Anda di halaman 1dari 26

CASE REPORT

SINUSITIS MAXILLARIS

PEMBIMBING :
dr. Ilham Priharto, Sp.THT-KL

Disusun oleh :
Tetty Prasetya Ayu Lestari, S.Ked
1102013283

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


KEPANITERAAN KLINIK THT
RSUD DR DRADJAT PRAWIRANEGARA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Sinusitis adalah inflamasi mukosa sinus paranasal dan merupakan penyakit


yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari hari, bahkan dianggap sebagai
salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Menurut
Gluckman, kuman penyebab sinusitis akut tersering adalah Streptococcus
pneumonia dan Haemophilus infuenza yang ditemukan pada 70% kasus. Secara
epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid dan maksilaris.
Bahaya dari sinusitis adalah komplikasi ke orbita dan intrakranial, komplikasi ini
terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tidak dapat
dihindari.1
Sinusitis menjadi masalah kesehatan penting hampir di semua negara dan
angka prevalensinya makin meningkat tiap tahunnya. Sebanyak 24-31 juta kasus
sinusitis ditemukan di United States. Sinusitis paling sering dijumpai dan
termasuk 10 penyakit termahal karena membutuhkan biaya pengobatan cukup
besar.1 Prevalensi sinusitis di Indonesia cukup tinggi. Sinus paranasal merupakan
hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam
tulang. Ada empat pasang sinus paranasal, sinus maksila, sinus frontal, sinus
etmoid dan sinus sfenoid.
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara
lain (1) sebagai pengatur kondisi udara, (2) sebagai penahan suhu, (3) membantu
keseimbangan kepala, (4) membantu resonansi suara, (5) peredam perubahan
tekanan udara dan (6) membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga
hidung.1, Sinus maksila disebut juga antrum High more, merupakan sinus yang
sering terinfeksi, oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2)
letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret atau drainase dari
sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maksila adalah
dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan

2
sinusitis maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius, disekitar
hiatus semilunaris yang sempit, sehingga mudah tersumbat.1
Sinusitis maksilaris dapat terjadi akut, berulang atau kronis. Sinusitis
maksilaris akut berlangsung tidak tanpa adanya residu kerusakan jaringan
mukosa. Sinusitis berulang terjadi lebih sering tapi tidak terjadi kerusakan
signifikan pada membran mukosa. Sinusitis kronis berlangsung selama 3 bulan
atau lebih dengan gejala yang terjadi selama lebih dari dua puluh hari (lebih dari
tiga minggu). Sinusitis akut dapat sembuh sempurna jika diterapi dengan baik. 1,2

3
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. S
Jenis kelamin : laki-laki
No.RM : 00.17.38.31
Umur : 53 Tahun
Alamat : Kp. Pengerengan Pejaten, Kec. Kramatwatu
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Tanggal periksa : 24 Juli 2018

2.2 ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 24 Juli 2018 di


ruang dahlia RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang.

 Keluhan utama : Kedua hidung merasa tersumbat


 Keluhan tambahan : Nyeri kepala
 Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke poli THT RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang
dengan keluhan hidung tersumbat sejak 4 minggu SMRS. Awalnya pasien
bersin-bersin disertai pengeluaran cairan bening dari kedua hidung. Setelah
itu lama-kelamaan sekret menjadi kuning-kehijauan, kental, dan bau. Hal ini
disertai dengan sumbatan jalan nafas yang juga dirasakan di kedua lubang
hidung pasien. Sering terasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke
tenggorokan. Pada 2 minggu SMRS pasien merasakan penurunan
penciuman pada kedua hidung. Pasien merasakan nyeri di bawah mata

4
kanan disertai nyeri tekan di kedua pipi. Pasien juga mengeluhkan nyeri
kepala seperti ditusuk-tusuk yang hilang timbul. Keluhan demam dan batuk
disangkal.

 Riwayat penyakit dahulu:


Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), Asma (-)
 Riwayat penyakit keluarga:
Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), Asma (-)

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Composmentis
 Tanda- tanda vital
o Tekanan darah : 120/90 mmHg
o Nadi : 90x/menit
o Pernapasan : 20x/menit
o Suhu : 37C
 Status generalis
Kepala : Normocephali
Mata : conjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-
Refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak
langsung +/+
Leher : KGB tidak teraba membesar, tiroid tidak teraba membesar
Thorax : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremita s : Dalam batas normal

5
 Status lokalis
o Pemeriksaan Telinga

Auric
Bagian Kelainan
Dextra Sinistra
Bentuk telinga Normotia
Aurikula Kelainan kongenital - -
Peradangan - -
Massa - -
Nyeri tarik - -
Nyeri tekan tragus - -
Preaurikuler & Kelainan kongenital - -
retroaurikuler
Peradangan - -
Massa - -
Edema - -
Sikatrik - -
Fistula - -
Pembesaran KGB - -
Nyeri tekan - -
Liang telinga Kelainan kongenital - -
luar
Peradangan - -
Massa - -
Edema - -
Fistula - -
Kelainan kulit - -
Sekret - -
Serumen - -

6
Membran Kondisi Intak Intak
timpani
Cone of light + +
Refleks cahaya refleks cahaya
arah jam 5 arah jam 7

o Pemeriksaan Hidung

Cavum Nasi
Pemeriksaan
Dextra Sinistra
Inspeksi
Bentuk Tampak Simetris kanan dan kiri
Sikatrik - -
Hematom - -
Palpasi
Nyeri tekan sinus paranasal + +
Krepitasi - -
Massa - -

7
Rhinoscopy anterior
Cavum nasi Sempit Sempit
Mukosa cavum nasi Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Sekret - -
Konka inferior Hipermis (-) Hipermis (-)
Hipertrofi (+) Hipertrofi (+)
Konka media Hipermis (-) Hipermis (-)
Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Meatus inferior Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Meatus media Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Massa (-) Massa (-)
Septum anterior Deviasi (-) Deviasi (-)
Rhinoscopy posterior
Nasofaring
Koana
Konka superior
Tidak dilakukan pemeriksaan
Konka media
Kelenjar adenoid
Massa

o Pemeriksaan Tenggorok

8
Pemeriksaan Kondisi
Faring & Rongga Mulut
Bibir Sianosis (-)
Mukosa mulut Hiperemis (-)
Lidah Normal
Gusi Normal
Gigi berlubang Kiri atas
Palatum durum Hipermis (-)
Palatum mole Hipermis (-)
Uvula Hipermis (-), Deviasi (-)
Arkus faring Hipermis (-), Simetris
Tonsil Normal, T1 – T1
Hipofaring & Laring
Pita suara Hipermis (-), Deviasi (-), massa (-)
Epiglottis Hipermis (-)
Esophagus Lapang

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Foto polos sinus paranasal ( posisi waters, AP, caldwell dan lateral )

9
Hasil pemeriksaan didapatkan :

 Sinus maksilaris, ethmoidalis, sphenoidalis dan frontalis bilateral


dalam batas normal
 Konkha nasal menebal
 Septum nasi masih ditengah

Kesan :

- Sinusitis maksilaris bilateral


- Hipertrofi konkha nasalis bilateral

2.5 DIAGNOSIS

Diagnosis : Sinusitis Maxillaris Bilateral dan hipertropi konka

Diagnosis Banding : Sinusitis Maxillaris Dentogen

2.6 PENATALAKSANAAN
 Medikamentosa:
o RL 20 tpm
o Inj. Ceftriaxon 2x1 amp
o Inj. Kalnex 3x1 amp

10
o Inj. Ketorolac 3x1 amp
o Inj. Dexamethason 2x1 amp
o Inj. Ranitidin 3x1 amp
 Pembedahan :
o Sinusektomi + Turbinektomi

2.7 PROGNOSIS

Ad vitam : Ad Bonam

Ad fungsionam : Dubia ad bonam

Ad Sanationam : Ad bonam

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang
terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal,
dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis,
sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pan sinusitis.

3.2 Etiologi
Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen),
gigi dan gusi (dentogen), faring, tonsil serta penyebaran hematogen walaupun
jarang. Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung, barotrauma, berenang
atau menyelam.
Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah kelainan
anatomi hidung, hipertrofi konka, polip hidung, dan rinitis alergi.Rinosinusitis ini
sering bermula dari infeksi virus pada selesma, yang kemudian karena keadaan
tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen
yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab lain adalah infeksi jamur,
infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor.

3.3Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu
mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi
sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak
dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan
tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi
atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya

12
cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh
tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini
akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret
akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa
berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang.
Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi,
polipoid atau pembentukan polip dan kista.

3.4 Faktor Predisposisi


Obstruksi mekanik seperti deviasi septum, hipertrofi konka media, benda
asing di hidung, polip serta tumor di dalam rongga hidung merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu rinitis kronis serta rinitis alergi juga
menyebabkan obstruksi ostium sinus serta menghasilkan lendir yang banyak, yang
merupakan media untuk tumbuhnya bakteri. Sebagai faktor predisposisi lain ialah
lingkungan berpolusi, udara dingin serta kering, yang dapat mengakibatkan
perubahan pada mukosa serta kerusakan silia.

3.5 Diagnosis
Penegakan diagnosis sinusitis secara umum:
a) Kriteria Mayor :
- Sekret nasal yang purulen

13
- Drenase faring yang purulen
- Purulent Post Nasaldrip
- Batuk
- Foto rontgen (Water’sradiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih
50% dari antrum
- Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus

b) Kriteria Minor :
- Sakit kepala - Edem periorbital
- Nyeri di wajah - Sakit gigi
- Nyeri telinga Sakit tenggorok - Nafas berbau
- Bersin-bersin bertambah sering - Demam
- Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri
- Ultrasound

Kemungkinan terjadinya sinusitis jika :


Gejala dan tanda : 2 mayor, 1 minor dan ≥ 2 kriteria minor

Pemeriksaan Penunjang
a) Laboratorium
 Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis
sinusitis akut
 Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut, tapi
harus dilakukan pada pasien immunocompromise dengan perawatan intensif
dan pada anak-anak yang tidak respon dengan pengobatan yang tidak
adekuat, dan pasien dengan komplikasi yang disebabkan sinusitis.
b) Imaging
 Rontgen sinus, dapat menunjukan suatu penebalan mukosa, air-fluid level,
dan perselubungan.Pada sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen
gigi untuk mengetahui adanya abses gigi.

14
 CT-Scan, memiliki spesifisitas yang jelek untuk diagnosis sinusitis akut,
menunjukan suatu air-fluid level pada 87% pasien yang mengalami infeksi
pernafasan atas dan 40% pada pasien yang asimtomatik. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk luas dan beratnya sinusitis.
 MRI sangat bagus untuk mengevaluasi kelainan pada jaringan lunak yang
menyertai sinusitis, tapi memiliki nilai yang kecil untuk mendiagnosis
sinusitis akut

3.6 Klasifikasi
Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila
gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu. Sinusitis subakut bila
berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis kronik bila berlangsung
lebih dari 3 bulan.
Tetapi apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sebagai
sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut. Dikatakan sinusitis subakut
bila tanda-tanda radang akut sudah reda dan perubahan histologik
bersifat reversible dan disebut sinusitis kronik,bila oerubahan histologik mukosa
sinus sudah irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan granulasi atau
polipoid. Sebenarnya klasifikasi yang tepat ialah berdasarkan pemeriksaan
histopatologik, akan tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dikerjakan.

a) Sinusitis Akut
Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks osteomeatal oleh
infeksi, obstruksi mekanis atau alergi. Selain itu juga dapat merupakan
penyebaran dari infeksi gigi.
- Etiologi
 rinitis akut
 infeksi faring, seperti faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut
 infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3, serta P1 dan P2 (dentogen)
 berenang dan menyelam
 trauma dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal

15
 barotrauma dapat menyebabkan nekrosis mukosa.
- Gejala Subyektif
Gejala sebjektif dibagi dalam gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik
ialah demam dan rasa lesu. Lokal pada hidung terdapat ingus kental yang kadang
– kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung
tersumbat, rasa nyeri didaerah sinus yang terkena, serta kadang – kadang
dirasakan juga ditempat lain karena nyeri alih (referred pain).
Pada sinusitis maksila nyeri dibawah kelopak mata dan kadang – kadang
menyebar ke alveolus, sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi
dan didepan telinga. Rasa nyeri pada sinusitis ethmoid di pangkal hidung dan
kantus medius. Kadang – kadang dirasakan nyeri di bola mata atau
dibelakangnya, dan nyeri akan bertambah bila mata digerakkan. Nyeri alih
dirasakan di pelipis (parietal). Pada sinusitis frontal rasa nyeri terlokalisasi di dahi
atau dirasakan nyeri diseluruh kepala. Rasa nyeri pada sinusitis sfenoid di verteks,
oksipital, dibelakang bola mata dan didaerah mastoid.
- Gejala Obyektif
Pembengkakan pada sinusitis maksila terlihat di pipi dan kelopak mata
bawah, pada sinusitis frontal di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid
jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus
atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan
sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada rinoskopi
posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
- Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau
gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit,
sehingga tampak lebih suram dibandingkan dengan sisi yang normal.

16
Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi Waters, PA dan lateral.
Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air
fluid level) ada sinus yang sakit.

- Pemeriksaan Mikrobiologi
Sebaiknya untuk pemeriksaan mikrobiologik diambil sekret dari meatus
medius atau meatus superior. Mungkin ditemukan bermacam – macam bakteri
yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti
Pneumococcus, Streptococcus, Stphylococcus dan Haemophylus influeanzae.
Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur.

17
- Terapi
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotika selama 10 – 14 hari,
meskipun gejala klinik telah hilang. Antibiotika yang diberikan adalah golongan
penisilin. Diberikan juga obat dekongestan lokal berupa tetes hidung, untuk
memperlancar drainase sinus. Boleh diberikan analgetika untuk menghilangkan
rasa nyeri.
Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah
terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial; atau bila ada nyeri yang hebat
karena ada sekret tertahan oleh sumbatan.

b) Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang
akutnya (demam, sakit kepala, nyeri tekan) sudah reda. Pada rinoskopi anterior
tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior
tampak secret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak
sinus yang sakit suram atau gelap.
Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan
tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus. Obat-obat yang diberikan berupa
antibiotika berspektrum luas, atau yang sesuai dengan tes resistensi kuman,
selama 10-14 hari. Juga diberikan obat-obat simtomatis berupa dekongestan local
(obat tetes hidung) untuk memperlancar draenase. Obat tetes hidung hanya boleh
diberikan untuk waktu yang terbatas (5 sampai 10 hari), karena kalau terlalu lama
dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa. Selain itu, dapat diberikan
analgetika, antihistamin, dan mukolitik.
Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short
wave diathermy), sebanyak 5-6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki
vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus dan
juga pembedahan non radikal, seperti bedah Sinus Endoskopik Fungsional
(BSEF) untuk membersihkan daerah Kompleks Ostio Meatal sehingga mukosa
sinus kembali normal.

18
c) Sinusitis Kronik
Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek,
umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus
dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan
mukosa hidung dapat juga disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik.
Perubahan mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi
menjadi kronis apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna. Adanya
infeksi akan menyebabkan edema konka, sehingga drenase sekret akan terganggu.
Drenase sekret yang terganggu dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya.

- Gejala Subyektif
Gejala subyekif sangat bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari:
· Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca
nasal drip (post nasal drip).
· Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok.
· Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya
tuba Eustachius.
· Adanya nyeri/sakit kepala.
· Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-
lakrimalis.
· Gejala saluran napas berupa batuk dan kadang-kadang terdapat
komplikasi di paru, beruoa bronchitis atau bronkietaksis atau asma
bronchial, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis.
· Gejala di saluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat
menyebabkan gastroenteritis,`sering terjadi pada anak.
Kadang-kadang gejala sangat ringan hanya terdapat sekret di nasofaring
yang meengganggu pasien. Sekret pasca nasal yang terus-menerus akan
mengakibatkan batuk kronik.
Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari dan akan
berkurang atau hilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui dengan

19
pasti, tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam
rongga hidung dan sinus serta adamya stasis vena.
- Gejala obyektif
Pada sinusitis kronis, temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis
akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat
ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior. Pada
rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.
- Pemeriksaan mikrobiologik
Biasanya merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba,
seperti kuman aerob S. aureus, S. viridians, H. Influenzae dan kuman anaerob
Peptostreptokokus dan Fusobakterium.
- Diagnosis sinusitis kronik
Dibuat berdasarkan anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi
anterior dan posterior serta pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi untuk
sinus maksila dan sinus frontal, pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila,
sinoskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil
pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaan meatus medius dan meatus superior
dengan menggunakan naso-endoskopi dan pemeriksaan CT-scan.
- Terapi
Pada sinusitis kronis perlu diberikan terapi antibiotik untuk mengatasi
infeksinya dan obat-obatan simtomatis lainnya. Antibiotik diberikan selama
sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu dapat juga dibantu dengan diatermi
gelombang pendek selama 10 hari di daerah sinus yang sakit.
Tindakan lain yang dapat dilakukan ialah tindakan untuk membantu
memperbaiki drenase dan pembersihan sekret dan sinus yang sakit. Untuk
sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk sinusitis
etmoid, frontal atau sphenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz. Irigasi dan
pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5-6 kali tidak
ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukosa sinus
sudah tidak dapat kembali normal (perubahan irreversible), maka perlu dilakukan
operasi radikal.

20
Untuk mengetahui perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat
juga dilakukan dengan pemeriksaan sinoskopi, yaitu melihat antrum (sinus
maksila) secara langsung dengan menggunakan endoskop.

3.7 Komplikasi Sinusitis


CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan
derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan
ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi.
a) Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita
yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi
ethmoidalis akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak
di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan :
o Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat
infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan
pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus
ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.
o Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif
menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
o Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang
orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
o Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi
orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan
unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata
yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses
orbita, juga proptosis yang makin bertambah.
o Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui
saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu
tromboflebitis septik.

21
 Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
 Oftalmoplegia.
 Kemosis konjungtiva.
 Gangguan penglihatan yang berat.
o Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang
berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga
dengan otak.

b) Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul
dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering
disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat
membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini
dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis
dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat
menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf
didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan
mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat
semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau
obliterasi sinus.
c) Komplikasi Intrakranial
 Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat
adalah meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat
menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang
berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau
melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara
ethmoidalis.

22
 Abses dural adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula
interna kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses
ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala
dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan
intra kranial.
 Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan
arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama
dengan abses dura.
 Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus
terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara
hematogen ke dalam otak. Terapi komplikasi intra kranial ini
adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada
ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran
infeksi.
 Osteomielitis dan abses subperiosteal, penyebab tersering
osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat
berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil

23
BAB IV
ANALISIS MASALAH

Seorang laki-laki, 53 tahun datang berobat ke Poliklinik THT dengan


keluhan hidung tersumbat sejak 4 minggu SMRS. Keluhan hidung tersumbat
dirasakan hilang timbul. Pasien juga mngeluhkan adanya cairan yang keluar
melalui hidung. Cairan berwarna kuning kehijauan dan berbau. Pasien juga
mengeluhkan nyeri yang dirasakan pada kedua pipinya. Dalam satu minggu
terakhir pasien juga mengeluhkan sakit kepala.
Berdasarkan anamnesis pasien mengaku hidung terasa sumbat serta
adanya pengeluaran cairan bening yang lama kelamaan berubah kuning kehijauan,
kental dan berbau. Hal ini sesuai dengan teori bahwa organ-organ yang
membentuk KOM (kompleks osteo meatal) letaknya berdekatan dan apabila
terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam
rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi berupa serous. Kondisi ini
biasanya di anggap sebagai rhinosinusitis non bacterial dan biasanya akan sembuh
dalam beberapa hari. Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus
akan menjadi mediator yang baik untuk pertumbuhan bakteri sehingga sekter
akan berubah purulen.
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh rinitis akut, infeksi faring, infeksi gigi
rahang atas (dentogen), trauma. Gejala klinis dapat berupa demam dan rasa lesu.
Pada hidung dijumpai ingus kental. Dirasakan nyeri didaerah infraorbita dan
kadang-kadang menyebar ke alveolus. Penciuman terganggu dan ada perasaan
penuh dipipi waktu membungkuk ke depan. Pada pemeriksaan tampak
pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah. Pada rinoskopi anterior tampak
mukosa konka hiperemis dan edema. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di
nasofaring (post nasal drip). Terapi medikamentosa berupa antibiotik selam 10-14
hari. Pengobatan lokal dengan inhalasi, pungsi percobaan dan pencucian.
Sinusitis kronik dapat disebabkan oleh pneumatisasi yang tidak memadai,
makanan yang tak memadai, reaksi atopik, lingkungan kotor, sepsis gigi dan

24
variasi anatomi. Gejala berupa kongesti atau obstruksi hidung, nyeri kepala
setempat, sekret di hidung, sekret pasca nasal (post nasal drip), gangguan
penciuman dan pengecapan.

25
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Adam,Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, EGC,


Jakarta,1997
2. Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor.
Buku Ajar Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit
FK UI, Jakarta 2002, 115 – 119.
3. Ghorayeb B. Sinusitis. Dalam Otolaryngology Houston. Diakses
dariwww.ghorayeb.com/AnatomiSinuses.html
4. Guyton,AC, Hall,JE, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1997, editor:
irawati setiawan, ed. 9, 1997, Jakarta: EGC
5. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam buku ajar ilmu kesehatan
telinga hidung tenggorok kepala dan leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3
6. Pearce, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia,
Jakarta,2004
7. Soepardi, Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher edisi 5, FK UI, 2006.
8. Spanner, Spalteholz, Atlas Anatomi Manusia, Bagian ke II, edisi 16,
Hipokrates, Jakarta,1994.

26