Anda di halaman 1dari 7

Paper Teknik Reaksi Kimia

Kelompok 9
Disusun Oleh :
Arief Pangestu (3335141040)
Asep Ikbal Maulana (3335140332)
Herlan Febrianda (3335141374)
Wahyu Saepuloh (3335140644)

REAKTOR
Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung, baik itu
reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika. Dengan terjadinya reaksi inilah suatu bahan
berubah ke bentuk bahan lainnya, perubahannya ada yang terjadi secara spontan alias terjadi
dengan sendirinya atau bisa juga butuh bantuan energi seperti panas (contoh energi yang paling
umum). Perubahan yang dimaksud adalah perubahan kimia, jadi terjadi perubahan bahan bukan
fasa misalnya dari air menjadi uap yang merupakan reaksi fisika.
Untuk mendukung agar reaktor dapat berfungsi maksimal dan aman terkendali, maka
diperlukan sistem pengendalian proses yang menggunakan beberapa alat tambahan.

Beberapa contoh dari aksesoris tersebut umumnya adalah :


1. Level Controller (LC), suatu alat yang menjaga agar volum (isi) reaktor tetap
terjaga, tidak kehabisan reaktan ataupun kelebihan yang dapat menyebabkan kenaikan
tekanan. Cara kerja dari alat ini adalah dengan terus mendeteksi ketinggian permukaan
bahan dalam reaktor, jika kurang dari toleransi yang diberikan (set point) maka kran
keluaran (output) akan mengecil sampai ketinggian mencapai tinggi yang telah di set.
Sebaliknya jika melebihi kran keluaran akan dibuka lebih lebar untuk mengurangi
bahan dalam reaktor.
2. Pressure Controller (PC), Suatu alat yang bertugas untuk menjaga agar tekanan
dalam reaktor masih berada pada kisaran yang ditetapkan. Biasanya diterapkan pada
reaktor yang memakai reaktan berfasa gas. Cara kerjanya mirip dengan LC yaitu
dengan membuka dan menutup kran.
3. Temperature Controller (TC), suatu alat yang bertugas agar suhu di dalam
reaktor masih berada dalam kisaran suhu operasinya. TC juga bekerja dengan membuka
dan menutup kran, namun kran yang diintervensi adalah kran utilitas. Misalnya CSTR
berpemanas, jika suhu drop maka kran koil uap panas (steam) akan diperbesar sehingga
steam yang masuk akan lebih banyak yang akhirnya suplai panas pun bertambah dan
akhirnya suhu reaktor akan bertambah dan suhu reaktor pun dapat kembali ke suhu
yang normal. Sebaliknya jika suhu reaktor bertambah.

Dalam teknik kimia, Reaktor kimia adalah suatu bejana tempat berlangsungnya
reaksi kimia. Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari
di teknik kimia. Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja
reaktor, sehingga didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar dengan
biaya yang minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Tentu saja faktor keselamatan pun
tidak boleh dikesampingkan. Biaya operasi biasanya termasuk besarnya energi yang akan
diberikan atau diambil, harga bahan baku, upah operator, dll. Perubahan energi dalam suatu
reaktor kimia bisa karena adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan atau
pengurangan tekanan, gaya gesekan (pengaduk dan cairan), dll.

Gambaran umum:
Ada dua jenis utama reaktor kimia:
 Reaktor tangki atau bejana
 Reaktor pipa

Kedua jenis reaktor dapat dioperasikan secara kontinyu maupun partaian/batch. Biasanya,
reaktor beroperasi dalam keadaan ajeg namun kadang-kadang bisa juga beroperasi secara
transien. Biasanya keadaan reaktor yang transien adalah ketika reaktor pertama kali
dioperasikan (mis: setelah perbaikan atau pembelian baru) di mana komponen produk masih
berubah terhadap waktu. Biasanya bahan yang direaksikan dalam reaktor kimia adalah cairan
dan gas, namun kadang-kadang ada juga padatan yang diikutkan dalam reaksi (mis: katalisator,
regent, inert). Tentu saja perlakuan terhadap bahan yang akan direaksikan akan berbeda.

Ada tiga tipe pendekatan utama yang digunakan dalam pengoperasian reaktor:
 Model reaktor batch
 Model Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau dikenal juga sebagai RTIK
(Reaktor Tangki Ideal Kontinu)
 Model Reaktor Alir Pipa (RAP) atau dikenal juga sebagai RAS (Reaktor aliran Sumbat)

Lebih jauh lagi, reaktor dengan katalisator (padatan) membutuhkan pendekatan yang terpisah
dari ketiga model tersebut dikarenakan banyaknya asumsi sehingga menyebabkan tiga model
perhitungan di atas tidak lagi akurat.

Beberapa ubahan yang mempengaruhi rancangan reaktor:


 Waktu tinggal
 Volum (V)
 Temperatur (T)
 Tekanan (P)
 Konsentrasi senyawa (C1, C2, C3, …,Cn
 Koefisien perpindahan panas (h, U), dll

REAKTOR BATCH
Pengertian Reaktor Batch
Batch Reactor adalah tempat terjadinya suatu reaksi kimia tunggal, yaitu reaksi yang
berlangsung dengan hanya satu persamaan laju reaksi yang berpasangan dengan persamaan
kesetimbangan dan stoikiometri. Reaktor jenis ini biasanya sangat cocok digunakan
untuk produksi berkapasitas kecil misalnya dalam proses pelarutan padatan, pencampuran
produk, reaksi kimia, Batch distillation, kristalisasi, ekstraksi cair-cair, polimerisasi, farmasi
dan fermentasi.

Beberapa ketetapan menggunakan reaktor tipe Batch :


● Selama reaksi berlangsung tidak terjadi perubahan temperatur
● Pengadukan dilakukan dengan sempurna, konsentrasi di semua titik dalam reaktor adalah
sama atau homogen pada waktu yang sama
● Reaktor ideal

Pada umumnya reaktor batch digunakan untuk:


 fase cair
 skala proses yang kecil
 proses memerlukan waktu yang lama
 memproduksi produk mahal

Batch reactor Batch reactor with flux jacket

Neraca massa batch reactor


Sebuah reaktor batch tidak memiliki inflow maupun outflow dari reaktan maupun produk pada
saat reaksi sedang berlangsung. Persamaan neraca massa pada elemen volume Dv
Rmasuk+ Rkeluar+ Rgenerasi = Rakumulasi
Misalkan : A + B P
Neraca massa untuk komponen A adalah :
• A masuk = A keluar + A terakumulasi + A yang bereaksi
• FAi = FAC + (dNA/dt) + (-rA)(V)
• FAi = FAo = 0, karena tidak ada reaktan yang masuk atau keluar

Note :
Batch reaktor volume tetap
Mole A setelah reaksi berlangsung selama waktu t sebanding dengan konsentrasi A yang tersisa
dalam larutan di kali dengan volume.

NA (mole) = CA . V (mole/volume) x (volume)

Bentuk differensialnya :

Untuk batch reaktor tekanan konstan

Note : NA= CA.V


Neraca Massa dan Persamaan Karakteristik Reactor Alir Sumbat
Neraca massa pada reaktor alir pipa pada kondisi steady state sebagai berikut :

Neraca masa di dalam segmen volume dV adalah sebagai berikut :

FA = ( -rA ) dV + ( FA + dFA ) (1)


A masuk = A yang hilang A yang keluar
karena reaksi
atau: - dFA = -rA dV (2)
karena - FA = FA0 ( 1 – XA ) maka persamaan (2) bisa ditulis dalam fungsi XA , menjadi
FA0 dXA = -rA dV (3)
atau,
dXA -rA -rA
---- = ---- = ----- (4)
dV FA0 υo CAo

Karena -rA merupakan fungsi dari XA, maka persamaan (4) biasanya ditulis sebagai berikut :
dV dV dXA
---- = ----- = ------- (5)
FA0 υo CAo -rA

Besarnya konversi pada bagian keluaran (output) reaktor diperoleh dengan mengintegrasikan
persamaan 5 , untuk seluruh volume reaktor V dengan harga batas antara XAo dan XA,

V XA dXA
---- = CAo ∫ ------- (6)
υo XA0 -rA

dimana :
V volume reaktor
------ = --------------------- = τp = space time
υo laju alir umpan

Kebalikan dari space time adalah space velocity τs = 1/ τp , yaitu kecepatan alir umpan yang
diizinkan per satuan volume reaktor untuk mendapatkan suatu harga konversi tertentu.
Neraca Massa Reaktor Batch secara umum :
Romi – Romo – Romr = Roma
𝑑𝑉𝐶
0 - 0 − (−𝑟𝐴 )𝑉 = 𝑑𝑡 𝐴
𝑑𝐶𝐴 𝑑𝑉
− (−𝑟𝐴 )𝑉 = 𝑉 + 𝐶𝐴 𝑑𝑡
𝑑𝑡
𝑑𝐶𝐴
= −(−𝑟𝐴 )
𝑑𝑡
𝑑𝐶𝐴0 (1−𝑥𝐴 )
= −(−𝑟𝐴 )
𝑑𝑡
𝑑𝑥𝐴
−𝐶𝐴0 = −(−𝑟𝐴 )
𝑑𝑡
𝑥 𝑑𝑥
𝑡 = 𝐶𝐴0 ∫𝑥 𝐴0 (−𝑟𝐴 )
𝐴 𝐴
Neraca Energi dan Panas

Bentuk umum :
R in – R out + R gen = R acc

Panas masuk dapat dari pemanas koil/jaket, panas keluar dapat dari pendingin koil/jaket, dan
panas generasi adalah panas yang dihasilkan atau dibutuhkan oleh reaksi.
 Transfer panas, R in / R out ditunjukkan dengan persamaan :
Q = UAc(Tc-T)m
U = koef transfer panas keseluruhan
Ac = Luas pemanas/pendingin koil
Tc = Suhu koil
(Tc – T)m = Beda suhu rata-rata ∆Tm untuk transfer panas

Bila Q > 0 (Tc > T) = panas masuk


Q<0 (Tc < T) = panas keluar

 Panas Generasi
R gen = (-∆HRA)(-rA)V atau (-∆URA) (-rA)V

Bila ∆HRA > 0 (reaksi endotermis)


∆HRA < 0 (reaksi eksotermis)

 Panas Akumulasi
Racc = dH/dt = Nt Cp dT/dt = mt Cp dT/dt
Total mol :
Nt= ∑𝑛𝑖=1 Ni (termasuk inert)

Neraca energi Reactor Batch non isotermal dan non adiabatis :


UAc(Tc-T)m + (-∆HRA)(-rA)V = nt Cp dT/dt
Menghitung waktu operasi

𝑁𝐴 𝑁𝐴
𝑑𝑁𝐴 𝑑𝑁𝐴
𝑡= ∫ =− ∫
𝑟𝐴 𝑉 −𝑟𝐴 𝑉
𝑁𝐴0 𝑁𝐴0

𝑁𝐴
−𝑟𝐴 𝑉 = 𝑘𝐶𝐴 𝑉 = 𝑘 𝑉 = 𝑘𝑁𝐴
𝑉
𝑁𝐴0
𝑑𝑁𝐴 1 𝑁𝐴0
𝑡= ∫ = 𝑙𝑛
𝑘𝑁𝐴 𝑘 𝑁𝐴
𝑁𝐴