Anda di halaman 1dari 8

KESEHATAN DAERAH MILITER JAYA/JAYAKARTA

RUMAH SAKIT TK. II MOH RIDWAN MEURAKSA

KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT TK.II MOH RIDWAN


MEURAKSA
NOMOR : Kep / 19 / XI / 2017

TENTANG

PANDUAN PELAYANAN KEROHANIAN


DI RUMAH SAKIT TK. II MOH RIDWAN MEURAKSA

Jakarta 6 November 2017


PANDUAN PELAYANAN KEROHANIAN

BAB I
DEFINISI

1. Pengertian
Adalah suatu prosedur pelayanan kerohanian kepada pasien yang
membutuhkan bimbingan spiritual sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.
Bimbingan spiritual ternyata berdampak kepada peningkatan kesembuhan
dan motivasi pasien. Dalam konteks ini, bimbingan spiritual ternyata merupakan
pelengkap pengobatan dan pelayanan medis di rumah sakit.
2. Tujuan
a. Dapat dilayaninya dengan baik hak dan kebutuhan mendasar dari pasien dan
keluarganya, sehingga timbul kekuasaan dan ketenangan jiwa.
b. Meningkatnya kualitas pelayanan di RS.TK.II MRM.

BAB II
RUANG LINGKUP

1. Panduan pelayanan kerohanian digunakan kepada semua pasien RS.TK.II MRM


terhadap agama yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Republik
Indonesia.
2. Pelaksana panduan pelayanan kerohanian meliputi unsur pimpinan kepala unit
pelayanan dan staf pelaksana pelayanan.
3. Prinsip
a. Pelayanan kerohanian harus sesuai dengan agama dan kepercayaan pasien.
b. Pelayanan kerohanian dilaksanakan atas permintaan pasien atau keluarga.
4. Kewajiban dan tanggung jawab
a. Proses identifikasi agama dan kepercayaan pasien merupakan tanggung
jawab petugas rekam medis saat pasien mendaftar.
b. Perawat ruangan segera merespon apabila ada permintaan pelayanan
kerohanian dari pasien/keluarga.
c. Staf RS.TK.II MRM lainnya dalam hal ini kontrol, Perwira piket , teleponis,
costumer service, dll melaksanakan pedoman ini sesuai tugas dan tanggung
jawabnya.
d. Para rohaniawan melaksanakan bimbingan kepada pasien sesuai dengan
ketentuan yang telah disepakati.

BAB III
TATA LAKSANA

Dalam melaksanakan panduan pelayanan kerohanian, para petugas


kesehatan seyogyanya memahami betapa besar pengaruh ketenangan jiwa pasien
terhadap pengobatan yang diberikan oleh petugas medis. Hal yang perlu diketahui
meliputi:
1. Hubungan kerohanian/ iman dan kesehatan
Jika seseorang menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya niscaya
jiwanya terjaga dari kesesatan dan kehancuran, sehingga kesehatan tubuh sangat
dipengaruhi oleh kesehatan jiwa. Hubungan antara keimanan dan kesehatan jiwa.
Seorang peneliti Barat mengatakan, “Tiadanya kepastian hidup,
menurunkan kualitas hubungan sosial, dan tiadanya ketenangan serta
kenyamanan yang dirasakan manusia modern menjadi penyebab berbagai
masalah dan penyakit. Masalah medis lain yang dihadapi manusia sekarang ini
adalah kekurangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, masuknya macam-macam
bakteri dan virus ke dalam sistem peredaran darah, dan lain-lain. Persoalan ini
lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya keseimbangan antara dimensi lahiriah
dan dimensi batiniah. Sebagian penyakit yang diderita manusia modern nyaris
tidak dikenal oleh generasi manusia sebelumnya yang terbiasa hidup sederhana
dan tidak mengenal budaya hedonis. Ternyata, orang yang selalu menjaga
ketenangan jiwa di tengah gejolak dan hiruk pikuk kehidupan modern, terhindar
dari berbagai penyakit dan persoalan medis.
2. Peran agama terhadap kondisi pasien

Ada sejumlah penelitian yang dilakukan para ilmuwan Barat mengenai


fenomena doa dan hubungannya dengan kesehatan jasmani, diantaranya:
a. Harris melakukan penelitian terhadap 990 pasien di sebuah rumah sakit di
Amerika. Ia meminta sekelompok orang untuk berdoa bagi sebagian psien itu
setiap hari selama empat minggu berturut-turut. Namun, peneliti sengaja tidak
mempertemukan kelompok orang yang sakit itu dengan kelompok orang yang
mendoakan mereka. Kelompok orang yang diminta berdoa itu tidak mengenali
pasien yang mereka doakan. Mereka hanya diberi tahu nama-nama psien
tersebut. Sebaliknya, para pasien yang sakit pun tidak tahu bahwa mereka
sedang didoakan oleh sekelompok orang. Ternyata hasil penelitian itu
menunjukkan bahwa kelompok pasien yang didoakan oleh kelompok orang itu
merasakan kemajuan dan perbaikan kondisi badannya, karena serangan
penyakit yang mereka derita berkurang sepuluh persen dibanding kelompok
psaien yang tidak didoakan.
b. Penelitian lain dilakukan terhadap 393 pasien yang menderita berbagai
penyakit berat seperti jantung dan paru-paru. Langkah penelitiannya sama
denganpenelitian Harris. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa pasien yang
didoakan membutuhkan obat-obatan dan alat bantu pernapasan yang lebih
sedikit dibandingkan pasien yang tidak didoakan. Dan mereka juga lebih sedikit
mengalami komplikasi.
c. Majalah “Psychomatic Medicine” melakukan penelitian yang melibatkan dua
kelompok responden, yaitu 78 orang pasien kulit hitam dan 77 orang pasien
kulit putih, yang usianya bervariasi antara 25 hingga 45 tahun. Kedua kelompok
itu dipisahkan dalam studi tersebut karena orang Afro-Amerika dianggap
cenderung lebih religius dan lebih taat menjalankan doa dan shalat
dibandingkan kelompok pasien kulit putih. Para pasien itu kemudian diminta
untuk menjalankan perintah-perintah agama lebih taat dan lebih khusyuk,
terutama doa dan shalat. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa ternyata
shalat dan doa yang banyak mereka lakukan itu dapat menurunkan darah
tinggi, terutama pada para pasien kulit hitam. Penyakit yang diderita para
pasien kulit putih tidak mengalami perubahan yang berarti karena mereka lebih
malas menjalankan shalat dan doa.
3. Peran agama terhadap kondisi psikologis

Orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, akan timbul rasa
tenang dan aman. Hal ini merupakan ciri sehat mental, yaitu:
- Mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat.
- Membiasakan persepsi ke arah positif.
- Memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik.
- Mengembangkan emosi positif.

4. Peran agama terhadap kondisi sosial


Umumnya kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya dilakukan
secara bersama-sama (berjamaah) dan dilaksanakan secara berulang,
sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan rasa
solidaritas antar jemaah.
Orang dengan kondisi religiusnya tinggi pada umumnya dapat membina
keharmonisan keluarga dan dapat membina hubungan yang baik antar
manusia.

5. Perkembangan spiritual
Perkembangan spiritual seseorang menurut Westerhoff’s dibagi ke dalam
empat tingkatan berdasarkan kategori umur, yaitu:

a. Usia anak-anak
Merupakan tahap perkembangan kepercayaan berdasarkan pengalaman.
Perilaku tahap yang didapat, antara lain: adanya pengalaman dari interaksi
dengan orang lain dengan keyakinan atau kepercayaan yang dianut. Pada
masa ini, anak belum mempunyai pemahaman salah atau benar. Kepercayaan
atau keyakinan yang ada pada masa ini mungkin hanya mengikuti ritual atau
meniru orang lain, seperti berdoa sebelum tidur dan makan, dan lain-lain. Pada
masa prasekolah, kegiatan keagamaan yang dilakukan belum bermakna pada
dirinya, perkembangan spiritual mulai mencontoh aktivitas keagamaan orang
sekelilingnya, dalam hal ini keluarga. Pada masa ini anak-anak biasanya sudah
mulai bertanya tentang pencipta, arti doa, serta mencari jawaban tentang
kegiatan keagamaan.
b. Usia remaja akhir
Merupakan tahap perkumpulan kepercayaan yang ditandai dengan adanya
partisipasi aktif pada aktivitas keagamaan. Pengalaman dan rasa takjub
membuat mereka semakin merasa memiliki dan berarti akan keyakinannya.
Perkembangan spiritual pada masa ini sudah mulai pada keinginan akan
pencapaian kebutuhan spiritual seperti keinginan melalui meminta atau berdoa
kepada penciptanya, yang berarti sudah mulai membutuhkan pertolongan
melalui keyakinan atau kepercayaan. Bila pemenuhan kebutuhan spiritual tidak
terpenuhi akan timbul kekecewaan.

c. Usia awal dewasa


Merupakan masa pencarian kepercayaan dini, diawali dengan proses
pertanyaan akan ke yakinan atau kepercayaan yang dikaitkan secara kognitif
sebagai bentuk yang tepat untuk mempercayainya. Pada masa ini, pemikiran
sudah bersifat rasional dan keyakinan atau kepercayaan terus dikaitkan
dengan rasional. Segala pertanyaan tentang kepercayaan harus dapat dijawab
secara rasional. Pada masa ini, timbul perasaan akan penghargaan terhadap
kepercayaannya.

d. Usia pertengahan dewasa


Merupakan tingkatan kepercayaan dari diri sendiri. Perkembangan ini diawali
dengan semakin kuatnya kepercayaan diri yang dipertahankan walaupun
menghadapi perbedaan keyakinan yang lain dan lebih mengerti akan
kepercayaan dirinya.

6. Pasien yang membutuhkan bantuan pelayanan spiritual/kerohanian


a. Pasien kesepian
Pasien dalam keadaan sepi dan tidak ada yang menemani akan membutuhkan
bantuan spiritual karena mereka merasakan tidak ada kekuatan selain
kekuatan Tuhan, tidak ada yang menyertainya selain Tuhan.
b. Pasien ketakutan dan cemas
Adanya ketakutan atau kecemasan dapat dapat menimbulkan perasaan kacau,
yang dapat membuat pasien membutuhkan ketenangan pada dirinya, dan
ketenangan yang paling besar adalah bersama Tuhan.
c. Pasien menghadapi pembedahan
Menghadapi pembedahan adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan
karena akan timbul perasaan antara hidup dan mati. Pada saat itulah
keberadan pencipta dalam hal ini adalah Tuhan sangat penting sehingga
pasien selalu membutuhkan bantuan spiritual.
d. Pasien yang harus mengubah gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat membuat seseorang lebih membutuhkan
keberadaan Tuhan (kebutuhan spiritual). Pola gaya hidup dapat membuat
kekacauan keyakinan bila kearah yang lebih buruk. Akan tetapi bila perubahan
gaya hidup ke arah yang lebih baik, maka pasien akan lebih membutuhkan
dukungan spiritual.

BAB IV
DOKUMENTASI

Pendokumentasian pelayanan kerohanian dibuat sejak pasien/keluarga


melaporkan akan melaksanakan proses kerohanian dan mengisi formulir permohonan
ijin termasuk permohonan kerohaniawan atau tidak. Pelaporan dibuat secara hirarki
dari perawat ruangan kepada Perawat kontrol dan perwira piket.

Revisi dan audit:


a. Kebijakan ini akan dikaji ulang dalam kurun waktu tiga tahun.
b. Kebijakan ini dievaluasi staf terkait di RS.TK.II MRM.
- Komite mutu dan keselamatan pasien
- Satuan pengawas internal
- Staf lain terkait

Ditetapkan : di Jakarta
Pada tanggal : 6 November 2017

dr. Dian Andriani, SpKK, M.Biomed, MARS, FINDSV


Kolonel Ckm (K)/NRP. 32550