Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kulit bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki, perempuan, orang
dewasa, kanak-kanak bahkan bayi. Karena anatomi kulit yang sangat berbeda dengan
orang dewasa, bayi merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap gangguan
kulit. Salah satu gangguan kulit yang paling sering diderita pada kelompok bayi
adalah diaper rash. Diaper rash adalah kelainan kulit pada bayi & balita yang terjadi
karena pemakaian popok .
Diaper rash disebabkan karena kulit bayi dan balita kontak lama dengan air seni
dan kotoran pada pemakaian popok. Selain itu, pemakaian popok yang terlalu
kencang juga dapat menyebabkan terjadinya diaper rash pada bayi. Keadaan cuaca
yang panas menyebabkan permukaan kulit bayi di sekitar popok menjadi berkeringat
dan mengakibatkan kelembaban. Area popok yang lembab membuat kulit bayi
menjadi lebih sensitif terhadap zat yang ada di urin dan feses, selain itu pH kulit akan
meningkat hingga lebih rentan terhadap iritasi. Panas terik bisa menyebabkan
timbulnya bentol-bentol kemerah-merahan pada bagian tubuh bayi yang mudah
berkeringat seperti leher, tempat popok, ketiak, serta lipatan kulit, yang kita perlukan
adalah lingkungan yang sejuk dan kering serta pakaian yang sesuai. Diaper rash itu
sendiri biasanya kelainannya timbul pada kulit di daerah yang terkena popok yakni
alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipat paha dan perut bagian bawah.
Pada bayi, struktur kulitnya lebih tipis, ikatan antar selnya lebih lemah dan lebih
halus. Kulit bayi juga memiliki pigmen yang lebih sedikit, dan tidak mampu
mengatur temperatur seperti halnya anak-anak dengan usia lebih tua atau orang
dewasa. Munculnya kemerahan dan peradangan pada kulit merupakan salah satu
gejala dari reaksi alergi pada tubuh bayi. Perawatan kulit bayi yang keliru

1
menyebabkan terjadinya infeksi jamur dan bakteri pada area yang ditutup popok.
Penyakit ini sering disebut sebagai diaper rash atau ruam popok.
Pada dasarnya, setiap bayi mengalami ruam popok, hanya saja tingkat
keparahannya yang berbeda-beda. Bayi yang mengalami diaper rash biasanya rewel
saat akan dipakaikan popok. Diaper rash dalam tingkatan yang cukup parah perlu
mendapat perawatan yang lebih spesifik, karena ruam popok tersebut dapat men
Menurut Bernard Cohen, M.D, direktur ilmu kesehatan kulit anak dari Johns
Hopkins Children's Center, kulit merupakan organ bertindak sebagai benteng
pertahanan terhadap beragam elemen yang mengancam tubuh mulai dari sinar
matahari hinga bakteri. Pada tahun pertama, seorang bayi akan sangat rentan terhadap
gangguan karena lapisan kulit mereka belum sempurna. Pasalnya dibutuhkan waktu
hingga satu tahun bagi epidermis kulit untuk berkembang dengan cepat dan berfungsi
secara efektif.
Incidence rate (angka kejadian) ruam popok berbeda-beda di setiap negara,
bergantung pada hygiene, pengetahuan orang tua (pengasuh) tentang tata cara
penggunaan popok dan mungkin juga berhubungan dengan faktor cuaca. Kimberly A
Horii, MD (asisten profesor spesialis anak Universitas Misouri) dan John Mersch,
MD, FAAP menyebutkan bahwa 10-20 % Diaper dermatitis dijumpai pada praktek
spesialis anak di Amerika. Sedangkan prevalensi pada bayi berkisar antara 7-35%,
dengan angka terbanyak pada usia 9-12 bulan. Sementara itu Rania Dib, MD
menyebutkan ruam popokk berkisar 4-35 % pada usia 2 tahun pertama. Untuk
mengatasi ruam popok diperlukan pengetahuan tentang tata cara merawat diaper rash
dengan baik dan benar.
B. Tujuan
1. Memahami iritasi kulit pada bayi terutama diaper rash
2. Memahami berbagai jenis iritan yang dapat mengiritasi kulit bayi
3. Memahami cara perawatan dan pencegahan diaper rash pada bayi
C. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari diaper rash?

2
2. Apa saja jenis iritasi kulit yang dapat mengiritasi kulit bayi?
3. Bagaimana cara merawat dan mencegah diaper rash pada bayi?

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diaper Rash


Diaper Rash (eksim popok) adalah kelainan kulit pada bayi & balita yang terjadi
karena pemakaian popok . Hal ini disebabkan karena kulit bayi dan balita kontak
lama dengan air seni dan kotoran pada pemakaian popok. Dan biasanya kelainannya
timbul pada kulit didaerah yang terkena popok yakni alat kelamin, sekitar dubur,
bokong, lipat paha dan perut bagian bawah.
Pada Diaper Rash yang ringan kelainan kulit berupa kemerahan pada kulit daerah
popok . Dan jika keadaan menjadi lebih parah dapat timbul bintik-bintik merah ,
diserta lecet/luka , basah dan bengkak. Saat ini bayi/balita akan rewel karena nyeri
waktu buang air kecil /buang air besar.
Perlu juga diwaspadai pada diaper rash yang terjadi lebih dari 3 hari karena
sering ditumbuhi jamur, sehingga kelainan kulit akan bertambah parah ,dan bila
dibiarkan akan mudah terserang infeksi kuman yang menyebabkan kulit lebih merah,
bengkak bernanah dan keropeng.
2.1.1 Anatomi Fisiologi

Gb. 1 organ kulit

4
1) Epidermis (Kutilkula). Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit yang
memiliki struktur tipis dengan ketebalan sekitar 0,07 mm terdiri atas
beberapa lapisan, antara lain seperti berikut :
a. Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk. Letak lapisan ini
berada paling luar dan merupakan kulit mati. Jaringan epidermis ini
disusun oleh 50 lapisan sel-sel mati, dan akan mengalami pengelupasan
secara perlahan-lahan, kemudian digantikan dengan sel telur yang baru.
b. Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan “pengecatan” terhadap
kulit dan rambut. Semakin banyak melanin yang dihasilkan dari sel-sel
ini, maka warna kulit akan menjadi semakin gelap. Jika dikaitkan
dengan hal ini apa yang terjadi pada kulit dari kedua suku tersebut?
Selain memberikan warna pada kulit, melanin ini juga berfungsi untuk
melindungi sel-sel kulit dari sinar ultraviolet matahari yang dapat
membahayakan kulit. Walaupun sebenarnya dalam jumlah yang tepat
sinar ultraviolet ini bermanfaat untuk mengubah lemak tertentu di kulit
menjadi vitamin D, tetapi dalam jumlah yang berlebihan sangat
berbahaya bagi kulit. Kadang-kadang seseorang menghindari sinar
matahari di siang hari yang terik, karena ingin menghindari sinar
ultraviolet ini. Hal ini disebabkan karena ternyata sinar ultraviolet ini
dapat membuat kulit semakin hitam. Berdasarkan riset, sinar ultraviolet
dapat merangsang pembentukan melanosit menjadi lebih banyak untuk
tujuan perlindungan terhadap kulit. Sedangkan jika kita lihat seseorang
mempunyai kulit kuning langsat, ini disebabkan orang tersebut memiliki
pigmen karoten.
c. Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang
disebut melamin. Lapisan ini terdiri atas sel-sel hidup dan terletak pada
bagian paling bawah dari jaringan epidermis.
d. Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena
lapisan ini merupakan lapisan yang aktif membelah. Sel-selnya

5
membelah ke arah luar untuk membentuk sel-sel kulit teluar. Sel-sel
yang baru terbentuk akan mendorong sel-sel yang ada di atasnya
selanjutnya sel ini juga akan didorong dari bawah oleh sel yang lebih
baru lagi. Pada saat yang sama sel-sel lapisan paling luar mengelupas
dan gugur.
2) Jaringan dermis memiliki struktur yang lebih rumit daripada epidermis,
yang terdiri atas banyak lapisan. Jaringan ini lebih tebal daripada epidermis
yaitu sekitar 2,5 mm. Dermis dibentuk oleh serabut-serabut khusus yang
membuatnya lentur, yang terdiri atas kolagen, yaitu suatu jenis protein
yang membentuk sekitar 30% dari protein tubuh. Kolagen akan berangsur-
angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Itulah sebabnya
seorang yang sudah tua tekstur kulitnya kasar dan keriput. Lapisan dermis
terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan dermis terdiri atas bagian-
bagian berikut.
a. Akar Rambut. Di sekitar akar rambut terdapat otot polos penegak
rambut (Musculus arektor pili), dan ujung saraf indera perasa nyeri.
Udara dingin akan membuat otot-otot ini berkontraksi dan
mengakibatkan rambut akan berdiri. Adanya saraf-saraf perasa
mengakibatkan rasa nyeri apabila rambut dicabut.
b. Pembuluh Darah. Pembuluh darah banyak terdapat di sekitar akar
rambut. Melalui pembuluh darah ini akar-akar rambut mendapatkan
makanan, sehingga rambut dapat tumbuh.
c. Kelenjar Minyak (glandula sebasea). Kelenjar minyak terdapat di sekitar
akar rambut. Adanya kelenjar minyak ini dapat menjaga agar rambut
tidak kering.
d. Kelenjar Keringat (glandula sudorifera). Kelenjar keringat dapat
menghasilkan keringat. Kelenjar keringat berbentuk botol dan bermuara
di dalam folikel rambut. Bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar
keringat adalah bagian kepala, muka, sekitar hidung, dan lain-lain.

6
Kelenjar keringat tidak terdapat dalam kulit tapak tangan dan telapak
kaki.
e. Serabut Saraf. Pada lapisan dermis terdapat puting peraba yang
merupakan ujung akhir saraf sensoris. Ujung-ujung saraf tersebut
merupakan indera perasa panas, dingin, nyeri, dan sebagainya.
Jaringan dermis juga dapat menghasilkan zat feromon, yaitu suatu zat yang
memiliki bau khas pada seorang wanita maupun laki-laki. Feromon ini
dapat memikat lawan jenis Dermis (Kulit Jangat).
2.1.2 Penyebab Diaper Rash
Diaper Rash ini sering diakibatkan karena pemakaian popok yang salah,
yaitu tidak segera mengganti popok setelah bayi/balita buang air besar. Jika tinja
bercampur dengan air seni terjadi pembentukan ammonia (zat dari kotoran bayi)
yang menyebabkan keasaman kulit meningkat sehingga terjadi iritasi pada kulit
bayi/balita. Biasanya juga terjadi karena menggunakan popok sekali pakai
melebihi daya tampung, kulit jadi lembab, sehingga kalau terjadi gesekan maka
kulit mudah teriritasi, hal ini akan mempermudah bagi pertumbuhan jamur dan
kuman. Jadi, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Diaper Rash adalah:
1. Kelembaban kulit
2. Air seni dan kotoran serta
3. Jamur/kuman.
Memang pada kulit yang normal terdapat jamur Candida dalam jumlah
sedikit, tetapi saat kulit lembab akibat pemakaian popok, maka jamur akan
tumbuh lebih cepat sehingga timbul peradangan yang mengakibatkan timbulnya
Diaper Rash.
2.2 Jenis-jenis Iritasi Pada Kulit Bayi
Pada bayi, struktur kulitnya lebih tipis, ikatan antar selnya lebih lemah dan lebih
halus. Kulit bayi juga memiliki pigmen yang lebih sedikit, dan tidak mampu
mengatur temperatur seperti halnya anak-anak dengan usia lebih tua atau orang
dewasa. Munculnya kemerahan dan peradangan pada kulit merupakan salah satu

7
gejala dari reaksi alergi pada tubuh bayi. Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit
kulit yang umum dijumpai pada bayi :

1) Intertrigo
Intertrigo mengacu pada suatu peradangan pada lipatan tubuh. Hal ini biasanya
terletak di paha bagian dalam, ketiak, dan bagian bawah payudara atau perut.
Lipatan tersebut membuat kulit tampak merah, gatal dan menyebabkan rasa sakit
bila terjadi gesekan. Umumnya terjadi pada bayi yang gemuk.
Penyebab : Bisa terjadi karena lembab berlebihan pada lipatan bayi, yang tidak
pernah mendapatkan udara.
Yang harus dilakukan : Cuci bagian dalam lipatan kulit bayi dengan air dan
oleskan krim penghalang zinc-oxide atau petroleum jelly untuk melindungi kulit
bayi.
2) Biang keringat
Biang keringat atau lebih dikenal dengan sebutan miliaria, biasanya terjadi pada
leher, wajah, punggung, atau bokong bayi. Secara klinis miliari terlihat dengan
adanya kulit kemerahan disertai rasa gatal sehingga bayi rewel, dengan
gelembung-gelembung kecil berair.
Penyebab : Udara panas, cuaca lembab, pakaian yang ketat dan aktivitas bayi
yang tinggi dapat memicu ruam biang keringat.
Yang harus dilakukan : Sedapat mungkin hindari bayi dari suhu yang terlalu
panas dan berikan pakaian yang longgar. Dengan begitu, ruam akan terlihat lebih
baik dalam waktu sekitar 30 menit.
3) Seborrhea
Seborrhea adalah suatu peradangan pada kulit bagian atas, yang menyebabkan
timbulnya sisik pada kulit kepala, wajah, kadang pada bagian tubuh lainnya
seperti belakang telinga, leher, pipi, dan dada. Penyakit ini yang paling sering
terjadi pada bayi di bawah usia 6 bulan. Pada kulit kepala, seborrhea tampak
seperti ketombe, sisik kuning atau berkerak.

8
Penyebab : belum diketahui
Yang harus dilakukan : Lakukan pengobatan tradisional dengan menggosokan
minyak zaitun atau baby oil pada kulit kepala bayi, kemudian sikat dengan
lembut. Secara medis, berikan krim hidrokortison 1 % (beli di apotek) 2-3 kali
sehari. Jangan gunakan lebih dari seminggu lebih tanpa petunjuk dokter.
4) Eksim
Eksim dapat muncul di manapun pada tubuh bayi mulai dari usia 3 sampai 4
bulan, meskipun sangat jarang ditemukan di daerah bekas pemakaian popok.
Eksim atau sering disebut eksema, atau dermatitis adalah peradangan hebat yang
menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit
hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan. Kondisi yang lebih parah,
penyakit ini juga dapat menyebabkan kulit berubah menjadi merah,
mengeluarkan nanah, dan kerak.
Penyebab : Apa pun bisa menjadi pemicu bayi rentan terhadap eksim (dengan
predisposisi genetik atau riwayat alergi dalam keluarga). Setiap bayi mempunyai
pencetus eksim yang berbeda-beda. Ada orang yang setelah memegang sabun
atau deterjen akan merasakan gatal yang luar biasa, ada pula yang disebabkan
oleh bahan atau alat rumah tangga yang lain.
Yang harus dilakukan : Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan
rasa gatal untuk mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering
dan gatal, lotion dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit
menjadi lebih lembab. Untuk kasus yang lebih parah, konsultasikan dengan
dokter soal penggunaan salep steroid, untuk mengurangi peradangan.
5) Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang terjadi karena kulit telah
terpapar oleh bahan yang mengiritasi atau menyebabkan reaksi alergi. Dermatitis
kontak akan menyebabkan ruam yang besar, gatal dan rasa terbakar.

9
Penyebab : Jika ruam terjadi di seluruh tubuh bayi, maka sabun atau deterjen
mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Jika dada dan lengan yang terkena,
pelakunya bisa dari baju yang kotor.
Yang harus dilakukan : Pada kasus ringan dan sedang, penghindaran bahan iritan
(penyebab iritasi) dan penggunaan krim yang mengandung hidrokortison
(kortikosteroid) dapat membantu mengurangi gatal dan kemerahan di kulit. Pada
kasus yang berat, obat yang diminum jenis kortikosteroid dan antiradang
diperlukan untuk mengurangi peradangan dan gatal. Sebaiknya lakukan
konsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan krim
hidrokortison atau antihistamin.
6) Candidal diaper dermatitis
Candidal diaper dermatitis yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi jamur
Candida albicans. Sekitar 40-70% ruam popok yang berlangsung lebih 3 hari
dapat memicu terjadinya kolonisasi jamur kandida.
7) Bacterial diaper dermatitis
Bacterial diaper dermatitis yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi
kuman (bakteri), terutama Staphylococcus, Streptococcus dan
Enterobacteriaceae. Jenis ruam popok karena infeksi kuman yang kerap dijumpai
adalah impetigo dan sesulitis (cellulitis) serta folikulitis (folliculitis).
8) Granuloma gluteal infantum
Granuloma gluteal infantum merupakan gangguan kulit pada ruam popok yang
jarang terjadi. Biasanya timbul karena terlalu lama iritasi dan infeksi
mikroorganisme yang tidak diobati.
2.3 Cara Mencegah dan Merawat Bayi yang Menderita Diaper Rash
2.3.1 Mencegah Diaper Rash
Saat ini sekitar 50 % bayi dan balita yang menggunakan popok sering
mengalami Diaper Rash. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya diaper
rash pada bayi, yaitu :
1. Segera mengganti popok setelah buang air besar

10
2. Mengunakan popok sekali pakai sesuai dengan daya tampungnya
3. Membersihkan kulit dengan air hangat setelah buang air besar. Gunakan
sabun, kemudian membilas sampai bersih lalu dikeringkan. Mengangin-
anginkan sebentar baru kemudian dipakaikan popok yang baru
4. Agar kulit bayi/balita tidak lembab, setiap hari paling sedikit 2-3 jam
bayi/balita tidak memakai popok
5. Memilih popok yang sesuai ukurannya dan terbuat dari bahan yang menyerap
air
2.3.2 Merawat Bayi yang Menderita Diaper Rash
Perawatan kulit yang seksama dan higienis adalah penanganan terpenting
ruam popok. Berikut beberapa cara perawatan ruam popok yang dapat membantu
penyembuhan ruam popok pada bayi.
1. Mengganti popok lebih sering dari biasanya
2. Menuci bersih kulit bayi dengan sabun yang lembut, lalu mengeringkannya
3. Setelah dibersihkan, biarkan kulit terbuka terhadap udara, tanpa popok
beberapa saat (selama mungkin)
4. Makanan tertentu mungkin dapat memperburuk ruam. Contohnya makanan-
makanan asam seperti jeruk dan saus tomat. Jangan memberikan makanan
tersebut pada bayi sampai ruam hilang.
5. Jika ruam disebabkan oleh dermatitis alergi, maka disarankan untuk
menghentikan penggunaan sabun atau detergen baru, yang dapat
menyebabkan ruam.
6. Jika ruam ternyata disebabkan oleh infeksi candida, maka cara perawatannya
yaitu dengan menggunakan krim obat luar anti jamur.
 Perawatan Medis Ruam Popok
Jika bayi ternyata memiliki infeksi candida, dokter mungkin akan
merekomendasikan krim atau obat anti jamur. Jika ruam bukan karena infeksi
jamur, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan dengan krim atau

11
salep steroid topikal. Jika bayi memiliki impetigo (infeksi bakteri), dokter
mungkin akan memberikan obat antibiotik.
 Berbagai obat atasi ruam popok
1) Kategori obat: pelindung kulit. Dalam kategori ini adalah obat-obat yang
aman dan dijual bebas memiliki cara kerja melindungi kulit. Misalnya
obat oles yang mengandung seng oksida (zinc oxide), bekerja sebagai
antiseptik, menyejukkan kulit, dan mempercepat penyembuhan, juga
petrolatum atau lanolin yang menahan air dalam kulit dan mencegah
iritasi.
2) Kategori obat: Anti jamur. Dipakai bila dicurigai ada infeksi jamur atau
telah terbukti dengan pemeriksaan laboratorium. Biasanya yang
digunakan adalah krim atau salep nistatin, klotrimazol, atau econazole
nitrat, bekerja mematikan dan mencegah pertumbuhan jamur lebih lanjut.
3) Kategori obat: steroid topikal (dioleskan di kulit). Bekerja mengurangi
peradangan. Misalnya obat yang mengandung hidrokortison.
Penggunaannya perlu hati-hati karena efek sampingnya. Dapat diserap
tubuh jika dipakai berlebihan dan justru dapat memperparah ruam popok
jika ternyata disertai oleh infeksi jamur atau bakteri.
4) Kategori obat: antibiotika topikal. Digunakan untuk mengobati ruam
popok yang terinfeksi bakteri.

12
DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Users/user/Downloads/jamur%20_%20Anakku.Net.htm

file:///C:/Users/user/Downloads/Seputar%20Diaper%20Rash.htm

13