Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gangguan skizoafektif adalah gangguan mental yang ditandai dengan adanya
gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif. Gangguan
dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood. Gangguan skizoafektif
mungkin merupakan tipe psikosis ketiga yang berbeda, yang bukan merupakan
gangguan skizofrenia maupun gangguan mood. Keempat dan yang paling
mungkin, bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok heterogen gangguan
yang menetap ketiga kemungkinan pertama.2
Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit
yang sama, baik secara bersamaan atau secara bergantian dalam beberapa hari.
Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama,
gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Bila gejala depresif yang
menonjol maka disebut gangguan skizoafektif tipe depresi.1
Kriteria diagnostik gangguan skizoafektif berdasarkan DSM-IV-TR,
merupakan suatu produk beberapa revisi yang mencoba mengklarifikasi beberapa
diagnosis, dan untuk memastikan bahwa diagnosis memenuhi kriteria baik
episode manik maupun depresif dan menentukan lama setiap episode secara
tepat.2
Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan medis
lengkap harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik. Semua kondisi
yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu
dipertimbangkan. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif
mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia
dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien
dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang lebih buruk daripada
pasien dengan gangguan depresif maupun gangguan bipolar, tetapi memiliki
prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia.2

1
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif berespon baik terhadapat
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk gangguan skizoafektif
dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer
cenderung bekerja dengan baik. Karena pengobatan yang konsisten penting untuk
hasil terbaik, psiko-edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat
long acting bisa menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan
skizoafektif.3

1.2. Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas di stase ilmu kesehatan jiwa di RSJ Prof. dr. HB Saanin
Padang.

1.2.2 Tujuan Khusus

Mengetahui dan memahami tentang definisi, etiologi, tanda dan gejala, diagnosis,
diagnosis banding, penatalaksanaan serta prognosis dari Skizofrenia Tipe Manik
dengan pembahasan salah satu kasus skizoafektif tipe manik.

1.3. Manfaat Penulisan

a. Sebagai sumber media informasi mengenai skizoafektif tipe manic

b. Sebagai laporan kasus yang menyajikan analisa kasus tentang


skizoafektif tipe manik

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gangguan Skizoafektif memiliki gejala skizofrenia maupun gangguan
afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan
pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol.
Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.2
Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang
persisten, seperti halusinasi atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah
suasana (mood disorder) seperti depresi, manik, atau episode campuran.3

2.2 Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1
persen, kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka
tersebut adalah angka perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis
gangguan skizoafektif sering kali digunakan jika klinisi tidak yakin akan
diagnosis. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki
dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang menikah; usia onset untuk
wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada
skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan
perilaku antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang
nyata.1
Statistik umum gangguan ini yaitu kira-kira 0,2% di Amerika Serikat dari
populasi umum dan sampai sebanyak 9% orang dirawat di rumah sakit karena
gangguan ini. Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada
gangguan bipolar. Prevalensi pada pria lebih rendah daripada wanita. Onset umur
pada wanita lebih besar daripada pria, pada usia tua gangguan skizoafektif tipe
depresif lebih sering sedangkan untuk usia muda lebih sering gangguan
skizoafektif tipe bipolar. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan
menunjukkan perilaku antisosial.3
2.3 Etiologi

3
Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa
genetik dan lingkungan.
Beberapa data menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif mungkin berhubungan secara genetik. Ada peningkatan resiko terjadinya
gangguan skizofrenia diantara keluarga dengan gangguan skizoafektif.2
Empat model konseptual telah diajukan terhadap gangguan skizoafektif.
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau
suatu tipe gangguan mood.
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari
skizofrenia dan gangguan mood.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang
berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu
gangguan mood.
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah
kelompok gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga
kemungkinan pertama. Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien
dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen.

2.4 Tanda dan Gejala


Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit
yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila
gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama,
gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan
skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.1
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi,
perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala
gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.1
Suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan manik yang
sama-sama menonjol dalam satu episode penyakit yang sama. Gejala-gejala
afektif diantaranya yaitu elasi dan ideide kebesaran, tetapi kadang-kadang

4
kegelisahan atau iritabilitas disertai oleh perilaku agresif serta ide-ide kejaran.
Terdapat peningkatan enersi, aktivitas yang berlebihan, konsentrasi yang
terganggu, dan hilangnya hambatan norma sosial. Waham kebesaran, waham
kejaran mungkin ada. Gejala skizofrenia juga harus ada, antara lain merasa
pikirannya disiarkan atau diganggu, ada kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha
mengendalikannya, mendengar suara-suara yang beraneka beragam atau
menyatakan ide-ide yang bizarre. Onset biasanya akut, perilaku sangat terganggu,
namun penyembuhan secara sempurna dalam beberapa minggu.1
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan
jiwa (PPDGJ-III): Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas
(dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang
jelas):
a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan,
walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau “thought
insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan “thought broadcasting”= isi
pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;
b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau “delusion of passivitiy” = waham
tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari
luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh /
anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus).
“delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien
pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang

5
berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu
bagian tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan
di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai
baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk
tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide
berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi
setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus
menerus.
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme.
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,
mutisme, dan stupor.
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan
menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut
tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.

6
2.5 Diagnosis
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala
definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada
saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode
yang sama. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode
skizoafektif berulang, baik yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya.4
Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik
skizofrenia maupun gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik
untuk gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam
kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain.
Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah
bahwa pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat
atau episode manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik
untuk fase aktif dari skizofrenia. Disamping itu, pasien harus memiliki waham
atau halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan
mood yang menonjol. Gejala gangguan mood juga harus ditemukan untuk
sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. Pada intinya, kriteria dituliskan
untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan
ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)


Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif
A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama pada suatu waktu.
Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran
dengan
gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.
B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama
sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian

7
bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manik
suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien


menderita gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe
depresif. Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang
ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif
berat. Selain itu, pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif.
Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah
karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-
kondisi lain dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau
membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-
gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-
gangguan waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai
dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan
(mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis
gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-


III
 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala

8
definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously),
atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode
penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik
atau depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia
dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau
campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua
episode manik atau depresif (F30-F33)

Gangguan skizoafektif yaitu gejala skizofrenia dan gangguan afektif sama-


sama menonjol atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, tetapi dalam satu
episode penyakit (tidak memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia maupun
gangguan afektif). Pedoman diagnosis gangguan skizoafektif tipe manic
berdasarkan PPDGJ-III yaitu 1). Kategori ini digunakan baik untuk episode
skizofrenia tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan
sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. 2). Afek harus meningkat secara
menonjol atau ada peningkatan afek yang tidak begitu menonjol dikombinasi
dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. 3). Dalam episode yang
sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizorenia
yang khas. Pemeriksaan status psikiatri pada pasien ditemukan didapatkan
penampilan wajar, roman muka tampak gembira, kontak verbal dan visual cukup,
mood euforia, afek inappropriate, bentuk pikir logis realis, arus pikir koheren, isi
piker waham kebesaran dan curiga ada , pada dorongan instingtual didapatkan ada
riwayat insomnia dan raptus. Dari gejala di atas, pasien memenuhi kriteria
skizoprenia yaitu adanya waham kebesaran dan curiga, afek yang inappropiate
sehingga dapat digolongkan skizoprenia. Disamping itu, juga tampak adanya

9
gejala gangguan mood yaitu muka tampak gembira, mood euforia, berpakaian
yang aneh sehingga berdasarkan PPDGJ-III tampak adanya gejala skizofrenia
bersamaan dengan gangguan mood sehingga didiagnosis sebagai “Skizoafektif
Tipe Manik” (F25.0).4

2.6 Diagnosis Banding


Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan
gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan
skizoafektif. Pasien yang diobati dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan
phencyclidine (PCP), dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara
khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang
bersama-sama. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan
yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Di dalam
praktik klinis, psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala
gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. Dengan demikian, klinisi
boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut
telah terkendali.2

2.7 Terapi
a. Psikofarmaka
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah
perawatan di rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang
mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol
antidepresan dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa
antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek.
Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan
lithium, carbamazepine (Tegretol), valproate (Depakene), atau suatu kombinasi
obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Pasien dengan gangguan
skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi
elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap
terapi antidepresan.

10
Farmakoterapi untuk mengatasi gejala skizoafektif tipe manik yaitu
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Pada kasus ini, pasien
diberikan carbamazepin dan stelazine. Carbamazepine adalah obat antikejang yang
digunakan sebagai stabilizer mood. Cara kerja mood stabilezer yaitu membantu
menstabilkan kimia otak tertentu yang disebut neurotransmitters yang
mengendalikan temperamen emosional dan perilaku dan menyeimbangkan kimia
otak tersebut sehingga dapat mengurangi gejala gangguan kepribadian borderline.
Efek samping carbamazepine dapat menyebabkan mulut kering dan tenggorokan,
sembelit, kegoyangan, mengantuk, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah.
Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan inhibitor monoamine
oxidase ( MAOIs ). Hindari minum alkohol saat mengambil carbamazepine. Hal
ini dapat meningkatkan beberapa efek samping carbamazepine yaitu dapat
meningkatkan risiko untuk kejang.
Stelazine memiliki efek antiadrenergik sentral, antidopaminergik, dan efek
antikolinergik minimal. Hal ini diyakini stelazine dapat bekerja dengan
memblokade reseptor dopamin D1 dan D2 di jalur mesokortical dan mesolimbik,
menghilangkan atau meminimalkan gejala skizofrenia seperti halusinasi, delusi,
dan berpikir dan berbicara yang tidak terarah. Stelazine menimbulkan efek
samping ekstrapiramidal seperti akatisia, distonia, dan parkinsonisme selain itu
dapat menimbulkan efek samping antikolinergik seperti merah mata dan
xerostomia (mulut kering). Stelazine dapat menurunkan ambang kejang sehingga
harus berhati-hati penggunaan stelazine pada orang yang mempunyai riwayat
kejang.8
Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon terbaik untuk
pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat mood
stabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan
skizoafektif dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood
stabilizer cenderung bekerja dengan baik.3
b. Psikoterapi

11
Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan.
Menurut penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk kesembuhan
pasien, tetapi juga harus diiringi oleh lingkungan keluarga yang mendukung dan
sikap pasien terhadap penyakit yang diderita.
Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-
edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa
menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.3

2.8 Prognosis
Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai
prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan
prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan
gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien
dengan gangguan depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien
dengan gangguan bipolar, dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien
dengan skizofrenia. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian
yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang
ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan, dan juga perjalanan
gangguan itu sendiri. 1
Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe
bipolar, mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan
gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang
perlahan-lahan; tidak ada faktor pencetus; menonjolnya gejala pskotik, khususnya
gejala defisit atau gejala negatif; onset yang awal; perjalanan yang tidak
mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. Lawan dari masing-
masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. Adanya atau
tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan
perjalanan penyakit.
Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan
jenis kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa data menyatakan
bahwa perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan

12
skizoafektif daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh diri di
antara pasien dengan gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen.

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. IDENTITAS
Nama : Tn. F
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir/Usia : 05 Mei 1987, 30 th

13
Agama : Islam
Suku : Minang
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaan : Penjual Ayam
Status Pernikahan : Belum menikah
Alamat Pasien : Agam
Alamat Orang Tua : Agam
Perawatan : Ke enam kali
Tanggal Rawatan : 23 Oktober 2017

Pasien datang ke IGD RSJ HB Saanin Padang pada tanggal 23 Oktober 2017
diantar oleh keluarga dan Satpol PP.

3.2. RIWAYAT PSIKIATRI


Data diperoleh dari :
=Autoanamnesa pada hari Jum’at 03 Oktober 2017
=Alloanamnesa dengan kakak perempuan pasien pada tanggal 06
November 2017, via telepon (No. Telp. 085376764989) dengan Ny. W
A. Keluhan Utama
Pasien mengamuk dan telanjang di depan jam gadang sejak + 5 jam SMRS

B. Riwayat Penyakit Sekarang


- Pasien datang ke IGD RSUD Solok pada tanggal 23 Oktober 2017.
Pasien ditemukan Satpol PP telanjang di depan jam gadang ± 5 jam
SMRS. Sehari SMRS pasien hilang. Keluarga pasien mengatakan pasien
keluar rumah tanpa tujuan dan meninggalkan motornya di tengah jalan,
kemudian pasien ditemukan di depan jam gadang oleh satpol PP. Pasien
juga mengamuk di rumah dan marah-marah tanpa sebab. Pasien sering
berbicara sendiri, tertawa sendiri, bicara kotor. Pasien mengatakan dirinya
bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal dan melihat mayat-
mayat tersebut, serta bisa berbicara dengan mereka.
- ± 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, menurut pengamatan
keluarganya pasien mulai tampak berperilaku aneh. Hal ini terjadi
semenjak pasien kelahi dengan kakaknya dan kakak nya mengatakan
pasien bencong sehingga membuat pasien sangat marah. Beberapa hari
setelah itu pasien juga ditipu yaitu uangnya di bawa kabur orang.

14
- Pasien kemudian tiba-tiba merasa sangat percaya diri dan bersemangat, ia
sering memakai pakaian perempuan dan sandal perempuan, dan
mengatakan dirinya adalah bencong bernama Monic. Pasien menganggap
dirinya adalah dewi cinta. Pasien bekerja sebagai penjual ayam, kakak
pasien mengatakan pasien sering memberi makan nasi bungkus dan teh es
pada ayam-ayam yang dijualnya, dan pasien sering berjalan-jalan di
sekitar pasar tidak ada tujuan.
- Suasana perasaan pasien beberapa hari belakangan biasa saja, pasien
tidak ada merasa sedih ataupun gembira yang berlebihan. Pasien juga
tidak ada merasa putus asa ataupun cemas yang berlebihan.
- Selama di bangsal, pasien minum obat teratur, dan nafsu makannya baik.
Setelah minum obat, pasien merasa lebih tenang. Pasien mandi 2 kali
sehari, dan dapat menjaga kebersihan diri sendiri. Tidur pasien nyenyak,
pasien tidur jam 21.00- 05.00 WIB, pasien tidak ada terbangun karena
mimpi-mimpi aneh.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1) Riwayat Gangguan Psikiatri
Riwayat psikiatri : Sakit sejak ± 5 tahun yang lalu. Pasien pernah dirawat
sebelumnya di RSJ HB Sa’anin sebanyak 5x. terakhir dirawat Juni 2016,
tidak rutin kontrol dan pasien tidak mau minum obat. Putus obat selama 2
bulan.
2) Kondisi Medik Umum
- Pasien tidak ada riwayat kejang.
- Pasien tidak ada riwayat trauma kepala.
- Pasien tidak ada riwayat penyakit kronik sebelumnya
3) Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien tidak pernah menggunakan zat psikoaktif dan alkohol.

3.3. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1) Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir secara normal dengan bantuan dukun beranak, berat
badan normal, tidak ada komplikasi prenatal dan perinatal.
a. Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)

15
Pada masa kanak-kanak awal, tidak ada kelainan, tumbuh
kembangnya baik, pasien sewaktu kanak-kanak bisa berbicara dan
merangkak lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Kepribadian
dan masalah perilaku normal seperti anak-anak seusianya.
b. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (4-11 tahun)
Pada masa kanak, pasien pandai bergaul. Penyesuaian, identifikasi
gender, hukuman, hubungan sosial, sikap terhadap keluarga dan
penyesuaian terhadap teman baik seperti anak-anak normal
seusiannya.
c. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja
Pasien memiliki banyak teman dan pandai bergaul. Pasien juga
menyukai lawan jenis dan mulai berpacaran sejak remaja.

d. Masa Dewasa
i. Riwayat Pendidikan
Riwayat pendidikan terakhir pasien adalah SD. Pasien berhenti kelas 6 SD
karena pasien tidak mau lagi sekolah dengan alasan ingin bermain-main
saja.
ii. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai seorang penjual ayam sejak pulang dari Medan,
sekitar 5 tahun yang. Sebelumnya, semenjak berhenti sekolah pasien ikut
ibunya ke Medan dan membantu ibunya berjualan nasi.
iii. Riwayat Perkawinan
Pasien belum pernah menikah.
iv. Agama
Pasien beragama Islam.
v. Aktivitas Sosial
Hubungan sosialnya dengan masyarakat cukup baik. Pasien cukup sering
berinteraksi dengan lingkungannya.
vi. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien tinggal bersama kakaknya.
vii. Riwayat Hukum
Pasien tidak pernah berurusan dengan hukum dan pihak yang berwajib.
viii. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengenal lawan jenis sejak remaja dan beberapa kali berpacaran.
Pasien tidak pernah melakukan seks diluar nikah.
ix. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke-5 dari 5 bersaudara. Ayah dan abang pasien
memiliki riwayat gangguan jiwa.

16
Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: Yang gangguan jiwa

x. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien tidak menyadari dirinya dalam keadaan sakit tetapi dalam
waktu yang bersamaan pasien tetap rutin minum obat. Sehingga
memberikan keadaan yang ambivalen.

xi. Impian, Fantasi, dan Nilai-nilai


Pasien bercita-cita ingin menjadi bos yang bisa menggaji banyak
orang. Pasien ingin segera pulang kerumahnya.

3.4 STATUS MENTAL


a. Deskripsi Umum
- Penampilan
Pasien seorang laki-laki berpenampilan kurang rapi.
- Perilaku dan Aktivitas Motorik
Perilaku pasien dan aktivitas motorik pasien aktif selama proses wawancara,
pasien terbuka terhadap pewawancara.

17
- Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien bersikap kooperatif terhadap pemeriksa selama wawancara. Pasien
menerangkan dan menjawab pertanyaan dengan baik.

b. Mood dan Afek


Mood : Hypertim
Afek : Inappropriate

c. Pembicaraan
Pembicaraan spontan, nada cukup, dan artikulasi jelas.
d. Gangguan Persepsi
Halusinasi (+), visual dan auditorik
e. Pikiran
Proses dan Bentuk Pikir : Koheren dan Asosiasi longgar
Isi Pikir : Waham (+), Bizzard
f. Sensorium dan Kognisi
Kesadaran : Compos Mentis , GCS = 15
Orientasi :
- Waktu
Baik, pasien dapat membedakan waktu pagi, siang, dan malam
- Tempat
Baik, pasien dapat mengetahui bahwa ia berada di RSJ HB Saanin Padang dan
tahu dirawat di bangsal nuri
- Orang
Baik, pasien mengenali pemeriksa, beberapa Perawat dan teman-temannya
dibangsal yang sama.

Daya Ingat :
- Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien bisa mengingat tanggal lahir dan usia pasien
- Daya ingat jangka sedang
Baik, pasien bisa mengingat seluruh perjalanan penyakitnya
- Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien bisa mengingat apa yang pasien makan tadi pagi dan kegiatan yang
dilakukannya tadi pagi
- Daya ingat segera
Baik, pasien dapat menyebutkan 3 jenis nama buah-buahan yang diberikan
pemeriksa secara baik dan benar.

Konsentrasi dan Perhatian :


Cukup baik, pasien dapat berkonsentrasi dan perhatian saat melakukan wawancara.
Kemampuan membaca dan menulis :

18
Baik, pasien dapat membaca dan menulis sesuai perintah pemeriksa.
Kemampuan visuospasial :
Baik, pasien dapat menggambarkan rumah seperti yang digambarkan oleh
pemeriksa.
Pikiran Abstrak :
Baik, pasien dapat mengetahui makna dari isitilah “panjang tangan” yang
disebutkan pemeriksa.
Intelegensia dan Kemampuan Informasi :
Baik, sesuai dengan tingkat pendidikannya
g. Kemampuan Pengendalian Impuls
Saat wawancara, kemampuan pengendalian impuls sedikit terganggu
h. Daya Nilai dan Tilikan
- Daya nilai sosial dan uji daya nilai
Daya Nilai Sosial : Baik, pasien mengikuti kegiatan gotong royong dan
senam dibangsal
Uji Daya Nilai : Baik
- Penilaian Realita (RTA)
Terganggu
- Tilikan
Derajat 2 : ambivalensi terhadap penyakitnya

i. Taraf Dapat Dipercaya


Pasien dapat dipercaya

3.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK LEBIH LANJUT


Status Interna
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis cooperatif
Status Gizi : Cukup
Tanda-tanda vital
a. Tekan Darah : 120/80 mmhg
b. Frekuensi Nadi : 80 x/menit
c. Frekuensi Nafas : 20 x/menit
d. Suhu : 36,50C
Status Neurologis
a. Tanda meningeal : Kaku kuduk (-), brudzinki(-), kernig sign(-)
b. Nervus I-XII : Tidak ada kelainan
c. Peningkatan TIK : Tidak Ada
d. Reflek Fisiologis
- KPR : (++)
- APR : (++)
- Bisep : (++)
- Trisep : (++)

19
e. Refleks Patologis
- Babinski : (-)
- Gordon : (-)
- Chaddok : (-)
- Scheffer : (-)
- Hoffman : (-)
f. Motorik
555 555
555 555
g. Sensorik : Baik

Tanda efek Ekstrapiramidal


a. Tremor : Tidak ada
b. Akatisia : Tidak ada
c. Bradikinesia : Tidak ada
d. Cara Berjalan : Normal
e. Keseimbangan : Normal
f. Rigiditas : Tidak ada

3.6 FORMULA DIAGNOSTIK


Berdasarkan pemeriksaan, pada pasien ditemukan riwayat gejala dan perilaku
yang bermakna menimbulkan penderitaan maupun hendaya dalam kehidupan
pasien. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa.
Aksis I
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, pasien tidak pernah
mengalami trauma kepala yang dapat menimbulkan disfungsi otak sebelum
menunjukan gangguan jiwa. Pasien juga tidak ada riwayat kejang. Oleh karena itu,
gangguan mental organik dapat disingkirkan (F00-09).
Berdasarkan anamnesis tidak ditemukan adanya riwayat penyalahgunaan zat
psikoaktif dan alcohol sehingga gangguan mental dan perilaku akibat
penyalahgunaan zat dapat disingkirkan.
Berdasarkan anamnesa pasien memenuhi kriteria Skizoafektif tipe Manik
(F25.0), dimana gejala skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada
saat yang bersamaan, pada episode sekarang menunjukan gejala manik dan
berlangusng lebih dari 1 minggu.

20
Aksis II
Belum ada diagnosis
Aksis III
Pada pasien tidak ditemukan suatu kondisi medis umum yang bermakna
sehingga aksis III pada pasien tidak ada diagnosis
Aksis IV
Pada pasien, serangan kali ini muncul semenjak kelahi dengan kakaknya.
Aksis V
Sebelum masuk rumah sakit pasien ditemukan telanjang di depan jam gadang,
sering berpenampilan sepertia perempuan, dan meninggalkan motornya di tengah
jalan. Penilaian Global Assesment of Functioning (GAF) Scale pada pasien adalah
50-41, gejala berat, disabilitas berat.

Formulasi Multiaksial
Aksis I : Skizoafektif tipe manik
Aksis II : Belum ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah dengan “primary support group” (keluarga)
Aksis V : Global Assesment of Functiong (GAF) Scale = 50-41

3.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium darah rutin :
Hb : 14,0 gr%
Ht : 45,80 vol %
Leukosit : 9.900 /mm
Trombosit: 398.000 /mm3

Pemeriksaan Psikiatri Tambahan


Tidak dilakukan pemeriksaan tambahan terhadap pasien.

3.8 PENATALAKSANAAN
A. Farmakoterapi
Anti psikotik geenrasi II : Risperidon 2x2 mg
Anti anxietas golongan Benzodiazepine : Lorazepam 1x2 mg
Mood stabilizer: Carbamazepin 2x200 mg

B. Psikoterapi
1) Kepada pasien

21
- Psikoterapi Suportif
Yaitu berupa psikoterapi individual, terapi perilaku dan terapi
kognitif-perilaku, dan latihan keterampilan sosial. Memberikan
empati dan optimistik kepada pasien. Membantu pasien
mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya.
- Psikoedukasi
Membantu pasien untuk mengetahui lebih banyak tentang
gangguan yang dideritanya.
2) Kepada keluarga
- Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif,
informatif, dan edukatif tentang penyakit pasien (penyabab,
gejala, dan hubungan antar gejala dan perilaku, perjalanan
penyakit serta prognosis). Pada akhirnya diharapkan keluarga
bisa mendukung proses penyembuhan.
- Memberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien dan efek
samping yang mungkin timbul pada pengobatan). Selain itu
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.

3.9 PROGNOSIS
Dubia ad bonam. Berdasarkan ciri-ciri prognosis baik, dari 9 ciri-ciri terdapat 4
poin pada pasien yaitu 1) Faktor pencetus yang jelas, 2) Riwayat premorbid baik
dalam sosial seksual dan pekerjaan, 3) Sistem support yang baik, 4) Gambaran
klinis: simptom positif.

BAB IV
ANALISA KASUS

22
Seorang pasien laki-laki, Tn. F 30 tahun, Pasien datang ke IGD RSJ HB Saanin
Padang pada tanggal 23 Oktober 2017 diantar oleh keluarga pasien dan satpol PP
dengan keluhan pasien mengamuk dan telanjang di depan jam gadang sejak + 5 jam
SMRS.
Dari anamnesis didapatkan pasien:
- Mengamuk dan telanjang di depan jam gadang sejak + 5 jam SMRS.
- Sehari SMRS pasien hilang. Pasien keluar rumah tanpa tujuan dan
meninggalkan motornya di tengah jalan, kemudian pasien ditemukan di
depan jam gadang oleh satpol PP.
- Pasien juga mengamuk di rumah dan marah-marah tanpa sebab.
- Pasien sering berbicara sendiri, tertawa sendiri, bicara kotor.
- Pasien mengatakan dirinya bisa menghidupkan orang yang sudah
meninggal dan melihat mayat-mayat tersebut, serta bisa berbicara dengan
mereka.
- ± 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, menurut pengamatan keluarganya
pasien mulai tampak berperilaku aneh. Hal ini terjadi semenjak pasien
kelahi dengan kakaknya dan kakak nya mengatakan pasien bencong
sehingga membuat pasien sangat marah. Beberapa hari setelah itu pasien
juga ditipu yaitu uangnya di bawa kabur orang.
- Pasien kemudian tiba-tiba merasa sangat percaya diri dan bersemangat, ia
sering memakai pakaian perempuan dan sandal perempuan, dan
mengatakan dirinya adalah bencong bernama Monic. Pasien menganggap
dirinya adalah dewi cinta.
- Pasien bekerja sebagai penjual ayam, pasien sering memberi makan nasi
bungkus dan teh es pada ayam-ayam yang dijualnya, dan pasien sering
berjalan-jalan di sekitar pasar tidak ada tujuan.
- Suasana perasaan pasien beberapa hari belakangan biasa saja, pasien tidak
ada merasa sedih ataupun gembira yang berlebihan. Pasien juga tidak ada
merasa putus asa ataupun cemas yang berlebihan.
- Selama di bangsal, pasien minum obat teratur, dan nafsu makannya baik.
Setelah minum obat, pasien merasa lebih tenang. Pasien mandi 2 kali
sehari, dan dapat menjaga kebersihan diri sendiri. Tidur pasien nyenyak,
pasien tidur jam 21.00- 05.00 WIB, pasien tidak ada terbangun karena
mimpi-mimpi aneh.

23
Berdasarkan PPDGJ III, pasien memenuhi kriteria skizoafektif tipe manik (F25.0).
Pada pasien ini ada gangguan persepsi, gangguan isi pikir, afek inappropriate, mood
hypertim, dan RTA terganggu, gejala definitif skizofrenia dan gangguan afektif sama-
sama menonjol pada saat yang bersamaan. Axis II belum ada diagnosis, axis III tidak
ada diagnosis, axis IV meliputi masalah primary support group (keluarga), axis V
memenuhi GAF 50-41.
Penatalaksanaan pada pasien tersebut adalah farmakoterapi dan non-
farmakoterapi. Pada farmakoterapi diberikan Risperidon 2x2 mg tab, Lorazepam 1x2
mg tab dan Carbamazepine 2x200 mg tab. Non0farmakoterapi mencakup psikoterapi
individual terapi prilaku dan terapi kognitif prilaku, dan latihan keterampilan sosial,
psikoedukasi, serta psikoterapi keluarga.

BAB V
KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala


skizofrenia dan gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol.
Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan
para wanita; khususnya wanita yang menikah; usia onset untuk wanita adalah
lebih lanjut daripada usia, untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. Teori

24
etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan lingkungan.
Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan
gejala skizofrenia, episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis gangguan
skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan
gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam
beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama. Sebagian diantara
pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang
tipe manik, depresif atau campuran keduanya. Untuk orang gangguan skizoafektif
dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood stabilizer
cenderung bekerja dengan baik. Karena pengobatan yang konsisten penting untuk
hasil terbaik, psiko-edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat
long acting bisa menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan
skizoafektif. Semakin menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka
pronosisnya buruk, dan sebaliknya semakin persisten gejala-gejala gangguan
afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I, Sadock, B.J, Grebb J.A. 1997.Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi
Kedua. Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta:ECG.
2. Maramis, W.S. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Presss.
3. Melissa Conrad Stöppler. 2013. Schizoaffective disorder.
http://www.medicinenet.com.
4. Rusdi Maslim. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.

25
26