Anda di halaman 1dari 4

MEMILIH MAKANAN/MINUMAN YANG HALAL

DAN THOYIB
20 Apr 2011 Leave a Comment

by ummuhisyamsolo in tulisan

Akhir-akhir ini, masyarakat semakin resah dan tidak tahu harus bagaimana menyikapi
peredaran makanan dan minuman dalam hidup keseharian mereka. Masalahnya makanan dan
minuman yang tersedia sekarang ini ditengarai mengandung zat-zat yang dapat
membahayakan tubuh manusia. Jumlah makanan dan minuman seperti itu tersedia cukup
banyak di masyarakat, bahkan harganya pun relatif terjangkau, sehingga masyarakat cukup
mudah untuk memperolehnya. Seperti makanan dan minuman jenis kudapan/jajanan pasar
yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat diluar jam makan.

Dari berbagai hasil penelitian, ternyata makanan dan minuman yang telah banyak beredar di
masyarakat sekarang ini mengandung bahan-bahan, seperti: boraks, formalin, zat pewarna
tekstil, melamin dan penyedap rasa, yang sangat membahayakan tubuh manusia apabila
dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu.

Boraks, misalnya: apabila terdapat pada makanan, maka dalam jangka waktu lama walau
hanya mengkonsumsi dalam jumlah yang sedikit akan terjadi akumulasi (penumpukan) pada
otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam,
depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan,
kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian. Formalin juga
sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit ataupun tertelan. Meskipun formalin dikenal
sebagai bahan insektisida, kenyataannya disalahgunakan dengan dicampurkan pada bahan
makanan dengan tujuan untuk mengawetkan makanan agar tidak lekas membusuk. Padahal
akibat yang ditimbulkan dari formalin bisa berupa: luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran
pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.

Hebohnya polemik susu formula dan makanan bayi yang tercemar bakteri Enterobacter
Sakazakii beberapa waktu yang lalu juga menjadi bukti bahwa makanan dan minuman yang
beredar di masyarakat tidak terjamin dapat menjaga kesehatan tubuh manusia, justru
sebaliknya makanan dan minuman yang beredar di masyarakat banyak yang membahayakan.
Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, Badriul Hegar, bakteri
Enterobacter Sakazakii ini dapat menyebabkan radang selaput otak atau meningitis,
adanya bakteri dalam darah (bakteremia), penyebaran bakteri patogen dalam jaringan darah
(sepsis), radang usus halus dan usus besar (enterokolitis), hingga kematian sel
(necrosis).(health.kompas.com, 2011/02/10).

Memang benar bahwa akibat yang paling sering terjadi setelah mengkonsumsi
makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti itu hanya sekedar
keracunan, yang ditandai dengan pusing, mual, muntah dan tubuh menjadi lemas. Namun
sebenarnya kondisi seperti itu akan mempengaruhi vitalitas hidup seseorang, yang pada
akhirnya berpengaruh juga terhadap kualitas generasi penerus manusia. Jika masalah seperti
ini tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang akan muncul
generasi yang lemah tubuhnya dan sakit badannya akibat banyak mengkonsumsi
makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan yang berbahaya.

1
Padahal jika kita cermati, peristiwa keracunan setelah mengkonsumsi suatu jenis
makanan/minuman sudah sering terjadi. Di antaranya, peristiwa keracunan yang menimpa
puluhan siswa SD di Kec. Percut Tei Tuan Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara, setelah
mengkonsumsi jajanan bakso yang mereka beli dari kantin sekolahnya.(Medantalk.com, 11-
1-2011). Juga peristiwa keracunan pada puluhan siswa SDN Sawah, Kec. Rumpin, Kab.
Bogor, setelah mereka mengkonsumsi jajanan berbentuk daging olahan yang dijajakan oleh
pedagang makanan di depan sekolah mereka.(Pos Kota Online, 8 November 2010). Ada lagi
peristiwa keracunan yang menimpa seluruh karyawati shift malam pada PT Panasonic
Shikoku, Batam, Kep. Riau, setelah mereka meminum susu kemasan yang diberikan oleh
perusahaan. Padahal pemberian susu tersebut sebenarnya dimaksudkan oleh pihak perusahaan
untuk menambah stamina para karyawan karena mereka masuk kerja malam hari.
(Metrotvnews.com, 24 Desember 2010). Dan masih banyak lagi peristiwa keracunan
makanan/minuman di desa-desa, yang terjadi seusai acara hajatan warga, seperti: pernikahan,
khitanan, dll, yang luput dari pemberitaan media. Sebagai seorang muslim, kita patut
memikirkan: Bagaimana cara Islam dalam menyelesaikan masalah ini?

Makanan/Minuman Menurut Pandangan Islam

Islam merupakan agama yang sempurna karena menyelesaikan masalah manusia dalam
seluruh aspek kehidupannya. Terkait dengan masalah makanan/minuman, agama Islam
memerintahkan pada manusia untuk memperhatikan terhadap apa yang hendak
dimakan/diminumnya.

Di dalam Al Qur’an, disebutkan beberapa kali kata ‘halal’ yang digabungkan dengan
“thayyib(baik)”. Seperti firman Allah Swt dalam QS. Al Maidah ayat 88: “Dan makanlah
makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah
kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Demikian pula dalam QS. An Nahl ayat
114: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu;
dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepadaNya.” Juga dalam QS. Al
Baqarah ayat 168: “Hai manusia makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang
terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, syaitan itu
musuh yang nyata bagimu.” Dan QS. Surat Al Anfal ayat 69: “Maka makanlah dari sebagian
rampasan perang yang telah kamu peroleh itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan
bertaqwalah kepada Allah.Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Para mufasirin mengatakan bahwa rangkaian kata “halal” dan “thayyib” tersebut
menunjukkan bahwa yang diperintahkan oleh Allah Swt untuk dimakan/diminum adalah
yang memenuhi keduanya. Artinya, tidak cukup dengan hanya memperhatikan halalnya
saja, tetapi juga harus memperhatikan thayyibnya. Sebab bisa saja suatu
makanan/minuman itu halal tetapi mengakibatkan hal yang tidak baik bagi tubuh manusia. Itu
berarti makanan/minuman tersebut halal tapi tidak thayyib. Sebagai contoh, makanan instan
yang banyak dikonsumsi oleh manusia sekarang ini dengan alasan: murah, mudah dan cepat
saji, ternyata miskin gizi. Padahal tubuh manusia memerlukan makanan yang kaya gizi untuk
kepentingan tumbuh kembangnya. Karena itu tidak salah jika ada yang menyebut makanan
instan dengan istilah makanan sampah (junk food) yang memang selayaknya manusia tidak
mengkonsumsinya. Begitu juga berbagai minuman dalam bentuk kemasan yang berwarna-
warni untuk menggugah selera konsumen/pembeli, yang ternyata menggunakan bahan
pewarna yang biasa digunakan untuk pewarna tekstil. Padahal bahan pewarna seperti itu
bersifat karsinogenik dan dapat merusak organ hati. Bisa dipikirkan seandainya
makanan/minuman seperti itu yang terus menerus dikonsumsi oleh kebanyakan dari kaum

2
muslim, tentulah sangat membahayakan terhadap kualitas generasi penerus umat Islam.
Karena itu, sudah menjadi keharusan bagi setiap individu muslim untuk melaksanakan
perintah Allah Swt dalam memilih makanan/minuman, yaitu yang halal dan thayyib.

Cara Islam Dalam Mengatasi Masalah Ini

Munculnya masalah-masalah yang disebabkan oleh beredarnya makanan/minuman yang


mengandung bahan-bahan yang berbahaya, tidak serta merta akan selesai dengan hanya
mewajibkan setiap individu untuk memilih makanan/minuman yang halal dan thayyib saja.
Sebab pilihan individu terhadap makanan/minuman, juga sangat tergantung dengan keadaan
sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan alasan lebih ekonomis, bisa saja seseorang memilih
makanan/minuman yang halal tapi tidak thayyib. Atau dengan alasan untuk menunjukkan
status sosialnya, seseorang biasa menyantap makanan jenis junk food. Karena itu diperlukan
peranan pemerintah untuk menguatkan aturan yang terkait dengan masalah ini dan
memikirkan metode penegakan aturannya di masyarakat.

Sebagian kalangan menganggap bahwa peraturan-peraturan dari pemerintah yang terkait


dengan masalah ini masih terbatas pada anjuran. Sebagai contoh Peraturan Menteri
Kesehatan No.722/Menkes/1988 yang diperkuat dengan Permenkes No.1168/Menkes/1999
hanya menyebutkan bahan-bahan yang diijinkan sebagai bahan tambahan pangan. Begitu
pula dalam Peraturan Pemerintah No.69/1999 yang mengatur masalah labelisasi halal,
membedakan antara produk dalam negeri dengan produk impor. Untuk produk dalam negeri,
label halal bersifat voluntary (sukarela) sedangkan untuk produk impor yang memang halal,
label halal bersifat mandatory (wajib). Peraturan-peraturan ini ternyata tidak mampu
membendung peredaran makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya di
masyarakat. Memang sekarang ini pemerintah mulai mengajukan Rancangan Undang-
Undang Jaminan Produk Halal yang sifatnya mandatory (wajib) dan memberikan sanksi
administrasi dan tindak pidana bagi para pelanggar. Namun ternyata RUU ini masih menjadi
polemik berbagai pihak dengan alasan akan menyebabkan terjadinya sentralisasi proses
sertifikasi yang justru dapat meningkatkan biaya produksi dan masih adanya tarik ulur
mengenai siapa yang lebih berhak memberikan sertifikasi.

Berdasar pada fakta-fakta seperti itu, dengan tujuan mendapatkan solusi dari masalah ini
maka yang harus menjadi paradigma pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini adalah
bahwa tugas pokok pemerintah sebagai penyelenggara negara adalah melayani urusan rakyat.
Karena Rasulullah Saw bersabda:“Seorang amir (pemimpin) yang berkuasa atas manusia
adalah penanggungjawab (atas segala urusan rakyat) dan dia (amir/pemimpin) akan ditanyai
tentang rakyatnya.”(HR. Imam Muslim dari Ibnu Umar). Pemerintah bertanggung jawab
terhadap terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, keamanan dan
kesehatan untuk seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Semua itu harus diberikan kepada
rakyatnya secara adil tanpa membeda-bedakan golongan ekonomi atas, menengah maupun
bawah, muslim maupun non muslim. Sehingga termasuk tugas pemerintah juga untuk
menyediakan kebutuhan pangan yang halal dan thayyib bagi seluruh rakyatnya.

Ketegasan pemerintah terhadap siapapun, produsen ataupun individu yang sengaja


mengedarkan makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan berbahaya juga sangat
diperlukan. Yaitu, dalam bentuk pemberian sanksi (hukum ta’zir) mulai dari pemberian
nasehat sebagai peringatan sampai hukuman yang setimpal dengan akibat perbuatannya.
Perbuatan sengaja mengedarkan makanan/minuman yang mengandung bahan-bahan
berbahaya, termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Sebab, Islam memerintahkan

3
untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “La
dharara wala dhirara”. (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah), yang artinya:”Tidak boleh
membuat mudharat/membahayakan kepada dirinya sendiri dan tidak pula membuat
mudharat/membahayakan kepada orang lain.”

Penutup

Sebagai seorang muslim, memang sudah saatnya kita harus lebih semangat lagi untuk
mengembalikan kehidupan kita dalam naungan Islam. Sebab, Islam agama yang berasal dari
Allah Swt, Dzat yang menciptakan manusia, langit, bumi beserta seluruh isinya. Karenanya,
Allah Swt yang paling berhak mengatur urusan-urusan manusia. Islam telah terbukti mampu
untuk menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan manusia selama hampir 14 abad. Islam
adalah agama rahmatan lil ‘alamin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, dan hal ini
akan terwujud ketika seluruh aturan Islam diterapkan di muka bumi ini. Oleh karena itu, umat
Islam haruslah menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang selalu dipegang dan
diterapkannya dalam kehidupan ini.