Anda di halaman 1dari 32

Pembelahan Sel & Pewarisan Sifat

Oleh Kelompok 4 (geofisika)

Rusnianti Nur (H22114013)


Putri Wulandari (H22114014)
Krisdayanti (H22114015)
Muh. Sidiq Tolleng (H22114016)
Kata pengantar
Puji syukur kehadirat tuhan yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai “Pembelahan
sel dan pewarisan sifat”. Salam dan shalawat tak lupa kita kirimkan kepada Nabi
Muhammad Saw, Nabi yang diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin dan uswatun
hasanah bagi seluruh umat di muka bumi.

Terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah berperan


penting dalam penyelesaian makalah ini. Terima kasih kepada :
1. Sebagai dosen pembimbing
2. Seluruh anggota kelompok yang telah berpartisipasi aktif
3. Orangtua atas dokongan dan sumbangsih materiil maupun moriil
4. Serta teman-teman mahasiswa atas kritik dan sarannya.

Penulis juga menyadari bahwa, makalah ini tidak terlepas dari segala
kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran kami perlukan bagi perbaikan makalah
berikutnya.

Makassar, september 2014

Penulis
Daftar isi
Sampul ………………………………………………………………………… i
Kata pengantar ………………………………………………………………..
ii
Daftar isi ……………………………………………………………………….
Iii

BAB 1 PENDAHULUAN
A. latar belakang
B. Rumusan masalah …………………………………………………. 4
C. Tujuan …………………………………………………………….. 5
D. Manfaat …………………………………………………………… 5

BAB 2 PEMBAHASAN
A. pengertian pembelahan sel ………………………………………... 6
B. macam-macam pembelahan sel …………………………………… 6
C. pengertian pewarisan sifat ………………………………………… 11
D. pola persilangan …………………………………………………… 17
E. penyimpangan semu mendel ………………………………………. 20

BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan…………………………………………………………… 27
Daftar pustaka ………………………………………………………... 28
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita pernah dan bahkan sering


menemukan beberapa ekor hewan yang memiliki perbedaan dan persamaan. Tidak
hanya pada hewan, tumbuhan yang dimakan oleh sebagian besar hewan pun memiliki
penampakan yang tidak sama, meskipun namanya sama. Tumbuhan yang sama bisa
berbunga putih, berbunga merah, berbatang tinggi dan ada yang berbatang rendah.
Begitu pula dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling
sempurna. Manusia di muka bumi ini tidak ada yang persis sama. Cobalah kita amati
orang-orang yang paling dekat di sekitar kita. Anggota keluarga adalah orang yang
paling dekat dengan diri kita. Kemudian bandingkanlah dirimu dengan Ibu, Bapak
dan saudara-saudaramu! Apakah ada yang persis sama di antara anggota keluarga
kalian? Apakah ada perbed aan yang sangat mencolok antara kamu dengan anggota
keluargamu? Mengapa kita tidak persis sama dengan ayah dan ibu? Bagaimanakah
hal itu dapat terjadi?
Pada waktu dilahirkan, seorang bayi mewarisi setengah sifat ayah dan ibunya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa bayi yang dilahirkan merupakan perpaduan sifat
antar kedua orangtuanya. Hal ini dikarenakan adanya faktor penentu yang membawa
sifat-sifat induk kepada keturunannya. Untuk itu, penjelasan yang lebih lengkap akan
dipaparkan dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan pembelahan sel?
2. Sebutkan macam-macam pembelahan sel?
3. Perbedaan antara pembelahan mitosis dengan pembelahan miosis?
4. Apa yang dimaksud dengan pewarisan sifat?
5. Sebutkan macam macam penyimpangan semu hukum mendel?
6. Apa yang dimaksud dengan kromosom, DNA, dan RNA?
7.

C. TUJUAN

1. Mengetahui mengenai pembelahan sel


2. Menjelaskan macam-macam pembelahan sel
3. Mengetahui perbedaan pembelahan sel mitosis dan meiosis
4. Menjelaskan tentang pewarisan sifat
5. Mengetahui macam macam penyimpangan semu hukum mendel

D. MANFAAT

Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan untuk meningkatkan pengetahuan
kita.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembelahan Sel
Pembelahan sel dibedakan menjadi dua macam, yaitu Pembelahan Mitosis
dan Pembelahan Meiosis. Pembelahan Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel
yang terjadi pada sel-sel somatis (sangat aktif pada jaringan meristem)
menghasilkan dua sel anak yang memiliki genotip sama dan identik dengan sel
induknya. Sedangkan Pembelahan Meiosis, terjadi pada sel-sel germinal (gamet)
dengan hasil akhir empat buah sel anak yang haploid dengan komposisi genotip
yang mungkin berbeda dengan sel induknya. Sebelum terjadinya peristiwa
pembelahan sel, terdapat beberapa peristiwa penting seperti pembelahan
kromosom. Dalam inti sel terdapat kromosom yaitu benda–benda halus
berbentuk batang panjang atau pendek dan lurus atau bengkok. Kromosom
merupakan pembawa bahan keturunan. Kromosom dapat terlihat pada tahap-
tahap tertentu pada pembelahan inti. Biasanya kromosom digambarkan pada tahap
metafase.
Agar dapat menghasilkan suatu generasi baru sel-sel atau individu multiseluler
seperti diri mereka sendiri diperlukan sebuah proses pembelahan sel. Seperti yang
kita ketahui bahwa suatu DNA untuk hidup memerlukan protein. Oleh karena itu, bila
sel anakan tidak menerima materi genetic DNA untuk sintesis protein, sel tidak akan
bertumbuh dan berfungsi dengan semestinya. Untuk itulah sel melakukan proses
replikasi DNA sebelum pembelahan sel berlangsung.

B. Macam Pembelahan Sel


Pada eukariota bersel banyak terjadi dua macam pembelahan sel (reproduksi
sel), yaitu mitosis dan meosis. Kedua jenis pembelahan sel ini akan dijelaskan secara
mendetail sebagai berikut.
1. Mitosis

Pembelahan sel secara mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi melalui
tahapan-tahapan tertentu. Pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anakan, hal
ini terjadi pada sel eukariotik. Sel induk yang membelah mengandung kromosom
diploid (2n), sel anakan yang dihasilkan dari pembelahan mitosis adalah dua sel
anakan yang juga diploid (2n), maka dari itu pembelahan mitosis menghasilkan 2
sel anakan identik. Pembelahan mitosis terjadi selama pertumbuhan dan
reproduksi aseksual. Pada hewan dan manusia, mitosis terjadi pada sel meristem
somatic. Sel telur yang telah dibuahi sperma menjadi zigot, zigot membelah
beberapa kali secara mitosis untuk membentuk suatu embrio. Pembelahan mitosis
berlangsung secara bertahap melalui beberapa fase, yaitu profase, metafase.
Anafase dan telofase.

a. Profase
Tahap profase pada mitosis akan terjadi proses-proses sebagai berikut.
1) Kromosom mengerut dan menjadi tebal. Pemendekan ini terjadi akibat
berpilinnya kromosom.
2) Terlihat dua sister kromatid dan kromosom tampak rangkap dua.
Kromatid-kromatid dihubungkan oleh sentromer.
3) Nukleolus menjadi kabur dan hilang pada akhir profase.
4) Selaput inti mulai menghilang.
5) Benang gelendong mulai terbentuk.
6) Kromosom mulai bergerak ke tengah atau ekuator dari sel.

b. Metafase
Pada tahap metafase ini terjadi proses-proses berikut.
1) Benang-benang gelendong menjadi jelas pada permulaan metafase dan
teratur seperti kumparan. Benang-benang ini terdiri atas serabut protein
halus yang terbuat dari mikrotubule yang sangat kecil. Pada banyak hewan
dan tanaman tingkat rendah, benang gelendong ini dibentuk dalam
hubungannya dengan sentriol (badan yang menandai kutub darimekanisme
benang gelendong). Benang gelendong ini penting untuk penyebaran
kromosom secara teratur.
2) Masing-masing kromosom terletak berbaris pada bidang ekuator.
Sentromer melekat pada benang gelendong. Beberapa benang gelendong
mencapai kutub tanpa melekat pada sentromer.
3) Sentromer membelah dan masing-masing kromatid menjadi kromosom
tunggal.

c. Anafase
Selama anafase, kromatid bergerak menuju ke arah kutub-kutub yang
berlawanan. Kinetokor yang masih melekat pada benang spindel berfungsi
menunjukan jalan, sedangkan lengan kromosom mengikuti dibelakang.

d. Telofse
Kromatid-kromatid mengumpul pada kutub-kutub. Benang gelendong
menghilang, kromatid menjadi kusut dan butiran-butiran kromatid muncul
kembali. Selaput inti terbentuk kembali dan nukleolus terlihat lagi. Pada
bagian bidang ekuator trejdi lekukan yang makin lama makin kedalam hingga
sel induk terbagi menjadi dua yang masing-masing mempunyai sifat dan
jumlah kromosom yang sama dengan induknya.

e. Interfase
Interfase disebut juga, fase istirahat namun sebutan ini kurang tepat
karena justru pada saat-saat ini sel mempersiapkan diri untuk pembelahan lagi
dengan mengumpulkan materi dan energi. Pada fase ini kromosom tidak
tampak, tetapi butiran kromatid tampak jelas. Pada fase ini tingkah kromosom
tidak tampak, sehingga fase ini bukan termasuk fase mitosis.
Akhirnya pembelahan sel secara mitosis menghasilkan dua sel anakan.
Masing-masing sel anakan memiliki jumlah dan sifat kromosom yang sama
dengan sel induknya. Pada pembelahan ini terjadi pembagian inti
(kariokinesis) dan pembagian plasma/sitoplasma (sitokinesis).

2. Meiosis
Meosis adalah proses pembentukan sel dengan dua kali pembelahan yang
menghasilkan empat sel anak, yang masing-masing memiliki separuh dari jumlah
komosom sel induk. Pembelahan sel ini berlangsung melalui dua tahapan, yaitu
meosis I dan meosis II, tanpa melalui interfase. Interfase hanya terjadi sebelum
atau sesudah meiosis.
a. Meiosis I

Meosis I melalui tahap berikut ini.


1) Profase I
Profase terbagi lagi menjadi fase-fase sebagai berikut :
a. Leptonema : benang-benang kromatin menjadi kromosom.
b. Zigonema : kromosom yang sama bentuknya atau kromosom
homolog berdekatan dan bergandengan. Setiap pasang
kromosom homolog berdekatan dan beragndengan.
Setiap pasang kromosom homolog disebut bivalen.
c. Pakinema : tiap bagian kromosom homolog mengganda, tetapi
masih dalam satu ikatan sentromer sehingga terbentuk tetrad.
d. Diplonema : kromatid dari tiap-tiap belahan kromosom memendek
dan membesar.
e. Diakinesis : sentrosom membentuk dua sentriol yang masing-
masing membebentuk benang gelendong pembelahan.
Satu sentriol tetap, sedangkan sentriol yang lain bergerak ke arah
kutub yang berlawanan .

2) Metafase I
Pada fase ini, tetrad berkumpul dibidang ekuator.

3) Anafase I
Benang gelendong pembelahan dari tiap kutub menarik kromosom
homolog sehingga setiap pasangan kromosom berpisah bergerak kearah
kutub yang berlawanan, sentromer belum membelah. Setiap kutub
menerima campuran acak kromosom dari ibu dan bapak.

4) Telofase I
Kromatid memadat, selubung inti terbentuk dan nukleolus muncul lagi,
kemudian sitokinesis berlangsung. Pada manusia terjadi duplikasi 2
kromosom dari jumlah 4 kromatid sehingga terbentuk 23 kromosom yang
di duplikasi di setiap kutub. Beang gelendong lenyap, kromatid muncul
kembali, sentriol berperan sebagai sentrosom kembali.

b. Meiosis II
Meosis II melalui tahap berikut ini.
1) Profase II
Sentrosom membentuk dua sentriol yang terletak pada kutub yang
berlawanan dan dihubungkan oleh benang gelendong. Membran inti dan
nukleolus lenyap, kromatin berubah menajdi kromosom yang terjerat oleh
benang gelendong.

2) Metafase II
Kromosom berada dibudang ekuator, kromatid berkelompok dua-dua.
Pada tahap ini belum terjadi pembelahan sentromer.

3) Anafase II
Kromosom melekat pada kinetokor benang gelendong, lalu ditarik oleh
benang gelendong ke arah kutub yang berlawanan yang menyebabkan
sentromer terbelah. Sebagai akibatnya tiap kromatid bergerak ke arah yang
berlawanan pula.
4) Telofase II
Kromatid berkumpul pada kutub pembelahan lalu berubah menjadi
kromatid kembali, bersamaan dengan itu membran inti dan anak inti
terbentuk lagi, dan sekat pemisah terjadilah dua sel anakan. Pada saat
meosis terjadi dua kali pembelahan, satu sel induk yang diploid (2n)
menghasilkan empat sel anakan yang bersifat haploid (n). Meosis disebut
pula pembelahan reduksi yang berarti terjadi pengurangan jumlah
kromosom

C. Perbedaan Mitosis dan Meiosis


Perbedaan antara mitosis dan meiosis dapat dilihat pada Tabel.

PEWARISAN SIFAT
A. Pengertian Hereditas
Hereditas adalah penurunan sifat dari induk kepada keturunannya. Keturunan
yang dihasilkan dari perkawinan antar individu mempunyai perbandingan fenotip
maupun genotip yang mengikuti aturan tertentu. Aturan-aturan dalam pewarisan sifat
ini disebut pola-pola hereditas.
Teori pertama tentang sistem pewarisan yang dapat diterima kebenarannya
dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865. Teori ini diajukan berdasarkan
penelitian persilangan berbagai varietas kacang kapri (Pisum sativum). Hasil
percobaannya, ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant
Hybridization. Dalam makalah tersebut, Mendel mengemukakan beberapa hipotesis
mengenai pewarisan material genetik dari tetua kepada anaknya, diantaranya adalah
Hukum Segregasi dan Hukum Perpaduan Bebas. Hukum Segregasi atau Hukum
Mendel I menyatakan bahwa dalam pembentukan sel gamet, pasangan alel akan
memisah secara bebas. Sedangkan, Hukum perpaduan bebas atau Hukum Mendel II
menyatakan bahwa alel dari lokus satu akan berpadu secara bebas dengan alel-alel
dari lokus lainnya.
B. Percobaan Mendel
Gregor Johann Mendel (1822-1884) disepakati sebagai Bapak Pendiri
Genetika. Mendel tinggal di Brno (Brunn), Austria (sekarang bagian dari Republik
Cekoslowakia). Rasa ingin tahunya yang tinggi menuntun dia melakukan pekerjaan
persilangan dan pemurnian tanaman kacang kapri (Pisum sativum). Melalui
kegiatannya tersebut, iya menyimpylkan sejumlah aturan mengenai pewarisan sifat
yang dikenal dengan nama Hukum Pewarisan Mendel.
Dalam percobaan untuk meneliti kinerja pewarisan sifat, Mendel memilih
tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Berbagai alasan dan
keuntungan menggunkan tanaman kapri adalah sebagai berikut.
a. Mudah melakukan penyerbukan silang.
b. Mudah didapat.
c. Mudah hidup atau mudah dipelihara.
d. Cepat berubah atau berumur pendek.
e. Dapat terjadi penyerbukan sendiri.
f. Terdapat jenis-jenis yang memiliki sifat beda yang mencolok, misalnya:
1) Warna bunga: ungu atau putih
2) Warna biji: hijau atau kuning
3) Warna buah: hijau atau kuning
4) Bentuk biji: bulat atau kisut
5) Sifat kulit: halus atau kasar
6) Letak bunga: aksial atau terminal; aksial artinya terletak disepanjang batang,
terminal artinya terletak pada ujung batang.
7) Ukuran batang tinggi atau pendek
Mendel mempelajari beberapa pasang pasang sifat pada tanaman kapri yang
masing-masing bersifat dominan dan tidak dominan (resesif).
Masing-masing sifat yang dipelajari adalah:
a. Bentuk biji (bulat x keriput)
b. Bentuk polong masak (menggembung x mengerut)
c. Panjang batang [tinggi (2-2,5 m) x pendek (0,25-0,5)]

d. Letak bunga [diketiak daun (aksial) x diujung batang (terminal)]


e. Warna biji (kuning x hijau)
f. Warna polong (hijau x kuning)
g. Warna bunga (ungu x putih)
Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk satu sifat, dikenal
dengan monohibrid, seperti sifat tinggi tanaman saja, warna bunga saja, atau jenis biji
saja. Selain itu, Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat
(dihibrid), tiga sifat (trihibrid), dan banyak sifat (polihibrid).
Varietas-varietas yang disilangkan disebut tetua, induk atau parental (P). Biji-biji
hasil persilangan anatar parental disebut biji filial pertama (F1). Ciri-ciri F1 dicatat
dan bijinya ditanam kembali. Tanaman yang tumbuh dari biji F1 dibiarkan menyerbuk
sendiri untuk menghasilkan biji generasi berikutnya (F2). Dalam percobaannya,
Mendel mengamati sampai generasi F7, juga melakukan persilangan antara F1 dengan
salah satu tetuanya (testcross).
Hasil percobaan monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman F1 hanya
sifat (ciri) dari salah satu tetua yang muncul. Pada generasi F2, semua sifat yang
dimiliki oleh tetua (P) yang disilangkan muncul kembali. Sifat tetua yang hilang pada
F1 terjadi karena tertutup, kemudian disebut sifat resesif, dan yang menutupi disebut
dominan. Sifat dominan bisa diberi simbol dengan huruf besar, sedangkan sifat
resesif diberi simbol dengan huruf kecil.
Misalnya mengenai tinggi tanaman kapri,
tumbuhan tinggi dominan terhadap
tumbuhan pendek. Jadi, gen untuk sifat
tinggi diberi simbol “T” dan sifat pendek
diberi simbol “t”.
Sebagai salah satu kesimpulan dari
percobaan monohibridnya, Mendel
menyatakan bahwa setiap sifat organisme
ditentukan oleh faktor, yang kemudian
disebut gen. Faktor tersebut kemudian
diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-
masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah alel; satu faktor berasal dari tetua
janatan dan satu lagi berasal dari tetua betina.
Dalam kaitannya dengan gen yang dimiliki oleh individu, diketahui bahwa alel
gen atau genotip yang dimiliki individu dapat berupa homozigot dominan, homozigot
resesif, atau heterozigot. Homozigot dominan artinya suatu individu memiliki alel
gen dominan. Misalnya, pasangan alel gen tinggi diberi simbol TT (artinya dua gen T
yang dominan saling berpasangan). Penampakan atau Fenotipe individu beralel TT
adalah individu bertubuh tinggi.
Homozigit resesif artinya suatu individu memiliki alel gen resesif. Misalnya,
pasangan alel gen pendek atau tt (artinya memiliki dua gen t yang resesif saling
berpasangan). Fenotipe individu beralel tt adalah individu bertubuh pendek.
Makhluk hidup homozigot disebut juga sebagai galur murni. Individu-individu
yang memiliki pasangan gen berbeda dikatakan heterozigot. Heterozigot dinyatakan
dengan huruf gen dominan terlebih dahulu. Contohnya, individu heterozigot untuk
sifat tinggi tanman adalah individu dengan alel Tt (artinya gen T yang dominan
berpasangan dengan gen t yang resesif). Heterozigot memperlihatkan sifat dari gen
yang dominan. Oleh karena itu, penampakan individu heterozigot adalah adalah
bertubuh tinggi. Ide tersebut kemudian dikenal sebagai Hukum Dominansi.
Kemudian, pada saat pembentukan gamet, setiap faktor atau gen dapat dipisah
kembali secara bebas. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel I,
yaitu Hukum Segregasi yang berbunyi: “Pada pembentukan gamet, gen yang
merupakan pasangan akan disegregasikan ke dalam dua sel anak”.
Jadi sehubungan dengan sifat tinggi dan pendek pada tanaman kapri, pasangan
gen homozigot dominan (TT), homozigot resesif (tt), maupun heterozigot (Tt) akan
didistribusikan ke sel anak sehingga setiap sel gamet akan kembali berpasangan
dengan homolognya ketika perkawinan terjadi dan menghasilkan keturunan dengan
perbandingan jumlah sifat yang dapat dihitung. Hasil dari seluruh percobaan
monohibrid untuk tujuh sifat yang diamati, pada F2, terdapat perbandingan yang
mendekati 3:1 antara jumlah individu dominan dengan individu resesif.
Tabel Hasil Percobaan Monohibrid Mendel

C. Berbagai Pola Persilangan


1. Persilangan Monohibrid
Pesilangan dengan pengamatan satu sifat beda disebut sebagai persilangan
monohibrid. Misalnya, persilangan antara tanamn berbunga merah dengan berbunga
putih, kacang kapri berbiji halus dengan kisut (keriput), dan tanaman tinggi dengan
tanaman pendek. Berdasarkan sifat keturunan yang dihasilkan, persilangan
monohibrid dapat dikelompokkan menjadi monohibrid dominan penuh dan dan
monohibrid dominan tidak penuh (intermediet).
a) Persilangan Monohibrid Dominan Penuh
Pada persilangan monohibrid dominan penuh, sifat yang dominan akan
menutup sempurna sifat resesif. Dengan demikian, pesilangan monohibrid penuh
menghasilkan generasi F1 yang 100% mirip parental Bergen dominan, serta F2
dengan perbandingan fenotipe dominan dan resesif sama dengan 3:1.
Ketika tanaman kapri berbunga ungu (PP) dikawinkan dengan tanaman kapri
berbunga putih (pp), akan dihasilkan generasi F1 yang 100% bertubuh tinggi,
walaupun genitipenya heterozigot (Pp). Jika F1 (Pp) disilangkan dengan sesamanya,
akan dihasilkan perbandingan jumlah keturunan antara kacang kapri berbunga ungu
dengan kacang kapri berbunga putih sama dengan 3:1.
b) Persilangan Monohibrid Intermediet
Tidak semua gen dominan dapat menutup dengan sempurna alel yang resesif.
Pada kondisi tersebut, fenotipe yang diekspresikan (muncul) pada individu ialah
antara sifat dominan dengan resesif. Sifat antara tersebut dinamakan sifat intermediet.
Contohnya adalah pada bunga pukul empat dan bunga anyelir. Bunga merah
disilangkan dengan putih menghasilkan generasi F1 yang 100% bunganya berwarna
merah muda. Apabila F1 disilangkan dengan sesame F1 lagi, akan dihasilkan
keturunan F2 dengan perbandingan antara individu berbunga merah, berbunga merah
muda, dan berbunga putih sama dengan 1:2:1.

2. Persilangan Dihibrid
Hukum Mendel II, atau dinamakan hukum penggabungan bebas mengenai
ketentuan penggabungan bebas yang harus menyertai terbentuknya gamet pada
perkawinan dihibrid. Hukum Mendel II dapat dipelajari pada persilangan dihibrid.
Pada perkawinan dihibrid, misalnya suatu individu memiliki genotip AaBb maka A
dan a serta B dan b akan memisah kemudian kedua pasangan tersebut akan bergabung
secara bebas sehingga kemungkinan gamet yang terbentuk akan memiliki sifat AB,
Ab, aB, ab.
Persilangan dihibrid adalah perkawinan yang melibatkan dua sifat beda.
Misalnya persilangan antara tanaman kacang kapri berbiji bulat dan berwarna kuning
dengan tanaman kacang kapri berbiji keriput dan berwarna hijau. Ternyata, hasil
persilangan adalah 100% anakan berbiji bulat dan berwarna kuning.
Selanjutnya, jika tanaman hasil persilangan ini dikawinkan sesamanya,
terjadilah hasil perkawinan sebagai berikut: 9/16 bagian = biji bulat kuning, 3/16
bagian = biji bulat hijau, 3/16 bagian = biji keriput kuning, 1/16 bagian = biji keriput
hijau. Atau dapat ditulis dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1.
Persilangan Dihibrid
Generasi 1
P1 Fenotip : ♂ tanaman berbiji bulat, >< ♀ tanaman berbiji keriput,
Berwarna kuning berwarna hijau
Genotip : BBKK bbkk
Gamet : BK bk
F1 : 100% BbKk
Tanaman berbiji bulat, berwarna kuning
Generasi 2
P2 Fenotip : tanaman berbiji bulat, >< tanaman berbiji bulat,
Berwarna kuning berwarna kuning
Genotip : BbKk BbKk
Gamet : BK, Bk, bK, bk BK, Bk, bK, bk
Berdasarkan diagram perkawinan dihibrid tersebut, dapat disimpulakan bahwa
perbandingan fenotif anakan F2 dari persilangan dihibrid adalah sebagai berikut:
 9/16 bagian dari populasi anakan berfenotip biji bulat kuning (genotip B*K*)
 3/16 bagian dari populasi anakan berfenotip biji bulat hijau (genotip B*kk)
 3/16 bagian dari populasi anakan berfenotip biji keriput kuning (genotip bbK*)
 1/16 bagaian dari populasi anakan berfenotip biji keriput hijau (genotip bbkk)
Keterangan:
Tanda * : pada B* menunjukkan kemungkinan genotip BB atau Bb
Pada K* menunjukkan kemungkinan genotip KK atau Kk

Penyimpangan Semu Hukum Mendel


1. Atavisme (interaksi beberapa pasangan gen)
Pada interaksi gen ini, suatu sifat tidak ditentukan oleh satu gen tunggal
pada autosom tetapi alel-alel dari gen yang berbeda dapat berinteraksi atau saling
memengaruhi dalam memunculkan siafat fenotip
Contoh:
Persilangan antara ayam berpial Ros (RRpp) dengan ayam berpial Pes (rrPP)
menghasilkan keturuanan F1.nya 100% ayam berpial Walnut. Jika F1nya
disilangkan dengan sesamanya, maka F2nya adalah..
P1 : Ros (RRpp) >< Pea (rrPP)
G1 : Rp rP
F1 : Walnut (RrPp)
P2 : Walnut (RrPp) >< Walnut (RrPp)
G2 : Rp, Rp, rP, rP RP, Rp, rP, rp
F2 :
Rp
RP Rp rP

RrPp (Walnut)
RP RRPP (Walnut) RRPp (Walnut) RrPP (Walnut)

Rrpp (Ros)
Rp RRPp (Walnut) RRpp (Ros) RrPP (Walnut)

rrPp (Pea)
rP RrPP (Walnut) RrPp (Walnut) rrPP (Pea)

rrpp (single)
Rp RrPp (Walnut) Rrpp (Ros) rrPp (Pea)

Bedasarkan segi empat Punnet di atas perbandingan Fenotip F2nya adalah


Walnut : Ros : Pea : Single
9 : 3 : 3 : 1

R_P = walnut R_pp = ros rrP_ = pea rrpp = single

2. Kriptomeri
Kriptomeri adalah peristiwa dimana gen dominan seolah-olah tersembunyi
(kriptos) apabila berdiri sendiri-sendiri dan pengaruhnya baru terlihat bila berada
bersama-sama dengan gen dominan yang lain. Kriptomeri dapat dilihat pada
persilangan bunga Linaria marocanna.
Contoh:
Persilangan antara Linaria marocanna berbunga merah (Aabb) dengan Linaria
marocanna berbunga putih (aaBB) menghasilkan keturunan F1-nya 100% berbunga
ungu. Jika F1-nya disilangkan dengan sesamanya maka F2-nya adalah..
P1 : Merah (AAbb) >< Putih (aaBB)
G1 : Ab aB
F1 : Ungu (AaBb)
P2 : Ungu (AaBb) >< Ungu (AaBb)
G2 : AB, Ab, aB, ab AB, Ab, aB, ab
F2:
ab
AB Ab aB
AaBb (Ungu)
AB AABB (Ungu) AABb (Ungu) AaBB (Ungu)
Aabb (Merah)
Ab AABb (Ungu) AAbb (Merah) AaBb (Ungu)

aaBb (Putih)
aB AaBB (Ungu) AaBb (Ungu) aaBB (Putih)

aabb (Putih)
Ab AaBb (Ungu) Aabb (Merah) aaBb (Putih)

Berdasarkan segi empat Punnet di atas perbandingan fenotip F2-nya adalah..


Ungu : Merah : Putih
9 : 3 : 4
A_B = ungu A_bb = merah aaB_ = putih aabb = putih

3. Epistasis-hipostasis
Epistasis-hipostasis adalah peristiwa dimana gen dominan menutupi gen
dominan lain yang bukan alelnya. Faktor pembawa sifat yang menutupi disebut
epistasis, sedangkan sifat yang ditutupi disebut hipostasis.
Contoh:
Persilangan antara gandum berbiji hitam (HHkk) dengan gandum berbiji
kuning (hhKK) menghasilkan keturunan F1-nya 100% berbunga hitam. Jika F1-nya
disilangkan dengan sesamanya maka F2-nya adalah..

P1 : Hitam (HHkk) >< kuning (hhKK)


G1 : Hk hK
F1 : Hitam (HhKk)
P2 : Hitam (HhKk) >< Hitam (HhKk)
G2 : HK, Hk, hK, hk HK, Hk, hK, hk
F2:
hk
HK Hk hK
HhKk (Hitam)
HK HHKK (Hitam) HHKk (Hitam) HhKK (Hitam)

Hhkk (Hitam)
Hk HHKk (Hitam) HHkk (Hitam) HhKk (Hitam)

hhKk (Kuning)
hK HhKK (Hitam) HhKk (Hitam) hhKK (Kuning)

hhkk (Putih)
Hk HhKk (Hitam) Hhkk (Hitam) hhKk (Kuning)

Berdasarkan segi empat Punnet di atas perbandingan fenotip F2-nya adalah:


Hitam : Kuning : Putih

13 : 3 :1

H_ _ _ = Hitam hhK_ = Kuning hhkk = Putih

4. Polimeri
Polimeri merupakan bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif. Polimeri
terjadi akibat gen ganda yang bekerja secara kumulatif menumbuhkan sifat tertentu.

Contoh:

Persilangan anatra gandung biji merah (M1M1M2M2) dengan gandum berbuji putih
(m1m1m2m2) menghasilkan keturunan F1-nya 100% berbunga merah muda. Jika
F1-nya disilangkan dengan sesamanya maka F2-nya adalah:

P1 : Merah (M1M1M2M2) >< Putih (m1m1m2m2)


G1 : M1 M2 m1m2
F1 : Merah muda (M1m1M2m2)
P2 : Merah muda (M1m1M2m2) >< Merah muda
(M1m1M2m2)
G2 : M1M2, M1m2, m1M2, m1m2 M1M2, M1m2, m1M2,
m1m2
F2:
M 1 M2 M1m2 m1M2 m1m2
M1 M 2 M1M1M2M2 M1M1M2m2 M1m1M2M2 M1m1M2m2
(merah) (merah) (merah) (merah)
M1m2 M1M1M2m2 M1M1m2m2 M1m1M2m2 M1m1m2m2
(merah) (merah) (merah) (merah)
m1M2 M1m1M2M2 M1m1M2m2 m1m1M2M2 m1m1M2m2
(merah) (merah) (merah) (merah)
m1m2 M1m1M2m2 M1m1m2m2 m1m1M2m2 m1m1m2m2
(merah) (merah) (merah) (putih)

Semua gandum yang mengandung faktor M berwarna merah, tetapi dengan


derajat kemerahan yang bervariasi tergantung dari banyaknya faktor M yang
dikandung. Sedangkan yang tidak mengandung M berarna putih. Untuk mengetahui
apakah suatu gejala itu merupakan polimeri atau bukan, perlu diperhatikan hal-hal
berikut.

a. Masing-masing gen penghasil warna harus menghasilkan pengaruh yang sama,


misalnya merah semua atau biru semua.
b. Pengaruh gen-gen tersebut bersifat kumulatif, makin banyak gennya makin jelas
pengaruhnya.
c. Tidak ada epistasis di antara gen.
d. Tidak terjadi pautan gen.
e. Tidak ada pengaruh lingkungan, apabila ada pengaruhnya diabaikan saja.

Berdasarkan segi empat Punnet di atas perbandingan fenotip F2-nya adalah

Merah : Putih

14 : 1

5. Komplementer
Komplementer merupakan interaksi beberapa gen yang saling melengkapi.
Apabila salah satu gen tidak hadir maka pemunculan satu karakter akan terhalang.
Komplementer dapat dilihat pada persilangan Lathyrus odoratus (kacang manis).
Pada Lathyrus odoratus (kacang manis ) terdapat gen:

P = mengandung pigmen

p = tidak mengandung pigmen

E = mengandung enzim

e = tidak mengandung enzim

Warna bunga akan muncul akibat adanya pigmen dan enzim pengaktif
pigmen. Jika tidak ada salah satunya (enzim atau pigmen) maka tidak akan muncul
warna pada bunga.

Contoh:

Persilangan antara Lathyrus odoratus berbunga putih (PPee) dengan Lathyrus


odoratus berbunga putih (ppEE) menghasilkan keturunan F1-nya 100% berbunga
ungu. Jika F1-nya disilangkan dengan sesamanya maka F2-nya adalah..

P1 : Putih (PPee) >< Putih (ppEE)


G1 : Pe pE
F1 : Ungu (PpEe)
P2 : Ungu (PpEe) >< Ungu (PpEe)
G2 : PE, Pe, pE, pe PE, Pe, pE, pe
F2:
pe
PE Pe pE
PpEe (Ungu)
PE PPEE (Ungu) PPEe (Ungu) PpEE (Ungu)
Ppee (Putih)
Pe PPEe (Ungu) PPee (Putih) PpEe (Merah)

ppEp (Putih)
pE PpEE (Ungu) PpEe (Ungu) ppEE (Putih)

ppee (Putih)
Pe PpEe (Ungu) Ppee (Putih) ppEe (Putih)

Berdasarkan segi empat Punnet di atas perbandingan fenotip F2-nya adalah..

Ungu : Putih

9:7

P_ E _ = Ungu P_ee = Putih ppE_ = Putih ppee = Putih

Contoh lainnya adalah perkawinan pria bisu tuli dengan wanita bisu tuli, ternyata
keturunannya F1 semuanya normal, bagaimanakah F2nya?

Perhatikan diagram berikut!

P1 : Bisu tuli (RRbb) >< Bisu tuli (rrBB)


G1 : Rb rB
F1 : Normal (RrBb)
P2 : normal (RrBb) >< Normal (RrBb)
G2 : RB, Rb, rB, rb RB, Rb, rB, rb
F2:
rb
RB Rb rB

RrBb (normal)
RB RRBB (normal) RRBb (normal) RrBB(normal)

Rrbb (bisu tuli)


Rb RRBb (normal) RRbb (bisu tuli) RrBb (normal)

rrBb (bisu tuli)


rB RrBB (normal) RrBb (normal) rrBB (bisu tuli)

rrbb (bisu tuli)


Rb RrBb (normal) Rrbb (bisu tuli) rrBe (bisu tuli)

Perbandingan fenotip F2 berdasarkan diagram di atas adalah 9:7


Substansi Hereditas
A. Kromosom
1. Bagian dari kromosom

Proses pengemasan DNA dan protein terjadi pada tahap profase. Proses yang
terjadi adalah sebagai berikut, Untai DNA dipintal dalam suatu protein histon, menjadi
suatu unit yang disebut nukleosom. Nukleosom satu dengan yang lainnya bergabung
membentuk benang yang lebih padat dan terpintal menjadi lipatan-lipatan yang disebut
dengan solenoid. Solenoid satu dan yang lainnya bergabung dan lebih padat lagi
membentik suatu benang yang disebut kromatin. Benang-benang halus kromatin
memadat membentuk lengan kromatid. Lengan kromatid berpasangan membentuk
kromosom.

Gambar 1. Pengemasan DNA di dalam Kromosom


(www.geneticengineering.org)

2. Unit Dasar Kromososm

Kromosom secara umum terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut:


o Kromonema (jamak: kromonemata), bagian dari kromosom berupa pita bentuk
spiral.

o Kromomer, merupakan kromonema yang mempunyai penebalan-penebalan di


beberapa tempat, dan beberapa akli juga menganggap sebagai nukleoprotein yang
mengendap.
Gambar 2. Bagian-bagian kromosom
(genetics.gsk.com)

o Sentromer, bagian yang menentukan bentuk dari suatu kromosom.Berfungsi


sebagai tempat berpegangnya benang plasma dari gelendong inti (“spindle”) pada
tahap anafase pada pembelahan inti. Kromosom dari sebagian besar organisme
hanya memiliki sebuah sentromer saja, disebut kromosom monosentris. Jika
memiliki dua sentromer, disebut kromosom diasentris, sedangkan yang
mempunyai banyak sentromer, disebut kromosom polisentris.

o Lekukan ke dua, sebagai tempat terbentuknya nukleolus (anak inti sel), disebut
juga pengatur nukleolus (“nucleolar organizer”).

o Telomer, Bagian ujung kromosom yang berperan untuk menghalangi


bersambungnya kromosom yang satu dengan yang lainnya.

o Satelit, tidak selalu ada pada setiap kromosom, merupakan bagian tambahan pada
ujung kromosom. Kromosom yang mempunyai satelit disebut satelit kromosom

3. Bentuk Kromosom

Bentuk kromosom berdasarkan letak sentromernya terdapat,


a. Metasentris, sentromer terletak pada tengah-tengah kromosom (median),
sehingga membagi kromosom menjadi dua bagian yang sama panjang dan
mempunyai bentuk seperti huruf V.
b. Submetasentris, sentromer terletak submedian (ke arah salah satu ujung
kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua bagian yang tidak sama
panjang dan bentuknya seperti huruf J.
c. Akrosentris, sentromer terletak terminal (di dekat ujung kromosom), sehingga
kromosom tidak membengkok tetapi lurus seperti batang. Satu lengan kromosom
sangat pendek, lengan yang lainnya sangat panjang.
d. Telosentris, sentromer terletak di ujung kromosom, sehingga kromosom hanya
mempunyai satu buah lengan dan berbentuk lurus seperti batang. Manusia tidak
mempunyai bentuk kromosom telosentris.

4. Tipe dan Jumlah Kromosom


Kromosom manusia dibedakan menjadi dua tipe, yaitu
a. Autosom, kromosom yang tidak ada hubungannya dengan penentuan jenis
kelamin. Dari 46 kromosom di dalam inti sel tubuh manusia, sebanyak 44 buah
(22 pasang) merupakan autosom.
b. Gonosom, sepasang kromosom yang menentukan jenis kelamin. Gonosom
dibedakan menjadi dua macam, yaitu kromosom-X dan kromosom-Y.

Formula kromosom manusia adalah:


Untuk laki-laki adalah 46, XY atau dapat ditulis juga 44 + XY.
Untuk wanita adalah 46, XX atau dapat ditulis juga 44 + XX.

B. DNA
1. Struktur DNA
Nukleotida terdiri dari:
a. Satu molekul gula (dalam hal ini adalah "deoksiribosa")
b. Satu molekul fosfat
c. Satu molekul basa nitrogen. Basa nitrogen terdiri dari dua jenis yaitu:
1) Purin: Adenin (A) dan Guanin (G)
2) Pirimidin: sitosin (C) dan Timin (T)

Gambar 3. Struktur DNA


(www.praweda.co.id)

Satu molekul gula dan satu molekul basa disebut "nukleosida"
ketentuan chargaff menyatakan bahwa perbandingan A/T dan S/G selalu mendekati
satu.
 Watson dan Crick berpendapat bahwa struktur DNA “double helix” hanya dapat
stabil, apabila basa adenin dari satu pita berpasangan dengan basa timin dari pita
pasangannya, dan basa sitosin berpasangan dengan basa guanin. Pasangan adenin dan
timin dihubungkan oleh 2 atom H, sedangkan basa sitosin dan guanin dihubungkan
dengan 3 atom H.
 Sebuah nukleotida selalu memiliki ujung 3’ – OH dan 5’P, sehingga dalam “double
helix” menurut model Watson-Crick terdapat satu buah pita dengan arah 3’→ 5’,
sedangkan pita pasangannya 5’→ 3’.

2. Replikasi DNA
Proses komplementasi pasangan basa menghasilkan suatu molekul DNA baru
yang sama dengan molekul DNA lama sebagai cetakan. Kemungkinan terjadinya
replikasi DNA melalui tiga model, diantarannya:
a. Semikonservatif. Rantai ganda DNA lama berpisah kemudian rantai baru
disintesis pada masing-masing rantai DNA lama.
b. Konservatif. Rantai ganda DNA lama tidak berubah. Berfungsi sebagai
cetakan buat DNA baru.
c. Dispersif. Beberapa bagian dari kedua rantai DNA lama digunakan sebagai
cetakan DNA baru. Sehingga DNA lama dan baru tersebar.
Dari ketiga model tersebut model semikonservatif merupakan model yang
paling tepat untuk proses replikasi DNA. Replikasi semikonservatif ini berlaku bagai
organisme prokariotik maupun eukariotik.

C. RNA
1. Struktur RNA
Berbeda dengan DNA, RNA merupakan rantai tunggal polinukleotida. Tiap
ribonukleotida terdiri dari 3 gugus molekul, yaitu gula 5 karbon (ribosa), basa nitrogen,
yang terdiri dari basa purin yang sama dengan DNA sedangkan pirimidin berbeda, yaitu
sitosin dan urasil, dan gugus fosfat.
Gambar 6. Struktur RNA
(www-math.mit.edu)
Basa purin dan pirimidin berikatan dengan gula ribosa membentuk nukleosida
atau ribonukleosida. Ribonukleosida yang berikatan dengan gugus fosfat membentuk
nukleotida atau ribonukleotida.

2. Tipe RNA
RNA terdiri dari tiga tipe, yaitu:
a. RNA duta (RNAd) atau messenger RNA (mRNA). Terdapat di dalam inti sel
(nukleus). Berfungsi untuk membawa pesan atau kode genetik (kodon) dari
kromosom yang ada di inti ke sitoplasma.
b. RNA pemindah (RNAp) atau transfer RNA (tRNA). Terdapat di dalam
sitoplasma. RNA p berfungsi untuk mengikat asam amino yang terdapat di dalam
sitoplasma, kemudian membawanya ke ribosom.

Gambar 7. Struktur RNA transfer


(Cambell, 2000)

c. RNA ribosom (RNAr) atau ribosome RNA (rRNA). Terdapat di dalam ribosom.
Berfungsi untuk mensintesis protein dengan menggunakan basa asam amino, yang
menghasilkan polipeptida.
PERBEDAAN ANTARA DNA DAN RNA

D. Kode Genetika
o Kode genetik adalah suatu cara untuk menentukan jumlah serta urutan nukleotida yang
berperan dalam menentukan posisi yang tepat dari tiap asam amino dalam rantai peptida
yang bertambah panjang.
o Jika sebuah kodon terdiri dari tiga nukleotida maka akan didapatkan 43= 64 kodon. Kode
ini dinamakan kode triplet. Kode ini memenuhi syarat karena melebihi jumlah asam
amino, walaupun kelebihan 44 kodon, karena beberapa macam asam amino dapat diberi
kode oleh beberapa kodon disebut kodon sinomius. Hanya metionin dan triptofan yang
mempunyai kodon tunggal.

E. Ekspresi GEN
Ekspresi gen merupakan proses penterjemaahan informasi yang dikode di dalam gen
menjadi urutan asam amino selama sintesis protein. Dogma sentral ekspresi gen adalah
sebagai berikut:

1. Transkripsi

o Transkripsi merupakan sintesis RNA dari salah satu rantai DNA, yaitu rantai cetakan
yang disebut sense, sedangkan pasangan rantai DNAnya disebut rantai antisense.
Terjadi di dalam inti sel.
o Transkripsi terdiri dari tiga tahap, yaitu:
a. Inisiasi (permulaan). Transkripsi diawali oleh promoter, yaitu daerah DNA
tempat RNA polimerase melekat. Promoter mencakup titik awal transkripsi dan
biasanya membentang beberapa pasang nukleotida di depan titik awal tersebut.
Fungsi promoter selain menentukan di mana transkripsi dimulai, juga
menentukan yang mana dari kedua rantai ganda DNA yang digunakan sebagai
cetakan.
b. Elongasi (pemanjangan). Ketika RNA bergerak di sepanjang DNA, pilinan rantai
ganda DNA tersebut terbuka secara berurutan kira-kira 10-20 basa DNA. Enzim
RNA polimerase menambahkan nukleotida ke ujung 3’ dari molekul RNA yang
dibentuk di sepanjang rantai ganda DNA. Setelah sintesis RNA berlangsung,
rantai ganda DNA akan terbetuk kembali dan RNA baru akan terlepas dari
cetakannya.
c. Terminasi (pengakhiran). Transkripsi berlangsung hingga RNA polimerase
mentranskripsi urutan DNA yang dinamakan terminator. Terminator merupakan
urutan DNA yang berfungsi untuk mengakhiri proses transkripsi. Pada
prokariotik, transkripsi berhenti pada saat RNA polimerase mencapai titik
terminasi. Pada eukariotik, RNA polimerase terus melewati titik terminasi, 10-35
nukleotida, RNA yang telah terbentuk terlepas dari enzim tersebut.

2. Translasi
o Translasi berlangsung di dalam sitoplasma dan ribosom. Translasi merupakan proses
penterjemaahan sutu kode genetik menjadi protein yang sesuai. Kode genetik
tersebut berupa kodon di sepanjang molekul RNAd, sebagai penterjemaahnya RNAt.
RNAt membawa asam amino dari stoplasma ke ribosom.
o Molekul RNAt membawa asam amino spesifik pada salah satu ujungnya yang sesuai
dengan triplet nukleotida pada ujung RNAt lainnya yang disebut antikodon.
o Misalnya, perhatikan kodon RNAd UUU yang ditranslasi sebagai asam amino
fenilalanin. RNAt pembawa fenilalanin mempunyai antikodon AAA yang
komplemen dengan UUU agar terjadi reaksi penambahan fenilalanin pada rantai
polipeptida sebelumnya.
o RNAt yang mengikat diri pada kodon RNAd harus membawa asam amino yang
sesuai ke dalam ribosom. Melekatnya asam amino pada RNAt dibantu oleh enzim
aminoasil-RNAt sintetase (aminoacyl-tRNA synthetase).
o Ribosom memudahkan pelekatan antara antikodon RNAt dengan kodon RNAd
selama sintesis protein. Ribososm tersususn atas subunit besar dan subunit kecil yang
dibangun oleh protein-protein dan molekul-molekul RNAt.
o Tahap Transalasi ada tiga yaitu:
a. Inisiasi. Terjadi dengan adanya RNAd, RNAt dan dua subunit ribosom. Pertama-
tama subunit kecil ribosom melekat pada tempat tertentu diujung 5’ dari RNAd.
Pada RNAd terdapat kodon “start” AUG, yang memberikan tanda dimulainnya
proses translasi. RNAt inisiator membawa asam amino metionin, melekat pada
kodon inisiasi AUG.
b. Elongasi. Pada tahap elongasi, sejumlah asam amino ditambahkan satu persatu
pada asam amino pertama (metionin). Kodon RNAd pada ribosom membentuk
ikatan hidrogen dengan antikodon molekul RNAt yang komplemen dengannya.
RNAr dari subunit besar berperan sebgai enzim, yang berfungsi mengkatalisis
pempentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang
ke asam amino yang baru tiba. Polipeptida memisahkan diri dari RNAt tempat
perlekatan semula, dan asam amino pada ujung karboksilnya berikatan dengan
asam amino yang dibawa oleh RNAt yang baru masuk. Ketika RNAd berpindah
tempat, antikodonnya tetap berikatan dengan kodon RNAt. RNAd bergerak
bersama-sama dengan antikodon ini dan bergeser ke kodon berikutnya yang akan
ditranslasi. Disamping itu, RNAt sekarang tanpa asam amino karena telah diikat
pada polipeptida yang telah memanjang. Selanjutnya RNAt keluar dari ribosom.
Langkah ini membutuhkan energi yang disediakan oleh hidrolisis GTP.
c. Terminasi. Elongasi berlanjut sampai ribosom mencapai kodon stop. Triplet
basa kodon stop adalah UAA, UAG, dan UGA. Kodon stop tidak mengkode
suatu asam amino melainkan bertindak sebagai tanda untuk menghentikan proses
translasi dan berakhir pula proses sintesis protein.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

 Pembelahan sel terbagi menjadi tiga yaitu amitosis, mitosis dan meiosis
 Tahap mitosis yakni profase, metafase, anafase, dan telofase sedangkan tahap
meiosis yakni profaseI, metafaseI, anafaseI, telofaseI, profaseII, metaphase II,
anafaseII dan telofaseII
 Pewarisan sifat menurut Mendel adalah mengikuti pola sesuai dengan sifat beda
yang diamati. Pola itu selanjutnya disebut dengan hukum Mendel (Mendelisme).
Adapun hukum yang dimaksud adalah :
o Hukum Mendel - I.
Prinsip berpisah secara bebas (segregasi). Selama pembentukkan gamet, tiap
alel diturunkan secara bebas kepada setiap gamet. Ini terjadi pada persilangan
monohibrid
o Hukum Mendel - II.
Prinsip berpasangan (penggabungan) gen secara bebas. Selama pembentukkan
gamet dihibrid F1, pasangan alel akan mencari pasangan yang bukan alelnya.
Misalnya, dari persilangan induk dengan dua sifat beda (dihibrid) diperoleh F1
dengan genotipe BbKk. Dalam pembentukkan gametnya B tidak akan
berpasangan dengan b melainkan B akan berpasangan dengan K atau k
sehingga gamet yang terbentuk BK, Bk, bK, dan bk.
 Pewarisan sifat pada persilangan monohobrid mempunyai perbandingan/ratio
genotif = 1 : 2 : 1 pada F2-nya dan ratio fenotif = 3 : 1, sedangkan pada
persilangan dihibrid dengan sifat dominan resesif pada F2-nya mempunyai
perbandingan fenotif = 9 : 3 : 3 :1. Perbandingan klasik menurut Mendel akan
mengalami modifikasi akibat adanya interaksi alel yang bukan pasangannya
sehingga menimbulkan kesan seolah-olah terjadi penyimpangan pewarisan sifat
menurut hukum Mendel yang selanjutnya disebut dengan penyimpangan semu
hukum Mendel, seperti interaksi beberapa pasang alel, Epistasis dominan,
epistasis resesif, epistasis dominan resesif, epistasis karena gen resesif rangkap,
epistasis karena gen dominan rangkap, dan epistasis karena gen-gen rangkap
dengan pengaruh komulatif.
 Setiap keturunan mewarisi setengah set kromosom sel induk jantan maupun
betina. Hal ini disebabkan karena adanya faktor penentu yang menjadi substansi
hereditas yaitu kromosom, gen dan DNA.
 Kode genetik akan mengalami pernerjemahan didalam sel (ribosom) untuk
membentuk polipeptida
DAFTAR PUSTAKA

http://images.google.co.id/imgres?. 2008. Gambar. On Line. Diakses 10 Sepetember 2014.

Nurharyati, Nunung. 2006. Pendalaman Kompetensi IPA Biologi untuk SMP/MTs Kelas
IX. Bandung : Yrama Widya.

Sarna, dkk. 2000. Buku Aja Genetika. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi,
STKIP Singaraja.

Soedarjatmo, dkk. 1996. Biologi 3a untuk Kelas 3 Catur Wulan 1 SMU. Surakarta : PT
Intan Pariwara.

Sunarto, dkk. 2003. Terampil Menerapkan Konsep dan Prinsip IPA Biologi Kelas 3A.
Solo : PT Tiga Serangkai Puataka Mandiri.