Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam melaksanakan fungsinya, Puskesmas memiliki enam pokok program
dasar. Salah satu program pokok puskesmas adalah upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular, termasuk pencegahan dan penularan penyakit
Tuberkulosis (TB) Paru.
TB paru merupakan masalah global, menurut laporan WHO tahun 2004
menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Sepertiga
penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah
terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia,
bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk.
Pada tahun 1995, program nasional penanggulangan TB mulai menerapkan
strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000
strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang
di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Fakta menunjukkan bahwa TB masih
merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia
setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar
10% dari total jumlah pasien TB didunia.
2. Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan
bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua
kelompok usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi.
3. Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa
angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk.
4. Sampai tahun 2005, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS
menjangkau 98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru
sekitar 30%.
Indonesia sebagai negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB
setelah India dan Cina, telah berkomitmen mencapai target dunia dalam
penanggulangan tuberkulosis. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah
diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan
termasuk puskesmas dan institusi terkait. Berbagai kemajuan telah dicapai, namun
tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan, meningkatnya kasus HIV dan
MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang
dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global,
sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDGs).
Ditinjau dari sistem kesehatan nasional puskesmas merupakan pelayanan
kesehatan tingkat pertama dan bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan
wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Salah satu upaya kesehatan wajib tersebut
adalah upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang termasuk di
dalamnya penyakit TB paru.
Penanggulangan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola
dengan menggunakan strategi DOTS. Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan
penanggulangan TB digunakan beberapa indikator. Salah satu indikator tersebut adalah
angka penemuan pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate = CDR). Secara
nasional CDR tahun 2010 triwulan I baru mencapai 18,2%. Provinsi dengan CDR
tertinggi adalah Sulawesi Utara 20,7% dan yang terendah adalah provinsi Lampung 3,2%.
Sementara itu CDR provinsi Sumatra barat baru mencapai 11,6%. Di Puskesmas Tanah
Garam Kota Solok pencapaian penemuan pasien baru BTA positif (CDR) tahun 2016
hingga bulan Agustus yaitu 38,2%. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk
mengetahui Rendahnya tingkat penemuan penderita TB pada penduduk di kawasan
Puskesmas Tanah Garam.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum

Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit TB dengan cara


memutuskan rantai penularan.

b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi penyakit TB di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garama
2. Untuk mengetahui cakupan pelayanan TB di wilayah Puskesmas Tanah Garam
3. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian penyakit TB
di wilayah Puskesmas Tanah Garam
4. Untuk mengetahui lebih dini penderita penyakit TB sehingga dapat di
tanggulangi lebih cepat.
1.3 Manfaat Penelitian

1. Meningkatkan kemampuan manajemen program penyakit menular TB dalam


mengelola kegiatan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah
Puskesmas Tanah Garam.
2. Dapat menyusun rencana usulan kegiatan kedepannya.

1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam pembahasan masalah ini adalah mengenai gambaran penyebab
meningkatnya jumlah tuberkulosis dan kekambuhan di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Puskesmas

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.75 Tahun 2014, Puskesmas merupakan


unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat
pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat. Dalam melaksanan tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsinya
yaitu penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP) tingakat pertama di wilayah kerjanya.
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan
dengan sasaran keluarga, kelompok dan masyarakat. Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat
pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. UKM esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan ibu,anak, dan keluarga berencana, pelayanan gizi dan
pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
adalah suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderita akibat penyakit
dan memulihkan kesehatan perorangan.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk


mewujudkan masyarakat yang:
1) Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat.
2) Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu.
3) Hidup dalam lingkungan sehat.
4) Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas puskesmas menyelenggarakan fungsi:
1) Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk:
a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan.
c. Melaksanakan Komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan.
d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait
e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat
f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas
g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan.
h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,
dan cakupan pelayanan kesehatan.
i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggualangan
penyakit.
2) Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk:
a. Menyelnggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu.
b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif.
c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan
dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung.
e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerja sama inter dan antar profesi,
f. Melaksanakan rekam medis
g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan,dan evaluasi terhadap mutu dan akses
pelayanan kesehatan.
h. Melaksanakan peningkat kompetensi tenaga kesehatan.
i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya.
j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem
rujukan.

2.2 Manajemen Puskesmas

Manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya
secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam hal ini manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri
utama penerapannya yaitu efisien dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih
alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalam pengambilan
keputusan manejerial.

2.2.1 Perencanaan
1) Pengertian

Perencanaan adalah suatu proses memulai dengan sasaran-sasaran, batasan strategi,


kebiijakan, dan rencana detail untuk mencapainya, mencapai organisasi untuk menerapkan
keputusan, dan termasuk tinjauan kinerja dan umpan balik terhadap pengenalan siklus
perencanaan baru (Steiner). Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen
karena fungsi ini akan menetukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Perencanaan manajerial
akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang
dijalankan, siapa yang akan melakukan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan
tuntutan terhadap proses pencapaian terhadap tujuan secra efektif dan efisien.

2) Langkah-langkah perencanaan

Dalam perencanaan, terdapat beberapa langkah-langkah perencanaan yaitu sebagai


berikut:

a. Analisa situasi
b. Mengidentifikasi masalah prioritas
c. Menentukan tujuan program
d. Mengkaji hambatan dan kelemahan program
e. Menyusun Rencana Kerja Operasional (RKO)
2.2.2 Pengorganisasian

1) Pengertian

Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai


peranan penting, melalui fungsi pengorganisasian seluruh sumber daya yang dimiliki oleh
organisasi (manusia dan yang bukan manusia) akan diatur pengguanaannya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.

Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan dan


mengatur berbagai macam kegiatan menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang dan
pendelegasian wewenang oleh pimpinan staf dalam mencapai tujuan organisasi.

2) Manfaat pengorganisasian

Dengan mengembangkan fungsi pengorganisasian seorang manajer akan mengetahui:

a. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok


b. Hubungan organisasi antar manusia yang akan terjadi antar anggota atau staf
organisasi
c. Pendelegasian wewenang
Manajer atau pimpinan akan melimpahkan wewenang kepada staf sesuai
dengan tugas pokok yang diberikan kepadanya
d. Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dimiliki organisasi

3) Langkah-langkah pengorganisasian

Ada lima langkah pentng dalam pengorganisasian yaitu sebagai berikut:

a. Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf


b. Membagi pekerjaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok untuk mencapai
tujuan
c. Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan kegiatan yang praktis
d. Menetapkan kewajiban yang dilaksanakan oleh staf dan menyediakan fasilitas
pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya
e. Mendelegasikan wewenang
2.2.3 Penggerakan dan Pelaksanaan

1) Pengertian

Fungsi manajemen ini merupakan fungsi penggerak semua kegiatan program


(ditetapkan pada fungsi pengorganisasian) untuk mencapai tujuan program (yang dirumuskan
dalam fungsi perencanaan). Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana manajer
mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya (manusia dan yang bukan manusia)
untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.

2) Tujuan dan fungsi pelaksanaan

Tujuan pelaksanaan yaitu

a. Menciptakan kerja sama yang lebih efisien


b. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan staf
c. Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
d. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan
prestasi kerja staf
e. Memuat organisasi berkembang secara dinamis

2.2.4 Pengawasan dan pengendalian

1) Prinsip Pengawasan

Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi yang terakhir dari proses
manajemen. Fungsi ini mempunyai kaitan erat dengan ketiga fungsi perencanaan. Melalui
fungsi pengawasan dan pengendalian, standar keberhasilan program yang dituangkan dalam
bentuk target, prosedur kerja dan sebagainya harus selalu dibandingkan dengan hasil yang
dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh staf. Jika ada kesenjangan dan penyimngan yang
terjadi harus segera diatasi. Penyimpangan ini harus dapat dideteksi secara dini dicegah,
dikendalikan atau dikurangi oleh pimpinan. Fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan
agar penggunaan sumber daya dapat lebih diefesiensikan dan tugas-tugas staf untuk mencapai
tujuan program dapat lebih diefektifkan.

2) Standar Pengawasan

Standar pengawasan mencakup :

a. Standar norma. Standar ini dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan


kegiatan program yang sejenis atau yang dilaksanakan dalam situasi yang sama di
masa lalu.
b. Standar kriteria. Standar ini diterapkan untuk kegiatan pelayanan oleh petugas
yang sudah mendapat pelatihan. Satandar ini berkaitan dengan tingkat
profesionalisme staf.

3) Manfaat Pengawasan

Fungsi pengawasan dan pengendalian dilaksanakan dengan tepat, organisasi yang


akan memperoleh manfaatnya, yaitu :

a. Dapat mempengaruhi sejauh mana kegiatan program sudah dilaksanakan oleh staf,
apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdayanya sudah
digunakan seusai dengan yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini,fungsi pengawasan
dan pengendalian bermanfaat untuk meningkatkan efesiensi kegiatan program
b. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf melaksanakan
tugas-tugasnya
c. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan
dan telah dimanfaatkan secara efisien
d. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan
e. Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau
diberikan pelatihan lanjutan

4) Evaluasi
Fungsi pengawasan perlu dibedakan dengan evaluasi yang juga sering dilakukan
untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan program. Perbedaannya terletak pada sasarannya,
sumber data, siapa yang akan melaksanakannya dan waktu pelaksanaannya. Antara evaluasi
dengan fungsi pengawasan juga mempunyai kesamaan tujuan yaitu untuk memperbaiki
efesiensi dan efektifitas pelaksanaan program dengan memperbaiki fungsi perencanaan.

2.3 Tuberkulosis

2.3.1 Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis complex. Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit
melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3 – 0,6
μm dan panjang 1 – 4 μm.
Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama
di paru/berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Kuman
Tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam,
yaitu apabila sekali diwarnai akan tetap tahan terhadap upaya penghilangan zat warna
tersebut dengan larutan asam-alkohol. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan
Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.

2.3.2. Epidemiologi

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di


dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan
tuberkulosis sebagai « Global Emergency ». Laporan WHO tahun 2004 menyatakan
bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah
kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Setiap detik ada satu orang yang terinfeksi
tuberkulosis di dunia ini, dan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman
tuberkulosis. Jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh
kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk, terdapat 182 kasus per
100.000 penduduk.Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per
100.000 penduduk.

2.3.3. Etiologi

Etiologi penyakit tuberculosis yaitu oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.


Secara umum sifat kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) antara lain adalah sebagai
berikut:

 Berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron, lebar 0.2-0.6 mikron.


 Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen
 Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen, Ogawa
 Kuman Nampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan di
bawah mikroskop
 Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu
lama pada suhu antara 4oC sampai minus 70oC
 Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet
 Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan mati
dalam waktu beberapa menit.
 Dalam dahak pada suhu antara 30-37oC akan mati dalam waktu lebih kurang 1
minggu
 Kuman dapat bersifat dormant (tidur/tidak berkembang)

2.3.4 Cara Penularan TB

Sumber penularan TB adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).
Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama
beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan,
kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem
peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke
bagian-bagian tubuh lainnnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak makin
menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB
ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara
tersebut.

2.3.5 Riwayat Terjadinya Tuberculosis


a. Tuberkulosis Primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut
sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mugkin timbul di bagian mana
saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan
kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal).
Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus
(limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional
dikenal sebagai kompleks primer.

Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya Salah satu contoh adalah
epituberkulosis, yaitu suatu kejadian dimana terdapat penekanan
bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang
membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas
bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan
menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang
atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang
atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke
paru sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus
c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian penyebaran
ini sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan
virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara
spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat,
penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti
tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa, typhobacillosis
Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis
pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin
berakhir dengan :
 Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya
pertumbuhan terbelakang pada anak setelah mendapat
ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau
 Meninggal
Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer.

b. Tuberkulosis Post Primer


Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahunkemudian tuberkulosis
post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer mempunyai
nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,
localizedtuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis
inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber
penularan. Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya
terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini
awalnya berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan
mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri menjadi
lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran.
Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali, membentuk
jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Nasib kaviti ini :
a. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru.
Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang
disebutkan diatas
b. Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi
mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
c. Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open
healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri,
akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang
terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate
shaped).

2.3.6 Klasifikasi TB
A. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringanparu, tidak termasuk
pleura (selaput paru)
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi dalam :
a. Tuberkulosis Paru BTA (+)
 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
positif
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
biakan positif

b. Tuberkulosis Paru BTA (-)


 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan
tuberkulosis aktif serta tidak respons dengan pemberian antibiotik
spektrum luas.
 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negative dan
biakan M.tuberculosis positif
 Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum
diperiksa

2. Berdasarkan Tipe Penderita


Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa tipe penderita yaitu :
a. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapat pengobatan
dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan
(30 dosis harian)
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumn ya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif atau biakan positif. Bila hanya menunjukkan
perubahan pada gambaran radiologik sehingga dicurigai lesi aktif
kembali, harus dipikirkan beberapa kemungkinan :
 Infeksi sekunder
 Infeksi jamur
 TB paru kambuh
c. Kasus pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu
kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah
d. Kasus lalai berobat
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif.
e. Kasus Gagal
 Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan
sebelum akhir pengobatan)
 Adalah penderita dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik
positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan
dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan
f. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih
positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan
yang baik
g. Kasus bekas TB
 Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada fasilitas)
negatif dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB
inaktif, terlebih gambaran radiologik serial menunjukkan
gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT yang adekuat
akan lebihmendukung
 Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan lesi TB aktif,
namun setelah mendapat pengobatan OAT selama 2 bulan
ternyata tidak ada perubahan gambaran radiologic

B. Tuberkulosis Ekstra Paru


Batasan : Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit,
usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas
kultur spesimen positif, atau histologi, atau bukti klinis kuat konsisten dengan TB
ekstraparu aktif, yang selanjutnya dipertimbangkan oleh klinisi untuk diberikan obat
anti tuberkulosis siklus penuh. TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat
keparahan penyakit, yaitu :
1. TB di luar paru ringan
Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2. TB diluar paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa
bilateral, TB tulang belakang, TB usus,TB saluran kencing dan alat kelamin.

2.3.7 Gejala TB

Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala


respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.:
1. Gejala respiratorik
 batuk ≥ 3 minggu
 batuk darah
 sesak napas
 nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita
terdiagnosis pada saat medical checkup. Bila bronkus belum terlibat dalam
proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang
pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang dahak ke luar.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat
dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan
terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala
sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat
cairan.

2. Gejala sistemik
 Demam
 Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan
menurun

2.3.8 Diagnosis Tuberkulosis
a. TB Dewasa
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan
ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil
pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga specimen SPS
BTA hasilnya positif.

Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih


lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang.

 kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita didiagnosis sebagai


penderita TB BTA positif.

 Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan SPS


diulangi.

Bila ketiga specimen dahak hasilnya negative, diberikan antibiotic


spectrum luas (misalnya Kotrimoksazol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu.
Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi
pemeriksaan dahak SPS.

- Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif


- Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen dada,
untuk mendukung diagnosis TB.

1. Bila hasil rontgen mendukung TB, didiagnosis sebagai penderita


TB BTA negative rontgen positif.

2. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan


TB.

UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk
foto rontgen dada.
Gambar 1. Alur diagnosis TB Dewasa.

b. TB Anak

Dalam menegakkan diagnosis TB pada anak, semua prosedur diagnostik


dapat dikerjakan, namun apabila dijumpai keterbatasan sarana diagnostik yang
tesedia, dapat menggunakan suatu pendekatan lain yang dikenal sebagai sistem
skoring. Sistem skoring ini membantu tenaga kesehatan agar tidak terlewat
dalam mengumpulkan data klinis maupun pemeriksaan penunjang sederhana
sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya underdiagnosis maupun
overdiagnosis TB.
Tabel 1. Sistem Skoring gejala dan pemeriksaan penunjang TB di faskes

Parameter 0 1 2 3 Skor
Kontak TB Tidak - Laporan
jelas keluarga,
BTA

(-)/BTA tidak
jelas/ tidak
tahu
Uji tuberculin Negative - - Positif (≥
(mantoux) 10mm atau ≥ 5
mm pada
imunokomprom
ais
Berat - BB/TB <90% Klinis gizi -
badan/gizi atau BB/U buruk
<80%
Demam yang - ≥ 2 minggu - -
tidak
diketahui
penyebabnya
Batuk kronik - ≥ 3 minggu - -
Pembesaran - ≥ 1cm, lebih - -
kelenjar limfe dari 1 KGB,
koli, aksila, tidak nyeri
inguinal
Pembengkaka - Ada - -
n tulang/sendi pembengkaka
panggul, n
lutut, falang
Foto toraks Normal/ Gambaran - -
kelainan sugestif
tidak (mendukung)
jelas TB
Total skor
Gambar 2. Alur diagnosis TB Anak

2.3.9 Pengumpulan Dahak

Spesimen dahak dikumpulkan/ditampung dalam pot dahak yang bermulut lebar,


berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak
bocor. Pot ini harus tersedia di UPK.

Diagnosis tuberkulosis ditegakkan dengan pemeriksaan 3 spesimen dahak


Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS). Spesimen dahak sebaiknya dikumpulkan dalam dua
hari kunjungan yang berurutan.

S (Sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung


pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk
mengumpulkan dahak hari kedua.

P (Pagi): dahak dikumpulkan dirumah pada pagi hari kedua, segera setelah
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.

S (Sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan


dahak pagi.

Untuk menghindari resiko penularan, pengambilan dahak dilakukan di tempat


terbuka dan jauh dari orang lain, misalnya di belakang puskesmas. Jika keadaan tidak
memungkinkan, gunakanlah kamar terpisah yang memiliki ventilasi cukup.
2.3.10 Cara membatukkan sputum

 Bantu pasien mengambil posisi berdiri atau duduk (posisi yang memungkinkan
ventilasi dan ekspansi paru yang maksimum)

 Minta pasien untuk memegang bagian luar wadah sputum, atau untuk klien yang
tidak dapat melakukannya, pasang sarung tangan dan pegang bagian luar wadah
tersebut untuk pasien.

 Minta pasien untuk bernapas dalam dan kemudian membatukkan sekresi.


Inhalasi yang dalam memberikan udara yang cukup untuk mendorong sekresi
keluar dari jalan udara ke dalam faring.

 Pegang wadah sputum sehingga pasien dapat mengeluarkan sputum ke


dalamnya.

Pembacaan Hasil :

Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan menggunakan


skala IUATLD sebagai berikut :

1. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negative.

2. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang
ditemukan.

3. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang, disebut + atau (1+)

4. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ atau (2+)

5. Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ atau (3+)

2.3.11 Pengobatan
Tujuan, dan Prinsip Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan danmencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis(OAT).
Jenis , sifat dan dosis OAT yang akan dijelaskan pada bab ini adalah
yangtergolong pada lini pertama. Secara ringkas OAT lini pertama dijelaskan pada
tabel dibawah ini

Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:


 OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
 Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
 Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap awal (intensif)
 Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
 Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
 Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.

Tahap Lanjutan
 Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
 Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


- Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis di
Indonesia:
 Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
 Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.

Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)


 Kategori Anak: 2HRZ/4HR
 Obat yang digunakan dalam tatalaksana pasien TB resistan obat di Indonesia terdiri
dari OAT lini ke-2 yaitu Kanamycin, Capreomisin, Levofloksasin, Ethionamide,
sikloserin dan PAS, serta OAT lini-1, yaitu pirazinamid and etambutol.
- Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4
jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini
dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.

- Paket Kombipak.
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan
Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister.Paduan OAT ini disediakan program untuk
digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan
untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan
sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.

KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB :


1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat
dan mengurangi efek samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi
obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

Paduan OAT lini pertama dan peruntukannya.


a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
 Pasien baru TB paru BTA positif.
 Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
 Pasien TB ekstra paru
b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
 Pasien kambuh
 Pasien gagal
 Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Catatan:
 Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin
adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
 Untuk perempuan hamil lihat pen
 gobatan TB dalam keadaan khusus.
 Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest
sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).
c. OAT Sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari).
BAB III

HASIL KEGIATAN

3.1.1 Profil Puskesmas Tanah Garam

Puskesmas Tanah Garam berdiri tahun 1975, terletak di kelurahan VI Suku,


Kecamatan Lubuk Sikarah. Rencana pembangunan awal Puskesmas Tanah Garam
adalah di kelurahan Tanah Garam, namun adanya tanah hibah dari masyarakat
kelurahan VI Suku, maka dibangunlah Puskesmas di Kelurahan VI Suku, tetapi
nama tetap Puskesmas Tanah Garam. Puskesmas Tanah Garam dibangun dengan
luas tanah 1010 m2.
Topografi Kota Solok, yaitu Sungai Batang Lembang, sungai Batang
Gawan dan sungai Batang Air Binguang. Suhu udara berkisar 26,1OC sampai
28,9OC. Dilihat dari jenis tanah 21,76 tanah di kota Solok merupakan tanah garam
dan sisanya 78,24 % berupa tanah kering.

Hasil registrasi penduduk Kota Solok tahun 2008 tercatat sebanyak 59.172
jiwa, terdiri atas 28.989 laki-laki dan 30.173 perempuan, dengan sex ratio sebesar
0,96. Ini berarti setiap 1.000 perempuan berbanding 960 laki-laki. Dengan luas
wilayah 5.764 km2, kepadatan penduduk Kota Solok adalah sebanyak 1.026
jiwa/km2. Kecamatan Tanjung Harapan adalah kecamatan dengan kepadatan
penduduk tertinggi yaitu sebesar 1.223 jiwa/km2.
Batas wilayah Puskesmas Tanah Garam adalah Utara Kecamatan Nagari
Tanjung Bingkuang Aripan dan Kuncir Kabupaten Solok.

Tingkat pendidikan yang paling besar adalah universitas 9,68 %, SMA 33,64
%, SMP 18,94 % dan tamat SD/MI 15,78 %. Masih ada 16,68 % penduduk tidak
atau belum tamat SD. Sementara itu, penduduk Kota Solok dihuni oleh suku
Minang, Jawa, Batak, tetapi yang lebih dominan adalah suku Minang. Upacara-
upacara keagamaan di Kota Solok masih ada seperti acara tolak bala, adat dalam
kematian dan upacara adat kematian Solok.
3.1.2 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam

Gambar 3.1: Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam

3.1.3 Visi dan Misi


1) Visi Puskesmas Tanah Garam

Terwujudnya Puskesmas Tanah Garam yang informatif dengan pelayanan pada


masyarakat secara profesional dan bermutu dibidang pelayanan kesehatan dasar dalam
rangka menuju Puskesmas terbaik di Indonesia tahun 2020.

2) Misi Puskesmas Tanah Garam

a. Memperlancar kegiatan proses pelayanan kesehatan dasar yang bermutu bagi


perorangan (Private Goods) serta pelayanan kesehatan masyarakat (Public Goods).
b. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses layanan kesehatan dasar di
Puskesmas melalui perbaikan yang berkesinambungan.
c. Memastikan akurasi data pasien dan pelanggan melalui sistem pendokumentasian
yang divalidasi dan abdating data.
d. Menghasilkan produk-produk layanan kesehatan dasar yang berinovasi.
e. Menyosialisasikan tentang kegiatan layanan kesehatan prima dan kepuasan
pelanggan.
f. Meningkatkan pemberdayaan potensi sumber daya organisasi.
g. Merencanakan dan melaksanakan setiap program dengan bersumber pada evidence
base (data berdasarkan fakta).

3.1.4 Sarana dan Prasarana

1. Fasilitas Puskesmas

1) Gedung Puskesmas

Satu buah gedung Puskesmas Tanah Garam yang terletak di Keluraham VI Suku,
Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok

2) Puskesmas Pembantu
a. Pustu Payo
b. Pustu Bandar Pandung
c. Pustu Gurun Bagan
d. Pustu Sawah Piai
e. Pustu Bancah
3) Pos Kesehatan Kelurahan
a. Poskeskel Tanah Garam
b. Poskeskel Gurun Bagan
c. Poskeskel Sinapa Piliang
4) Sarana Transportasi
a. Kendaraan Dinas Roda 4 : 2 Unit
b. Kendaraan Dinas Roda 2 : 21 Unit
Tabel 3.1 Data Sarana dan Prasarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas
Tanah Garam

No Jenis Sarana Jumlah


1. Puskesmas Induk 1 Unit
2. Puskesmas Pembantu 5 Unit
3. Poskeskel 3 Unit
4. Posyandu Balita 25 Unit
5. Posyandu Lansia 12 Unit
6. Kendaraan Dinas Roda 4 2 Unit
7. Kendaraan Dinas Roda 2 21 Unit
Sumber : Profil Puskesmas Tanah Garam 2017

3.1.5 Ketenaga Kerjaan Puskesmas Tanah garam

Tabel 3.2 Tenaga yang ada di Tanah Garam Tahun 2017, yaitu:

No Jenis Ketenagaan Jumlah Keterangan

1 S2 Kesehatan 1 1 orang KTU

2 Dokter Spesialis 1

3 Apoteker 1

4 Dokter Umum 6 1 orang Kapus

5 Dokter Gigi 1

6 Sarjana Keperawatan 6

7 Sarjana Kesmas 6

8 Sarjana Kebidanan 1

9 D-III Farmasi 3

10 D-III Fisio Teraphy 1

11 D-III Gizi 4

12 D-III Perawat Gigi 1


13 D-III Perawat 23

14 D-III Kebidanan 19

15 D-III Analis 1

16 D-III Kesling 2

17 D-III TEM 2

18 D-III Rekam Medik 1

19 D-III Radiologi 1

20 D-III Refraksi Optisi 1

21 D1 Kebidanan 1

22 SAA 1

23 SPRG 1

24 SPK 3

25 SMA PNS 2

26 SMP PNS 1

27 Bidan PTT 4

28 Perawat Kontrak 6

29 Gizi kontrak 1

30 Bidan kontrak 7

31 Fisioterapi kontrak 1

32 Pegawai kontrak umum 16

33 Perawat sukarela 7

34 Bidan sukarela 4

Jumlah total 137


2. Sarana Pendukung di Luar Puskesmas

1) Sarana Pendidikan
Sarjana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam adalah
13 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 1 TPA,5 Taman Kanak-kanak (TK), 1 Sekolah
Luar Biasa (SLB), 13 Sekolah Dasar (SD), 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 3
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 1 Perguruan Tinggi
2) Sarana Kesehatan
Tabel 3.3 Data Sarana dan Prasarana Kesehatan di Wilayah Kerja
Puskesmas Tanah Garam
No JENIS SARANA JUMLAH

1 Poliklinik Swasta 1

2 Bidan Praktek Swasta 10

3 Dokter Praktek Swasta 3

4 Apotek 1

3. Sasaran

a. Data Kependudukan
Jumlah Penduduk : 21.942 orang
Jumlah Bulin : 415 orang
Jumlah Buteki : 396 orang
Jumlah Bayi : 4.383 orang
Jumlah Anak Balita : 1.206 orang
Jumlah PUS : 3.628 orang
Jumlah Bumil : 458 orang
Jumlah WUS : 5.114 orang
Jumlah Anak Remaja Sekolah : 3.444 orang
b. Peran Serta Masyarakat
Jumlah Posyandu : 25 buah
Jumlah Kader Posyandu : 108 orang
Jumlah TOGA : 3 kelurahan
Jumlah Posyandu Lansia : 11 buah
Jumlah Posbindu
 Sekolah : 1 buah
 Kantor : 1 buah
 Masyarakat : 9 orang

3.2 Gambaran Umum Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di


Puskesmas Tanah Garam

3.2.1 Program Esensial

1) Promosi kesehatan

Kegiatan :

1. Promosi kesehatan di dalam gedung Puskesmas Tanah Garam.


2. Promosi kesehatan di luar gedung, berupa :
a. Usaha Kesehatan Sekolah
- Skrining murid kelas 1 SD/SLTP/SLTA
- Pembinaan sekolah sehat
- Pelatihan dokter kecil/kader kesehatan/PKPR
b. Pembinaan kelurahan model PHBS dan KTR (kawasan tanpa
rokok)
c. Poskeskel (Pos Kesehatan Kelurahan)
d. Penyuluhan Posyandu
e. Pelaksanaan kegiatan kelurahan siaga
f. Saka Bakti Husada

Tabel 3.4 : Hasil Kegiatan Penyuluhan Promosi Kesehatan


Januari-April 2017
No. Kegiatan Pencapaian
1 Penyuluhan di dalam gedung 2 kali
2 UKS :
- Pembinaan UKS serta 8 kali
pelatihan dokter kecil
- Skrining siswa baru masuk (100%) 1 kali dalam
Setahun
3 Penyuluhan di Posyandu 8 kali
4 Penyuluhan Keliling 3 kali
5 Penyuluhan di Kantor Camat Lubuk 1Kali
Sikarah

2) Kesehatan Lingkungan

Kegiatan yang dilakukan :

1. Kesehatan Lingkungan
Kegiatan :
1. Dalam gedung
a. Klinik sanitasi
b. Pengawasan limbah medis
2. Luar gedung
a. Kunjungan rumah
b. Pengawasan kualitas air minum
c. Inspeksi sanitasi
d. Pengawasan kualitas air
e. Pengawasan dan pembinaan TTU (tempat-tempat umum) : SD,
SMP, SMA, PT, PAUD/TK, Masjid/musholla, dan
Salon/pangkas rambut.
f. Pengawasan hygiene sanitasi tempat pengolahan makanan
(TPM) :
g. Rumah makan/ampere
h. Makanan jajanan
i. Penyuluhan kesehatan di sekolah
j. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan
Hasil kegiatan :

3) Kesehatan Ibu dan Anak serta KB


a. Kegiatan yang dilakukan :
1. Program Kesehatan Ibu

a. Kelas Ibu Hamil


b. Pelayanan ANC
c. Kunjungan Bumil Resti
d. Kunjungan Nifas
e. Pemantauan Stiker P4K/ANC Berkualitas
f. Otopsi verbal
g. Pembinaan BPJS
h. Pembinaan GSI
2. Kegiatan Program Kesehatan Anak
a. DDTk
b. Kelas Ibu Balita
c. Kunjungan rumah balita bermasalah
d. LBI
3. Kegiatan Keluarga Berencana (KB)
a. Pelayanan dan konseling
b. Penanganan komplikasi ringan

b. Hasil Kegiatan

4) Perbaikan Gizi Masyarakat


1. Kegiatan yang dilakukan :

a. Penimbangan masal dan pemberian vitamin A (bulan Februari dan


Agustus)
b. Pengukuran status gizi murid TK/PAUD
c. Pengukuran status gizi siswa SLTP dan SLTA
d. Pemantauan status gizi sekolah yang mendapat PMT-AS
e. Kunjungan rumah balita gizi kurang dan gizi buruk serta Bumil KEK
f. Pemantauan Posyandu
g. Pemberian PMT pemulihan
h. TFC
i. Pengambilan sampel garam RT untuk survey GAKI
j. Kelas gizi
k. Pemberian vitamin A
l. Pemberian tablet Fe
m. Pemantauan pertumbuhan balita
2. Hasil Kegiatan

Tabel 3.8 : Hasil Kegiatan Tahunan Perbaikan Gizi Masyarakat

5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


a. Kegiatan yang dilakukan :

Tabel 3.10 : Program P2M


No Program Kegiatan
1 Imunisasi a. Pelayanan imunisasi
b. BIAS
c. TT WUS
d. Sweeping
e. Pelacakan KIPI
2 P2M a. Sosialisasi P2PM dan Surveilans
b. Survey dan pemetaan wilayah TB
c. Penyegaran kader TB
d. Penyuluhan HIV/AIDS, IMS dan
TB untuk pemuda
e. PTM
f. Posbindu
3 TB a. Pelacakan kasus kontak
b. PMO
4 Rabies Pelacakan kasus
5 DBD a. Sosialisasi DBD
b. Pemantauan jentik
c. PE
6 Pneumonia Penemuan dan penanganan kasus
7 Kusta Penemuan dan penanganan kasus
8 HIV/AIDS dan Penjaringan
IMS

Hasil kegiatan :

Tabel 3.8 : Hasil Kegiatan P2M Januari-April 2017

6) Program Imunisasi
a. Kegiatan

1) Pelayanan Imunisasi
2) BIAS
3) TT WUS
4) Sweeping
5) Pelacakan KIPI

b. Hasil Kegiatan

Tabel 3.9 Hasil Kegiatan Program Imunisasi

3.2.2 Program Pengembangan (Inovasi)

Upaya pengembangan yang dilakukan di Puskesmas Tanah Garam adalah


sebagai berikut.
Tabel 3.10 : Program Pengembangan di Puskesmas Tanah Garam
1 Kesehatan Jiwa
a. Penemuan dini dan penanganan kasus jiwa
b. Rujukan kasus jiwa
2 Kesehatan Indra Mata dan Telinga
a. Penemuan dan penanganan kasus
b. Rujukan
3 PKPR
a. Pelatihan kader PKPR
b. Penyuluhan dan konsultasi remaja
c. Penyulluhan dan konsultasi ke sekolah
4 Kesehatan Lansia
a. Pelayanan di dalam dan luar gedung
b. Pembinaan kelompok lansia
c. Senam lansia
d. Penyuluhan kesehatan lansia
e. Deteksi dini kesehatan lansia
5 Kesehatan Gigi dan Mulut
a. Dalam gedung
a. Pelayanan kedaruratan gigi
b. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dasar
c. Pelayanan medik gigi dasar
b. Luar gedung
d. UKGS
e. UKGM

3.5 Identifikasi Masalah


Proses identifikasi masalah dilakukan melalui observasi, laporan di
Puskesmas Tanah Garam tahun 2016 dan wawancara dengan penanggung jawab
program di Puskesmas. Beberapa masalah di Puskemas Tanah Garam yang
ditemui antara lain :
a. Rendahnya penggunaan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam
b. Rendahnya pengelolaan sampah di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
c. DBD dan pengolahannya di wilayahPuskesmas Tanah Garam
d. Rendahnya tingkat penemuan penderita TB di wilayah kerja Puskesmas
Tanah Garam
e. Rendahnya cakupan imunisasi booster di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam
f. Rendahnya cakupan D/S Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam
g. Upaya peningkatan kunjungan klinik sanitasi di Puskesmas Tanah Garam

40
3.6 Penetapan Prioritas Masalah
Beberapa masalah yang ditemukan di puskesmas tanah garam harus
ditentukan prioritas masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
puskesmas.Upaya yang dilakukan untuk menentukan prioritas masalah tersebut
adalah menggunakan teknik scoring sebagai berikut :
a. Urgensi (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting
b. Seriousness ( tingkat keseriusan masalah)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting
c. Growth (tingkat perkembangan masalah)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting

41
3.6.1 Penilaian Prioritas Masalah Di Puskesmas Tanah Garam
Berdasarkan keseluruhan program yang belum mencapai target, dipilih 7
masalah yang memiliki skor tertinggi berdasarkan skala prioritas USG. Penilaian
7 masalah prioritas tersebutditentukan berdasarkan data laporan tahuan
puskesmas, wawancara dengan pemegang program dan pimpian puskesmas, serta
observasi langsung ke lapangan. Permasalahan ini tidak hanya dilihat dari
kesenjangan antara target dan pencapaian, tetapi juga dilihat dari urgensi,
seriousness, dan growth.

Urgensi Seriousness Growth


Masalah Total Prioritas
(U) (S) (G)
Rendahnya penggunaan 5 5 5 125 P1
jamban sehat
Rendahnya pengelolaan 5 4 5 100 P2
sampah
DBD dan Pengelolaannya 5 4 4 80 P3
Rendahnya tingkat 5 4 3 60 P4
penemuan penderita TB
Rendahnya cakupan 4 4 3 48 P5
imunisasi booster
Rendahnya cakupan D/S 4 3 3 36 P6
Posyandu
Upaya peningkatan 3 3 3 27 P7
kunjungan klinik sanitasi
Tabel 10. Penetapan Masalah

42
Diagram sebab akibat dari Ishikawa (Fishbone dan penanggulangan
penyakit menular) tahun 2016

Man Metoda

Sampel yang diantar pasien


Mengaktifkan
hanya sedikit sehingga
kembali kader TB
mempersulit pemeriksaan Rendahnya
pencapaian CDR
di Puskesmas
Tanah Garam
tahun 2016
sebesar 38,2%
Kurangnya Dana pemantauan Budaya malu
sosialisasi dan kontak TB masih masyarakat masih
penyuluhan kurang. tinggi

Sarana Dana Lingkungan

43
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1Analisis Sebab Akibat Masalah

Berdasarkan diagram sebab akibat dari ishikawa (Fishbone) maka dapat


dilakukan analisis sebab akibat masalah tersebut untuk selanjutnya diambil
tindakan perbaikan. Dari berbagai penyebab yang ditemukan maka selanjutnya
dicari alternatif pemecahan masalah tersebut.

Tabel 11. Analisis Sebab Akibat Masalah


N Variabel Masalah Alternatif Pemecahan
o Masalah
Faktor Penyebab Masalah
Penyebab
1 Manusia  Kurangnya  Memberikan
pengetahuan dan penyuluhan kepada
pemahaman masyarakat
masyarakat mengenai Penyakit
tentang penyakit TB
TB  Memotivasi
 Kurangnya masyarakat
tindakan melakukan tindakan
pencegahan pencegahan

2 Metode  Sampel yang  Mengadakan


diantar pasien penyuluhan tentang
hanya sedikit Penyakit TB
sehingga  Mengoptimalkan

44
mempersulit kegiatan screening
pemeriksaan TB
3 Money  Dana pemantauan  Mengajukan bantuan
kontak TB masih dana pada
kurang. pemerintah yang
berwenang sehingga
dana tersebut dapat
digunakan secara
maksimal
4 Sarana  Pemanfaatan  Penyebaran leaflet
media informasi dan penempelan
kurang maksimal poster mengenai
Penyakit TB
5 Lingkungan  Budaya malu  Memberikan
masyarakat masih pemahaman kepada
tinggi masyarakat tentang
bahaya penyakit TB
serta penanganan
yang berkelanjutan

45
4.2 Plan of Action

Berdasarkan alternative pemecahan masalah di atas, penulis membuat


beberapa perencanaan kegiatan untuk menurunkan jumlah kasus TB sebagai
berikut:

Tabel 12. Plan of Action

N Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi Volum Pelaksanaa


o e n
Kegiat
an
1 Memberikan Meningkatkan Semua Puskes Sekali Petugas
penyuluhan pengetahuan warga mas, 3 promosi
kepada masyarakat masyaraka Posyan bulan kesehatan
masyarakat tentang t di du
mengenai penyakit TB wilayah
Penyakit TB kerja
Puskesmas
Nan
Balimo
2 Mengadakan Peningkatan Pustu/ Puskes Satu Petugas
pertemuan kerja sama puskeskel/ mas kali pemegang
berkala para pustu/ dokter setahu Promosi
petugas puskeskel/ n Kesehatan
pustu/ dokter dan
puskeskel/ surveilans
dokter
3 Mengadakan Petugas dapat Kader Puskes Sekali Petugas
pelatihan cepat tanggap Klinik TB mas setahu pemegang
kader menemukan n program
46
orang yang Promosi
menderita TB, Kesehatan
sehingga dapat dan
dilakukan surveilans
tindak lanjut
penanganan
segera untuk
mengurangi
angka kejadian
4 Penyebaran Meningkatkan Seluruh Rumah Sekali Petugas
leaflet dan ketersediaan warga masyar enam promosi
penempelan media masyaraka akat bulan kesehatan,
poster atau informasi yang t di dokter
stiker berkaitan wilayah muda, dan
mengenai dengan kerja kader
penyakit TB penyakit TB Puskesmas
Nan
Balimo

47
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi


Mycobacterium tuberculosis complex. . Pada tahun 1992 World Health
Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global
Emergency. Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3
di dunia setelah India dan Cina. Ditinjau dari sistem kesehatan nasional
puskesmas merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan
bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan wajib dan upaya
kesehatan pengembangan. Salah satu upaya kesehatan wajib tersebut adalah
upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang termasuk di
dalamnya penyakit TB paru.

Rendahnya penemuan BTA positif ini dikarenakan rendahnya


kesadaran warga mengetahui tentang penyakit TB dan menganggap TB
merupakan penyakit yang melemahkan psikososial dimasyarakat.
Penyuluhan mengetahui tentang penyakit TB dapat mengurangi stigma yang
buruk dimasyarakat.

5.2 Saran

Agar program-program kerja di puskesmas dapat berjalan dengan baik dan


masalah dapat teratasi, maka penulis menyarankan:

 Mengaktifkan kembali dan memberikan pelatihan dan pengarahan


terhadap kader TB.
 Kader TB serta petugas puskesmas lebih aktif dalam memberikan
penyuluhan dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat agar
pendeteksian penyakit dapat berjalan dengan baik.

48
DAFTAR PUSTAKA

 WHO, Tuberculosis Handbook, 1998 ( WHO/TB/98.253)

 WHO, Treatment of Tuberculosis : Guidelines for National Programs, Second


Edition, 1997 (WHO/TB/97.220)

 WHO, TB - A Global Emergency, WHO Report on The Tuberculosis


Epidemic, 1994 (WHO/TB/98.240)

 Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis di Indonesia

 Departemen Kesehatan RI, (2001) . Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis. Jakarta: Depkes RI

 Pusdiklat Aparatur. 2011. Kurikulum Dan Modul Manajemen Puskesmas.


http://perpustakaan-pusdiklataparatur.net/

49