Anda di halaman 1dari 14

FARMAKOLOGI VETERINER II

“Obat Sedatif-Hipnotik Golongan Benzodiazepin”

OLEH :

NAMA : RANI UTAMI PUTRI


NIM : 1609511088
KELAS C

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala berkat dan kuasa-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini
dengan baik.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi salah satu kriteria penilaian untuk mata
kuliah Farmakologi Veteriner II , Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
Udayana. Adapun dalam penulisan ini membahas mengenai Obat Sedatif-Hipnotik
pada golongan obat Benzodiazepin.
Segala kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kebaikan dari
tulisan ini dan penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih.

Denpasar, Senin 14 Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. ii


Daftar isi .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan masalah .................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Sedatif Hipnotik ......................................................................... 3
2.2 Penggolongan Obat Sedatif Hipnotik ...................................................... 4
2.3 Mekanisme kerja obat Sedatif Hipnotik ..................................................... 4
BAB III PENUTUP
4.1 Kesimpulan ............................................................................................ 10
4.2 Saran ...................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 11
Lampiran Jurnal ............................................................................................... 12

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Obat-obat yang berkerja pada sistem saraf pusat (SSP) merupakan salah
satu obat yang pertama ditemukan manusia primitif dan masih digunakan secara
luas sebagai zat farmakologi sampai sekarang. Disamping penggunaannya dalam
terapi, obat-obat SSP dipakai walaupun tanpa resep untuk meningkatkan
kesejahteraan seseorang.
Cara kerja berbagai obat pada SSP tidak selalu dapat dijelaskan.
Walaupun demikian,dalam 30 tahun terakhir, banyak kemajuaan yang diperoleh
dalam bidang metodologi farmakologi SSP. Saat ini telah dapat diteliti cara kerja
suatu obat pada sel-sel tertentu atau bahkan pada kanal ion tunggal didalam
sinaps. Informasi yang diperoleh dalam studi studi semacam ini merupakan dasar
dari sejumlah perkembangan yang utama dalam penelitian SSP.
Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan saraf
pusat (SSP). Efeknya bergantung dosis, mulai dari ringan yaitu menyebabkan
tenang atau kantuk, menidurkan, hingga berat yaitu kehilangan kesadaran,
keadaan anestesi, koma dan mati. Obat-obatan hipnotik sedative adalah istilah
untuk obat-obatan yamg mampu mendepresi sistem saraf pusat. Sedatif adalah
substansi yang memiliki aktifitas moderate yang memberikan efek menenangkan,
sementara hipnotik adalah substansi yang dapat memberikan efek mengantuk dan
yang dapat memberikan onset serta mempertahankan tidur (Tjay, 2002).

P a g e 1 | 11
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalahan dalam penulisan ini sebagai berikut :
 Apa definisi dari sedatif dan hipnotik ?
 Apa saja Penggolongan obat Sedatif hipnotik pada golongan obat
Benzodiazepin ?
 Bagaimanakah mekanisme kerja dari obat Sedatif hipnotik golongan obat
Benzodiazepin ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


 Untuk mengetahui pengertian dari sedative dan hipnotik
 Untuk mengetahui penggolongan obat sedative hipnotik golongan obat
Benzodiazepin
 Untuk mengetahui mekanisme kerja dari obat Sedatif hipnotik golongan obat
Benzodiazepin

P a g e 2 | 11
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI SEDATIF HIPNOTIK
Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang
diberikan pada siang hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk ke dalam
kelompok psikoleptika yang mencakup obat0obat yang menekan atau
menghambat sisem saraf pusat. Sedatif berfungsi menurunkan aktivitas,
mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Keadaan sedasi juga
merupakan efek samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan
Sistem Saraf Pusat, misalnya antikolinergika (Lüllmann, 2000).
Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapeutik
diperuntukkan untuk mempermudah atau menyebabkan tidur. Hipnotika
menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan sepanjang malam
mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah. Secara ideal obat
tidur tidak memiliki aktivitas sisa pada keesokan harinya (Tjay, 2002).
Sedatif-hipnotik berkhasiat menekan Sistem Saraf Pusat bila digunakan
dalam dosis yang meningkat, suatu sedatif, misalnya fenobarbital akan
menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur, dan pembiusan total (anestesi),
sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi dapat menyebabkan koma depresi
pernafasan dan kematian. Bila diberikan berulang kali untuk jangka waktu lama,
senyawa ini lazimnya menimbulkan ketergantungan dan ketagihan (Neal, 2002).
Penggolongan suatu obat ke dalam jenis sedative-hipnotik menunjukkan
bahwa kegunaan terapeutik utamanya adalah menyebabkan sedasi (dengan
disertai hilangnya rasa cemas) atau menyebabkan kantuk. Sedative-hipnotik
seringkali diresepkan untuk gangguan tidur karena termasuk ke dalam obat-
obatan penekan Sistem Saraf Pusat yang dapat menimbulkan depresi (penurunan
aktivitas fungsional) dalam berbagai tingkat dalam Sistem Saraf Pusat (Goodman
and Gilman, 2006).

P a g e 3 | 11
2.2 PENGGOLONGAN OBAT SEDATIF-HIPNOTIK
Secara klinis obat-obatan sedatif-hipnotik digunakan sebagai obat-obatan
yang berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan
kronik, tindakan anesthesia, penatalaksanaan kejang serta insomnia. Obat-
obatan sedatiif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yakni:
1) Benzodiazepin: alprazopam, klordiazepoksid, klorazepat, diazepam,
flurazepam, lorazepam, midazolam
2) Barbiturat: amobarbital, pentobarbital, fenobarbital, sekobarbital,
thiopental
3) Golongan obat nonbarbiturat-nonbenzodiazepin: meprobamat,
ketamin, propofol, dekstrometorphan, buspiron, kloralhidrat
(Ganiswarna, 1995).

2.3 MEKANISME KERJA OBAT SEDATIF-HIPNOTIK


2.3.1 Benzodiazepin
Benzodiazepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang
mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer, dan
psikoleptika. Benzodiazepin memiliki lima efek farmakologi sekaligus, yaitu
anxiolisis, sedasi, anti konvulsi, relaksasi otot melalui medula spinalis, dan
amnesia retrograde.
Penggolongan Benzodiazepin
Berdasarkan kecepatan metabolismenya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok
yaitu short acting, long acting, ultra short acting.
1) Long acting. Obat-obat ini dirombak dengan jalan demetilasi dan
hidroksilasi menjadi metabolit aktif (sehingga memperpanjang waktu
kerja) yang kemudian dirombak kembali menjadi oksazepam yang
dikonjugasi menjadi glukoronida tak aktif.
2) Short acting Obat-obat ini dimetabolisme tanpa menghasilkan zat aktif.
Sehingga waktu kerjanya tidak diperpanjang. Obat-obat ini jarang
menghasilkan efek sisa karena tidak terakumulasi pada penggunaan
berulang.
3) Ultra short acting Lama kerjanya sangat kurang dari short acting. Hanya
kurang dari 5,5 jam. Efek abstinensia lebih besar terjadi pada obat-
obatan jenis ini. Selain sisa metabolit aktif menentukan untuk

P a g e 4 | 11
perpanjangan waktu kerja, afinitas terhadap reseptor juga sangant
menentukan lamanya efek yang terjadi saat penggunaan.

Mekanisme Kerja Golongan Benzodiazepin


Efek farmakologi benzodiazepine merupakan akibat aksi gamma-
aminobutyric acid (GABA) sebagai neurotransmitter penghambat di otak.
Benzodiazepine tidak mengaktifkan reseptor GABA A melainkan meningkatkan
kepekaan reseptor GABA A terhadap neurotransmitter penghambat sehingga
kanal klorida terbuka dan terjadi hiperpolarisasi sinaptik membran sel dan
mendorong post sinaptik membran sel tidak dapat dieksitasi. BDZs tidak
menggantikan GABA, yang mengikat pada alpha sub-unit, tetapi meningkatkan
frekuensi pembukaan saluran yang mengarah ke peningkatan konduktansi ion
klorida dan penghambatan potensial aksi. Hal ini menghasilkan efek anxiolisis,
sedasi, amnesia retrograde, potensiasi alkohol, antikonvulsi dan relaksasi otot
skeletal.
Efek Samping
Kelelahan dan mengantuk adalah efek samping yang biasa pada
pengunaan lama benzodiazepine. Sedasi akan mengganguaktivitas setidaknya
selama 2 minggu. Penggunaan yang lama benzodiazepine tidak akan
mengganggu tekanan darah, denyut jantung, ritme jantung dan ventilasi. Namun
penggunaannya sebaiknya hati-hati pada pasien dengan penyakit paru kronis
(Ganiswarna, 1995).
Penggunaan benzodiazepine akan mengurangi kebutuhan akan obat
anestesi inhalasi ataupun injeksi. Walaupun penggunaan midazolam akan
meningkatkan efek depresi napas opioid dan mengurangi efek analgesiknya.
Selain itu, efek antagonis benzodiazepine, flumazenil, juga meningkatkan efek
analgesic opioid.
Farmakodinamik
Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja golongan ini
pada SSP dengan efek utama : sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap
rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot, dan anti konvulsi. Hanya dua efek saja
yang merupakan kerja golongan ini pada jaringan perifer : vasodilatasi koroner
(setelah pemberian dosis terapi golongan benzodiazepine tertentu secara iv), dan

P a g e 5 | 11
blokade neuromuskular (yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi).
Farmakokinetik
Sifat fisikokimia dan farmakokinetik benzodiazepine sangat mempengaruhi
penggunaannya dalam klinik karena menentukan lama kerjanya. Semua
benzodiazepine dalam bentuk nonionic memiliki koefesien distribusi lemak : air
yang tinggi; namun sifat lipofiliknya daoat bervariasi lebih dari 50 kali, bergantung
kepada polaritas dan elektronegativitas berbagai senyawa benzodiazepine.
Semua benzodiazepin pada dasarnya diabsorpsi sempurna,
kecuali klorazepat; obat ini cepat mengalami dekarboksilasi dalam cairan lambung
menjadi N-desmetil-diazepam (nordazepam), yang kemudian diabsorpsi
sempurna. Setelah pemberian per oral, kadar puncak benzodiazepin plasma dapat
dicapai dalam waktu 0,5-8 jam. Kecuali lorazepam, absorbsi benzodiazepin
melalui suntikan IM tidak tratur.
Secara umum penggunaan terapi benzodiazepine bergantung kepada
waktu paruhnya, dan tidak selalu sesuia dengan indikasi yang dipasarkan.
Benzodiazepin yang bermanfaat sebagai antikonvulsi harus memiliki waktu paruh
yang panjang, dan dibutuhkan cepat masuk ke dalam otak agar dapat mengatasi
status epilepsi secara cepat. Benzodiazepin dengan waktu paruh yang pendek
diperlukan sebagai hipnotik, walaupun memiliki kelemahan yaitu peningkatan
penyalahgunaan dan dan berat gejala putus obat setelah penggunaannya secara
kronik. Sebagai ansietas, benzodiazepine harus memiliki waktu paruh yang
panjang, meskipun disertai risiko neuropsikologik disebabkan akumulasi obat.
Contoh obat
a) Midazolam
Midazolam merupakan benzodiazepine yang larut air dengan struktur
cincin yang stabil dalam larutan dan metabolism yang cepat. Obat ini telah
menggatikan diazepam selama operasi dan memiliki potensi 2-3 kali lebih kuat.
Selain itu afinitas terhadap reseptor GABA 2 kali lebih kuat disbanding diazepam.
Efek amnesia pada obat ini lebih kuat dibandingkan efek sedasi sehingga pasien
dapat terbangun namun tidak akan ingat kejadian dan pembicaraan yang terjadi
selama beberapa jam.
Larutan midazolam dibuat asam dengan pH < 4 agar cincin tidak terbuka
dan tetap larut dalam air. Ketika masuk ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan
pH sehingga cincin akan menutup dan obat akan menjadi larut dalam lemak.

P a g e 6 | 11
Larutan midazolam dapat dicampur dengan ringer laktat atau garam asam dari
obat lain.
Farmakokinetik
Midazolam diserap cepat dari saluran cerna dan dengan cepat melalui
sawar darah otak. Namun waktu equilibriumnya lebih lambat disbanding propofol
dan thiopental. Hanya 50% dari obat yang diserap yang akan masuk ke sirkulasi
sistemik karena metabolism porta hepatik yang tinggi. Sebagian besar midazolam
yang masuk plasma akan berikatan dengan protein. Waktu durasi yang pendek
dikarenakan kelarutan lemak yang tinggi mempercepat distribusi dari otak ke
jaringan yang tidak aktif begitu juga dengan klirens hepar yang cepat.
Waktu paruh midazolam adalah antara 1-4 jam lebih pendek daripada
waktu paruh diazepam. Waktu paruh ini dapat meningkat pada pasien tua dan
gangguan fungsi hati. Pada pasien dengan obesitas, klirens midazolam akan lebih
lambat karena obat banyak berikatan dengan sel lemak. Akibat eliminasi yang
cepat dari midazolam, maka efek pada CNS akan lebih pendek dibanding
diazepam.
b) Diazepam
Diazepam adalah benzodiazepine yang sangat larut dalam lemak dan
memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan midazolam. Diazepam
dilarutkan dengan pelarut organic (propilen glikol, sodium benzoat) karena tidak
larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,6-6,9. Injeksi secra IV atau IM akan
menyebabkan nyeri.
Farmakokinetik
Diazepam cepat diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya
dalam 1 jam (15-30 menit pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi
menyebabkan Vd diazepam lebih besar dan cepat mencapai otak dan jaringan
terutama lemak. Diazepam juga dapat melewati plasenta dan terdapat dalam
sirkulasi fetus.
Ikatan protein benzodiazepine berhubungan dengan tingginya kelarutan
lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi memiliki ikatan dengan
protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan konsentrasi protein
plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan meningkatkan efek
samping dari diazepam.

P a g e 7 | 11
c) Lorazepam
Lorazepam memiliki struktur yang sama dengan oxazepam, hanya
berbeda pada adanya klorida ekstra pada posisi orto 5-pheynil moiety. Lorazepam
lebih kuat dalam sedasi dan amnesia disbanding midazolam dan diazepam
sedangkan efek sampingnya sama.
Farmakokinetik
Lorazepam dikonjugasikan dengan asam glukoronat di hati menjadi
bentuk inaktif yang dieksresikan di ginjal. Waktu paruhnya lebih lama yaitu 10-20
jam dengan ekskresi urin > 80% dari dosis yang diberikan. Karena
metabolismenya tidak dipengaruhi oleh enzim mikrosom di hati, maka
metabolismenya tidak dipengaruhi oleh umur, fungsi hepar dan obat penghambat
enzim P-450 seperti simetidin. Namun onset kerja lorazepam lebih lambat
disbanding midazolam dan diazepam karena kelarutan lemaknya lebih rendah.

NAMA OBAT, CARA PEMBERIAN & DOSIS BEBERAPA BENZODIAZEPIN


Nama Obat
Cara Pemberian Dosis
(Nama Dagang)
Alprazolam (XANAX) Oral -
Klordiazepoksid Oral, intramuscular,
5,0 – 100,0 ; 1-3x/hari
(LIBRIUM, DLL) intravena
Klonazepam
Oral -
(KLONOPIN)
Korazepat (TRANXENE,
Oral 3,75 – 20,00 ; 2-4x/hari
dll)
Oral, intramuscular,
Diazepam (VALIUM, dll) 5 – 10 ; 3-4x/hari
intravena, rectal
Estazoyam (PROZOM) Oral 1,0 – 2,0
Flurazepam (DALMANE) Oral 15,0 – 30,0
Halazepam (PAXIPAM) Oral -
Oral, intramuscular,
Lorazepam (ATIVAN) 2,0 – 4,0
intravena,
Midazolam (VERSED) intramuscular, intravena -
Oksazepam (SERAX) oral 15,0 – 30,0 ; 3- 4x/hari

P a g e 8 | 11
Quazepam (DORAL) Oral 7,5 – 15,0
Temazepam
Oral 0,75 – 30,0
(RESTORIL)
Triazolam (HALCION) Oral 0,125 – 0,25

P a g e 9 | 11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
 Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan
syaraf pusat (SSP).
 Beberapa obat dalam golongan hipnotik dan sedatif, khususnya
golongan benzodiazepin diindikasikan juga sebagai pelemas otot,
antiepilepsi, antiansietas (anticemas), dan sebagai penginduksi
anestesia.
 Benzodiazepin: alprazopam, klordiazepoksid, klorazepat, diazepam,
flurazepam, lorazepam, midazolam
 Benzodiazepin adalah sekelompok obat golongan psikotropika yang
mempunyai efek antiansietas atau dikenal sebagai minor tranquilizer,
dan psikoleptika.

3.2 Saran
Saya sangat mengharapkan kritik dan saran kepada para pembaca demi
kesempurnaan dari pembuatan penulisan saya.

P a g e 10 | 11
DAFTAR PUSTAKA

Craig, R.Craig and Robert E.Stitzel. (2007). Modern Pharmacology With Clinical
Application-6th Ed. Lippncott Williams & Wilkin. Virginia.

Ganiswarna. (1995). Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI

Goodman and Gilman. (2006). The Pharmacologic Basis of Therapeutics – 11th


Ed.,McGraw-Hill Companies. Inc, New York.

Harvey, Richard A., Pamela C. Champe. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta:
EGC.

Katzung, G.Bertram. (2007). Basic & Clinical Pharmacology – 10th Ed. The McGraw-Hill
Companies. Inc, New York.

Lüllmann, Heinz, [et al.]. (2000). Color Atlas of Pharmacology 2nd Ed. Thieme. New York.

Neal,J.Michael. (2002). Medical Pharmacology at a glance-4th Ed. Blackwell science Ltd.


London

Syarif, Amir, Ari Estuningtyas, dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Tjay, T. H. dan Rahardja. K. (2002). Obat-Obat Penting. Edisi Kelima Cetakan Kedua.
Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

Windy.2011. “MAKALAH FARMAKOLOGI sedatif hipnotik dan psikotropi”


file:///I:/windy%20%20MAKALAH%20FARMAKOLOGI%20sedatif%20hipnotik%20dan%
20psikotropi.htm (diakses tanggal 8 maret 2015)

P a g e 11 | 11