Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

MATA KULIA PANCASILA


Prananpancasila pada orde lama

Disusun Oleh :
Kelompok 3
 Darmawan
 Guraji
 Rangga Bayu P
 Iwan Setyawan
 Opi puspitasari
 M Faizin
PROGRAM STUDI PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
2016 - 2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, berkat limpahan
Rahmat dan Taufiq-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan
salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw.,
beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau sampai akhir jaman.
Penulis mengucapkan dan menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dosen Pengasuh Mata Kuliah
“Pancasila”, yakni Bapak Dosen Abdul sakban Spd. Mpd, yang telah memberikan
pengetahuan kepada penulis terutama tentang mata kuliah ini, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul Pancasila Masa Orde Lama ini sesuai
dengan waktunya.
Walaupun penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan
makalah ini, penulis menyadari betul bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan
karena keterbatasan kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya hanya kepada Allah kita berserah diri dan semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, dan penulis khususnya, dan mudah-mudahan
Allah selalu memberikan Ridho-Nya, Amien Ya Rabbal 'Alamin.
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................ i

KATA PENGANTAR .............................................................. ii

DAFTAR ISI .............................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .......................................................... 3

A. Keberadaan Pancasila di Masa Orde Lama ...................... 3

B. Dinamika Perdebatan Ideologis Islam dan Pancasila di Masa

Orde Lama ............................................................................. 5

BAB III KESIMPULAN .......................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................... 8


BAB I
PENDAHULUAN

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya merupakan


perwujudan dari nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri yang diyakini
kebaikan dan kebenarannya. Pancasila digali dari budaya bangsa sendiri yang
sudah ada, tumbuh, dan berkembang berabad-abad lamanya. Oleh karena itu,
Pancasila adalah khas milik bangsa Indonesia sejak keberadaannya sebagai sebuah
bangsa. Pancasila merangkum nilai-nilai yang sama yang terkandung dalam adat-
istiadat, kebudayaan, dan agama-agama yang ada di Indonesia. Dengan demikian,
Pancasila sebagai pandangan hidup mencerminkan jiwa dan kepribadian bangsa
Indonesia.
Pancasila mulai dibicarakan sebagai dasar negara mulai tanggal 1 Juni 1945
dalam sidang BPPK oleh Ir. Soekarno dan pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila
resmi dan sah menurut hukum menjadi dasar negara Republik Indonesia.
Kemudian mulai Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Ketetapan MPRS No.
XX/MPRS/1966 berhubungan dengan Ketetapan No. I/MPR/1988 No.
I/MPR/1993, Pancasila tetap menjadi dasar falsafah Negara Indonesia hingga
sekarang.
Akibat hukum dari disahkannya Pancasila sebagai dasar negara, maka
seluruh kehidupan bernegara dan bermasyarakat haruslah didasari oleh Pancasila.
Landasan hukum Pancasila sebagai dasar negara memberi akibat hukum dan
filosofis; yaitu kehidupan negara dari bangsa ini haruslah berpedoman kepada
Pancasila. Bagaimana sebetulnya implementasi Pancasila dalam sejarah Indonesia
selama ini dan pentingnya upaya untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila
yang setelah reformasi mulai ditinggalkan demi tegaknya persatuan dan kesatuan
NKRI.
Penetapan Pancasila sebagai dasar negara dapat dikatakan mulai pada masa
orde lama, tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah Indonesia baru
memproklamirkan diri kemerdekaannya. Apalagi Soekarno akhirnya menjadi
presiden yang pertama Republik Indonesia.
Walaupun baru ditetapkan pada tahun 1945, sesungguhnya nilai-nilai yang
terkandung di dalam Pancasila disarikan dan digali dari nilai-nilai budaya yang
telah ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pencetus dan penggali Pancasila
yang pertama adalah Soekarno sendiri. Sebagai tokoh nasional yang paling
berpengaruh pada saat itu, memilih sila-sila yang berjumlah 5 (lima) yang
kemudian dinamakan Pancasila dengan pertimbangan utama demi persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi negara dan bangsa wajib
diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan bernegara. Dalam mewujudkan
Pancasila melalui kebijakan ternyata tidaklah mulus, karena sangat dipengaruhi
oleh pimpinan yang menguasai negara, sehingga pengisian kemerdekaan dengan
nilai-nilai Pancasila menampilkan bentuk dan diri tertentu.
BAB II

PANCASILA MASA ORDE LAMA

A. Keberadaan Pancasila di Masa Orde Lama


Pada masa Orde lama, Pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang
berkembang pada situasi dunia yang diliputi oleh tajamnya konflik ideologi. Pada
saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri diliputi oleh kekacauan dan
kondisi sosial-budaya berada dalam suasana transisional dari masyarakat terjajah
(inlander) menjadi masyarakat merdeka. Masa orde lama adalah masa pencarian
bentuk implementasi Pancasila terutama dalam sistem kenegaraan. Pancasila
diimplementasikan dalam bentuk yang berbeda-beda pada masa orde lama.
Terdapat 3 periode implementasi Pancasila yang berbeda, yaitu periode 1945-1950,
periode 1950-1959, dan periode 1959-1966.
Pada periode 1945-1950, implementasi Pancasila bukan saja menjadi
masalah, tetapi lebih dari itu ada upaya-upaya untuk mengganti Pancasila sebagai
dasar negara dengan faham komunis oleh PKI melalui pemberontakan di Madiun
tahun 1948 dan oleh DI/TII yang akan mendirikan negara dengan dasar islam. Pada
periode ini, nilai persatuan dan kesatuan masih tinggi ketika menghadapi Belanda
yang masih ingin mempertahankan penjajahannya di bumi Indonesia. Namun
setelah penjajah dapat diusir, persatuan mulai mendapat tantangan. Dalam
kehidupan politik, sila keempat yang mengutamakan musyawarah dan mufakat
tidak dapat dilaksanakan, sebab demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi
parlementer, dimana presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara, sedang
kepala pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri. Sistem ini menyebabkan
tidak adanya stabilitas pemerintahan. Kesimpulannya walaupun konstitusi yang
digunakan adalah Pancasila dan UUD 1945 yang presidensiil, namun dalam
praktek kenegaraan system presidensiil tak dapat diwujudkan.
Pada periode 1950-1959, walaupun dasar negara tetap Pancasila, tetapi
rumusan sila keempat bukan berjiwakan musyawarah mufakat, melainkan suara
terbanyak (voting). Sistem pemerintahannya yang liberal sehingga lebih
menekankan hak-hak individual. Pada periode ini persatuan dan kesatuan
mendapat tantangan yang berat dengan munculnya pemberontakan RMS, PRRI,
dan Permesta yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Dalam bidang politik,
demokrasi berjalan lebih baik dengan terlaksananya pemilu 1955 yang dianggap
paling demokratis. Tetapi anggota Konstituante hasil pemilu tidak dapat menyusun
UUD seperti yang diharapkan. Hal ini menimbulkan krisis politik, ekonomi, dan
keamanan, yang menyebabkan pemerintah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959
untuk membubarkan Konstituante, UUD 1950 tidak berlaku, dan kembali kepada
UUD 1945. Kesimpulan yang ditarik dari penerapan Pancasila selama periode ini
adalah Pancasila diarahkan sebagai ideology liberal yang ternyata tidak menjamin
stabilitas pemerintahan.
Pada periode 1956-1965, dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin.
Demokrasi bukan berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin adalah
nilai-nilai Pancasila tetapi berada pada kekuasaan pribadi presiden Soekarno.
Terjadilah berbagai penyimpangan penafsiran terhadap Pancasila dalam konstitusi.
Akibatnya Soekarno menjadi otoriter, diangkat menjadi presiden seumur hidup,
politik konfrontasi, menggabungkan Nasionalis, Agama, dan Komunis, yang
ternyata tidak cocok bagi NKRI. Terbukti adanya kemerosotan moral di sebagian
masyarakat yang tidak lagi hidup bersendikan nilai-nilai Pancasila, dan berusaha
untuk menggantikan Pancasila dengan ideologi lain. Untuk memberi arah
perjalanan bangsa, beliau menekankan pentingnya memegang teguh UUD 45,
sosialisme ala Indonesia, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin dan kepribadian
nasional. Hasilnya terjadi kudeta PKI dan kondisi ekonomi yang memprihatinkan.
Walaupun posisi Indonesia tetap dihormati di dunia internasional dan integritas
wilayah serta semangat kebangsaan dapat ditegakkan. Kesimpulan yang ditarik
adalah Pancasila telah diarahkan sebagai ideology otoriter, konfrotatif dan tidak
member ruang pada demokrasi bagi rakyat.
Pada masa Orde lama, Pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang
berkembang pada situasi dunia yang diliputi oleh tajamnya konflik ideologi. Pada
saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri diliputi oleh kekacauan dan
kondisi sosial-budaya berada dalam suasana transisional dari masyarakat terjajah
(inlander) menjadi masyarakat merdeka. Masa orde lama adalah masa pencarian
bentuk implementasi Pancasila terutama dalam sistem kenegaraan. Pancasila
diimplementasikan dalam bentuk yang berbeda-beda pada masa orde lama.
Terdapat 3 periode implementasi Pancasila yang berbeda, yaitu:
1. Periode 1945-1950.
Konstitusi yang digunakan adalah pancasila dan UUD 1995 yang presidensil,
namun dalam praktek kenegaraan sistem presidensil tak dapat diwujudkan. Setelah
penjajah dapat diusir, persatuan mulai mendapat tantangan. upaya–upaya untuk
menggati pancasila sebagai dasar negara dengan faham komunis oleh PKI mulai
memberontak di madium tahun 1948 dan oleh DI/TII yang yang akan mendirikan
negara dasar islam.

2. Periode 1950-1959
Penerapan pancasila selama priode ini adalah pancasila diarahkan sebagai
ideology liberal yang ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintahan. walaupun
dasar negara tetap pancasila, tetapi rumusan sila keempat bukan berjiwa
musyawarah mufakat, melaikan suara terbanyak (voting). dalam bidang politik,
demokrasi berjalan dengan baik dengan terlaksananya pemilu 1955 yang dianggap
paling demokratis.

3. Priode 1956-1965
Dikenal sebagai priode demokrasi terpimpin. demokrasi bukan berada pada
kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin adalah nilai-nilai pancasila tetapi
berada pada kekuasaan pribadi presiden soekarno. terjadilah berbagai
penyimpangan penafsiran terhadap pancasila dalam konstitusi. akibanya soekarno
menjadi otoriter, diangkat menjadi persiden seumur hidup, politik konfrontasi, dan
menggabungkan nasionalis, agama, dan komunis, yang ternyata tidak cocok bagi
NKRI. terbukti adanya kemerosotan moral di berbagai masyarakat yang tidak lagi
hidup bersendikan nila-nilai pancasila, dan berusaha untuk menggatikan pancasila
dengan ideologi yang lain. dalam mengimplentasikan pancasila, bungkarno
melakukan pemahaman pancasila dengan paradikma yanga disebut USDK. untuk
memberi arah perjalanan bangsa, beliau menekankan pentingnya memegang teguh
UUD 45, sosialisme ala indonesia, demokrasi terpinpin, ekonomi terpinpin, dan
kepribadian nasional. hasilnya terjadi kudeta PKI dan kondisi ekonomi yang
memprihatinkan.
Di setiap masa, pancasila mengalami perkembangan terutama dalam
mengartikan Pancasila itu sendiri. Pada masa orde lama yaitu pada masa kekuasaan
presiden Soekarno, Pancasila mengalami ideologisasi. Pada masa ini pancasila
berusaha untuk dibangun, dijadikan sebagai keyakinan, kepribadian bangsa
Indonesia. Presiden Soekarno, pada masa itu menyampaikan ideologi Pancasila
berangkat dari mitologi atau mitos, yang belum jelas bahwa pancasila dapat
mengantarkan bangsa Indonesia ke arah kesejahteraan. Tetapi Soekarno tetap
berani membawa konsep Pancasila ini untuk dijadikan ideologi bangsa Indonesia.
Soekarno di dalam menjalankan Pancasila tidak berjalan dengan mudah. Banyak
tantangan yang dihadapi, yaitu muncul dari kelompok nasionalis-religius yang
belum menerima Pancasila. Mereka masih menginginkan sila pertama dari
Pancasila adalah “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”. Dan yang paling besar menolak Pancasila adalah Kahar
Muzakar, yang selanjutnya memberntuk DI/TII sebagai perlawanan terhadap
pemerintah dan untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.
Selain itu, kelompok nasionalis-komunis, PKI, yang menginginkan negara
Indonesia menjadi negara komunis. PKI menganggap tuhan tidak ada. Sedangkan
negara Indonesia mengakui keberagaman agama yang ada di Indoensia. Ini berarti
negara Indonesia percaya adanya tuhan. Tetapi di dalam perkembangannya,
Presiden Soekarno lebih cenderung ke komunis dan tidak lagi bersifat nasionalis.
Ini menjadi salah satu bukti penyelewengan Soekarno terhadap Pancasila.
Penyelewengan yang lain adalah Soekarno menerapkan Demokrasi terpimpin,
yaitu kekuasaan pemerintahan ada di tangan Soekarno. Padahal demokrasi yang
benar adalah demokrasi yang dipegang dan dikendalikan oleh rakyat bukan oleh
penguasa. Dan juga Soekarno mengeluarkan pernyataan bahwa presiden menjabat
seumur hidup. Ini berarti negara Indonesia akan mengalami keotoriterian seorang
penguasa.

B. Dinamika Perdebatan Ideologis Islam dan Pancasila di Masa Orde Lama


Dinamika perdebatan ideologi antara kelompok Islam dengan Pancasila
adalah wajah dominan perpolitikan nasional dari tahun 1945-1965. Bahkan
pertikaian itu dilanjutkan pada masa Orde Baru sampai Orde Reformasi ini. Pada
dasarnya hal ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan kalangan Islam atas
penghapusan Piagam Jakarta dari Pembukaan UUD 1945, apalagi ketika penguasa
(negara) menggunakan Pancasila sebagai alat untuk menekan kalangan Islam
tersebut.
Hal ini tampak ketika akhir tahun 1950-an, Pancasila sudah tidak lagi
merupakan kompromi atau titik pertemuan bagi semua ideologi sebagaimana yang
dimaksud Sukarno. Ini karena Pancasila telah dimanfaatkan sebagai senjata
ideologis untuk mendelegitimasi tuntutan Islam bagi pengakuan negara atas Islam.
Bahkan secara terang-terangan Sukarno tahun 1953 mengungkapkan
kekhawatirannya tentang implikasi-implikasi negatif terhadap kesatuan nasional
jika orang-orang Islam Indonesia masih memaksakan tuntutan mereka untuk
sebuah negara Islam, atau untuk pasal-pasal konstitusional atau legal, yang akan
merupakan pengakuan formal atas Islam oleh negara.
Kekhawatiran Sukarno memang beralasan, apalagi ketika rentang tahun
1948 dan tahun 1962 terjadi pemberontakan Darul Islam melawan pemerintah
pusat. Serangan pemberontakan bersenjata yang berideologi Islam di Jawa Barat,
Sulawesi Selatan, dan Aceh meski akhirnya dapat ditumpas oleh Tentara Nasional
Indonesia, tetap saja menjadi bukti kongkret dari ‘ancaman Islam’. Bahkan atas
desakan AH. Nasution, kepala staf AD, tahun 1959, Sukarno mengeluarkan Dekrit
5 Juli 1959 untuk kembali kepada UUD 1945 dan menjadikannya sebagai satu-
satunya konstitusi legal Republik Indonesia. Perdebatan persoalan ideologi tahun-
tahun 1959-an dianggap telah menyita energi, sementara masalah lain belum dapat
diselesaikan. Apalagi periode 1959 sampai peristiwa 30 September 1965
merupakan masa paling membingungkan pemerintah, dengan munculnya kekuatan
PKI yang berusaha menggulingkan pemerintahan.
Era ini disebut sebagai Demokrasi terpimpin, sebuah periode paling labil
dalam struktur politik yang justru diciptakan oleh Sukarno. Pada era ini juga
Sukarno membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi, karena dituduh terlibat
dalam pemberontakan regional berideologi Islam. Dalam periode Demokrasi
Terpimpin ini, Sukarno juga mencoba membatasi kekuasaan semua partai politik,
bahkan pertengahan 1950-an, Sukarno mengusulkan agar rakyat menolak partai-
partai politik karena mereka menentang konsep musyawarah dan mufakat yang
terkandung dalam Pancasila. Dalam rangka menyeimbangkan secara ideologis
kekuatan-kekuatan Islam, nasionalisme dan komunisme, Sukarno bukan saja
menganjurkan Pancasila melainkan juga sebuah konsep yang dikenal sebagai
NASAKOM, yang berarti persatuan antara nasionalisme, agama dan komunisme.
Kepentingan-kepentingan politis dan ideologis yang saling berlawanan antara PKI,
militer dan Sukarno serta agama (Islam) menimbulkan struktur politik yang sangat
labil pada awal tahun 1960-an, sampai akhirnya melahirkan Gerakan 30 S/PKI
yang berakhir pada runtuhnya kekuasaan Orde Lama.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Pada periode 1945-1950, implementasi Pancasila bukan saja menjadi
masalah, tetapi lebih dari itu ada upaya-upaya untuk mengganti Pancasila
sebagai dasar negara dengan faham komunis oleh PKI melalui pemberontakan di
Madiun tahun 1948 dan oleh DI/TII yang akan mendirikan negara dengan dasar
islam.

2. Pada periode 1956-1965, dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin.


Demokrasi bukan berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin
adalah nilai-nilai Pancasila tetapi berada pada kekuasaan pribadi presiden
Soekarno. Terjadilah berbagai penyimpangan penafsiran terhadap Pancasila
dalam konstitusi. Akibatnya Soekarno menjadi otoriter, diangkat menjadi
presiden seumur hidup, politik konfrontasi, menggabungkan Nasionalis, Agama,
dan Komunis, yang ternyata tidak cocok bagi NKRI.

3. Dinamika perdebatan ideologi antara kelompok Islam dengan Pancasila


adalah wajah dominan perpolitikan nasional dari tahun 1945-1965.
DAFTAR PUSTAKA

http://orphalese.wordpress.com/pancasila-masa-orde-lama.html.

http://www.scribd.com/pancasila-dalam-3-orde-kepemimpinan.html

http://123nyren.wordpress.com/implementasi-pancasila.htm

Salam B, Filsafat Pancasilaisme. Rineka Cipta, Jakarta, 1996.


Soesmadi, Hartati, Pemikiran tentang Filsafat Pancasila, 1992, Cetakan Ke-2.