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang
pembunuhan berencana:

Pasal 340 KUHP : “ Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun “
10

Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut
adalah :

1. Unsur Subjektif:

Dengan sengaja :

Unsur sengaja ini bisa diliat dari sisi sipelaku (A Hiang) yang bahwasanya
melakukan pembunuhan pada saat ,A Hiang naik darah dan mengambil parang yang
berada di dekatnya dan mendaratkan ke batang leher sebelah kiri A Bak hingga

mengeluarkan darah segar. A Bak berusaha melarikan diri dengan membalikkan


badannya.

Dan dengan rencana terlebih dahulu

Unsur dengan rencana terlebih dahulu dapat dilihat pada saat si pelaku(A Hiang)
Melakukan tebasan kedua kalinya hinggap di kepalanya dan lalu tersungkur di
lantai. Setelah menebas leher A Bak dan meninggalkannya dalam kondisi bersimbah
darah

2. Unsur Objektif

Perbuatan Menghilangkan nyawa

Unsur ini dapat dilihat dari :

1. Unsur ini disyaratkan adanya orang mati. Dimana yang mati adalah orang lain dan
bukan dirinya sendiri si pembuat tersebut.

2. Pengertian orang lain adalah semua orang yang tidak termasuk dirinya sendiri si
pelaku.

3. Dalam rumusan tindak pidana Pasal 338 KUHP tidak ditentukan bagaimana cara
melakukan perbuatan pembunuhan tersebut, tidak ditentukan alat apa yang
digunakan tersebut, tetapi Undang-Undang hanya menggariskan bahwa akibat
dari perbuatannya itu yakni menghilangkan jiwa orang lain atau matinya orang
lain.

4. Kematian tersebut tidak perlu terjadi seketika itu atau sesegera itu, tetapi mungkin
kematian dapat timbul kemudian.

5. Untuk memenuhi unsur hilangnya jiwa atau matinya orang lain tersebut harus
sesuatu perbuatan, walaupun perbuatan itu kecil yang dapat mengakibatkan
hilangnya atau matinya orang lain.
11

Objeknya ; nyawa orang lain

Adapun kasus yang disebutkan diatas terdapat syarat-syarat yang merupakan perbuatan
menghilangkan nyawa orang lain yang harus dipenuhi yaitu:

1. Adanya wujud perbuatan

2. Adanya suatu kematian (orang lain)

3. Adanya hubungan sebab dan akibat (causal verband) antara perbuatan dan akiat
kematian (orang lain)

Pembunuhan berencana terdiri dari Pembunuhan dalam arti pasal 338 KUHP ditambah
dengan adanya unsur dengan rencana terlebih dahulu (mengandung 3 syarat/unsur yaitu:

a. Memutuskan kehendak dalam suiasana tenang

b. Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan pelaksanaan;

c. Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang

Maka orang tersebut dapat dikenai pasal 340 KUHP , tentang pembunuhan berencana, karena
apabila terdapat tenggang waktu yang cukup lama sejak timbulnya atau terbentuknya
kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaannya, dimana dalam tenggang waktu yang
cukup lama itu petindak dapat memikirkan tentang berbagai hal, misalnya memikirkan
apakah kehendaknya itu akan diwujudkan dalam pelaksanaan ataukah tidak, dengan cara apa
kehendak itu akan diwujudkan. Maka pembunuhan itu masuk kedalam pembunuhan
berencana (Pasal 340 KUHP), dan bukan lagi pembunuham biasa.

Analisis Kasus Pembunuhan Ade Sara

Kasus Pembunuhan Ade Sara

1. Kronologi peristiwa

 Sara berpamitan pada orangtuanya menginap di rumah teman (Senin 3 Maret 2014)
 Sara bertemu dengan Assifa di kafe daerah Gondangdia.Saat bertemu ,Syifa mengajak
Sara bertemu Hafiz yang menunggu di mobil Kia Visto.(Selasa 4 Maret 2014 ,pukul
21.00)
 Terjadi cekcok mulut antara Hafiz dan Ade Sara.Cekcok ini berlanjut dengan
penganiayaan Sara hingga tewas yang dilakukan oleh Hafiz dengan dibantu oleh
Assifa.(Selasa 4 Maret 2014 ,pukul 21.00 – 22.00)
 Hafiz dan Assifa berputar – putar dengan menggunakan mobil mulai dari
Rawangmaun lalu ke Jakarta Selatan mencari lokasi pembungang mayat hingga
akhirnya mobil Hafiz mogok karena aki soak.(Selsa 4 Maret 2014 ,pukul 22.00 –
23.00 )
 Hafiz dan Assifa membuang mayat Ade di ruas Tol Lingkar Luar Jakarta
KM.49Cikunir,Bekasi ,Jawa Barat.(Rabu ,5 Maret 2014 pukul 04.00)
12

 Mayat Sara ditemukan petugas Jasa Marga Didin Hermansyah (Rabu , 5 Maret pukul
06.30 )
 Hafiz ditangkap di RSCM pada saat melayat korban.(Kamis 6 Maret 2014 pukul
16.00)
 Polisi menangkap Assifa di kampusnya di kawasan Pulomas ,Jakarta Timur
 Sara ditemakamkan di TPU P. ondok Kelapa ,Duren Sawit ,Jakarta Timur.

2. Pihak – pihak dalam kasus

 Korban : Ade Sara Angelina Suroto (sembilan belas tahun )


 Pelaku : 1. Ahmad Imam Al Hafiz (dua puluh tahun )
 Assyifa Ramadhan ( sembilan belas tahun )

3. Ketentuan Pidana

Bila dilihat berdasarkan berita yang tengah dipaparkan diketahui bahwa pelaku divonis
340 oleh polisi,yaitu tentang pembunuhan berencana.Pasal 340 menyebutkn,
Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam ,karena pembunuhan dengan rencana ,dengan pidana mati atau pidana penjara
seumur hidup atau selama waktu tertentu ,paling lama dua puluh tahun.

Dari pasal tersebut diatas maka pelaku dapat diancam dengan pidana mati,seumur
hidup,atau maksimal dua puluh tahun.Menurut KabidHumas Polda Metro Jaya ,Kombes
Rikwanto Hafiz dan Assifa diancam dengan pidana seumur hidup.

4. Unsur-Unsurnya

Bila kita menganilis kasus pembunuhan Ade Sara ini dengan menggunakan pasal 340 yakni
pembunuhan berencana maka terdapat unsur – unsur pembunuhan berencana yakni :
 Merampas nyawa ,merampas nyawa berarti membuat meninggal seseorang.
Kasus : Dalam kasus ini unsur merampas nyawa terpenuhi terbukti dengan
meninggalnya Ade Sara akibat tindakan Hafiz yang menyetrum Ade hingga pingsan
dan Assifa yang menyumbal mulut korban hingga korban tak bisa bernafas dan
akhirnya tewas.
 Sengaja
Menurut Kamus Bahasa Indonesia ,sengaja berarti yang dimaksudkan,memang
direncanakan ,memang dinginkan /dikehendaki.
Kasus : Sengaja dalam hal ini dapat dilihat dari Assifa yang berusa membujuk Ade
untuk bersedia masuk ke mobil ,dengan begitu mereka dapat menjalankan aksi
pembunuhan di dalam mobil seperti yang telah direncanakan.
 Nyawa orang lain yang dihilngkan
Nyawa orang lain yang dihilangkan memeliki arti bahwa sesungguhnya ada orang lain
yang bertindak sebagai pelaku pembunuhan dan ada pihak lain yang selaku pihak
yang menjadi korban dari pembunuhan tersebut.
Kasus : Pada kasus Ade Sara Hafiz dan Assifa bertindak sebagai pelaku pembunuhan
dimana Hafiz menyetrum Ade sehingga korban pingsan dan Assifa menyumbal mulut
korban dengan koran sehingga korban sulit bernafas dan meninggal dunia.
 Rencana terlebih dahulu
13

Sesungguhnya arti berencana adalah antara niat an pelaksanaan harus ada waktu
berfikir secara tenang ,pelaksanaanya harus tenang tanpa guncangan mental.

Kasus : seperti yang diketahui bahwa niatan untuk membunuh Ade Sara sudah ada
sejak awal mereka mengajak bertemua.Mereka membuat skenario agar Ade dibujuk
bersedia naik mobil Kia Visto sehingga mereka dapat melakukan pembunuhan di
mobil tersebut.
Saat melakukan tindakan kejahatan tersebut juga nampak bahwa pelaku melakukan
dengan sadar,tanpa gangguan mental bahwa apa yang telah diperbuatnya tersebut
dapat menghilangkan nyawa orang lain yakni Ade Sara.
5. Kualifikasinya :Pembunuhan Berencana
Namun bila dilihat dari kronologis peristiwa serta informasi yang didapat pada berita
pelaku juga dapat dijerat pasal 351 ayat ke – 3 yang berbunyi sebagai berikut ,
Jika mengakibtakan mati ,dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun
Menurut penulis kasus ini termasuk penganiayaan karena niatan awal pelaku bukanlah
membunuh seperti yang terlihat dalam kalimat berikut ,”Maunya jalan – jalan sambil
Ngobrol”.Namun karena perbincangan tersebut mengakibatkan Hafiz emosi akhirnya dia
menganiaya Ade dengan dibantu Assifa.
Sehingga bila benar pelaku pembunuhan ade sara ini awalnya hanya penganiayaan dan
mengakibatkan mati maka pelaku mendapat pidana penjara lebih ringan yakni tujuh tahun
bila dibanding pengenaan pasal 340 KUHP yakni seumur hidup atau maksimal dua puluh
tahun.
14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembunuhan berencana ialah pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa dengan
direncanakan terlebih dahulu, misalnya, dengan berunding dengan orang lain atau setelah
memikirkan siasat-siasat yang akan dipakai untuk melaksanakan niat jahatnya itu dengan
sedalam-dalamnya terlebih dahulu, sebelum tindakan yang kejam itu dimulainya.
Pembunuhan berencana merupakan suatu tindak pidana kejahatan. Pembunuhan
berencana muncul dikarenakan oleh faktor-faktor antara lain yaitu :
1) Unsur subjektif terdiri dari :
 Dengan sengaja
 Dengan terlebih dahulu
2) Unsur objektif terdiri dari :
 Perbuatan: menghilangkan nyawa
 Objeknya: nyawa orang lain
Apabila salah satu unsur diatas terpenuhi maka seseorang dapat ditetapkan sebagai pelaku
tindak pidana pembunuhan berencana. Setelah ada bukti-bukti dan saksi yang kuat maka
pelaku tindak pidana dapat dituntut dipengadilan.
15

DAFTAR PUSTAKA
P.A.F Lamintang, dan Theo Lamintang. 2012. KEJAHATAN TERHADAP NYAWA,
TUBUH, DAN KESEHATAN, Jakarrta: SINAR GRAFIKA
Hamzah , Andi.2011. Delik-Delik Tertentu (Speciale Delicten) di dalam KUHP, Jakarta:
SINAR GRAFIKA
http://wahyuarif21.blogspot.co.id/2015/03/analisis-kasus-pembunuhan.html

Anda mungkin juga menyukai