Anda di halaman 1dari 3

Faktor angiogenik telah teruji memiliki peran dalam memprediksikan pre eclampsia, dalam

peranannya sendiri atau kombinasinya dengan faktor yang lain, dan menghasilkan beberapa hasil
yang bertentangan, khususnya pada trimester pertama kehamilan. (41)

Poon et al. (42) mengusulkan dua tahap strategi dua untuk mengidentifikasi atau
melakukan skrining pada kehamilan yang berisiko yang termasuk skrining pada trimester pertama,
serta diikuti oleh penilaian risiko pada trimester ketiga. Skrining pada trimester pertama ini
tampaknya memiliki kegunaan klinis, seperti yang dapat dilihat dalam sebuah studi yang besar
dimana suatu algoritma menggabungkan PlGF yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien
berisiko tinggi yang diuntungkan karena konsumasi aspirin dosis rendah. (43) Peneliti lain
menemukan bahwa konsentrasi PlGF yang sangat rendah pada awal trimester ke-2 sangat terkait
dengan perkembangan selanjutnya pada kasus PE ini. (44-47) Penelitian lain menghubungkan
kadar s-Eng, sVEGFR-1 dan PlGF dalam plasma ibu di trimester pertama dan kedua dengan
peningkatan risiko pengembangan PE pada kehamilan (48). Sebaliknya, penelitian besar baru-baru
ini menguji nilai kebermaknaan pengukuran faktor angiogenik selama 20 minggu dalam
memprediksikan PE, hasil dari studi ini menunjukkan bahwa faktor angiogenik pada trimester
pertama kehamilan tidak dapat memprediksi dengan baik timbulnya kasus PE di kemudian hari
dalam kehamilan (49).

Mengingat bahwa faktor angiogenik berubah menjadi lebih signifikan dalam waktu 5–6
minggu sejak timbulnya gambaran klinis, (15) bias jadi akurasi marker yang digunakan untuk
memprediksikan suatu penyakit atau hasil yang merugikan sudah lama menurun, dan oleh karena
itu, pada usia awal kehamilan kami percaya bahwa skrining tambahan dan uji resiko dala sebuah
algoritma menunjukkn hasil yang lebih baik dari angiogenik factor itu sendiri. Algoritma-
algoritma ini akan membutuhkan latihan khusus dan penyebarluasan sehingga dapat dilakukan uji
cost-effective sebelum mereka dapat diimplementasikan secara luas.

Pada usia kehamilan selanjutnya (> 20 minggu), faktor angiogenik diketahui memiliki
kinerja yang lebih baik untuk mendeteksi kasus PE dengan onset dini (<34 minggu) daripada PE
onset lambat (≥34 minggu) (17,22,38,52). Hal ini telah dikaitkan dengan keparahan yang lebih
besar dari kasus-kasus dengan onset awal, atau seperti yang dikatakan oleh beberapa orang, bahwa
PE onset lambat mungkin merupakan subtipe yang berbeda dari PE onset dini (3,4,6,53,54). Kami
telah menyarankan penjelasan alternative (5), yaitu bahwa pada saat syncytiotrophoblast yang
mengalami stress meningkat pada semua kehamilan, (disertai dengan peningkatan angka kelahiran
mati dan kasus pre-eklampsia), maka semua wanita akan mengalami pre-eklampsia jika kelahiran
spontan tidak diberi intervensi, sehingga dari latar belakang normalitas menunjukkan bahwa
diagnosis yang jelas secara sederhana itu tidak ada. Perubahan biomarker kontrol pada kehamilan
'normal' pada masa yang sama, sepenuhnya konsisten dengan interpretasi ini (5).

Nilai prediktif negatif yang tinggi dari biomarker ini penting untuk menyingkirkan PE
secara akurat. Eksploitasi yang akurat dari properti ini dapat mengurangi jumlah penerimaan atau
intervensi yang tidak diperlukan dan memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih baik.

Selama trimester kedua kehamilan, angiogenik marker tampaknya sangat berguna pada
pasien yang memiliki kecurigaan pre-eklampsia. Baru-baru ini, sebuah program penelitian besar
yang dinamakan PROGNOSIS (Prediction of Short term Outcomes in Pregnants Women with
suspected PE study), secara prospektif melakukan pendataan pada 1.273 wanita hamil di 14 negara
yang berbeda, yang datang ke pusat medis antara 24 + 0 dan 36 + 6 minggu dengan dugaan PE.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah rasio dari sFlt-1 / PlGF kadar
rendah, dapat mengesampingkan perkembangan PE, eklampsia atau sindrom HELLP dalam 7 hari
berikutnya, dan apakah rasio sFlt-1 / PlGF kadar tinggi dapat mengambil peranan dalam
pengembangan PE, eklampsia atau sindrom HELLP dalam 4 minggu berikutnya.

Rasio sFlt-1 / PlGF sebanyak 38 atau lebih rendah dapat menyingkirkan PE dalam 7 hari
berikutnya dengan nilai prediktif negatif 99,3% (95% CI 97,999,9) dengan sensitivitas 80% (95%
CI, 51,9-95,7 ) dan spesifisitas sebanyak 78,3% (95% CI, 74,8-81,7). Tingginya NPV ini,
menunjukkan bahwa wanita yang tidak memiliki kecenderungan terjadinya PE pada
kehamilannya, dapat memungkinkan dokter untuk merasionalisasi pengobatan dan sekaligus
menentramkan hati pasien.

Studi ini memiliki beberapa kelebihan termasuk ukuran sampelnya yang besar, sifat
penelitian yang prospektif, multi-centered, dan memanfaatkan perkembangan dan validasi studi
kohort. Bagaimanapun, hal itu dilakukan pada populasi tunggal yang berisiko tinggi dan oleh
karena itu, hasil penelitiannya tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi ibu hamil secara umum,
kehamilan kembar, wanita di luar masa kehamilan 24- 37 minggu, atau wanita dengan latar
belakang etnis yang beragam.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji biomarker-biomarker ini pada kehamilan
kembar dan pada pasien dengan PE yang muncul setelah 37 minggu. Kelompok terakhir
mengangkat sebagian besar kasus PE. Panduan NICE saat ini merekomendasikan untuk dapat
melahirkan pada 37 minggu untuk pasien dengan PE. Mengingat masalah yang terkait dengan
beban kerja pada pengaturan induksi untuk masa kehamilan 37 minggu, penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk mengeksplorasi peran rasio sFlt-1 / PlGF untuk membantu memprioritaskan
proses kelahiran bayi yang dapat ditangguhkan dengan aman. Strategi ini dapat mengurangi
tekanan pada rangkaian persalinan dan berpotensi meningkatkan hasil perkembangan saraf, seperti
yang telah dicatat pada kehamilan normal (55). Kehamilan kembar memiliki risiko yang lebih
tinggi terhadap terjadinya kasus PE per se, dan mungkin memiliki cut-off yang berbeda dalam
mendiagnosis penyakit. Dalam banyak penelitian (56-59) telah ditemukan bahwa tingkatan-
tingkatan yang berbeda dalam kasus kembar dibandingkan dengan kehamilan tunggal dan nilai
cut-off yang tepat perlu ditentukan. Demikian pula, sensitivitas dan spesifisitas yang dilaporkan
dalam studi ini dinyatakan spesifik untuk populasi penelitian, yang mungkin tidak mencerminkan
masing-masing setiap etnis dan bagian wilayah lain di dunia. Validasi eksternal yang luas dalam
populasi lain akan sangat dibutuhkan. Saat ini, data substansial sedang digeneralisasi secara
menyeluruh di dunia, termasuk di negara-negara berpenghasilan rendah, yang diharapkan akan
membantu untuk mengatasi masalah ini (60,61).

Klein dkk. (62) melakukan penelitian multi-center, non-interstentional prospektif (PreOS)


dari rasio sFlt-1 / PlGF yang diterapkan dalam pengambilan keputusan terhadap wanita dengan
suspek PE. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan angiogenik marker secara
signifikan berdampak baik pada keputusan untuk hospitalisasi pasien dengan tepat dan membagi
tingkatan-tingkatan risiko sehingga dapat membantu untuk memandu intensitas yang diperlukan
dalam melakukan manajemen pada pasien (62).