Anda di halaman 1dari 43

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan

sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan

kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan

bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan farmasi dengan

maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien

(Permenkes No. 74, 2016).

Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan

untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi

dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,

peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Bahan medis habis pakai

adalah alat kesehatan yang ditujukan untuk penggunaan sekali pakai (single use)

yang daftar produknya diatur dalam peraturan perundang-undangan (Permenkes

No. 74, 2016).

Standar pelayanan kefarmasian di puskesmas bertujuan untuk meningkatkan

mutu pelayanan kefarmasian; menjamin kepastian hukum bagi tenaga

kefarmasian; melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak

rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety) (Permenkes No. 74,

2016).

Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan

salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian, yang dimulai dari perencanaan,

5
permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan

dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi. Tujuan pengelolaan sediaan farmasi

dan Bahan Medis Habis Pakai yaitu untuk menjamin kelangsungan ketersediaan

dan keterjangkauan sediaan farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang efisien,

efektif dan rasional, meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga kefarmasian,

mewujudkan sistem informasi manajemen, dan melaksanakan pengendalian mutu

pelayanan (Permenkes No.74, 2016).

Kepala Ruang Farmasi di Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab

untuk menjamin terlaksananya pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis

Habis Pakai yang baik. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 (dua)

kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan

Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik.

Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia dan sarana dan

prasarana (Permenkes No. 74, 2016).

2.1.1 Sumber Daya Kefarmasian

A. Sumber Daya Manusia

Penyelengaraan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas minimal harus

dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab,

yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan

(Permenkes No. 74, 2016).

Jumlah kebutuhan Apoteker di Puskesmas dihitung berdasarkan rasio

kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan serta memperhatikan

pengembangan Puskesmas. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di

Puskesmas bila memungkinkan diupayakan 1 (satu) Apoteker untuk 50 (lima

6
puluh) pasien perhari (Permenkes No. 74, 2016).

Semua tenaga kefarmasian harus memiliki surat tanda registrasi dan surat

izin praktik untuk melaksanakan Pelayanan Kefarmasian di fasilitas pelayanan

kesehatan termasuk Puskesmas, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan (Permenkes No. 74, 2016).

B. Sarana dan Prasarana

Sarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di

Puskesmas meliputi sarana yang memiliki fungsi:

1. Ruang Penerimaan Resep

Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep, 1 (satu)

set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer, jika memungkinkan. Ruang

penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat

oleh pasien (Permenkes No. 74, 2016).

2. Ruang Pelayanan resep dan peracikan ( produksi sediaan secara terbatas )

Ruang pelayanan resep dan peracikan meliputi rak Obat sesuai

kebutuhan dan meja peracikan serta disediakan peralatan peracikan,

timbangan Obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok Obat,

bahan pengemas Obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko

salinan resep, etiket dan label Obat, buku catatan pelayanan resep, buku-

buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat tulis secukupnya

(Permenkes No. 74, 2016).

3. Ruang Penyerahan Obat

Ruang penyerahan Obat meliputi konter penyerahan Obat, buku

pencatatan penyerahan dan pengeluaran Obat (Permenkes No. 74, 2016).

7
4. Ruang Konseling

Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari

buku, buku-buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat bantu

konseling, buku catatan konseling, formulir jadwal konsumsi Obat

(lampiran), formulir catatan pengobatan pasien (lampiran), dan lemari arsip

(filling cabinet), serta 1 (satu) set komputer, jika memungkinkan

(Permenkes No. 74, 2016).

5. Ruang Penyimpanan Obat dan Bahan medis Habis Pakai

Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi,

temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk

dan keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan masuknya cahaya

yang cukup. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan

rak/lemari Obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari

penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan Obat

khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu (Permenkes No. 74, 2016).

6. Ruang Arsip

Ruang arsip untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan

pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan Pelayanan

Kefarmasian dalam jangka waktu tertentu untuk memelihara dan

menyimpan dokumen dalam rangka menjamin penyimpanan sesuai hukum,

aturan, persyaratan, dan teknik manajemen yang baik (Permenkes No. 74,

2016).

2.1.2 Pengelolaan Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai

Kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

8
meliputi:

A. Perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi Sediaan Farmasi dan Bahan

Medis Habis Pakai untuk menentukan jenis dan jumlah sediaan farmasi dalam

rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas (Permenkes No. 74, 2016).

Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:

1. Perkiraan jenis dan jumlah sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

yang mendekati kebutuhan

2. meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan

3. meningkatkan efisiensi penggunaan obat

Perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di

Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh Ruang Farmasi di Puskesmas. Proses

seleksi Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan

mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi Sediaan Farmasi periode

sebelumnya, data mutasi Sediaan Farmasi, dan rencana pengembangan. Proses

seleksi Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai juga harus mengacu pada

Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Proses seleksi

ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas seperti dokter,

dokter gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola program yang berkaitan dengan

pengobatan (Peraturan Menteri Kesehatan no.74, 2016).

Proses perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi per tahun dilakukan secara

berjenjang (bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian Obat

dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat

(LPLPO). Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan

9
kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan Sediaan Farmasi Puskesmas di wilayah

kerjanya, menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan

waktu kekosongan Obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih (Peraturan

Menteri Kesehatan no.74, 2016).

Proses perencanaan pengadaan obat diawali dengan kompilasi data yang

disampaikan Puskesmas kemudian oleh instalasi farmasi kabupaten/kota diolah

menjadi rencana kebutuhan obat dengan menggunakan teknik-teknik perhitungan

tertentu. Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat

adalah:

1. Tahap Pemilihan Obat

Fungsi pemilihan obat adalah untuk menentukan obat yang benar-benar

diperlukan sesuai dengan pola penyakit. Untuk mendapatkan perencanaan obat

yang tepat, sebaiknya diawali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat yang

meliputi:

a. Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang

memberikan efek terapi jauh lebih baik dibandingkan risiko efek samping

yang akan ditimbulkan.

b. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin dengan cara menghindari

duplikasi dan kesamaan jenis. Apabila terdapat beberapa jenis obat dengan

indikasi yang sama dalam jumlah banyak, maka kita memilih berdasarkan

Drug of Choice dari penyakit yang prevalensinya tinggi.

c. Jika ada obat baru, harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi yang

lebih baik.

10
d. Hindari penggunaan obat kombinasi, kecuali jika obat kombinasi

mempunyai efek yang lebih baik dibanding obat tunggal.

e. Apabila jenis obat banyak, maka kita memilih berdasarkan obat pilihan

(drug of choice) dari penyakit yang prevalensinya tinggi (Pedoman Teknis

Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk Pelayanan

Kesehatan Dasar, 2008).

2. Tahap Kompilasi Pemakaian Obat

Kompilasi pemakaian obat adalah rekapitulasi data pemakaian obat di unit

pelayanan kesehatan, yang bersumber dari Laporan Pemakaian dan Lembar

Permintaan Obat (LPLPO) yang berfungsi untuk mengetahui pemakaian bulanan

masing-masing jenis obat di unit pelayanan kesehatan/puskesmas selama setahun

dan sebagai data pembanding bagi stok optimum (Pedoman Pengelolaan Obat dan

Perbekalan di Daerah, 2007; Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan

Perbekalan Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, 2008).

Informasi yang didapat dari kompilasi pemakaian obat adalah :

1. Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit pelayanan kesehatan/

Puskesmas pertahun.

2. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun

seluruh unit pelayanan kesehatan/Puskesmas.

3. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/ Kota

secara periodik (Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan

Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, 2008).

11
3. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat

Dalam merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan perhitungan secara

tepat. Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode

konsumsi dan atau metode morbiditas (Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik

dan Perbekalan Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, 2008).

a. Metode konsumsi

Adalah metode yang didasarkan pada analisa data konsumsi obat tahun

sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang dibutuhkan berdasarkan metode

konsumsi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Pengumpulan dan pengolahan data

2) Analisis data untuk informasi dan evaluasi

3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat

4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana

Data yang perlu disiapkan untuk perhitungan dengan metode konsumsi:

1) Daftar obat

2) Stok awal

3) Penerimaan

4) Pengeluaran

5) Sisa stok

6) Obat hilang/rusak, kadaluarsa

7) Kekosongan obat

8) Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun

9) Waktu tunggu

10) Stok pengaman

12
11) Perkembangan pola kunjungan

Contoh perhitungan dengan Metode Konsumsi:

Selama tahun 2007 (Januari–Desember) pemakaian parasetamol tablet sebanyak

2.500.000 tablet untuk pemakaian selama 10 (sepuluh) bulan. Pernah terjadi

kekosongan selama 2 (dua) bulan. Sisa stok per 31 Desember 2007 adalah

100.000 tablet.

a. Pemakaian rata-rata Parasetamol tablet perbulan tahun 2007 adalah

2.500.000 tablet / 10 ═ 250.000 tablet.

b. Pemakaian Parasetamol tahun 2007 (12 bulan) = 250.000 tablet x 12 =

3.000.000 tablet.

c. Pada umumnya stok pengaman berkisar antara 10% - 20% (termasuk untuk

mengantisipasi kemungkinan kenaikan kunjungan). Misalkan berdasarkan

evaluasi data diperkirakan 20% = 20% x 3.000.000 tablet = 600.000 tablet.

d. Pada umumnya waktu tunggu berkisar antara 3 s/d 6 bulan. Misalkan

leadtime diperkirakan 3 bulan = 3 x 250.000 tablet = 750.000 tablet.

e. Kebutuhan Parasetamol tahun 2007 adalah = b + c + d, yaitu : 3.000.000

tablet + 600.000 tablet + 750.000 tablet = 4.350.000 tablet.

f. Rencana pengadaan Parasetamol untuk tahun 2008 adalah: hasil perhitungan

kebutuhan (e) – sisa stok = 4.350.000 tablet – 100.000 tablet = 4.250.000

tablet = 4250 kaleng/botol @ 1000 tablet.

Rumus :

A = ( B+C+D) - E

A = Rencana pengadaan

B = Pemakaian rata-rata x 12 bulan

13
C = Stok pengaman 10 % – 20 %

D = Waktu tunggu 3 – 6 bulan

E = Sisa stok

(Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk

Pelayanan Kesehatan Dasar, 2008).

b. Metode Morbiditas

Adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Faktor-

faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit, waktu tunggu,

dan stok pengaman.

Langkah-langkah perhitungan metode ini adalah:

1. Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur –

penyakit

2. Menyiapkan data populasi penduduk. Komposisi demografi dari populasi

yang akan diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin untuk umur antara :

 0 s/d 4 tahun.

 5 s/d 14 tahun.

 15 s/d 44 tahun.

 ≥ 45 tahun.

3. Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh

populasi pada kelompok umur yang ada.

4. Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk

seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.

5. Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat

menggunakan pedoman pengobatan yang ada.

14
6. Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang

akan datang

Contoh perhitungan Metode Morbiditas :

1) Menghitung masing-masing obat yang diperlukan per penyakit. Sebagai

contoh pada pedoman pengobatan untuk penyakit diare akut pada orang

dewasa dan anak-anak digunakan obat oralit dengan perhitungan sebagai

berikut :

 Anak-anak :

Satu episode diperlukan 15 (lima belas) bungkus oralit @ 200 ml. Jumlah

episode 18.000 kasus. Maka jumlah oralit yang diperlukan = 18.000 x 15

bungkus = 270.000 bungkus @ 200 ml.

 Dewasa :

Satu episode diperlukan 6 (enam) bungkus oralit @ 1 liter. Jumlah

episode 10,800 kasus. Maka jumlah oralit yang diperlukan = 10.800 x 6

bungkus = 64.800 bungkus @ 1000 ml / 1 liter

2) Pengelompokan dan penjumlahan masing-masing obat. Sebagai contoh :

Tetrasiklin kapsul 250 mg digunakan pada berbagai kasus penyakit.

Berdasarkan langkah pada butir a, diperoleh obat untuk :

 Kolera diperlukan = 3.000 kapsul

 Disentri diperlukan = 5.000 kapsul

 Amubiasis diperlukan = 1.000 kapsul

 Infeksi saluran kemih = 2.000 kapsul

 Penyakit kulit diperlukan = 500 kapsul

 Jumlah Tetrasiklin diperlukan = 11.500 kapsul

15
(Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk

Pelayanan Kesehatan Dasar, 2008).

B. Permintaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Permintaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai adalah

memenuhi kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di

Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat.Permintaan

diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat

(Permenkes No.74, 2016).

C. Penerimaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Penerimaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu

kegiatan dalam menerima Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dari

Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota atau hasil pengadaan Puskesmas secara mandiri

sesuai dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar Sediaan

Farmasi yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang

diajukan oleh Puskesmas, dan memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan

mutu (Permenkes No.74, 2016).

Tenaga Kefarmasian dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas

ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan Obat dan

Bahan Medis Habis Pakai berikut kelengkapan catatan yang menyertainya

(Permenkes No.74, 2016).

Tenaga Kefarmasian wajib melakukan pengecekan terhadap Sediaan

Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang diserahkan, mencakup jumlah

kemasan/peti, jenis dan jumlah Sediaan Farmasi, bentuk Sediaan Farmasi sesuai

16
dengan isi dokumen LPLPO, ditandatangani oleh Tenaga Kefarmasian, dan

diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka Tenaga

Kefarmasian dapat mengajukan keberatan. Masa kedaluwarsa minimal dari

Sediaan Farmasi yang diterima disesuaikan dengan periode pengelolaan di

Puskesmas ditambah satu bulan (Permenkes No.74, 2016).

D. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan

suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman

(tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap

terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu

Sediaan Farmasi yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan

persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis

Habis Pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. bentuk dan jenis sediaan

2. kondisi yang dipersyaratkan dalam penandaan di kemasan Sediaan Farmasi,

seperti suhu penyimpanan, cahaya, dan kelembaban;

3. mudah atau tidaknya meledak/terbakar;

4. narkotika dan psikotropika disimpan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan; dan

5. tempat penyimpanan Sediaan Farmasi tidak dipergunakan untuk

penyimpanan barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi (Permenkes

No.74, 2016).

17
E. Pendistribusian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Pendistribusian obat dan bahan medis habis pakai merupakan kegiatan

pengeluaran dan penyerahan obat dan bahan medis habis pakai secara merata dan

teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan

jaringannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan obat sub unit

pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas dengan jenis, mutu,

jumlah dan waktu yang tepat. Sub-sub unit di puskesmas dan jaringannya antara

lain:

Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas;

a. Puskesmas Pembantu

b. Puskesmas Keliling

c. Posyandu

d. Poskesdes

Pendistribusian ke sub unit (ruang rawat inap, UGD, dan lain-lain)

dilakukan dengan cara pemberian Obat sesuai resep yang diterima (floor stock),

pemberian Obat per sekali minum (dispensing dosis unit) atau kombinasi,

sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan dengan cara

penyerahan Obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock) (Permenkes No.74, 2016).

F. Pemusnahan dan penarikan

Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai

yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan (Permenkes No.74, 2016).

Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan

peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan

18
perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi

sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan

laporan kepada Kepala BPOM (Permenkes No.74, 2016).

Tahapan pemusnahan Sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai terdiri

dari:

1) Membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang akan

dimusnahkan

2) Menyiapkan berita acara pemusnahan

3) Mengkoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak

terkait

4) Menyiapkan tempat pemusnahan

5) Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta

peraturan yang berlaku

G. Pengendalian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

Pengendalian obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan untuk

memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan

program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan

kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Tujuannya adalah

agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan

dasar (Permenkes No.74, 2016).

Pengendalian Sediaan Farmasi terdiri dari:

a) Pengendalian persediaan

b) Pengendalian penggunaan

19
c) Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa (Permenkes No.74,

2016).

H. Administrasi

Administrasi meliputi pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh rangkaian

kegiatan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai, baik

Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang diterima, disimpan,

didistribusikan dan digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan lainnya

(Permenkes No.74, 2016).

Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah:

a. Bukti bahwa pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis

Pakai telah dilakukan


b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian 


c. Sumber data untuk pembuatan laporan. 


I. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai

dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:

a. Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan

obat dan bahan medis habis pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun

pemerataan pelayanan

b. Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan bahan medis habis

pakai

c. Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan (Permenkes

No.74, 2016).

20
2.2 Pengelolaan Vaksin

Pengelolaan vaksin meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan,

penyimpanan dan pendistribusian, penggunaan, pencatatan dan pelaporan serta

monitoring dan evaluasi (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

2.2.1 Perencanaan Vaksin

Perencanaan vaksin adalah suatu proses kegiatan dalam menentukan jenis

dan jumlah vaksin untuk kegiatan imunisasi. Perencanaan vaksin dilakukan dalam

proses berjenjang dari kabupaten/kota ke Provinsi dan selanjutnya ke pusat.

Proses perencaan vaksin terdiri dari:

1. Menetukan jumlah sasaran imunisasi

Sasaran ditentukan berdasarkan jumlah penduduk, pertambahan penduduk

serta angka kelahiran dari Pusat Data dan Informasi Depkes RI, unit terkecil dan

hasil sensus adalah desa, angka ini menjadi pegangan setiap wilayah administratif

untuk melakukan proyeksi berdasarkan cakupan (Pedoman Pengelolaan Vaksin,

2009).

Jumlah sasaran yang dihitung antara lain :

 Jumlah sasaran bayi

Jumlah sasaran bayi dihitung berdasarkan besarnya angka presentasi

kelahiran bayi dari jumlah penduduk masing-masing wilayah atau dapat

berdasarkan besarnya jumlah sasaran bayi tahun lalu yang diproyeksikan untuk

tahun ini (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

o Nasional : Crude Birth Rate (CBR) Nasional x Jumlah penduduk nasional

o Provinsi : CBR provinsi x jumlah penduduk provinsi

21
o Kabupaten/kota: CBR provinsi x jumlah penduduk kabupaten/kota

o Kecamatan : CBR provinsi x jumlah penduduk kecamatan

o Desa : Pendataan sasaran per desa

Jml Bayi Kab / Kota thn lalu


Kabupaten / Kota = x Jml Bayi Provinsi tahun ini
Jml Bayi Provinsi thn lalu

Jml Bayi Kecamatan thn lalu


Kecamatan = x Jml Bayi Kab / Kota tahun ini
Jml Bayi Kab / Kota thn lalu

Jml Bayi Desa thn lalu


Desa = x Jml Bayi Kec tahun ini
Jml Bayi Kecamatan thn lalu

 Jumlah sasaran siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 1

Jumlah sasaran siswa SD kelas 1 berdasarkan data untuk sasaran imunisasi

DT berdasarkan Diknas setempat.

 Jumlah sasaran siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 2 dan kelas 3

Jumlah sasaran siswa SD kelas 2 dan 3 berdasarkan data untuk sasaran

imunisasi TT berdasarkan Diknas setempat

 Jumlah sasaran wanita usia subur (WUS) termasuk ibu hamil

Menghitung jumlah WUS berdasarkan besarnya perkiraan WUS pada

penduduk :

Jumlah sasaran WUS = 2,19 % x jumlah penduduk

2. Menentukan Target Cakupan

Menentukan Target Cakupan adalah menentukan betapa besar cakupan

imunisasi yang akan dicapai pada tahun yang direncanakan untuk mengetahui

kebutuhan vaksin yang sebenarnya. Penetapan cakupan berdasarkan wilayah kerja

masing-masing maksimal 100% (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

22
3. Menghitunng Indeks Pemakaian Vaksin

Menghitung indeks pemakaian vaksin berdasarkan jumlah cakupan

imunisasi yang dicapai secara absolute dan berapa banyak vaksin yang digunakan.

Dari pencatatan vaksin yang digunakan diketahui jumlah ampul/vial yang

digunakan. Untuk mengetahui berapa rata-rata jumlah dosis yang diberikan untuk

setiap ampul/vial, yang disebut dengan indeksi pemakaian vaksin (IP) yaitu :

Jml suntikan (cakupan)yang dicapai tahun lalu


IP tahun lalu =
Jml vaksin yang terpakai tahun lalu

a. Menghitung Jumlah Kebutuhan Vaksin

1) BCG (ampul)

𝑆𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡
𝑣𝑎𝑘𝑠𝑖𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛 =
𝐼𝑃 𝐵𝐶𝐺 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑙𝑎𝑙𝑢

2) DPTHB (vial)

(Sas x target D1) + (Sas x target D2) + (Sas x target D3)


vaksin =
IP DPTHB tahun lalu

3) Polio (vial)

(Sas x target P1) + (Sas x target P2) + (Sas x target XP3) + (Sas x target XP4)
vaksin =
IP Polio tahun lalu

b. Menghitung kebutuhan alat suntik dan safety box

Menghitung kebutuhan alat suntik diperoleh berdasarkan jumlah dosis

pemberian imunisasi.

1) Menghitung kebutuhan Alat suntik

a. Menghitung kebutuhan alat suntik 0,05 ml

Kebutuhan alat suntik 0,05 ml untuk imunisasi BCG

23
 BCG = sasaran

2) Menghitung kebutuhan alat suntik 0, ml

Kebutuhan alat suntik 0,5 ml untuk vaksin DPT-HB, Campak, TT dan DT.

 DPT = sasaran x 3

 Campak = sasaran

 TT bumil = sasaran x 2

 TT SD = sasaran

 TT WUS = sasaran x 5

 DT = sasaran

 DPT-HB = sasaran x 3

 Campak SD = sasaran
3) Menghitung kebutuhan safety box
Safety box adalah kotak tempat pembuangan limbah medis tajam dengan

tujuan keamanan bai petugas dan masyarakat. Ada dua jenis safety box

yaitu safety box ukuran 5 iter dan 25 liter, safety box ukuran 5 liter dapat

menampung 100 alat suntik, 300 uniject HB digunakan saat pelayanan di

puskesmas dan posyandu, safety box ukuran 0,25 liter dapat menampung 10

uniject jenis ini digunakan oleh bidan di desa atau pustu untuk pelayanan

pemberian imunisasi dosis pertama antara 0-7 hari dirumah/Polindes :

Jml alat suntik BCG + DPT + campak + TT + DPT − HiB


SB 5 liter =
100
Jml alat suntik Hepatitis B 0 − 7 hari
SB 0,25 liter =
10

2.2.2 Distribusi Vaksin

Vaksin alokasi provinsi didistribusikan langsung dari produsen ke provinsi

sesuai dengan alokasi yang tertera di kontrak. Vaksin alokasi pusat diserahkan

langsung ke gudang vaksin Depkes RI. Pendistribusian vaksin alokasi provinsi

24
(terutama BCG) dilakukan secara bertahap (minimal tiga kali pengiriman) dengan

interval waktu danjumlah yang seimbang, tanggal kadaluarsa dan kemampuan

penyerapan. Khusus vaksin DT bisa dilakukan dengan sekali pengiriman.

Pengiriman vaksin ke Provinsi berdasarkan permintaan dari Dinas Kesehatan

Provinsi ditujukan kepada Ditjen P2PL, Direktorat SepimKesma dengan

tembusan ke Ditjen Binfar dan Alkes, Direktorat Bina Publik Obat dan

Perbekalan Kesehatan (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

Setiap pengiriman vaksin menggunakan cold box yang berisi kotak dingin

cair (cool pack) untuk vaksin hepatitis B, DT,TT, DTP-HB. Kotak dingin beku

(cold pack) untuk vaksin BCG dan Campak serta dry ice untuk vaksin Polio.

Pelarut dan penetes dikemas tanpa menggunakan pendingin. Pengepakan vaksin

yang sensitif pembekuan (DT, HB, TT, DTP-HB) menggunkan indikator

pembekuan. Vaksin BCG disertai indikator paparan panas. Setiap pengiriman

disertai VAR (Vaccine Arrival Report), copy COR (Certificate of Release) untuk

setiap batch serta SP (Surat Pengantar) untuk vaksin alokasi provinsi/SBBK

(Surat Bukti Barang Keluar) untuk vaksin alokasi pusat (Pedoman Pengelolaan

Vaksin, 2009).

Distribusi vaksin Dinkes provinsi dilakukan atas dasar permintaan resmi

dari Dinas kesehatan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan stok maksimum

kebutuhan dan daya tampung penyimpanan vaksin di kabupaten/kota. Distribusi

bisa dilakukan dengan cara dikirimkan oleh provinsi atau diambil oleh

kabupaten/kota. (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009)

Distribusi vaksin dari kabupaten/kota ke puskesmas dilakukan atas dasar

permintaan resmi dari Puskesmas dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan

25
Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Setiap distribusi vaksin harus

mempertimbangkan stok kebutuhan dan daya tampung penyimpanan vaksin.

Distribusi bisa dilakukan dengan cara dikirimkan oleh kabupaten/kota atau

diambil oleh Puskesmas (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian vaksin adalah :

 Pendistribusian vaksin harus memperhatikan VVM (Vaccine vial monitor),

tanggal kadaluarsa (FEFO) dan urutan masuk vaksin (FIFO)

 Setiap distribusi vaksin menggunakan cold box yang berisi kotak dingin cair

(cool pack) untuk vaksin TT, DT, Hepatitis B, DTP-HB serta kotak beku

(cold pack) untuk vaksin BCG, Campak dan Polio.

 Apabila distribusi vaksin dalam jumlah kecil, dimana vaksin sensitif beku

dicampur dengan sensitif panas maka digunakan cold box yang berisi kotak

dingin cair (cool pack).

 Pengepakan vaksin sensitif beku harus dilengkapi dengan indikator

pembekuan (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

2.2.3 Penerimaan Vaksin

Penerimaan vaksin di Kabupaten/Kota dan Puskesmas :

 Jumlah dan jenis yang diterima harus sesuai dengan jumlah yang

tercantum dalam SBBK dan dinyatakan dalam satuan ampul, vial atau

dosis

 VVM diterima dalam kondisi A atau B

 Apabila menggunakan indikator pembekuan, kondisinya

menggunakan tanda (✓ )

26
 Khusus vaksin BCG, indikator paparan panas menunjukan jendela C

dan D masih putih.

 Penerimaan vaksin di kabupaten/kota dilakukan oleh pengelola obat

dan pengelola program imunisasi, diketahui kepala dinas kesehatan

kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk.

 Penerimaan vaksin di puskesmas dilakukan oleh pengelola obat dan

Korim (Koordinator Imunisasi), diketahui oleh kepala Puskesmas.

2.2.4 Penyimpanan Vaksin

Tujuan penyimpanan vaksin adalah agar mutu dapat dipertahankan/tidak

kehilangan potensi, aman/tidak hilang, dan terhindar dari kerusakan fisik

(Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

Sarana dan Prasarana yang harus disediakan dalam penyimpanan vaksin, yaitu :

 Cool room

 Freezer

 Lemari Es

 Cold box

 Cool pack

 Vaccine carrier

 Generator

Untuk menyimpan vaksin diperlukan peralatan rantai vaksin. Peralatan

rantai vaksin adalah seluruh peralatan yang digunakan dalam pengelolaan vaksin

sesuai prosedur untuk menjaga vaksin sesuai dengan suhu yang telah ditetapkan,

dari mulai vaksin di produksi sampai vaksin diberikan pada sasaran ibu dan anak.

Jenis peralatan rantai vaksin berbeda pada setiap tingkat administratif sesuai

27
dengan fungsi dan kapasitas vaksin yang dikelola (Pedoman Pengelolaan Vaksin,

2009).

Kabupaten/Kota  Puskesmas Cold Box/Vaccine Carrier

Puskesmas  Sasaran vaksin carrier

Kabupaten/Kota Freezer/lemari es

Gambar 2.1
Skema Rantai Vaksin Program Imunisasi

Jenis peralatan rantai vaksin :

 Lemari es dan freezer adalah tempat menyimpan vaksin BCG, DPT-HB,

TT, DT, Hepatitis B pada suhu yang ditentukan +2°C s/d +8°C dapat juga

difungsikan untuk membuat kotak dingin cair (cool pack). Freezer adalah

tempat untuk menyimpan vaksin polio pada suhu yang ditentukan antara

28
15°C-25°C atau membuat kotak es beku (cold pack). Bagian yang sangat

penting dari lemari es/freezer adalah termostat.

 Termostat berfungsi untuk mengatur suhu bagian dalam pada lemari es atau

freezer (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

Bentuk pintu lemari es/freezer :

1) Bentuk buka dari depan (front opening)

2) Bentuk buka dari atas (top opening)

Tabel 2.1 Perbedaan Lemari Es untuk penyimpanan vaksin


Bentuk buka dari depan Bentuk buka dari atas
 Suhu tidak stabil  Suhu lebih stabil
Pada saat lemari es dibuka ke depan  Pada saat pintu lemari es dibuka ke
maka suhu dingin dari atas akan atas maka suhu dingi dari atas akan
turun kebawah dan keluar turun kebawah dan tertampung.
 Bila listrik padam relatif bertahan
 Bila listrik padam relatif tidak
lama
bertahan lama
 Jumlah vaksin yang dapat
 Jumlah vaksin yang dapat ditampung
ditampung sedikit
sedikit
 Susunan vaksin agak sulit terlihat
 Susunan vaksin mudah dan vaksin
karena vaksin betumpuk
terlihat jelas dari samping depan
(Permenkes No. 12, 2017)

 Alat pembawa vaksin

- Cold box adalah suatu alat untuk menyimpan sementara dan

membawa vaksin. Pada umumnya memiliki volume kotor 40 liter dan

70 liter. Kotak dingin (cold box) ada 2 macam : Alat ini terbuat dari

plastik/kardus dengan insulasi poliuretan.

- Vaccine carrier (thermos) adalah alat untuk mengirim/membawa

vaksin dari Puskesmas ke Posyandu atau tempat pelayanan imunisasi

lainnya yang dapat mempertahankan suhu +2°C s/d +8°C.

 Alat untuk mempertahankan suhu

29
Kotak dingin beku (cold pack) adalah wadah plastik berbentuk segiempat

yang diisi kemudian didinginkan dalam lemari es dengan suhu +2°C s/d +8° C

selama minimal 24 jam (Warna biru/merah) (Pedoman Pengelolaan Vaksin,

2009).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan vaksin adalah:

1) Penyimpanan vaksin di provinsi, kabupaten/kota dan puskesmas di atur

sebagai berikut :

a. Cold room/lemari es dengan suhu (+2°C s/d+8°C) untuk vaksin TT,

DT, Hepatitis B-PID, DTP-HB, Campak dan BCG.

b. Di provinsi, kabupaten/kota vaksin polio disimpan dalam freezer

dengan suhu -15 s/d -25°C.

c. Di puskesmas semua vaksin disimpan pada suhu +2°C s/d +8°C.

d. Pelarut dan dropper (pipet) pada suhu kamar yang terlindung dari

sinar matahari langsung.

2) Vaksin disusun dalam lemari es/freezer tidak terlalu rapat sehingga ada

sirkulasi udara, dan berdasarkan prinsip FEFO.

3) Di dalam lemari es dan freezer harus selalu tersedia termometer yang di

letakkan di sela-sela kotak vaksin.

4) Petugas harus selalu mencatat suhu lemari es dan freezer, memeriksa

kondisi VVM dan indikator pembekuan 2 kali dalam sehari pagi dan sore

dan mencatat pada grafik suhu. Untuk cold room dan freeze room

pencatatan suhu dilakukan dengan menggunakan termograf (Pedoman

Pengelolaan Vaksin, 2009).

30
Masa Simpan Vaksin

Gambar 2.2
Penyimpanan Vaksin (Permenkes No. 42, 2013)

Perlakuan terhadap vaksin dalam keadaan tertentu

Penangan vaksin pada keadaan listrik padam pada tingkat puskesmas/pustu :

a. Menggunakan lemari es kompresi dengan listrik 24 jam

 Periksa suhu termometer di lemari es, pastikan masih berada pada

suhu +2° s/d +8°C

 Upayakan jangan membuka lemari es selama aliran listrik padam

 Lemari es yang diisi cool pack pada saat listrik padam berfungsi

menahan dingin

 Hidupkan generator

b. Menggunakan lemari es absorpsi dengan listrik 24 jam

31
 Periksa suhu termometer di lemari es, pastikan masih berada pada

suhu +2° s/d +8°C

 Upayakan jangan membuka lemari es selama aliran listrik padam

 Bila menggunakan lemari es tipe RCW 42 EK atau RCW 50 EK pada

saat listrik padam akan berfungsi sebagai cold box.

 Siapkan pengoperasian menggunakan nyal api minyak tanah, pastikan

tangki lemari es berisi minyak tanah dengan cukup.

 Ikuti tata cara mengoperasikan lemari es dengan menggunakan

minyak tanah (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

2.2.5 Penggunaan/Pemakaian Vaksin

Pemakaian vaksin harus memperhatikan kondisi VVM dan

kadaluarsa.Vaksin yang sudah dipakai dalam pelayanan statis atau di dalam

gedung (RS, Puskesmas, BKIA, Praktek swasta) dapat digunakan kembali dengan

syarat :

 Vaksin tidak melewati masa kadaluarsa

 Vaksin tetap disimpan dalam suhu +2°C s/d+8°C

 Sterilitas vaksin dapat terjamin

 Vial vaksin tidak pernah terendam air

 VVM masih menunjukkan kondisi A atau B

 Jangka waktu maksimal pemakaian vaksin yang sudah dibuka jika masih

ada sisa vaksin dari komponen lapangan (posyandu,sekolah) maka :

 Yang belum dibuka harus segera dipaia pada pelayanan berikutnya

 Yang sudah dipakai harus dibuang (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

32
Tabel 2.2 Masa Pemakaian Vaksin Sisa

(Permenkes No. 12, 2017)

2.2.6 Penghapusan dan Pemusnahan Vaksin

Sebelum vaksin dimusnahkan, terlebih dahulu dilakukan penghapusan

secara administrasi. Kriteria vaksin yang dihapuskan adalah vaksin yang telah

rusak, serta kadaluarsa.

1) Vaksin rusak adalah vaksin yang belum melewati kadaluarsanya tetapi

sudah tidak dapat dipergunakan lagi karena terjadi kerusakan yang ditandai

dengan :

 VVM nya telah berubah menjadi C atau D

 Vaksin peka pembekuan yang mengalami pembekuan.

2) Vaksin kadaluarsa adalah vaksin yang belum terpakai tetapi sudah lewat

waktu kadaluarsa.

Prosedur Penghapusan vaksin

1) Buat berita acara penghapusan yang ditandatangani oleh pejabat yang

berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.

33
2) Penghapusan dan pemusnahan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

(Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009)

Alat Pemantau Suhu Vaksin

Adalah suatu alat yang berfungsi untuk memantau keadaan serta kondisi

vaksin selama penyimpanan maupun pengiriman terhadap paparan suhu (panas

atau dingin) sehingga vaksin dapat diketahui masih baik atau tidak (Pedoman

Pengelolaan Vaksin, 2009).

Indikator paparan suhu panas

Contoh indikator paparan suhu panas adalah VVM dan VCCM.

a) VVM (vaccine vial monitor)

Gambar 2.3
Vaksin dengan VVM seperti gambar disamping dapat digunakan sepanjang masih
belum kadaluarsa.Berbagai kondisi VVM serta tindakan penggunaannya

Berbagai kondisi vaksin serta tindakan penggunaannya.

34
Gambar 2.4
Indikator VVM Pada Vaksin (Permenkes No. 12, 2017)
b) VCM (Vaccine Cold Chain Monitor)

Gambar 2.5
VCM (Vaccine Cold Chain Monitor)

A. Indikator Paparan Suhu Dingin

35
Freeze-tag adalah indikator paparan suhu dingin. Apabila terpapar pada

suhu 0°C selama 60 tahun, maka tanda (✓) akan berubah menjadi tanda (X).

Freeze tag ditempatkan penyimpanan vaksin yang peka terhadap pembekuan.

Apabila pada freeze tag didapatkan tanda (X) , maka harus dilakukan shake test

pada vaksin DT, TT, Hep.B, dan DPTHB/HB (Pedoman Pengelolaan Vaksin,

2009).

2.2.7 Pencatatan / Pelaporan

Pencatatan / pelaporan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka

penatausahaan vaksin secara tertib baik sejak diterima, disimpan, didistribusikan

maupun yang digunakan di unit pelayanan. Pelaporan dinamika logistik vaksin di

setiap tingkatan dilakukan oleh instalasi farmasi/pengelola obat.

Pelaporan

 Laporan penerimaan, pengeluaran dan stock vaksin agar disatukan dengan

laporan hasil imunisasi sebagaimana contoh terlampir

 Puskesmas melapor ke dinas kesehatan kabupaten/kota melapor kepada

Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.

 Dinas Kesehatan Provinsi melapor kepada Direktur Sepim-Kesma dan

Direktur Bina Obat Publik dan Perbekkes paling lambat tanggal 20 pada

bulan berikutnya (Pedoman Pengelolaan Vaksin, 2009).

Monitoring

Monitoring dilakukan dengan cara supervisi suportif menggunakan check list dan

pelaporan pemakaian vaksin. Pencatatan vaksin yang harus ada di Provinsi,

Kabupaten/kota dan Puskesmas adalah :

36
 Buku stok vaksin digunakan untuk mencatat jenis, jumlah, nomor batch,

masa kadaluarsa vaksin, keluar masuk vaksin, dan kondisi indikator paparan

suhu.

 Batch card (kartu Stelling) digunakan untuk mencatat stok vaksin sesuai

jenis dan nomor batch.

Pelaporan pemakaian vaksin secara berjenjang dikirim bersama dengan laporan

cakupan.

2.3 Manajemen Alat Kesehatan

2.3.1 Definisi Alat Kesehatan

Peralatan Kesehatan adalah instrumen, apparatus, mesin yang tidak

mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,

menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan

kesehatan pada manusia, dan memperbaiki fungsi tubuh (Pedoman Pengelolaan

Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015).

Peralatan medis sebagai bagian peralatan kesehatan yaitu peralatan yang

memerlukan kalibrasi, pemeliharaan, perbaikan, pelatihan pengguna, dan

dekomisioning, kegiatan biasanya dikelola oleh para tenaga teknis

(elektromedis/clinical engineer).(Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di

Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015).

Peralatan medis adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan terapi,

rehabilitasi, dan penelitian medik, baik secara langsung maupun tidak langsung

37
(Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,

2015).

2.3.2 Perencanaan Alat Kesehatan

Tujuan perencanaan dan pengadaan peralatan medis adalah:

1) Diperolehnya kebutuhan jenis, spesifikasi teknis dan jumlah peralatan medis

2) Diperolehnya perbandingan spesifikasi teknis, fungsi dan aksesori

3) Diperolehnya perbandingan harga peralatan medis

4) Diperolehnya perbandingan biaya pemeliharaan selama usia teknis

5) Diperolehnya peralatan medis yang bermutu, aman dan laik pakai

Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan kebutuhan terkait jenis,

spesifikasi, dan jumlah peralatan medis sesuai dengan kemampuan pelayanan

kesehatan, beban pelayanan, perkembangan teknologi kesehatan, sumberdaya

manusia yang mengoperasikan dan memelihara sarana dan prasarana.

Perencanaan kebutuhan peralatan sangat bermanfaat untuk penyediaan anggaran,

pelaksanaan pengadaan peralatan medis secara efektif, efisien dan dapat

dipertanggungjawabkan (Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas

Pelayanan Kesehatan, 2015).

Pelaksanaan perencanaan peralatan medis membutuhkan data kinerja

peralatan yang telah dimiliki. Kinerja peralatan yang telah dimiliki diperoleh dari

data dokumentasi pemanfaatan dan pemeliharaan peralatan. Kinerja peralatan

yang telah dimiliki diperoleh dari data dokumentasi pemanfaatan dan

pemeliharaan peralatan. Perencanaan peralatan medis di fasilitas pelayanan

kesehatan membutuhkan keterlibatan tenaga teknis peralatan medis, tenaga medis,

keperawatan, tenaga teknis sarana dan prasarana dan manajemen. Ruang lingkup

38
kegiatan perencanaan meliputi penilaian kebutuhan, penentuan prioritas

pengadaan dan penganggaran (Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di

Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015).

2.3.2.1 Penilaian kebutuhan

Penilaian kebutuhan adalah kegiatan strategis dan merupakan bagian dari

proses perencanaan peralatan medis yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja

pelayanan kesehatan atau memperbaiki kekurangan pelayanan kesehatan.

Penilaian kebutuhan peralatan medis pada dasarnya dimaksudkan untuk

pemenuhan standar peralatan medis sesuai kemampuan/klasifikasi pelayanan

kesehatan, penggantian peralatan medis dan pengembangan pelayanan kesehatan

sesuai kebutuhan masyarakat atau perkembangan teknologi (Pedoman

Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015).

2.3.2.2 Prioritas pemenuhan kebutuhan

Tidak selamanya hasil dari penilaian kebutuhan peralatan medis dapat

direalisasikan semuanya, keterbatasan anggaran menjadi kendala dalam

pemenuhan tersebut dikarenakan pendapatan rumah sakit memiliki kemampuan

yang terbatas, maka perencanaannya difokuskan pada peralatan medis prioritas

yang disesuaikan dengan kriteria pada setiap rumah sakit diantaranya adalah

sebagai berikut:

1) Tingkat utilitas

2) Brand Image Rumah Sakit

3) Pelayanan Unggulan

4) Peralatan Life support

5) Kesiapan bangunan dan prasarana

39
2.3.3 Pengadaan Alat Kesehatan

Pengadaan peralatan medis dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Yang perlu diperhatikan adalah penyusunan spesifikasi alat kesehatan, spesifikasi

harus sesuai kebutuhan user/pelayanan. Spesifikasi yang terlalu tinggi akan

mengakibatkan biaya yang cukup tinggi. Spesifikasi yang terlalu rendah bisa

mengakibatkan pelayanan yang tidak bisa berjalan optimal (Pedoman Pengelolaan

Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015).

2.3.4 Penerimaan Alat Kesehatan

Penerimaan peralatan medis/komisioning adalah proses penerimaan secara

fisik dan administratif, uji coba dan uji fungsi untuk memastikan bahwa peralatan

medis itu sesuai dengan spesifikasi dan kontrak, berfungsi dengan baik sebelum

digunakan dalam rangka menjamin tersedianya peralatan medis yang bermutu,

aman dan laik pakai.

Terdiri dari 3 tahap yaitu pemeriksaan fisik peralatan medis setelah

diinstalasi bagi peralatan medis yang mensyaratkan instalasi, uji fungsi dan uji

coba disertai pelatihan bagi pengguna dan teknisi. Hasil penerimaan peralatan

kesehatan dituangkan dalam berita acara penerimaan peralatan medis sesuai

dengan ketentuan yang berlaku.

2.3.4.1 Langkah-Langkah setelah Penerimaan Alat

1) Pencatatan peralatan medis.

Semua perangkat baru akan ditempatkan pada daftar aset peralatan oleh

petugas atau staf yang bertanggung jawab dan ditunjuk.

2) Pelabelan dan Pendokumentasian.

40
Melampirkan label yang sesuai, sebagai informasi kepada tenaga

kesehatan dan tenaga teknis bahwa perangkat ini peralatan medis dalam kondisi

baru atau baru saja diterima.

2.3.5 Pengoperasian Alat Kesehatan

Dalam pengoperasian alat kesehatan, semua prosedur yang berhubungan

dengan pengoperasian harus menjadi perhatian. Langkah-langkah prosedur harus

diikuti secara berurutan mulai dari awal pengoperasian, pada saat mulai terpasang

ke pasien sampai alat dilepas dari pasien dan alat dikembalikan di tempat semula.

Dalam pelaksanaan pengoperasian peralatan medis, perhatikan:

 Protap pelayanan yang berlaku

 Hubungan antara peralatan medis dan pasien

 Pengoperasian alat pada saat dilakukan tindakan

 Pengawasan terhadap fungsi dan suplier

2.3.6 Penyimpanan Alat Kesehatan

Menurut WHO 2007 kegiatan penyipanan alat kesehatan meliputi

pencatatan, pemberian label, dan menaruh peralatan dalam tempat persediaan.

Peralatan disimpan dalam 2 tempat :

a) Tempat penyimpanan utama atau cadangan di mana persediaan disimpan

tetapi tidak digunakan.

b) Tempat penggunaan, setelah dikeluarkan.

Untuk menyimpan peralatan, diperlukan hal berikut :

1. Catatan penerimaan barang baru dan pengeluaran barang.

2. Membuat buku – stok (persediaan atau buku besar), buku persediaan atau

buku besar, yang biasanya memiliki halaman yang terpisah untuk masing-

41
masing barang yang disimpan. Pencatatan terbagi atas kolom-kolom yang

menyatakan tentang :

a. Tanggal penerimaan barang.

b. Nomor referensi barang tersebut (dari katalog) dan tempat

pembeliannya.

c. Nomor faktur atau pernyataan pembelian.

d. Jumlah barang.

Biasanya terdapat 2 buku besar, satu untuk peralatan habis pakai, dan satu

untuk peralatan tidak habis pakai. Masing-masing barang dicatat dalam halaman

terdiri di buku besar. Setiap kali sewaktu barang diserahkan, jumlah yang diterima

ditambahkan ke jumlah persediaan total. Setiap kali barang dikeluarkan,

jumlahnya dikurangkan dari jumlah persediaan total. Angka jumlahnya adalah

neraca persediaan. Tabel berikut ini sebagai contoh:

Tabel 2.3 Neraca Persediaan


Barang Tanggal Diterima Faktur Jumlah Jumlah Neraca
dari yang yang persediaan
diterima dikeluarkan

Kain ¼ GKP* 632 10 kg 2kg 12 kg


kasa
5/4 4kg 10kg

28/4 6kg

*GKP = gudang kesehatan pemerintah (WHO, 2007)

2.3.7 Pendistribusian Alat Kesehatan

Sebuah pusat kesehatan mungkin memiliki beberapa bagian, misalnya

bangsal bersalin, ruangan pengobatan, laboratorium, klinik keliling. Pekerja

kesehatan yang bertugas di tiap-tiap bagian bertanggung jawab atas peralatan di

bagian itu. Contoh, seorang perawat di ruang bersalin bertanggung jawab atas

42
timbangan, tabung suntik dan vaksin, kartu catatan, peralatan persalinan, dan alat

lain, dan pekerja laboratorium atas mikroskop, tabung reaksi, kaca sediaan dan

bahan pewarna (WHO, 2007).

Setelah dipesan, diterima, dan dicetak dalam buku stok atau buku besar,

peralatan dapat dikeluarkan untuk digunakan bila diperlukan. Terdapat 3 prosedur

administrasi yang berkaitan dengan pengeluaran peralatan :

1. Catatan di buku besar (menuliskan pengeluaran barang tersebut dalam buku

besar persediaan).

2. Surat atau kupon pengeluaran barang yang harus ditanda tangani.

3. Catatan inventaris dari bagian yang menerima dan menggunakan

peralatan.(WHO, 2007)

Surat Pengeluaran Barang

Surat pengeluaran barang adalah formulir resmi yang mencatat :

1. Tanggal pengeluaran

2. Apa yang dikeluarkan, berapa jumlah dan nomor halamannya dalam buku

besar.

3. Di mana akan digunakan (bagian mana dari pusat kesehatan).

4. Siapa yang bertanggung jawab (biasanya kepala bagian).

5. Tanda tangan orang yang bertanggung jawab atas penggunaannya.

Orang yang menandatangani surat pengeluaran barang bertanggung jawab

atas perawatan peralatan atau perlengkapan. Surat pengeluaran barang harus

dimasukkan ke dalam arsip dan disimpan. Salinannya diberikan kepada bagian

yang menerima peralatan itu. (WHO, 2007)

Inventaris

43
Inventaris adalah daftar barang-barang yang disimpan di suatu tempat.

Masing-masing bagian pusat kesehatan menyimpan inventaris atas peralatan yang

tidak habis pakai. Peralatan baru yang dikeluarkan harus ditambahkan dalam

inventaris, yang digunakan setiap jangka waktu tertentu untuk memeriksa

persediaan peralatan yang digunakan. (WHO, 2007)

2.3.8 Mekanisme pemeliharaan dan perbaikan alat kesehatan

Penting bagi fasilitas pelayanan kesehatan memiliki program pemeliharaan

terencana untuk menjaga peralatan medis agar aman, bermutu dan laik pakai.

Adanya pemeliharaan peralatan medis diharapkan juga akan memperpanjang usia

pakai peralatan medis. Pemeliharaan peralatan medis dapat dibagi menjadi dua

kategori utama yaitu; a) Inspeksi dan pemeliharaan preventif (IPM) b)

pemeliharaan korektif / Corrective Maintenance (CM)

IPM mencakup semua kegiatan yang dijadwalkan untuk memastikanfungsi

peralatan dan mencegah kerusakan atau kegagalan. Inspeksi adalah kegiatan

terjadwal yang diperlukan untuk memastikan peralatan medis berfungsi dengan

benar. Ini mencakup pemeriksaan kinerja dan keselamatan. Kegiatan inspeksi

dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemeliharaan preventif, pemeliharaan

korektif, atau kalibrasi, tetapi juga dapat dilakukan tersendiri yang dijadwalkan

pada interval tertentu. Pemeliharaan preventif (PP) adalah kegiatan pemeliharaan

yang dilakukan secara terjadwal, untuk memperpanjang umur peralatan dan

mencegah kegagalan (yaitu dengan kalibrasi, penggantian bagian, pelumasan,

pembersihan, dll). Pemeliharaan Korektif (CM) meruapakan kegiatan perbaikan

terhadap peralatan dengan tujuan mengembalikan fungsi peralatan sesuai dengan

kondisi awalnya. Ciri dari kegiatan CM berdasarkan permintaan dari pengguna

44
peralatan atau dari personel yang melakukan kegiatan performing maintenance.

(Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,

2015)

2.3.8.1 Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan

Pengujian alat kesehatan adalah merupakan keseluruhan tindakan meliputi

pemeriksaan fisik dan pengukuran untuk menentukan karakteristik alat kesehatan,

sehingga dapat dipastikan kesesuaian alat kesehatan terhadap keselamatan kerja

dan spesifikasinya. Kalibrasi alat kesehatan bertujuan untuk menjaga kondisi alat

kesehatan agar tetap sesuai dengan besaran pada spesifikasinya. Dengan adanya

kalibrasi maka akurasi, ketelitian dan keamanan alat kesehatan dapat dijamin

sesuai besaran yang tertera/diabadikan pada alat kesehatan yang bersangkutan .

Pengujian dan kalibrasi wajib dilakukan terhadap alat kesehatan dengan kriteria:

1. Belum memiliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi.

2. Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi telah habis.

3. Diketahui penunjukkannya atau keluarannya atau kinerjanya atau

keamanannya tidak sesuai lagi, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku.

4. Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku

5. Telah dipindahkan bagi yang memerlukan instalasi, walaupun sertifikat dan

tanda masi berlaku.

Pengujian dan kalibrasi bertujuan untuk :

1. Memastikan kesesuaian karakteristik terhadap spesifikasi dari suatu bahan

ukur atau instrument.

45
2. Menentukan deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukan suatu

besaran ukur atau deviasi dimensi nominal yang seharusnya untuk suatu

bahan ukur.

3. Menjamin hasil hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional

maupun Internasional.

Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan pengujian dan

kalibrasi adalah kondisi alat ukur dan bahan ukur tetap terjaga sesuai

dengan spesifikasinya. Alat kesehatan yang lulus kalibrasi akan mendapatkan

sertifikat kalibrasi serta tanda laik pakai, demikian juga alat kesehatan yang

lulus uji akan mendapatkan sertifikat pengujian/kalibrasi dan tanda laik pakai.

Alat kesehatan yang tidak lulus kalibrasi dan/atau uji akan mendapatkan tanda

tidak laik pakai dan tidak boleh digunakan di pelayanan. Sertifikat tanda laik

pakai dan tanda tidak laik pakai dikeluarkan oleh balai pengamanan fasilitas

kesehatan, dan institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang. (Pedoman

Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015)

2.3.9 Penghapusan alat kesehatan

Peralatan medis yang dimiliki oleh institusi pemerintah adalah kekayaan

negara, karena itu peralatan medis dicatat pada akuntansi kekayaan negara.

Setiap penambahan peralatan medis yang memenuhi persyaratan akutansi,

akanmenambah kekayaan negara demikian juga pada saat pengurangan peralatan

medis, akan mengurangi kekayaan negara (Pedoman Pengelolaan Peralatan

Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015)

Pengurangan kekayaan negara dapat dilakukan dengan melakukan

penghapusan Peralatan medis dari daftar kekayaan negara yang harus dilakukan

46
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Pedoman Pengelolaan Peralatan

Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015)

Penghapusan peralatan medis agar pemanfaatan peralatan medis di rumah

sakit efektif dan efesien serta penatausahaan peralatan medis akuntabel serta

membebaskan Pengguna dan atau Kuasa Pengguna Barang dari tanggung jawab

administrasi dan fisik barang yang berada dalam penguasaannya. (Pedoman

Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015)

Peralatan medis dihapuskan apabila memenuhi antara lain :

1. Persyaratan teknis:

a. Secara fisik alat kesehatan tidak dapat digunakan karena rusak, dan

tidak ekonomis bila diperbaiki

b. Secara teknis barang tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi

c. Alat kesehatan telah melampaui batas usia teknis/kadaluarsa

d. Alat kesehatan mengalami perubahan dalam spesifikasi karena

penggunaan, seperti terkikis, aus, dan lain lain sejenisnya

2. Secara ekonomis lebih menguntungkan bagi negara apabila alat kesehatan

dihapus, karena biaya operasional dan pemeliharaan alat kesehatan lebih

besar dari manfaat yang diperoleh.

3. Alat kesehatan hilang atau dalam kondisi kekurangan perbendaharaan.

Penghapusan peralatan medis dari daftar barang pengguna dan/atau daftar

barang kuasa pengguna barang dilakukan sesuai persyaratan administrasi

dan peraturan yang berlaku. (Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di

Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2015)

47