Anda di halaman 1dari 17

Laringitis Akut

Septriati Mesarina Haning, S.Ked

SMF Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Prof.Dr.W.Z. Johannes – FK Universitas Nusa Cendana

Pendahuluan

Laring adalah kotak suara yang memungkinkan kita untuk berbicara, berteriak,

berbisik, dan bernyanyi. Laring terletak di bagian anterior leher, bagian inferior dari

faring dan bagian superior dari trakea. Laring terdiri dari kerangka tulang rawan yang

didalamnya terdapat pita suara (plica vocalis) yang ditutupi oleh lapisan lendir. Otot di

dalam laring menyesuaikan posisi, bentuk, dan ketegangan dari pita suara,

memungkinkan kita untuk membuat suara yang berbeda dari berbisik hingga

bernyanyi. Setiap perubahan dalam aliran udara (yang dihasilkan oleh paru-paru

menghembuskan napas udara) di pita suara akan mempengaruhi suara dan kualitas

suara. Laring terletak di antara faring dan trakea serta memiliki penutup disebut

epiglotis.1

Fungsi utama laring adalah untuk melindungi saluran napas bagian bawah

dengan menutup secara tiba-tiba pada stimulasi mekanik, sehingga menghentikan

respirasi dan mencegah masuknya benda asing ke dalam saluran napas. Fungsi lain dari

laring selain produksi suara (fonasi) adalah batuk, manuver Valsalva, kontrol ventilasi,

dan bertindak sebagai organ sensorik. Laring terdiri dari 3 pasang kartilago (krikoid,

LARINGITIS AKUT 1
tiroid, epiglotis); 3 pasang kartilago yang lebih kecil (arytenoids, corniculate,

cuneiform); dan sejumlah otot intrinsik. Tulang hyoid, sementara secara teknis bukan

bagian dari laring,namun merupakan insersi otot dari atas yang membantu dalam

gerakan laring.2

Laringitis akut merupakan inflamasi plica vocalis dan laring yang memiliki

onset tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 3 minggu.1,3 Penyakit ini sering terjadi pada

anak-anak, mempunyai onset yang mendadak dan biasanya sembuh sendiri.2,3 Bila

laringitis berlangsung lebih dari 3 minggu maka diklasifikasikan sebagai laringitis

kronik.3 Laringitis didefinisikan sebagai proses inflamasi yang melibatkan laring dan

dapat disebabkan oleh berbagai proses baik non-infeksi maupun infeksi. Penyebab

laringitis antara lain penyalahgunaan suara, paparan agen berbahaya atau agen

infeksius dimana yang paling sering adalah virus namun kadang juga disebabkan oleh

bakteri.3,4

Laringitis akut sering juga disebut dengan “croup” yang proses peradangannya

sering melibatkan saluran pernafasan di bawahnya yaitu trakea dan bronkus. Bila

peradangan melibatkan laring dan trakea maka diagnosis spesifiknya disebut

laringotrakeitis dan bila peradangan sampai ke bronkus maka diagnosis spesifiknya

disebut laringotrakeobronkitis. Sindrom croup merupakan sindrom klinis yang ditandai

dengan suara serak, batuk menggonggong, stridor inspirasi, dengan atau tanpa adanya

stress pernapasan.4

LARINGITIS AKUT 2
Meskipun sifat penyakit ini adalah dapat sembuh sendiri tetapi kadang-kadang

cenderung menjadi berat bahkan fatal. Penyakit ini dapat menimbulkan obstruksi

saluran pernapasan yang bersifat ringan hingga berat. 4 Oleh karena itu, pencegahan

dan penatalaksanaan yang tepat sangat dibutuhkan.

Epidemiologi

Sindrom croup terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 6 tahun dengan

puncaknya pada usia 1-2 tahun. Akan tetapi sindrom croup dapat juga terjadi pada anak

berusia 3 bulan dan di atas 15 tahun. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-

laki daripada anak perempuan dengan rasio 3:2. Angka kejadian meningkat di musim

dingin dan musim gugur, tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun. Pasien

croup merupakan 15% dari seluruh pasien dengan infeksi respiratori yang berkunjung

ke dokter. Kekambuhan sering terjadi pada usia 3-6 tahun dan berkurang sejalan

dengan pematangan struktur anatomi saluran respiratori atas. Hampir 15% pasien

memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.4

Etiologi

Etiologi laringitis akut termasuk penyalahgunaan/trauma suara (berbicara,

menyanyi atau berteriak)1 paparan agen berbahaya, atau agen infeksius yang

menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas.3 Agen infeksi yang paling sering virus

tapi kadang-kadang bakteri.3 Sekitar 60% kasus disebabkan oleh Human parainfluenza

LARINGITIS AKUT 3
virus type 1 (HPIV-1), HPIV 2,3 dan 4,virus influenza A dan B, Adenovirus,

Respiratory Syncytial virus (RSV) dan virus campak. Meskipun jarang, pernah juga

ditemukan Mycoplasma pneumonia.4 Selain itu Rihinoviruses, Mumps, Bordetella

Pertussis, Varicella-zoster virus juga menyebabkan laringitis akut.3

Patogenesis

Laringitis hanya menular jika disebabkan oleh infeksi. Laringitis karena infeksi

virus menyebar melalui cara droplet. Penularan penyakit dapat diminimalkan atau

dicegah dengan menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin, dan kebiasaan

kebersihan yang baik (sering mencuci tangan dan tidak berbagi peralatan makan).1

Seperti infeksi respiratori pada umumnya, infeksi virus pada laring dimulai dari

nasofaring dan menyebar ke epitel laring. Peradangan difus, eritema dan edema yang

terjadi pada daerah infeksi menyebabkan terganggunya mobilitas pita suara serta area

subglotis mengalami iritasi. Hal ini menyebabkan suara pasien menjadi serak (parau).

Aliran udara yang melewati saluran respiratori atas mengalami turbulensi sehingga

menimbulkan stridor, diikuti dengan retraksi dinding dada (selama inspirasi).3,4,5

Stridor inspirasi menunjukkan adanya obstruksi pada laring.5 Pergerakan dinding dada

dan abdomen yang tidak teratur menyebabkan pasien kelelahan serta mengalami

hipoksia dan hiperkapnea. Pada keadaan ini dapat terjadi gagal napas atau bahkan henti

napas. 3,4,6

LARINGITIS AKUT 4
Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis biasa didahului dengan demam yang tidak begitu tinggi

selama 12-72 jam. Hidung berair, nyeri menelan dan batuk ringan. Kondisi ini akan

berkembang menjadi batuk nyaring, suara menjadi parau dan kasar. Gejala sistemik

yang menyertai seperti demam dan malaise. Bila keadaan berat dapat terjadi sesak

napas, stridor inspiratorik yang berat, retraksi dan anak tampak gelisah dan bertambah

berat pada malam hari. Gejala puncak terjadi pada 24 jam pertama hingga 48 jam.

Biasanya perbaikan akan tampak dalam waktu satu minggu. Anak akan sering

menangis, rewel dan akan merasa nyaman jika duduk di tempat tidur atau digendong.4

Pada bayi dan anak kecil, tanda-tanda dan gejala klasik dari laringitis

disebabkan oleh infeksi antara lain:1,6

 Batuk yang disertai sesak napas/ stridor yang timbul lambat

 Batuk menggonggong (Hoarse Barky cough)

 Demam.

Sedangkan ketika penyebab laringitis adalah non infeksi, maka batuk bisa

merupakan gejala yang signifikan bersama dengan suara serak. Pasien juga dapat

mengeluhkan terasa penuh di tenggorokan atau mungkin mengeluhkan kesulitan

menelan dan sesak napas. Pada kasus yang jarang, pasien dapat batuk mengeluarkan

air ludah bercampur darah jika peradangan sampai menyebabkan pendarahan kecil.1

LARINGITIS AKUT 5
Berdasarkan buku saku pelayanan kesehatan anak di Rumah sakit, diagnosis

croup dibagi atas ringan dan berat, dengan tanda dan gejala sebagai berikut:7

- Croup ringan : - Demam

- Suara serak

- Batuk menggonggong

- Stridor yang hanya terdengar jika anak gelisah

- Croup berat : - Stridor terdengar walaupun anak tenang

- Napas cepat dan tarikan dinding dada bagian bawah ke

dalam.

Diagnosis

Diagnosis laringitis akut dapat ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang

1. Anamnesis

Dari anamnesis didapatkan selain gejala infeksi saluran pernapasan atas (yaitu,

demam, batuk, rhinitis), pasien juga mengalami disfonia atau suara serak. Gejala-gejala

ini konsisten dengan laringitis namun tidak spesifik untuk laringitis akut atau kronis.

Pasien dengan laringitis juga bisa mengalami odynophonia, disfagia, odynophagia,

dyspnea, rhinorrhea, postnasal discharge, sakit tenggorokan, hidung, kelelahan, dan

malaise. Gangguan suara biasanya berakhir 7-10 hari. Jika gejalanya menetap lebih

dari 3 minggu, maka didiagnosis sebagai laringitis kronis.3

LARINGITIS AKUT 6
2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisis ditemukan suara serak, hidung berair, dan frekuensi

napas yang sedikit meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai dengan derajat stress

pernapasan yang diderita. Pemeriksaan langsung area laring tidak terlalu diperlukan,

akan tetapi jika diduga terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat napas, disfagia) maka

pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.`4 Pemeriksaan tidak langsung jalan napas

dengan cermin atau pemeriksaan langsung dengan nasolaryngoscope mengungkapkan

eritema dan edema dari plica vocalis, sekresi, dan permukaan yang ireguler dari plica

vocalis. Perhatikan juga adanya mobilitas plica vocalis yang normal dan ada tidaknya

obstruksi jalan napas. Selain temuan infeksi saluran pernapasan bagian atas umum,

pasien mungkin tampak sehat.3

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak

perlu dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis,

gejala klinis dan pemeriksaan fisik.3,4 Jika pasien memiliki eksudat di orofaring atau

melapisi plica vocalis, maka dapat diambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan gram

dan kultur bakteri.3

Pada pemeriksaan radiologis leher posisi postero-anterior ditemukan gambaran

udara steeple sign (seperti menara) yang menunjukkan adanya penyempitan kolumna

subglotis yang mana gambaran radiologis ini hanya ditemukan pada 50% kasus.4

LARINGITIS AKUT 7
Tatalaksana

Laringitis akut dapat sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Pasien

dianjurkan untuk menjaga kelembaban jalan napas dengan istirahat total penggunaan

suara.3,8 Jika harus berbicara maka dianjurkan menggunakan suara dengan fonasi yang

lembut atau bersuara biasa, namun tidak berbisik. Hal ini disebabkan jika berbisik

dapat meningkatkan kerja dari laring.3 Saat berbisik pita suara akan meregang

maksimal dan membutuhkan lebih banyak kerja dari otot-otot laring sehingga dapat

memperpanjang waktu pemulihan.1

Selain itu, menghindari iritasi pada laring, misalnya makanan pedas, makanan

berlemak serta makanan atau minuman yang dingin juga dapat membantu

penyembuhan laringitis akut. Antipiretik, antinyeri dan dekongestan dapat diberikan

untuk kenyamanan pasien.3,8

Sebagian besar pasien tidak perlu dirawat di Rumah Sakit, melainkan cukup

dirawat di rumah. Pasien dirawat di rumah sakit bila dijumpai salah satu dari gejala-

gejala berikut.

- Anak berusia di bawah 6 bulan

- Terdengar stridor progresif

- Stridor terdengar ketika sedang beristirahat

- Terdapat gejala gawat napas

- Hipoksemia

LARINGITIS AKUT 8
- Gelisah

- Sianosis

- Gangguan kesadaran

- Demam tinggi

- Anak tampak toksik

- Tidak ada respon terhadap terapi.4

Jika terdapat tanda-tanda sesak napas atau tanda gagal napas maka tatalaksana

utama adalah mengatasi obstruksi jalan napas.4

- Mempertahankan jalan napas terbuka, dapat dilakukan dengan alat penyangga

oropharyngeal airway (guedel), penyangga nasopharyngeal airway atau pipa

endotrakea.

- Terapi oksigen

Teknik pemberian oksigen disesuaikan dengan situasi klinis dan kondisi

pasien. Berbagai teknik pemberian sebagai berikut: kanul nasal, oxygen

hood/head box, masker dan bantuan ventilator.6

Terapi uap telah digunakan untuk obstruksi jalan napas pada kasus yang berat.

Pemakaian uap dingin lebih baik daripada uap panas, kerena kulit akan melepuh akibat

paparan uap panas. Sedangkan uap dingin akan melembabkan saluran respiratori,

meringankan inflamasi, mengencerkan lender pada saluran respiratori sekaligus

memberikan efek yang nyaman dan menenangkan bagi anak. Walaupun terapi uap ini

LARINGITIS AKUT 9
merupakan pilihan yang praktis, namun kelembaban yang ditimbulkan dapat pula

memperberat keadaan anak jika terjadi pada kondisi yang lebih berat seperti

bronkospasme yang disertai mengi seperti laringotrakeobronkitis atau pneumonia.4

Terapi farmakologi juga kadang diperlukan. Salah satunya nebulisasi epinefrin.

Nebulasi epinefrin akan menurunkan permeabilitas vascular epitel bronkus dan trakea,

memperbaiki edema mukosa laring dan meningkatkan laju udara pernapasan. Epinefrin

yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut: 4

1. Racemic epinephrine (campuran 1:1 Isomer d dan 1 epinefrin) dengan dosis 0,5 ml

larutan racemic epinephrine 2,25% yang telah dilarutkan dalam 3ml salin normal.

Larutan tersebut diberikan melalui nebulizer selama 20 menit

2. L-epinephrine 1:1000 sebanyak 5 ml, diberikan melalui nebulizer. Efek terapi

terjadi dalam 2 jam.

Racemic epinephrine merupakan pilihan utama, efek terapinya lebih besar dan

mempunyai sedikit efek terhadap kardiovascular seperti takikardi dan hipertensi.

Nebulisasi epinefrin masih dapat diberikan pada pasien dengan takikardi dan kelainan

jantung seperti tetralogi Fallot.4

Pemberian kortikosteroid dapat mengurangi edema pada mukosa laring melalui

mekanisme anti radang. Uji klinis menunjukkan adanya perbaikan pada pasien

laringitis ringan sedang yang diobati dengan steroid oral atau parenteral dibandingkan

dengan placebo. Kortikosteroid yang dapat diberikan yaitu deksametason dengan dosis

LARINGITIS AKUT 10
0,6 mg/kgBB per oral/ intramuskular sebanyak 1 kali dan dapat diulang dalam 6-24

jam. Efek klinis akan tampak dalam 2-3 jam setelah pengobatan. Selain deksametason,

dapat juga diberikan prednison atau prednisolone dengan dosis 1-2mg/kgBB4 atau

metilprednisolon 1-2mg/kbBB kemudian diikuti 0,5mg/kgBB setiap 6-8 jam. 9 Selain

itu, nebulasi budesonid juga dipakai sejak tahun 1990. Larutan 2-4mg budesonid (2 ml)

diberikan melalui nebulizer dan dapat diulang pada 12 sampai 48 jam pertama. Efek

terapi nebulisasi budesonid terjadi dalam 30 menit sedangkan kortikosteroid sistemik

terjadi dalam satu jam. Pemberian terapi ini mungkin akan lebih bermanfaat pada

pasien dengan gejala muntah dan gawat napas yang hebat. Namun pada sebagian besar

kasus pemakaian budesonid tidak lebih baik daripada deksametason oral. Budesonid

dan epinefrin dapat digunakan secara bersamaan.4

Intubasi endotrakeal dilakukan pada kasus yang berat yang tidak responsif

terhadap terapi yang lain. Intubasi endotrakeal merupakan terapi alternatif selain

trakeostomi untuk mengatasi obstruksi jalan napas. Indikasi melakukan endotrakeal

adalah adanya hiperkarbia dan adanya ancaman gagal napas. Selain itu, peningkatan

stridor, peningkatan frekuensi napas, peningkatan frekuensi nadi, retraksi dinding

dada, sianosis, letargi atau penurunan kesadaran. Intubasi hanya diperlukan untuk

jangka waktu yang singkat yaitu hingga edema laring hilang atau teratasi.4

Pemberian antibiotik tidak diperlukan kecuali pada pasien dengan laringitis

yang disertai infeksi bakteri. Pasien diberi terapi empiris sambil menunggu hasil kultur.

Terapi awal dapat menggunakan sefalosporin generasi ke-2 atau ke-3.4

LARINGITIS AKUT 11
Sebuah review sistematis yang sangat baik mencoba untuk menjawab

pertanyaan apakah antibiotik yang direkomendasikan dalam kasus laringitis akut. Para

penulis mengutip 2 studi oleh kelompok riset yang sama. Dalam satu studi, pasien

menerima baik penisilin V (800 mg selama 5 hari) atau plasebo. Dua kelompok tidak

menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam gejala atau gangguan pita suara.

Kelompok riset menerbitkan sebuah studi kedua dimana eritromisin diberikan. Mereka

yang menerima eritromisin menunjukkan perbaikan kualitas suara setelah satu minggu

dan gejala batuk sedikit lebih baik setelah 2 minggu. Kesimpulan keseluruhan dari

Cochrane Systematic Review database adalah bahwa antibiotik tidak diindikasikan

untuk sebagian besar kasus laringitis akut dan tidak boleh diresepkan sebagai

pengobatan lini pertama untuk laringitis akut.3

LARINGITIS AKUT 12
Dibawah ini diuraikan algoritma penatalaksanaan sindrom croup sebagai

berikut: 4
CROUP Diagnosis banding
- Aspirasi benda asing
- Abnormalitas kongenital
- epiglotitis
Obstruksi jalan napas
yangmengancam jiwa
- Sianosis
- Penurunan kesadaran
- O2 100% dengan sungkup muka dan nebulisasi adrenalin (5ml)
1:1000
TIDAK YA - Intubasi anak sesegera mungkin (oleh seorang yang
berpengalaman)
- Hubungi pusat rujukan pelayanan kesehatan anak
-

Croup derajat berat


Croup derajat ringan Croup derajat sedang - Stridor menetap saat istirahat
- Batuk menggonggong - Stridor saat inspirasi - Tracheal tug dan retraksi dinding dada
- Tanpa retraksi dada - Terdapat retraksi dinding dada maksimal terlihat jelas.
- Tanpa sianosis - Mampu berinteraksi - Apatis dan gelisah
- Pulsus paradoksus

- Edukasi orang tua Kortikosteroid deksametason 0,15-


- Pertimbangkan kortikosteroid 0,30mg/kg Kortikosteroid deksametason 0,15-
dosis tunggal (oral) ATAU prednison 1-2mg/kg (oral) 0,30mg/kg
- Periksa kemampuan orang tua ATAU nebulisasi Budesonid 2mg ATAU prednison 1-2mg/kg (oral)
dan kemampuan dalam jika kortikosteroid oral tidak ATAU nebulisasi Budesonid 2mg jika
menyediakan transport berpengaruh kortikosteroid oral tidak berpengaruh
DIPULANGKAN OBSERVASI >4JAM OBSERVASI >4JAM

MEMBAIK
- Dipulangkan bila tidak ada TIDAK MEMBAIK
stridor saat istirahat - Evaluasi ulang
- Edukasi orang tua pasien Perbaikan - Rawat
- Hubungi konsulen
- Evaluasi diagnosis

- Rawat/observasi IGD
- Ulangi kortikosteroid oral/12 - Nebulisasi adrenalin (dosis
jam sama) DAN kostokosteroid
- Edukasi orang tua pasien Sebagian
sistemik (dosis sama)
- Sediakan penjelasan tertulis - Persiapkan pelayanan untuk
untuk dokter umum yang tindakan darurat
akan follow up - Pertimbangkan intubasi

LARINGITIS AKUT 13
Komplikasi

Pada 15% kasus dilaporkan terjadi komplikasi misalnya otitis media, dehidrasi

dan pneumonia (jarang terjadi). Sebagian kecil pasien memerlukan tindakan intubasi.

Gagal jantung dan gagal napas dapat terjadi pada pasien yang perawatan dan

pengobatannya tidak adekuat.4 Pada kasus yang jarang, dapat terjadi respiratory

distress (RD) yang berat yang memerlukan perhatian medis segera.8

Prognosis

Laringitis akut merupakan self-limited dengan prognosis yang baik.3,4 Namun

penyakit ini juga dapat menimbulkan obstruksi saluran pernapasan yang cenderung

menjadi berat bahkan fatal yakni dapat terjadi gagal napas atau bahkan henti napas.
3,4,6

Pencegahan 8,10

1. Pencegahan dengan vaksin Haemophilus influenza pada anak-anak

2. Menghindari orang-orang yang menderita infeksi saluran napas

3. Menghindari asap rokok yang dapat menyebabkan iritasi pada laring

4. Sering mencuci tangan

5. Menjaga agar tidak menggunakan suara secara berlebihan seperti berteriak

dan menangis.

LARINGITIS AKUT 14
Kesimpulan

Laringitis akut merupakan inflamasi plica vocalis dan laring yang memiliki

onset tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 3 minggu.Penyakit ini sering terjadi pada

anak-anak, mempunyai onset yang mendadak dan biasanya sembuh sendiri dengan

prognosis yang baik. Namun penyakit ini juga dapat menimbulkan obstruksi saluran

pernapasan yang cenderung menjadi berat bahkan fatal yakni dapat terjadi gagal napas

atau bahkan henti napas. Oleh karena itu, pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat

sangat dibutuhkan.

LARINGITIS AKUT 15
DAFTAR PUSTAKA

1. Wedro B, Stoppler MC. Laryngitis. [serial online] 2014 [cited 30 Oktober

2014]. Didapat dari http://www.medicinet.com/script/main/art.asp?articleke

y=100434&pf=2

2. Vashishta R. Larynx anatomy. [serial online] 21 Juni 2014 [cited 5 November

2014]. Didapat dari http://emedicine.medscape.com/article/1949369-

overview#showall

3. Shah RK. Acute laryngitis.[serial online] 11 Agustus 2014 [cited 30 Oktober

2014]. Didapat dari http://emedicine.medscape.com/article/864671

4. Yangtjik K, Dadiyanto DW. Croup (laringotrakeobronkitis akut). Dalam

Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku ajar respirologi

anak.Edisi pertama. Jakarta: Badan penerbit IDAI; 2010.h.320-29

5. Benson BE. Stridor. [serial online] 14 Agustus 2012 [cited 30 Oktober 2014].

Didapat dari http://emedicine.medscape.com/article/995267

6. Badan penerbit ikatan dokter anak Indonesia. Pedoman pelayanan

medis.2009;84-8

7. Departemen kesehatan RI. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit

rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota. Jakarta: 2008;104-5

8. Laryngitis. [serial online] 11 Oktober 2012 [cited 30 Oktober 2014]. Didapat

dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001385.htm

LARINGITIS AKUT 16
9. Badan penerbit ikatan dokter anak Indonesia. Formularium spesialistik ilmu

kesehatan anak.2013;142

10. Feierabend RH, Shahram MN. Hoarseness in adults. Am Fam Physician. 2009

Aug 15;80(4):363-70. Dalam Shah RK. Laryngitis [serial online] 8 September

2012 [cited 5 November 2014]. Didapat dari

http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=58797&pf=3

&page=11

LARINGITIS AKUT 17