Anda di halaman 1dari 7

LAMPIRAN

DAFTAR PERTANYAAN

Dokter Muda

1. Desta Fransisca : Kapan pasien dengan tetanus neonatorum dapat dikatakan membaik
dan kapan pasien diperbolehkan pulang?
Jawab :
Bayi dengan tetanus neonatorum dapat dikatakan membaik jika gejala klinis sudah
berkurang. Bayi dipantau apakah sudah bebas kejang selama 2 hari, kemampuan
minum/menyusu bayi membaik, dan tidak ada gejala lain seperti sianosis, trismus dan
demam. Nilai kemampuan minum dua kali sehari dan dianjurkan untuk menyusu ASI
secepatnya begitu terlihat bayi siap untuk mengisap. Bila sudah tidak terjadi spasme
atau kejang selama dua hari, bayi dapat minum baik, dan tidak ada lagi masalah yang
memerlukan perawatan di rumah sakit, maka bayi dapat dipulangkan.
Sumber :
- Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, dkk. Pedoman
Pelayanan Medis. Dalam : Tetanus Neonatorum. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2009.

2. Christianity : Di prognosis ada skoring (Phillip score atau Dakar score) untuk
mengklasifikan menjadi ringan / sedang / berat, tujuannya untuk apa?
Jawab :
Prognosis penyakit tetanus neonatorum antara lain dipengaruhi oleh luasnya
keterlibatan otot yang mengalami kejang sebagai tanda bahwa toksin sudah masuk ke
jaringan/susunan saraf pusat, demam tinggi, masa inkubasi yang pendek, serta mutu
perawatan penunjang yang diberikan kepada penderita.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tantijati dkk, terlihat hubungan yang
bermakna antara usia neonatus dan kematian tetanus neonatorum. Penderita tetanus
neonatorum yang berusia 7 hari atau kurang, berisiko 20.1 kali lebih besar untuk
meninggal dunia dari pada penderita tetanus neonatorum yang berusia lebih dari 7 hari.
Masa inkubasi tetanus neonatorum berkisar 3-28 hari. Masa inkubasi yang kurang dari
7 hari tampaknya lebih parah daripada yang sama atau lebih dari 7 hari.

23
Selain dari masa inkubasi, prognosis dapat dinilai dari periode onset, ada atau tidak
adanya spasme, demam atau hipotermia, dan ada atau tidaknya gejala takikardia.
Penilaian-penilaian tersebut dimasukkan dalam tabel dalam Dakar score atau Phillips
score dimana semakin banyak skor yang didapatkan maka prognosis semakin buruk.
Sumber :
- Dina RA. Gambaran Epidemiologi Kasus dan Kematian Tetanus Neonatorum di
Kabupaten Serang Tahun 2005-2008. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. 2009.
- Tantijati L dan Bantas K. Faktor-faktor Prognosis Kematian Tetanus Neonatorum di
RS Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional. 2006; 1(2): 51-56.

3. Karissa Maria Sangalang : Pemeriksaan penunjang apa yang dapat memastikan


diagnosis tetanus neonatorum?
Jawab :
Diagnosis pasti tetanus neonatorum dapat ditegakkan dari pemeriksaan penunjang
yaitu kultur bakteri dari Clostridium tetani. Namun, biasanya sulit melakukan kultur
dan hanya ditemukan 30% yang positif. Jadi, penegakkan diagnosis lebih kepada
anamnesis dan pemeriksaan fisik, karena penyakit tetanus pada neonatus ini memiliki
gejala khas yang dapat ditemukan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan hanyalah untuk membantu atau mendukung diagnosis,
bukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.
Pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan cairan
serebrospinal membantu menyingkirkan diagnosis banding lain yang penyakitnya
memiliki gejala sama secara umum, seperti kejang pada meningitis atau kejang yang
disebabkan oleh gangguan metabolik.
Sumber :
- Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, dkk. Pedoman
Pelayanan Medis. Dalam : Tetanus Neonatorum. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2009.
- Laksmi NKS. Penatalaksaan Tetanus. Ikatan Apoteker Indonesia. CDK-222. 2014;
41(11): 823-827.

24
dr. Arieta Rachmawati Kawengian, Sp. A:

1. Sebutkan dan jelaskan faktor risiko bayi dapat menderita tetanus neonatorum.
Jawab :
1. Pemeriksaan Antenatal
Tujuan pemeriksaan antenatal adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat
melalui masa kehamilan, persalinan, dan nifas dengan baik serta menghasilkan
bayi yang sehat. Dari rangkaian pemeriksaan antenatal, pemberian imunisasi TT
(Tetanus Toksoid) adalah hal yang paling penting dilakukan untuk mencegah
infeksi tetanus neonatorum. Menurut Kemenkes RI, tetanus neonatorum terjadi
dikarenakan ibu hamil tidak memperoleh imunisasi TT, sehingga bayi yang
dilahirkan rentan terhadap infeksi tetanus neonatorum.
Pemberian imunisasi tetanus toksoid pada ibu hamil dimaksudkan agar
bayi yang dilahirkan sudah mempunyai kekebalan terhadap toksin tetanus yang
didapatkan secara pasif sewaktu masih berada dalam kandungan. Dua dosis TT
sekurangnya dengan jarak waktu satu bulan serta sekurangnya sebulan menjelang
persalinan, hampir 100% efektif mencegah tetanus neonatorum. Jadi tidak adanya
imunisasi tetanus pada ibu merupakan faktor risiko yang berarti untuk tetanus
pada neonatus.
2. Penolong Persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih rendah,
yaitu sekitar 50%. Selebihnya ditolong oleh dukun bayi baik yang terlatih maupun
yang tidak terlatih. Hal ini menyebabkan masih banyak ditemukan persalinan yang
tiba-tiba mengalami komplikasi dan memerlukan penanganan yang professional.
Kasus TN (Tetanus Neonatorum) banyak terjadi pada ibu hamil yang
memeriksakan kehamilannya ke bidan/perawat. Namun di sisi lain pertolongan
persalinan pada kasus TN terjadi lebih banyak pada ibu hamil yang persalinannya
ditolong secara tradisional. Bila seorang ibu hamil yang tinggal di perkotaan atau
daerah dengan akses pelayanan kesehatan cukup baik, pemeriksaan kehamilan
dilakukan oleh tenaga kesehatan. Akan tetapi saat menjelang persalinan, ibu hamil
kembali ke daerah asal yang mungkin akses pelayanan kesehatannya sulit
sehingga persalinan ditolong secara tradisional. Hal lainnya adalah adanya asumsi
bahwa persalinan yang ditolong secara tradisional oleh dukun/paraji lebih
mendapat perhatian hingga masa nifas.

25
3. Tempat Persalinan
Persalinan di rumah memiliki risiko tetanus neonatorum yang tinggi, tetapi
persalinan di rumah sakit tidak menjamin perlindungan untuk tidak terjadinya
tetanus neonatorum, karena lamanya tinggal di rumah sakit sangatlah pendek.
Sampai di rumah, biasanya perawatan ibu dan bayi diserahkan kepada dukun
beranak.
Meskipun persalinan itu berlangsung di pusat pelayanan kesehatan atau
klinik bersalin, tidak jarang sekembalinya ke rumah, para wanita yang baru
melahirkan itu menjalani perawatan secara tradisional. Di daerah pedesaan
terlebih yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan ibukota kecamatan, proses
persalinan selalu berlangsung di rumah.
4. Alat Pemotong Tali Pusat
Penggunaan sembilu untuk memotong tali pusat sampai kini masih
dilakukan oleh beberapa dukun bayi terutama di pedesaan. Tali pusat bayi yang
baru lahir dipotong dengan cara mengikat bagian pangkal dan kira-kira tiga jari di
bagian atasnya, kemudian dipotong bagian tengahnya dengan sembilu yang
terbuat dari irisan kulit bambu yang diambil dari rangka atap rumah bagian depan.
Sembilu biasaya tidak dicuci karena dianggap sudah bersih. Meskipun
pemotong tali pusat telah dilakukan dengan gunting atau benang, para dukun
masih sering tidak membersihkan alat-alat itu lebih dahulu, sama halnya saat
mereka menggunakan sembilu.
5. Perawatan Tali Pusat
Tiga segi perawatan pusar dan tali pusat mempunyai pengaruh terhadap
risiko tetanus neonatorum, yaitu: alat pemotong tali pusat, praktek menyimpul,
atau membuka simpulnya, serta bahan yang diurapkan atau dioleskan pada
pangkal potongan tali pusat yang belum kering.
Merawat tali pusat berarti menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak
terkena kencing, kotoran bayi, atau tanah. Bila kotor, luka tali pusat seharusnya
dicuci dengan air bersih yang mengalir dan segera dikeringkan dengan kain/kasa
bersih dan kering. Tidak boleh membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu
dapur, dan sebagainya pada luka tali pusat sebab dapat menyebabkan infeksi dan
tetanus yang dapat berakhir dengan kematian neonatal. Infeksi tali pusat
merupakan faktor risiko untuk terjadinya tetanus neonatorum.

26
Ramuan tradisional umumnya masih banyak digunakan oleh masyarakat
pedesaan, terutama oleh dukun bayi atau keluarga. Telah didapati bahwa 60%
dukun bayi memakai ramuan seperti kunyit, kapur, dan abu sebagai bahan
perawatan tali pusat. Penggunaan abu dapur bekas pembakaran kayu di tungku
untuk melumuri bekas potongan tali pusat dipercaya dapat membuat luka cepat
kering, dan sering mengakibatkan pusar bayi menjadi bengkak dan berwarna
merah. Jika tidak dirawat dengan baik, keadaan ini dapat mengakibatkan
kematian. Adanya kematian bayi akibat serangan tetanus neonatorum banyak
terjadi karena praktek perawatan luka dengan cara seperti di atas.
Sumber :
- Dina RA. Gambaran Epidemiologi Kasus dan Kematian Tetanus Neonatorum
Di Kabupaten Serang Tahun 2005-2008. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia. 2009.

2. Tanda-tanda khas tetanus neonatorum.


Beberapa tanda klinis khas tetanus neonatorum yaitu :
- Bayi sulit minum atau pada anamnesis didapatkan bayi yang semula bisa menetek
dengan baik tiba-tiba tidak bisa menetek;
- Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan;
- Sering kejang terutama karena rangsangan sentuhan, rangsangan sinar dan
rangsangan suara;
- Sianosis;
- Demam atau hipotermi.

Tetanus memiliki gambaran klinis dengan ciri khas trias rigiditas otot,
spasme otot, dan ketidakstabilan otonom. Gejala awalnya meliputi kekakuan otot,
lebih dahulu pada kelompok otot dengan jalur neuronal pendek.
Dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan khas yang dapat ditemukan antara lain
bayi masih sadar, adanya trismus yang dapat diuji dengan tes spatula. Selain itu,
dapat ditemukan mulut bayi mencucu seperti mulut ikan (carper mouth), perut
teraba keras (perut papan), anggota gerak spastik (boxing position), opistotonus
(ada sela antara punggung bayi dengan alas, saat bayi ditidurkan), ada tanda-tanda
infeksi atau inflamasi pada tali pusat yaitu kemerahan di sekitar tali pusat, teraba
hangat, atau dapat berbau busuk.
27
Sumber :
- Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, dkk. Pedoman
Pelayanan Medis. Dalam : Tetanus Neonatorum. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2009.

3. Apakah pada pasien dengan tetanus neonatorum harus dilakukan pemeriksaan pungsi
lumbal?
Jawab :
Tidak. Pasien yang dicurigai dengan tetanus neonatorum tidak harus selalu dilakukan
pemeriksaan pungsi lumbal (LCS). Pemeriksaan pungsi lumbal dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis lain yang gejala umumnya sama seperti pada tetanus
neonatorum contohnya kejang pada meningitis. Pada pasien yang juga dicurigai
mengarah ke diagnosa meningitis, perlu dilakukan pemeriksaan pungsi lumbal untuk
mencari apakah etiologi dari kejang tersebut disebabkan karena meningitis atau bukan.
Yang perlu diketahui pada meningitis, kejang dapat timbul pada hari ke-2 atau lebih
sedangkan untuk tetanus neonatorum kejang akan muncul paling cepat pada hari ke-3
atau lebih karena masa inkubbasi dari Clostridium tetani adalah 3-28 hari. Kemudian,
pada meningitis, ditemukan bayi dapat tidak sadar, ubun-ubun yang membonjol, dan
letargi. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan dalam keadaan sepsis.
Jika terdapat tanda-tanda meningitis seperti di atas, perlu dicurigai diagnosa ke arah
menigitis dan barulah perlu dilakukan pemeriksaan pungsi lumbal untuk menentukan
apakah penyebab kejang karena infeksi clostridium tetani atau infeksi pada meningens
(meningitis).

Sumber :
- Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, dan Usman A. Buku Ajar Neonatologi.
Dalam : Kejang dan Spasme. Edisi I. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2014.

4. Bagaimana cara pemberian Human Tetanus Immunoglubulin atau ATS?


a. Syarat pemberian.
Sebelum memasukkan ATS, harus dilakukan uji sensitivitas terlebih dahulu, yaitu
dengan tes kulit.

28
Caranya yaitu 0,1 cc serum diencerkan dengan akuades atau cairan NaC1 0,9 %
menjadi 1 cc. Suntikkan 0,1 cc dari larutan yang telah diencerkan pada lengan
bawah sebelah voler secara intrakutan, tunggu selama 15 menit. Reaksi positif
(penderita hipersensitif terhadap serum) bila terjadi infiltrat / indurasi dengan
diameter lebih besar dari 10 mm (1 cm), yang dapat disertai rasa panas dan gatal.

b. Sediaan yang sering digunakan.


Sediaan yang sering digunakan antara lain Tetagam. Tetagam berisikan Human
Tetanus Antiglobulin. Sediaan yang tersedia biasanya adalah 250 IU dalam 1 ml.
Dosis yang digunakan yaitu 250 IU, diberikan secara intramuskular.

Sumber :
- Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter. Tetanus. 2016. Available at :
http://hmpd.fk.ub.ac.id/tetanus-2/. [diakses pada 3 Desember 2017].
- Ilic M, Pejcic L, Tiodorovic B, Hasani B, Stankovic S, et al. Neonatal Tetanus -
Report of A Case. The Turkish Journal of Pediatrics. 2010; 52: 404-408.

29