Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

REKAYASA JEMBATAN
Disusun Sebagai bukti keikut sertaan Mata Kuliah Rekayasa Jembatan
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang
Oleh :

MUHAMMAD FAHRIZAL ALFIANTO


NIM. 1641320167

DOSEN PENGAJAR
NAWIR RASIDI, DR., ST., MT

PROGRAM SARJANA SAINS TERAPAN

MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI MALANG

i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat – Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah – Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Rekayasa
Jembatan.

Maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai pemenuhan tugas yang
dimaksudkan untuk kelengkapan bukti keikutsertaan pelaksanaan Mata Kuliah Rekayasa
Jembatan.
Laporan Rekayasa Jembatan ini telah kami susun dengan maksimal, dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan Laporan Tugas
Rekayasa Jembatan.
Kami menyadari bahwa hal tersebut terlaksana berkat bantuan berbagai pihak, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bpk. Nawir Rasidi, DR., ST., MT
Terlepas dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca, agar kami dapat memperbaiki laporan ini
menjadi lebih baik.
Akhir kata, kami berharap semoga Laporan Tugas Rekayasa Jembatan ini dapat
memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembaca dan mahasiswa lainnya dan tentunya
dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Malang, 3 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI......................................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
1.1 SEJARAH ............................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ................................................................................................................................... 2
1.5 Definisi Jembatan.................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 3
2.1 Pengertian ............................................................................................................................... 3
2.1.1 Jembatan Golongan I ...................................................................................................... 3
2.1.2 Jembatan Golongan II ..................................................................................................... 4
2.1.3 Klasifikasi menurut tujuan penggunaannya .................................................................... 5
2.1.4 Klasifikasi menurut bahan material yang digunakan ...................................................... 7
2.1.5 Klasifikasi menurut formasi lantai kendaraan............................................................... 11
2.1.6 Klasifikasi menurut struktur / konstruksinya ................................................................ 11
2.1.7 Klasifikasi menurut bidang yang dipotongkan ............................................................. 11
2.1.8 Klasifikasi menurut lokasi ............................................................................................ 12
2.1.9 Klasifikasi menurut keawetan umur.............................................................................. 12
2.2 Bagian – Bagian Konstruksi Jembatan Rangka Baja ............................................................ 12
2.2.1 Bangunan Atas .................................................................................................................. 13
2.2.2 Bangunan Bawah .............................................................................................................. 14
2.3 Komponen Yang Digunakan Pada Jembatan ........................................................................ 16
2.3.1 Pot Bearings .................................................................................................................. 16
2.3.1 Lead Rubber Bearings ................................................................................................... 17
2.3.2 Rocker and Pin Bearings for Bridge Structures ............................................................ 17
2.3.3 Roller Bearings for Bridges .......................................................................................... 19
2.4 Dasar – Dasar Perencanaan Jembatan Rangka Baja ............................................................. 20
2.4.1 Pembebanan .................................................................................................................. 20
BAB III ................................................................................................................................................. 24
PENUTUP ............................................................................................................................................ 24
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 24
3.2 Saran ..................................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 25

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 SEJARAH
Jembatan merupakan struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan
seperti sungai, rel kereta apiataupun jalan raya. Jembatan dibangun untuk penyeberangan
pejalan kaki, kendaraan atau kereta api di atas halangan.Jembatan juga merupakan bagian dari
infrastruktur transportasi darat yang sangat vital dalam aliran perjalanan (traffic flows).
Jembatan sering menjadi komponen kritis dari suatu ruas jalan, karena sebagai penentu beban
maksimum kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut.

Jembatan pertama yang dibuat dengan titian kayu untuk menyeberangi sungai. Ada juga
orang yang menggunakan dua utas tali atau rotan, yang diikat pada bebatuan di tepi sungai.
Seterusnya, batu digunakan, tetapi cuma sebagai rangka. Jembatan gerbang berbentuk melengkung
yang pertama dibuat semasa zaman Emperor Roma, dan masih banyak jembatan dan saluran air
orang Roma yang kenal hingga hari ini. Orang-orang Roma juga mempunyai pengetahuan, yang
mengurangkan perbedaan kekuatan batu yang berbeda. Jembatan bata dan mortar dibuat pada
zaman kaisar Romawi, karena sesudah zaman tersebut, teknologi pengetahuan telah hilang. Pada
Zaman Pertengahan, tiang-tiang jembatan batu biasanya lebih besar sehingga menyebabkan
kesulitan kepada kapal-kapal yang lalu-lalang di sungai tersebut.

Pada abad ke-18, mulai banyak pembaruan dalam pembuatan jembatan kayu oleh Hans
Ulrich, Johannes Grubenmann dan lain-lain. Dengan kedatangan Revolusi Industri pada abad ke-
19, sistem rangka (truss system) menggunakan besi untuk memajukan untuk pembuatan jembatan
yang lebih besar, tetapi besi tidak mempunyai kekuatan ketegangan (tensile strength) yang cukup
untuk beban yang besar. Apabila mempunyai kekuatan ketegangan yang tinggi, jembatan yang
lebih besar akan dibuat, kebanyakannya menggunakan idea Gustave Eiffel, yang pertama kali
dipertunjukkan di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Yang sesuai digunakan untuk pembuatan
jembatan yang panjang karena ia mempunyai kekuatan kepada berat yang tinggi, tetapi konkrit pula
mempunyai kos penjagaan yang lebih murah. Jadi, selalunya "konkrit diperkuat" (reinforced
concrete) digunakan - kekuatan ketegangan konkrit yang lemah diisi oleh kabel tembaga yang
ditanam di dalam konkrit itu.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Jembatan ?
2. Apa saja komponen Jembatan ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami apa yang dimaksud
dengan Jembatan Gantung.
2. Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui apa saja komponen Jembatan
Gantung.

1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah :
1. Menambah wawasan mahasiswa/mahasiswi tentang jenis – jenis jembatan.
2. Menambah wawasan mahasiswa/mahasiswi tentang jembatan gantung khususnya.

1.5 Definisi Jembatan


Jembatan merupakan suatu bangunan sipil yang dibuat untuk menyebrangi atau
melintasi rintangan baik yang terjadi di alam maupun buatan mausia. Jembatan
dapat dikelompokan menjadi beberapa jenis.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu
rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain (jalan air atau jalan lalulintas
biasa). Jika jembatan itu berada di atas jalan lalulintas biasa maka biasanya dinamakan viaduct.
Menurut Ir. H.J. Struyk dan Prof. Ir. K.H.C.W. Van der Veen, jembatan dapat dibagi dalam
golongan – golongan seperti berikut :

I. Jembatan – jembatan tetap,

II. Jembatan – jembatan dapat digerakkan,

2.1.1 Jembatan Golongan I

a. Jembatan kayu, digunakan untuk lalulintas biasa pada bentangan kecil dan untuk jembatan
pembantu.

b. Jembatan baja, terbagi atas :

1. Jembatan yang sederhana dimana lantai kendaraannya langsung berada di atas gelagar –
gelagar. Untuk gelagar – gelagar itu dipergunakan gelagar – gelagar yang dikonstruir atau
gelagar – gelagar canai.

2. Jembatan – jembatan gelagar kembar, digunakan untuk lalulintas kereta api, dengan batang
rel diantara balok – balok.

3. Jembatan dengan pemikul lintang dan pemikul memanjang, gelagar induknya ialah gelagar
dinding penuh yang dikonstruir atau gelagar pekerjaan vak.

3
4. Jembatan pelengkungan.

5. Jembatan gantung

c. Jembatan – jembatan dari beton bertulang, dalam golongan ini termasuk juga jembatan –
jembatan yan gelagar – gelagarnya di dalam beton.

d. Jembatan batu, hampir tidak ada kecuali dipergunakan untuk lalulintas biasa.

2.1.2 Jembatan Golongan II


a. Jembatan – jembatan yang dapat berputar di atas poros mendatar, yaitu :

1. Jembatan – jembatan angkat.

2. Jembatan – jembatan baskul.

3. Jembatan lipat Straus.

b. Jembatan yang dapat berputar di atas poros mendatar juga termasuk poros – poros yang dapat
berpindah sejajar dan mendatar, seperti apa yang dinamakan jembatan – jembatan baskul
beroda.

c. Jembatan – jembatan yang dapat berputar di atas suatu poros tegak, atau jembatan – jembatan
putar.

d. Jembatan yang dapat berkisar ke arah tegak lurus atau mendatar.

1. Jembatan angkat.

2. Jembatan beroda.

3. Jembatan gojah atau ponts transbordeur.

Untuk jembatan – jembatan dalam golongan ini terutama digunakan konstruksi – konstruksi baja.
Dilaksanakan sebagai gelagar dinding penuh atau sebagai pekerjaan vak.
Pada umumnya jembatan dapat diklasifikasikan dalam 7 (tujuh) jenis yaitu :

4
2.1.3 Klasifikasi menurut tujuan penggunaannya
1. Jembatan jalan raya

Jembatan yang direncanakan untuk memikul beban lalu lintas kendaraan baik kendaraan
berat maupun ringan. Jembatan jalan raya ini menghubungkan antara jalan satu ke jalan
lainnya.

2. Jembatan jalan kereta api

Jembatan yang dirancang khusus untuk dapat dilintasi kereta api. Perencanaan jembatan ini
dari jalan rel kereta api, ruang bebas jembatan, hingga beban yang diterima oleh jembatan
disesuaikan dengan kereta api yang melewati jembatan tersebut.

3. Jembatan pipa dan saluran

Jembatan ini digunakan untuk pipa yang mengalirkan gas.

5
4. Jembatan air

Jembatan ini hanya digunakan untuk air dan dilintasi oleh perah maupun kapal.

5. Jembatan militer

Suatu jenis jembatan sederhana yang didesain untuk keperluan operasi militer. Jembatan
ini harus siap dalam bagian-bagian kecil agar dapat diangkut secara cepat setiap saat.
Jembatan militer harus dapat didirikan secara mudah dan cepat,dan ketika dipindahkan
tidak perlu dirakit kembali.

6. Jembatan pejalan kaki / penyeberangan

6
Jembatan yang digunakan untuk penyeberangan jalan. Fungsi dari jembatan ini yaitu untuk
memberikan ketertiban pada jalan yang dilewati jembatan penyeberangan tersebut dan
memberikan keamanan serta mengurangi faktor kecelakaan bagi penyeberang jalan.

2.1.4 Klasifikasi menurut bahan material yang digunakan


1. Jembatan kayu

Kayu merupakan bahan yang cukup kuat dan kaku untuk dijadikan sebagai bahan bangunan,
dan kayu juga relatif mudah dibentuk dan dipotong-potong sesuai keingginan. Namun
dengan semakin majunya teknologi dan pengetahuan tentang material, orang-orang beralih
menggunakan beton maupun baja dalam pembuatan infrastruktur khususnya jembatan
sehingga untuk saat ini sudah sulit ditemui jembatan yang terbuat dari kayu.
Berikut Kekurangan serta kelebihan Penggunaaan Kayu pada jembatan

 Kelebihan :

a. Untuk membuat jembatan dengan bentang yang pendek, kayu lebih mudah dibentuk,
karena dapat dipotong-potong, sehingga pengerjaanya lebih mudah dibangdingkan dengan
pembuatan jembatan dari bahan beton atau baja.

b. Untuk beberapa jenis kayu tertentu, harga yang diperlukan untuk memperoleh kayu
untuk membuat jembatan (dengan bentang yang pendek) lebih murah daripada
menggunakan bahan beton maupun baja.

c. Lebih ramah lingkungan.

 Kekurangan :

7
a. Karena kayu berasal dari alam kualitas bahan kayu sulit untuk dikontrol. Sering kita
jumpai cacat produk kayu gergajian baik yang disebabkan proses tumbuh maupun
kesalahan akibat olah dari produk kayu.

b. Dibanding dengan bahan beton dan baja, kayu memiliki kekurangan terkait dengan
ketahanan-keawetan. Kayu dapat membusuk karena jamur dan kandungan air yang
berlebihan, lapuk karena serangan hama dan lebih mudah terbakar jika tersulut api.

c. Tidak semua daerah mudah dalam memperoleh kayu dengan kualitas yang diinginkan.

2. Jembatan baja

3. Jembatan beton / beton bertulang (RC)

Beberapa sifat yang dimiliki beton sehingga dapat dibandingkan dengan baja maupun kayu
sebagai material pembentuk bangunan jembatan adalah sebagai berikut.

 Keamanan :
Material beton merupakan material yang aman jika dikaitkan dengan bahaya benturan/
impak, api dan angin. Hal ini berkaian dengan karakternya yang berat dan kaku, tanpa
diperlukan suatu perlakukan khusus, beton bahkan mempunyai ketahanan terhadap
temperatur yang sangat tinggi tanpa kehilangan kemampuan integritas strukturnya . Selain
itu, bangunan beton bertulang memiliki ketahanan yang cukup tinggi terhadap bahaya angin,
sebuah gedung yang dibangun dengan beton bertulang yang dicor ditempat mampu menahan
angin dengan kecepatan 200 mil /jam.
Dengan design yang baik, beton juga dapat memenuhi kriteria yang diharapkan untuk
keperluan ketahanan terhadap beban gempa misalnya untuk memenuhi faktor kekakuan dan
daktilitas.

8
 Harga
Menurut Ed Alsamsam, (PCA’s manager of buildings and special structures) Secara umum,
harga material beton di dunia adalah relatif stabil, dimana fluktuasi harga material penyusun
beton tidak terlalu besar, bahkan fluktuasi harga baja tulangan untuk beton pun tidak terlalu
berpengaruh pada harga beton bertulang secara signifikan. Terutama untuk skala proyek
yang besar dan dalam jangka waktu panjang, prediksi rugi laba suatu kontrak proyek lebih
mudah diprediksi.

 Fleksibilitas Design :
Mengingat sifat beton yang mudah dibentuk, berbagai tampilan sesuai selera dan seni dapat
dipenuhi. Berbagai bentuk struktur bangunan beton bisa mengakomodasi keinginan para
arsitek, sehingga banyak dijumpai sruktur gedung atau bangunan lain dengan nilai estetis
yang sangat tinggi.

 Waktu pelaksaan :
Khusus untuk beton yang dicor ditempat, waktu pelaksanaan konstruksi relatif lebih
panjang, mulai dari pembuatan peracah dan acuan beton/bekisting, pemberian tulangan,
pengecoran dan perawatan beton memerlukan waktu yang cukup panjang sampai umur
beton yang cukup tercapai untuk dapat dilakukan pembongkaran perancah/steger. Beberapa
bahan aditif bisa ditambahkan untuk mempercepat proses pengeringan beton.

4. Jembatan beton prategang (PC)

Beton prategang adalah beton yang diberi tegangan-tegangan internal agar dapat
mengurangi bahkan menghilangkan gaya tarik didalamnya. Beton yang digunakan pada
konstruksi ini umumnya adalah pracetak dan metode pemasangannya pun segmental,yaitu
tahap demi tahap setiap bentangnya.

9
 Kelebihan

1. Terhindar dari keretakan.Tujuan menggunakan beton prategang sendiri untuk


menghindari jembatan dari keretakan pada beton maupun keseluruhan, maka dalam
beton diberikan tegangan agar dapat mengurangi daya tarik yang ada.

2. Kedap air dan kuat terhadap pergeseran. Kemampuan beton prategang ini membuatna
cocok untuk konstruksi pengairan.

3. Struktur lebih kecil. Beton prategang ini tulangannya lebih sedikit dibanding beton
konvensional,sehingga stukturnya pun lebih kecil dan langsing karena dibuat serta
dipasang secara effisien.

 Kekurangan

1. Dibutuhkan Kemampuan Tinggi dan Peralatan Memadai. Pada prosesnya, beton


prategang tidak dapat dilakukang oleh sembarang orang dan proses pemberian
tegangan nya juga menggunakan peralatan khusus.

2. Biaya lebih besar. Karena membutuhkan sumber daya manusia dan peralatan yang
khusus berarti membutuhkan biaya yang lebih besar, dan material yang digunakan
adalah material yang berkualitas tinggi sehinga berpengaruh pada biaya yang
dikeluarkan.

4. Jembatan batu bata

Masonry Bridge dan membangun jembatan bata terutama terbuat dari batu dan batu bata.
Untuk membuat sebuah jembatan konstruksi batu dan bata pada umumnya harus
membuat jembatan melengkung. Sebagai waktu pengembangan jembatan ini tidak lagi
digunakan.

10
5. Jembatan komposit

kombinasi dua material atau lebih dengansifat bahan yang berbeda dan membentuk satuke
satuan sehingga menghasilkan sifat gabungan yanglebih baik.Jembatan komposit yang um
um digunakan adalahkombinasi antara bahan konstruksi baja denganbeton bertuang, yaitu
dengan mengkombinasikanbaja sebagai deck (gelagar)
dan beton bertulangsebagai plat lantai jembatan.

2.1.5 Klasifikasi menurut formasi lantai kendaraan


1. Jembatan lantai atas

2. Jembatan lantai tengah

3. Jembatan lantai bawah

4. Jembatan double deck

2.1.6 Klasifikasi menurut struktur / konstruksinya


1. Jembatan gelagar (Girder Bridge)

2. Jembatan Rangka (Truss Bridge)

3. Jembatan portal (Rigid Frame Bridge)

4. Jembatan pelengkung (Arch Bridge)

5. Jembatan gantung (Suspension Bridge)

6. Jembatan kabel (Cable Styed Bridge)

2.1.7 Klasifikasi menurut bidang yang dipotongkan


1. Jembatan tegak lurus

2. Jembatan lurus (Straight Bridge)

3. Jembatan menceng (Skewed Bridge)

11
4. Jembatan lengkung (Curved Bridge)

2.1.8 Klasifikasi menurut lokasi


1. Jembatan biasa

2. Jembatan viaduct

3. Jembatan layang (Overbridge /Roadway Crossing)

4. Jembatan kereta api


2.1.9 Klasifikasi menurut keawetan umur
1. Jembatan darurat

2. Jembatan sementara

3. Jembatan permanen

2.2 Bagian – Bagian Konstruksi Jembatan Rangka Baja


Secara umum konstruksi jembatan rangka baja memiliki dua bagian yaitu bangunan atas (upper
structure) dan bangunan bawah (sub structure). Bangunan atas adalah konstruksi yang
berhubungan langsung dengan beban – beban lalu lintas yang bekerja. Sedangkan bangunan bawah
adalah konstruksi yang menerima beban – beban dari bangunan atas dan meneruskannya ke lapisan
pendukung (tanah keras) di bawahnya.
Gambar 2.1 Bagian – bagian konstruksi jembatan rangka baja

12
2.2.1 Bangunan Atas
Bangunan atas terletak pada bagian atas konstruksi jembatan yang menampung beban – beban lalu
lintas, orang, barang dan berat sendiri konstruksi yang kemudian menyalurkan beban tersebut ke
bagian bawah.

Bagian – bagian bangunan atas suatu jembatan terdiri dari :

1. Sandaran
Berfungsi untuk membatasi lebar dari suatu jembatan agar membuat rasa aman bagi lalu lintas
kendaraan maupun orang yang melewatinya, pada jembatan rangka baja dan jembatan beton
umumnya sandaran dibuat dari pipa galvanis.

2. Rangka Jembatan
Rangka jembatan terbuat dari baja profil seperti type WF, sehingga lebih baik dalam menerima
beban – beban yang bekerja secara lateral (beban yang bekerja tegak lurus terhadap sumbu batang).

3. Trotoar
Merupakan tempat pejalan kaki yang terbuat dari beton, bentuknya lebih tinggi dari lantai jalan
atau permukaan aspal. Lebar trotoar minimal cukup untuk dua orang berpapasan dan biasanya
berkisar antara 0,5 – 1,5 meter dan dipasang pada bagian kanan serta kiri jembatan. Pada ujung tepi
trotoar (kerb) dipasang lis dari baja siku untuk penguat trotoar dari pengaruh gesekan dengan roda
kendaraan.

4. Lantai Kendaraan
Merupakan lintasan utama yang dilalui kendaraan, lebar jalur kendaraan yang diperkirakan cukup
untuk berpapasan, supaya jalan kendaraan dapat lebih leluasa. Dimana masing – masing lajur
umumnya memiliki lebar 2,75 meter.

5. Gelagar Melintang
Berfungsi menerima beban lantai kendaraan, trotoar dan beban lainnya serta menyalurkannya ke
rangka utama.

6. Ikatan Angin Atas / Bawah dan Ikatan Rem


Ikatan angin berfungsi untuk menahan atau melawan gaya yang diakibatkan oleh angin, baik pada
bagian atas maupun bagian bawah jembatan agar jembatan dalam keadaan stabil.Sedangkan ikatan

13
rem berfungsi untuk menahan saat terjadi gaya rem akibat pengereman kendaraan yang melintas di
atasnya.

7. Landasan / Perletakan
Landasan atau perletakan dibuat untuk menerima gaya – gaya dari konstruksi bangunan atas baik
secara horizontal, vertikal maupun lataeral dan menyalurkan ke bangunan di bawahnya, serta
mengatasi perubahan panjang yang diakibatkan perubahan suhu dan untuk memeriksa
kemungkinan rotasi pada perletakan yang akan menyertai lendutan dari struktur yang dibebani.
Ada dua macam perletakan yaitu sendi, rol dan elastomer.

Perletakan elastomer
Tumpuan elastomer dapat mengikuti perpindahan tempat ke arah vertikal dan horizontal dan rotasi
atau kombinasi gerakan – gerakan bangunan atas jembatan. Perletakan elastomer terbuat dari karet
alam dan pelat baja yang diikat bersatu selama vulkanisasi. Tersedia dalam bentuk sirkular dan
persegi. Perletakan persegi lebih hemat, tetapi bila perletakan memikul simpangan atau perputaran
dalam kedua arah secara bersamaan harus dipilih type sirkular. Elastomer merupakan bantalan
berlapis yang memikul beban – beban vertikal maupun horizontal dari gelagar jembatan sekaligus
berfungsi sebagai penyerap getaran.

2.2.2 Bangunan Bawah


Bangunan ini terletak pada bagian bawah konstruksi yang fungsinya untuk memikul beban – beban
yang diberikan bangunan atas, kemudian disalurkan ke pondasi dan dari pondasi diteruskan ke
tanah keras di bawahnya. Dalam perencanaan jembatan masalah bangunan bawah harus mendapat
perhatian lebih, karena bangunan bawah merupaka salah satu penyangga dan penyalur semua beban
yang bekerja pada jembatan termasuk juga gaya akibat gempa. Selain gaya – gaya tersebut, pada
bangunan bawah juga bekerja gaya – gaya akibat tekanan tanah dari oprit serta barang – barang
hanyutan dan gaya – gaya sewaktu pelaksanaan.
Ditinjau dari konstruksinya, bangunan bawah dapat dibagi dalam beberapa tahap pekerjaan, dan
digabung sehingga merupakan satu kesatuan bagian struktur dari jembatan. Bagian – bagian yang
termasuk bangunan bawah yaitu :

14
1. Abutment
Abutment atau kepala jembatan adalah salah satu bagian konstruksi jembatan yang terdapat pada
ujung – ujung jembatan yang berfungsi sebagai pendukung bagi bangunan diatasnya dan sebagai
penahan tanah timbunan oprit. Konstruksi abutment juga dilengkapi dengan konstruksi sayap untuk
menahan tanah dengan arah tegak lurus dari as jalan. Bentuk umum abutment yang sering dijumpai
baik pada jembatan lama maupun jembatan baru pada prinsipnya semua sama yaitu sebagai
pendukung bangunan atas, tetapi yang paling dominan ditinjau dari kondisi lapangan seperti daya
dukung tanah dasar dan penurunan (seatlement) yang terjadi. Adapun jenis abutment ini dapat
dibuat dari bahan seperti batu atau beton bertulang dengan konstruksi seperti dinding atau tembok.

2. Pilar (Pier)
Pilar adalah suatu bangunan bawah yang terletak di tengah – tengah bentang antara dua buah
abutment yang berfungsi juga untuk memikul beban – beban bangunan atas dan bangunan lainnya
dan meneruskannya ke pondasi serta disebarkan ke tanah dasar yang keras. Beberapa hal yang
menjadi pertimbangan dalam menggunakan pilar pada suatu konstruksi jembatan antara lain
ditinjau dari :
- Bentang jembatan yang akan direncanakan.

- Kedalaman sungai atau perilaku sungai.

- Elemen struktur yang akan digunakan.

Pada umumnya pilar jembatan dipengaruhi oleh aliran (arus) sungai, sehingga dalam perencanaan
perlu diperhatikan dari segi kekuatan dan keamanan dari bahan – bahan hanyutan dan aliran sungai
itu sendiri, maka bentuk dan penempatan pilar tidak boleh menghalangi aliran air terutama pada
saat banjir. Bentuk pilar yang paling ideal adalah elips dan dibentuk selangsing mungkin, sehingga
memungkinkan aliran sungai dapat mengalir lancar disekitar konstruksi. Beberapa macam bentuk
pilar :

3. Pondasi
Pondasi berfungsi untuk memikul beban di atas dan meneruskannya ke lapisan tanah
pendukungnya tanpa mengalami konsolidasi atau penurunan yang berlebihan. Adapun hal yang
diperlukan dalam perencanaan pondasi diantaranya :
- Daya dukung tanah terhadap konstruksi.

- Beban – beban yang bekerja pada tanah baik secara langsung maupun tidak langsung.

15
- Keadaan lingkungan seperti banjir, longsor dan lainnya.

Secara umum jenis pondasi yang sering digunakan pada jembatan ada 3 (tiga) macam yaitu :
a) Pondasi langsung

b) Pondasi sumuran

c) Pondasi dalam (pondasi tiang pancang / bor).

2.3 Komponen Yang Digunakan Pada Jembatan


2.3.1 Pot Bearings

Jenis elastomeric bearing pad ini paling cocok dipergunakan pada jembatan atau struktur yang
tidak memiliki ruang yang cukup besar untuk pemasangan elastomeric bearing pad. Selain
itu elastomeric bearing pad jenis ini memiliki kinerja yang cukup bagus untuk digunakan pada
struktur jembatan yang memiliki kelengkungan dan kemiringan serta membutuhkan kontrol
arah dan rotasi yang tinggi pula. Elastomeric bearing pad jenis ini dirancang untuk
mengakomodasi beban vertical yang besar melalui penerapan system piston dan bantalan karet
yang terdapat di dalam pot bearing tersebut.

16
2.3.1 Lead Rubber Bearings

Jenis elastomeric bearing pad dengan satu atau lebih silinder / plug di tengah diberi nama
sebagai intibantalan karet yang memiliki fungsi sebagai sarana tambahan yang sangat efektif
untuk meredam saat terjadinya goncangan atau getaran yang sangat besar /
ekstrim. Elastomeric bearing pad jenis ini juga sangat membantu untuk mencegah terjadi
kerusakan yang parah pada saat terjadi gempa bumi dan pada saat menahan gelombang pasang
maupun banjir.

2.3.2 Rocker and Pin Bearings for Bridge Structures


Rocker is an expansion bearing composed of curved surface at the bottom, which accommodate
translational movement and a pin at the top makes room for rotation movement as illustrated
Figure-2 and Figure-3 in detail.

Fig.2: Rocker Bridge Bearing

17
Fig.3: Rocker Bridge Bearing

Pin bearing is a fixed bearing that make room for rotation movement through the application
of steel pin. It has similar structure and component like rocker bearing apart from the bottom
of pin bearing which is flat and fixed to the concrete pier, as can be observed in Figure-4.

Fig.4: Pin Bearing for Bridges

Both rocker and pin bearings are mainly employed in steel bridge structure. Rocker and pin
bearing should be considered when the bridge movement is adequately known and described,
since such bearings can make rooms for both translational and rotational movements in one
direction only.

18
These bearings are likely to suffer deterioration and corrosion, so it is necessary to conduct
regular inspection and maintenance.

2.3.3 Roller Bearings for Bridges


Roller bearing can be used in the construction of reinforced concrete and steel bridge structure.
There are two main configurations including single roller bearing which is composed of one
roller placed between two plates and multiple roller bearing that consist of several rollers
installed between two plates.

The former as shown in Figure-5 can accommodate both rotation and translation movement in
longitudinal direction and it is cheap to manufacture but its vertical load capacity is limited.

In contrary, the latter as shown in Figure-6 can make room for translation movement only and
rotation movement can be accommodated if rollers are combined with pin bearing. Multiple
roller bearings are expensive and support considerably large vertical loads.

Regular inspection and rehabilitation should be conducted since roller bearing are susceptible
to corrosion and damages.

Fig.5: Single Roller Bridge Bearing

19
Fig.6: Multiple Roller Bridge Bearing

2.4 Dasar – Dasar Perencanaan Jembatan Rangka Baja


2.4.1 Pembebanan
Dalam perencanaan pembebanan sebaiknya berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Dirjen Bina
Marga Departemen Pekerjaan Umum yaitu RSNI T-02-2005 Standar Pembebanan Untuk
Jembatan. Standar ini menetapkan ketentuan pembebanan dan aksi – aksi lainnya yang akan
digunakan dalam perencanaan jembatan jalan raya termasuk jembatan pejalan kaki dan bangunan
– bangunan sekunder yang terkait dengan jembatan. Beban – beban, aksi – aksi dan metoda
penerapannya boleh dimodifikasi dalam kondisi tertentu, dengan seizin pejabat yang berwenang.
Butir – butir tersebut di atas harus digunakan untuk perencanaan seluruh jembatan termasuk
jembatan bentang panjang dengan bentang utama > 200 m.
a. Umum

1. Masa dari setiap bagian bangunan harus dihitung berdasarkan dimensi yang tertera dalam gambar
dan kerapatan masa rata – rata dari bahan yang digunakan.

2. Berat dari bagian – bagian bangunan tersebut adalah masa dikalikan dengan percepatan gravitasi
(g). Percepatan gravitasi yang digunakan dalam standar ini adalah 9,8 m/dt². Besarnya kerapatan
masa dan berat isi untuk berbagai macam bahan diberikan dalam tabel 2.3.

3. Pengambilan kerapatan masa yang besar mungkin aman untuk suatu keadaan batas, akan tetapi
tidak untuk keadaan yang lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut dapat digunakan faktor beban
terkurangi. Akan tetapi apabila kerapatan masa diambil dari suatu jajaran harga, dan harga yang
sebenarnya tidak bisa ditentukan dengan tepat, maka perencana harus memilih – milih harga

20
tersebut untuk mendapatkan keadaan yang paling kritis. Faktor beban yang digunakan sesuai
dengan yang tercantum dalam standar ini dan tidak boleh diubah.

4. Beban mati jembatan terdiri dari berat masing – masing bagian struktural dan elemen – elemen
non struktural. Masing masing berat elemen ini harus dianggap sebagai aksi yang terintegrasi pada
waktu menerapkan faktor beban biasa dan yang terkurangi. Perencana jembatan harus
menggunakan kebijaksanaannya di dalam menentukan elemen – elemen tersebut.

5. Tipe aksi, dalam hal tertentu aksi bisa meningkatkan respon total jembatan (mengurangi
keamanan) pada salah satu bagian jembatan, tetapi mengurangi respon total (menambah keamanan)
pada bagian lainnya.

- Tak dapat dipisah – pisahkan, artinya aksi tidak dapat dipisah ke dalam salah satu bagian yang
mengurangi keamanan dan bagian lain yang menambah keamanan (misalnya pembebanan “T”).

- Tersebar dimana bagian aksi yang mengurangi keamanan dapat diambil berbeda dengan bagian
aksi yang menambah keamanan (misalnya beban mati tambahan).

Tabel 2.1 Ringkasan aksi – aksi rencana

21
b. Berat sendiri
Tabel 2.2 Faktor beban untuk berat sendiri

Berat sendiri dari bagian bangunan adalah berat dari bagian tersebut dan elemen – elemen struktural
lain yang dipikulnya. Termasuk dalam hal ini adalah berat bahan dan bagian jembatan yang
merupakan elemen struktural, ditambah dengan elemen non struktural yang dianggap tetap.
Beban mati jembatan terdiri dari berat masing – masing bagian struktural dan elemen – elemen
non-struktural. Masing – masing berat elemen ini harus dianggap sebagai aksi yang terintegrasi
pada waktu menerapkan faktor beban biasa dan yang terkurangi. Perencana jembatan harus
menggunakan kebijaksanaannya didalam menentukan elemen – elemen tersebut.

Tabel 2.3 Berat isi untuk beban mati (KN/m³)

22
c. Beban mati tambahan / utilitas
Tabel 2.4 Faktor beban untuk beban mati tambahan

1. Pengertian dan persyaratan


Beban mati tambahan adalah berat seluruh bahan yang membentuk suatu beban pada jembatan yan
merupakan elemen non struktural, dan besarnya dapat berubah selama umur jembatan.
Dalam hal tertentu harga KMA yang telah berkurang boleh digunakan dengan persetujuan instansi
yang berwenang. Hal ini bisa dilakukan apabila instansi tersebut mengawasi beban mati tambahan
sehingga tidak dilampaui selama umur jembatan.
Pasal ini tidak berlaku untuk tanah yang bekerja pada jembatan.

2. Ketebalan yang diizinkan untuk pelapisan kembali permukaan


Kecuali ditentukan lain oleh instansi yang berwenang, semua jembatan harus direncanakan untuk
bisa memikul beban tambahan yang berupa aspal beton setebal 50 mm untuk pelapisan kembal
dikemudian hari. Lapisan ini harus ditambahkan pada lapisan permukaan yang tercantum dalam
gambar. Pelapisan kembali yang diizinkan adalah merupakan beban nominal yang dikaitkan
dengan faktor beban untuk mendapatkan beban rencana.

3. Sarana lain di jembatan


Pengaruh dari alat pelengkap dan sarana umum yang ditempatkan pada jembatan harus dihitung
setepat mungkin. Berat dari pipa untuk saluran air bersih, saluran air kotor dan lain – lainnya harus
ditinjau pada keadaan kosong dan penuh sehingga kondisi yang paling membahayakan dapat
diperhitungkan.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Jembatan sering digunakan sebagai prasarana transportasi yang penting.
Struktur jembatan ini terdiri dari gabungan berbagai komponen struktural
seperti pilar, kabel dan dek jembatan. Dek jembatan yang diangkur pada pilar.
Dengan demikian, semua gaya-gaya gravitasi maupun lateral yang bekerja
pada dek jembatan akan ditransfer ke tanah melalui pilar.
2. Terdapat 2 Bagian konstruksi jembatan, yaitu bangunan atas (upper structure)
yang berhubungan dengan beban-beban lalu lintas yang bekerja, dan bangunan
bawah (substructure) yang berfungsi untuk menerima beban-beban bangunan
atas dan meneruskannya ke lapisan pendukung dibawahnya.

3.2 Saran
Dalam konstruksi jembatan haruslah memperhatikan setiap komponen dan faktor
– faktor teknisnya. Baik itu dari segi keamanan, kenyaman dan keekonomisannya.
Sehingga tidak hanya fokus pada kekuatannya saja.Dibutuhkan tenaga yang benar
benar ahli agar jembatan dapat berdiri secara efisien,efektif dan tahan terhadap
gangguan alam.

24
DAFTAR PUSTAKA

http://ilmu-teknik-sipil-indonesia.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-dan-jenis-struktur-
jembatan.html
https://www.academia.edu/6332626/Jenis_-_jenis_Jembatan.html
http://www.testindo.com/article/359/penjelasan-konstruksi-jembatan-lengkap

https://prezi.com/esexi4sdezvf/pemilihan-tipe-bearing-jembatan/?webgl=0

25