Anda di halaman 1dari 15

Halaman |3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar

Inventori (inventaris, inventarisasi) adalah suatu alat untuk menaksir dan


menilai ada atau tidak adanya tingkah laku, minat, sikap tertentu, dan seterusnya
biasanya inventaris berbentuk daftar pertanyaan yang harus dijawab (Chaplin,
2004:260)

Dari pengertian ini bisa diidentifikasi bahwa inventori pada dasarnya:

1. Suatu alat untuk menaksir dan menilai

2. Yang ditaksir dan dinilai adalah ada atau tidak adanya tingkah laku,
minat, sikap tertentu, dan seterusnya.

3. Alat yang disebut inventori ini berbentuk daftar pertanyaan yang harus
dijawab responden.

4. Jawaban responden yang diperoleh pengumpul data selanjutnya


digunakan untuk menaksir dan menilai tingkah laku responden yang
bersangkutan.

Mengacu pada pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa, inventori adalah


metode untuk memahami individu dengan cara memberikan sejumlah pernyataan
yang harus dijawab/dipilih responden sesuai dengan keadan dirinya. Jawaban
responden tersebut selanjutnya ditafsirkan (dipahami) oleh pengumpul data tentang
keadaan responden, dan responden memahami keadaan dirinya sendiri.

Inventori Tugas Perkembangan (ITP) merupakan instrument yang digunakan


untuk memahami tingkat perkembangan individu. Penyusunan ITP dimaksudkan
untuk menunjang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. ITP disusun dalam
bentuk empat buku inventori, masing masing untuk memahami perkembangan
peserta didik di tingkat SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Pengembangan
instrument mengacu pada teori perkembangan diri dari Loevinger yang terdiri dari
tujuh tingkatan (Lee Knefelkamp, et.al., 1978 dan Blocher, 1987 dalam Sunaryo
Halaman |4

Kartadinata, dkk., 2003) :

1. Tingkat impulsif
Memiliki ciri ciri menempatkan identitas diri sebagai bagian yang terpisah
dari orang lain. Pola perilaku menuntut dan bergantung pada lingkungan
sebagai sumber ganjaran dan hukuman, serta berorientasi sekarang (tidak
berorientasi pada masa lalu atau masa depan). Individu tidak menempatkan
diri sebagai faktor penyebab perilaku.
2. Tingkat perlindungan diri
Memiliki ciri ciri peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat
diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Mengikuti aturan secara
oportunistik dan hedonistik (prinsip menyenangkan diri). Berpikir tidak lois
dan stereotip. Cenderung melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”.
Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain dengan lingkungan.
3. Tingkat konformistik
Memiliki ciri ciri meliputi (1) peduli terhadap penampilan diri dan
penerimaan sosial, (2) cenderung berpikir stereotip dan klise, (3) peduli akan
aturan eksternal, (4) bertindak dengan motif dangkal (untuk memperoleh
pujian), (5) menyamakan diri dalam ekspresi emosi, (6) kurang intropeksi,
(7) perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal, (8) takut tidak
diterima kelompok, (9) tidak sensitive terhadap keindividualan, dan (10)
merasa berdosa jika melanggar aturan.
4. Tingkat sadar diri
Memiliki ciri ciri meliputi (1) mampu berpikir alternative, (2) melihat
harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi, (3) peduli untuk
mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, (4) orientasi pemecahan
masalah, (5) memikirkan cara hidup, (6) penyeuaian terhadap situasi dan
peranan.
5. Tahap seksama
Memiliki ciri ciri meliputi (1) bertindak atasa dasar nilai internal. (2) mampu
melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan, (3) mampu melihat
keragaman emosi, motif, dan perspektid diri, (4) peduli akan hubungan
mutualistic, (5) memiliki tujuan jangka panjang, (6) cenderung melihat
Halaman |5

peristiwa dalam konteks sosial, (7) berpikir lebih kompleks dan atas dasar
analisis.
6. Tingkat individualistik
Memiliki ciri ciri meliputi (1) peningkatan kesadaran individualitas, (2)
kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan
ketergantungan, (3) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain,
(4) mengenal eksistensi perbedaan individual, (5) mampu bersikap toleran
terhadap pertentangan dalam kehidupan, (6) membedakan kehidupan internal
dan kehidupan luar dirinya, (7) mengenal kompleksitas dan (8) peduli akan
perkembangan dan masalah-masalah sosial.
7. Tingkat Otonomi
Memiliki ciri ciri meliputi (1) memiliki pandangan hidup sebagai suatu
keseluruhan, (2) cenderung bersikap realistik dan objektif terhadap diri
sendiri maupun orang lain, (3) peduli akan paham abstrak seperti keadilan
sosial, (4) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan, (5) peduli
akan self-fulfillment (pemuasan kebutuhan diri), (6) ada keberanian untuk
menyelesaikan konflik internal, (7) respek terhadap kemandirian orang lain,
(8) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain, dan (9)
mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.

Dalam ITP, ada 10 aspek yang diukur untuk siswa SD dan SLTP, sementara untuk
siswa SLTA dan perguruan tinggi ada 11 aspek, yaitu:

1. Landasan hidup religius


2. Landasan perilaku etis
3. Kematangan emosional
4. Kematangan intelektual
5. Kesadaran tanggung jawab
6. Peran sosial sebagai pria atau wanita
7. Penerimaan diri dan pengembangannya
8. Kemandirian perilaku ekonomis
9. Wawasan persiapan karier
10. Kematangan hubungan dengan teman sebaya
11. Persiapan diri untuk pernikahaan dan hidup berkeluarga
Halaman |6

Angket Inventori Tugas Perkembangan memiliki berbagai karakteristik yang khas, yaitu :

1. Inventori Tugas Perkembangan berbentuk angket terdiri dari kumpulan


pernyataan, di mana setiap nomor terdiri dari 4 butir pernyataan yang mengukur
satu subaspek.
2. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap
aspek.
3. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa.
4. Angket ITP untuk setiap tingkat pendidikan memiliki jumlah soal yang berbeda.
ITP SD dan ITP SLTP memiliki jumlah soal 50,dimana setiap soal memilki
empat butir pilihan. Pada proses pengolahan yang diskort 40 soal, sedangkan
yang 10 butir soal untuk mengontrol tingkat konsistensi peserta didik dalam
menjawab atau mengerjakan ITP. Sedangkan pada ITP tingkat SLTA dan ITP
memiliki jumlah butir soal 77, dimana setiap butir soal memiliki 4 butir
pernyataan pilihan. Pada proses pengolahan yang diskors hanya 66 butir soal,
sedangkan yang 11 butir soal lainnnya digunakan untuk mengontrol tingkat
konsistensi peserta didik dalam menjawab atau mengerjakan ITP. Adapun cara
mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa adalah sebagai berikut, pada ITP
SD dan ITP SLTP, terdapat 10 butir soal yang diduplikasi, sedang pada ITP
SLTA dan ITP Perguruan Tinggi, terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. Hasil
duplikasi diletakkan di bagian akhir angket. Setiap soal duplikasi mewakili satu
aspek perkembangan. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk
kedua soal itu sama. Semakin tinggi skor konsistensi, semakin tinggi pula tingkat
keseriusan siswa menjawab angket.Proses penyekoran, penghitungan skor
konsistensi, dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual.
Namun, untuk jumlah siswa yang besar, cara ini akan memakan waktu,
menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan.

B. Kelebihan dan Kekurangan ITP


Seperti umumnya alat asesmen, maka ITP memiliki kelebihan maupun
kekurangan.
1. Kelebihan Inventori Tugas Perkembangan
Adapun kelebihan ITP antara lain :
Halaman |7

a. Melalui skor hasil ITP konselor dapat lebih mudah memahami tingkat
perkembangan individu.
b. Alat asesmen yang dapat digunakan sebagai dasar penetapan program
bimbingan dan konseling berbasis perkembangan inividu.
c. Pengolahan hasil ITP dapat dilakukan dengan cepat karena dilengkapi
dengan program pengolahan ATP berbasis komputer versi 3.5.
2. Keterbatasan Inventori Tugas Perkembangan
Sedangkan kekurangan atau keterbatasannya antara lain :
a. Belum dapat digunakan sebagai alat seleksi, baik untuk menentukan
kelulusan maupun untuk penempatan.
b. Skor ITP belum diuji hubungannya dengan aspek perkembangan atau aspek
kepribadian lainnya, sehingga belum dapat digunakan untuk memprediksi
aspek kepribadian secara lengkap.
c. ITP sebagai dasar pengembangan model bimbingan di perguruan tinggi telah
diuji secara empirik. Namum jumlah sekolah uji coba masih terbatas.
d. Penggunaan ATP untuk kalangan luas masih dalam tahap awal, sehingga
masukan untuk penyempurnaan ITP maupun ATP masih diharapkan dari
para pemakai.

C. Kesahihan dan Keterandalan

Inventori tugas perkembangan telah diujikan kepada 336 siswa SD. 323
siswa SLTP, 313 siswa SLTA, dan 219 Mahasiswa. Hasil sementara menunjukkan
tingkat reliabitasnya dan validitas pada tingkat sedang. Hasil uji coba menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat konsistensi peserta didik dalam menjawab, makin
tinggi reliabitasnya. Apabila diliat dari homogenitas peserta didik yang mengerjakan
ITP, maka makin homogen, reliabilitasnya semakin rendah. Artinya bila ITP
diadministrasikan pada kelompok heterogen dan peserta mengerjakan dengan
sungguh-sungguh, tingkat reliabilitas ITP akan tinggi.

D. Peran dan Fungsi Konselor

Pada proses asesmen menggunakan inventori tugas perkembangan (ITP),


konselor mrmiliki peran dan fungsi sebagai :
Halaman |8

1. Perencana, yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapka


peserta didik sebagai sasaran asesmen, menyediakan buku dan lembar jawaban
ITP sesuai jumlah peserta didik sasaran, dan membuat satuan layanan asesmen
ITP.
2. Pelaksana, yaitu memberikan verbal setting (menjelaskan tujuan, manfaat dan
kerahasiaan data), memandu peserta didik.
3. Melakukan pengolahan data kuantitatif mulai dari menghitung hasil dengan
menggunakan format yang spesifik, berdasarkan skor yang diperoleh menetapkan
tingkay pencapaian tugas perkembangan, membuat grafik 11 aspek
perkembangan, serta membuat deskripsi analisis kualitatif pencapaian tahap
perkembangan dan aspek perkembangan dengan merujuk pada pedoman yang
ada.
4. Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan
bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta
didik.

E. Langkah Pengadministrasian

1. Perencanaan

Sebelum pelaksanaan asesmen, konselor melakukan perencanaan dengan


menetapkan tujuan layanan asesmen, menetapkan sasaran dan jumlah saran
layanan, menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan asesmen yang memiliki
pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, penyediaan meja dan kursi yang
nyaman untuk mengerkjakan asesmen.

a. Pelaksanaan

Pada saat pelaksanaan asesmen dengan menggunakan ITP konselor perlu


melakukan beberapa hal berikut ini.

1) Pada pertemuan awal konselor memberi verbal setting.

2) Kepada siswa dibagikan buku inventori beserta lembar jawaban.

3) Siswa diminta mengisi identitasnya pada kembar jawaban.


Halaman |9

4. Konselor membacakan petunjuk pengerjaan, sementara siswa membaca


petunjuk yang terdapat dalam buku ITP

5. Tanya jawab dan penjelasan lebih lanjut bila ada siswa yang masih belum
memahami cara mengerjakan.

6. Siswa dipersilahkan mengerjakan ITP pada lembar jawaban.

7. Waktu pengerjaan secukupnya, diperkirakan paling cepat 20 menit dan paling


lambat 40 menit. Tidak boleh ada yang mengosongkan jawaban.

8. Selesai mengerjakan, lembar jawaban dan buku inventori di kumpulkan.

F. Langkah – Langkah Pengolahan dan Analisis

1. Penskoran dan pengolahan


a. Setelah pelaksanaan asesmen selesai, konselor mengelompokkan lembar
jawaban sesuai tingkat sekolah, sebab masing-masing tingkat memiliki
kunci jawaban yang berbeda.
b. Menghitung tingkat konsistensi jawaban
1) Lihat KESAMAAN jawaban terhadap dua nomor yang isi
pernyataannya sama persis. Pasangan nomor yang isinya sama persis
dapat dilihat dari tabel konsistensi.
2) Bila kedua jawaban sama, diberi skor 1, bila tidak sama maka diberi
skor 0. Tulis angka tersebut pada kolom konsistensi di lembar
jawaban.
3) Jumlahkan skor konsistensi, jumlah skor maksimal 11. Skor
konsistensi yang 5 ke bawah, menunjukkan bahwa yang
bersangkutan kurang serius dalam mengerjakan ITP.
c. Menghitung skor setiap aspek perkembangan
1) Pada lembar jawaban, tulis skor tiap nomor sesuai dengan kunci.
2) Jumlahkan 6 skor yang satu baris, tulis jumlah itu pada kolom paling
kanan dilembar jawaban.
3) Lakukan sampai baris terbawah.
4) Masing-masing jumlah skor dibagi 6, diperoleh rata-rata skor tiap
aspek. Skor tiap aspek itulah yang menunjukkan tingkat
H a l a m a n | 10

perkembangan siswa dalam aspek bersangkutan. (Tulis dalam kolom


ST).
d. Menghitung rata-rata skor aspek tiap siswa dan rata-rata seluruh
siswa/kelompok. Rata-rata skor ini digunakan sebagai bahan
perbandingan dalam menganalisis ITP.
1) Untuk skor setiap siswa, jumlahkan skor semua aspek, kemudian
dibagi 11 (banyaknya aspek). Angka itu adalah rata-rata skor semua
aspek (ST) per siswa.
2) Untuk skor kelompok, jumlahkan rata-rata skor semua aspek (ST)
dari semua siswa, kemudian bagi jumlah siswa dalam kelompok itu.
Itulah rata-rata skor semua siswa dalam satu kelompok.
e. Membuat grafik individual dan grafik kelompok
1) Grafik individual dibuat berdasarkan skor aspek dari seorang siswa,
sehingga dihasilkan grafik profil individu dalam 10 atau 11 aspek
perkembangan.
2) Grafik kelompok dibuat berdasarkan rata-rata skor tiap aspek dari
seluruh siswa, sehingga dihasilkan grafik profil individu di dalam
kelompoknya, dalam 10 atau 11 aspek perkembangan.
f. Interpretasi Hasil Skor dan Grafik
1) Rata-rata skor aspek setiap siswa atau rata-rata skor seluruh siswa
digunakan sebagai bahan perbandingan dalam menganalisis ITP.
2) Untuk melakukan interpretasi lihat kembali tabel skor dan tahapan
perkembangan untuk setiap tingkat pendidikan (SD, SLTP, SLTA,
PT), contoh skor rata siswa = 4, berarti ia berada pada tahap
perkembangan sadar diri, atau skor rata-rata siswa = 5, berarti berada
pada tahap perkembangan saksama.
3) Bila Anda pada tahap saksama atau sadar diri, lalu Anda
deskripsikan apa maknanya, dengan melihat deskripsi setiap setiap
tahap perkembangan. Masing-masing jumlah skor dibagi empat,
diperoleh rata-rata skor tiap aspek. Skor tiap aspek itulah yang
menunjukkan tingkat perkembangan siswa dalam aspek bersangkutan
(tulis pada kolom ST).
4) Dari grafik Anda dapat melakukan analisis, aspek mana saja dari
perkembangan yang sudah berkembang sesuai dengan kategori
H a l a m a n | 11

tingkat pendidikan saat ini, atau yang masih belum optimal


berkembang.
5) Berdasarkan hasil grafik, Anda dapat merancang program layanan
bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

2. Perangkat untuk proses pengolahan hasil ITP


a. Tabel konsistensi
Pada tabel ini beberapa nomor di lajur kiri memiliki kesamaan dengan
nomor-nomor soal di lajur kanan. Ini digunakan untuk melihat tingkat
konsistensi jawaban peserta didik saat menjawab/memilih pernyataan pada
Inventori Tugas Perkembangan. Konsistensi dalam menjawab ITP yang baik
adalah bila berada minimal > 5 sampai dengan maksimal = 11.
b. Tabel kunci jawaban ITP
Untuk memberi skor pada setiap hasil jawaban atau pilihan pernyataan
peserta didik pada lembar jawaban ITP diperlukan kunci jawaban, karena
setiap kemungkinan pilihan jawaban/pernyataan pada setiap butir soal
memiliki bobot skor yang berbeda-beda.
c. Tabel skor dan tingkat perkembangan ITP
Untuk melakukan analisis terhadap perolehan skor pada penggunaan ITP,
perlu merujuk pada klasifikasi yang telah ditetapkan oleh pengembang alat
asesmen ini. Setiap tingkat pendidikan memiliki skor dan tingkat
perkembangan yang berbeda, walaupun demikian setiap tingkat pendidikan
memiliki titik singgung skor maupun pencapaian tingkat perkembangan. Hal
ini menunjukkan bahwa tingkat perkembangan individu merupakan suatu
rangkaian proses berkesinambungan.

1. Tingkat SD
Tabel 11.1
Skor dan Tingkat Perkembangan Tingkat SD

SKOR KODE TINGKAT


PERKEMBANGAN
H a l a m a n | 12

1 IMP IMPULSIF

2 PLD PERLINDUNGAN DIRI

3 KOM KONFORMITAS

4 SDI SADAR DIRI

2. Tingkat SLTP
Tabel 11.2
Skor dan Tingkat Perkembangan Tingkat SLTP

SKOR KODE TINGKAT


PERKEMBANGAN

1 PLD PERLINDUNGAN DIRI

2 KOM KONFORMITAS

3 SDI SADAR DIRI

4 SAKS SAKSAMA

3. Tingkat SLTA
Tabel 11.3
Skor dan Tingkat Perkembangan Tingkat SLTA

SKOR KODE TINGKAT


PERKEMBANGAN

1 KOM KONFORMITAS

2 SDI SADAR DIRI

3 SAK SAKSAMA
H a l a m a n | 13

4 IND INDIVIDUALITAS

4. Tingkat PT
Tabel 11.4
Skor dan Tingkat Perkembangan Tingkat Perguruan Tinggi

SKOR KODE TINGKAT


PERKEMBANGAN

1 SDI SADAR DIRI

2 SAK SAKSAMA

3 IND INDIVIDUALITAS

4 OTO OTONOMI

G. Jenis Data ITP


1. Beberapa instrumen inventori
Jenis data yang cocok dikumpulkan dengan metode inventori adalah data
tentang : Temperamen, Karakter, Penyesuaian, Sikap, minat, jenis masalah,
kebiasaan belajar, gambaran diri dan sebagainya. Telah banyak instrumen
inventori talah di kembangkan dan di gunakan secara luas untuk mengumpulkan
data tentang aspek-aspek tsb. Beberapa di antaranya akan di bicarakan secara
singkat dalam uraian di bawah ini.
a. Bell Adjustment Inventory
Bell Adjustment Inventori di rancang untuk mengukur penyesuaian diri
dan sosial (sicial and personal adjustment). Inventori ini merupakan inventori
kelompok yang di berikan secara terrulis.
Diciptakan oleh H.M Bell pada tahun 1934. Innventori ini di pekerjakan tanpa
limit waktu. Inventori ini terdiri atas dua bentuk yaitu untuk bentuk untuk
orang dewasa dan bentuk untuk siswa. Dalam buku ini hanya akan di
bicarakan bentuk untuk siswa. Bentuk ini terdiri dari 40 item.individu yang
akan di ukur diminta untuk memeberikan tanda chek pada setiap item yang
H a l a m a n | 14

cocok dengan dirinya. Aspek yang di ukur dalam terdiri dari empat aspek
yaitu : penyesuaian terhadap lingkungan keluarga, penyesuaian terhadap
kesehatan, penyesuaian terhadap lingkungan sekola, dan penyesuaian terhadap
emosi.
Contoh-contoh item dari Bell Adjusment Infentoriy anrtara lain adalah
sebagai berikut :
1. Orang tua saya sering mengecewakan hati saya
2. Orang tua saya sering menghukum saya secara tidak wajar
3. Kesehatan saya sering terganggu
4. Saya harus menjaga kesehatan saya secermat-cermatnya
5. Saya jarang mendapat undangan ulang tahun
6. Saya jarang menemukan kesulitan ketika bertemu orang yang
baru dikenal.
7. Saya merasa gugp kalau berhadapan dengan orang banyak
8. Saya mudah terharu kalau mendengar berita yang sedih.
Cara pemberian skor terhadap inventori ini cucukp sederhana setiap
pemberian tanda chek diberi skor satu (1) sedangkat yang tidak di beri tanda chek
diberi tanda nol (0) kemudian skor-skor tersebut di jumlahkan menurut aspek-
aspek masing-masing. Dari jumlah skor yang diperoleh pada masing-masing
aspek dapat diinterpretasikan, apakah seseorang mempunyai tingkat penyesuaian
yang baik atau tidak.
Pada aspek penyesuaian pada lingkungan keluarga, individu individu
yang mendapat skor tinggi cenderung mempunyai penyesuaian yang kurang
memuaskan dalam lingkungan keluarganya. Sebaliknya skor yang rendah
menunjukan penyesuaian yang memuaskan.
Pada aspek penyesuaian terhadap kesehatan, skor yang tinggi menunjukan
penyesuaian yang tidak memuaskan terhadap kesehatan skor yang rendah
menunjukan penyesuaian yang memuaskan.
Pada aspek penyesuaian terhadap lingkungan sisoal individu yang
mendapay skor tinggi cenderung untuk submisive dan menarik diri dari kontak
sosial. Sedangkan individu yang mendapat skor rendah cenderung agresif dalam
kontak sosial.
Pada aspek penyesuaian terhadap emosi individu yang mendapat skor tinggi
menunjukan ketidak stabilan emosi. Individu yang mendapat skor rendah
H a l a m a n | 15

menunjukan kestabilan emosi.


H a l a m a n | 16

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Inventori Tugas Perkembangan (ITP) merupakan instrumen yang digunakan
untuk memahami tingkat perkembangan individu. Instrumen ini
dikembangkan oleh Tim Pengembang dari Universitas Pendidikan Indonesia,
Sunaryo Kartadinata, dkk.
2. ITP memiliki empat format yaitu ITP – SD, ITP – SLTP, ITP – SLTA, ITP –
PT, masing-masing format memiliki petunjuk teknis penggunaan, buku
inventori tugas perkembangan, buku petunjuk penggunaan program khusus
ATP versi 3.5 dan CD program ATP versi 3.5.
3. Pengembangan ITP mengacu pada teori perkembangan diri dari Loevinger
yang terdiri dari tujuh tingkatan, yaitu tingkat impulsive, perlindungan diri,
konformistik, sadar diri, seksama, individualistik, dan otonomi. Berisi 10
aspek perkembangan pada siswa SD dan SLTP dan 11 aspek pada siswa
SLTA dan mahasiswa PT, meliputi landasan hidup religious, landasan
perilaku etis, kematangan emosional, kematangan intelektual, kesadaran
tanggung jawab, peran sosial sebagai pria atau wanita, penerimaan diri dan
pengembangannya, kemandirian perilaku ekonomis, wawasan persiapan
karier, kematangan hubungan dengan teman sebaya, dan persiapan diri untuk
pernikahan dan hidup berkeluarga.
4. Inventori Tugas Perkembangan telah diujicobakan kepada 336 siswa SD, 323
siswa SLTP, 313 siswa SLTA, dan 219 mahasiswa. Hasil sementara
menunjukkan tingkat reliabilitas dan validitas pada tingkat sedang.
H a l a m a n | 17

DAFTAR PUSTAKA
Komalasari, Gantina. Dkk. 2011. Asesmen Teknik Nontes dalam Perspektif BK
Komprehensif. Jakarta:PT Indeks.
Nurkanca, Wayan. 1993. Pemahaman Individu. Surabaya : Usaha Nasional.
Rahardjo, Susilo dan Gudnanto. 2016. Pemahaman Individu Teknik Nontes. Jakarta:
Prenadamedia Group.