Anda di halaman 1dari 12

Bina Hukum Lingkungan

P-ISSN 2541-2353, E-ISSN 2541-531X


Volume 1, Nomor 2, April 2017
PERKUMPULAN
PEMBINA HUKUM LINGKUNGAN INDONESIA DOI: 10.24970/jbhl.v1n2.17
Indonesian Environmental Law Lecturer Association

METODE KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DALAM EVALUASI


RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA BARAT
METHOD OF STRATE IC ENVIRONMENTAL ASSESSMENT IN EVALUATION OF
SPATIAL PLAN OF WEST JAVA PROVINCE
Dadang Epi Sukarsa*

ABSTRAK

P emerintah daerah Provinsi Jawa Barat ketika mengadakan evaluasi RTRW diwajibkan
membuat KLHS sebagaimana kewajiban Pemerintah Daerah Provinsi yang diatur dalam
Pasal 15 ayat (2) UUPPLH 2009. Pelaksanaan KLHS dilakukan dengan menggunakan berbagai
metode ilmiah yang komprehensif dan/atau kompleks, yang dalam beberapa hal hanya dapat
dilakukan oleh para pakar di bidangnya masing-masing. Peneliti mengangkat permasalahan
bagaimana metode KLHS terhadap aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
dalam evaluasi RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029, dengan menggunakan metode
pendekatan yuridis-normatif yang bersifat deskriptif-analitis. Berdasarkan hasil penelitian,
meskipun banyak pilihan metode KLHS dalam penyusunan dan atau evaluasi RTRW, namun
berdasarkan beberapa literatur, belum ada metode yang secara spesifik diterapkan secara baku
dalam implementasi KLHS untuk penyusunan dan atau evaluasi RTRW. Cara pelaksanaan
KLHS di Indonesia, sebaiknya menggunakan pendekatan yang didasarkan pada kebutuhan
(tailor-made approach) dengan kajian yang komprehensif. Sehingga setiap pelaksana KLHS
dapat menentukan sendiri metodologi yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan studi KLHS.
Kata Kunci: metode, KLHS, tata ruang

ABSTRACT

W
2009.
est Java Provincial Government when conducting evaluation of R RW is obliged to make SEA
as the obligation of Provincial Government as regulated in Article paragraph (2) UUPPLH
implementation of SEA is done by using various comprehensive and / or complex scientific
method, which in some cases can only Conducted by experts in their respective fields. researcher
raised the problem of how SEA method to the aspect of environmental carrying capacity and capacity
in evaluation of West Java Provincial R RW Year 2009-2029, using descriptive-analytical method of
juridical-normative approach. Based on the results of the research, although there are many choices of
SEA methods in the preparation and / or evaluation of the RSP, but based on some literature, no method
has been specifically applied in the implementation of SEA for the preparation and / or evaluation of the
RSP. How SEA implementation in Indonesia should use a tailor-made approach with a comprehensive
study. So that each SEA implementer can determine the methodology that suits the purpose and needs
of the SEA study.
Keywords: method, SEA, spatial

*
Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung, Email: de_sukarsa@yahoo.co.id
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
220

PENDAHULUAN keterkaitan antar sektor, antar wilayah, dan

R encana Tata Ruang Wilayah (RTRW) global-lokal. Nilai ini juga bermakna holistik
Provinsi sebagai produk Kebijakan, dengan adanya keterkaitan analisis antar
Rencana, Program (KRP) di tingkat provinsi, komponen fisik-kimia, biologi dan sosial
seringkali menjadi sumber persoalan ekonomi.
lingkungan hidup terutama dalam Keseimbangan (equilibrium) bermakna
penyusunan struktur dan pola ruang. Oleh agar penyelenggaraan KLHS senantiasa
karena itu, agar program pembangunan, dijiwai keseimbangan antar kepentingan,
khususnya proyek-proyek pembangunan seperti antara kepentingan sosial-ekonomi
nantinya tidak terlalu menimbulkan persoalan dengan kepentingan lingkungan hidup,
lingkungan hidup, maka menurut Undang- kepentingan jangka pendek dan jangka
Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang panjang dan kepentingan pembangunan
Penataan Ruang (UUPR) penyusunan RTRW pusat dan daerah.
harus memperhatikan Daya Dukung dan Keadilan (justice) dimaksudkan agar
Daya Tampung Lingkungan (DDDTL), yang penyelenggaraan KLHS menghasilkan
dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun kebijakan, rencana dan/atau program
2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan yang tidak mengakibatkan marjinalisasi
Lingkungan Hidup (UUPPLH 2009) sekelompok atau golongan tertentu
merupakan salah satu kajian yang harus dimuat masyarakat karena adanya pembatasan akses
dalam dokumen Kajian Lingkungan Hidup dan kontrol terhadap sumber-sumber alam,
Strategis (KLHS). KLHS adalah rangkaian modal atau pengetahuan.
analisis yang sistematis, menyeluruh, dan
partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip Keharusan membuat KLHS dalam
pembangunan berkelanjutan telah menjadi penyusunan dan atau evaluasi RTRW yang
dasar dan terintegrasi dalam pembangunan memuat DDDTL, misalnya terkait dengan
suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, Daya Dukung Sumber Daya Air (DD-SDA),
dan/atau program.1 dan muatan dampak atau risiko lingkungan
seperti Daya Tampung Beban Pencemaran Air
Tiga nilai penting dalam penyelenggaraan (DTBPA) seringkali menjadi persoalan yang
KLHS yang mencerminkan penerapan saling terkait dengan isu strategis lingkungan
prinsip pembangunan berkelanjutan adalah hidup dan pembangunan berkelanjutan dari
keterkaitan (interdependency), keseimbangan waktu ke waktu.
(equilibrium) dan keadilan (justice)2.
Menurut UUPR, jangka waktu RTRW
Keterkaitan (interdependency) adalah (nasional, provinsi, kabupaten/kota)
dimaksudkan agar penyelenggaraan adalah 20 tahun, dan dapat ditinjau
KLHS menghasilkan kebijakan, rencana kembali satu kali dalam lima tahun.3 Dalam
atau program yang mempertimbangkan penjelasannnya UUPR menyebutkan bahwa

Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
1

Hidup.
2
Atiek Koesrijanti dan Laksmi Wijayanti, “Buku Pegangan Kajian Lingkungan Hidup Strategis”, Deputi Bidang
Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Bekerjasama dengan ESP-DANIDA, 2007, hlm. 9.
3
Pasal 20 ayat (3) dan (4) UUPR
221 Bina Hukum Ligkungan
Volume 1, Nomor 2, April 2017

peninjauan kembali RTRW merupakan penataan ruang nasional, sehingga diganti


upaya untuk melihat kesesuaian antara dengan peraturan daerah yang baru yaitu
RTRW dan kebutuhan pembangunan yang Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010
memperhatikan perkembangan lingkungan Tentang RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun
strategis dan dinamika internal, serta 2009-2029. RTRW Provinsi Jawa Barat
pelaksanaan pemanfaatan ruang. Hasil memiliki jangka waktu perencanaan 20 tahun
peninjauan kembali RTRW Provinsi berisi dan berfungsi sebagai matra spasial RPJPD,
rekomendasi tindak lanjut sebagai berikut: dan berkedudukan sebagai pedoman RPJMD.
a) perlu dilakukan revisi karena adanya Pada tahun 2014 RTRW Provinsi Jawa Barat
perubahan kebijakan dan strategi nasional telah memasuki tahun ke-5 masa pelaksanaan
yang mempengaruhi pemanfaatan ruang rencana (pemanfaatan ruang).
wilayah provinsi dan/atau terjadi dinamika Berkaitan dengan kewajiban Pemerintah
internal provinsi yang mempengaruhi Daerah Provinsi sebagaimana diatur dalam
pemanfaatan ruang provinsi secara mendasar; Pasal 15 ayat (2) UUPPLH 2009, maka Pemda
atau b) tidak perlu dilakukan revisi karena Provinsi Jawa Barat diwajibkan membuat
tidak ada perubahan kebijakan dan strategi KLHS untuk evaluasi RTRW. Memang pada
nasional dan tidak terjadi dinamika internal saat penyusunan RTRW Provinsi Jawa Barat,
provinsi yang mempengaruhi pemanfaatan baik RTRW tahun 2003 maupun RTRW 2009-
ruang provinsi secara mendasar. Dinamika 2029 tidak dilakukan KLHS terlebih dahulu.
internal provinsi yang mempengaruhi Proses penyusunan RTRW Provinsi Jawa Barat
pemanfaatan ruang provinsi secara mendasar, 2009-2029 dimulai sejak tahun 2008 hingga
antara lain, berkaitan dengan bencana alam proses penetapan pada tahun 2010, telah
skala besar dan pemekaran wilayah provinsi menggunakan pertimbangan-pertimbangan
dan kabupaten/kota yang ditetapkan lingkungan sebagai dasar pengambilan
dengan peraturan perundang-undangan. keputusan kebijakannya. Pertimbangan-
Peninjauan kembali dan revisi dalam waktu pertimbangan dimaksud, sesuai dengan yang
kurang dari 5 (lima) tahun dilakukan apabila diamanatkan UUPR bahwa penyusunan
terjadi perubahan kebijakan nasional dan RTRW wajib memperhatikan aspek DDDTL
strategi yang mempengaruhi pemanfaatan bagi pembangunan. Namun, dalam
ruang provinsi dan/atau dinamika internal perkembangannya substansi RTRW Provinsi
provinsi yang tidak mengubah kebijakan dan Jawa Barat 2009-2029 banyak menimbulkan
strategi pemanfaatan ruang wilayah nasional. pergeseran dalam pertimbangan
Peninjauan kembali dan revisi rencana tata lingkungannya. Atas dasar hal tersebut, dan
ruang wilayah provinsi dilakukan bukan dengan mempertimbangkan pelaksanaan
untuk pemutihan. Peninjauan kembali RTRW yang sampai saat ini telah memasuki
RTRW Provinsi dilakukan dengan terlebih tahun ke-7, banyak hal yang pasti harus
dulu dilakukan melalui penetapan tentang diperhatikan dalam kegiatan peninjauan
peninjauan kembali RTRW. kembali RTRW terkait dengan prinsip-prinsip
Peneliti mengambil contoh Perda Provinsi pembangunan berkelanjutan yang harus
Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 Tentang menjadi dasar dan terintegrasi dalam KRP
RTRW Provinsi Jawa Barat yang dipandang RTRW Provinsi Jawa Barat yakni melalui
sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan KLHS.
pengaturan penataan ruang dan kebijakan
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
222

Sesuai ketentuan peninjauan kembali pangan; 5) sumber daya air (SDA); 6) sumber
sebagaimana diatur dalam UUPR dan daya energi; 7) lingkungan permukiman; 8)
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun lingkungan industri; 9) perhubungan; 10)
2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan pencemaran udara dan perubahan iklim5.
Ruang, bahwa peninjauan kembali RTRW
dapat dilakukan dalam waktu satu kali Metode penelitian

P
dalam 5 tahun, maka kegiatan peninjauan enelitian ini akan dibatasi pada
kembali RTRW dengan melakukan KLHS permasalahan bagaimana metode KLHS
sesuai ketentuan UUPPLH 2009 menjadi terhadap aspek daya dukung dan daya
peluang untuk memastikan apakah prinsip tampung lingkungan hidup dalam evaluasi
pembangunan berkelanjutan telah menjadi RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-
dasar dan terintegrasi dalam KRP RTRW 2029. Untuk meneliti hal tersebut, peneliti
Provinsi Jawa Barat. menggunakan metode pendekatan yuridis-
KLHS untuk evaluasi RTRW Provinsi normatif yang bersifat deskriptif-analitis.
Jawa Barat yang dibuat pada tahun 2014 Metode penelitian ini sudah lazim dilakukan
telah melakukan Kajian DDDTL dan dalam penelitian hukum (normatif) dengan
mengidentifikasi dampak dan/atau risiko maksud untuk menggambarkan (deskriptif)
lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh norma atau kaidah hukum dalam suatu
RTRW Provinsi Jawa Barat yang sudah peraturan perundang-undangan (peraturan-
berjalan. Lingkup DDDTL pada KLHS peraturan) yang menjadi pusat kajian,
untuk evaluasi RTRW Provinsi Jawa Barat yaitu peraturan perundang-undangan yang
tercantum dalam BAB V Dokumen Laporan mengatur metode kajian KLHS. Data yang
Akhir KLHS. Lingkup DDDTL tersebut digunakan untuk dianalisis adalah data
adalah4: Daya Dukung Lahan Konservasi; sekunder berupa bahan-bahan hukum primer,
Daya Dukung Lahan Pangan; Daya Dukung sekunder, dan tersier.
Lahan Permukiman; Daya Dukung Lahan
Industri; Daya Dukung Sumber Daya Air (DD- PEMBAHASAN
SDA); Daya Tampung Beban Pencemaran Metode KLHS
Lingkungan (DTBPL); dan Daya Dukung
Transportasi.
Untuk mengidentifikasi dampak dan/atau
P elaksanaan KLHS dilakukan dengan
menggunakan berbagai metode ilmiah
yang komprehensif dan/atau kompleks, yang
risiko lingkungan hidup yang ditimbulkan dalam beberapa hal hanya dapat dilakukan
oleh RTRW Provinsi Jawa Barat yang sudah oleh para pakar di bidangnya masing-
berjalan, Tim KLHS Provinsi Jawa Barat masing. Hal ini dilakukan dengan tujuan
melakukan kajian terhadap isu-isu strategis untuk mengkaji beberapa isu spesifik yang
lingkungan hidup RTRW Provinsi Jawa dianggap penting dan sangat berisiko apabila
Barat. Isu-isu strategis tersebut adalah: 1) diputuskan tanpa kajian ilmiah dan tidak
penataan ruang; 2) sumber daya hutan dan sesuai prosedur. Identifikasi isu strategis
lahan; 3) sumber daya pesisir; 4) sumber daya pembangunan berkelanjutan dilakukan

4
BPLHD Pr ovinsi Jawa Barat, Laporan Akhir Penyusunan KLHS Untuk Evaluasi R RW Jawa Barat, 2014, hlm. V.5-V.6
5
Ibid, hlm IV-1.
223 Bina Hukum Ligkungan
Volume 1, Nomor 2, April 2017

dengan melakukan kajian terhadap masing- kompleksitas KRP yang dikaji). Aplikasi
masing isu strategis yang dianggap penting metode cepat umumnya digunakan untuk
atau menjadi perdebatan antar pemangku implementasi KLHS terhadap kebijakan atau
kepentingan. rencana yang sifatnya masih umum/makro,
KLHS bukan saja merupakan proses sehingga rekomendasi yang dihasilkannya
teknokratis atau ilmiah, melainkan juga juga cenderung bersifat umum/makro.
proses politik melalui negosiasi. Dengan Apabila akan menggunakan salah satu
demikian, berbagai metode ilmiah perlu metode seperti dikemukakan di atas, misalnya
dikaji kemungkinannya untuk meningkatkan menggunakan metode penilaian cepat,
kualitas KLHS itu sendiri. Metode ilmiah ini perlu diingat bahwa metode penilaian cepat
umumnya beragam dan terus berkembang, memiliki kelemahan-kelemahan. Oleh karena
sehingga tidak ada standarisasi dan itu, beberapa hal berikut perlu diperhatikan.
keharusan untuk menerapkan satu metode Pertama, pemilihan pakar harus didasarkan
ilmiah tertentu untuk studi KLHS. Walaupun pada relevansi dengan persoalan atau isu
demikian, dalam perkembangannya ada yang memerlukan klarifikasi atau justifikasi
beberapa pilihan metode kajian yang menjadi terkait dengan KRP yang menjadi kajian.
pilihan yang dapat digunakan dalam Kedua, fasilitator agar merancang model
implementasi KLHS, antara lain sebagai diskusi partisipatif yang sekaligus kondusif
berikut6. untuk proses konsultasi dengan pemrakarsa
KRP dan pemangku kepentingan lainnya.
Metode Cepat (Quick Appraisal atau Rapid Ketiga, memilih moderator atau koordinator
Assessment) untuk masing-masing kelompok diskusi yang

M etode cepat merupakan metode kajian dianggap mampu bersikap obyektif, tidak
yang lebih mengandalkan pengalaman bersifat mendominasi diskusi, dan mampu
dan pandangan para pakar (professional menangkap penjelasan pakar/narasumber
judgement) dan cenderung bersifat kualitatif. secara memadai.
Metode ini digunakan apabila hasil analisis
tidak dimanfaatkan untuk menjelaskan solusi Metode Semi-Detil (Semi Detail Assessment)
atas masalah yang terlalu kompleks. Dengan
kata lain, kerincian dan tingkat cakupan data
tidak terlalu tinggi. Seringkali, pengambilan
M etode semi-detil dipilih apabila KRP
yang dikaji (atau dalam perumusan
KRP) tidak harus dilakukan dalam waktu
keputusan KRP membutuhkan penilaian yang pendek. Dengan kata lain, tersedia
yang cepat, waktu dan sumber daya yang ada waktu dan sumber daya yang cukup untuk
terbatas, serta tidak tersedia data yang cukup. mengumpulkan data dan informasi yang
Metode ini juga dipilih ketika suatu KRP dapat mendukung pengambilan keputusan
berada dalam tekanan publik dan perlu segera oleh para pakar. Metode penilaian semi-
mendapatkan masukan KLHS. Kelebihan dan detil adalah kajian yang memanfaatkan data
metode ini adalah prosesnya yang cepat (dapat yang telah tersedia digabungkan dengan
dilakukan dalam waktu kurang dari sebulan pengalaman dan pandangan para ahli. Metode
atau paling lama dua bulan, bergantung pada ini merupakan satu langkah lebih maju

6
Chay Asdak, Kajian Lingkungan Hidup Strategis: Jalan Menuju Pembangunan Berkelanjutan, Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 2012, 227-229.
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
224

daripada metode cepat, dimana pandangan Apabila dibandingkan dengan pelaksanaan


para pakar didasarkan pada dukungan KLHS di negara lain, salah satunya misalnya
data dan informasi yang cukup memadai, studi KLHS yang dilaksanakan di Vietnam,
sehingga keputusannya lebih akurat dan metode yang digunakan adalah analisis
dapat lebih bersifat kuantitatif. Metode ini kecenderungan (trend analysis)7. Menurut
dapat dilakukan antara dua sampai empat World Bank 2009, analisis kecenderungan
bulan, bergantung pada kompleksitas KRP mampu menghasilkan kajian (assessment)
yang dikaji. yang cukup handal dan sekaligus fleksibel,
sehingga memungkinkan dilakukannya
Metode Detil (Detail Assessment) analisis komparasi antara kondisi pada rona

M etode detil adalah kajian yang awal dan kondisi yang akan terjadi, dengan
menggunakan berbagai metode ilmiah atau tanpa rencana program pembangunan.
yang komprehensif dan kompleks yang Dalam hal ini, yang penting adalah bahwa
dalam beberapa hal hanya dapat dilakukan metodologi analisis kecenderungan dianggap
oleh para pakar di bidangnya masing-masing. efektif dan relatif mudah dilakukan untuk
Seringkali kajian konsekuensi KRP terhadap membantu para pengambil keputusan dalam
lingkungan memerlukan analisis pemodelan menentukan alternatif KRP mana yang paling
komputer yang melibatkan input data dibutuhkan.8
yang sangat besar. Atau suatu kajian yang Metode dengan kajian yang komprehensif
memerlukan wawancara terhadap banyak akan sangat bermanfaat karena menelaah
kelompok responden karena berkaitan berbagai faktor terkait dan dapat memberikan
dengan isu-isu pembangunan yang sensitif. hasil yang lebih jelas. Misalnya, pengkajian
Dengan kata lain, metode detil dilakukan pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau
untuk mengkaji beberapa isu spesifik program terhadap dampak dan/atau risiko
(terkait dengan usulan/evaluasi KRP) yang lingkungan hidup dengan menggunakan
dianggap penting dan sangat berisiko apabila alat analisis yang komprehensif seperti
diputuskan tanpa kajian ilmiah yang sesuai sistem informasi geografis (Geographic
prosedur. Pemilihan metode detil seringkali Information System/GIS), analisis bio-fisik-
didasarkan pada situasi ketika pemrakarsa kimia, analisis sosial-ekonomi-budaya, dan
KRP mempunyai data dan sumber daya yang lain-lain9. Hasil analisis kecenderungan ini
melimpah untuk melaksanakan metode ini, apabila dikombinasikan dengan metode
sementara itu tekanan publik/politik tidak sistem informasi geografi (GIS), maka dapat
terlalu mendesak untuk memutuskan KRP diperoleh gambaran visual yang menunjukkan
tersebut. Metode ini membutuhkan waktu dimensi spasial dan isu-isu kunci yang telah
yang cukup lama, yaitu berkisar antara empat dirumuskan/disepakati.10
hingga enam bulan.

7
World Bank, Strategic Environmental Assessment in East and Southeast Asia: A Progress Review and Comparison of
Country System and Cases. Sustainable Development Department, world Bank, Washington, D.C, USA, 2009. http://
www.worldbank.org., diakses tanggal 24 Januari 2015, pkl 13.00.
Chay Asdak, Op.Cit., hlm. 224.
8

9
Lihat pula Lampiran Permen LH Nomor 09 Tahun 2011.
10
Chay Asdak, Loc, Cit.
225 Bina Hukum Ligkungan
Volume 1, Nomor 2, April 2017

Selain itu, identifikasi isu strategis ke dalam penyusunan dan evaluasi RTRW,
pembangunan berkelanjutan dilakukan RPJP dan RPJM atau Penyusunan dan
dengan melakukan kajian terhadap masing- evaluasi KRP pembangunan yang berpotensi
masing isu yang dianggap penting atau menimbulkan dampak atau risiko lingkungan
menjadi perdebatan antar pemangku hidup, memuat kapasitas daya dukung dan
kepentingan. Proses kompilasi data dan daya tampung lingkungan (DDDTL) untuk
fakta dilakukan sesuai tahapan perumusan pembangunan11.
kebijakan, rencana, dan/atau program, serta Pasal 22 ayat (2) huruf d UUPR
dijadikan sarana untuk merumuskan isu-isu menjelaskan bahwa penyusunan RTRW
pembangunan berkelanjutan. Dengan kata Provinsi harus memperhatikan daya
lain, data dan informasi yang dikumpulkan dukung dan daya tampung lingkungan
pada tahap awal perumusan kebijakan, hidup (DDDTL)12. Penataan ruang yang
rencana, dan/atau program khususnya didasarkan pada karakteristik, DDDTL, serta
terkait dengan lingkungan hidup, didukung oleh teknologi yang sesuai akan
dapat dijadikan dasar (basis data) untuk meningkatkan keserasian, keselarasan, dan
merumuskan isu strategis pembangunan keseimbangan subsistem. Hal itu berarti akan
berkelanjutan; atau kajian sebaiknya dapat meningkatkan kualitas ruang yang
didahului dengan pelingkupan kajian, ada. Karena pengelolaan subsistem yang satu
misalnya lingkup wilayah, lingkup waktu berpengaruh pada subsistem yang lain dan
dan lingkup substansi perumusan alternatif pada akhirnya dapat mempengaruhi sistem
penyempurnaan terhadap kebijakan, rencana, wilayah ruang nasional secara keseluruhan,
dan/atau program dilakukan berdasarkan pengaturan penataan ruang menuntut
hasil kajian. dikembangkannya suatu sistem keterpaduan
Pelaksanaan KLHS dapat dilakukan sebagai ciri utama. Hal itu berarti perlu
dengan memanfaatkan hasil kajian dan/atau adanya suatu kebijakan nasional tentang
data dan informasi yang ada, digabungkan penataan ruang yang dapat memadukan
dengan pengalaman dan pandangan para berbagai kebijakan pemanfaatan ruang.
pakar. Pandangan para pakar didasarkan Seiring dengan maksud tersebut, pelaksanaan
pada dukungan data dan informasi yang pembangunan yang dilaksanakan oleh
cukup memadai, sehingga keputusannya Pemerintah, pemerintah daerah, maupun
lebih akurat. masyarakat harus dilakukan sesuai dengan
rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Metode Kajian Daya Dukung dan Daya Dengan demikian, pemanfaatan ruang oleh
Tampung Lingkungan siapa pun tidak boleh bertentangan dengan

U UPPLH 2009 menetapkan bahwa KLHS rencana tata ruang.


sebagai salah satu instrumen pencegahan RTRW merupakan salah satu produk
pencemaran atau kerusakan lingkungan KRP yang secara eksplisit wajib dilakukan
hidup yang wajib dibuat dan dilaksanakan KLHS seperti dinyatakan dalam Pasal 15 UU
oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah PPPLH 2009. Sementara Pasal 17 UUPPLH

11
Lihat Penjelasan Pasal 15 ayat (2) huruf b UUPPLH 2009; dan Pasal 16 huruf a UUPPLH 2009.
12
Lihat juga Pasal 19 ayat (2) UUPPLH 2009.
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
226

2009 menjelaskan, hasil KLHS menjadi dasar Permen LH Nomor 17 Tahun 2009
bagi KRP dalam suatu wilayah. Apabila menyebutkan, bahwa Penataan Ruang
hasil KLHS menyatakan bahwa DDDTL Wilayah mengatur DDDTL lahan. Daya
sudah terlampaui, maka KRP pembangunan dukung lahan adalah maksimum jumlah
tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan penduduk yang didukung oleh sumber daya
rekomendasi KLHS; dan segala usaha dan/ pada suatu wilayah tanpa menimbulkan
atau kegiatan yang telah melampaui DDDTL degradasi sumber daya tersebut. Perhitungan
tidak diperbolehkan lagi. daya dukung yang menyangkut aspek
Evaluasi RTRW Provinsi Jawa Barat 2009- penduduk merupakan hal yang sangat
2029 (Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 22 kompleks, karena tidak hanya menyangkut
Tahun 2010 Tentang RTRW Provinsi Jawa aspek fisik tetapi juga berkaitan dengan aspek
Barat tahun 2009-2029), memuat aspek kajian lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya.
DDDTL seperti diwajibkan oleh Pasal 22 Pada Lampiran Permen LH Nomor 17
ayat (2) UUPR, salah satunya adalah aspek tahun 2009, dijelaksan cara mengetahui daya
Daya Dukung Sumber Daya Air (DD-SDA) dukung lahan, yaitu melalui perbandingan
dan Daya Tampung Beban Pencemaran Air antara ketersediaan dan kebutuhan lahan
(DTBPA) yang akan digambarkan sebagai bagi penduduk yang hidup di suatu wilayah.
berikut. Dengan metode ini dapat diketahui gambaran
Kajian daya dukung lingkungan (DDL) umum apakah daya dukung lahan suatu
pada KLHS untuk evaluasi RTRW Provinsi wilayah dalam keadaan surplus atau defisit.
Jawa Barat tahun 2009-2029 mengacu Keadaan surplus menunjukkan bahwa
pada Permen LH Nomor 17 Tahun 2009 ketersediaan lahan setempat di suatu wilayah
Tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung masih dapat mencukupi kebutuhan akan
Lingkungan Hidup dalam Penentuan Ruang produksi hayati di wilayah tersebut, sedangkan
Wilayah. Menurut Permen LH Nomor 17 keadaan defisit menunjukkan bahwa
Tahun 2009, DDLH terbagi menjadi 2 (dua) ketersediaan lahan setempat sudah tidak
komponen, yaitu: a) kapasitas penyediaan dapat memenuhi kebutuhan akan produksi
(supportive capacity); dan b) kapasitas tampung hayati di wilayah tersebut. Hasil perhitungan
limbah (assimilative capacity). Penentuan daya dengan metode ini dapat dijadikan bahan
dukung lingkungan hidup dilakukan dengan masukan/pertimbangan dalam penyusunan
cara mengetahui kapasitas lingkungan alam rencana tata ruang dan evaluasi pemanfaatan
dan sumber daya untuk mendukung kegiatan ruang, terkait dengan penyediaan produk
manusia/penduduk yang menggunakan hayati secara berkelanjutan melalui upaya
ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya pemanfaatan ruang yang menjaga kelestarian
kapasitas tersebut di suatu tempat fungsi lingkungan hidup.
dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik Permen LH Nomor 17 Tahun 2009
sumber daya yang ada di hamparan ruang juga menjelaskan cara menentukan daya
yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan dukung sumber daya air (DD-SDA), yaitu
hidup dan sumber daya akan menjadi faktor melalui perbandingan antara ketersediaan
pembatas dalam penentuan pemanfaatan dan kebutuhan air bagi penduduk yang
ruang yang sesuai. hidup di suatu wilayah. Digambarkan
227 Bina Hukum Ligkungan
Volume 1, Nomor 2, April 2017

bahwa ketersediaan dan produktivitas lahan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan;
dikonversikan dengan beras, dimana besarnya c) Perbandingan antara ketersediaan dan
konsumsi beras yang diekuivalensikan dengan kebutuhan air.
besarnya jumlah penduduk merupakan DD-SDA adalah ratio ketersediaan air
cara untuk mengetahui daya dukung. Hal dibagi jumlah kebutuhan air, yang dihitung
ini juga dilakukan terhadap air, dimana air berdasarkan kondisi pada saat ini dan kondisi
dibutuhkan untuk jasa (transportasi, ruang atau proyeksi yang akan datang. Apabila
kerja, perdagangan), tempat tinggal, industri, nilai ratio 1,0 maka DD-SDA baik untuk
penampungan limbah dan tempat rekreasi. memenuhi kebutuhan air. Ketersediaan air
Teknologi dan manajemen yang menentukan dihitung berdasarkan kondisi besar debit
produksi dan produktivitas dapat digunakan baseflow atau Q80%. Apabila semua potensi
untuk meningkatkan DDDTL. Dengan air di musim hujan dan musim kemarau
metode ini dapat diketahui secara umum dihitung dan sepanjang waktu tersebut air
apakah sumber daya air di suatu wilayah ditampung dengan bendungan atau waduk,
dalam keadaan surplus atau defisit. Keadaan maka menggunakan debit air rata-rata atau
surplus menunjukkan bahwa ketersediaan Q50%13.
air di suatu wilayah tercukupi, sedangkan
keadaan defisit menunjukkan bahwa wilayah Contoh kajian DD-SDA di Kabupaten
tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan Bandung yang diadopsi oleh KLHS Provinsi
akan air. Guna memenuhi kebutuhan air, Jawa Barat untuk evaluasi RTRW Provinsi
fungsi lingkungan yang terkait dengan sistem Jawa Barat, sebagai berikut14.
tata air harus dilestarikan. Hasil perhitungan a) DD-SDA pada Q80% pada tahun 2013
dengan metode ini dapat dijadikan bahan adalah 0,56 dan proyeksi pada tahun
masukan/pertimbangan dalam penyusunan 2027 adalah 0,54. Nilai tersebut <1,0 yang
rencana tata ruang dan evaluasi pemanfaatan menunjukkan sumber daya air permukaan
ruang dalam rangka penyediaan sumber di Kabupaten Bandung di musim kemarau
daya air yang berkelanjutan. Ketersediaan saat ini kritis tidak mampu memenuhi
air ditentukan dengan menggunakan kebutuhan semua penduduk di Kabupaten
metode koefisien limpasan berdasarkan Bandung.
informasi penggunaan lahan serta data curah b) DD-SDA pada Q50% pada tahun 2013
hujan tahunan. Sementara itu, kebutuhan adalah 1,60 dan proyeksi pada tahun
air dihitung dari hasil konversi terhadap 2027 adalah 1,52. Nilai tersebut >1,0 yang
kebutuhan hidup layak. menunjukkan apabila semua air sungai
Dengan demikian, kapasitas sumber disimpan dalam waduk maka kebutuhan
daya alam bergantung pada kemampuan, air terjamin bahkan masih terdapat
ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan kelebihan air
dan air, sehingga penentuan daya dukung Kualitas air di Provinsi Jawa Barat
lingkungan hidup dilakukan berdasarkan 3 cenderung mengalami penurunan. Beberapa
pendekatan, yaitu: a) Kemampuan lahan untuk kabupaten/kota mengalami peningkatan
alokasi pemanfaatan ruang; b) Perbandingan beban pencemaran yang disebabkan oleh

13
BPLH Kabupaten Bandung, Laporan Akhir KLHS Kabupaten Badung, 2013.
14
Ibid, hlm. 42.
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
228

limbah domestik, industri, pertanian, DAS yang sudah memiliki perhitungan


perdagangan. Salah satu wilayah yang daya tampung beban pencemaran adalah
memiliki masalah tingginya beban DAS Cimanuk, DAS Cilamaya, dan DAS
pencemaran adalah Kabupaten Bandung, Bekasi, serta DAS Citarum Hulu yang ada
dengan indikator pencemar BOD dan COD. di Kabupaten Bandung. Sungai sungai yang
Kabupaten Bandung banyak terdapat industri memiliki aktifitas tinggi adalah DAS Citarum,
yang menghasilkan limbah cair dimana DAS Bekasi, DAS Cilamaya yang semuanya
sungai Citarum dan anak-anak sungainya aliran air berhilir ke Laut Jawa.16
menampung limbah dari berbagai sumber Perhitungan DTBPA anak-anak sungai
pencemar termasuk dari industri. dan induk sungai Citarum mengacu kepada
Pencemaran lingkungan akibat banyaknya Kepmen LH Nomor 110 Tahun 2003 Tentang
industri di Jawa Barat seperti Kawasan Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban
Industri di Kabupaten Karawang, Bekasi, Pencemaran Air pada Sumber Air. Perhitungan
Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung DTBPA menggunakan parameter debit air
tidak seluruhnya dilengkapi dengan IPAL, dan kualitas air. Besaran debit air berfluktuasi
atau besarnya limbah industri yang melebihi sesuai dengan kondisi musim. Demikian juga
daya tampung beban pencemaran sungai kadar kualitas air berfluktuasi bergantung
mengakibatkan kualitas air sungai menurun/ pada fluktuasi besaran beban pencemaran
rusak. yang masuk. Debit airnya ditentukan pada
Tim KLHS Provinsi Jawa Barat telah saat kondisi musim kemarau atau debit
melakukan kajian terhadap Beban Pencemaran minimal, umumnya Q90% berdasarkan
Air DAS Citarum Hulu Kabupaten Bandung hasil perhitungan statistik catatan debit
melalui KLHS untuk evaluasi RTRW Provinsi selama 5 tahun. Apabila tidak ada data
Jawa Barat. Kajian tersebut didasarkan maka menggunakan data debit minimal di
pada PP Nomor 82 Tahun 2001 Tentang musim kemarau. Analisis data hidrologi yang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian dilakukan oleh Tim KLHS Provinsi Jawa Barat
Pencemaran Air. Menurut PP tersebut, dari tiga pos pantau di Citarum Hulu adalah
daya tampung beban pencemaran adalah sebagai berikut17:
kemampuan air pada suatu sumber air, untuk a) Debit air Citarum di Majalaya adalah
menerima masukan beban pencemaran tanpa Q90% = 0.69 m3/detik.
mengakibatkan air tersebut menjadi cemar15. b) Debit air Citarum di Dayeuhkolot adalah
Oleh karena limbah penduduk, industri, Q90% = 0.60 m3/detik.
pertambangan, pertanian dan peternakan
selain harus memenuhi baku mutu air limbah c) Debit air Citarum di Nanjung Q90% = 8.77
(BMAL) juga harus memenuhi DTBPA sungai m3/detik
penampung limbah atau beban pencemaran. Hasil analisis hidrologi tersebut digunakan
Zonasi kawasan industri perlu memperhatikan untuk perhitungan DTBPA beberapa lokasi
DTBPA sungai pada kawasan tersebut. di Sungai Citarum. Jumlah DTBPA anak-

15
Pasal 1 PP Nomor 82 tahun 2001.
16
BPLHD Provinsi Jawa Barat, Laporan Akhir Penyusunan KLHS, 2014; BPLH Kabupaten Bandung, Laporan Akhir
KLHS Kabupaten Bandung, 2013.
17
Ibid.
229 Bina Hukum Ligkungan
Volume 1, Nomor 2, April 2017

anak sungai DAS Citarum hulu adalah BOD Gambar 1. DTBPA Anak Sungai di Provinsi
1.031,34 ton/tahun dan COD 8.593,52 ton/ Jawa Barat19
tahun. Anak sungai yang memiliki DTBPA
relatif tinggi adalah Cisangkuy, Ciwidey,
Cirasea, Cikapundung dan Ciwidey. DTBPA
Sungai Cisangkuy adalah yang tertinggi yaitu
BOD 289,50 ton/tahun dan COD 2.412,50 ton/
tahun. Sementara itu, DTBPA induk Sungai
Citarum di Nanjung adalah BOD 1.238,25
ton/tahun dan COD 10.318,75 ton/tahun.

Tabel 1. Daya Tampung Beban Pencemaran


Air Anak Sungai Citarum di Kabupaten KESIMPULAN DAN SARAN
Bandung18 Kesimpulan

M eskipun banyak pilihan metode KLHS


dalam penyusunan dan atau evaluasi
RTRW, namun berdasarkan beberapa
literatur, belum ada metode yang secara
spesifik diterapkan secara baku dalam
implementasi KLHS untuk penyusunan dan
atau evaluasi RTRW.
Pada kajian DDDTL, khususnya pada
kajian aspek DD-SDA, dan DTBPA untuk
evaluasi RTRW Provinsi Jawa Barat, Tim
KLHS menggunakan kajiannya berdasarkan
PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air, Permen LH Nomor 17 Tahun 2009
Tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung
Lingkungan Hidup dalam Penentuan Ruang
Wilayah dan Kepmen LH Nomor 110 Tahun
2003 Tentang Pedoman Penetapan Daya
Tampung Beban Pencemaran Air Pada
Sumber Air. Metode kajian seperti metode
cepat (quick appraisal atau rapid assessment),
metode semi-detil (semi detail assessment) atau
metode detil (detail assessment) bersifat pilihan
saja (voluntary) sehingga bisa digunakan atau
tidak bergantung pada kebutuhan.

18
Ibid.
19
Ibid.
Dadang Epi Sukarsa
Metode Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Barat
230

Saran Kementerian Lingkungan Hidup, “KLHS

M empertimbangkan bervariasinya Sebagai Solusi Daya Dukung Wilayah”,


pendekatan atau metodologi yang dapat http//www.menlh.go.id;
dimanfaatkan dalam implementasi KLHS, World Bank, Strategic Environmental
maka cara pelaksanaan KLHS di Indonesia, Assessment in East and Southeast Asia :
sebaiknya menggunakan pendekatan yang A Progress Review and Comparison of
didasarkan pada kebutuhan (tailor-made Country System and Cases. Sustainable
approach) dengan kajian yang komprehensif. Development Department, The world
Dengan demikian, memungkinkan masing- Bank, Washington, D.C, USA, 2009.
masing pelaksana KLHS dapat menentukan http://www.worldbank.org.
sendiri metodologi yang sesuai dengan tujuan Peraturan Perundang-Undangan dan
dan kebutuhan studi KLHS sehingga akan Peraturan lainnya:
sangat bermanfaat karena menelaah berbagai
faktor terkait dan dapat memberikan hasil Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
yang lebih jelas. Tentang Penataan Ruang;

  Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009


Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Daftar Pustaka
Lingkungan Hidup;
Buku dan sumber lainnya:
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
Atiek Koesrijanti dan Laksmi Wijayanti,
Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
“Buku Pegangan Kajian Lingkungan
Pengendalian Pencemaran Air;
Hidup Strategis”, Deputi Bidang Tata
Lingkungan Kementerian Negara Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Lingkungan Hidup, Bekerjasama dengan Hidup Republik Indonesia Nomor 17
ESP-DANIDA, 2007; Tahun 2009 Tentang Pedoman Penentuan
Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam
BPLH Kabupaten Bandung, Laporan Akhir
Penentuan Ruang Wilayah;
KLHS Kabupaten Badung, 2013;
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
BPLHD Provinsi Jawa Barat, Laporan Akhir
Republik Indonesia Nomor 09 Tahun
Penyusunan KLHS Untuk Evaluasi RTRW
2011 Tentang Pedoman Umum Kajian
Jawa Barat, 2014;
Lingkungan Hidup Strategis.
Chay Asdak, Kajian Lingkungan Hidup Strategis:
Jalan Menuju Pembangunan Berkelanjutan,
Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2012;