Anda di halaman 1dari 4

TIPE-TIPE KEWIRAKOPERASIAN

Kewirakoperasian dibagi menjadi empat tipe yaitu: kewirakoperasian anggota,


kewirakoperasian manajer, kewirakoperasian birokrat, dan kewirakoperasian katalis.

1. Kewirakoperasian Anggota

Anggota sebagai pemilik koperasi dapat menjadi wirakop bila ia mampu menemukan
dan memanfaatkan peluang yang ada untuk petumbuhan koperasi. Tetapi kemungkinan ini
sangat lemah mengingat kebanyakan kemampuan anggota dalam berinovasi masih sangat
rendah dan keterbatasan hak bertindak karena setiap tindakan harus memperhatikan anggota
lainnya.

Anggota koperasi di Indonesia pada umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang


rendah sehingga tingkat kemampuan dalam menemukan sesuatu yang baru sangat terbatas. Di
samping itu, kendatipun anggota mempunyai kemampuan yang tinggi tetapi motivasi untuk
berprestasi di bidang koperasi akan menjadi sangat rendah sebab manfaat dari hasil inovasi
anggota yang dinikmati hanya sebagian kecil oleh anggota yang bersangkutan dan sebagian
besar dinikmati oleh anggota lainnya, anggota potensial atau bahkan para persaing koperasi.
Dalam kondisi seperti ini, anggota yang rasional akan memanfaatkan peluang tersebut untuk
kepentingan diri sendiri dengan jalan bekerja di luar koperasi.

2. Kewirakoperasian Manajer

Pada koperasi yang mengangkat manajer sebagai pelaksana dan penanggungjawab


kegiatan operasional, koperasi tentu sangat mengharapkan perubahan yang memberikan
keuntungan. Tetapi kendala yang dihadapi oleh manajer adalah keterbatasan-keterbatasan
untuk bertindak. Keterbatasan ini karena manajer disamping dibebani peningkatan
pertumbuhan usaha koperasi tetapi juga dibebani peningkatan pelayanan terhadap anggotanya.

Kedua hal tersebut kadang terjadi kontradiksi. Bila manajer manginginkan meningkatan
pertumbuhan koperasi, maka ia harus berorientasi ke pasar ekternal dan ini berarti mengurangi
nilai pelayanan terhadap anggotanya. Sebaliknya bila manajer menginginkan peningkatan
pelayanan terhadap anggota, maka ia tidak akan dapat meningkatkan pertumbuhan koperasi.
Dalam kondisi seperti ini kendatipun manajer mempunyai kemampuan dan motivasi yang
tinggi untuk mengembangkan organisasi koperasi, tetap saja ia menghadapi hambatan yang
besar yang harus dilewatinya.
3. Kewirakoperasian Birokrat

Birokrat adalah orang atau lembaga yang diberi wewenang oleh pemerintah dalam
mengembangkan gerakan koperasi (dalam hal ini Departemen Koperasi beserta jajarannya).
Setiap kegiatannya memang diharapkan untuk memacu perkembangan koperasi. Tetapi
pelaksanaannya, ia terbelenggu untuk mengacu oleh aturan-aturan yang telah ditetapkan dan
setiap turut campur birokrat tersebut dalam organisasi koperasi belum tentu sesuai dengan
keinginan anggota koperasi. Dengan demikian, kendatipun mempunyai kemampuan dan
kemauan yang tinggi dalam mengembangan koperasi, tetap saja kewirakoperasiaannya
terbatas.

4. Kewirakoperasiaan Katalis

Katalis berarti pihak yang berkompeten terhadap pengembangan koperasi kendatipun ia


tidak mempunyai hubungan langsung dengan organisasi koperasi. Para katalis ini mempunyai
kemampuan dan motivasi yang tinggi. Di samping itu ia juga mempunyai kebebasan bertindak
karena ia berada di luar organisasi koperasi dan tidak terikat oleh aturan-aturan organsasi
koperasi tersebut. Seorang katalis biasanya adalah seorang altruis, yaitu orang yang
mementingkan kebutuhan orang lain. Dalam konteks ini pada dasarnya seorang katalislah yang
mempunyai kemampuan dalam membantu pertumbuhan gerakan koperasi.

TUGAS-TUGAS KEWIRAKOPERASIAN

Tugas wirakop adalah menciptakan keunggulan bersaing koperasi dibandingkan dengan


organsasi usaha lainnya. Keunggulan tersebut dapat diperoleh melalui:

a. Mendudukan Koperasi Sebagai Penguasa yang Kuat di Pasar

Bila masing-masing koperasi primer yang anggotanya para petani membentuk koperasi
di tingkat atasnya (koperasi sekunder) maka koperasi yang terbentuk akan mempunyai posisi
yang kuat di pasar yang lebih luas, demikian seterusnya. Dengan kata lain kekuatan dalam
penawaran di pasar dapat diperoleh melalui integrasi vertikal ke hulu atau ke hilir. Integrasi
vertikal ini sangat dimungkinkan bagi koperasi karena para petani anggota koperasi menguasai
input/bahan baku untuk keperluan produksi di tingkat atasnya.

Tugas wirokop dalam hal ini adalah meningkatkan efisiensi koperasi melalui integrasi
vertikal tersebut.
b. Kemampuan Dalam Mereduksi Biaya Transaksi

Tugas wirakop yang kedua ini adalaah menekan biaya transaksi. Biaya transaksi adalah
biaya di luar biaya produksi yang timbul karena adanya transaksi-transaksi, seperti biaya
pencarian informasi, biaya kontrak, biaya monitoring kontrak, biaya legal jika kontrak
dilanggar, dan biaya risiko yang mungkin timbul sebagai akibat terjadinya transaksi.
Kemungkinan menekan biaya transaksi pada koperasi dapat dilakukan karena:

1) Informasi yang berguna untuk pengembangan koperasi banyak tersebar luas di


antara para anggota.
2) Kontrak antara anggota dengan koperasinya tidak perlu dilakukan karena anggota
adalah pemilik koperasi.
3) Terdapatnya kontrol sosial dalam koperasi tidak perlu manajemen mengeluarkan
biaya monitoring dalam jumlah yang besar.
4) Risiko ketidakpastian dapat mudah direduksi karena ada pasar internal koperasi.

c. Pemanfaatan Interlinkage Market


Interlinkage market adalah hubungan antarpelaku ekonomi di pasar. Seorang produsen
membutuhkan input dari penghasil input (rumah tangga konsumen) dan membutuhkan modal
dari pemberi kredit. Bila produsen menghasilkan pendapatan itu akan digunakan untuk
membeli input, membayar utang, dan ditabung.

Tugas wirakop dalam hal ini menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan di
antara pelaku dalam interlinkage market tersebut.

d. Pemanfaatan Trust Capital

Trust capital (pengumpulan modal) dimungkinkan terjadi pada koperasi karena usaha
yang tadinya dilakukan sendiri-sendiri oleh para anggotanya sekarang dikelola secara bersama-
sama dengan anggota lainnya. Semakin banyak anggota semakin besar modal yang dapat
dikumpulkan dan semakin kuat kedudukan modal usaha koperasi sehingga kemampuan
koperasi dalam bersaing dengan pesaingnya semakin kuat.

Tugas wirakop dalam hal ini adalah mengelola modal tersebut secara efisien dan
meningkatkan peranan anggota dalam meningkatkan partisipasi intensif dalam pemanfaatan
jasa pelayanan koperasi dan partisipasi kontributif dalam pembentukan pemodalan yang baru.
Referensi:

Hendar dan Kusnadi. 1999. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Ekonomi UI.