Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus

HIFEMA OCULAR DEXTRA

Pembimbing :
dr. Moh. Sulaiman Sp.M

Oleh :
dr. Natalia

RSAL dr. Midiyato Suratani


Tanjung Pinang
Laporan Kasus dr. Internship 2018
RS AL dr. Midiyato S
Oleh: dr. Natalia

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. M. Junaidi Jenis Kelamin : Laki-laki


Usia : 17 tahun Suku Bangsa : Indonesia
Status Perkawinan : Belum Menikah Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar Pendidikan : SMA
Alamat : Tanggal masuk pasien : 28 Agustus 2018

ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis. Tanggal : 28 Agustus 2018, Jam : 12.20

Keluhan utama : Mata perih

Riwayat Penyakit Sekarang :


Os datang ke IGD RSAL dr. Midiyato Suratani pada 28 Agustus 2018 pukul 12.20
siang dengan keluhan mata kanan perih sejak ± 1 jam SMRS. Perih dirasakan terus
menerus sejak mata pasien terkena smash bagian ujung bulat bola bulu tangkis saat
bermain.
Saat ini os juga mengeluh nyeri pada mata kanannya disertai air mata yang
nyerocos dan mata merah. Saat awal terkena bola, os merasakan penglihatan putih
seperti kabut sejenak dan sulit membuka mata namun beberapa saat kemudian mulai
membaik hingga kembali melihat normal. Untuk keluhan yang dialami pasien saat ini
tidak dirasakan ada faktor yang memperberat ataupun memperingan.
Keluhan lainnya seperti rasa silau (-), pandangan tirai (-), gatal (-), penglihatan
menurun (-), pandangan menyempit (-), kotoran mata berlebih (-), kepala nyeri (-),
mual (-), muntah (-), dll(-). Riwayat penggunaan kacamata (-), terkena luka fisik
sebelumnya (-), luka kimia (-), luka termal (-), dll (-).
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat Kelainan pada mata sejak lahir (-)
 Riwayat trauma pada mata (-)
 Riwayat keluhan yang sama (-)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat HT (-)
 Riwayat Alergi (-)
 Pengunaan obat dalam waktu lama disangkal
 Penyakit lainnya : Hemoroid (-)

Riwayat Penyakit Keluarga : (-)

Riwayat Kebiasaan :
Penggunaan kacamata (-)

PEMERIKSAAN FISIK
A. Vital Sign
 Keadaan Umum : Baik
 Kesadaran : Compos mentis
 Vital Sign
 Tekanan Darah : 120/80 mmHg
 Nadi : 88 kali/ menit
 Suhu : 36,50C
 Respiration Rate (RR) : 19 x / menit
 Status Gizi : Cukup

B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar: OD OS

Hiperemis

Hifema
OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA(OS)
6/6 Visus 6/6
Tidak dikoreksi Koreksi Tidak dikoreksi
Tidak menyempit Lapang pandang Tidak menyempit
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal, enoftalmus
enoftalmus (-), eksoftalmus (-), Bulbus okuli (-), eksoftalmus (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis (-), nyeri Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan
tekan (-), blefarospasme (+), (-),
lagoftalmus (-), ektropion (-), Palpebra blefarospasme (-), lagoftalmus (-),
entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi cilier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (+) , injeksi hiperemis (-)
konjungtiva (+) injeksi siliar
(+)
Bulat, jernih, Bulat, jernih,
edema (-), edema (-),
arkus senilis (-) Kornea arkus senilis (-)
keratik presipitat (-), infiltrat ( keratik presipitat (-), infiltrat (-),
-), sikatriks (-) sikatriks (-)
Jernih, kedalaman cukup, Camera Oculi Jernih, kedalaman cukup
hipopion (-), hifema (+) < 1/3 Anterior hipopion (-), hifema (-)
(COA)
Edema (-), Edema(-),
synekia (-) Iris synekia (-)
Kripta (-) Kripta (-)
Bulat, Bulat,
Diameter ± 3mm Pupil Diameter ± 3mm
refleks pupil L/TL: +/+ refleks pupil L/TL: +/+
Jernih Lensa Jernih

Tek Digital : N TIO Tek Digital : N

RESUME

A. Subjektif:
 Os datang ke IGD RSAL dr. Midiyato Suratani pada 28 Agustus 2018
pukul 12.20 siang dengan keluhan mata kanan perih sejak ± 1 jam
SMRS.
 Perih dirasakan terus menerus sejak mata pasien terkena smash bagian
ujung bulat bola bulu tangkis saat bermain.
 Os juga mengeluh nyeri pada mata kanannya disertai air mata yang
nyerocos dan mata merah.
 Saat awal terkena bola, os merasakan penglihatan putih seperti kabut
sejenak dan sulit membuka mata namun beberapa saat kemudian mulai
membaik hingga kembali melihat normal.
B. Obyektif:

Edema (-), hiperemis (-), nyeri Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan
tekan (-), blefarospasme (+), (-),
lagoftalmus (-), ektropion (-), Palpebra blefarospasme (-), lagoftalmus (-),
entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi cilier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (+) , injeksi hiperemis (-)
konjungtiva (+) injeksi siliar
(+)

Jernih, kedalaman cukup, Camera Oculi Jernih, kedalaman cukup


hipopion (-), hifema (+) < 1/3 Anterior hipopion (-), hifema (-)
(COA)

Diagnosis Kerja
Trauma tertutup bola mata dengan komplikasi hifema grade 1 okuli dextra

Dasar yang mendukung : Pada anamnesa didapat keluhan mata merah perih, nyeri,
nyerocos post terkena smash bola bulu tangkis. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
pada okuli dextra konjungtiva hiperemis dan adanya darah pada COA <1/3.

Penatalaksanaan
Non farmakologis:
Rawat inap  keluarga menolak
KIE
Bed rest dengan elevasi 30 – 45o
Kurangi aktivitas bola mata

Farmakologis
Cendo xitrol 6x1 gtt OD tiap 3 jam
Timol 2x1 gtt OD
Asam mefenamat 3x500mg

Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
PENDAHULUAN

Trauma okuli merupakan trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga
orbita, kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi mata
sebagai indra penglihat. Salah satu di antara sekian banyak penyebab kebutaan, yang
sering dijumpai adalah trauma tumpul pada mata. Walaupun trauma yang mengenai
mata tidak selalu merupakan penyebab utama dari kebutaan, namun merupakan faktor
yang cukup sering mengakibatkan hilangnya penglihatan unilateral. Suatu benturan
tumpul bisa mendorong mata ke belakang sehingga kemungkinan merusak struktur
pada permukaan (kelopak mata, konjungtiva, sclera, kornea dan lensa) dan struktur
mata bagian belakang (retina dan persarafan). Perdarahan di dalam Camera Oculi
Anterior (COA) yang disebut dengan hifema merupakan masalah yang serius dan
harus segera ditangani.1,2,3
Hifema merupakan keadaan dimana terjadi akumulasi perdarahan pada bilik
mata depan, dapat terjadi akibat trauma tumpul pada mata. Darah ini berasal dari iris
atau badan siliar yang robek. Hifema dapat juga disebabkan oleh trauma intraoperasi,
pecahnya neovaskularisasi, adanya kanker, atau kelainan vaskuler lain. Menurut salah
satu studi yang di lakukan di Amerika Serikat, kejadian hifema, terutama hifema
traumatik, diperkirakan sebanyak 12 kasus per 100.000 orang populasi. Anak-anak
dan usia remaja 10-20 tahun memiliki presentase penderita terbanyak, yaitu sebesar
70%. Hifema lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan perbandingan
3:1.1,2
Hifema merupakan kasus yang sering dijumpai. Penegakan diagnosis dan
tatalaksana hifema harus dapat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah terjadinya
komplikasi seperti pendarahan sekunder, imbibisi kornea, glaukoma sekunder, uveitis,
hingga kebutaan. Dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012, benda
asing dalam rongga hidung merupakan kompetensi 3A yang berarti lulusan dokter
mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan awal penyakit
tersebut. Diharapkan laporan phantom ini dapat bermanfaat untuk memberikan
informasi terkait hifema dan menjadi salah satu sumber bacaan tentang hifema.
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan,
yaitu daerah diantara kornea dan iris yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang
merobek pembuluh darahh iris atau badan siliar dan bercampur dengan aqueous
humor. Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata
telanjang, walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan berjumlah sedikit, tetap
dapat menyebabkan penurunan visus.3,4
Hifema dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris
atau badan siliar. Terkadang terdapat iridoplegia dan iridodialisis. Pasien akan
mengeluh sakit dengan epifora dan blefarospasme.3,4

Epidemiologi
Menurut satu studi yang dilakukan di Amerika Serikat, kejadian hifema,
terutama hifema traumatik, diperkirakan sebanyak 12 kasus per 100.000 orang
populasi.5 Anak-anak dan remaja usia 10-20 tahun memiliki persentase penderita
terbanyak, yaitu sebesar 70%.2Hifema lebih sering terjadi pada pria dibandingkan
wanita dengan perbandingan 3 : 1.6

Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, hifema terbagi menjadi tiga yakni1:
1. Hifema traumatik
2. Hifema iatrogenik
3. Hifema spontan
Hifema traumatik merupakan jenis yang tersering, yang merupakan hifema
akibat terjadinya trauma pada bola mata. Trauma yang terjadi pada umumnya
disebabkan oleh benda tumpul, misalnya bola, batu, projektil, mainan anak-anak,
pelor mainan, paint ball, maupun tinju.Trauma tumpul yang menghantam bagian
depan mata misalnya, mengakibatkan terjadinya perubahan bola mata berupa
kompresi diameter anteroposterior serta ekspansi bidang ekuatorial. Perubahan ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intraokular secara transien yang
mengakibatkan terjadinay penekanan pada struktur pembuluh darah di uvea (iris dan
badan silier). Pembuluh darah yang mengalami gaya regang dan tekan ini akan
mengalami ruptur dan melepaskan isinya ke bilik mata depan (camera oculi anterior).7
Hifema iatrogenik adalah hifema yang timbul dan merupakan komplikasi dari
proses medis, seperti proses pembedahan. Hifema jenis ini dapat terjadi intraoperatif
maupun postoperatif. Pada umumnya manipulasi yang melibatkan struktur kaya
pembuluh darah dapat mengakibatkan hifema iatrogenik.Hifema spontan sering
dikacaukan dengan hifema trauma. Perlunya anamnesis tentang adanya riwayat
trauma pada mata dapat membedakan kedua jenis hifema. Hifema spontan adalah
perdarahan bilik mata depan akibat adanya proses neovaskularisasi, neoplasma,
maupun adanya gangguan hematologi.7
1. Neovaskularisasi, seperti pada diabetes melitus, iskemi, maupun sikatriks. Pada
kondisi ini, adanya kelainan pada segmen posterior mata (seperti retina yang
mengalami iskemi, maupun diabetik retinopati) akan mengeluarkan faktor
tumbuh vaskular (misal: VEGF)8 yang oleh lapisan kaya pembuluh darah
(seperti iris dan badan silier) dapat mengakibatkan pembentukan pembuluh
darah baru (neovaskularisasi). Pembuluh darah yang baru pada umumnya
bersifat rapuh dan tidak kokoh, mudah mengalami ruptur maupun kebocoran.
Kondis ini meningkatkan kerentanan terjadinya perdarahan bilik mata depan.7
2. Neoplasma, seperti retinoblastoma dan melanoma maligna pada umumnya juga
melibatkan neovaskularisasiseperti yang telah dijelaskan pada poin pertama.8
3. Hematologi, seperti leukemia, hemofilia, penyakit Von Willebrand yang mana
terjadinya ketidakseimbangan antara faktor pembekuan dan faktor anti-
pembekuan. Dengan demikian terjadi proses kecenderungan berdarah.7
4. Penggunaan obat-obatan yang mengganggu sistem hematologi, seperti aspirin
dan warfarin.7

Salah satu literatur menyebutkan bahwa pada anak-anak dengan retinoblastoma,


hifema merupakan 0,25% presentasi klinis dari seluruh gejala retinoblastoma.
Meskipun jarang, hifema dapat menjadi salah satu tanda terjadinya kelainan
intraokular khususnya pada bayi dan anak-anak tanpa riwayat trauma yang
signifikan.8
Sebagian besar hifema yang terjadi di masyarakat merupakan hifema grade I,
predisposisi pada laki-laki (sekitar 75%), serta insidens tertinggi pada usia sekolah.
40% hifema yang terjadi terjadi perlekatan dengan stroma iris, sedangkan 10%
mengalami perlekatan dengan endotel kornea. Pada umumnya hifema tanpa
komplikasi dapat diresoprsi dan menghilang secara spontan dalam waktu kurang dari
satu minggu (lima hingga enam hari).7
Hifema biasanya disebabkan oleh traumatumpul pada mata seperti terkena bola,
batu, peluru senapan angin, dan lain-lain. Selain itu, hifema juga dapat terjadi karena
kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat menyebabkan hifema
namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata (contohnya retinoblastoma), dan
kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).9,10
Hifema yangterjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh
kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekan-robekan
jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. Jaringan tersebut mengandung banyak
pembuluh darah, sehingga akan menimbulkan perdarahan. Perdarahanyang timbul
dapat berasal dari kumpulan arteri utama dan cabang dari badan ciliar, arteri koroid,
vena badan siliar, pembuluh darah iris pada sisi pupil.Perdarahan di dalam bola mata
yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. Timbunan darah ini karena
gaya berat akan berada di bagian terendah.9,10,11

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:9,10,11
1) Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan
pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen
anterior bola mata.
2) Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata)
3) Hifema akibat inflamasi yang arah pada iris dan badan silier, sehingga
pembuluh darah pecah
4) Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah
5) Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma)
Berdasarkan onset perdarahannya, hifema dibagi menjadi:
1) Hifema primer terjadi langsung sampai 2 hari setelah trauma pada mata
2) Hifema sekunder terjadi 2-5hari setelah trauma pada mata
Berdasarkan darah yang terlihat, hifema diklasifikasikan menjadi:
1) Makrohifema, perdarahan terlihat dengan mata telanjang
2) Mikrohifema, perdarahan terlihat apabila menggunakan mikroskop
Berdasarkan pemenuhan darah dibilik mata depan, hifema dapat dibagi menjadi:
 Grade 1, darah mengisi kurang dari 1/3 bilik mata depan
 Grade 2, darah mengisi 1/3-1/2 bilik mata depan
 Grade 3, darah mengisis 1/2 – kurang dari seluruh bilik mata depan
 Grade 4, darah mengisi seluruh bilik mata depan, dikenal dengan total hyphema,
blackball atau 8-ball hyphema

Klasifikasi hifema berdasarkan pemenuhan darah di bilik matanya adalah sebagai


berikut9:

Gambar 1. Klasifikasi hifema secara skematis

Patofisiologi
Trauma adalah penyebab hifema yang paling sering, terutama terjadi pada laki-
laki muda. Hifema traumatika terjadi sebagai akibat dari luka pada pembuluh darah
perifer iris atau badan siliaris anterior. Trauma menyebabkan pergeseran posterior
dari perlekatan lensa-iris dan ekspansi sklera pada zona ekuator, yang menyebabkan
rusaknya sirkulus arteri mayor iris, cabang arteri dari badan siliar, dan/atau arteri dan
vena koroidal rekuren.13
Trauma tumpul mendesak volume aquous ke tepi, menyebabkan peningkatan
tekanan hidrolik lensa, akar iris, dan jaringan trabekular. Jika desakan tekanan ini
melebihi kekuatan regangan dari struktur okular, pembuluh darah pada perifer iris dan
anterior badan siliaris dapat ruptur, menyebabkan hifema. Gaya desakan dapat
menyebabkan ruptur sklera, biasanya pada limbus dan posterior dari insersi otot,
dimana sklera lebih tipis dan tidak didukung oleh tulang orbital. Trauma berat
menyebabkan subluksasio lensa, dialisis retina, avulsi nervus optik, dan/atau
perdarahan vitreous.13

Gambar 2.Mekanisme hifema dan gaya trauma tumpul pada mata. 13

Gambar 3. Hifema pada Trauma tumpul13


Hifema juga dapat disebabkan karena tumor intraokuler, baik jinak maupun
ganas. Neovaskularisasi iris dan badan siliaris juga dapat menyebabkan hifema.
Neovaskularisasi dapat disebabkan oleh iskemik segmen posterior, yang biasanya
dikaitkan dengan penyakit mikrovaskuler pada diabetes. Iskemia retina juga dapat
terjadi setelah oklusi arteri atau vena retina. Penyebab lain dari neovaskularisasi
adalah stenosis carotid, yang menyebabkan iskemik okular. Hifema juga dapat
menjadi iatrogenik, misalnya setelah operasi intraokuler, terutama operasi yang
melibatkan sudut filtrasi. Tipe tertentu dari lensa intraokuler ruang anterior digunakan
setelah ekstraksi katarak dapat menyebabkan hifema, terutama lensa rigid, yang
disebut sindrom uveitis-glaukoma-hifema.14
Corneal bloodstaining terjadi sebagai akibat dari darah dipaksa keluar ke sel
endotelial kornea. Bloodstaining adalah salah satu indikasi untuk operasi evakuasi
hifema.Peningkatan akut dari tekanan intraokular berhubungan dengan sel darah
merah dan produk sampingan yang menyumbat trabecular meshwork; penyebab lain
adalah trauma langsung terhadap meshwork, yang terjadi bersamaan dengan trauma
awal. Glaukoma kronik yang mengikuti hifema sebagian disebabkan karena
perubahan fibrotik pada trabecular meshworkyang diinduksi dengan inflamasi.
Inflamasi terjadi sebagai reaksi terhadap kerusakan okuler: cyclodialysis, resesi sudut,
dan robekan pembuluh darah iris.14
Hifema spontan lebih jarang terjadi dan pemeriksa perlu mewaspadai adanya
kemungkinan rubeosis iridis, abnormalitas pembekuan, penyakit herpes, atau masalah
lensa intraokuler. Juvenile xanthogranuloma, retinoblastoma, dan leukemia
berhubungan dengan hifema spontan pada anak-anak.1

Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi umum dari hifema adalah15:
- Perdarahan pada bagian mata depan (bilik mata depan)
- Sensitif terhadap cahaya sehingga pasien mengeluh silau
- Nyeri pada mata
- Pandangan kabur, berawan, atau pandangan terhalang (block vision)
Pasien dapat mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan blefarospasme.
Penglihatan pasien akan snagat menurun. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat
terkumpul di bagian bawha bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh
ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.15

Diagnosis
Adanya riwayat trauma, yang terutama mengenai mata dapat memastikan
adanya hifema. Pada gambaran klinik ditemukan adanya perdarahan pada COA yang
dapat diperiksa menggunakan penlight, kadang ditemukan adanya penurunan visus,
tanda-tanda iritasi dari konjungtiva dan perikornea, fotofobia, penglihatan ganda,
blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan gangguan dalam melihat dekat,
kemungkinan disertai dengan gejala sistemik berupa letargi, disorientasi, atau
somnolen.4,17
Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata mata berair-air.
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat penumpukan darah yang terlihat
dengan mata telanjang bilajumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan
terlihat terkumpul di bagian COA dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang COA.
Ototsfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil tetap dilatasi, dapat
terjadipewarnaan darah (blood staining) pada kornea, anisokor pupil.4,17
Akibat langsung dari terjadinya hifema adalah penurunan visus karena darah
mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi COA ini secara langsung dapat
mengakibatkan tekanan intraocular meningkat akibat bertambahnya isi oleh darah.
Kenaikan tekanan intaokular ini disebut glaucoma sekunder, yang juga dapat terjadi
akibat massa darah yang menyumbat jaringan trabekula yang berfungsi membuang
aqueous humor yang berada di COA. Selain itu dampak yang ditimbulkan akibat
darah yang lama pada COA akan menyebabkanblood stainingpada dinding kornea
dan kerusakan jaringan kornea.4,17

PemeriksaanPenunjang
a. Pemeriksaan tajam penglihatan. Visus dapat mengalami penurunan akibat
darikerusakankornea, aqueous humor, iris, dan retina.
b. Pemeriksaan lapangan pandang. Penurunan dapat disebabkan oleh patologi
vaskular, okular, glaukoma.
c. Pengukuran tonometri untuk mengukur tekanan intraokular.
d. Slitlamp. Untuk menentukan kedalaman dari COA dan iridocorneal contact,
aqueous flare, dansinekia posterior.
e. Pemeriksaan oftalmoskopi, untuk menilais truktur internal okular.
f. Test profokatif yang digunakan untuk menentukan adanya glaucoma bila TIO
normal atau meningkat ringan.3

Diagnosis Banding
1. Hematoma palpebra
Merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak
akibat pecahnya pembuluh darah palpebra, kelainan ini sering terlihat pada
trauma tumpul kelopak.
2. Perdarahan subkonjungtiva
Kebanyakan perdarahan subkonjungtiva terjadi secara spontan tanpa ada
penyebab yang pasti karena perdarahan ini datang dari pembuluh darah
konjungtiva. Gejala perdarahan subkonjungtiva adalah sanagt jarang orang
merasakan nyeri saat perdarahan dimulai. Saat perdarahan dimulai terasa ada
sesuatu di mata. Apabila perdarahn selesai beberapa orang masih merasakan
iritasi yang sedang. Perdarahan subknjungtiva berupa wilayah merah terang
yang berbatas tegas berada di sklera. Dalam area itu, biasanya seluruh bagian
putih ditutupi oleh darah. Perdarahan akan tampak meluas/membesar dalam 24
jam pertama setelah onset pertama kali terjadi dan secara perlahan berkurang
ukurannya bersamaan dengan darah diserap kembali.17

Tatalaksana
Hifema biasanya akan mengalami penyerapan secara spontan.1 Umumnya hal
ini terjadi setelah 5-7 hari dari awal trauma.6 Oleh karena itu, tatalaksana hifema pada
awal lebih menitikberatkan kepada elevasi kepala,bed rest dengan rawat inap,
patching, dan monitoring peningkatan TIO serta adanya perdarahan sekunder.
Dibawah akan dijelaskan secara lebih lanjut mengenai hal tersebut.

1. Terapi Medikamentosa
Meskipun pada hifema Tujuan pemberian obat-obatan pada pasien hifema
adalah untuk6,9:
 Mengurangi angka perdarahan ulang
 Menghilangkan hifema
 Menangani lesi jaringan terkait
 Mengurangi gejala sekunder dari hifema
Tatalaksana secaramedikamentosameliputi6,9,18:
 Sikloplegik/midriatik untuk mengurangi rasa sakit dan risiko terjadinya sinekia
posterior. Pemberian sikloplegik dapat menstabilkan blood-aqueous barrier,
meningkatkan kenyamanan pasien, dan memfasilitasi evaluasi segmen posterior.
Tetapi ternyata atropin topikal tidak memiliki efek menguntungkan dalam
mengurangi kejadian perdarahan ulang, resorpsi darah, atau perbaikan visus.
 Analgesik bila perlu, berupa asetaminophen atau codein, bergantung pada
tingkatnyeri yang dirasakan pasien
 Kortikosteroid topical untuk mengurangi inflamasi dan mencegah
iritis/iridosiklitis
 Agen antifibrinolitik seperti asam aminokaproattopical dan/atau oral serta asam
traneksamat oral untuk mengurangi risiko perdarahan ulang. Dosis untuk asam
aminokaproat adalah 50 mg/kgBB setiap 4 jam, maksimal 30 gram/hari selama
5 hari. Dosis untuk asam traneksamat adalah 25 mg/kgBB, 3 kali sehari selama
6 hari. Kontraindikasi pada gangguan clotting intravaskuler dan kehamilan.
 Tissueplasminogen activator untuk fibrinolisis clotting yang stagnan. Dosis tPA
adalah 10 mikrogram, diberikan injeksi intrakamera.
 Terapi antiglaukoma jika dibutuhkan, seperti dengan pemberian asetazolamid
atau beta-blocker seperti timolol.

2. Terapi Non-medikamentosa
Selain dari elevasi kepala 30-450untuk membantu proses penyerapan darah,
sesungguhnya secarau mumbed rest, rawat inap, dan patching tidak perlu dilakukan.
Namun jika hifema terjadi pada pasien yang tidak kooperatif, pada penderita sickle
cell disease, atau terjadi perdarahan ulang, terapi-terapi non-medikamentosa di atas
perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berikut.18 Monitoring TIO,
pewarnaan kornea, dan perdarahan sekunder perlu dilakukan secara berkala untuk
mengetahui kemunculan komplikasi dan pemberian penatalaksanaan sesuai.9

3. TatalaksanaOperatif
Indikasi untuk melakukan operasi pada pasien hifema adalah6,9,18:
 Absorpsi darah secara spontan terlalu lambat
 Terdapat kelainan penggumpalan darah yang dapat menjadi resiko perdarahan
sekunder, seperti hemoglobinopati atau sickle cell disease.
 Peningkatan TIO tidak bisa diatasi dengan obat-obatan (>35 mmHg selama 7
hariatau>50 mmHg selama 5 hari) dan adanya kemungkinan corneal blood
staining.9
Pembedahan yang dapat dilakukan adalah dengan parasentesis.5Langkahnya
adalah dengan membuat insisi pada korneasepanjang 2 cm dari limbus kea rah kornea
sejajar permukaan iris.Kemudian dilakukan penekanan pada bibir luka sehingga
koagulum/darah pada bilik mata depan keluar. Bila tetap tidak keluar maka dapat
dibilas/dilakukan irigasi dengan garam fisiologis. Luka insisi ini tidak perlu dijahit.1

Komplikasi
1. Imbibisi Kornea
Darah yang terdapat pada hifema dikeluarkan dari bilik mata depan dalam
bentuk sel darah merah melalui bilik mata (kanal schlem) dan permukaan
depan iris. Penyerapan melalui permukaan depan iris ini dipercepat dengan
adanya kegiatan enzim fibrinolitik yang berlebihan di daerah ini. Sebagian
hifema dikeluarkan dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat hemosiderin
yang berlebihan pada bilik mata depan maka dapat terjadi penimbunan
pigmen ini di dalam lapisan-lapisan kornea yang berwarna kecoklat-coklatan
yang disebut imbibisi kornea. Jika sudah terjadi seperti ini hanya bisa
diperbaiki dengan keratoplasti. 1
2. Glaukoma Sekunder
Glaukoma akut terjadi apabila jaringan trabekular tersumbat oleh fibrin dan
sel atau apabila pembentukan bekuan darah menyebabkan penyumbatan
pupil. Hal ini terjadi akibat darah dalam bilik mata, karena unsur-unsur
darah menutupi sudut bilik mata trabekula, sehingga hal ini akan
menyebabkan tekanan intraokular meningkat. 1
3. Uveitis
Trauma merupakan salh satu penyebab terjadinya uveitis anterior, biasanya
terdapat riwayat trauma tumpul mata atau adneksa mata. Luka lain seperti
luka bakar pada mata, benda asing atau abrasi kornea dapat menyebabkan
terjadinya uveitis anterior. Visual aquity dan tekanan intraokular mungkin
terpengaruh, dan mungkin juga terdapat darah pada anterior chamber. 1
4. Kebutaan
Zat besi di dalam mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila
didiamkan dapat menimbulkan fitsis bulbi dan kebuataan.1

Prognosis
Mata sembuh dengan baik setelah trauma minor dan jarang terjadi skuele jangka
panjang. Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera
oculi anterior (COA). Pada hifema dengan darah yang sedikit tanpa adanya glaukoma
biasanya prognosis baik karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna
dalam beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma,
prognosisnya tergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek
pada ketajaman penglihatan. Sedangkan bila darah lebih dari setengah tingginya bilik
mata depan, maka prognosa buruk dan akan disertai dengan beberapa penyulit.
Hifema yang penuh di bilik mata depan akan memberikan prognosa yang lebih buruk
dibandingkan dnegan hifema sebgaian. Bila tajam penglihatan telah mencapai 1/60
atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena dapat
menyebabkan kebutaan.6,9
Prognosis penglihatan pada penderita hifema dipengaruhi oleh 3 faktor penting, yaitu:
a. Kerusakan struktur mata yang lain: ruptur koroid
b. Perdarahan sekunder
c. Komplikasi berupa glaukoma, corneal bloodstaining atau atropi optikus
Penanganan adalah untuk mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi.
Sekiranya terdapat pembaikan visus mata maka penanganan hifema dianggap
berhasil. Hifema yang sembuh dengan visus 20/40 atau lebih baik tergantung dari
derajat keparahan hifema yaitu6,9:
Hifema grade 1 : 80%
Hifema grade 2 : 60%
Hifema grade 3 dan 4 : 35%
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, S. Hifema. Dalam: Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: FKUI;2005.


2. Ilyas, S. Hifema. Dalam: Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3.
Jakarta:FKUI;2005.
3. Ilyas, Sidarta. Trauma Tumpul Mata: Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:FKUI
press;2009.
4. Vaughan, Daniel G. Trauma: Oftalmologi Umum Edisi Ke-14. Jakarta: Widya
Medika;2000.
5. Anonim. Traumatic hyphema. Diakses dari
http://www.uptodate.com/contents/traumatic-hyphema-epidemiology-
anatomy-and-pathophysiology.
6. Sheppard JD. Hyphema. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/1190165-overview.
7. Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology. A systematic approach.
Seventh edition. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2011.
8. Chraibi F, Bhallil S, Benatiya I, Tahri H. Hyphema revealing retinoblastoma
in childhoot. A case report. Bull. Soc. Belge Ophtalmol. 2011(318): 41-3.
9. Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. General ophthalmology.16th
ed.USA:McGraw-Hill.
10. Kuhn F, Pieramici D. Mechanical Globe Injuri: Anterior Chamber. Dalam:
Ocular trauma principles and practice. New York:Thieme.2002.
11. Kuhn F. Anterior Chamber. Dalam: Ocular TraumatologyUSA:Springer.2008.
12. Oldham GW. Hyphema. [Internet]. Cited: 2016Ausgust30. Available from:
http://eyewiki.aao.org/Hyphema.
13. American Academy of Ophthalmology. Clinical aspects of toxic and
traumatic injuries of the anterior segment. External Disease and Cornea,
2014-2015. p. 350.
14. Dersu II. Hyphema glaucoma. 2016. Available from:
www.emedicine.medscape.com/article/1206635-overview#a5.
15. Turbert D. Hyphema symptoms. American Academy of Ophthalmology,
2016. Available from: www.aao.org/eye-health/diseases/hyphema-symptoms.
16. Weinsenthal R, Afshari N, Colby K. 2015. Clinical Toxic and Traumatic
Injuries of the Anterior Segment: American Academy of Ophtalmology. San
Fransisco.
17. S ankar PS, Chen TC, Grosskreutz CL, Pasquale LR. Traumatic hyphema. Int
Ophthalmol Clin 2002;42:57-68.
18. Irak-Dersu I. Hyphema glaucoma. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/1206635-overview.
19. Stilger V, Jeromy M, Robinson T, 2008. Traumatic Hyphema in an
IntercollegiateBaseball Player: A Case Report. Journal of Athletic Training.
34(1) : 25-28.
20. Kanski JJ, Bowling B. 2011. Hyphema. Clinical ophtalmology. A systematic
approach. Seventh edition. Philadelphia: Elsevier Saunders.
21. Cantor L, Rapuano C, Cioffi G, 2014. Traumatic Hyphema. External Disease
and Cornea Sec 8. American Academy of Ophthalmology. Hal 350-354.
22. Yasuna E. 2005. Management of Traumatic Hyphema. Arch Ophthalmol. Mar.
91(3):190-1.
23. Crawford JS, Lewandowski RL, Chan W. 2005. The Effect of Aspirin on
Rebleeding in Traumatic Hyphema. Am J Ophthalmol. Sep. 80(3 Pt 2):543-5.