Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekstraksi metalurgi adalah praktek menghapus logam berharga dari sebuah bijih
dan pemurnian logam mentah yang diekstrak ke dalam bentuk murni. Metalurgi adalah
seni dan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan logam dari bijihnya dan pembuatan
logam menjadi berbagai produk. Ruang lingkup metalurgi terbagi menjadi dua bagian
yaitu mineral processing dan metal processing.
Mineral processing yaitu perlakuan bijih untuk mendapatkan logam atau
konsentrat mineral, sedangkan metal processing yaitu pembuatan produk dari logam.
Proses dari ekstraksi metalurgi terbagi atas tiga jenis, antara lain yaitu
jalur pyrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur tinggi), jalur
hydrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur yang relatif rendah
dengan media cairan), dan jalur electrometalurgy (proses ekstraksi yang melibatkan
penerapan prinsip elektrokimia, baik pada temperatur rendah maupun pada temperatur
tinggi).
Salah satu bahan galian yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi yaitu nikel. Di
Indonesia, endapan bijih nikel banyak terdapat di daerah Sulawesi. Contohnya seperti
pada Daerah Sulawesi Tenggara, tepatnya di PT. Bintang Delapan Mineral. Nikel
merupakan komuditas utama dari PT. Bintang Delapan Mineral, dimana proses ekstraksi
bijih nikelnya menggunakan jalur pyrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada
temperatur tinggi).

1.2 Rumusan Masalah

Pada penyusunan makalah ini, terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu


sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan bijih nikel laterit ?
2. Bagaimana metode penambangan dari bijih nikel laterit ?
3. Bagaimana proses pengolahan dan metode ekstraksi pada bijih nikel laterit di PT.
Bintang Delapan Mineral ?

1
1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, terdapat beberapa tujuan dalam


penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan bijih nikel laterit.
2. Mengetahui bagaimana metode penambangan dari bijih nikel laterit.
3. Mengetahui bagaimana proses pengolahan dan metode ekstraksi pada bijih nikel
laterit di PT. Bintang Delapan Mineral.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah dapat menambah wawasan


mahasiswa mengenai bagaimana pengolahan dari bijih nikel laterit dan apa saja metode-
metode yang dapat digunakan untuk mengekstrasi logam dari bijihnya (ekstraksi
metalurgi).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Profil Perusahaan

PT. Bintang Delapan Mineral terletak di Desa Bahomakmur, Kecamatan


Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Perusahaan ini bergerak
dalam pertambangan bijih nikel, didirikan pada tahun 2006 dan berbasis di Jakarta,
Indonesia. Bintang Delapan mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) sejak tahun
2010 dengan luas wilayah konsesi 21.695 hektare (ha) mencakup sembilan desa di
Morowali, yaitu Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu,
Bahodopi, Keurea, dan Fatufia. Izin usaha PT. Bintang Delapan Mineral akan berakhir di
tahun 2025.
Bintang Delapan mendekap 45% saham Sulawesi Mining Invesment, sisanya
atau 55% dikuasai Dingxin Group. Selain pembangunan smelter, Sulawesi Mining juga
mengaku akan membangun fasilitas pendukung, seperti pembangkit listrik tenaga diesel
2×65 Megawatt di tahap pertama dan tahap selanjutnya akan menambah menjadi
sebesar 450 MW. Hasil produksi BDM secara keseluruhan dikirim ke China untuk
menyuplai kebutuhan Indutri Steenless Stell yang berada di sana.

Gambar 2.1 Peta Tunjuk Lokasi PT. Bintang Delapan Mineral.

3
2.2 Tahapan Eksplorasi

Berdasarkan data hasil eksplorasi, perusahaan PT. Bintang Delapan Mineral


memiliki total sumber daya terkira sebanyak 53.000.000,00 ton. Saat ini, tahap
penambangan telah masuk ke tahap operasi produksi. Model endapan mineral yang
ditambang oleh perusahaan PT. Bintang Delapan Mineral yaitu endapan nikel laterit.

Gambar 2.2 Peta Wilayah Eksplorasi.

Endapan nikel laterit merupakan bijih yang dihasilkan dari proses pelapukan
batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan bumi. Istilah “Laterit” sendiri dikemukakan
oleh M. F. Buchanan (1807) dan diambil dari bahasa Latin “later” yang berarti batubata
merah. Istilah ini digunakan sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr
yang merupakan wilayah India bagian selatan. Material tersebut sangat rapuh dan
mudah dipotong, tetapi apabila terlalu lama terekspos maka akan cepat sekali mengeras
dan sangat kuat.
Smith (1992) mengemukakan bahwa laterit merupakan regolith atau tubuh
batuan yang mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah mengalami pelapukan,
termasuk di dalamnya profil endapan material hasil transportasi yang masih tampak
batuan asalnya. Sebagian besar endapan laterit mempunyai kandungan logam yang
tinggi dan dapat bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan
dan bauksit.

2.3 Sistem Penambangan

PT. Bintang Delapan Mineral merupakan perusahaan tambang di Indonesia yang


melakukan kegiatan penambangan dengan sistem tambang terbuka. Dalam aktifitas

4
penambangannya sistem yang diterapkan adalah sistem tambang terbuka dengan
metode open cut. Open cut/open mine merupakan sebuah metode penambangan yang
dilakukan di daerah lereng bukit. Pada metode penambangan open cut/open mine arah
penggaliannya dari arah bawah ke atas.
Bentuk tambang dengan metode open cut bentuknya melingkari bukit atau
berbentuk undakan. Hal tersebut tergantung dari letak endapan penambangan yang
diinginkan. Open cut mining digunakan ketika suatu bahan tambang ditemukan di
wilayah yang luas dan relatif dekat dengan permukaan. Pada proses penambangan itu
sendiri terdapat beberapa tahapan penting, salah satu yang paling penting dan paling
awal adalah pembersihan lahan dari vegetasi yang berada pada lahan yang akan
ditambang. Tanah penutup/top soil akan dikupas dan nantinya akan digunakan untuk
menimbun pada saat proses reklamasi di akhir penambangan.
Adapun tahap–tahap kegiatan pada open cut secara umum:
1. Pembersihan lahan (Land Clearing)
Pembersihan lahan ini dilaksanakan untuk memisahkan pepohonan dari tanah
tempat pohon tersebut tumbuh, sehingga nantinya tidak tercampur dengan tanah
subsoil-nya. Pepohonan (tidak berbatang kayu keras) yang dipisahkan ini nantinya
dapat dimanfaatkan sebagai humus pada saat pelaksanaan reklamasi.
2. Pengupasan tanah pucuk (Top Soil)
Pengupasan tanah pucuk ini dilakuan terlebih dulu dan ditempatkan terpisah
terhadap batuan penutup (overburden), agar pada saat pelaksanaan reklamasi dapat
di manfaatkan kembali. Pengupasan top soil ini dilakukan sampai pada batas lapisan
subsoil, yaitu pada kedalaman dimana telah sampai dilapisan batuan penutupan (tidak
mengandung unsur hara).
3. Pengupasan tanah penutup (Overburden)
Lapisan tanah penutup ini biasanya dibongkar langsung dengan menggunakan
alat mekanis seperti Excavator atau Dozer dikarenakan batuan yang digali tidak terlalu
keras. Apabila overburden tersebut agak keras, maka biasanya akan dibongkar
dengan menggunakan metode ripping atau dengan cara peledakan (blasting) karena
batuan di front tersebut tidak memungkinkan untuk digali dengan menggunakan alat
berat mekanis.
4. Pemuatan (Loading)
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau mengisikan
material endapan bahan galian hasil pembongkaran ke dalam alat angkut. Kegiatan

5
pemuatan dilakukan setelah kegiatan penggusuran. Pemuatan dilakukan dengan
menggunakan alat muat power sovhel atau backhoe dan diisikan ke dalam alat
angkut.
5. Pengangkutan (Hauling)
Pengangkutan atau hauling adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut
atau membawa material endapan bahan galian dari front penambangan untuk dibawa
ke tempat penimbunan sementara di ROM, yaitu stockpile mini tambang untuk proses
lebih lanjut.

Gambar 2.3 Proses Penambangan Metode Open Cut.

2.4 Genesa Pembentukan Bijih Nikel

Bijih nikel adalah mineral atau agregat mineral yang mengandung nikel.
Ferronickel adalah produk metalurgi berupa alloy (logam paduan) antara besi (Ferrum)
dan nikel. Baja menggunakan produk alloy yang berasal dari Laterit (Ni Oxides) hasil
proses pelapukan batuan ultramafik dan Sulfida (Ni Sulphides) hasil dari proses
magmatisme. Sumber batuan ultramafik biasa berasal dari batuan Dunite, Peridotite,
Lherzolite, Serpentinite, dan lain-lain.
Orebody dengan Ni grade yang tinggi umumnya didapat dari proses pelapukan
batuan (bedrock) yang kaya akan mineral Olivine, karena memang kandungan Ni di
Olivine lebih tinggi dibanding mineral mafik yang lain. Kandungan Ni pada bedrock
sebenarnya kecil sekali (<0.7%), kandungan di bedrock didominasi oleh Silika (>40%)
dan Magnesia (>30%). Proses pengkayaaan Ni terjadi karena adanya proses leaching

6
dimana elemen-elemen yang mudah larut dan punya mobilitas tinggi terutama SiO2 dan
MgO dilarutkan oleh air, sehingga %Ni yang tinggal di profile jadi lebih tinggi (>2%).
Proses leaching yang efektif biasanya terjadi pada daerah tropis, dimana curah
hujan tinggi dan banyak vegetasi yang membentuk lingkungan asam. Morfologi yang
"gentle" termasuk plateua karena sirkulasi air bagus untuk "mencuci/mengeluarkan"
Silika dan Magnesia. Jika terlalu terjal, hasil pelapukan akan tererosi sehingga profile
yang akan dihasilkan tipis, dan jika terlalu landai seperti di lembah/dataran rendah maka
sirkulasi air kurang bagus. Struktur geologi yang intensif karena penetrasi air ke bedrock
akan lebih efektif.
Proses leaching membentuk profile Limonit (bagian atas/zona oksidasi) dan
Saprolit (bagian bawah/zona reduksi) dimana pada lapisan Limonit, proses pelapukan
sudah sangat lanjut sehingga hampir semua Silika dan Magnesia sudah tercuci. Sisa-sisa
struktur/tekstur batuan sudah boleh dikatakan hilang (semua lapisan bedrock sudah jadi
tanah). Lapisan Limonit mengandung Fe yang sangat tinggi karena memang Fe sangat
suka pada lingkungan oksidasi. Pada lapisan Saprolit boleh dikatakan setengah lapuk,
dimana masih ditemukan sisa-sisa batuan dasar. Kandungan Ni tertinggi akan didapat
pada zona Saprolit karena Ni lebih stabil di zona reduksi.

2.5 Proses Penambangan Nikel

Endapan nikel laterit terbentuk karena proses pelapukan dari batuan ultramafik
yang terbentang dalam suatu singkapan tunggal terbesar di dunia seluas lebih dari
120km x 60km. Sejumlah endapan lainnya tersebar di provinsi Sulawesi Tengah dan
Sulawesi Tenggara, seperti pada PT. Bintang Delapan Mineral. Operasi penambangan
nikel biasanya digolongkan sebagai tambang terbuka dengan tahapan sebagai berikut:
a. Pemboran: Pada jarak spasi 25 – 50 meter untuk mengambil sampel batuan dan
tanah guna mendapatkan gambaran kandungan nikel yang terdapat di wilayah
tersebut.
b. Pembersihan dan Pengupasan: Lapisan tanah penutup setebal 10 – 20 meter
yang kemudian dibuang di tempat tertentu ataupun dipakai langsung untuk
menutupi suatu wilayah purna tambang.
c. Penggalian: Lapisan bijih nikel yang berkadar tinggi setebal 5 – 10 meter dan
dibawa ke tempat pengolahan.

7
2.6 Pengolahan Bijih Nikel Dan Metode Ekstraksi

Secara umum, mineral bijih di alam ini dibagi dalam 2 (dua) jenis yaitu mineral
Sulfida dan mineral Oksida. Begitu pula dengan bijih nikel, ada Sulfida dan ada Oksida.
Masing-masing mempunyai karakteristik sendiri dan cara pengolahannya pun juga tidak
sama.
Proses pengolahan bijih nikel pada PT. Bintang Delapan Mineral meliputi
beberapa tahap yaitu, pengeringan, reduksi, peleburan atau smelting, converting dan
granulation. Contoh pengolahan di bawah merupakan pengolahan bijih nikel melalui jalur
pyrometalurgi. Pengolahan nikel dengan jalur pyrometalurgi yaitu proses yang
melibatkan temperatur tinggi. Skematika tahapan proses pengolahan bijih nikel laterit
dengan cara pyrometalurgi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.4 Skema Pengolahan Nikel dengan


Jalur Pyrometalurgi

2.6.1 Proses Pengeringan/Drying


Proses pengeringan merupakan tahap awal pengolahan bijih nikel yang dilakukan
dengan menggunakan rotary dryer. Umumnya digunakan minyak residu sebagai bahan
bakar untuk menghasilkan sumber panas. Bahan bakar disemprotkan dari arah
ujung dan samping dapur pengering. Pada tahap ini, bijih nikel yang awalnya memiliki

8
kadar air sekitar 35% setelah dikeringkan kadar airnya menjadi sekitar 20%. Setelah
pengeringan, bijih nikel dikirim dan simpan di dalam gudang.
2.6.2 Proses Reduksi/Reduction
Setelah mengalami pengeringan dengan kadar air 20%, kemudian bijih nikel
diumpan ke dalam rotary kiln untuk direduksi. Pada tahap awal, kadar air bijih nikel akan
berkurang menjadi 0%. Kemudian bijih nikel akan mengalami proses reduksi. Proses
reduksi akan mengkonversi bijih nikel oksida menjadi logam nikel dan logam besi. Bahan
reduktor atau pereduksi adalah gas CO dan H2 (Gas Hidrogen). Gas reduktor ini
dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna minyak residu. Pada tahap ini ditambahkan
juga Batubara dan di akhir proses ditambahkan Sulfur cair.
Produk tahap ini biasa disebut dengan calcine/kalsin. Kalsin yang dihasilkan
kemudian dibawa ke proses berikutnya, yaitu proses peleburan yang dilakukan dalam
electric furnace atau tungku listrik.
2.6.3 Proses Peleburan/Smelting
Pada tahap ini, calcine akan dilebur di dalam tungku lebur yaitu electric furnace.
Kalsin dilebur menjadi matte yang memiliki kualitas tertentu. Selain nikel laterit, pada
tahap ini juga dihasilkan slag/pengotor. Tahap ini menghasilkan nikel laterit yang
mengandung nikel sekitar 27%. Matte cair ditampung dalam ladle untuk selanjutnya
ditransfer menuju converter.
2.6.4 Proses Pemurnian/Converting
Proses converting adalah proses peningkatan kadar nikel dalam matte cair yang
dihasilkan dari dapur listrik electric furnace. Kadar nikel naik setelah proses converting,
sedangkan kadar besi dalam matte cair turun. Jadi, proses converting merupakan proses
pemurnian nikel laterit cair. Converting dilakukan dalam Top Blown Kaldo Type Rotary
Converter (TBRC) atau dalam Pierce Smith Converter.
Pada tahap ini, kadar nikel dalam matte cair ditingkatkan sehingga mencapai
kadar nikel sekitar 78%. Sedangkan kadar besi menjdai 0,7%. Proses pemurnian
dilakukan dengan menambahkan udara dan Silika sebagai fluks atau bahan imbuh.
2.6.5 Proses Granulasi/Granulating
Proses granulasi merupakan tahapan akhir dari pengolahan bijih nikel menjadi
matte. Matte cair dari proses converting ditransfer menggunakan ladle ke lokasi proses
granulasi. Pada proses ganulasi, matte cair disemprot dengan air bertekanan tertentu.
Matte cair membeku dalam bentuk granul-granul atau partikel-partikel kecil.

9
Proses pyrometalurgi merupakan proses yang mengonsumsi energi yang tinggi
dikarenakan kebutuhan energi untuk mengeringkan bijih nikel dan energi untuk
melelehkan padatan hingga 1600°C. Biasanya mengunakan bahan bakar fosil dan listrik.
Titik leleh padatan merupakan fungsi ratio SiO2/MgO dan perbedaan kandungan Fe2O3
dalam umpan padatan. Bijih yang memiliki titik leleh yang tinggi (SiO2/MgO ratio either
<2 or >2.5) sangat cocok untuk memproduksi Ferronikel. Bijih nikel yang memiliki rasio
SiO2/MgO yang intermediet (2,5-3,5) sangat korosif pada jalur furnace dan
membutuhkan flux agar dapat dilelehkan dengan baik.
Proses pyrometalurgi sangat cocok untuk bijih yang kaya akan Garnierit atau
jenis Saprolit. Bijih ini mengandung Cobalt (Co) dan besi yang lebih rendah dari laterit
jenis Limonit, sedangkan batasan umpan proses ini adalah ratio Ni/Co sebesar 40. Secara
konvensional, proses pyrometalurgi berlangsung dengan cara mengeringkan bijih,
kemudian dikalsinasi dalam rotary kiln dengan keberadaan karbon dan dilelehkan di
furnace.
Pada proses pyrometalurgi, dilakukan reduksi pellet bijih nikel laterit dengan
menggunakan rotary kiln. Ore yang akan direduksi menggunakan parameter proses
reduksi terbaik yaitu temperatur reduksi 1100°C dengan holding time 1 jam yang
sebelumnya sudah melalui proses crushing hingga mencapai diameter 6-15 mm. Proses
reduksi bijih nikel laterit dalam rotary kiln dilakukan dengan tujuan meningkatkan kadar
Fe (besi) dan Ni (nikel) yang ada di dalam bijih. Rotary kiln yang digunakan untuk proses
reduksi dalam proses ini menggunakan bahan bakar Batubara.
Para pakar berpendapat bahwa proses pengolahan dengan menggunakan jalur
pyrometalurgy memiliki capital cost yang rendah dibandingkan hydrometalurgy.
Kelemahan dari proses ini adalah tidak bisa mengambil Cobalt murni. Pada umumnya,
proses ini menjadi tidak ekonomis karena harga bijih yang mahal.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Endapan nikel laterit merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan ultramafik
pembawa Ni-Silikat. Umumnya terdapat pada daerah dengan iklim tropis sampai dengan
sub-tropis. Pengaruh iklim tropis di Indonesia mengakibatkan proses pelapukan yang
intensif, sehingga beberapa daerah di Indonesia bagian timur memiliki endapan nikel
laterit.
Nikel Laterit ditambang dengan menggunakan metode “open pit” dengan proses
meliputi eksplorasi, perencanaan tambang, land clearing (top soil removal), pembukaan
tambang, overburden & waste removal, proses penambangan hingga reklamasi. Setelah
diperoleh bijih nikel, maka akan dilakukan proses pengolahan dengan tujuan untuk
membebaskan mineral berharga dari mineral pengotornya.
Metode ekstraksi pada bijih nikel terbagi atas tiga jenis yaitu, jalur pyrometalurgy
(proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur tinggi), jalur hydrometalurgy (proses
ekstraksi yang dilakukan pada temperatur yang relatif rendah dengan media cairan), dan
jalur electrometalurgy (proses ekstraksi yang melibatkan penerapan prinsip elektrokimia,
baik pada temperatur rendah maupun pada temperatur tinggi). Proses pengolahan pada
bijih nikel terdiri dari beberapa tahap yaitu, pengeringan, reduksi, peleburan atau
smelting, converting dan granulation.

3.2 Saran

Pada penyusunan laporan selanjutnya, sebaiknya materi lebih dikembangkan dan


penjelasan mengenai setiap jalur ekstraksi logam dapat dijelaskan secara lebih detail.
Hal ini bertujuan agar dapat diketahui perbandingan antara ketiga jalur ekstrasksi
tersebut (pyrometalurgy, hydrometalurgy, maupun electrometalurgy) baik dari proses
dan tahapan-tahapannya ataupun dari segi kelebihan dan kekurangannya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, ilham latif. 2015. Studi hasil output ‘crusing and grinding’ pada unit pengolahan
stockpile di PT. BDM, Morowali, Sulawesi Tengah. Makassar: Universitas
Hasanuddin.

Arrasyi, bangsawan. 2016. Evaluasi Biaya Operasional Dan Kebutuhan Alat Muat-
Angkut Untuk Pengupasan Tanah Penutup di PT. BDM Fatufia, Bahodopi,
Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Bandung: Universitas islam Bandung.

Hadi, qodri putra dkk. 2014. Endapan nikel laterit. Bandung: ITB.

Israh, sawito saleh dkk. 2014. Makalah Metode Penambangan Open Cut/Open Mine.
Gowa: Universitas Hasanuddin.

Thomson, J. E., and Williams, Bowel. 1959. The myth of the Sudbury lopolith (Ontario):
Canadian Mining Jour.

12

Anda mungkin juga menyukai