Anda di halaman 1dari 8

SEMINAR MANAJEMEN BIAYA

LIFE CYLCE COSTING : STRATEGIC COST MANAGEMENT


AND THE VALUE CHAIN

KELOMPOK 3
anggota :
Devinda Sari 1610536018
Dwi Kiki Intan Sari 1610536021
Tisa Tantri 1610536033
Annisa Ghasanni Y. 1610536049

DOSEN PENGAMPU : SRI DEWI EDMAWATI, SE, M.Si, Akt

JURUSAN AKUNTANSI INTAKE DIII


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
0
PENDAHULUAN

Pesatnya perkembangan dunia usaha yang bersaing untuk meraih keunggulan


kompetitif memotivasi manajemen perusahaan untuk terus berinovasi agar perusahaan
mampu bertahan dan unggul dalam persaingan pasar yang sangat ketat. Bagi manajemen
perusahaan yang bersaing di kelas dunia, tidaklah cukup hanya memperoleh informasi biaya
periodik yang dihasilkan dari sistem akuntansi tradisional. Hal yang lebih penting adalah
manajemen perlu informasi product life cycle costs yang memungkinkan manajemen
melakukan strategic cost analysis pada saat mempertimbangkan biaya untuk berbagai
tahapan hidup suatu produk, apakah itu untuk peluncuran produk baru, penghentian produk
yang ada dan menganalisis keuntungan produk.

1
PEMBAHASAN

LIFE CYCLE COSTING


Defenisi Life Cycle Costing
Life cycle costing adalah salah satu metode atau teknik manajemen yang ditawarkan untuk
mengidentifikasi dan memonitor biaya produk atau jasa selama siklus hidupnya dalam rangka
penghitungan biaya yang lebih akurat dan lebih mendukung manajemen dalam pengambilan
keputusan. Defenisi life cycle costing menurut Mulyadi (2001) adalah biaya yang
bersangkutan dengan produk selama daur hidupnya, yang meliputi biaya pengembangan
(perencanaan, desain, pengujian), biaya produksi, (aktivitas pengubahan sumber daya
menjadi produk jadi), dan biaya dukungan logistik (iklan, distribusi, maintenance, dan
sebagainya). Product life cycle costing merupakan sistem akuntansi biaya yang menyediakan
informasi biaya produk bagi manajemen untuk memungkinkan manajemen memantau biaya
produk selama daur hidup produknya. Perkembangan dalam tiap daur hidup produk
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap biaya yang terjadi.

Life Cycle Product


Agar dapat memahami life cycle costing maka perlu memahami terlebih dahulu
mengenai life cycle product. Menurut Mulyadi (2001), daur hidup produk adalah waktu suatu
produk mampu memenuhi kebutuhan konsumen sejak lahir sampai diputuskan atau
dihentikan pemasarannya. Siklus hidup produk dimulai dari tahap konsep, desain, produksi,
servis hingga suatu produk tidak dapat digunakan lagi. Secara sederhana, product life cycle
adalah siklus dimana produk tersebut ada, dimulai dari proses conception hingga produk
tersebut dihentikan. Didalam product life cycle terdapat dua orientasi yaitu producer oriented
(mengarah kepada eksistensi bentuk dan brand dari produk) dan customer oriented
(mengarah kepada eksistensi unit spesifik dari produk tersebut). Dari kedua orientasi ini
dapat disimpulkan konsep:
1. Revenue producing life, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan oleh sebuah produk
dalam menghasilkan pendapatan untuk perusahaan
2. Consumable life, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan sebuah produk dalam
memenuhi kebutuhan pelanggan.

2
Dalam product life cycle setiap siklus akan menghabiskan biaya mulai dari: find, acquire,
transfer, sales, usage. Produser barang dan jasa mempunyai dua focus dalam product life
cycle yaitu:
1. Marketing viewpoint, menggambarkan pola penjualan secara umum dari sebuah
produk selama melewati siklus hidupnya yang berbeda.

Terdapat empat tahapan product life cycle dalam marketing viewpoint:


 Tahap pengenalan produk (introduction stage)
Dalam tahap pertama terdapat sedikit persaingan, dan penjualan perlahan-lahan
mengalami peningkatan karena pelanggan mulai sadar akan adanya produk atau
jasa baru. Biaya relatif tinggi karena tingginya pengeluaran untuk riset &
pengembangan dan biaya modal untuk memasang fasilitas produksi dan upaya
pemasaran. Harga relatif tinggi karena adanya diferensiasi produk dan biaya tinggi
pada tahap ini serta jenis atau variasi produk terbatas.
 Tahap pertumbuhan (growth).
Penjualan mulai tumbuh secara cepat dan variasi produk meningkat. Produk sedang
menikmati manfaat dari adanya diferensiasi. Persaingan semakin meningkat dan
harga mulai lunak.
 Tahap Kematangan (maturity).
Pada tahapan ini penjualan terus meningkat, tetapi dengan tingkat kenaikan yang
menurun. Ada pengurangan persaingan dan variasi produk. Harga juga tetap lunak,
dan diferensiasi tidak lagi penting. Persaingan berdasarkan biaya, persaingan
kualitas dan fungsionalitas tidak dapat diubah.
 Tahap Penurunan (decline).
Penjualan mulai menurun, demikian pula jumlah pesaing. Harga menjadi stabil.
Menekankan pada kembalinya diferensiasi. Perusahaan yang dapat bertahan adalah
perusahaan yang dapat melakukan diferensiasi pada produk mereka,
mengendalikan biaya, kualitas pengiriman yang baik dan pelayanan yang baik.

3
Pengendalian terhadap biaya dan jaringan distribusi yang efektif merupakan kunci
untuk terus dapat bertahan.

2. Producing viewpoint, yaitu aktivitas yang dilakukan pada kegiatan produksi dimulai
dari aktifitas research and development, aktivitas produksi dan aktivitas logistic.
Tahapan siklus hidup produk akan berubah pada tiap-tiap aktivitas yang dilakukan.
Pada production viewpoint ini lebih menekankan pada life-cycle cost, mengingat
market viewpoint lebih menekankan pada sales revenue.

Life-cyle cost adalah semua biaya yang berhubungan dengan produk selama siklus
hidupnya. Biaya tersebut meliputi research (konsep produk), pengembangan
(perencanaan, desain, dan pengujian), produksi (aktivitas konversi) dan dukungan
logistik (iklan, distribusi, garansi, layanan pelanggan, layanan produk, dan lainnya).
Kurva diatas menunjukkan hubungan daur hidup produk dengan biaya yang serap.
Dapat diketahui bahwa 90% atau lebih biaya berhubungan dengan produk yang
dilakukan selama tahap pengembangan dari siklus hidup produk. Berarti bahwa
sebagian besar biaya yang akan dikeluarkan telah ditentukan oleh sifat dari desain
produk dan proses yang diperlukan untuk menghasilkan desain tersebut.

Komponen Life Cycle Costing

4
Copy Gambar life cycle costing di file “LCC Materi PAKAI”

Life cycle costing memberikan perspektif jangka panjang, karena mempertimbangkan


semua biaya selama siklus hidup produk atau jasa. Dimana manajer memperhatikan total
biaya selama siklus hidup keseluruhan yang biasanya dipisahkan menjadi tiga komponen,
yaitu biaya hulu seperti riset dan pengembangan, desain yang membuat prototype, pengujian,
teknis, dan pengembangan kualitas, lalu biaya produksi seperti pembelian, biaya produksi
langsung, biaya produksi tidak langsung dan biaya hilir seperti pemasaran dan distribusi
pengemasan, pengangkutan, dan promosi. Biaya hulu dan hilir dapat dikelola dengan cara
meningkatkan hubungan dengan supplier dan distributor dan cara yang paling penting adalah
desain produk dan proses produksi.

1. Biaya Hulu, terdiri dari research and development serta desain, yaitu seluruh biaya
yang masuk ke dalam siklus penelitian, perencanaan, perancangan dan pengujian.
Bagian ini memegang peranan yang penting karena sebagian besar biaya yang
bersangkutan dengan produk telah ditentukan selama tahap pengembangan dalam
daur hidup produk. Pada siklus ini juga wajib diperhatikan mengenai kecepatan dalam
pengenalan produk. Kecepatan ini akan berdampak positif dan kumulatif dalam
perencanaan yang inovatif, perbaikan atas kualitas, dan reduksi biaya. Karena manajer
mempertimbangkan biaya hulu dan hilir maka pengambilan keputusan pada tahap
desain merupakan sesuatu yang penting. Keputusan pada tahap desain membuat
perubahan komitmen pada rencana produksi, pemasaran dan layanan yang ada. Biaya
desain mempengaruhi sebagian besar lainnya yang dikeluarka selama siklus produk
tersebut. Beberapa faktor penentu pada tahap desain, yaitu:
 Mempercepat waktu peluncuran ke pasar
 Menurunkan biaya layanan/perbaikan yang diharapkan
 Mempermudah produksi
 Merencanakan dan mendesain proses

2. Biaya Produksi, meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi
yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang

5
siap untuk dijual. Biaya produksi ini masih menitik beratkan pada perhitungan yang
menggunakan akuntansi biaya tradisional. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang
tidak dapat dihindari tetapi dapat diprediksi dalam menghasilkan suatu barang. Proses
produksi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan
peralatan, sehingga setiap input dapat diproses dan kemudian diubah menjadi sebuah
output berupa barang atau jasa, dan akhirnya dapat didistribusikan kepada end user.
Besarnya biaya produksi merupakan besarnya beban yang diperhitungkan atas
pemakaian fator-faktor produksi berupa bahan baku, tenaga kerja, serta peralatan dan
mesin untuk menghasilkan suatu produk.

3. Biaya Hilir, yaitu biaya dukungan logistik (marketing & distribution dan customer
service), biaya ini merupakan biaya terakhir dalam siklus hidup produk, yaitu biaya
atas sejumlah kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam mendukung penjualan
produknya. Biaya ini mencakup biaya yang diserap pada kegiatan promosi,
pemasaran, pendistribusian, pelayanan konsumen, garansi, maintenance, dan lain-lain.
Setelah selesai proses produksi, sebuah perusahaan tentu akan menjual produk atau
jasanya kepada pelanggan, dimana hal ini memungkinkan perusahaan untuk
memperoleh keuntungan (profit margin) yang telah ditetapkan dan diharapkan.

Manfaat analisis Life Cycle Costing

1. Untuk meningkatkan kesadaran biaya. Penerapan life cycle costing akan


meningkatkan aktivitas mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan oleh item,
sehingga bisa dilakukan progam pengurangan biaya.

2. Seluruh biaya hidup evaluasi. Life cycle cost memungkinkan evaluasi pilihan bersaing
berdasarkan seluruh biaya hidup.

3. Memaksimalkan pendapatan. Dengan menerapkan life cycle costing operasi dan biaya
pemeliharaan berkurang tanpa scarifying kinerja alat produksi melalui analisis
parameter kinerja dan cost driver.

4. Memahami latar belakang teoritis nilai waktu uang dan analisis risiko serta
dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan.

STRATEGIC COST MANAGEMENT


VALUE CHAIN

6
7