Anda di halaman 1dari 11

Nama :

 Kosmas Kasianus Oeriang 152114123


 Ramadhani Fitry Aryani 152114158

BAB 4

Atribut dan Kode Etik Akuntan Forensik serta Standar Audit


Investigatif

ATRIBUT SEORANG AKUNTAN FORENSIK

Howard R. Davia memberi lima nasihat kepada seorang auditor pemula dalam melakukan
investigasi terhadap fraud. Lima nasihat tersebut adalah :

1. Hindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara premature.


2. Fokus pada pengumpulan bukti dan barang bukti untuk proses penga dilan.
3. Kreatif dalam menerapkan teknik investigasi, berpikir seperti penjahat, jangan dapat
ditebak.
4. (kalau sistem dalam menerapkan intern sudah baik), farud hanya bisa terjadi karena
persekongkolan. Investigator harus memiliki indra atau intuisi yang tajam untuk
merumuskan teori mengenai persekongkolan.
5. Kenali pola fraud. Ini memungkinkan investigator menerapkan teknik audit investigatif
yang ampuh.

KARAKTERISTIK SEORANG PEMERIKSA FRAUD

Pemeriksa fraud harus memiliki kemampuan yang unik. Disamping keahlian teknis,
seorang pemeriksa fraud yang sukses, mempunyai kemampuan mengumpulkan fakta-fakta dari
berbagai saksi secara adil, tidak memihak, sahih (mengikuti peraturan perundang-undangan), dan
akurat, serta mampu melaporkan fakta-fakta itu secara akurat dan lengkap.

KUALITAS AKUNTAN FORENSIK


Robert J. Lindquist membagikan kuisioner kepada staf Peat Marwick Lindquist Holmes.
Di antara yang diajukannya terdapat pertanyaan: kualitas apa saja yang harus dimiliki seorang
akuntan forensik? Jawabannya pun beraneka ragam, di antaranya :

1. Kreatif
2. Rasa ingin tahu
3. Tak menyerah
4. Akal sehat
5. Business sense
6. Percaya diri

INDEPENDEN, OBJEKTIF, DAN SKEPTIS

Tiga sikap dan tindak-pikir yang selalu harus melekat pada diri seorang auditor, yakni
independen, objektif, dan skeptis. Ketiga sikap dan tindak pikir juga tidak dapat dipisahkan dari
pekerjaan akuntan forensik.

KODE ETIK AKUNTAN FORENSIK

Para akuntan dan praktisi hokum mengenal kode etik. Kode etik merupakan bagian dari
kehidupan berprofesi. Kode etik mengatur hubungan antara anggota profesi dengan sesamanya,
dengan pemakai jasanya dan stakeholder lainnya, dan dengan masyarakat luas. Kode etik
pimpinan KPK memang bukan contoh kode etik akuntan forensik. Namun, perumusannya sangat
relevan untuk mengatur perilaku akuntan forensik.

PELAKSANAAN KODE ETIK

Kasus :

Kronologi Kasus Dirdik KPK Aris Budiman


TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Pertimbangan Pegawai (DPP) Komisi Pemberantasan Korupsi
telah melimpahkan rekomendasi atas dugaan pelanggaran etik oleh Direktur Penyidikan Aris
Budiman kepada lima pimpinan lembaga antirasuah itu. Ketua KPK Agus Rahardjo
mengungkapkan, Aris dinyatakan bersalah.

"Rekomendasinya dari 10 anggota DPP, delapan anggota menyatakan ia bersalah dan dua lainnya
menyatakan tak bersalah. Berat," kata Agus di Jakarta, Selasa, 24 Oktober 2017.
Menurut Agus, kelima pimpinan KPK mulai membahas sanksi yang bakal dijatuhkan kepada
Aris mulai Senin, 23 Oktober 2017. Namun, ia belum bisa memastikan waktu pasti kapan
pengumuman sanksi terhadap Aris akan dilakukan.

Vonis terhadap Aris Budiman itu berawal dari pemutaran video dalam sidang Miryam S.
Haryani, terdakwa pemberi keterangan palsu. Dalam video itu, Miryam mengatakan sejumlah
pegawai KPK, termasuk Direktur Penyidikan KPK, menemui anggota Komisi III DPR dan
memberitahukan rencana pemeriksaan dirinya dalam perkara kartu tanda penduduk berbasis
elektronik (e-KTP).

Miryam juga mengaku diminta menyerahkan uang Rp 2 miliar agar ia diamankan dalam kasus
tersebut. Aris diperiksa pengawas internal KPK. Ia lalu mendatangi undangan Panitia Angket
KPK di DPR dan blak-blakan mengungkap masalah internal lembaga antirasuah tersebut.

Berikut kronologi kasus Aris Budiman.

14 Agustus 2017
Persidangan Miryam S. Haryani memutar video pemeriksaan Miryam di KPK dalam perkara e-
KTP. Dalam video itu, Miryam mengatakan sejumlah pegawai KPK, termasuk Direktur
Penyidikan KPK, menemui anggota Komisi III DPR dan memberitahukan rencana pemeriksaan
dirinya dalam perkara e-KTP. Miryam juga mengaku diminta menyerahkan uang Rp 2 miliar
agar dirinya diamankan dalam kasus tersebut.

18 Agustus 2017
Aris Budiman diperiksa pengawas internal untuk mengklarifikasi pernyataan Miryam.

29 Agustus 2017
Aris Budiman memenuhi undangan rapat Panitia angket KPK di DPR tanpa izin pemimpin KPK.

30 Agustus 2017
Dewan Pertimbangan Pegawai (DPP) memeriksa Aris Budiman karena dianggap membangkang.

2 Oktober 2017
Pemimpin KPK menerima hasil rekomendasi pengawas internal.

10 Oktober 2017
Rekomendasi pengawas internal dikembalikan oleh komisioner, lalu dikirim ke DPP.

20 Oktober 2017
Rekomendasi DPP sampai di tangan pemimpin KPK. Aris Budiman dinyatakan bersalah
melakukan pelanggaran berat.

23 Oktober 2017
Kelima pemimpin KPK mulai membahas sanksi yang akan dijatuhkan kepada Aris Budiman.
STANDAR AUDIT INVESTIGATIF

Secara sederhana, standar adalah ukuran mutu. Oleh karena itu, dalam pekerjaan audit,
para auditor ingin menegaskan adanya standar tersebut. Dengan standar ini pihak yang diaudit
(auditee), pihak yang memakai laporan audit, dan pihak – pihak lain dapat mengukur kerja si
auditor.

K.H Spencer Picket dan Jennifer Picket merumuskan beberapa standar untuk melakukan
investigasi terhadap fraud. Konteks yang mereka rajuk adalah investigasi atas fraud yang
dilakukan oleh pegawai di perusahaan.

Standar tersebut adalah :

1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktik yang diakui (accepted best practices)

2. Kumpulkan bukti – bukti dengan prinsip kehati – hatian (due care) sehingga bukti – bukti
tadi dapat diterima di pengadilan

3. Pastikan seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks dan jejak
audit tersedia

4. Pastikan bahwa para investigatormengerti hak – hak asasi pegawai dan senantiasa
menghormatinya

5. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan, dan
pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum dan
administratif maupun hukum pidana

6. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau
dari segi waktu

7. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi, termasuk perencanaan


pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga ,
pengamanan mengenai hal – hal yang bersifat rahasia, ikut tata cara atau protokol,
dokumentasi dan penyelenggara catatan, melibatkan / dan atau melapor ke polisi,
kewajiban hukum, dan persyaratan mengenai pelaporan.
STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Badan pemeriksaan keuangan dalam standar pemeriksaan keuangan negara mencantumkan


beberapa standar yang berkenaan dengan penemuan Fraud. Pemeriksaan untuk mendeteksi
terjadinya penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan (Fraud),
dan ketidakpatutan(Abuse).

1. Apabila ketentuan peraturan perundang-undangan mempunyai pengaruh yang signifikasn


terhadap tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus merancang metodologi dan prosedur
pemeriksaan sedemikian rupa sehingga dapat mendeteksi penyimpangan yang dapat
membawa pengaruh signifikan terhadap tujuan pemeriksaan. Pemeriksa harus
menentukan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mempunyai pengaruh
signifikan terhadap tujuan pemeriksaan, dan harus memperhitungkan risiko bahwa
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan dan kecurangan maupun
penyalah gunaan wewenang dapat terjadi. Berdasarkan penilaian risiko tersebut,
pemeriksa harus merancang dan melaksanakan prosedur yang dapat memberikan
keyakinan yang memadahi mengenai hal-hal yang menyangkut penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan, serta ketidakpatutan. Untuk itu,pemeriksa juga
harus menyiapkan dokumentasi pemeriksaan mengenai penilaian risiko tersebut.
2. Tidak praktis bagi pemeriksa untuk menetapkan suatu ketentuan peraturan perundang-
undangan berpengaruh signifikan terhadap tujuan pemeriksaan. Hal ini disebabkan
program pemerintah sangat dipengaruhi oleh berbagai peraturan perundang-undangan
dan tujuan pemeriksaan yang sangat beragam. Walaupun begitu, pemeriksaan dapat
menggunakan pendekatan berikut ini :
a) Ubah setiap tujuan pemeriksaan menjadi beberapa pertanyaan tentang aspek tertentu dari
program yang diperiksa (tujuan, pengendalian intern, kegiatan, operasi, output, outcome).
b) Identifikasikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan
aspek tertentu yang menjadi bahan pertanyaan.
c) Tentukan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan secara signifikan
yang dapat memengaruhi jawaban pemeriksa atas pertanyaan tersebut. Jika benar maka
ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut mungkin signifikan bagi tujuan
pemeriksaan.
3. Pemeriksa dapat mengandalkan pekerjaan penasihat hukum dalam hal :
a) Menentukan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh signifikan
terhadap tujuan pemeriksaan
b) Merancang pengujian untuk menilai kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-
undangan
c) Mengevaluasi hasil pengujian terbut, pemeriksa juga dapat mengandalkan hasil kerja
penasihat hukum, apabila tujuan pemeriksaan mensyaratkan adanya pengujian untuk
menilai kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam keadaan tertentu, pemeriksa juga dapat memperoleh informasi mengenai masalah
kepatuhan dari pihak lain, seperti aparat yang melakukan investigasi, organisasi
pemeriksa atau entitas pemerintah lain yang memberikan bantuan kepada entitas yang
diperiksa, atau pihak yang berwenang.

4. Dalam merencanakan pengujian untuk menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-


undangan, pemeriksa harus menilai risikokemungkinan terjadinya penyimpangan. Risiko
tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti rumitnya ketentuan peraturan
perundang-undangan atau karena ketentuan peraturan perundang-undangan masih baru.
Penilai pemeriksa terhadap risiko tersebut mencakup pertimbangan apakah entitas
mempunyai sistem pengendalian yang efektif untuk mencegah atau mendeteksi terjadinya
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan. Apabila pemeriksa
memperoleh bukti yang cukup mengenai efektifitas pengendalian tersebut, maka
pemeriksa dapat mengurangi luasnya pengujian atas kepatuhan.
5. Dalam melaksanakan pemeriksaan, pemeriksa Hrus mempertimbangkan risiko terjadinya
kecurangan (Fraud) yang secara signifikan dapat memengaruhi tujuan pemeriksaan.
Pemeriksa harus mendiskusikan risiko terjadinya kecurangan yang potensial, dengan
memperhatikan faktor–faktor terjadinya kecurangan seperti keinginan atau tekanan yang
dialami sesorang untuk melakukan kecurangan, kesempatan yang memungkinkan
terjadinya kecurangan, dan alasan atau sifat seseorang yang dapat menyebabkan
dilakukannya kecurangan. Pemeriksa harus mengumpulkan dan menilai informasi untuk
mengidentifikasi risiko terjadinya kecurangan yang mungkin relevan dengan tujuan
pemeriksaan atau memengaruhi hasil pemeriksaan. Misalnya, untuk memperoleh
informasi, mengenai faktor–faktor terjadinya kecurangan tersebut, pemeriksa dapat
berdiskusi dengan pegawai entitas yang diperiksa atau dengan cara lainnya sehingga
pemeriksa dapat menentukan kerawanan terjadinya kecurangan, kemampuan
pengendalian intern untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya kecurangan, atau risiko
bahwa pegawai entitas yang diperiksa dapat mengabaikan pengendalian intern yang ada.
Pemeriksa harus menggunakan skeptisme profesional dalam menlai resiko tersebut untuk
menentukan faktor–faktor atau risiko- risiko yang secara signifikan dapat memengaruhi
pekerjaan pemeriksa apabila kecurangan terjadi atau mungkin telah terjadi.
6. Ketika pemeriksa mengidenfikasi faktor–faktor atau risiko–risiko kecurangan yang secara
signifikan dapat memengaruhi tujuan atau hasil pemeriksaan, pemeriksa harus merespon
masalah tersebut dengan merancang prosedur untuk bisa memberikan keyakinan yang
memadai bahwa kecurangan tersebut dapat di deteksi. Pemeriksa harus mempersiapkan
dokumentasi pemeriksaan terkait dengan pengidebtifikasian, penilaian, dan analisis
terhadap risiko terjadinya kecurangan. Pemeriksa harus waspada bahwa menilai risiko
terjadinya kecurangan adalah suatu proses yang terus-menerus selama pelaksanaan
pemeriksaan dan berkaitan tidak hanya dengan perencanaan pemeriksaan, tetapi juga
dengan evaluasi atas bukti-bukti yang diperoleh selama pelaksanaan pemeriksaan.
7. Pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau transaksi-transaksi yang berindikasi
kecurangan. Apabila terdapat informasi yang menjadi perhatian pemeriksa (melalui
prosedur pemeriksaan, pengaduan yang diterima mengenai terjadinya kekurangan, atau
cara-cara yang lain) dalam mengidentifiksi bahwa kecurangan telah terjadi, maka
pemeriksa harus mempertimbangkan apakah kecurangan tersebut secara signifikan
memengaruhi tujuan pemeriksaannya. Apabila ternyata kecurangan tersebut secara
signifikan memengaruhi tujuan pemeriksaannya, maka pemeriksa harus memperluas
seperlunya langkah-langkah dan prosedur pemeriksaan untuk:
a) Menentukan apakah kecurangan mungkin telah terjadi.
b) Apabila memang telah terjadi apakah hal tersebut memengaruhi tujuan pemeriksaan.
8. Pelatihan, pengalam, dan pemahaman pemeriksa terhadap program yang diperiksa sapat
memberikan suatu dasar bagi pemeriksa untuk lebih waspada bahwa beberapa tindakan
yang menjadi perhatiannya bisa merupakan indikasi adanya kecurangan. Suatu tindakan
bisa dikategorikan sebagai kecurangan atau tidak harus ditetapkan mellaui suatu sistem
peradilan dan hal ini diluar keahlian dan tanggungjawab profesional pemeriksa.
Walaupun demikian, pemeriksa tetap bertanggungjawab untuk slelau waspada terhadpa
kelemahan-kelemahan yang meungkinkan pemeriksa bisa mengidentifikasiskan indikais-
indikasi bahwa kecurangn telah terjadi. Dalam beberapa hal, kondisi-kondisi berikut ini
bisa mengindikasikan risiko terhadinya kecurangan :
a) Lemahnya manajemen yang tidka bisa menerapkan pengendalian intern yang ada atau
tidka bisa mengawasi proses pengendlaian.
b) Pemisahan tugas yang tidak jelas, terutama yang berkaitan dnegan tugas-tugas
pengendalian dan pengamanan sumber daya.
c) Transaksi-transaksi yang tidak lazim dan tanpa penjelasan yang meuaskan.
d) Kasus dimana pegawai cenderung menolak hiburan atau menolak promosi.
e) Dokumen-dokumennya hilang atau tidak jelas, atau manajemen selalu menunda
memberikan informasi tanpa alasan yang jelas.
f) Informasi yang salah atau membingungkan.
g) Pengalaman pemeriksaan atau investigasi yang lalu dengan temuan mengenai kegiatan-
kegiatan yang perlu dipertanyakan atau bersifat kriminal.
9. Ketidakpatuhan berbeda dnegan kecurnagan atau penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan. Apabila ketidakpatuhan terjadi, maka mungkin saja tidak hukum,
atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang dilanggar. Dalam hal ini
ketidakpatuhan adalah perbuatan yang jauh berada di luar pikiran yang masuk akal atau
di luar praktik-praktik yang lazim. Pemeriksa harus wasapada terhadap situasi atau
transaksi yang dapay mengindikasikan terjadinya ketidakpatuhan. Apabila informasi yang
diperoleh pemeriksa (melalui prosesdur pemeriksaan, pengaduan yang diterima mengenai
terjadinya kecurangan, atau acra-cara yang lain) mengindikasikan telah terjadi
ketidakpatutan, pemerika harus mempertimbangkan apakah ketidakpatutan tersebut
secara signifikan mempengaruhi hasil pemeriksaannya atau tidak. Apabila indikasi
terjadinya kepatutan memang ada dan akan mempengarauhi hasil oemeriksaan secara
signifikan, pemeriksa harus memperluas langkah dan prosedur pemeriksaan, untuk :
a) Menentukan apakah ketidakpatutan memang benar-benar terjadi.
b) Apabila memang benar-benar terjadi, maka pemeriksa harus menentukan pengaruhnya
terhadap hasil pemeriksaan.

Walaupun demikian, karena penentuan bahwa telah terjadinya ketidakpatutan itu bersifat
subjektif, pemeriksa tidak diharapkan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam
mendeteksi adanya ketidakpatutan. Pemeriksa harus mempertimbangkan faktor
kuantitatif dan kualitatif dalam membuat pertimbangan mengenai signifikan atau
tidaknya ketidakpatutan yang mungkin terjadi dan apakah pemeriksa perlu untuk
memperluas langkah dan prosedur pemeriksaan.
10. Pemeriksa harus mempertimbangkan profesionalnya dalam menelusuri indikasi adanya
kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan atau
ketidakpatutan, tanpa mencampuri proses investigasi atau proses hukum selanjutnya, atau
kedua-duanya. Dalam kondisi tertentu, kebijakan, ketentuan, perundang-undnagan
mengharuskan pemeriksa melaporkan indikasi terjadinya kecurangan, penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundnag-undangan, atau ketidakpautan kepada pihak yang
berwenang sebelum memperluas langkah dan prosedur pemeriksaan. Pemeriksa perlu
memperhatikan prosedur yang berlaku di BPK untuk melaksanakan pelaporan kepada
pihak yang berwenang ini. Pemeriksa dapat juga diminta untuk meninggalkan atau
menunda pemeriksaan berikutnya atau sebagian pekerjaan pemeriksaannya agar tidak
mengganggu investigasi.
11. Suatu pemeriksaan yang dilaksanakn sesuai Standar Pemeriksaan ini akan memberikan
keyakinan yang memadai bahwa telah dilakukan deteksi atas penyimpangan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan atau kecurangan yang secara signifikan dapat
memengaruhi hasil pemeriksaan. Meskipun demikian, hal ini tidak menjamin
ditemukannya penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan atau
kecurangan. Sebaliknya dalam hal pemeriksa tidak menemukan penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan atau kecurangan selama pemeriksaan, tidak
berarti bahwa kinerja pemeriksa tidak memadai, selama pemeriksaan dilaksanakan sesuai
dengan Standart Pemeriksaan ini.

STANDAR AKUNTANSI FORENSIK

Ringkasan Standar Umum dan Khusus Akuntansi Forensik

100 Indepedensi : Akuntan Forensik Harus Independen Dalam Melaksanakan Tugas

100 Garis pertanggung jawaban :

1. Untuk kegiatan internal lembaganya, akuntansi forensik harus cukup independen


dalam melaksanakan tugasnya. Ia bertanggung langsung ke Dewan Komisaris kalau
penugasan diberikan oleh lembaganya, atau kepada penegak hokum dan/ atau
regulator, jika penugasannya datang dari luar lembaganya
2. Dalam hal akuntan forensik tersebut independen ia menyampaikan laporan kepada
seorang eksekutif senior yang kedudukannya lebih tinggi dari orang yang diduga
melakukan fraud, alternatifnya ialah akuntan forensik menyampaikan laporannya
kepada dewan komisaris.
3. Dalam hal akuntan forensic tersebut independen dan penugasan diterimanya dan
lembaga penegak hokum atau pengadilan, pihak yang menerima laporannya atau
counterpart-nya harus ditegaskan dalam kontrak.

120 Objektivitas : Akuntan forensik harus objektif (tidak berpihak) dalam melaksanakan
telaah akuntansi forensiknya

200 Kemahirn professional : akuntansi forensic harus dilaksanakan dengan kemahiran dan
kehati – hatian professional

210. Sumber Daya Manusia

Semua sumber daya manusia yang menjalani akuntansi forensic harus mempunyai
kemahiran teknis, pendidikan, dan pengalaman yang memadai sesuai dengan
tugas yang diserahkan kepadanya

220. Pengetahuan, Pengalaman, Keahlian dan Disiplin

Akuntansi forensic harus memiliki atau menggunakan sumber daya manusia yang
memiliki pengetahuan, pengalaman, keahlian, dan disiplin untuk melaksanakan
tugasnya dengan baik

230. Supervisi

Dalam hal lada lebih dari satu akuntan forensic dalam satu penugasan, salah
seorang diantara mereka berfungsi sebagai in-charge yang bertanggung jawab
dalam mengarahkan penugasan dan memastikan bahwa rencana kerja
dilaksanakan sebagai mana seharusnya dan dikomuntesaikan dengan baik.

240. Kepatuhan terhadap Standar Prilaku


Akuntan forensic harus mematuhi standar prilaku professional terbaik yang
diharapkan dari akuntan, auditor, rekan dari profesi hokum baik tim pembela
maupun jaksa umum dan regulator.

250. Hubungan Manusia

Akuntan forensic harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan sesama


manusia (interpersonal skills)
260. Komunikasi
270. Pendidikan Berkelanjutan
280. Kehati-hatian Profesional
300 Lingkup Penugasan : Akuntan forensik harus memahami dengan baik penugasan yang
diterimanya.
310. Keandalan Informasi
320. Kepatuhan terhadap Kebijakan, Rencana, Prosedur, dan Ketentuan Perundang
Undangan
330. Pengamanan Aet
340. Penggunaan Sumber Daya secara Efisien dan Ekonomis
350. Pengunaan Sumber Daya secara Efisien dan Ekonomis

400 Pelaksanaan Tugas Telaahan