Anda di halaman 1dari 14

Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

INNOVATION IN THE EVALUATION AND ASSESSMENT OF


BIOLOGICAL LEARNING

INOVASI DALAM EVALUASI DAN ASESMEN PEMBELAJARAN


BIOLOGI

Hasruddin
Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Medan
Email : hasruddin_lbsmdn@yahoo.com

ABSTRACT
Evaluation activities are an integral part of paedagogic competence of teachers
(teachers and lecturers). The great educator in planning the lesson, also great in
teaching but not or less great in the assessment, then can not be said to be perfect.
It can happen that a teacher or lecturer is steady in teaching, students or students
are very happy with the pattern of learning, but there are feelings want to avoid
the pattern of assessment. Why so? It is expected that in the personality of a
teacher or lecturer to have complete competence in a perfect whole that
him/herself has greatness in designing cutting-edge learning, also has a very good
ability in the transfer of knowledge with a variety of models, strategies, methods,
approaches vary , and not less important that educator has the ability of reliable,
tested, measurable, and qualified in conducting evaluation activities and
assessment of learning, both in process activities and learning outcomes of
learners.

Keywords: evaluasi, assesment, inovation, biology education

ABSTRAK
Kegiatan menilai merupakan bagian tidak terpisahkan dari kompetensi
paedagogik tenaga pendidik (guru maupun dosen). Pendidik yang hebat dalam
menyusun perencanaan pembelajaran, juga hebat dalam mengajar namun tidak
atau kurang hebat dalam melakukan penilaian, maka belumlah dapat dikatakan
sempurna. Dapat saja terjadi, bahwa seorang guru ataupun dosen mantap dalam
mengajar, siswa ataupun mahasiswanya sangat senang dengan pola
pembelajarannya, namun ada perasaan ingin menghindar dari pola penilaiannya.
Mengapa demikian? Diharapkan bahwa dalam kepribadian seorang guru ataupun
dosen memiliki kompetensi yang utuh dalam satu kesatuan yang sempurna bahwa
dalam dirinya terdapat kehebatan dalam merancang pembelajaran yang mutakhir,
juga memiliki kemampuan yang sangat baik dalam transfer of knowledge dengan
berbagai macam model, strategi, metode, pendekatan yang bervariasi, dan yang
tidak kalah pentingnya adalah seseorang pendidik itu memiliki kemampuan yang
handal, teruji, terukur, dan mumpuni dalam melakukan kegiatan evaluasi dan
asesmen pembelajaran, baik dalam kegiatan proses maupun hasil belajar peserta
didik.

Kata kunci: Evaluasi, Asesmen, Inovasi, Pendidikan Biologi

ISSN 2579-7766 18
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

I. PENDAHULUAN
Beberapa permasalahan dalam penilaian adalah: (1) Pemberian angka pada
hasil belajar mahasiswa apakah termasuk penilaian?; (2) Jenis kemampuan apa
yang kita nilai dari mahasiswa?; (3) Apakah teknik penilaian yang kita jalankan
sudah tepat sesuai kemampuan mahasiswa secara nyata dan benar?; (4)
Bagaimana cara penilaian: paper/karangan, hasil karya, laporan praktikum,
laporan mini riset, poster, performance, hasil ujian tulis/uraian, dan lain
sebagainya, apakah sama caranya?; dan (5) Apakah tes dan ujian tulis merupakan
satu-satunya cara yang tepat untuk melihat kemampuan/kompetensi mahasiswa?
Pada dasarnya dosen melakukan pekerjaannya dalam tiga komponen
utama. Komponen pertama, adalah sebagai perencana atau perancang
pembelajaran. Dalam hal ini dosen menyiapkan diri dalam hal menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan media pembelajaran, alat peraga,
buku sumber, modul, dan Lembar Kerja Mahaiswa (LKM). Komponen kedua,
yaitu berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran, dengan menggunakan berbagai
multi metode, model, pendekatan, ataupun strategi pembelajaran. Komponen
ketiga berkaitan dengan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
mahasiswa. Komponen ketiga ini berkaitan dengan tugas dosen sebagai evaluator
yakni melakukan kegiatan evaluasi.
Dalam dunia pendidikan, sering kali kita dikacaukan dari beberapa istilah
yang hadir dalam pekerjaan sehari-hari sebagai tenaga pendidik. Istilah tersebut
perlu pehamanan yang utuh, sehingga tidak terjadi salah pengertian. Beberapa
istilah penilaian yang seringkali muncul yaitu evaluasi, penilaian, asesmen, tes,
ujian, ulangan, uji coba, kuis, dan mungkin juga kadang-kadang muncul bahasa
daerah seperti memonten (Bahasa Melayu), dan lain sebagainya. Istilah-istilah
seperti ini seringkali membuat seseorang menjadi bingung, bahkan pengertiannya
dicampur adukkan satu sama lain.
Penilaian pada dasarnya adalah suatu tindakan atau suatu proses tindakan
untuk menentukan nilai dari sesuatu (determining the value of something).
Penentuan nilai sesuatu barang, atau benda, atau orang, apakah baik atau buruk,
berguna atau tidak berguna, dan sebagainya. Berdasarkan nilai dari sesuatu itu
maka seseorang mengambil keputusan terhadap hasil penilaiannya. Misalnya

ISSN 2579-7766 19
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

orang hendak membeli ikan. Ikan yang hendak dibeli tersebut diperhatikan
matanya, insangnya, badannya, siripnya, dan setelah melihat warna mata ikan
tidak merah, warna insangnya tidak coklat, bila dipegang ternyata dagingnya tidak
lembek, serta tidak berbau busuk, barulah seseorang tersebut memutuskan bahwa
ikan yang mau dibelinya masih segar. Sering juga orang yang membeli ikan itu
memilih-milih ikan yang ukurannya lebih besar dari tumpukan ikan yang ada dan
juga dengan mempertimbangkan harganya, barulah orang tersebut membelinya.
Seorang dosen dalam pekerjaannya sangat sering melakukan kegiatan
penilaian. Penilaian terhadap proses dan hasil belajar mahasiswa, penilaian
terhadap tingkah laku belajar mahasiswa, penilaian terhadap tulisan mahasiswa,
penilaian terhadap karya mahasiswa, dan dosen tersebut dapat mengambil
keputusan berdasarkan hasil penilaiannya. Jadi, pekerjaan menilai ini sebenarnya
sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai dosen maupun
sebagai anggota masyarakat.
Namun, apakah sebenarnya arti penilaian itu? Penilaian dapat disebut juga
Evaluasi, dapat juga disebut Asesmen. Apakah sama ataukah berbeda pengertian
evaluasi dan asesmen? Apa pula pengertian dari pengukuran? Evaluasi
(evaluation), pengukuran (measurement), dan asesmen (assessment). Evaluasi
berasal dari kata evaluation (Bahasa Inggris). Kata tersebut diserap ke dalam
perbendaharaan istilah Bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata
aslinya dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjadi evaluasi. Dalam
perkembangan selanjutnya, asesmen telah menjadi Bahasa Indonesia yang diserap
dari kata assessment.
Evaluasi (evaluation) adalah sebuah proses pengumpulan data untuk
menentukan sejauhmana, dalam hal apa, dan bagianmana tujuan pembelajaran dan
pendidikan telah tercapai sesuai dengan perencanaan. Dalam hal ini evaluasi
dikaitkan dengan kegiatan pendidikan. Seorang dosen dalam kegiatan mengajar
tentu saja memiliki tujuan belajar yang telah direncanakan untuk dicapai
mahasiswa, sebagai prestasi belajarnya. Berdasarkan definisi ini, dosen
melakukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan belajar sudah tercapai atau tidak.
Arikunto (2009) menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi

ISSN 2579-7766 20
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil


sebuah keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan
informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan
kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.
Evaluasi tidak sekedar untuk mengetahui sejauhmana tujuan telah tercapai
atau tidak. Definisi evaluasi lebih luas lagi yaitu sebuah proses pengumpulan data
untuk menentukan apakah tujuan telah tercapai dan dapat digunakan untuk
pengambilan keputusan. Dimyati dan Mujiono (2006) menyatakan bahwa evaluasi
diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan,
kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek, dan lain-lain.) berdasarkan
kriteria tertentu melalui penilaian. Tujuan evaluasi adalah mendeskripsikan
kecakapan belajar para siswa, mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan
pengajaran di sekolah, menentukan tindak lanjut hasil penilaian, memberikan
pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak yang berkepentingan
(Sudjana, 2009).
Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai
tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program (Syah, 2012). Evaluasi adalah
proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan
suatu kriteria tertentu (Sudjana, 2009). Evaluasi adalah penilaian atau
pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan kriteria yang
ditetapkan. Penilaian tidak dapat dilakukan tanpa didahului dengan kegiatan
pengukuran. Pengukuran dilakukan untuk tujuan pengambilan keputusan dalam
penilaian (Purwanto, 2011).
Pada dasarnya, untuk melakukan evaluasi terlebih dahulu dilakukan
pengukuran. Pengukuran (measurement) adalah suatu kegiatan yang dilakukan
untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hakekatnya adalah membandingkan
sesuatu dengan menggunakan dasar ukuran tertentu. Mengukur bersifat objektif
karena menggunakan alat ukur tertentu. Dalam kegiatan pendidikan, biasanya
pengukuran dilakukan dengan tes, observasi, ataupun dengan melakukan
wawancara. Secara konkrit, misalnya mengukur suhu dengan menggunakan
termometer sebagai alat ukurnya.

ISSN 2579-7766 21
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

Pengukuran hasil belajar dapat dilakukan dengan menggunakan tes hasil


belajar ataupun nontes. Cara-cara pengukuran dengan menggunakan nontes ini
misalnya dapat dilakukan dengan observasi, angket, ataupun dengan
menggunakan wawancara. Menurut Arikunto (2009) bahwa pengukuran berasal
dari kata kerja “mengukur’. Mengukur adalah, membandingkan sesuatu dengan
satu ukuran (bersifat kuantitatif), menilai adalah mengambil suatu keputusan
terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (bersifat kualitatif), dan evaluasi
meliputi kedua langkah tersebut di atas.
Kemampuan mengukur, menilai, dan mengevaluasi hasil belajar
mahasiswa merupakan salah satu keterampilan profesional yang harus dimiliki
oleh dosen. Keterampilan ini harus benar-benar dikuasai dan dimiliki oleh dosen.
Keberhasilan melakukan evaluasi yang benar akan ditentukan oleh konstruksi alat
ukur yang handal dan tepat. Setelah sekian lama, dalam dunia pendidikan kita
bahwa dosen melaporkan hasil evaluasi yang didominasi dengan kegiatan menilai
hasil belajar, namun akhir-akhir ini timbul pertanyaan, apakah penilaian hanya
berupa hasil belajar saja? Apakah tidak perlu menilai proses belajarnya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, memungkinkan kegiatan menilai tidak
hanya sekedar menilai hasil belajar mahasiswa melainkan juga menilai proses
belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Berkaitan dengan hal ini dalam dunia
pendidikan ada istilah Assessment (Asesmen). Asesmen diartikan juga menilai,
evaluasi juga diartikan menilai. Jadi apakah sama ataukah berbeda asesmen dan
evaluasi?
Asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar mahasiswa. Gambaran perkembangan belajar
mahasiswa perlu diketahui oleh dosen agar bisa memastikan bahwa mahasiswa
mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan
dosen mengindikasikan bahwa mahasiswa mengalami kemacetan dalam belajar,
maka dosen bisa segera mengambil tindakan yang tepat agar mahasiswa terbebas
dari kemacetan belajarnya.
Pengukuran, tes, dan penilaian merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan evaluasi hasil belajar. Selama ini, kita cenderung
hanya menggunakan tes untuk mengukur hasil belajar. Hal ini dilakukan karena

ISSN 2579-7766 22
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

dengan melihat hasil tes itulah dapat diketahui keberhasilan pendidikan. Namun,
akhir-akhir ini, banyak kalangan pendidik mendengar, membaca, membicarakan,
bahkan menulis berbagai kajian seputar asesmen. Sedemikian terbiasanya kita
memperbincangkan asesmen sehingga terasa semakin jarang pula kita
memperbincangkan evaluasi. Dikhawatirkan sebagian di antara kita berpersepsi
bahwa asesmen sudah secara utuh mempresentasikan evaluasi, misalnya karena
mereka mungkin berpersepsi bahwa asesmen sama dengan evaluasi. Benarkah
asesmen sama dengan evaluasi?
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen, yaitu achievement
assesment, performance assesment, alternative assesment, autentic assesment,
dan portfolio assesment (Zainul dan Mulyana, 2003). Istilah-istilah tersebut sangat
berkaitan dalam pelaksanaan asesmen di sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai
perguruan tinggi.

II. PENEGASAN PERBEDAAN EVALUASI DAN ASESMEN

Selama ini, orang sering mengacaukan pengertian asesmen, evaluasi, dan


tes. Alasannya jelas, selama lebih dari setengah abad, sebagian besar kita diases
dan dievaluasi dengan menggunakan tes. Sebagai akibatnya kita seringkali
menganggap bahwa asesmen, evaluasi, dan tes itu artinya sama, padahal tidak.
Komalasari (2010) menyatakan bahwa asesmen adalah proses
pengumpulan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
Nurhadi (2002) menyatakan bahwa asesmen adalah proses pengumpulan berbagai
data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar mahasiswa. Arends
(2013) mendefinisikan asesmen sebagai proses pengumpulan dan pensintesisan
informasi untuk membuat keputusan mengenai sesuatu. Dari berbagai definisi ini,
banyak cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut,
misalnya dengan cara mengamati peserta didik pada saat mereka belajar,
memeriksa apa yang mereka hasilkan, menguji pengetahuan dan keterampilan
mereka. Pertanyaan kunci untuk asesmen adalah bagaimana kita dapat
menemukan apa yang sedang dipelajari peserta didik.
Evaluasi adalah proses menginterpretasikan dan membuat pertimbangan
mengenai informasi atau data yang dikumpulkan (Komalasari, 2010). Menurut

ISSN 2579-7766 23
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

Arends (2013) evaluasi adalah proses mempertimbangkan kebermanfaatan atau


nilai dari sesuatu. Data yang dikumpulkan itu tidak dapat dikatakan baik atau
buruk. Data itu mencerminkan apa yang terjadi dalam kelas. Informasi ini barulah
memiliki makna apabila kita menentukan apakah data itu merefleksikan sesuatu
yang kita anggap berharga, misalnya seberapa terampil mahasiswa memakai
miskroskop. Jadi dalam melakukan evaluasi yang menjadi pertanyaan adalah
apakah peserta didik benar-benar mempelajari apa yang kita inginkan agar mereka
pelajari? Sudah seberapa banyak yang diketahui mahasiswa dari apa yang sudah
dipelajarinya? Berbeda dengan asesmen, bahwa asesmen adalah prosedur yang
digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja peserta
didik yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi (Suprijono, 2010).
Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan, atau tugas atau
seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang atribut
pendidikan atau psikologik tertentu dan setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar, dan apabila tidak
memenuhi ketentuan tersebut, maka jawaban tersebut dianggap salah (Zainul dan
Mulyana, 2003). Menurut Sudijono (2003) bahwa secara harfiah, kata "test"
berasal dari Bahasa Perancis kuno, yaitu testum yang artinya piring untuk
menyisihkan logam-logam mulia. Dalam Bahasa Inggris ditulis dengan "test"
yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan tes, ujian atau percobaan.
Dalam hal ini, bahwa tes adalah alat pengukuran yang digunakan untuk
mendokumentasikan pembelajaran peserta didik.
Berbagai istilah yang perlu dipahami berikut ini berkaitan dengan asesmen
(Zainul dan Mulyana, 2003). Achievement assesment adalah suatu prosedur yang
digunakan untuk memberi batasan seberapa jauh individu peserta didik mencapai
hasil belajar yang diinginkan atau yang terlebih dahulu ditetapkan. Achievement
assesment merupakan pengertian umum terhadap semua usaha untuk mengukur,
mengetahui, dan mendeskripsikan hasil belajar peserta didik, baik yang dilakukan
dengan tes kertas dan pensil (paper and pencil test), asesmen kinerja
(performance assesment), maupun semua upaya memperoleh informasi kemajuan
peserta didik.

ISSN 2579-7766 24
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

Performance assesment atau disebut pula dengan asesmen kinerja yaitu


asesmen yang menghendaki peserta didik untuk mendemonstrasikan kemampuan
baik pengertian maupun keterampilan dalam bentuk kinerja yang nyata yang
ditunjukkan dalam bentuk satu tugas atau seperangkat tugas. Contoh asesmen
kinerja yaitu kemampuan menuliskan suatu cerita, penampilan menjadi moderator,
melakukan suatu eksperimen, mengoperasikan suatu alat, dan lain-lain.
Alternative assesment kadang-kadang dipertukarkan dengan authentic
assesment yaitu suatu bentuk asesmen yang tidak hanya tergantung dalam bentuk
tes tertulis atau lisan yang secara konvensional digunakan di sekolah, tetapi juga
menggunakan berbagai bentuk asesmen lain seperti asesmen kinerja dan asesmen
portofolio. Secara singkat, asesmen alternatif adalah suatu bentuk asesmen hasil
belajar yang merupakan alternatif dari bentuk asesmen yang secara tradisional
dilakukan di sekolah, terutama alternatif dari suatu bentuk asesmen konvensional
berupa tes kertas dan pensil. Bentuk-bentuk asesmen alternatif seperti asesmen
kinerja, observasi, kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan
investigasi, portofolio, jurnal belajar, wawancara, dan asesmen diri sendiri
(Marzano, 1993).
Portfolio assesment adalah suatu asesmen hasil belajar yang didasarkan
pada kumpulan hasil belajar mahasiswa dari waktu ke waktu, atau merupakan
koleksi contoh-contoh hasil kerja mahasiswa, hasil asesmen, dan data lain yang
menyajikan prestasi mahasiswa. Data tersebut dipandang oleh satu pihak sebagai
satu tipe dasar asesmen kinerja dan oleh pihak lainnya dipandang sebagai satu
metode yang hanya tepat untuk mengumpulkan data kinerja mahasiswa. Asesmen
portofolio pada dasarnya merupakan salah satu bentuk dari asesmen alternatif.
Asesmen portofolio dideskripsikan sebagai suatu proses dan tempat. Tempat yang
dimaksud di sini adalah koleksi materi fisik atau data (seperti contoh-contoh
tulisan, hasil seni, hasil karya, dll), yang disimpan dalam suatu dokumen atau
tampilan. Jadi di sini terdapat proses penyajian informasi yang penuh.
Authentic assesment (asesmen autentik) adalah satu asesmen hasil belajar
yang menuntut mahasiswa dapat menunjukkan hasil belajar berupa kemampuan
dalam kehidupan nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau hanya diperoleh di
dalam kelas, tetapi tidak dikenal dalam dunia nyata kehidupan sehari-hari (Zainul

ISSN 2579-7766 25
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

dan Mulyasa, 2003). Tugas-tugas autentik adalah tugas-tugas yang menuntut


mereka untuk mengintegrasikan pengetahuan dan kemampuan, yang sudah
menyatu dengan kondisi mereka dan mungkin dijumpai dalam kehidupan nyata
sehari-hari (Ibrahim, 2002). Asesmen semacam itu akan tampak dan dirasakan
peserta didik sebagai suatu kegiatan belajar, tidak seperti pada tes tradisional yang
umumnya menegangkan dan membuat mereka stress (Susilo, 2003).

III. PENILAIAN SECARA HOLISTIK DAN BERISIFAT ANALITIK


Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan
penggunaan informasi tentang hasil belajar mahasiswa dengan menerapkan
prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat,
dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Dalam melakukan penilaian perlu
mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar mahasiswa yang
dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah
dicapai disertai dengan pelaporan peta kemajuan belajar mahasiswa.
Penilaian ini dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar
mengajar yang bersifat holistik dan analitik. Dengan demikian penilaian dilakukan
dengan pengumpulan kerja mahasiswa (portofolio), hasil karya (produk),
penugasan (proyek), kinerja (perfomance), dan tes tertulis (paper and pencil test).
Hasil penilaian berguna untuk: (1) Umpan balik bagi mahasiswa dalam
mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi
untuk memperbaiki hasil belajarnya; (2) Memantau kemajuan dan mengdiagnosis
kemampuan belajar mahasiswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan
dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa sesuai dengan kemajuan
dan kemampuannya; (3) Memberikan masukan kepada pendidik untuk
memperbaiki program pembelajarannya di kelas; (4) Memungkinkan mahasiswa
mencapai kompetensi yang telah ditentukan walaupun dengan kecepatan belajar
yang berbeda-beda; dan (5) Memberikan informasi yang lebih komunikatif
kepada masyarakat tentang efektivitas pendidikan sehingga mereka dapat
meningkatkan partisipasinya di bidang pendidikan.
Penilaian mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) Pengumpulan
infomasi tentang pencapaian hasil belajar mahasiswa, dan (2) Pembuatan

ISSN 2579-7766 26
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

keputusan tentang hasil belajar mahasiswa berdasarkan informasi tersebut.


Pengumpulan informasi dapat dilakukan dalam suasana resmi maupun tak resmi,
di dalam atau di luar kelas, menggunakan waktu khusus misalnya untuk penilaian
aspek sikap/nilai dengan tes atau nontes atau terintegrasi dalam seluruh kegiatan
belajar mengajar (di awal, di tengah, dan di akhir).
Bila informasi tentang hasil belajar mahasiswa telah terkumpul dalam
jumlah yang memadai, maka dosen perlu membuat keputusan terhadap prestasi
mahasiswa: (1) Apakah mahasiswa telah mencapai tujuan pembelajaran seperti
yang telah ditetapkan? (2) Apakah mahasiswa telah memenuhi syarat untuk maju
ke tingkat yang lebih lanjut? (3) Apakah mahasiswa harus mengulang bagian-
bagian tertentu? (4) Apakah mahasiswa perlu memperoleh cara lain sebagai
pendalaman? (5) Apakah mahasiswa perlu menerima pengayaan? (6) Pengayaan
apa yang perlu diberikan?, dan (7) Apakah perbaikan dan pendalaman progran
atau kegiatan pembelajaran, pemilihan bahan atau buku ajar, dan penyusunan
silabus telah memadai?
Sehubungan dengan diterapkannnya kurikulum berbasis KKNI maka
penilaian yang selama ini didominasi dengan paper and pencil test sudah
selayaknya dilakukan pengembangan bentuk-bentuk penilaian atau melakukan
inovasi dalam penilaian mahasiswa. Kurikulum Berbasis KKNI memiliki ciri-ciri
sebagai berikut: (1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi mahasiswa; (2)
Berorientasi pada proses dan hasil belajar (learning outcomes) dan perbedaan
individual mahasiswa; (3) Menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
dalam penyampaian dan pembelajaran; (4) Menggunakan sumber belajar yang
meluas (narasumber dan multimedia); dan (5) Menekankan pada proses dan hasil
belajar mahasiswa dalam upaya penguasaan atau pencapaian kompetensi.
Berkenaan dengan masalah penilaian, dosen hendaknya melaksanakan
kegiatan sebagai berikut: (1) Mengembangkan dan melaksanakan program-
program pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa untuk mencapai tamatan
yang kompeten; (2) Memantau kemajuan belajar mahasiswa secara individual dan
merencanakan perbaikannya; (3) Menilai dan melaporkan pencapaian belajar
mahasiswa secara individual; (4) Melaporkan kinerja kampus dan menunjukkan
pertanggungjawabannya kepada masyarakat; (5) Mengembangkan dan

ISSN 2579-7766 27
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

melaksanakan pendekatan penilaian seutuhnya yang didasarkan pada kriteria dan


diketahui oleh mahasiswa dan orangtua atau wali; dan (6) Mengembangkan dan
melaksanakan prosedur untuk melaporkan pada orangtua/wali tentang kemajuan
belajar mahasiswa secara individual dan dengan kemajuan teknologi sekarang ini
dapat dengan mudah dan cepat diketahui masyarakat dengan sistem penilaian
secara online.
Prinsip umum penilaian hendaknya memenuhi: (1) Kevaliditasannya; (2)
Bersifat edukatif; (3) Berorientasi pada Kompetensi; (4) Adil dan Objektif; (5)
Terbuka; (6) Berkesinambungan; (7) Menyeluruh; dan (8) Bermakna (Sudjana,
2009; Kunandar, 2013). Prinsip khusus penilaian hendaknya bahwa apapun jenis
dan bentuk penilaiannya harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik
bagi mahasiswa untuk menunjukkan progres apa yang mereka pelajari, ketahui,
dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuannya. Dengan demikian
pelaksanaan penilaian dilakukan dalam suasana yang bersahabat dan tidak
mengancam, semua mahasiswa mempunyai kesempatan dan perlakuan yang sama
dalam menerima program pembelajaran sebelumnya dan selama proses
pembelajaran.
Setiap dosen harus mampu melaksanakan prosedur penilaian dan
pencatatan secara tepat. Implikasi dari prinsip ini adalah: (1) Prosedur penilaian
harus dapat diterima oleh dosen dan dipahami secara jelas; (2) Prosedur penilaian
dan catatan harian hasil belajar mahasiswa hendaknya mudah dilaksanakan
sebagai bagian dari proses pembelajaran, dan tidak harus mengambil waktu yang
berlebihan; (3) Catatan harian harus mudah dibuat, jelas, mudah dipahami, dan
bermanfaat untuk perencanaan pembelajaran; (4) Menggunakan informasi yang
diperoleh untuk menilai semua pencapaian belajar mahasiswa dengan berbagai
cara; (5) Menilai pencapaian belajar mahasiswa yang bersifat positif untuk
pembelajaran selanjutnya yang direncanakan oleh sebelumnya; (6)
Mengklasifikasikan dan menentukan kesulitan belajar sehingga mahasiswa
mendapatkan bimbingan dan bantuan belajar yang sewajarnya; (7) Hasil penilaian
hendaknya menunjukkan kemajuan dan keberlanjutan pencapaian belajar
mahasiswa; (8) Menilai semua aspek yang berkaitan dengan pembelajaran, yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotorik; (9) Meningkatkan keahlian dosen sebagai

ISSN 2579-7766 28
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

konsekuensi dari diskusi pengalaman dan membandingkan metode dan hasil


penilaian; dan (10) Melaporkan penampilan mahasiswa kepada orangtua atau wali
dan atasannya (Ketua Prodi, Dekan, dan Rektor).

IV. PENUTUP
Setiap hasil belajar memiliki suatu perangkat indikator. Indikator-indikator
menjawab pertanyaan: “Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa mahasiswa
sudah dapat mencapai hasil pembelajarannya?” Dosen akan menggunakan
indikator sebagai dasar penilaian mahasiswa apakah hasil pembelajaran sudah
tercapai sesuai dengan kinerja yang diharapkan.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, kompetensi yang diharapkan
dimiliki oleh lulusan dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Berkenaan dengan
aspek afektif. mahasiswa memiliki: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agama masing-masing yang tercermin
dalam perilaku sehari-hari; memiliki nilai-nilai etika dan estetika, serta mampu
mengamalkan dan mengespresikannya dalam kehidupan sehari-hari; memiliki
nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan humaniora, serta menerapkannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara baik dalam lingkup nasional
maupun global; (2) Berkenaan dengan aspek kognitif, mahasiswa menguasai ilmu,
teknologi, dan kemampuan akademik yang dapat diterapkannya dalam
memecahkan permasalahan di masyarakat; dan (3) Berkenaan dengan aspek
psikomotorik, mahasiswa memiliki keterampilan berkomunikasi, kecakapan hidup
(life skill) termasuk di dalamnya hardskill dan softskill dan mampu beradaptasi
dengan perkembangan lingkungan sosial, budaya, dan lingkungan alam baik lokal,
regional, maupun global; memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat
untuk melaksanakan tugas/kegiatan sehari-hari.
Pengembangan keterampilan hidup berpijak pada pemikiran bahwa hasil
belajar merupakan penguasaan berbagai kompetensi dasar yang diperoleh melalui
pengalaman belajar. Hasil samping yang positif atau bermanfaat ini disebut juga
nurturant effects. Sehubungan dengan itu, penilaian terhadap keterampilan hidup
tersebut dilakukan. Perlu dinilai seberapajauh melalui pengalaman belajar yang
telah dilaksanakan mahasiswa telah memiliki kecakapan hidup yang sesuai

ISSN 2579-7766 29
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

dengan kebutuhannya untuk bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di


lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Jenis-jenis keterampilan hidup yang perlu dinilai antara lain meliputi:
keterampilan diri (keterampilan personal), penghayatan diri sebagai mahluk
Tuhan YME, motivasi berprestasi, komitmen, percaya diri, mandiri, keterampilan
berpikir rasional, berpikir kritis dan logis, berpikir sistematis, terampil menyusun
rencana secara sistematis, terampil memecahkan masalah secara sistematis,
keterampilan sosial, keterampilan berkomunikasi , lisan/tulis, keterampilan
bekerjasama/kolaborasi/lobi, keterampilan berpartisipasi, keterampilan mengelola
konflik, keterampilan mempengaruhi orang lain, keterampilan akademik,
keterampilan merancang, melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiah,
keterampilan membuat karya tulis, keterampilan mentransfer dan
mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecahkan masalah, baik berupa
proses maupun produk, dan keterampilan mencipta produk dengan menggunakan
konsep, prinsip, bahan, dan alat yang telah dipelajari.
Bentuk-bentuk penilaian digunakan dengan berbagai cara, seperti: kuis,
tugas individu, tugas kelompok, UTS, UAS, portofolio, poster, laporan mini riset,
laporan kunjungan lapangan, laporan praktikum, projek, hasil responsi, dan
partisipasi mahasiswa dalam kelas.

DAFTAR PUSTAKA
Arends. 2012. Learning to Teach. New York: mcGraw-Hill Companies.
Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Komalasari, K. 2010. PembelajaranKontekstualKonsepdan Aplikasi. Bandung:
Refika Aditama.
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Ibrahim, M. dan Nur., M 2002, Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya:
UNESA University Press.
Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Marzano, R.J., D. Pickering., J. McTighe. 1993. Assessing Students Outcomes.
USA: ASCD.
Nurhadi. 2002. Pembelajaran Kontekstual. Malang: Penerbit Universitas Negeri
Malang.
Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Sudijono, A. 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

ISSN 2579-7766 30
Prosiding Seminar Nasional Biologi Edukasi 2017 | SEMNAS Bio-Edu 1

Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Pakem. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.
Susilo, H. 2001. Portofolio: Apa, Mengapa, dan Bagaimana? Sumber Belajar
Kajian Teori dan Aplikasi. 8 (1): 40-51.
Syah, M. 2012. Psikologi Belajar, Jakarta: Grafindi Persada.
Zainul, A. dan Mulyana, A. 2003. Tes dan Asesmen di SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.

ISSN 2579-7766 31