Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti sudah menjadi kebiasaan di negara kita, tiap kali pergantian musim
tiba, wabah diare selalu menjadi hantu yang menakutkan. Demikian pula yang
terjadi sekarang ini ketika musim kemarau akan beralih ke musim hujan. Diare
hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan
kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia
bisa diserang oleh diare.
Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair bahkan
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih dari 3 kali dalam sehari. Data
nasional Departemen Kesehatan menyebutkan setiap tahunnya di Indonesia
100.000 balita meninggal dunia karena diare. Itu artinya setiap hari ada 273 balita
yang meninggal dunia dengan sia-sia, sama dengan 11 jiwa meninggal setiap
jamnya atau 1 jiwa meninggal setiap 5,5 menit akibat diare. Di Puskesmas
Bataraguru pada tahun 2010 penyakit diare termasuk urutan ke 5 dari 10 pola
penyakit terbesar dengan jumlah kasus diare sebanyak 550 penderita dan
diantaranya 184 penderita adalah anak balita.1
Diare akut berlangsung selama 3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi
selama ≥ 14 hari. Secara klinis penyebab diare terbagi menjadi enam kelompok,
yaitu infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan makanan, imunodefisiensi dan
penyebab lainnya, seperti gangguan fungsional dan malnutrisi.2 Diare merupakan
penyakit yang paling sering terjadi pada anak dibawah lima tahun dengan sering
disertai muntah, apabila tidak segera diberi pertolongan pada anak dapat
mengakibatkan dehidrasi. Rotavirus adalah penyebab utama tersering penyakit
gastroenteritis pada balita di dunia. Perkiraan terdapat 453.000 balita meninggal
setiap tahunnya.3
Diare merupakan gangguan kesehatan yang cukup sering diderita oleh anak-
anak selain infeksi saluran pernapasan atas. Besarnya angka kesakitan diare pada
balita dipengaruhi juga oleh beberapa faktor seperti balita tidak diberi ASI secara

1
penuh, kurang gizi, campak, imunodefisiensi / rendahnya daya tahan tubuh yang
memperberat diare pada balita. Sejumlah perilaku juga dapat meningkatkan resiko
diare seperti menggunakan botol susu yang tidak bersih, menyimpan makanan
pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar bakteri dari tinja, tidak
mencuci tangan setelah buang air besar dan tidak membuang tinja dengan benar.4
Hal yang menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit diare pada balita
adalah perilaku hidup masyarakat yang kurang baik dan sanitasi lingkungan yang
buruk. Diare dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara serius karena
tubuh balita sebagian besar terdiri dari air dan daging, sehingga bila terjadi diare
sangat mudah terkena dehidrasi.5
Berdasarkan data yang kami dapat di Puskesmas Suranenggala, penderita
diare pada bulan Januari sampai Juni menunjukkan jumlah yang tinggi, tercatat
sebanyak 648 balita yang datang berobat ke Puskesmas Suranenggala pada tahun
2013 karena menderita diare.
Berdasarkan uraian di atas disertai dengan tingginya angka kejadian diare di
Puskesmas Suranenggala, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
mengenai hubungan pemanfaatan air bersih untuk keperluan rumah tangga dengan
kejadian diare akut pada balita.

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari penelitian diatas, maka peneliti mengambil suatu
rumusan masalah yaitu: Apakah ada hubungan pemanfaatan air bersih untuk
keperluan rumah tangga dengan kejadian diare akut pada balita di wilayah
Puskesmas Suranenggala?

1.3 Tujuan penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menurunkan angka prevalensi kejadian diare akut pada balita di
wilayah kerja Puskesmas Suranenggala.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui hubungan antara pemanfaatan air bersih untuk
keperluan rumah tangga dengan kejadian diare akut pada balita
1.3.2.2 Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua
dengan kejadian diare akut pada balita di wilayah kerja
Puskesmas Suranenggala.
1.3.2.3 Mengetahui hubungan antara jenis pekerjaan orangtua dengan
kejadian diare akut pada balita di wilayah kerja Puskesmas
Suranenggala.
1.3.2.4 Mengetahui hubungan antara perilaku orangtua terhadap
kebersihan lingkungan dan keluarga dengan kejadian diare
akut pada balita di wilayah kerja Puskesmas Suranenggala.

1.4 Hipotesis Penelitian


H1 = Terdapat hubungan antara pemanfaatan air bersih untuk keperluan
rumah tangga dengan kejadian diare akut pada balita.
H2 = Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan
kejadian diare akut pada balita.
H3 = Terdapat hubungan antara jenis pekerjaan orangtua dengan kejadian
diare akut pada balita.

3
H4 = Terdapat hubungan antara perilaku orangtua terhadap kebersihan
lingkungan dan keluarga dengan dengan kejadian diare akut pada
balita

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Manfaat bagi ilmu pengetahuan
Hasil penulisan karya ilmiah ini mampu dijadikan sebagai salah satu
referensi bagi masyarakat berkaitan dengan pengetahuan penduduk
tentang pemanfaatan sarana air bersih dengan kejadian diare akut pada
balita.
1.5.2 Bagi masyarakat
Memberikan informasi tentang pemanfaatan sarana air bersih yang
mempengaruhi kejadian diare pada balita sehingga masyarakat dapat
melakukan upaya pencegahan kasus diare akut pada balita.
1.5.3 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan khususnya tentang pentingnya
air bersih dan pola hidup bersih dan sehat bagi kesehatan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare
2.1.1 Pengertian Diare
Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair
bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih dari 3 kali atau lebih
dalam sehari.1,13 Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, diare atau penyakit
diare adalah bila tinja mengandung air lebih banyak dari normal. Menurut
WHO diare adalah berak cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan lebih
menitik beratkan pada konsistensi tinja daripada menghitung frekuensi berak.
Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak)
peringkat pertama di Indonesia. Semua kelompok usia diserang oleh diare,
baik balita, anak-anak dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan
kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita. Menurut
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan jenisnya diare
dibagi empat yaitu :
a. Diare Akut
Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi
merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
b. Disentri
Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri
adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan
terjadinnya komplikasi pada mukosa.
c. Diare persisten
Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus
menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan
metabolisme.

5
d. Diare dengan masalah lain
Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga
disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit
lainnya.5
Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan
konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak
datangnya, dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. Sedangkan
diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.6

2.1.2 Etiologi Diare


Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam beberapa
golongan. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi.7,11
Penyebab diare secara lengkap adalah sebagai berikut:
a. Infeksi yang dapat disebabkan:
a. Bakteri, misalnya: Shigella, Salmonela, E. coli, V. cholerae, Clostridia
perfringens, Staphyiccoccus,Bacteroides.
b. Virus ,misalnya: Rotavirus, Norwalk agent
c. Parasit, misalnya: Candida, Ascaris lumbricoides, Trichhiuris trichiura,
Strongyloides stercoralis, Giardia lamblia.
b. Kerusakan mukosa usus halus
Sebagai akibat kerusakan mukosa usus halus akan terjadi defisiensi enzim
disakaridase, intoleransi gula, dan juga malabsorpsi lemak, protein,
vitamin, asam empedu, dan mineral.
c. Gangguan imunologi
Dinding usus mempunyai mekanisme pertahanan yang baik. Bila terjadi
defisiensi ‘S.Ig A’ dapat terjadi bakteri tumbuh lampau. Demikian pula
defisiensi cell mediated immunity dapat menyebabkan tubuh tidak mampu
mengatasi infeksi dan infestasi parasit dalam usus. Hal ini mengakibatkan
bakteri, virus, parasit, dan jamur yang masuk dalam usus tersebut akan
berkembang biak dengan leluasa sehingga terjadi bakteri tumbuh lampau
dan berakibat lebih lanjut berupa diare kronik dan malabsorpsi makanan. 7

6
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis
lingkungan. Faktor yang dominan adalah sarana air bersih, pembuangan
tinja dan limbah. Apabila faktor lingkungan (terutama air) tidak memenuhi
syarat kesehatan karena tercemar bakteri didukung dengan perilaku manusia
yang tidak sehat seperti pembuangan tinja tidak higienis, kebersihan
perorangan dan lingkungan yang jelek, serta penyiapan dan penyimpanan
makanan yang tidak semestinya, maka dapat menimbulkan kejadian diare.
Problema-problema kesehatan yang berkaitan dengan air muncul akibat
kurangnya persediaan dan akibat kondisi air yang sudah tercemar sampai
tingkat tertentu. Apabila di dalam air terdeteksi adanya E. coli yang bersifat
fecal, bila dikonsumsi terus-menerus akan berdampak pada timbulnya
penyakit seperti radang usus, diare, infeksi pada saluran kemih dan saluran
empedu. Adanya E. coli dalam air minum menunjukkan bahwa air minum
itu pernah terkontaminasi kotoran manusia dan mungkin dapat mengandung
patogen usus, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.8 Beberapa faktor lain
yang menjadi penyebab timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman
melalui kontaminasi makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau
kontak langsung dengan penderita.9

2.1.3 Gejala Diare


Diare merupakan keadaan di mana tinjanya encer, dan dapat
bercampur darah dan lendir. Diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras
keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan
tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian . Penyakit diare pada bayi
dan anak dapat menimbulkan dampak yang negatif, yaitu dapat menghambat
proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan
kualitas hidup anak. Gejala diare biasanya timbul yang di awali dengan
gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak
ada, dan kemudian timbul diare, tinjanya cair dan di sertai lendir atau lendir
dan darah. Pada orang yang terkena diare dapat menyebabkan terjadinya
dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, dapat pula terjadi

7
hipoglikemi, intoleransi sekunder akibat kerusakan villi mukosa usus dan
defisiensi enzim laktosa. Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang
hilang 5%. Jika cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat.10

2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah 23,24:
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Cairan yang
berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga
timbul diare.
2. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan Motilitas Usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik
usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuhan berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare.
Patogenesis Diare Akut :
1. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung.
2. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.
3. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)
4.Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare.

8
Patogenesis Diare Kronis; lebih komplek dan faktor – faktor yang
menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan
lain – lain. Diare akut mengakibatkan terjadinya :
a) Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolic dan hipokalemia.
b) Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau pra
renjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah
;perfusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosis metabolik
bertambah berat ; peredaran otak dapat terjadi, kesadaran menurun
(soporokomatosa) dan bila tak cepat diobati, penderita dapat meniggal.
c) Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan yang berlebihan
karena diare dan muntah ; kadang- kadang orang tuanya menghentikan
pemberian makanan per oral karena takut bertambahnya muntah dan
diare pada anak atau bila makanan tetap diberikandalam bentuk
diencerkan. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang
sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah
berat. Sebagai akibat hipoglekemia dapat terjadi edema otak yang dapat
mengakibatkan kejang dan koma.7

2.1.5 Pengelolaan diare akut


Sebagai akibat diare akut, anak akan kehilangan cairan (dehidrasi) dan
elektrolit. Tergantung pada banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit atau
dengan kata lain tergantung pada berapa banyak terjadinya penurunan berat
badan akan terjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat. Mengingat bahwa
diare akut bila tidak segera diobati akan menyebabkan kematian, maka
pengobatan diare akut yang paling tepat ialah rehidrasi artinya mengganti
cairan yang hilang akibat diare. Prinsip pengobatan diare yang utama ialah
rehidrasi dini dan pemberian makan dini, yang berupa :
a) Memberikan secepatnya cairan yang mengandung garam (elektrolit)
dan gula selama anak menderita diare sebanyak yang hilang melalui
tinja dan atau melalui muntah.

9
b) Air susu ibu dan makanan lain harus teteap diberikan dan jangan
dihentikan.7
Rehidrasi secara klinis dapat mengembalikan turgor kulit dan
membran mukosa yang lembab atau basah, meningkatkan pengeluaran urin,
dan menambahkan berat badan.12 Penatalaksanaan terhadap diare akut yang
biasa digunakan sekarang ini adalah larutan oral rehydration salts untuk
mencegah dan menangani dehidrasi, penerusan pemberian makan, dan
antibiotik hanya untuk kasus kolera dan disentri.13

2.1.6 Komplikasi
Diare pada balita dapat menyebabkan kematian dengan cepat karena
pada balita mudah terjadi dehidrasi yaitu kehilangan sejumlah besar air dan
elektrolit dari tubuh baik melalui tinja, muntah, panas tubuh, daya tahan
tubuh yang kurang. Daya tahan tubuh rendah disebabkan karena asupan gizi
yang kurang pada saat di dalam kandungan maupun saat dalam masa
perkembangan, asupan gizi yang tidak terpenuhi tersebut akan menghambat
pertumbuhan dan sangat mempengaruhi angka kesakitan yang tinggi di
kemudian hari. 14
Menurut Abdoerrachman dan Hendarwanto, dkk diare berakibat
pada kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai
macam komplikasi seperti 23,24:
1. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan asam - basa (asidosis metabolik, hipokalemia
dan sebagainnya).
2.Hipokalemia (dengan gejala meterorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram)
3. Hipoglikemia
4. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktosa
karena kerusakan vili mukosa usus halus.
5. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik

10
6. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan.

2.1.7 Pencegahan Diare


Pemberantasan penyakit diare dapat dilakukan dengan melibatkan
berbagai lapisan masyarakat mulai dari ibu rumah tangga, petugas kesehatan
dan masyarakat umum. Usaha pertama untuk mencegah diare adalah dengan
melakukan alih tekhnologi dari tenaga kesehatan kepada ibu rumah tangga
atau keluarga dengan mampu melaksanakan beberapa pencegahan seperti
memberikan ASI, memperbaiki makanan pendamping ASI, menggunakan
air bersih yang cukup, menggunakan jamban, membuang tinja bayi dengan
baik, dan memberi imunisasi campak.Intervensi air bersih dapat
menurunkan insiden penyakit diare sebesar 17-27%, sedangkan dampak
penyediaan jamban terhadap penurunan penyakit diare yaitu sebesar 22-
24%. Intervensi cuci tangan dapat menurunkan kejadian diare sebesar 33%.
Jika ketiga upaya tersebut dilaksanakan bersama-sama secara intensif sangat
mungkin sebagian besar penyakit diare disebabkan oleh mikroba.14

2.2 Air Bersih


Sarana penyediaan air bersih adalah bangunan beserta peralatan dan
perlengkapan yang menghasilkan, menyediakan, dan membagi-bagikan air
bersih untuk masyarakat. Masalah kekurangan jumlah air maupun kualitas
air dapat menimbulkan dampak pada kesehatan, sosial maupun ekonomi.15
Pengertian air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 416/Menkes/PER/IX adalah air yang digunakan untuk
keperluan sehari-hari dan dapat diminum setelah dimasak. Sedangkan
pengertian air minum menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII adalah air yang melalui proses
pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan
(bakteriologis, kimiawi, radioaktif, dan fisik) dan dapat langsung diminum.16
Dalam hal ini kualitas air bersih di Indonesia harus memenuhi persyaratan
yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI

11
No.173/Men.Kes/Per/VIII/77 dimana setiap komponen yang diperkenankan
berada di dalamnya harus sesuai. Pengadaan air bersih untuk keperluan air
minum, harus memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah. Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan
secara fisika, mikrobiologi, kimia, dan radioaktif. Parameter wajib
penentuan kualitas air minum secara mikrobiologi adalah total bakteri
Coliform dan Escherichia coli. Penentuan kualitas air secara mikrobiologi
dilakukan dengan Most Probable Number Test. Jika di dalam 100 ml sampel
air didapatkan sel bakteri Coliform memungkinkan terjadinya diare dan
gangguan pencernaan lain.17
Air adalah zat gizi yang merupakan bagian penting dari susunan tubuh
kita, dimana dua pertiga berat badan kita terdiri dari air, zat gizi adalah yang
dibutuhkan manusia yang antara lain karbohidrat, lemak, protein, mineral,
vitamin dan air.18
Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun mahluk
hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel
hidup, baik tumbuhan maupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air,
seperti di dalam sel tumbuhan terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel
hewan terkandung lebih dari 67%. Dari sejumlah 40 juta mil-kubik air yang
berada di permukaan dan di dalam tanah, ternyata tidak lebih dari 0,5% (0,2
juta mil-kubik) yang secara langsung dapat digunakan untuk kepentingan
manusia. Karena 97% dari sumber air tersebut terdiri dari air laut, 2,5%
berbentuk salju abadi yang baru dalam kedaan mencair dapat digunakan.
Keperluan sehari-hari terhadap air, berbeda untuk tiap tempat dan untuk tiap
tingkatan kehidupan. Yang jelas, semakin tinggi taraf kehidupan, semakin
meningkat jumlah keperluan akan air. Menurut Departemen Kesehatan di
Indonesia rata-rata keperluan air adalah 60 liter per kapita, meliputi : 30 liter
untuk keperluan mandi, 15 liter untuk keperluan minum dan sisanya untuk
keperluan lainnya.
Menurut Unus Suriawiria, perairan alami memang merupakan habitat
atau tempat yang sangat parah terkena pencemaran. Sehingga rumus kimia

12
air : H2O, merupakan rumus kimia air yang hanya berlaku untuk air bersih
seperti akuades, akuademin dan sebagainya. Sedang untuk air alami yang
berada di dalam sungai, kolam, danau, laut dan sumber-sumber lainnya akan
menjadi : H2O ditambah dengan :
- Faktor yang bersifat biotik
- Faktor yang bersifat abiotik
Faktor-faktor biotik yang terdapat dalam air terdiri dari : bakteria, fungi,
mikroalgae, protozoa, virus serta sekumpulan hewan ataupun tumbuhan air
lainnya yang tidak termasuk kelompok mikroba. Kehadiran mikroba di
dalam air mungkin akan mendatangkan keuntungan tetapi juga akan
mendatangkan kerugian. Kehadiran mikroba di dalam air dapat
menguntungkan tetapi juga dapat merugikan.
1) Menguntungkan
a. Banyak plankton, baik fitoplankton ataupun zooplankton merupakan
makanan utama ikan, sehingga kehadirannya merupakan tanda
kesuburan perairan tersebut. Jenis-jenis mikroalgae misalnya :
Chlorella, Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus, Tabellaria
b. Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai
jasad ”dekomposer”, artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan
untuk mengurai atau merombak senyawa yang berada dalam badan air.
Sehingga kehadirannya dimanfaatkan dalam pengolahan buangan di
dalam air secara Biologis.
c. Pada umumnya mikroalgae mempunyai klorofil, sehingga dapat
melakukan fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air,
kegiatan fotosintesis akan menambah jumlah oksigen, sehingga nilai
kelarutan oksigen akan naik/bertambah, ini yang diperlukan oleh
kehidupan di dalam air.
d. Kehadiran senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi dimanfaatkan
oleh jasad pemakai/konsumen. Tanpa adanya jasad pemakai
kemungkinan besar akumulasi hasil uraian tersebut dapat
mengakibatkan keracunan terhadap jasad lain, khususnnya ikan.

13
2) Merugikan
a. Yang paling dikuatirkan, bila di dalam badan air terdapat mikroba
penyebab penyakit, seperti : Salmonella penyebab penyakit
tifus/paratifus, Shigella penyebab penyakit disentribasiler, Vibrio
penyebab penyakit kolera, Entamoeba penyebab disentriamuba.
b. Di dalam air juga ditemukan mikroba penghasil toksin seperti :
Clostridium yang hidup anaerobik, yang hidup aerobik misalnya :
Pseudomonas, Salmonella, Staphyloccus, serta beberapa jenis
mikroalgae seperti Anabaena dan Microcystis.
c. Sering didapatkan warna air bila disimpan cepat berubah, padahal air
tersebut berasal dari air pompa, misal di daerah permukiman baru yang
tadinya persawahan. Ini disebabkan oleh adanya bakteri besi misal
Crenothrix yang mempunyai kemampuan untuk mengoksidasi
senyawa ferro menjadi ferri.
d. Di permukiman baru yang asalnya persawahan, kalau air pompa
disimpan. menjadi berbau (bau busuk). Ini disebabkan oleh adanya
bakteri belerang misal Thiobacillus yang mempunyai kemampuan
mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S.
e. Badan dan warna air dapat berubah menjadi berwarna hijau, biru-hijau
atau warna-warna lain yang sesuai dengan warna yang dimiliki oleh
mikroalgae. Bahkan suatu proses yang sering terjadi pada danau atau
kolam yang besar yang seluruh permukaan airnya ditumbuhi oleh
algae yang sangat banyak dinamakan blooming. Biasanya jenis
mikroalgae yang berperan didalamnya adalah Anabaena flosaquae dan
Microcystis aerugynosa.19
Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga seperti untuk air
minum, air mandi, dan sebagainya harus memenuhi persyaratan yang sudah
ditentukan peraturan internasional ataupun peraturan nasional dan setempat.
Air salah satu pembawa penyakit yang berasal dari tinja untuk sampai
kepada manusia. Supaya air yang masuk ke tubuh manusia baik berupa
minuman ataupun makanan yang menyebabkan/merupakan bibit penyakit,

14
maka pengolahan air baik berasal dari sumber, jaringan transmisi atau
distribusi adalah mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya kontak
antara kotoran sebagai sumber penyakit dengan air, untuk memutus mata
rantai penyebaran penyakit bersumber dari air, air harus terlebih dahulu
dimasak sampai mendidih untuk membunuh kuman penyakit. Untuk
keperluan air minum dibutuhkan air rata-rata sebanyak 5 liter/hari,
sedangkan secara keseluruhan kebutuhan air suatu rumah tangga untuk
masyarakat Indonesia diperkirakan sebesar 60 liter/hari. Jadi untuk negara
yang sudah maju kebutuhan akan air pasti lebih besar dari kebutuhan untuk
negara yang sedang berkembang.20
Dalam dunia kesehatan, perhatian air dikaitkan sebagai faktor
pemindah/penularan penyakit atau sebagai vehicle. Dalam hal ini E.G.
Wagner menggambarkan bahwa air berperan dalam menularkan penyakit-
penyakit saluran pencernaan makanan. Air membawa penyebab penyakit
dari kotoran (faeces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain
melalui makanan, dan minuman. Air juga berperan untuk membawa
penyebab penyakit non mikrobial seperti bahan-bahan toksik yang
terkandung di dalamnya. Penyakit-penyakit yang biasanya ditularkan
melalui air adalah Thypus abdominalis, Cholera, Dysentri basiler, Diare
akut, Poliomyelitis, Dysentri amoeba, penyakit- penyakit cacing seperti
Ascariasis, Trichiuris, parasit yang menggunakan air untuk daur hidupnya
seperti Schistosoma mansoni. 25
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Krisnawan dan Supardi tahun
2005, menyimpulkan bahwa keluarga yang memanfaatkan air bersih yang
berasal dari sumber yang konstruksi bangunannya tidak memenuhi syarat
kesehatan mempunyai risiko sebesar 2,20 kali anak usia balitanya terserang
diare berdarah dibandingkan yang memanfaatkan sumber air bersih yang
memenuhi syarat kesehatan. Sumber air bersih dengan konstruksi tidak
memenuhi syarat akan memudahkan terjadinya pencemaran air oleh kuman
penyebab. Salah satu mekanisme pencemaran terjadi sewaktu ibu mencuci
pakaian yang terkontaminasi tinja penderita di sumur.21

15
Persyaratan untuk penyediaan air bersih yang mengusahakan dari
sumur sendiri perlu memperhatikan kualitas air sumurnya dengan selalu
memperhatikan kontruksi sumur, sumber pencemar dan cara pengolahan
sebelum dikonsumsi. Sedangkan untuk yang bersumber dari PDAM, perlu
diperhatikan back siphonage dan cross conection. 25

2.3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta
interaksi antara manusia dengan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk
pengetahuan, sikap, dan tindakan. Perilaku dibentuk melalui proses dan
berlangsung dalam interaksi manusia dan lingkungan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua yaitu faktor
intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, emosi,
inovasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar.
Faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik
26
seperti iklim, social ekonomi, kebudayaan dan sebagainya
Perilaku manusia sebagai reaksi dapat bersifat sederhana maupun bersifat
kompleks. Perilaku lewat suatu proses keputusan yang diteliti dan beralasan,
dampaknya terbatas pada norma-norma subjektif atau keyakinan mengenai
apa yang orang lain inginkan agar diperbaiki. Secara sederhana teori ini
mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia
memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin
agar ia melakukan yang berhubungan dengan kesehatan. 27
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan, serta lingkungan. Perilaku terhadap lingkungan
kesehatan (environmental health behavior) adalah respon seseorang terhadap
lingkungan yang berhubungan dengan air bersih yaitu penggunaan air bersih
untuk kesehatan. Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan
proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit serta
berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. 28

16
Upaya untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat bukan hanya
sekedar meningkatkan sarana kesehatan lingkungan dan penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan, tetapi harus dibarengi dengan upaya intervensi perilaku
masyarakat maupun petugas kesehatan. Rendahnya pendidikan menyebabkan
orang tidak menyadari adanya pencemaran, baik di kota maupun di desa.
Orang menjadi terbiasa untuk menggunakan air yang tercemar untuk masak,
mandi, dan gosok gigi. 26
Pendidikan kesehatan merupakan suatu upaya intervensi perilaku agar
sarana kesehatan lingkungan yang tersedia dapat dimanfaatkan, dipelihara
dan dikembangkan oleh masyarakat. Hal ini berarti di dalam pendidikan itu
terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang
lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada individu, kelompok atau
masyarakat. Konsep ini berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia sebagai
makhluk sosial di dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup di
dalam masyarakat, selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai
kelebihan. Dalam mencapai tujuan tersebut seorang individu, kelompok atau
masyarakat tidak lepas dari kegiatan belajar. 28
Sehat merupakan investasi untuk meningkatkan produktivitas kerja guna
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena itu, kesehatan perlu dijaga,
dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta
diperjuangkan oleh semua pihak. Kondisi sehat dapat dicapai dengan
mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan
menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa
memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.29
Rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat, adalah rumah
tangga yang menjalankan perilaku hidup sebagai berikut 29 :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
2. Memberi ASI eksklusif.
3. Menimbang balita setiap bulan.
4. Menggunakan air bersih.

17
5. Mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun.
6. Menggunakan jamban sehat.
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu.
8. Makan buah dan sayur setiap hari.
9. Melakukan aktivitas gisik setiap hari.
10. Tidak merokok di dalam rumah.

18
2.4 Ringkasan Pustaka

Tabel 2.1 Ringkasan Pustaka


No Judul Peneliti Tempat Metode Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Penelitian Penelitian
1. Hubungan Antara Anjar Desa Cross Variabel bebas: faktor sosiodemografi Tidak ada hubungan antara faktor
Faktor Lingkungan dan Purwadiana Blimbing sectional meliputi pendidikan ibu, pekerjaan sosiodemografi dengan kejadian diare pada
Faktor Sosiodemografi Wulandari Kecamatan ibu, umur ibu dan faktor lingkungan balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo
dengan Kejadian Diare Sambirejo yang meliputi sumber air minum, Kabupaten Sragen, karena hasil uji statistik chi
pada Balita di Desa Kabupaten tempat pembuangan tinja, dan jenis square menunjukan bahwa nilai p > 0,05 dan
Blimbing Kecamatan Sragen lantai rumah terdapatnya hubungan antara faktor lingkungan
Sambirejo Kabupaten dengan kejadian diare pada balita di Desa
Sragen Tahun 2009 Variabel terikat: Kejadian Diare Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten
Sragen, hasil uji statistik chi square
menunjukan nilai p < 0,05.
2. Hubungan Kondisi Devi Kecamatan Cross Variabel bebas:Kondisi fasilitas Variabel yang berhubungan dengan kejadian
Fasilitas Sanitasi Dasar Nugraheni Semarang Sectional sanitasi dasar yang meliputi sumber air diare di Kecamatan Semarang Utara Kota
dan Personal Hygiene Utara Kota minum, sarana pembuangan Semarang adalah sumber air minum, sarana
dengan Kejadian Diare Semarang sampah,keberadaan jamban, sanitasi pembuangan sampah, kebiasaan mencuci
di Kecamatan jamban, SPAL dan personal hygiene tangan setelah BAB, dan kebiasaan mencuci
Semarang Utara Kota yang meliputi kebiasaan memasak tangan sebelum makan. Hasil uji statistik
Semarang makanan, kebiasaan BAB, kebiasaan menunjukan nilai p < 0,05.
mencuci tangan setelah BAB dan
kebiasaan mencuci tangan sebelum
makan.

Variabel Terikat: Kejadian Diare

19
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Variabel bebas Variabel terikat

Pendidikan orangtua

Pekerjaan orangtua
Kejadian diare akut
Sejumlah perilaku

Pemanfaatan air bersih

Gambar 3.1 Kerangka konsep

20
3.2 Variabel penelitian
Variabel penelitian menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh penulis
dalam mengukur suatu variabel yang digunakan. Terdapat dua variabel yang
digunakan dalam analisis penelitian ini.
3.2.1 Variabel independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemanfaatan sarana air
bersih. Pemanfaatan air bersih adalah penggunaan sumber air bersih yang
tersedia untuk keperluan sehari-hari. Air bersih dapat dimanfaatkan atau
digunakan oleh rumah tangga untuk minum, masak, mandi, berenang, mencuci
segala macam (seperti pakaian, alat makan, alat rumah tangga, kendaraan),
menyiram tanaman dan lain-lain. Data diperoleh dengan menggunakan
kuesioner yang diisi oleh responden.
3.2.2 Variabel dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian diare akut. Diare
adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair bahkan dapat
(3)
berupa air saja yang frekuensinya lebih dari 3 kali dalam sehari. Data
diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden dengan
diare dalam jangka waktu 3 bulan terakhir.

21
3.3 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Referensi


1. Kejadian diare Kejadian diare akut adalah suatu Kuisioner 1. Diare Nominal Wulandari AP (5)
akut keadaan dimana terjadi buang air 2. Tidak Diare
besar dengan frekuensi yang
meningkat dan konsistensi tinja
yang lebih lembek atau cair dan
bersifat mendadak datangnya, dan
berlangsung dalam waktu kurang
dari 2 minggu

22
No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Referensi
1 Pemanfaatan Penggunaan sumber air bersih Kuisioner 1. Tercemar Nominal Fordatkosu MR (30)
. air bersih yang tersedia untuk keperluan 2. Tidak
sehari-hari, yang dimanfaatkan tercemar
untuk keperluan rumah tangga
seperti minum, masak, mencuci,
dan lain-lain
2 Pendidikan Pendidikan formal terakhir yang Kuisioner 1. Rendah Ordinal Fordatkosu MR (30)
. sedang atau pernah dicapai 2. Sedang
oleh subjek 3. Tinggi
3 Pekerjaan Kegiatan pokok ibu yang Kuisioner 1. Tidak bekerja Nominal Fordatkosu MR (30)
. dilakukan setiap hari untuk 2. Bekerja
memperoleh upah atau gaji
4 Sejumlah Beberapa perilaku atau kebiasaan Kuisioner 1. Hidup tidak Nominal
. perilaku yang dilakukan oleh subyek, bersih dan sehat
misalnya mencuci tangan setelah 2. Hidup bersih
buang air besar, mencuci tangan dan sehat
sebelum makan atau menyuapi
anak, pemberian air susu ibu
secara eksklusif, kebiasaan
menggunakan jamban

23
24
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain penelitian


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional
analitik dengan desain studi cross sectional. Dalam penelitian cross-sectional
peneliti mencari hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel
tergantung (efek). Desain cross sectional diukur menurut keadaaan atau statusnya
pada waktu observasi. Jadi pada desain cross-sectional tidak ada prosedur tindak
lanjut atau follow-up dengan melakukan pengukuran sesaat.(22) Variabel dependen
(terikat) yaitu kejadian diare akut dengan variabel independen (bebas) yaitu
pemanfaatan sarana air bersih.
4.2 Lokasi dan Waktu penelitian
4.2.1 Lokasi
Penelitian akan dilaksanakan pada Puskesmas Suranenggala Kabupaten
Cirebon.
4.2.2 Waktu
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan September 2013 sampai dengan
Desember 2013
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah orangtua yang datang membawa anaknya
untuk berobat di wilayah kerja Puskesmas Suranenggala Kabupaten Cirebon
karena gangguan kesehatan pada sistem pencernaannya atau diare pada bulan
September sampai Desember 2013
4.3.2 Sampel
Penentuan besar sampel dalam penelitian ini diperoleh dari perhitungan dengan
rumus infinite dan finite. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode
consecutive sampling.

Infinite no= Z2 pq = (1,96)2 x 0,34 x 0.66


d2 (0,05)2

25
= 344,82202= 345 orang

Finite n= _n0__ = 345 ___


(1+n0 ) 1 + 345
N 648

= 345_ = 225 orang


1,53

Keterangan :

n = Besar sampel

Z2= Nilai baku distribusi normal pada  tertentu (1,96)

p = prevalensi subjek yang menderita penyakit yang diteliti

q = prevalensi subjek yang tidak menderita penyakit yang diteliti = (1-p)

d2 = Derajat akurasi yang diinginkan (0,05)

N = populasi yang akan diteliti

Setelah dilakukan penghitungan sampel diperoleh 225 sampel,


dengan pertimbangan terjadi kegagalan responden maka ditambahkan 15%
menjadi 259 sampel.

4.3.3 Kriteria Inklusi dan Ekslusi


Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah subjek yang memenuhi
kriteria pemilihan yakni kriteria inklusi dan ekslusi, dan terpilih sebagai
subjek yang akan diteliti.(22)
4.3.1.1 Kriteria Inklusi
Adapun kriteria inklusi sebagai berikut :
1. Orangtua yang memiliki balita yang bertempat tinggal di wilayah
Puskesmas Suranenggala
2. Orangtua yang membawa anak balitanya berobat ke Puskesmas
Suranenggala

26
3. Orang tua yang dapat membaca dan menulis
4. Bersedia menjadi responden

4.3.1.2 Kriteria Ekslusi


Adapun kriteria ekslusi sebagai berikut :
1. Balita yang datang berobat ke Puskesmas Suranenggala dalam keadaan
tidak sadar

4.4 Bahan dan Instrumen Penelitian


Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan
data sekunder. Data primer yang didapat melalui wawancara langsung oleh
peneliti kepada responden mengenai pemanfaatan air bersih dan kejadian diare
akut dengan alat ukur berupa kuisoner. Data sekender diperoleh dari data
Puskesmas Suranenggala mengenai berapa banyak pasien yang datang berobat
karena diare di wilayah Suranenggala Kabupaten Cirebon.

4.5 Analisis data


Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat
dan analisis bivariat.
4.5.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat, menyajikan dan
mendeskripsikan karakteristik data variabel dependen yaitu kejadian diare
akut maupun independen yaitu pemanfataan sarana air bersih, perilaku
orangtua.
4.5.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat kemungkinan adanya hubungan
yang bermakna antara variabel dependen,yaitu kejadian diare akut dengan
variabel independen yaitu pemanfaatan sarana air bersih.
Analisa bivariat ini menggunakan uji chi square dengan rumus :
2 2
X =∑(O–E)
E
Df = (b-1) (k-1)

27
Keterangan:

X2 = Chi square
O : nilai Observasi (pengamatan)
E : nilai Expected (harapan)
b : jumlah baris
k : jumlah kolom
Melalui uji statistik chi square akan diperoleh nilai p,di mana dalam
penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antar
dua variabel dikatakan bermakna jika mempunyai nilai P ≤0,05 artinya
terdapat hubungan yang bermakna antara variabel dependen dan variabel
independen. Namun sebaliknya, bila nilai P > 0,05 berarti tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara variabel dependen dan variabel
independen.

28
4.6 Alur Kerja Penelitian
Alur penelitian berisi gambar alur atau skema pelaksanakan dalam
pengambilan data.

Orangtua yang mengantar anaknya


berobat ke puskesmas

Informed Consent

Pengumpulan data

Pengambilan data primer dilakukan


dengan cara kuisioner dan data
sekunder jika diperlukan

Analisis data

Gambar 4.1 Alur Penelitian

4.7 Etika Penelitian


Tujuan etika penelitian ini adalah melindungi subjek untuk menjamin
kerahasian, identitas responden dan kemungkinan terjadinya ancaman terhadap
responden. Responden yang memenuhi kriteria inklusi akan diberikan penjelasan
mengenai penelitian. Responden diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
dengan terlebih dahulu membaca, mengerti dan memahami isi surat persetujuan
kemudian bila bersedia dipersilahkan untuk menandatangani informed consent
tersebut sebagai pernyataan persetujuan menjadi responden.
Peneliti berkewajiban untuk merahasiakan identitas responden, data yang
diperoleh dari responden dan hasil penelitian. Semua berkas yang mencantumkan

29
identitas subjek penelitian hanya digunakan untuk keperluan mengolah data dan
bila tidak digunakan lagi akan dimusnahkan.

4.8 Penjadwalan penelitian


Aktivitas penelitian ini secara keseluruhan dilaksanakan selama tujuh bulan, sejak
bulan Juli 2013 sampai dengan bulan Januari 2013

Tabel 4.1 Jadwal penelitian


Tahapan Waktu pelaksanaan
No.
Kegiatan Jun Jul Agus Sept Okt Nov Des Jan
1 Persiapan
2 Observasi
3 Kuisioner
4 Pengolahan
data
5 Konsultasi

30
BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Karakteristik Responden Penelitian


Tabel 5.1 Gambaran Karakteristik Responden Penelitian
Variabel n (%)
Usia
< 30 tahun 123 (47,49%)
30-40 tahun 115 (44,40%)
>40 tahun 21 (8,11%)
Pendidikan Terakhir
Rendah 66 (25,48%)
Sedang 181 (69,88%)
Tinggi 12 (4,53%)
Pekerjaan
Tidak Bekerja 166 (64,09%)
Bekerja 93 (35,91%)
Diare
Ya Diare 216 (83,40%)
Tidak Diare 43 (16,60%)
Penanganan Diare
Dibiarkan 0 (0%)
Diobati Sendiri 20 (7,71%)
Ke dokter atau puskesmas 239 (92,28%)
Pemanfaatan Air Bersih
Tercemar 149 (57,52%)
Tidak tercemar 110 (42,48%)
Perilaku Sehat Orangtua
Buruk 65 (25,10%)
Baik 194 (74,90%)

31
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan, diperoleh hasil
mengenai gambaran karakteristik responden meliputi: usia, pendidikan terakhir,
pekerjaan, diare, penanganan diare, pemanfaatan air bersih, dn perilaku sehat
orangtua. Pertama-tama mengenai usia, dari 259 responden didapatkan 123 orang
(47,49%) responden berusia <30 tahun, 115 orang (44,40%) responden berusia
30-40 tahun, dan 21 orang (8,11%) responden berusia >40 tahun. Kemudian
mengenai pendidikan terakhir, dari 259 responden didapatkan 66 orang (25,48%)
berpendidikan rendah, 181 orang (69,88%) berpendidikan sedang, dan 12 orang
(4,53%) berpendidikan tinggi. Kemudian mengenai pekerjaan, dari 259 responden
didapatkan 166 orang (64,09%) tidak bekerja dan 93 orang (35,91%) bekerja.
Berdasarkan perolehan data melalui kuisioner yang dibagikan kepada 259
responden , didapatkan jumlah balita yang terserang diare sebanyak 216 balita
(83,40%) dan yang tidak terserang diare sebanyak 43 balita (16,60%).
Berdasarkan penanganan yang telah dilakukan oleh responden apabila anaknya
terkena diare, didapatkan 239 responden (92,28%) yang menyatakan dibawa ke
dokter atau puskesmas, sebanyak 20 responden (7,71%) diobati sendiri, dan tidak
ada (0%) yang dibiarkan. Berdasarkan pemanfaatan air bersih yang digunakan
untuk keperluan rumah tangga seperti untuk air minum, air mandi, dan sebagainya
didapatkan hasil penelitian bahwa sebanyak 149 orang (57,52%) masih
menggunakan air yang sumbernya tidak terlindungi sehingga dikategorikan
tercemar, dan sebanyak 110 orang (42,48%) sudah menggunakan air PAM yang
dapat dikategorikan tidak tercemar. Berdasarkan perilaku sehat orangtua dalam
penelitian ini didapatkan 65 orang (25,10%) berperilaku tidak sehat atau buruk
dan sebanyak 194 orang (74,90%) berperilaku baik yaitu berperilaku sehat.

32
5.2 Hubungan Distribusi Karakteristik
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing
variabel (variabel bebas) dengan kejadian diare (variabel terikat). Terdapatnya
hubungan bermakna antara variabel bebas dengan kejadian diare ditunjukkan
dengan nilai p < 0,05.

5.2 Tabel Hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare


Variabel Diare Tidak Diare X2 P
Pendidikan 33,316 0,000
Rendah 61 5
Sedang 152 29
Tinggi 3 9
Pekerjaan
Tidak Bekerja 146 20 7,395 0,007
Bekerja 70 23
Sejumlah
Perilaku 13,760 0,000
Buruk 63 2
Baik 153 41
Pemanfaatan air
bersih 37,008 0,000
Tercemar 110 0
Tidak tercemar 106 43
Keterangan
* = Nilai p < 0,05 (bermakna)

33
5.2.1 Hubungan pendidikan dengan diare
Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik non parametrik Chi-
Square. Data pendidikan dikategorikan menjadi 3 (tiga): 1) rendah (jika
pendidikan SD dan tidak sekolah), 2) Sedang (jika memiliki pendidikan SMP dan
SMA), dan 3) Tinggi jika memiliki pendidikan Sarjana/S1).
Tabel di atas menjelaskan bahwa dari hasil uji statistik dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai probabilitas p = 0,000 lebih kecil dari α
= 0,05 atau p 0,000 < 0,05, berarti tingkat pendidikan orangtua mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kejadian diare.

5.2.2 Hubungan pekerjaan dengan diare


Pekerjaan diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) kategori: 1) tidak bekerja (jika
ibu rumah tangga), 2) Bekerja (PNS, swasta atau lainnya).
Tabel di atas menjelaskan bahwa dari hasil uji statirstik dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai probabilitas p = 0,007 lebih kecil dari α
= 0,05 atau p 0,007 < 0,05, yang berarti pekerjaan orangtua mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap kejadian diare.

5.2.3 Hubungan sejumlah perilaku dengan diare


Perilaku orangtua diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) kategori: 1) buruk
(jika skor perilaku 0 - 3 ), 2) Baik (jika skor perilaku 4-7).
Tabel di atas menjelaskan bahwa dari hasil uji statistik dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai probabilitas p = 0,000 lebih kecil dari α
= 0,05 atau p 0,000 < 0,05. Ini berarti perilaku orangtua mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap diare.

5.2.4 Hubungan pemanfaatan air bersih dengan diare


Pemanfaatan air bersih diklasifikasikan ke dalam 2 (dua) kategori:
1) Tercemar (jika tidak terlindungi / non PAM ), 2) Tidak tercemar (jika
terlindungi / PAM).

34
Tabel di atas menunjukan bahwa dari hasil uji statistik dengan
menggunakan Chi-Square diperoleh nilai probabilitas p = 0,000 lebih kecil dari α
= 0,05 atau p 0,000 < 0,05, ini berarti pemanfaatan air bersih mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap diare.

35
BAB VI
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis bivariat dari 4 (empat) variabel yang diuji


dengan Chi Squqre, semua variabel memiliki hubungan yang signifikan dengan
diare yaitu variabel pendidikan, pekerjaan, sejumlah perilaku orangtua dan
pemanfaatan air bersih.
1. Pengaruh pendidikan terhadap sakit diare
Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat
pendidikan terakhir yang dimiliki responden saat penelitian, yaitu SD, SMP,
SMA, dan S1 yang kemudian dikategorikan menjadi pendidikan rendah,
sedang, dan tinggi. Pendidikan terbukti memiliki hubungan yang bermakna
dengan kejadian diare akut pada balita dengan nilai p 0,000.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rofingatul Mubasyiroh
yang menyatakan bahwa pendidikan ibu memiliki hubungan yang signifikan
dengan kejadian diare pada balita. Pendidikan ibu mempunyai peranan
penting dalam pemeliharaan kesehatan anaknya. Ibu yang berpendidikan
lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih baik dalam merawat
anaknya.31 Hasil penelitian ini juga didukung berdasarkan teori menurut
Departemen Kesehatan Republik Indonesia bahwa faktor yang dapat
mempengaruhi kejadian diare antara lain adalah lingkungan, tingkat
pendidikan, dan perilaku masyarakat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi
akan mempermudah seseorang atau masyarakat memperoleh dan mencerna
informasi dalam menerapkan hidup sehat.32 Selain itu, hasil penelitian ini
juga didukung oleh hasil penelitian Atik Sri Wulandari yang menyatakan
bahwa pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian diare.
Pendidikan juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap morbiditas
anak balita.33

36
2. Pengaruh pekerjaan orangtua terhadap sakit diare
Pekerjaan terbukti memiliki hubungan yang bermakna terhadap
kejadian diare akut pada balita dengan nilai p 0,007. Hal tersebut
membuktikan bahwa faktor pekerjaan sangat berperan dalam kejadian diare
akut pada balita.
Orangtua atau ibu yang bekerja akan memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang lebih banyak daripada yang tidak bekerja. Orang yang
bekerja akan berinteraksi satu sama lain dan saling bertukar pengetahuan
atau informasi dan pengalaman, sebaliknya orang yang tidak bekerja yang
lebih banyak menonton hiduran sehingga kurang mendapatkan pengetahuan
atau informasi dan pengalaman. Notoatmodjo mengatakan bahwa
pengetahuan erat kaitannya dengan pengalaman seseorang dalam
memperoleh pengetahuan.34 Dengan adanya pengalaman yang mereka
dapatkan baik pengalaman pribadi maupun dari orang lain dapat
menentukan status kesehatan seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan
hasil penelitian Atik Sri Wulandari yang menyatakan bahwa pekerjaan
orangtua merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian diare pada balita.33
3. Pengaruh sejumlah perilaku orangtua terhadap sakit diare
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan, serta lingkungan. Perilaku sehat adalah pengetahuan,
sikap, dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko
terjadinya penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan
masyarakat.26
Sejumlah perilaku orangtua ini terbukti memiliki hubungan yang
bermakna terhadap kejadian diare akut pada balita dengan nilai p 0,000.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Devi Nugraheni yang
menyatakan bahwa sumber air minum, sarana pembuangan sampah, dan
perilaku hidup sehat seperti kebiasaan mencuci tangan setelah BAB, dan
kebiasaan mencuci tangan sebelum makan berpegaruh terhadap kejadian
diare.9 Selain itu, hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian

37
Atik Sri Wulandari yang menyatakan bahwa perilaku merupakan faktor
yang mempengaruhi kejadian diare.33

4. Pengaruh pemanfaatan air bersih terhadap sakit diare


Pemanfaatan air bersih terbukti memiliki hubungan yang bermakna
terhadap kejadian diare akut pada balita dengan nilai p 0,000.
Air adalah materi esensial bagi kehidupan manusia dan mutlak harus
ada bagi kehidupan mahluk hidup, di samping sebagai pelarut yang baik.
Menurut Heru dan Toyo pemakaian air yang tidak bersih menjadi penyebab
utama kejadian diare.35 Penyakit diare adalah salah satu penyakit berbasis
lingkungan, di mana dua faktor yang dominan dalam penularannya adalah
penyediaan air bersih dan pembuangan kotoran/tinja manusia. Air bersih
yang dikonsumsi oleh masyarakat harus memenuhi standar yang ditetapkan
dan harus ada jaminan bahwa air yang dikonsumsi aman untuk kesehatan.
Karena cukup banyak hal yang dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan
pada air tersebut, misalnya pencemaran.
Oleh karena itu dalam penyediaan air bersih yang harus diperhatikan
persyaratannya. Persyaratan untuk penyediaan air bersih yang
mengusahakan dari sumur sendiri perlu memperhatikan kualitas air
sumurnya dengan selalu memperhatikan kontruksi sumur, sumber pencemar
dan cara pengolahan sebelum dikonsumsi. Sedangkan untuk yang bersumber
dari PDAM, perlu diperhatikan back siphonage dan cross conection. 25 Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian Astyani yang menyimpulkan bahwa
episode kejadian diare lebih mengacu pada kesehatan lingkungan, jika
sarana air bersih kurang dan tidak memenuhi syarat sehingga resiko diare
36
selalu ada. Selain itu, hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil
penelitian Devi Nugraheni yang menyatakan terdapatnya hubungan antara
sumber air minum dengan kejadian diare. Sebagian orang ada yang
menggunakan sumber air dari PDAM dan sebagian lagi masih ada yang
menggunakan air dari sumber air yang tidak memenuhi syarat.9

38
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan analisis data menggunakan chi square, maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Pendidikan orangtua berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare pada
balita di lingkup kerja Puskesmas Suranenggala Kabupaten Cirebon.
2. Pekerjaan orangtua berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare pada
balita di lingkup kerja Puskesmas Suranenggala Kabupaten Cirebon.
3. Perilaku sehat orangtua berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare pada
balita di lingkup kerja Puskesmas Suranenggala Kabupaten Cirebon.
4. Pemanfaatan air bersih berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare pada
balita di lingkup kerja Puskesmas Suranenggala Kabupaten Cirebon.

7.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, maka peneliti memberikan
saran yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan oleh pihak terkait, yaitu:
1. Kepada semua instansi pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas dan
Dinas Kesehatan agar dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
terutama yang berkaitan dengan pentingnya penyediaan air bersih termasuk
penyimpanan dan pemanfaatannya sebagai salah satu upaya pencegahan
penyakit menular, seperti diare pada balita.
2. Kepada semua instansi pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas dan
Dinas Kesehatan agar dapat meningkatkan perilaku hidup sehat dan bersih
kepada masyarakat, dengan terjun langsung dan melakukan gerakan hirup
sehat bersama masyarakat di wilayah kerja setempat.
3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap variabel-variabel lain yang
dapat menyebabkan kejadian diare pada balita.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Nasili, Thaha RM , Seweng A. Perilaku Pencegahan Diare Anak Balita Di


Wilayah Bantaran Kali Kelurahan Bataraguru Kecamatan Wolio Kota
Bau-Bau. Jurnal Kesehatan Unhas.2012;3:1-12.
2. Rahmadhani EP, Gustina L, Edison. Hubungan Antara Pemberian ASI
Eksklusif dengan Angka Kejadian Diare Akut Pada Bayi Usia 0-1 Tahun
di Puskesmas Kuranji Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas.2013;2:62-
6.
3. Gastanaduy PA, Sanchez-Uribe E, Esparza-Aguilar M, Desai R, Parashar
UD, Patel M, et al. Effect of Rotavirus Vaccine on Diarrhea Mortality in
Different Sosioeconomic Regions of Mexico. Journal of The American
Academy of Pediatrics. 2013;131:2012-797.
4. Primadani W, Santoso L, Wuryanto MA. Hubungan Sanitasi Lingkungan
dengan Kejadian Diare Diduga Akibat Infeksi di Desa Gondosuli
Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Jurnal Kesehatan
Masyarakat.2012;1:535-41.
5. Wulandari AP. Hubungan Antara Faktor Lingkungan dan Faktor
Sosiodemografi Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Desa Blimbing
Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen Tahun 2009 (skripsi). Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2009.
6. Sinthamurniwaty. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Akut Pada Balita
(tesis). Semarang: Universitas Diponegoro; 2006.
7. Suharyono. Diare Akut: Klinik dan Laboratorik. 1st ed. Jakarta: Rineka
Cipta, 2008.
8. Purwaningsih R. Hubungan Antara Penyediaan Air Minum dan Perilaku
Higiene Sanitasi dengan Kejadian Diare di Daerah Paska Bencana Desa
Banyudono Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Unnes Journal of
Public Health. 2013;3:1-8.

40
9. Nugraheni D. Hubungan Kondisi Fasilitas Sanitasi Dasar dan Personal
Hygiene dengan Kejadian Diare di Kecamatan Semarang Utara Kota
Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat.2012;1:922-33.
10. Astuti WP, Herniyatun, Yudha HT. Hubungan Pengetahuan Ibu tentang
Sanitasi Makanan dengan Kejadian Diare pada Balita di Lingkup Kerja
Puskesmas Klirong I. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan.2011;7:101-9.
11. Safrudin ANS, Handoyo, Widiyanti DAK. Analisis Faktor-Faktor Resiko
yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Balita di Puskesmas Ambal 1
Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Keperawatan.2009;5:65-79.
12. Bhandari N, Bahl R, Sazawal S, Bhan MK. Breast-Feeding Status Alters
the Effect of Vitamin A Treatment During Acute Diarrhea in Children.
The Journal of Nutrition.2009;127:59-63.
13. Sempertegui F, Estrella B, Camaniero V, Betancourt V, Izurieta R, Ortiz
W, et al. The Beneficial Effects of Weekly Low-dose Vitamin A
Supplementation on Acute Lower Respiratory Infections and Diarrhea in
Ecuadorian Children. Journal of The American Academy of Pediatrics.
2009;104:1788-92.
14. Manalu M, Marsaulina I, Ashar T. Hubungan Tingkat Kepadatan Lalat
(Musca domestica) dengan Kejadian Diare pada Anak Balita di
Pemukiman Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Namo Bintang
Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012. Jurnal
Lingkungan dan Kesehatan Kerja.2013;2:1-10.
15. Arifiani NF, Hadiwidodo M. Evaluasi Desain Instalasi Pengolahan Air
PDAM Ibu Kota Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Jurnal
Presipitasi. 2007;3:78-85.
16. Susilastuti D, Putrawan IM, Wijaya CH. Model Hubungan Penduduk dan
Konversi Lahan dengan Ketersediaan Air Bersih untuk Perencanaan
Pengelolaan Sumber Daya Air melalui Metode System Dynamics di
Kabupaten Bekasi. Jurnal Bumi Lestari. 2009;9:138-50.

41
17. Saragi OV, Setiawan B, Ekayanti I. Analisis Penyediaan dan Penggunaan
Air Sungai pada Rumah Tangga di Pekon Ulu Krui dan di Pekon Laay
Kabupaten Lampung Barat. Jurnal Gizi dan Pangan.2008;3:167-71.
18. Wandrivel R, Suharti N, Lestari Y. Kualitas Air Minum yang Diproduksi
Depot Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Bungus Padang Berdasarkan
Persyaratan Mikrobiologi. Jurnal Kesehatan Andalas.2012;1:129-33.
19. Widiyanti NLPM, Ristiati NP. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform pada
Depot Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi
Kesehatan. 2004;3: 64-73.
20. Sofia Z. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kelurahan Simpang
Tiga Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan
Unri.2013;3:1-15.
21. Prasetya E. Gambaran Sarana Sanitasi Kesehatan Lingkungan di Wilayah
Kerja Puskesmas Limboto Tahun 2009. Jurnal Health & Sport
2011;3:199-284.
22. Ismael S, Sostroasmoro S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta:Sagung Seto;2011;p.130-2.
23. Abdoerrachman, M.H. Ilmu Kesehatan Anak 1. 4th ed. Jakarta. 2005.
P.283-95.
24. Hendarwanto. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. 3th ed. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. p.451-57.
25. Sarudji D. Kesehatan Lingkungan. Sidoarjo: Media Ilmu.2006.
26. Green, L.W, and Kreuter, M.W. Health Promotion Planning. An
Education and Environment Approach. 2nd ed. London: Mayfield
Publishing Company.2006.p.40-4.
27. Azwar, S.Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya.Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset.2005.p.20-5.
28. Notoadmojo, S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. 2005.p.33-8.
29. Proverawati, Atikah dan Rahmawati, Eni. Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS).Yogyakarta: Nuha Medika.2012.p.18-25.

42
30. Fordatkosu MR. Hubungan Pemanfataan Sarana Air Bersih Untuk
Keperluan Rumah Tangga Dengan Kejadian Diare Pada Penduduk di
Wilayah Saumlaki Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Skripsi).
Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada;2009.
31. Mubasyiroh R. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada
Balita di Beberapa Regional Indonesia Tahun 2007. Puslitbang Ekologi
dan Status Kesehatan Litbang Depkes. 2010:24-31.
32. Depkes. Tatalaksana penderita diare.Jakarta : Ditjen & PL.2005.
33. Wulandari AS. Hubungan Kasus Diare Dengan Faktor Sosial Ekonomi
Dan Perilaku. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya. 2010:1-8.
34. Notoatmojo. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka
Cipta.2003.p.48-52.
35. Toyo, M. Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Diare Pada
Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Oesao Kabupaten Kupang Propinsi
NTT Tahun 2005 (Skripsi).Kupang: Universitas Nusa Cendana;2005.
36. Astyani, N. Hubungan Antara Sanitasi Makanan dan Lingkungan dengan
Kejadian Diare pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lepo-lepo
Kecamatan Baruga Kota Kendari. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
Unhas. 2012;2:1-10.

43
Lampiran 1

PENELITIAN
HUBUNGAN ANTARA PEMANFAATAN SARANA AIR BERSIH UNTUK
KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN KEJADIAN DIARE AKUT PADA
BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SURANENGGALA
__________________________________________________________________

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

PENELITIAN TENTANG : Hubungan Antara Pemanfaatan Sarana Air Bersih


untuk Keperluan Rumah Tangga dan Kejadian Diare Akut pada Balita di Wilayah
Kerja Puskesmas Suranenggala.
Yang bertanda tangan dibawah ini, Saya :
Nama :
Umur :
Alamat :
Dengan ini menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan
oleh Nama : Ariyanti Putri
NIM : 03010040
Mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

Jakarta, …………..2013
Responden

(___________________)

44
Lampiran 2

Hubungan Antara Pemanfaatan Sarana Air Bersih untuk Keperluan Rumah


Tangga dan Kejadian Diare Akut pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Suranenggala

KUISIONER

KUISIONER 1
1. Siapa nama ibu atau bapak?
2. Pendidikan terakhir yang ibu atau bapak capai apa?
1) Tidak sekolah
2) SD
3) SMP
4) SMA
5) Perguruan Tinggi
Dikelompokan menjadi rendah (1 dan 2), sedang (3 dan 4) dan tinggi
(5). Hasil ukurnya: rendah, sedang dan tinggi.

KUISIONER 2
1. Apa pekerjaan bapak atau ibu sehari-hari?
1) Ibu Rumah Tangga
2) Petani
3) Buruh
4) Wiraswasta atau pedagang
5) PNS
Dikelompokan menjadi tidak bekerja (1) dan bekerja (2,3,4 dan 5).
Hasil ukurnya: tidak bekerja dan bekerja.

45
KUISIONER 3
1. Sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
seperti untuk minum dan memasak berasal darimana?
1) Sungai
2) Sumur
3) PAM
Dikelompokan menjadi air yang tidak terlindungi (1 dan 2) dan air
yang terlindungi (3). Hasil ukurnya: air yang tidak terlindungi dan air
yang terlindungi.

KUISIONER 4
Berilah tanda centang sesuai dengan jawaban anda
NO PERTANYAAN PENILAIAN
YA TIDAK
1 Apakah air ditempatkan atau disimpan
di tempat yang bersih?
2 Apakah air direbus sampai mendidih
sebelum diminum?
3 Apakah setelah buang air besar selalu
cuci tangan dengan sabun?
4 Apakah selalu mencuci tangan dengan
sabun sebelum makan atau menyuapi
anak?
5 Apakah buah dan sayur dicuci terlebih
dahulu sebelum dimasak atau
dimakan?
6 Pada saat mengolah makanan sebelum
dimakan, apakah makanan dimasak
sampai bener-bener matang?
7 Apakah peralatan makan dan masak
dicuci dengan bersih dan disimpan di
tempat yang aman?

6. Berapa kali Ibu menguras tempat penampungan air yang


digunakan untuk keperluan minum dan memasak ?
a. Lebih dari seminggu sekali
b. 1-2 kali dalam seminggu

46
Keterangan:
Penilaian dengan menggunakan skala nominal
Skor nilai :
Ya :1
Tidak :0
Skala: Nominal
Dengan kriteria skornya:
Baik bila jumlah skor 4-7
Buruk bila jumlah skor 0-3

KUISIONER 5
1. Apakah anak balita ibu atau bapak menderita diare dalam kurun waktu tiga
bulan
terakhir ?
a. Ya b. Tidak
2. Apa yang ibu atau bapak lakukan bila balita anda terkena diare ?
a. Dibiarkan saja
b. Diobati sendiri
c. Di bawa ke Puskesmas/Dokter/Bidan

47
Lampiran 3

1. Pendidikan
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pendidikan * Diare 259 100,0% 0 ,0% 259 100,0%

Pendidikan * Diare Crosstabulation


Count
Diare
Diare Tidak Total
Pendidikan Rendah 61 5 66
Sedang 152 29 181
Tinggi 3 9 12
Total 216 43 259

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 33,316a 2 ,000
Likelihood Ratio 23,525 2 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear 15,472 1 ,000
Association
N of Valid Cases 259
a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 1,95.

2. Pekerjaan
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pekerjaan * Diare 259 100,0% 0 ,0% 259 100,0%

Pekerjaan * Diare Crosstabulation


Count
Diare
Diare Tidak Total
Pekerjaan Tidak bekerja 146 20 166
Bekerja 70 23 93
Total 216 43 259

Chi-Square Tests

48
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 7,395a 1 ,007
Continuity Correctionb 6,472 1 ,011
Likelihood Ratio 7,131 1 ,008
Fisher's Exact Test ,008 ,006
Linear-by-Linear 7,366 1 ,007
Association
N of Valid Cases 259
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15,24.
b. Computed only for a 2x2 table

3 Sejumlah perilaku
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Sejumlah perilaku * Diare 259 100,0% 0 ,0% 259 100,0%

Sejumlah perilaku * Diare Crosstabulation


Count
Diare
Diare Tidak Total
Sejumlah perilaku buruk 63 2 65
baik 153 41 194
Total 216 43 259

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 13,760a 1 ,000
Continuity Correctionb 12,356 1 ,000
Likelihood Ratio 19,162 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 13,707 1 ,000
N of Valid Cases 259
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,54.
b. Computed only for a 2x2 table

4. Pemanfaatan air bersih

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pemanfaatan air bersih * 259 100,0% 0 ,0% 259 100,0%
Diare

Pemgtan air bersih * Diare Crosstabulation


Count

49
Diare
Diare Tidak Total
Pemanfaatan air tercemar 110 0 110
bersih tidak tercemar 106 43 149
Total 216 43 259

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df (2-sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 37,008a 1 ,000
Continuity Correctionb 34,962 1 ,000
Likelihood Ratio 52,371 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 36,865 1 ,000
N of Valid Cases 259
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17,84.
b. Computed only for a 2x2 table

50