Anda di halaman 1dari 3

SKENARIO SIMULASI PENANGGULANGAN BENCANA KEBAKARAN

DI RSKB RINGROAD SELATAN

Rencana : Pelaksanaan hari Sabtu, 7 Maret 2015

Landasan pemikiran pelaksanaan di RSKB Ringroad Selatan :

1. Bencana dalam bentuk apapun, baik bencana alam maupun bencana yang berhubungan
dengan kerusakan alat maupun human error, sangat mungkin terjadi pada semua tempat
dan di setiap waktu, termasuk di RSKB Ringroad Selatan sebagai tempat pelayanan kesehatan
bagi masyarakat umum. Oleh sebab itu sangat diperlukan antisipasi dan peningkatan
kesiagsiagaan dalam berbagai program penanganan bencana yang tertuang dalam Program
Kerja Rumah Sakit.
2. RSKB Ringroad Selatan merupakan tempat pelayanan kesehatan khusus bedah bagi
masyarakat Yogyakarta khususnya di bagian selatan yang melayani masyarakat umum dengan
masalah-masalah kesehatan terutama berkaitan dengan masalah bedah.
3. Di RSKB Ringroad Selatan belum pernah dilaksanakan simulasi bencana sebelumnya. Oleh
sebab itu penting sekali diadakan simulasi untuk mengkondisikan seluruh Civitas Hospitalia
RSKB Ringroad Selatan bisa mengantisipasi dan mempunyai program yang terarah berkaitan
dengan penanganan bencana.
4. Siumulasi sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana sehingga
karyawan diharapkan dapat meminimalisir korban dan kerugian akibat bencana.

Rencana Skenario :

1. Kejadian bencana kebakaran terjadi pada malam hari pada saat shft jaga malam.
2. Setting pelaksanaan simulasi bencana kebakaran:
a. Pada saat dilakukan simulasi kebakaran, sedang dilakukan tindakan operasi cito di kamar
operasi dan aktifitas rutin di IGD serta ruang perawatan.
b. Formasi petugas jaga sebagai berikut:
- Petugas di kamar operasi : 1 dokter bedah, 2 perawat
- Petugas di IGD : 1 Dokter umum dan 1 perawat
- Petugas jaga di ruangan pasien : 2 perawat
- Petugas Satpam 1 orang
c. Formasi pasien yang saat itu berada di lokasi:
Total jumlah pasien sejumlah 14 orang
- 1 orang pasien dalam proses operasi bedah digesti.
- 1 orang pasien dengan patah tulang kaki paska KLL di IGD pro pemasangan gips, saat
kejadian pasien sedang dipasang spalk.
- Pasien di bangsal sejumlah 12 orang, 1 pasien sangat lemah dan tidak bisa duduk
sehingga harus menggunakan brankar, 2 pasien bisa duduk namun tidak mampu
berjalan sehingga harus menggunakan kursi roda, 3 pasien bisa berjalan namun
dipapah dan 6 pasien mampu berjalan sendiri (pasien untuk rencana operasi elektif).
d. Formasi penunggu pasien
- 2 orang penunggu/pengantar pasien di IGD
- 1 orang penunggu pasien yang sedang dilakukan tindakan operasi cito
- 10 orang penunggu pasien di bangsal
3. Mula – mula staf RS melakukan aktifitas rutin jaga malam. Tiba – tiba dikejutkan oleh
teriakan salah satu penunggu pasien IGD yang baru saja datang dari toilet di belakang
dengan adanya gumpalan asap dari arah ruangan dapur. terjadi konsleting listrik sehingga
memicu terjadinya kebakaran.
4. Satpam yang mendengar teriakan tersebut berlari ke arah dapur untuk memadamkan api
dan melihat kondisi yang terjadi. Sambil berlari, satpam berteriak memberikan informasi
pada petugas lain kalau terjadi kebakaran di dapur. Satpam tiba di dekat dapur mengambil
APAR, berusaha menyemprotkan APAR, namun karena api sdh terlau besar dan asap terlalu
banyak sehingga Satpam lemas sambil teriak minta tolong.
5. Sementara di depan, salah seorang Petugas mengambil alih komando dan memerintahkan
untuk dilakukan evakuasi ke tempat berkumpul bagian depan RS, sesuai kondisi masing2
pasien. Perawat di setiap ruang mengatur evakuasi dengan melibatkan keluarga pasien.
Semua evakuasi diarahkan menuju titik berkumpul. Koordinator menelpon Damkar
Kabupaten Bantul untuk meminta bantuan. Petugas menelpon Direktur untuk melaporkan
kejadian.
6. Terdengar teriakan minta tolong dari Satpam yang lemas, seorang perawat dan seorang
penunggu pasien berlari ke dapur untuk menolong dan berupaya mengevakuasi satpam yang
pingsan tersebut keluar menuju titik berkumpul.
7. Petugas pemegang Komando memerintahkan seorang perawat yang terlatih menggunakan
APAR untuk membawa dari bagian depan dan dibawa ke dapur, kemudian melakukan
pemadaman api dengan menggunakan APAR tersebut. Pemadaman berhasil dilakukan.
8. Setelah semua evakuasi dilakukan dan telah tiba di tempat berkumpul, petugas yang
bertanggung jawab melaporkan pada Direktur tentang kondisi terakhir paska evakuasi.
9. Tim simulasi mencatat waktu yang diperlukan untuk mengevakuasi pasien ke tempat
berkumpul.
10. Di tempat berkumpul, PJ pasien mendata pasien yang dievakuasi untuk memastikan tidak
ada pasien yang terjebak.

Persiapan untuk melaksanakan Simulasi :

1. Rapat koordinasi dan persiapan simulasi dilakukan dengan RSKB Ringroad pada hari Sabtu
pagi tgl 7 Maret 2015
2. Evaluasi pelaksanaan paska kegiatan simulasi

Alat yang harus disiapkan untuk simulasi:

1. Alarm Bell/Sirine (untuk tanda terjadi kebakaran ) atau tanda lainnya disiapkan oleh K3 RS
Sardjito.
2. Alat bantuan hidup dasar (baging, O2 portable, monitor/defibrillator, obat-obatan
emergensi) disediakan oleh RSKB.
3. Brankard (3 buah ) dan kursi roda (2 buah ) untuk evakuasi oleh RSKB.
4. Megaphone utk PJ memberikan komando evakuasi 1 (satu) buah oleh RSKB
5. Ambulan gawat darurat dan peralatan P3K korban evakuasi oleh RSKB.
6. Timer untuk menghitung waktu respon petugas untuk mengevakuasi pasien oleh K3 RS
Sardjito.
7. Alat-alat untuk membuat api/kebakaran (tong/kayu/solar dll) oleh K3 RS Sardjito.
8. Refill APAR 2 buah oleh K3 RS Sardjito.
9. Make up, alat medis (verban, bethadine, infus set dll) dan kostum untuk probandus pasien
oleh RSKB.
10. Dokumentasi (video/foto) oleh RSKB
11. Kertas pencatat identitas pasien di tempat berkumpul oleh RSKB.