Anda di halaman 1dari 4

Author : Muhamad Ibnu Hasan, S.Kep.

Ns,
Mahasiswa Magister Keperawatan,
Konsentrasi Keperawatan Dewasa
Fakultas Kedokteran,
Universitas Diponegoro Semarang
Dosen Pembimbing : Dr. Meidiana Dwidiyanti,
Dosen Magister Keperawatan,
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro Semarang
Opini :

Visi Bersama (Shared vision) dalam Transformasi Leadership

Program Pendidikan Ners Diploma IV Keperawatan

Perawat merupakan profesi yang senantiasa berkembang guna meningkatkan standart

profesionalismenya. Pengembangan profesi perawat dilakukan dengan meningkatkan standart

pendidikan akademik, profesi dan vokasional perawat. Pada tahun 2016, muncul kontroversi

ditengah upaya pengembangan pendidikan profesi dan vokasional perawat, yang dilatarbelakangi

oleh terbitnya SK MENRISTEK DIKTI RI Nomor 239/KPT/I/2016 tentang pembukaan Program

Studi Profesi Ners bagi lulusan diploma IV Keperawatan. Kebijakan tersebut dinilai bertentangan

dengan kebijakan Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 yang mengatur sistem

pendidikan nasional saat ini, termasuk didalamnya kebijakan pengaturan pendidikan profesi yang

hanya diperuntukan bagi lulusan sarjana.

Program Profesi Ners DIV Keperawatan

Sistem pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk pendidikan keperawatan diatur dalam

sistem pendidikan nasional Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. Sistem pendidikan tinggi di

Indonesia dikategorikan menjadi pendidikan vokasional, pendidikan akademik dan pendidikan

profesi. Pendidikan profesi merupakan jenjang pendidikan setelah program sarjana yang

mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.
Hasil wawancara dengan Dr. Kusnanto, Skp., M. Kes, wakil dekan I Fakultas Keperawatan

Unair dan pengurus AIPNI (asosiasi institusi pendidikan Ners Indonesia) menjelaskan bahwa

pendidikan profesi pada dasarnya untuk lulusan sarjana, bukan untuk pendidikan vokasi (diploma).

Kebijakan pembukaan pendidikan profesi bagi diploma IV keperawatan adalah case program dan

merupakan amanah dari Permenpan 25 tahun 2014, bahwa tertanggal 31 Desember 2018 lulusan

diploma IV keperawatan harus sudah dihilangkan. Kebijakan tersebut membuat AIPNI melakukan

analisis terhadap kurikulum diploma IV keperawatan. Hasil analisis tersebut berupa adanya

change kurikulum, dari diploma IV menjadi pendidikan akademik sarjana, dimana dilakukan

penambahan sejumlah 22 – 24 sistem kredit semester (SKS) yang belum terpenuhi di pendidikan

diploma IV keperawatan.

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan dalam pertemuan pengelola

institusi pendidikan tenaga kesehatan di Yogyakarta juga menjelaskan kebijakan tersebut

merupakan upaya penataan tenaga keperawatan berdasarkan kebutuhan pelayanan dan pengaturan

kerangka kerja kualifikasi perawat diploma III dan BN (Bachelor Nurse) yang didasarkan atas

kesepakatan Pemerintah dengan On Nursing Services (MRA) pelayanan keperawatan di wilayah

Asia Tenggara dan Asean Mutual Recognition Arrangement On Nursing Services (AFAS) pada

tahun 2006.

Visi Bersama (Shared vision) dalam Transformasi Leadership

SK MENRISTEK DIKTI RI Nomor 239/KPT/I/2016 diterbitkan berdasarkan amanat

Permenpan 25 tahun 2014. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menerapkan pengaturan kerangka

kerja kualifikasi perawat menjadi tenaga perawat diploma III dan BN (Bachelor Nurse) guna

mencapai layanan kesehatan yang berkualitas dan mantap. Undang-Undang Keperawatan no 38


tahun 2014 yang selama ini dijadikan pedoman bagi perawat juga menjelaskan bahwa dalam

menjalankan tugasnya, perawat terdiri atas klasifikasi perawat profesi dan perawat vokasi. Perawat

profesi adalah perawat dengan lulusan program profesi ners dan ners spesialis sedangkan perawat

vokasi adalah perawat dengan lulusan diploma III keperawatan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah dan persatuan perawat nasional

Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi perawat pada hakekatnya memiliki visi yang sama,

yaitu menciptakan standarisasi perawat dalam kualifikasi perawat profesi dan vokasi di Indonesia.

Visi bersama (shared vision) ini merupakan bentuk dukungan dan interaksi mitra kerja PPNI dalam

hal ini Pemerintah guna meningkatkan standar profesionalisme perawat melalui pengembangan

pendidikan profesi Ners bagi perawat dengan strata diploma IV dan sarjana keperawatan yang

masih belum Ners.

Kase (2008) menjelaskan bahwa visi bersama (shared vision) merupakan pemahaman umum

tentang prinsip panduan, termasuk misi, tujuan yang diharapkan, perilaku, nilai dan hasil akhir

yang dikembangkan dan digunakan oleh organisasi. Visi bersama membantu anggota tim fokus

pada keadaan akhir sambil tetap memberi ruang pribadi dan inovasi tim, kreativitas dan

antusiasme, sehingga tujuan utama dalam suatu transformasional leadership dapat tercapai, yaitu

mencapai hasil yang luar biasa dan menampilkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing

komponen penyusunnnya.

James MacGregor Burns (1978) memberikan konsep pemimpin transformasional sebagai

pemimpin yang mampu menstimulasi dan mengilhami anggotanya untuk bersama-sama mencapai

hasil yang luar biasa dan menampilkan potensi yang mereka miliki. Suatu upaya menggambarkan
dan menjelaskan visi yang menarik dan akan membangkitkan semangat tim serta mengilhami

anggotanya untuk berfokus pada visi bersama (shared vision) dan tujuan yang telah disepakati.

Konsep visi bersama (shared vision) dalam transformasi leadership yang sudah tercipta di

dunia keperawatan hendaknya dapat terus dikelola dan dioptimalkan dengan baik sehingga dapat

tercipta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan profesionalisme perawat sebagai penyedia

layanan kesehatan di lini terdepan.