Anda di halaman 1dari 20

A.

IDENTITAS MODUL

Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Bengkalis Pertemuan ke :3


Jurusan/Program Studi : Teknik Sipil Modul ke : III
Kode Mata Kuliah : TSKB 3304 Jumlah Halaman :8
Nama Mata Kuliah : Struktur Kayu Mulai Berlaku : 2016

B. KOMPONEN MODUL
1. Judul Modul
MODUL III
BATANG TARIK

2. Kompetensi Dasar
Agar Mahasiswa mampu memahami dan merencanakan struktur batang
tarik.

3. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan


a. Teori distribusi tegangan batang tarik akibat penempatan alat sambung
baut
b. Perencanaan tahanan tarik
c. Tahanan tarik sejajar serat
d. Batang tarik tersusun

4. Indikator Pencapaian
Mahasiswa dapat menjelaskan :
a. Bagaimana tegangan yang terjadi pada batang tarik akibat alat sambung
b. Tahapan perencanaan batang tarik
c. Bagaimana tahanan tarik sejajar serat
d. Bagaimana perilaku batang tarik tersusun

28
5. Referensi
Inggar dan Awaludin Ali, Konstruksi Kayu, UGM Press, DI Yogyakarta.
SNI 7973-2013, 2013, Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu, BSN.

C. MATERI MODUL
1. Teori distribusi tegangan batang tarik akibat penempatan alat
sambung baut
Secara umum, perencanaan komponen struktur tarik bertujuan
untuk mengetahui luas penampang batang minimum yang diperlukan
untuk menahan gaya tarik. Apabila dimensi komponen struktur tarik
telah ditetapkan, maka analisis berupa check terhadap luas tampang yang
telah dipilih dapat dilakukan.
Pada daerah sambungan, dimana terjadi pengurangan luas
tampang kayu akibat penempatan alat sambung, distribusi tegangan tarik
terjadi tidak secara merata. Tegangan tarik pada daerah dekat lubang bisa
tiga kali lebih besar daripada tegangan tarik netto, seperti dapat dilihat
pada Gambar 3.1. Maka perencanaan batang tarik harus didasarkan pada
luas penampang netto.

Gambar 3.1 Tegangan di area sekitar lubang akibat alat sambung


Penurunan kuat tarik batang kayu akibat hadirnya lubang pernah
diteliti oleh Awaludin (2002). Pada nilai banding luas lubang terhadap
luas tampang kayu (Ak/Ag) yang sama, penurunan kekuatan tarik akibat
beberapa lubang berdiameter kecil ternyata lebih kecil daripada batang
tarik dengan lubang yang besar tetapi jumlahnya sedikit.

2. Perencanaan batang tarik


Batang tarik harus direncanakan untuk memenuhi ketentuan
sebagai berikut :

29
≤ ′ .......(Pers. 3.1)
: gaya tarik terfaktor
′ : tahanan tarik terkoreksi
Gaya atau tegangan tarik sejajar serat aktual harus didasarkan
atas luas penampang netto dan tidak boleh melebihi nilai desain tarik
terkoreksi.
= ′× .......(Pers. 3.2)
′ : kuat tarik sejajar serat terkoreksi
: luas penampang netto

Tabel 3.1 Keberlakuan faktor-faktor koreksi untuk kayu gergajian


Hanya DTI

DTI dan DFBK Hanya DFBK


Faktor Komponen Struktur Berulang
Faktor Penggunaan Beban
Faktor stabilitas Balok
Faktor Durasi Beban

Faktor Layan Basah

Faktor Temperatur

Faktor tusukan
Faktor Ukuran

Faktor Konversi Format


Faktor Kekakuan Tekuk
Faktor Stabilitas Kolom

Faktor Luas Tumpu

Faktor Efek Waktu


Faktor Ketahanan

= × - - - 2,54 0,85 λ
= × - - - - - - 2,70 0,80 λ
= × - - - - - - 2,88 0,75 λ

┴ = ┴ × - - - - - - - 1,67 0,90 -
= × - - - - - 2,40 0,90 λ
= × - - - - - - - - - -
= × - - - - - - 1,76 0,85 -
Sumber : SNI 7973-2013
Besarnya nilai kuat tarik sejajar serat terkoreksi ( F ′) dapat
dilihat pada Tabel 3.1 dan nilai kuat tarik sejajar serat dapat dilihat pada

30
Tabel 2.1. faktor layan basah bisa dilihat pada Tabel 3.2 berikut untuk
kondisi kadar air > 19%.
Tabel 3.2 Faktor layan basah (CM)
┴ E dan
0,85* 1,0 0,97 0,67 0,8** 0,9
* Apabila ≤ 8 Mpa, CM = 1,0
** apabila ≤ 5,2 Mpa, CM = 1,0
Sumber : SNI 7973-2013

Tabel 3.3 Faktor temperatur, Ct


Nilai Desain Kondisi Kadar Ct
Acuan Air Layan1 T ≤ 38 ͦC 38 ͦC <T≤ 52 ͦC 52 ͦC <T≤ 65 ͦC
Basah atau
Ft, E, Emin 1,0 0,9 0,9
Kering
Fb, Fv, Fc dan Kering 1,0 0,8 0,7
Fc┴ Basah 1,0 0,7 0,5
1
kondisi basah dan kering untuk kayu gergajian, glulam struktur, balok kayu prapabrikasi, kayu
komposit struktural dan panel kayu struktural ditetapkan berturut-turut di pasal 4.1.4, 5.1.5,
7.1.4, 8.1.4 dan 9.3.3.
Sumber : SNI 7973-2013

a. Faktor ukuran CF
Menurut SNI 2013 pasal 4.3.6.1 nilai desain tarik untuk kayu dimensi
yang tebalnya 50,8 mm sampai 101,6 mm yang dipilah secara visual
harus dikalikan dengan faktor yang ditetapkan yaitu 1,0.
b. Faktor tusukan Ci
Nilai desain acuan harus dikalikan dengan faktor tusukan Ci, apabila
kayu dimensi dipotong sejajar serat pada tinggi maksimum 10,16 mm,
panjang maksimum 9,53 mm, dan densitas tusukan sampai 11840/m2.
Faktor tusukan harus ditentukan dengan pengujian atau dengan
perhitungan menggunakan penampang tereduksi untuk pola tusukan
yang melebihi batas-batas tersebut.

31
Tabel 3.4 Faktor tusukan Ci
Nilai desain Ci
E, Emin 0,95
Fb, Ft ,Fv, Fc 0,8
Fc┴ 1,0
Sumber : SNI 7973-2013

c. Faktor konversi format KF


Nilai desain acuan harus dikalikan dengan faktor konversi format yang
ditetapkan di dalam Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Faktor konversi format KF
Aplikasi Properti KF
Fb 2,54
Ft 2,7
Fv , Frt , Fs 2,88
Komponen struktur
Fc 2,4
Fc┴ 1,67
Emin 1,76
Semua Sambungan (semua nilai desain) 3,32
Sumber : SNI 7973-2013
d. Faktor ketahanan ∅
Nilai desain acuan harus dikalikan dengan faktor ketahanan yang
ditetapkan di dalam Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Faktor Ketahanan ∅
Aplikasi Properti Simbol Nilai
Fb ∅ 0,85
Ft ∅ 0,8
Komponen
Fv , Frt , Fs ∅ 0,75
struktur
Fc , Fc┴ ∅ 0,9
Emin ∅ 0,85
sambungan (semua) ∅ 0,65
Sumber : SNI 7973-2013

32
e. Faktor efek waktu λ
Nilai desain acuan harus dikalikan dengan faktor efek waktu yang
ditetapkan di dalam Tabel 3.7.
Tabel 3.7 Faktor efek waktu λ
Kombinasi Beban2 λ
1,4 (D+F) 0,6
1,2 (D+F) + 1,6 (H) + 0,5 (Lr atau R) 0,6
1,2 (D+F) + 1,6 (L+H) + 0,5 (Lr atau R) 0,7 apabila L adalah gudang
0,8 apabila L adalah hunian
1,25 apabila L adalah impak
1,2 (D+F) + 1,6 (Lr+H) atau (L atau 0,8 W) 0,8
1,2 D + 1,6W + L + 0,5(Lr atau R) 1,0
1,2D + 1,0E + L 1,0
0,9D + 1,6W + 1,6H 1,0
0,9D + 1,0E + 1,6H 1,0
1
Faktor efek waktu, λ, lebih daripada 1,0 tidak berlaku pada sambungan atau
komponen struktur yang diberi perlakuan dengan vakum tekan dengan bahan
pengawet larut air (lihat referenci 30) atau kimiawi penghambat api.
2
Kombinasi beban dan faktor beban yang konsisten dengan ASCE 7
dicantumkan disini untuk memudahkan. Beban nominal harus sesuai dengan
N.1.2.
Sumber : SNI 7973-2013

Contoh soal :
P8= 1000 N

8
P7= 1000 N P6= 1000 N
1,25 m

7 P = 3710 N
6
P1= 1000 N P5= 1000 N
1,25 m
P = 3020 N

1 2 3 4 5 1

@1,75 m x 4

Gambar 3.2 Sketsa kuda-kuda


Diketahui kuda-kuda seperti pada Gambar 3.2 dibebani beban mati (DL)
sebesar 1000 N di tiap joint, hasil analisa gaya dalam diperoleh batang 12

33
dengan kombinasi 1,4 DL, menerima beban tarik sebesar 3020 N,
Rencanakan dimensi yang mampu memikul gaya tersebut dengan
menggunakan kayu kode mutu E19 mutu A.
Penyelesaian :
Dari Tabel 2.1 diketahui kayu mutu E19 :
Ew = 19000 Mpa, Ft = 16,3 Mpa
Direncanakan menggunakan dimensi b/h = 60/100 mm dengan Ag = 6000
mm2, perlemahan akibat sambungan sebesar 25 % sehingga :
6000
= = 4800
1,25
Menentukan faktor koreksi
CM = 1 ( kering udara, Tabel 3.2)
Ct = 1 ( Tabel 3.3)
CF =1
Ci = 0,8 (Tabel 3.4)
KF = 2,7 (Tabel 3.5)
∅ = 0,8 (Tabel 3.6)
λ = 0,6 (Tabel 3.7)
Menentukan kuat tarik sejajar serat :
Ft = 0,8 x Ft Tabel (Rasio tahanan mutu A)
Ft = 0,8 x 16,3 = 13,04 Mpa
Menentukan kuat tarik sejajar serat terkoreksi (Ft’) :
Ft’ = Ft x CM x Ct x CF x Ci x KF x ∅ x λ
Ft’ = 13,04 x 1 x 1 x 1 x 0,8 x 2,7 x 0,8 x 0,6 = 13,51 Mpa
Menentukan tahanan tarik terkoreksi (T’)
T’ = Ft’ x An = 13,51 x 4800 = 64.895,39 N > 3020 N .... Aman
(Boros)

3. Batang tarik tersusun


Komponen struktur tersusun, termasuk batang majemuk rangka atap,
batang diagfragma, batang penyokong, dan komponen struktur serupa,

34
adalah komponen struktur yang terdiri dari dua atau lebih elemen sejajar
yang digabungkan dari bahan dengan tahanan dan kekuatan yang sama.
Tahanan komponen struktur tersusun tersebut harus ditentukan sebagai
jumlah dari tahanan elemen masing-masing selama tahanan
sambungannya juga dapat menjamin terjadinya distribusi gaya tarik
aksial diantara elemen-elemen tersebut yang sebanding dengan luas
masing-masing elemen. Pengaruh perlemahan akibat sambungan antar
elemen harus ditinjau dalam perencanaan.

D. RANGKUMAN
1. Distribusi tegangan tarik akibat penempatan alat sambung terjadi tidak
secara merata, tegangan tarik pada daerah dekat lubang bisa tiga kali lebih
besar daripada tegangan tarik netonya.
2. Pada perencanaan batang tarik, gaya atau tegangan tarik sejajar serat
aktual harus didasarkan atas luas penampang neto dan tidak boleh
melebihi nilai desain tarik terkoreksi.
3. Tahanan komponen struktur batang tarik tersusun harus ditentukan
sebagai jumlah dari tahanan elemen masing-masing selama tahanan
sambungannya juga dapat menjamin terjadinya distribusi gaya tarik aksial
diantara elemen-elemen tersebut yang sebanding dengan luas masing-
masing elemen.

E. EVALUASI
1. Apa perbedaan dalam menentukan tahanan rencana batang tarik untuk
satu penampang dan dua penampang ?
2. Bagaimana menentukan nilai luas penampang neto jika jumlah
sambungan yang diperlukan belum diketahui ?
3. Rencanakan dimensi yang mampu memikul gaya tarik seperti tampak
pada Gambar 3.3 dengan menggunakan kayu kode mutu E21 mutu A, jika
diketahui gaya diperoleh dari kombinasi beban 1,2 DL + 1,6 LL + 0,8 W,
kondisi kering udara serta pada temperatur normal.

35
P3

8
P2 P4
1,25 m

7 P = 72,09 kN
6
P1 P5
1,25 m
P = 78,8 kN

1 2 3 4 5 1

@1,75 m x 4

Gambar 3.3 Sketsa kuda-kuda dan gaya dalam pada joint 1

36
A. IDENTITAS MODUL

Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Bengkalis Pertemuan ke :4


Jurusan/Program Studi : Teknik Sipil Modul ke : IV
Kode Mata Kuliah : TSKB 3304 Jumlah Halaman : 11
Nama Mata Kuliah : Struktur Kayu Mulai Berlaku : 2016

B. KOMPONEN MODUL
1. Judul Modul
MODUL IV
BATANG TEKAN

2. Kompetensi Dasar
Agar mahasiswa memahami dan merencanakan struktur batang tekan

3. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan


a. Pengertian batang tekan
b. Gaya tekan kritis
c. Karakteristik batang tekan
d. Perencanaan batang tekan

4. Indikator Pencapaian
Mahasiswa dapat menjelaskan :
a. Defenisi batang tekan dan faktor yang mempengaruhi batang tekan
b. Cara menentukan gaya tekan kritis pada batang tekan
c. Karakteristik atau perilaku batang tekan
d. Cara merencana batang tekan

37
5. Referensi
Inggar dan Awaludin Ali, Konstruksi Kayu, UGM Press, DI Yogyakarta.
SNI 7973-2013, 2013, Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu, BSN.

C. MATERI MODUL
1. Pengertian batang tekan
Batang tekan adalah suatu bagian dari konstruksi yang
mengalami gaya tekan. Suatu batang disebut sebagai batang tekan
apabila arah gaya menekan tampang atau gayanya menekan batang.
Elemen tekan ini sering dijumpai pada struktur truss atau frame.
Pada struktur frame dikenal dengan nama kolom.
Perencanaan batang tekan lebih kompleks dari pada batang tarik,
karena perilaku tekuk lateral yang menyebabkan timbulnya momen
sekunder selain gaya aksial tekan.
Perilaku tekuk ini dipengaruhi oleh nilai kelangsingan kolom
yaitu nilai banding panjang efektif kolom dengan jari-jari girasi
penampang kolom. Apabila nilai kelangsingan sangat kecil (short
column) maka serat-serat kayu pada penampang kolom akan gagal tekan
tetapi bila kelangsingan kolom sangat tinggi (long column) maka kolom
akan mengalami kegagalan tekuk dan serat-serat kayu belum mencapai
kuat tekannya atau bahkan masih ada pada kondisi elastik (lateral
buckling failure).

2. Gaya tekan kritis


Beberapa anggapan yang digunakan untuk memperoleh gaya
tekan maksimum kolom adalah :
a. Kolom lurus (tidak bengkok)
b. Gaya tekan bekerja pada titik berat penampang kolom
c. Perilaku bahan kayu bersifat linier
d. Defleksi lateral kolom sebagai akibat dari momen tekuk saja; defleksi
lateral akibat gaya geser diabaikan.

38
e. Defleksi aksial kolom sangat kecil, sehingga curvature kolom dapat
didekati dengan diferensial order dua atas defleksi lateral.

Berdasarkan anggapan-anggap diatas, gaya tekan kritis kolom


dengan tumpuan kedua ujung adalah sendi atau jepit dapat diperoleh
pada Persamaan 4.1 dan Persamaan 4.2. Gaya tekan kritis ini dikenal
dengan nama gaya tekan Euler (Pe). Karena gaya tekan Euler diperoleh
berdasarkan anggapan material kayu berperilaku elastis, maka gaya tekan
Euler sesuai untuk kolom dengan angka kelangsingan tinggi. Sedangkan
untuk kolom pendek atau menengah, gaya tekan Euler menjadi tidak
sesuai seperti pada Gambar 4.1 sampai Gambar 4.3.
Gaya tekan kritis untuk kolom tumpuan sendi-sendi :

= .......(Pers. 4.1)

Gaya tekan kritis untuk kolom tumpuan jepit-jepit :

= .......(Pers. 4.2)

Apabila variabel L pada Persamaan 4.1 dan Persamaan 4.2


diganti dengan nilai KeL dengan Ke adalah faktor panjang tekuk, maka
kuat tekan kritis kolom dengan variasi tumpuan pada kedua ujungnya
dapat diperoleh berdasarkan Persamaan 4.3. untuk kolom dengan
tumpuan sendi-sendi dan tumpuan jepit-jepit, kuat tekan Euler diperoleh
dari Persamaan 4.3 dengan mengganti nilai Ke = 1 untuk kolom dengan
tumpuan sendi-sendi dan nilai Ke =0,5 untuk tumpuan jepit-jepit.

=( )
.......(Pers. 4.3)

3. Karakteristik batang tekan


Berikut beberapa kondisi yang biasa terjadi pada batang tekan :
a. Batang langsing, yakni mempunyai perbandingan L dan b cukup
besar, dibebani beban P lebih kecil daripada Pcr. Karakteristik batang
pada keadaan ini adalah :
1) Batang dalam keadaan kesetimbangan stabil

39
2) Pada saat gaya P bekerja, batang menekuk sebesar δ
3) Apabila gaya P dihilangkan, batang kembali menjadi lurus seperti
semula.

Gambar 4.1 Deformasi batang tekan yang diberi beban P < Pcr
b. Batang dibebani gaya tekan P sama dengan gaya Pcr, maka
karakteristik batang adalah sebagai berikut :
1) Batang dalam kesetimbangan netral
2) Pada saat gaya P bekerja, batang menekuk sebesar δ
3) Apabila gaya P dihilangkan, batang tetap pada keadaan yang baru
(δ = tetap)
4) Gaya kritis Pcr = Ptekuk = Pmax – P, yang dapat didukung oleh
batang

Kesetimbangan netral
P = Pcr

Gambar 4.2 Deformasi batang tekan yang diberi beban P = Pcr


c. Batang dibebani gaya tekan P yang lebih besar dari gaya Pcr, maka
karakteristik batang adalah :

40
1) Batang dalam kesetimbangan (labil)
2) Pada saat gaya P bekerja, batang menekuk sebesar δ
3) Apabila gaya P bekerja dengan berat yang konstan, maka batang
akan menekuk terus menerus sampai akhirnya menjadi patah

P > Pcr Kesetimbangan labil

Gambar 4.3 Deformasi batang tekan yang diberi beban P > Pcr

4. Perencanaan batang tekan


Menurut SNI 7973-2013 spesifikasi disain untuk konstruksi
kayu, batang tekan sederhana terdiri atas satu bagian atau beberapa
bagian yang dilem dengan benar untuk membentuk satu komponen
struktur (lihat Gambar 4.4)

Gambar 4.4 Batang tekan sederhana


Sumber : SNI 7973-2013
Gaya atau tegangan tekan sejajar serat aktual tidak boleh
melebihi nilai desain tekan terkoreksi. Perhitungan fc harus didasarkan

41
atas luas penampang neto apabila penampang tereduksi terjadi di bagian
kritis dari panjang batang tekan yang paling berpotensi mengalami tekuk.
Apabila penampang tereduksi tidak terjadi di bagian kritis dari panjang
batang tekan yang paling berpotensi mengalami tekuk, maka perhitungan
fc harus didasarkan atas luas penampang bruto. Selain itu fc yang
didasarkan atas luas penampang neto tidak boleh melebihi nilai desain
tekan acuan sejajar serat dikalikan dengan semua faktor terkoreksi
kecuali faktor stabilitas batang tekan/kolom, Cp.
Besarnya nilai gaya tekan terfaktor tidak boleh lebih besar dari
kapasitas tekan terkoreksi. Kapasitas tekan terkoreksi yang mampu di
tahan oleh batang tekan dapat dihitung dengan Persamaan 4.5 sampai
Persamaan 4.6. Kapasitas tekan terkoreksi merupakan hasil perkalian
antara kuat tekan sejajar serat terkoreksi dengan luas penampang bruto
kayu.
≤ ′ ......(Pers. 4.4)
= × ......(Pers. 4.5)
Dengan :
: gaya tekan terfaktor
′ : kapasitas tekan terkoreksi
: kuat tekan sejajar serat terkoreksi
: luas penampang bruto
Seperti yang tercantum pada Tabel 3.1 nilai kuat tekan sejajar
serat terkoreksi dapat dihitung dengan Persamaan 4.6 berikut :
= . . . . . . .∅ . ......(Pers. 4.6)
Dengan :
: Kuat tekan sejajar serat (lihat Tabel 2.1)
: Faktor Layan Basah (lihat Tabel 3.2)
: Faktor Temperatur (lihat Tabel 3.3)
: Faktor Ukuran
: Faktor tusukan (lihat Tabel 3.4)

42
: Faktor Stabilitas Kolom
: Faktor Konversi Format (lihat Tabel 3.5)
∅ : Faktor Ketahanan (lihat Tabel 3.6)
: Faktor Efek Waktu (lihat Tabel 3.7)
Untuk faktor ukuran (CF), Menurut SNI 7973-2013 pasal 4.3.6.1
nilai desain tekan sejajar serat acuan untuk kayu dimensi yang tebalnya
50,8 mm sampai 101,6 mm yang dipilah secara visual harus dikalikan
dengan faktor koreksi yang ditetapkan yaitu 1,0.
Apabila komponen struktur tekan ditumpu diseluruh panjangnya
untuk mencegah perpindahan lateral disemua arah, maka faktor stabilitas
kolom (Cp) = 1,0.
Panjang efektif kolom (le) untuk kolom solid harus ditentukan
dengan mengalikan panjang kolom aktual dengan faktor/koefisien
panjang tekuk yang ditetapkan pada Tabel 4.1. atau seperti pada
Persamaan 4.7 berikut :
=( ) ......(Pers. 4.7)
Dimana :
Ke : Koefisien panjang tekuk (dilihat Tabel 4.1)
: panjang kolom
Tabel 4.1 Koefisien panjang tekuk (Ke)

Ragam tekuk

Nilai Ke teoritis 0,5 0,7 1,0 1,0 2,0 2,0


Nilai Ke desain yang disarankan
apabila kondisi ideal merupakan 0,65 0,8 1,2 1,0 2,1 2,4
pendekatan
Tidak dapat berotasi, tidak dapat
bertranslasi
kode kondisi ujung Dapat berotasi, tidak dapat bertranslasi
Tidak dapat berotasi, dapat bertranslasi
Dapat berotasi, dapat bertranslasi
Sumber : SNI 7973-2013

43
Rasio kelangsingan le/d diambil yang terbesar diantara le1/d1
dan le2/d2 (lihat Gambar 4.4). Rasio kelangsingan tidak boleh melebihi
50.

( ) ( )
∗ ∗ ∗
= − ......(Pers. 4.8)

,
= ......(Pers. 4.9)
( )

,
′ = [1 − 1,645. ]
,
......(Pers. 4.10)

Dimana :
* : nilai desain tekan acuan sejajar serat dikalikan dengan semua
faktor koreksi kecuali Cp
′ : modulus elastisitas acuan
COVE : koefisien variasi modulus elastisitas; 0,25 untuk kayu gergajian
yang dipilah secara visual; 0,15 kayu yang dievaluasi secara
mekanis; 0,1 kayu glulam struktural
c : 0,8 untuk kayu gergajian ; 0,85 untuk pancang dan tiang kayu
bundar; 0,9 untuk glulam struktural atau kayu komposit
struktural

Contoh soal
Rencanakan penampang yang mampu menahan beban tekan terfaktor
seperti pada Gambar 4.5, jika diketahui jenis kayu kode mutu E18 dan
kelas mutu A, perletakkan jepit-sendi, kondisi kering udara, temperatur
normal serta kombinasi pembebanan 1,4 D.

44
Gambar 4.5 Sketsa batang tekan dan penampang batang
Penyelesaian :
Kayu kode mutu E18 dan kelas mutu A dengan data-data berikut :
E = 18000 Mpa, Emin = 9000 Mpa, Fc = 13,8 Mpa, = 3800 mm, =
1900 mm, dicoba menggunakan d1 = 100 mm, d2 = 80 mm (lihat Gambar
4.4).
Menentukan panjang efektif kolom berdasarkan Persamaan 4.7.
tumpuan/perletakkan jepit-sendi, maka Ke = 0,7.
=( ) = 0,7 . 3800 = 2660
=( ) = 0,7 . 1900 = 1330
Menentukan rasio kelangsingan le/d
2660
= = 26,6
100
1330
= = 16,625
80
Diambil nilai terbesar le/d = 26,6 < 50 → OK
Menentukan faktor koreksi
CM = 0,8 ( kering udara, Tabel 3.2)
Ct = 1 ( Tabel 3.3)
CF =1
Ci = 0,8 (Tabel 3.4)
Cp dihitung berdasarkan Persamaan 4.7 sampai Persamaan 4.9
, ,
= [1 − 1,645. ]
,
= 18000[1 − 1,645 .0,25] ,

= 6575,56

45
, , . ,
= = ,
= 7,64
( )


= . . . . = (0,8 .13,8). 0,8.1.1.0,8 = 7,06

, , ,
( ) ( )
∗ ∗ ∗ , , ,
= − = . , . ,
− ,
= 0,98

KF = 2,4 (Tabel 3.5)


∅ = 0,9 (Tabel 3.6)
λ = 0,6 (Tabel 3.7)
Menentukan kuat tekan sejajar serat terkoreksi
= . . . . . . .∅ .
= (0,8 .13,8). 0,8 .1.1. 0,8 .0,98 .2,4.0,9.0,6 = 8,97
Menentukan kapasitas tekan sejajar serat terkoreksi
= × = 4,87 × (80.100) = 71,79 > 50 …
Jadi, penampang 80/100 mm mampu menahan beban yang ada.

D. RANGKUMAN
1. Suatu batang disebut sebagai batang tekan apabila arah gaya menekan
tampang atau gayanya menekan batang.
2. Besarnya nilai gaya tekan terfaktor tidak boleh lebih besar dari kapasitas
tekan terkoreksi.
3. Panjang efektif kolom (le) untuk kolom solid harus ditentukan dengan
mengalikan panjang kolom aktual dengan faktor/koefisien panjang tekuk
yang ditentukan berdasarkan tumpuan.

E. EVALUASI
1. Jelaskan pada kondisi seperti apa luas penampang neto menentukan gaya
tekan ?
2. Jelaskan pada kondisi seperti apa menggunakan faktor stabilitas kolom CP
= 1?
3. Rencanakan penampang yang mampu menahan beban tekan terfaktor
seperti pada Gambar 4.6, jika diketahui jenis kayu kode mutu E21 dan

46
kelas mutu A, perletakkan sendi-sendi, kondisi kering udara, temperatur
normal serta kombinasi pembebanan 1,2 DL + 1,6 LL + 0,8 W.

P3

8
P2 P4
1,25 m

7 P = 72,09 kN
6
P1 P5
1,25 m
P = 78,8 kN

1 2 3 4 5 1

@1,75 m x 4

Gambar 4.6 Sketsa kuda-kuda dan gaya dalam dijoint 1

47