Anda di halaman 1dari 48

Prosedur regristrasi kunjungan pasien

Pengertian Regristrasi kunjungan pasien adalah tata laksana administrasi pasien yang
akan melakukan tindakan hemodialisi, baik untuk pasien baru maupun
pasien lama.
Tujuan Memberikan pelayanan yang baik untuk pasien
Kebijakan 1. Pasien wajib melengkapi persyaratan administrasi dan
menyerahkan dokumen yang di perlukan.
2. Pasien jaminan JKN wajib menyerahkan fotokopi kartu BPJS
(JKN), surat rujukam puskesmas atau surat rujukan RSUD /RS
yang masih berlaku
3. Pasien jamkesda wajib menyerahkan fotokopi kartu peserta
(jamkesda), surat rujukan puskesmas dan surat jaminan pelayanan
dengan stempel yang masih berlaku
4. Pasien wajib menandatangani SEP (Surat Elegibilitas Peserta)
5. Petugas pendaftaran memberikan persyaratan dan SEP kepada
pasien untuk diberikan kepada petugas admin unit hemodialisa.
Prosedur 1. Pasien mendaftarkan diri ke petugas pendaftaran RS.
2. Pasien jaminan wajib menyerahkan berkas pendukung untuk
kelengkapan, klaim terutama surat rujukan.
3. Petugas pendaftaran menginput data pasien untuk regristrasi
kunjungan HD dan menerbitkan Surat Elegibilitas Peserta (SEP)
untuk pasien dengan jaminan
4. Jika dokumen pasien jaminan tidak lengkap maka pasien wajib
melengkapi dokumen tersebut.
5. Petugas pendaftaran mengarahkan pasien ke unit hemodialisis
untuk dilakukan tindakan hemodialisis.
6. Pasien menandatangani SEP dan menyerahkan SEP ke petugas
admin.
7. Pasien menimbang berat badan.
8. Petugas admin mencatat berat badan pasien ke form daftar hadir
dan memberikan form informconcent tindakan hemodialisis dan
status harian hemodialisis kepada pasien untuk diberikan kepada
perawat.
9. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri
maka petugas mengantarkan dengan kursi roda.
10. Pasien memberikan form infom concent dan status harian
hemodialisis kepada perawat kemudian perawat menuliskan daftar
tindakan, pemeriksaan lab dan obat pasien jika ada di lembar
kuitansi.
Unit terkait Pendaftaran RS

Prosedur pendaftaran inisiasi hd pasien baru

Pengertian Pendaftaran hemodialisis pasien baru merupakan suatu pedoman


dalam menerima pasien gagal ginjal kronis yang baru pertama kali HD
(HD inisiasi) atau pertama kali datang ke unit hemodialisis.
Tujuan Sebagai acuan petugas dalam pelaksanaan pendaftaran pasien, untuk
mengetahui keadaan pasien secara umum dan meningkatkan pelayanan
pasien.
Kebijakan 1. Pendaftaran pasien baru harus diterima oleh petugas pendaftaran
RS.
2. Pasien baru wajib mengisi form data umum pasien.
3. Pasien wajib memberikan data yang diminta oleh pendaftaran
RS.
4. Pasien travelling wajib memberikan surat travelling dari RS/
klinik asal pasien biasa melakukan HD
5. Pasien wajib memberikan surat pengantar HD inisiasi dari
dokter konsultan Ginjal Hipertensi atau Dokter Spesialis
Penyakit dalam bersertifikat HD.
6. Petugas admin unit hemodialisis wajib menginformasikan dan
menjelaskan mengenai persyaratan dan tata tertib dalam unit.
Prosedur 1. Pasien baru mendaftaran diri pada petugas pendaftaran RS
2. Pasien wajib mengisi data umum pasien dan sesuai dengan
identitas pasien (KTP)
3. Pasien membawa hasil laboratorium dasar ( Hb, Ur, Cr) dan
laboratorium pendukung (HbsAg, Anti HCV, Anti HIV) yang
disertai dengan tanggal pemeriksaan.
4. Hasil lab terakhir minimal 3 bulan terakhir atau dapat kurang
dari 3 bulan sesuai dengan indikasi dokter.
5. Pasien tarvelling wajib menyerahkan formulir Travelling
Dialisis adalah formulir yang digunakan oleh pasien untuk
hemodialisis ditempat lain (bukan tempat rutin/asal pasien biasa
melakukan hemodilisis)
6. Formulir Travelling Hemodialysis berisi :
a. Identitas pasien
b. Data dialisis pasien
c. Hasil pemeriksaan laboraturium dasar : Hb, Ur, Cr
d. Hasil pemeriksaan penunjang anti HIV, anti HCV, HbsAg
e. Obat-obatan yang dikonsumsi pasien.
7. Surat pengantar HD inisiasi adalah surat pengantar dari dokter
konsultan Ginjal Hipertensi/ dokter Spesialis Penyakit Dalam
bersertifikat HD untuk pasien yang pertama kal9i melakukan
tindakan HD.
8. Jika persyaratan sudah lengkap, petugas pendaftaran konfirmasi
ke admin unit hemodialisis untuk memastikan ada atau tidaknya
tempat untuk tindakan hemodialisis dan penjadwalan tindakan
hemodialisis.
9. Petugas pendaftaran mengarahkan pasien baru ke admin unit
hemodialisis untuk mengatur penjadwalan tindakan
hemodialisis.
10. Petugas admin wajib menjelaskan persyaratan dan tata tertib
dalam unit hemodialisis dan pasien wajib menandatangani
Peraturan dan tata tertib ruangan setelah mendapatkan
penjelasan dari petugas admin.
11. Petugas admin mengantarkan pasien baru ke dokter untuk
mendapatkan penjelesan mengenai HD.

Unit terkait Pendaftaran RS

Prosedur penjadwalan tindakan hemodialisa

Pengertian Merupakan proses pengaturan waktu atau jadwal pelaksanaan tindakan


hemodialisis pasien.
Tujuan Agar tindakan hemodialisi semua pasien dapat berjalan teratur sesuai
dengan waktunya, sehingga pelayanan hemodilisis dapat efektif dan
efisien.
Kebijakan 1. Penjadwalan pasien dilakukan dan dikoordinasikan dengan
koordinator perawat dan dokter pelaksana harian HD
2. Jadwal mencakup 2x seminggu
a. Senin dan Kamis
b. Selasa dan Jumat
c. Rabu dan Sabtu
3. Jadwal shift
a. Pagi : 05.30 – 10.30
b. Siang : 11.30 – 16.30
Prosedur 1. Dokter menentukan kondisi pasien berdasarkan surat travelling
hemodialisis / surat rujukan dari dokter konsultan Ginjal
Hipertensi dan hasil laboratorium (HbsAg, Anti HCV, Anti
HIV) .
2. Dokter melihat dan menentukan jadwal yang masih tersedia
dengan mempertimbangkan ketersedian dari segi
ketenagakerjaan dan sarana.
3. Dokter atau perawat menginformasikan jadwal hemodialisis
yang tersedia kepada pasien/ keluarga.
4. Bila pasien / keluarga sudah menyetujui jadwal yang di berikan
dan kapan tindakan hemodialisis dimulai pada unit hemodialisis,
maka dokter atau perawat mencatat jadwal tindakan
hemodialisis pada jadwal hemodialisis pasien.
5. Dokter atau perawat menginformasikan jadwal tersebut ke
bagian administrasi tentang kapan jadwal hemodialisis dan
kapan akan dimulai jadwal tersebut pada unit hemodialisis.
Unit terkait Bagian pendaftaran RS

Prosedur pemeriksaan pasien hd

Pengertian Pemeriksaan pasien hemodialisis terdiri :


1. Pemeriksaan awal pasien hemodialisis adalah pemeriksaan yang
dilakukan oleh dokter sebagai data awal pasien yang baru
pertama kali melakukan tindakan hemodialisis pada unit
hemodialisa.
2. Pemeriksaan rutin pasien hemodialisis adalah pemeriksaan yang
dilakukan oleh dokter terhadap pasien rutin pada setiap tindakan
hemodialisis.
Tujuan 1. Mengetahui data awal riwayat hemodialisis pasien
2. Mengetahui kondisi pasien baik dari anamnesis, pemeriksaan
fisik dan penunjang medis untuk mendukung proses
hemodialisis
Kebijakan Dilakukan pada pasien baru maupun pasien yang rutin di unit
hemodialisis.
Prosedur 1. Dokter melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan hasil
dicatat pada form data awal pasien (pasien baru)atau form
catatan/ folow up dokter.
2. Dokter mencatat hasil pemeriksaan penunjang medis.
3. Dokter menetapkan diagnosis
4. Dokter memberikan terapi sesuai indikasi
5. Dokter menulis dan memberikan resep kepada pasien atau
keluarga (bila di perlukan)
6. Dokter menulis permintaan pemeriksaan penunjang medis (bila
ada)
7. Dokter menginstruksikan dan berkoordinasi dengan perawat
tentang proses hemodialisis.
Unit terkait Farmasi RS

Prosedur penatalaksanaan selama hd

Pengertian Suatu proses penatalakasanaan yang dilakukan selama proses


hemodialisis berlangsung.
Tujuan 1. Agar proses hemodialisis dapat berlangsung dengan lancar
sampai selesai.
2. Agar masalah pasien dapat teratasi dengan baik.
3. Mencegah terjadinya proses komplikasi akibat proses
hemodialisis.
4. Menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi pasien.
Kebijakan 1. Selama terapi hemodialisis berlangsung, semua operasional
dibawah pengawasan dan tanggung jawab dokter.
2. Perawat wajib mencatat (mendokumentasikan) secara lengkap
dan rinci setiap kejadian dan tindakan yang telah dilakukan
terhadap pasien.
Prosedur Memprogram mesin hemodialisis :
1. Lamanya hemodialisis
2. QB (Quick Blood / kecepatan aliran darah) = 150-300 cc/menit
atau sesuai instruksi dokter.
3. QD (Quick Dialysis / kecepatan aliran dialisat ) = 300-
600cc/menit (biasanya 500cc/menit)
4. Temperatur dialisat = 35-38 C (biasanya 37 C)
5. UFG (Ultration Goal)/ UF Volume sesuaikan dengan kondisi
pasien.
6. Heparinisasi
7. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain bila perlu
8. Pemberian obat obatan, resep, transfusi dan lainnya bila perlu
9. Profil mesin disesuaikan atas instruksi dokter bila perlu
Pengamatan
A. Terhadap pasien
1. Mengobservasi tanda tanda vital (kesadaran, tekanan darah,
nadi, pernapasan) dan observasi suhu pada awal,
pertengahan dan akhir dialisis dan selain itu dapat pula pada
saat diperlikan sesuai dengan kondisi pasien
2. Obsesvasi sarana hubungan sirkulasi (apakah terdapat
rembesan darah, hematoma, pebengkakan)
3. Obsevasi keluhan pasien
 Kaji / anamnesis kebutuhan pasien
 Mencarai penyebab timbulnya masalah
 Mengatasi masalah yang atau membantu kebutuhannya
4 Perawat cepat tanggap terhadap masalah pasin
5 Perawat waspada terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi
hemodiasia
6 . Memberikan rasa nyaman kepada pasien (Menciptakan
lingkungan yang tenang)
B. Terhadap sirkuit Ekstrakorporeal
1. Sambungan AV fistual dan Bloodline
2. Sambungan Bloodline ke dialiser
3. Sambungan tekanan vena dengan mesin dialisis
4. Jenis konsentrat yang digunakan
5. Selama proses dialis berlangsung,semua klem dalam posisi
terbukan kecuali klem infus (harus tertutup). Klem –klem
tersebut adalah klem A –V kateter,A-V bloodline
,heparin,dan pressure.
6. Venous bubble trap terisi ¾ bagian, jangan sampai kosong
dan jangan sampai terlalu penuh.
7. Jangan sampai ada udara di sepanjang sirkulasi darah dan
dialiser
8. Obsevasi kecepatan pompa darah (QB), cocokkan dengan
efektivitas blood flow akurasi + 5-10 % antara QB dan
efektivitas.
9. Obesrvasi tekanan vena (apakah ada Hambatan pada tempat
masuk darah menuju pasien?)
 Faktor yang mempengaruhi tekanan vena adalah:
- Pembuluh darah vena pasien kecil
- Bekuan darah (clotting) pada Venous bubble trap
dan / atau dialiser
- Terjadi pembekuan/hematoma pada vena
- Bloodline tertekuk
- Tekanan vena turun jika aliran darah di bawah
100cc/menit
- Klem bekum dibuka
10. Obsevasi TMP( trans membrane pressure)
 Faktor yang mempengaruhi TMP adalah :
- Perbedaan tekanan di antara kompartemen darah
dengan dialisat
- Bekuan darah (clotting)di dialiser
- Jika ukuran dialiser (surface area dialiser) kecil, UFR
tinggi mengakibatkan TMP tinggi
11. Obsevasi Ultra Goal (total jumlah penarikan cairan selama
dialisis)
 Faktor yang mempengaruhi UFG adalah :
- Intake, (minum, infuse/cairan drip, sonde, cairan
sisah priming, jumlah darah tranfusi)
- Selisih timbangan berat datang dengan berat badan
kering (dry weight)
- Pengjakian pasien (adema anasarka, asites,dll)
12. Observasi lamanya dialisis (time left)
 Frekuensi dialisis:
- 10-5 jam dalam seminggu
 Penyesuaian waktu dilaisis akan diterpkan jika terdapat
kelalaian pasien (contoh,: pasien datang terlambat)
 Waktu Sequential ( isolated ultrafiltration). Teori bahwa
waktu tindakan sequential harus di luar waktu proses
dialisis
 Waktu selama dialisis sangat mempengaruhi hasil yang
adekuat
13. Temperatur mesin
 Suhu mesin yang diperbolehkan 35-38 C
 Suhu mesin sekitar 35,5- 36 C
14. Strandard Concentrate bicarbonate
Konsentrasi dapat di naikkan atau diturunkan secarah
mnaual, sesuai kebutuhan dan kisis pasien berdasarkan
instruktur dokter
Catatan:
Lakukan catatan secarah lengkap terhadap pengamatan
selama dialisis pada asuhan keperawatan Hemodialis

Unit terkait Unit Hemodialisis

Pengertian Suatu proseur perisapan yang dilakukan sebelum memulai tindakan


hemodialisis
Tujuan Agar mempermudah proses hemodialisis dan berjalan dengan lancar
Kebijakan 1. Sebelum hemodialisi dilakukan aagar dipastikan bahwa alat/mesin
dan perangkat perengkapnya siap dioperasikan
2. Memastikan kondisi pasien siap untuk dilakukan tindakan
hemodialisis
3. Mempersiapakan pemeriksaan penunjang disesuaikan dengan
kebutuhan
4. Peresepan hemodialisis ditentukan oleh: kondisi pasien, hasil
pemeriksaan penunjang, dan bila ada surat pengantar dari dokter
lain.
Prosedur Persiapan Pasien
1. Pasien menyerahkan surat rujukan dari dokter Konsultan Ginjal
Hipertensi/travelling dialisis dari RS asal untuk tindakan Inisiasi
Hemodialisis.
2. Pastiakan identitas pasien sudah sesuai dengan alat yang
dipersiapkan
3. Pastikan pasien sudah mengisi dan menandatangani surat
persetujuan tindakan hemodialisi.
4. Staf medis mengetahui riwayat penyakit yang pernah
diderita(penyakit lain dan alergi)
5. Perawat mengevaluasi keadaan umum pasien.
6. Perawat mengevaluasi keadaan fisik(ukur tanda Vital: tekanan
darah, denyut nadi,suhu dan frekuensi pernapasan: berat badan;
ekstremitas edema).
7. Data hasil laboratorium,bila ada.
8. Perawat berkolaborasi dengan dokter, bila perlu.
9. Pastikan bahwa pasien benar-benar telah siap untuk dilakukan
hemodialisis.
10. Pastiak pasien sudah menimbang berat badan.
11. Perawat mencatat semua data pada asuhan keperawatan
hemodialisis harian.

Persiapan alat
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan alat untuk
tindakan hemodialisis.
1. Dialiser
2. AV Bloodline
3. AV fisula
4. Nacl 0,9%
5. Infus Set
6. Spuit 1 cc
7. Spuit 10 cc
8. Heparin
9. Lidokain jika perlu
10. Set punksi steril (2 kom kecil, 1 duk, sarung tangan, kassa)
11. Desinfektan(alkohol,betadine)
12. Matkan
13. Timbangan
14. Tensimeter
15. Termometer
16. Plester
17. Perlak kecil
18. Form asuhan keperawatan tindakan hemodialisis
19. Cairan konsentrat

Cara Kerja:

1. Hidupkan mesin hemodialisis


2. Lakukan proses priming dan soaking
3. Setelah mesin siap maka proses hemodialisis dapat dilakukan.
Unit terkait Unit Hemodialisis

Prosedur priming dialiser


Pengertian - suatu kegiatan yang dilakukan untuk membasahi dan membilas bloodline
dan dialiser baru dari zat sterilisasi.
- suatu kegiatan pengisisan, membasahi dan pembilasan dengan NaCl
0,9% untuk dialiser baru pada sirkulasi extracorporal dari zat pengawet.
Tujuan -Membilas bloodline dan dialiser reuse untuk menghilangkan zat sterilisasi
pada dialiser reuse.
- Mengurasi keluhan dan membersikan rasa aman dan nyaman pada
pasien.
Kebijakan -priming harus dilakukan dengan prinsip stril.
- selama priming dilakukan, perhatikan rasa aman dan nyaman pada pasien
Prosedur 1. Perwat memeriksa dan mencatat kesesuaian data-data dialiser
pasien(identifikasi nama,nomor,rekam medis,tanggal lahir)dengan
gelang indentitas.
2. Siapkan alat-alat yang akna digunakan,antara lain:
a. Alat pelindung dari (APD) petugas Reuse: sarung
tangan,masker,apron
b. Alkohol 70%
c. Dialiser
d. Gelas Ukur
e. Heparin
f. NaCL 0,9 % (1000-1500cc)
g. Set Blodline
h. Set infus
i. Srynge 1 cc
j. Tempat sampah non infeksius
k. Wadah (untuk tempat tutup dialiser)
3. Dekatkan alat-alat ke mesin
4. Perawat memakai APD (Apron,Masker,Sarung tangan bersih)
5. Buka Set Bloodline dan set infus yang telah disediakan, letakkan
tutup dialiser pada wajah besih.
6. A. Dialisis Baru
1. Dialiser dipasang pada mesin
2. Bloodline disambung ke dialiser, ujung bagian venous line
difikasi di gelas ukur,ijung selang tidak bolah bersentuhan
dengan gelas ukur.
3. Selang imfus Nacl 0,9 % disambung ke infusion port pada
arterial line
4. Arterial line diidi dengan NaCl 0,9 % sampai bagian ujung
5. Melakukan pembilasan kompartemen darah dengan NaCl 0.9%
sampai habis 50 cc (sirkulasi terbuka)
6. Kemudian hubungkan Atrial line venous line dan QB dijalan
perlahan-lahan mulai dari 100 cc/menit,dinaikkan menjadi 300
cc/menit dengan menggunakan NaCl0,9%
7. Isi kompartemen dialisat dari arah bawah menuju ke atas
sampai merata,dengan cara menyambungkan selang dialiser
(posisi selang dialisar biru bawah).
8. Dalam sirkulasi tertutup ini berikan heparin 2000 iu dengan
sebulumnya lakukan antiseptik dengan alkohol.
9. Lakukan sirkulasi tertutup selama 5-10 menit
10. Dialiser siap untuk di gunakna
C. Dialiser Reuse:

1. Dialiser reus dipasang pada mesin


2. Atrrial line diidi dengan Nacl 0,9 % sampai ujung.
3. Bloodline (arterial line yang sudah diidi NaCl 0,9 % dan Vonous
difiksasi di gelas ukur, ujung selang tidak bolagh bersntuhan
dengan gelas ukur
4. Melakukan pembilasan kompartemen darah dengan NaCl 0,9 %
sampai habis 1000 cc ( sirkulasi terbuka).
5. Kemudian hubungkan aterial line dan Venous line dan QB
dijalankan dengan Kecepatan 300cc/menit.
6. Isi kompartemen dialisat dari arah bawah menuju ke atas sampai
merata, dengan carah menyambung selang dialisat biru dan merah
ke dialiser (posisi selang dialisat biruh bawah.)
7. Berikan Heparin sirkulasi 2000ui dengan sebelumnya lakukan
tindakan antiseptik dengan alkohol
8. Lakukan sirkulasi tertutup selama 10-15 menit
9. Dialiser siap untuk digunakan.
Unit Terkait Unit Hemodialisis

Prosedur memulai proses hemodialisis cimino

pengertian Suatu tindakan untuk memulai proses atau tindakan hemodialisis


dengan akses vaskuler cimino / av shunt
Tujuan Untuk melancarkan proses hemodilisis
Kebijakan 1. Tindakan dilakukan dengan prinsip aseptik dan antiseptik
2. Hemodialisis dapat menggunakan akses
a. Chateter Double Lumen
b. Cimino
c. Punksi langsung pembuluh darah besar
Prosedur A. Persiapan Alat
1. APD ( alat pelindung diri) : apron, masker, sarung
tangan
2. AV fistula 1` (2buah)
3. Gelas ukur
4. Heparin
5. NaCl 0.9%
6. Perlak (alas)
7. Povidion iodine (betadhine) solution
8. Set punksi steril (2 kom kecil, 1 duk, sarung tangan,
kassa)
9. Stetoskop
10. Syringe
11. Tensimeter
12. Termometer
B. Prosedur Kerja
1. Perawat menggunakan alat pelindung diri (APD)
2. Observasi keadaan umum dan tanda tanda vital pasien
3. Jelaskan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan
4. Berikan posisi tidur yang nyaman untuk pasien
5. Raba desiran cimino, apakah desiran jelas
6. Tentukan lokasi punksi arteri vena. Pada umumnya
lokasi punksi vena lebih proksimal daripada arteri.
7. Letakkan perlak / atas dibawah tangan yang akan
dipunksi
8. Dekatkan alat-alat yang digunakan untuk punksi
9. Perawat menggunakan sarung tangan bersih
10. Buka set punksi steril. Siapkan AV fistula, syringe dan
bak steril
11. Isi kom steril masing masing dengan betadhine solution
dan NaCl 0.9%
12. AV fistula diisi dengan NaCl 0.9% sampai dengan
penuh dan klem.
13. Masukkan heparin yang akan digunakan kedalam
syringe 1 cc bila diperlukan bolus heparin
14. Lakukan disenfeksi dengan kasa betadhine dengan cara
gerakan melingkar ke dalam kearah luar pada lokasi
punksi inlet-outlet, bersihkan dengan kasa beralkohol
secukupnya dengan gerakan melingkar dari dalam ke
luar
15. Lokasi outlet
- Perawat dengan jari tanga menentukan lokasi
punksi vena yang cukup besar dan pastikan tidak
bercabang.
- Pegang jarum fistula ukuran 16 G ( 1’) dengan
lubang jarum mengarah keatas dan sesuaikan
dengan kondisi pembuluh vena, isi jarum fistula
dengan NaCl 0.9% sampai keujung jarum.
- Perawat akan menginformasikan bahwa akan
dilakukan penususkan dan meminta pasien
menarik nafas dan tenang pada saat proses
penusukan berlangsung
- Setelah melakukan penusukan, tes aspirasi
dengan menggunakan syringe untuk memastikan
kelancaran akses, bila lancar tutup klem dan
fiksasi dengan kasa dan plester, kemudian tutup
kembali ujung fistula dengan penutupnya.
16. Lokasi inlet
- Perawat memastikan pembuluh darah yang akan
di punksi
- Pegang jarum fistula ukuran 16 G (1”) dengan
lubang jarum mengarah ke atas dan sesuaikan
dengan kondisi pembuluh vena yang desirannya
besar (cimino), isi jarum fistula dengan NaCl
0.9% sampai ke ujung jarum
- Perawat akan menginformasikan bahwa akan
dilakukan penususkan dan meminta pasien
menarik nafas dan tenang pada saat proses
penusukan berlangsung
- Setelah melakukan penusukan, tes aspirasi
dengan menggunakan syringe untuk memastikan
kelancaran akses, bila lancar tutup klem dan
fiksasi dengan kasa dan plester, kemudian
sambungkan AV fistula ke bloodline.
C. Menyambungkan AvV fistula ke bloodline
1. Lakukan penyambungan AV fistula dengan bloodline
beralaskan kassa dengan alkohol, disenfeksi kedua
ujung AV fistula dan bloodline yang akan disambung.
2. Turunkan QB sampai 100cc/menit kemudian matikan
blood pump (pompa darah)
3. Lepasakan selang arteri dari sambungan sirkulasi
tertutup.
4. Selang infus dalam posisi terklem(terkunci)
5. Sambungkan selang darah arteri dengan selang arteri
kateter (warna merah), gunakan kassa beralkohol
sebagai alas sewaktu menyambungkan kedua selang
6. Kencangkan sambungan kedua selang
7. Masukkan ujung selang darah venous ke dalam gelas
ukur
8. Buka klem selang dan kateter, lalu hidupkan pompa
darah mulai dengan kecepatan 100cc/menit
Bergantung pada instruksi dokter : tanpa priming, half-
priming atau full priming
- Tanpa priming :
Langsung sambung selang darah vena (biru)
dengan selang vena kateter. Perhatikan jangan
ada udara masuk, kencangkan sambungannya
- Half priming :
Setelah langkah no. 8 bila darah sudah sampai
dialiser, hentikan pompa darah. Hubungkan
selang darah vena dengan selang vena kateter
(biru dengan biru) dengan cara yang sama
seperti diatas (pastikan jangan ada udara masuk)
- Full priming :
Lakukan langkah nomor 9 dan seterusnya
9. Jika darah sudah melewati venous bubble trap, klem
selang darah venous, matikan pompa darah
10. Darah di venous bubble trap sebaiknya diisi ¾ bagian
11. Cairan Nacl 0.9% yang terdapat dalam gelas ukur
disebut cairan sisa priming
12. Sambungkan selang darah vena dengan selang vena
cateter (warna biru, gunakan kassa beralkohol sebagai
alas untuk menyambung kedua selang, kencangkan
kedua sambungan. Perhatian jangan ada udara masuk.
13. Buka klem selang darah vena dan klem selang kateter,
pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam tubuh
pasien.
14. Hidupkan pompa darah mulai dari 100cc/menit lalu
naikkan secara bertahap sesuai dengan keadaan pasien.
15. Hidupkan pompa heparin sesuai dengan lamanya
hemodialisis
16. Program mesin sesuai dengan keadaan dan hasil
pemeriksaan klinis pasien
17. Kembalikan alat alat yang telah digunakan kedalam
ruang disposal dan bersihkan
18. Buang sampah sesuai jenisnya (infeksius, non infeksius
dan limbah tajam)
19. Perawat mengisi kelengkapan data asuhan keperawatan
tindakan hemodialisis harian.

Unit terkait Unit hemodialisis

Prosedur memulai proses hemodialisis punksi pembuluh darah besar

Pengertian Suatu tindakan untuk memulai proses atau tindakan hemodialisis


dengan punksi langsung pembuluh darah besar (a/v femoralis)
Tujuan Untuk melancarkan proses hemodilisis
Kebijakan 1. Tindakan dilakukan dengan prinsip aseptik dan antiseptik
2. Hemodialisis dapat menggunakan akses
a. Chateter Double Lumen
b. Cimino
c. Punksi langsung pembuluh darah besar
A. Persiapan Alat
1. APD ( alat pelindung diri) : apron, masker, sarung
tangan
2. Alkohol 70% spray
3. AV fistula 1 ¼” ( 1 buah )dan 1” ( 1 buah )
4. Gelas ukur
5. Heparin
6. NaCl 0.9%
7. Perlak (alas)
8. Povidion iodine (betadhine) solution
9. Set punksi steril (2 kom kecil, 1 duk, sarung tangan,
kassa)
10. Stetoskop
11. Syringe
12. Tensimeter
13. Termometer
B. Prosedur Kerja
1. Perawat menggunakan alat pelindung diri (APD)
2. Observasi keadaan umum dan tanda tanda vital pasien
3. Jelaskan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan
4. Berikan posisi tidur yang nyaman untuk pasien
5. Tentukan lokasi punksi arteri vena. Lokasi punksi
pembuluh darah besar sebagai inlet dan lokasi punksi
vena lain sebagai outlet.
6. Letakkan perlak / atas dibawah tangan yang akan
dipunksi
7. Dekatkan alat-alat yang digunakan untuk punksi
8. Perawat menggunakan sarung tangan bersih
9. disenfeksi dengan kasa betadhine dengan cara gerakan
melingkar ke dalam kearah luar pada lokasi punksi
10. lokasi inlet (vena femoralis) adalah sebagai berikut :
- petugas meraba dan mencari arteri femoralis
dengan jari 2 dan 3 berlawanan dengan sisi yang
akan dipunksi. (contoh : vena femoralis kiri,
raba dengan jari tangan kanan dan sebaliknya)
- pegang fistula dengan tangan yang bebas,
pegang wing jarum 1 ¼”dengan lubang jarum
mengarah ke atas dengan penyuntikkan
membentuk sudut 45-60 dengan jarak 1-2 cm ke
arah medial (sesuaikan dengan kondisi pasien)
dari arteri femoralis tersebut untuk mendapatkan
lokasi vena femoralis secara tepat
- lihat aliran darah mengalir dalamfistula inlet.
Perhatikan warna darah tersebut.
- Jika berwarna merah segar dan berdenyut maka
punksi berada pada arteri, cabut fistula dan
pindahkan untuk mendapatkan lokasi vena
femoralis yang tepat.
- Jika berwarna merah tua dan tidak berdenyut,
maka punksi berada pada vena dan lanjutkan.
- Test kelancaran inlet tersebut dengan NaCl 0.9%
bila lancar lakukan fiksasi jarum fistula dengan
kassa dan plester.
11. Untuk lokasi outlet, tentukan dengan jari tangan 2 dan 3
lokasi punksi vena yang cukup besarnya
12. Disenfeksi lokasi dengan betadhine dengan gerakan
memutar dari dalam keluar
13. Dengan tangan bebas, pegang jarum fistula 1” dengan
lubang jarum mengarah keatas dengan sudut
disesuaikan dengan kondisi pasien dan kedalaman vena
tersebut.
14. Test kelancaran outlet tersebut dengan NaCl 0.9% bila
lancar lakukan fiksasi jarum fistula dengan kassa dan
plester
C. Menyambungkan ke bloodline
1. Turunkan QB sampai 100cc/menit kemudian matikan
bloodpump (pompa darah)
2. Lepaskam selang arteri dari sambungan sirkul;asi
tertutup
3. Selang infus dalam posisi terklem (terkunci)
4. Sambungkan selang darah arteri dengan selang arteri
kateter (warna merah), gunakan kassa beralkohol
sebagai alas sewaktu menyambungkan kedua selang
5. Kencangkan sambungan kedua selang
6. Masukkan ujung selang darah venous ke dalam gelas
ukur
7. Buka klem selang dan kateter, lalu hidupkan pompa
darah mulai dengan kecepatan 100cc/menit
Bergantung pada instruksi dokter : tanpa priming, half-
priming atau full priming
- Tanpa priming :
Langsung sambung selang darah vena (biru)
dengan selang vena kateter. Perhatikan jangan
ada udara masuk, kencangkan sambungannya
- Half priming :
Setelah langkah no. 7 bila darah sudah sampai
dialiser, hentikan pompa darah. Hubungkan
selang darah vena dengan selang vena kateter
(biru dengan biru) dengan cara yang sama
seperti diatas (pastikan jangan ada udara masuk)
- Full priming :
Lakukan langkah nomor 8 dan seterusnya
8. Jika darah sudah melewati venous bubble trap, klem
selang darah venous, matikan pompa darah
9. Darah di venous bubble trap sebaiknya diisi ¾ bagian
10. Cairan Nacl 0.9% yang terdapat dalam gelas ukur
disebut cairan sisa priming
11. Sambungkan selang darah vena dengan selang vena
cateter (warna biru, gunakan kassa beralkohol sebagai
alas untuk menyambung kedua selang, kencangkan
kedua sambungan. Perhatian jangan ada udara masuk.
12. Buka klem selang darah vena dan klem selang kateter,
pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam tubuh
pasien.
13. Hidupkan pompa darah mulai dari 100cc/menit lalu
naikkan secara bertahap sesuai dengan keadaan pasien.
14. Hidupkan pompa heparin sesuai dengan lamanya
hemodialisis
15. Program mesin sesuai dengan keadaan dan hasil
pemeriksaan klinis pasien
16. Kembalikan alat alat yang telah digunakan kedalam
ruang disposal dan bersihkan
17. Buang sampah sesuai jenisnya (infeksius, non infeksius
dan limbah tajam)
18. Perawat mengisi kelengkapan data asuhan keperawatan
tindakan hemodialisis harian

Unit terkait Unti hemodialisa

Prosedur memulai proses tindakan hemodialisis

Pengertian Suatu tindakan untuk memulai proses atau tindakan hemodialisis


dengan akses vaskuler chateter double lumen (CDL)
Tujuan Untuk melancarkan proses hemodilisis
Kebijakan 1. Tindakan dilakukan dengan prinsip aseptik dan antiseptik
2. Hemodialisis dapat menggunakan akses
a. Chateter Double Lumen
b. Cimino
c. Punksi langsung pembuluh darah besar
Prosedur A. Persiapan Alat
1. APD ( alat pelindung diri) : apron, masker, sarung
tangan
2. Alkohol 70% spray
3. Heparin
4. NaCl 0.9%
5. Perlak (alas)
6. Povidion iodine (betadhine) solution
7. Set punksi steril (2 kom kecil, 1 duk, sarung tangan,
kassa)
8. Stetoskop
9. Syringe
10. Tensimeter
11. Termometer
B. Prosedur Kerja
1. Perawat menggunakan alat pelindung diri (APD)
2. Observasi keadaan umum dan tanda tanda vital pasien
3. Jelaskan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan
4. Berikan posisi tidur yang nyaman untuk pasien
5. Letakkan perlak (alas) dibawah tempat catheter double
lumen
6. Perawat menggunakan sarung tangan tidak steril
7. Buka tutup cateterdengan kas betadine dan lepaskan
pelan pelan
8. Perhatikan posisi catheter double lumen (apakah
tertekuk? Posisi berubah).
Perhatikan keadaan exit site apakah ada peradangan /
nanah
9. Dekatkan alat-alat punksi ke pasien
10. Buka set punksi steril, kemudian isi kom masing-
masing dengan larutan Nacl 0,9 % betadine solution
11. Perawat melepas sarung tangan bersih dan
menggunakan sarung tangan steril.
12. Dengan menggunakan kasa betadine, bersihkan kulit
sekitar exit site dengan memutar arah dalam ke luar. (
bila kulit masih kotor, tindakan ini dapat diulang
dengan menggunakan kasa betadine baru.)
13. Dengan menggunakna kasa betadine, bersihkan kateter
melalui dari pangkal exit site sampai ujung tutup cateter
dengan gerakan se arah(tanagn kiri memegang catatar
dengan kasa steril dan tangan kanan memegang klem
dan menjepit kasa betadine.)
14. Setelah desinfeksi dengan betadine, tunggi 1-2 menit
agar larutan dapat berpungsi maksimal
15. Letakkan kain alas steril di bawah double lumen.

C. Tes kelancaran cateter


1. Gunakan syringe 5 cc atau 10 cc untuk mengaspirasi
heparin serta bekuan darah yang berada dalam kateter
lalu buang ke kantong plastik penampungan.
2. Bilas kateter dengan larutan Nacl 0,9 % secukupnya
,lakukan tes dengan cara aspirasi dan masukkan kembali
darah ke dalam tateter sambil rasakan lancar atau
tidaknya aliran darah(tindakan ini dapat di ulang sampai
yakin betul bahwa aliran sudah lancar)
3. Lakukan pemeriksaan kelancaran kateter pada kedua
selang(arteri dan vena)
4. Tutup selang CDL dengan Srynge 5 cc atau 10 cc
5. Posisi selang kateter dalam keadaan terklem (terkunci)
6. Tentukan posisi kateter dengan tepat dan benar,untuk
menhindari ketik lancaran selama proses dialisis
berlangsung, fiksasikan cateter.
7. Rendam tutup kateter dalam Kom steril berisi larutan
alkohol / betadine (bila ada tutup disposibel baru, maka
tutup yang telah digunakan dapat di buang atau di
sterilkan kembali)
D. Menyambung CDL ke Bloodline
1. Turunkan QB sampai 100 cc/menit kemudian matikan
blood pump (pompa darah)
2. Lepaskan selang arteri dari sambungan sirkulasi tertutup
3. Selang infus dalam kondisi terklem(terkunci)
4. Sambungkan selang darah arteri dengan selang arteri
kateter (warna merah), gunkan kasa betadine sebagai
alas sewaktu menyambung kedua selang.
5. Kencangkan sambungan kedua selang
6. Masukkan ujung selang darah venous ke dalam gelas
ukur
7. Buka klem selang dan kateter, lalu hidupkan pompa
darah mulai dengan kecepatan 100 cc/menit
Cara priming ini bergantung pada instruksi dokter : tanpa
priming, half-priming, atau full priming.

Tanpa priming

Langsung sambung selang darah vena (biru) dengan selang vena


cateter mengunakan kasa betadine sebagai alas. Desinfeksi kedua
ujung kateter, ujung bloodline yang akan disambung. Perhatian
jangan ada udara masuk, kencangkan sambungannya.

Hal- priming

Setelah langka no.7 bila darah sudah sampai dialiser, hentikan


pompa darah. Hubungkan selang darah vena dengan selang vena
cateter (biru dengan biru) dengan cara yang sama di atas ( pastikan
jangan ada udara masuk)

Full-priming

Lakukan langka no.8 dan seterusnya


8. Jika darah sudah melawati venous buble trap, klem
selang darah venous, matikan pompa darah.
9. Darah di venous buble trap sebaiknya diisi ¾ bagian
10. Cairan Nacl 0,9 % yang terdapat dalam gelas ukur
disebut cairan sisa priming
11. Sambungkan selang darah vena dengan selang darah
kateter (warna biru),gunakan kasa untuk menyambung
kedua selang, kencangkan kedua sambungan.
12. Buka klem darah vena dengan klem darah cateter,
pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam yubuh
pasien.
13. Hidupkan pompa darah mulai dari 100 cc/menit lalu
naikkan secarah bertahap sesuai dengan keadaan pasien.
14. Hidupkan pompa heparin sesuai dengan lamanya
hemodialisis.
15. Program mesin sesuai dengn keadaan dan hasil
pemeriksaan klinis pasien.
16. Kembalikan alat-alat yang di gunakan ke dalam ruang
disposal dan bersikan.
17. Buang sampah sesuai jenisnya (infeksius, non infeksius,
limbah tajam)
18. Perawat mengisi kelengkapan data asuhan keperawatan
tindakan hemodialisis harian.

Unit terkait -

Prosedur perawatan chateter double lumen

Pengertian -Catheter double lumen adalah salah satu akses vaskuler dalam
proses hemodialisis
- perawatan catheter double lumen adalah proses pemeliharan
dengan merat catheter double lumen sebagai akses vaskuler pasien
hemodialisis.

Tujuan 1. Mencegah terjadinya infeksi


2. Mencegah adanya bekuan darah pada selang catheter
double lumen.
3. Catheter dapat digunakan dalam waktu tertentu.
4. Aliran darah menjadi lancar sehingga proses hemodialisis
dapat berlangsung.
Kebijakan Perawtan prinsip aseptik dan antiseptik.
Perawatan dilakukan sebelum tindakan hemodialisis dilakukan
Prosedur 1. Identifikasih pasien berdasarkan nama, tanggal lahir dan
nomor rekam medis
2. Jelaskan pasien tentang prosedur tindakan yang akan
dilakukan
3. Persiapan alat-alat sebagai berikut
a. Alat pelindung diri (APD): msker, apron
b. Alkohol 70 %
c. Antibiotik injeksi bila perlu
d. Bubuk/salep antibiotik
e. Gunting
f. Heparin
g. Micropone
h. Nacl 0,9 %
i. Perlak
j. Kantong plastik infeksius
k. Tempat sampah infeksius
l. Povidone iodine solution (betadine)
m. Set ganti balutan steril (set punksi) : 2 kom, 1 duk, 1
klem/pinset,sarung tangan
n. Sryinge 5cc atau 10 cc
o. Transparant dressing/ hipavix
4. Dekatkan alat-alat yang akan di gunkan pasien
5. Letakkan perlak di bawah catheter double lumen
6. Perawta memakai apron,masker
7. Lepaskan balutan kotor dari badan pasien dan masukkan ke
dalam plastik kotor.
8. Bukalh set ganti balutan streil
9. Isilah masing masing mangkok dengan : betadine
solution,Nacl 0,9%(untuk membersihkan catheter double
lumen).
10. Pakailh sarung tanagn steril.
11. Lakukan desinfeksi
a. Permukaan exit site dan kulit,caranya:
 Bersihkan sekitar exit site dan permukaan kulit
dengan klem/pinset dan kasa betadine dengan
gerakkan memutar dari dalam ke luar buanglah kasa
betadine ke tempat plastik pembuangan.
 Lakukan seperti di atas kulit bebeas dari kotoran
(lepas keropong) = kotoran mengering
b. Sekitar catheter double lumen
 Tangan kana memegang klem/pinset dan kasa
betadine bersihkan sekitar catheter mulai dari exit
site menuju tutup catheter lakukan searah
 Tanga kiti memegang catheter double lumen, buang
kasa betadine ke tempat plastik pembuangan,(jika
msih kotor bersihkan dengan alkohol 70%)
12. Sekitar exit site berikan salep atau bubuk antibiotik di tutup
denagn kasa steril.
13. Buang cairan yang ada pada kedua lumen catheter double
lumen .
14. Lakukan test pada catheter double lumen (arteri-merah dan
vena-biru) dengan cara tarik darah sesuai volume cairan
masing masing lumen dengan spuit 5 atau 10 cc dan
pastikan aliran darah masing masing lumen lancar atau
tidak. Jika sudah lancar lakukan pembilasan dengan Nacl
0,9 % setelah itu berikan heparin murni yang dicampur
dengan injeksi antibiotik (bila perlu) sesuai dengan intruksi
dokter untuk pemeliharaan sesuai anjuran yang telah tertera
pada masing-masing lumen.
15. Klem dalam posisi terkuci dan kencangkan tutup catheter
double lumen.
16. Tutuplah seluruh dengan kasa steril dan transparan dresing /
hipavik.
17. Fiksasi catheter double lumen
18. Bawahlah alat alat kotor ke ruangan disposal, pisahkan
dengan alat yang terkontaminasi.
19. Rapikan alat.
20. Buang bahan bekas pakai pada limbah medis.
21. Catat dalam status hemodialisis harian, al:
a. Keadaan exit site (bersih/kotor,adakah
kemerahan,nanah dan lain-lain.)
b. Kelancaran catheter.

Unit terkait

Prosedur mengakhiri proses hemodialisa

Pengertian Suatu kegiatan mengakhiri proses hemodialisis(terminasi)


Tujuan Untuk mempermudah perawat agar proses terminasi berlangsung
dengan lancar.
Kebijakan Proses homodialisis dapat diakhiri dalam kedaan sebagai berikut:
- waktu dialisis sudah selesai
- keadaan umum pasien tidak memungkinkan untuk melanjutkan
proses homodialisis misalnya nyeri dada, tekanan darah
rendah(kurang 90/60mmhg). Kram,aritmia,maslah akses
vaskuler,dll yang tidak tertangani.
Prosedur Persiapan alat
1. Alat pelindung diri (APD): masker,apron,sarung tangan
bersih
2. Alkohol 70%
3. Band aid
4. Bubuk antibiotik(nebatein powder)
5. Ember tempat pembuangan disposibel
6. Plester/micropore
7. Stetoskop
8. Tempat pembuangan limbah tajam
9. Tensimeter
10. Bak instrumen steril(berisi:alat penekan/dopper kasa)
Cara kerja
1. 10 menit sebelum hemodialisis berakhir, ukur tanda-tanda
vital
2. Perawat mengunkan apron dan masker
3. Dekatkan alat-alat untuk untuk terminasi
4. Perawat memakai sarung tangan bersih.
5. QB diturunkan hingga 100 cc/menit, blood pump
dimatikan.
6. Ujung arterial line dan lumen arteri kateter dikelm
kemudian sambungan dilepas.
7. Fistula dihubungkan dengan syringe yang terisis dengan
Nacl 0,9 % kurang lebih 5 cc, darah di dorong masuk ke
daram tubuh pasien, perhatikan jangan ada udara yang
masuk
8. Ujung arteri line (lihat no.7) dihubungkan dengan Nacl 0,9
% memakai connector, klem dibuka,blood pump dijalankan
QB 100 cc/menit untuk mendorong darah dalam bloodline
masuk ke dalam tubuh
9. Blood pump dimatikan, ujung venous line dan lumen vena
kateter dikelm,sambungan di lepas.
10. Jaram punkssi di cabut,bekas pungksi di tekan dengan
dapper steril elama kurang lebih 10 menit.
11. Bila darah suda tidak keluar, bekas pungksi diberi nebacetin
powder (bila perlu) lalu tutup dengan band aid. Bila 30
menit darah belum berhenti(membeku) kolaborasi dengan
dokter.
12. Buang sampa sesuai jenisnya(infeksius,non
infeksius,limbah tajam)
13. Dialise dan betadine dimsukkan ke dalam ember pembuang
disposal(ember pembuang disposal 1 pasien 1, dan harus
dilapisi kanting plastik warna kuning)untuk di bawah k
ruang reus, sedangkan bloodline akan di buang ke tempat
sampah infeksius.
14. Ukur tekana daragh, hiting nadi, pernafasan dan suhu.
15. Perwat mencatat dan melengkapai asuhan keperawatan
tindakan hemodilisa harian
16. Timbang berat badan dan lakukan pencatatan
17. Ganti sprei dan rapikan tempat tidur serta alat-alat.

Akses vaskuler catheter double lumen

Persiapan alat
1. Alkohol 70%
2. Ember tempat pembungan disposibel
3. Gentamicin injeksi (bila perlu)
4. Heparin
5. Plester atau micropore
6. Sarung tangan bersih
7. Stetoskop
8. Syringe
9. Tensimeter
10. Bak instrumen steril berisi kasa

Cara kerja
1. 10 menit sebelum hemodialisis berakhir, ukur tanda-tanda
vital
2. Perawat menggunakan apron,masker
3. Perawat mendekatkan alat-alat terminasi
4. Perawat memakai sarung tangan
5. QB diturunkan hingga 10 cc/menit, blood pump dimatikan
6. Ujung arteri line dan lumen arteri kateter diklemkemudian
sambungan di lepas
7. Lumen arteri kateter dihubungkan dengan syringe yang
terisi dengan Nacl 0,9 % kurang lebih 5 cc, darah di dorong
masuk ke dalam tubuh pasien, pastikan jangan ada udara
masuk.
8. Ujung arteri line (Lihat no.7) dihubungkan dengan Nacl 0,9
% memakai cooector. Klem di buka,blood pump dijalakn
dengan QB 100 cc/menit untuk mendorong darah dalam
bloodline masuk ke dalam tubu
9. Blood pump dimatikan,ujung venous line dan lumen vena
kateter diklem,sambungan di lepas.
10. Masukkan heparin sesuai dengan volume yang terterah
pada lumen cateter yang di campur dengan gentamicin
injeksi dengan dosis 80 mg bila perlu atau sesuai saran
dokter ke dalam masing masing lumen kateter (arteri dan
Vena), lalu klem kateter
11. Tutuplah saluran kateter dengan kassa steril dan plester.
12. Buang sampah sesuai jenisnya(infeksius, non
infeksius,limbah tajam).
13. Dialiser dan bloodline dimasukkan ke dalam ember
pembungan disposal,untuk selanjutnya di bawah keruang
reuse, dialiser akakn melalui proses reus, sedangkan
bllodline akan di buang ke tempat sampah infeksius.
14. Perawat mengukur tekanan darah,pernapasan,suhu,
menghiting nadi.
15. Mencatat dan melengkpai asuhan keperawatan tindakan
hemodialisis harian.
16. Timbang berat badan dan lakukan pencatatan.
17. Ganti sprei dan rapikan tempat tidur serta alat-alat

ASKES VASKULER PUNKSI LANGSUNG PEMBULUH


DARAH BESAR

Persiapan alat : sama dengan cimino


Cara kerja :sama dengan cimino
Unit terkait -
Prosedur heparinisasi tindakan hemodialisa

Pengertian Suatu proses pemberian heparin pada tindakan hemodialisis pada


sirkulasi ekstrakporeal
Tujuan Untuk mencegah terjadinya pembekuan darah di sirkulasi
eksterakporeal selama proses hemodialisis berlangsung.
Kebijakan -tindakan dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan atau
sesuai dengan instruksi dokter.
- semua tindakan pemberian heparin dicatat oleh perawat pada
stutus hemodilisis harian.
Prosedur Heparinisasi kontinu

Untuk pasien stabil tanpa resiko perdarahan, heparin dapat


diberikan secara kontinu.
 Diberikan dosisi awal bolus 50-100ui/kg bb,bila
perlu.
 Tunggu 3-5 menit untuk memberikan kesempatan
kepada heparin untuk nyebar merata, kemudian
dialisis dimulai.
 Dilajutkan dengan pompa heparin dengan kecepatan
500-1000ui/jam secara kontinu atau sesuai intruksi
dokter.
Heparinisasi intermiten
Heparin diberikan secara bolus berulang-ulang/intermiten
 Berikan dosis awal : 3000-4000ui(50-100ui/kg
bb)bila perlu.
 Kemudian stiap jam diberikan 100-2000ui,
tergantung masa pembekuan atau intruksi dokter.
Heparinisasi minimal
Pemberian heparin secara ketat(tight/minimal heparin) dilakukan
untuk pasien beresiko sedang (moderat) untuk mengalami
perdarahan.
Heparinisasi minimal dilakukan dengan cara seperti berikut ini:
 Bolus heparin 500 iu dalam 30 menit bila diperlukan
 Lebih disukai dengan cara menggunkan pompa
heparin 250-1000iu/jam secara kontinu setelah
dikurangi dosis bolus atau tidak diberikan bolus
awal bila perlu.
Catatan : pemberian heparin dilakukan sampai 1 jam menjelang
akhir dialisis (untuk heparinisasi kontinu, intermiten dan minimal)

Dialisis bebas heparin


 Diberikan dengan pasien perdarahan aktif,
perikarditis, koagulopati,trombositopenia,
perdarahan interselebral,baru menjalai operasi atau
baru melakukan transplantasi ginjal.
 Pengawasan ketat oleh perwat (hanya 5 % resiko
untuk pembekuan sirkulasi secarah lengkap).
 Caranya adalah sebagai beriku:
1. Gunakna secepat mungkin aliran darah (QB 250
ml/menit)
2. Bilas sirkulasi di atas tiap 15-60 menit dengan
cairan Nacl 0,9 % sebanyak 50-200 ml untuk
mencegah pembekuan di jalur arteri atau sesuai
intruksi dokter.
3. Perhatikan dialiser dan awasi tekanan vena
dengan hati-hati untuk mendeteksi tanda-tanda
pembekuan darah selama proses hemodilisis
berlangsung.
4. Hindari pemberian tranfusi darah saat ini
Unit terkait

Prosedur pemisahan mesin hemodialisa


Pengertian Tindakan hemodilisis pasien rentan tertular virus hepatitis B dan C
kemungkinan akibat:
1. Tranfusi darah
2. Proses reus dialiser yang tidak dipisah (hepatitis dan non
hepatitis)
3. Sebab –sebab lain yang sulit ditelusuri
Kenyataannya meskipun pasien tidak perna tranfusi darah dan
pemisahan proses reus,namun tetap saja dapat terjadi penularan
hepatitis pada pasien hemodialisis sehingga timbul pemikiran
pentingnya pemisan mesin hemodilisis baik untuk pasien hepatitis
C dan non hepatitis.
Tujuan Agar seminimal mungkin tertular virus hepatitis B maupun
hepatitis C.
Kebijakan 1. Pemisahan untuk :
 Mesi khusus dengan hepatitis
 Mesin untuk pasien non hepatitis
Catatan:
Dengan tidak tersedianya mesin khusus pasin
dengan HIV dan Hepatitis B, unit hemodialisis
tidak menerima pasien dengan HIV dan hepatitis B
positif.
2. Setiap mesin diberi nomor yang berlebel kuning
(hepatitisC), lebel hijau (non hepatitis).

Prosedur 1. Sebagai syarat setiap pasien baru pertama kali hemodialisis,


harus membawah hasil pemeriksaan HbsAg, anti HCV dan
anti HIV yang akan menentukan penggunaan mesin untuk
pasien tersebut
2. Pasien di anjurkan pemeriksaan laboratorium secara berkala
terhadap HbsAg dan titer anti HBs sesuai indikasi dokter.
Dianjurkan anti HCV setiap 6-9 bulan
Unit terkait Unit hemodialisis,laboratorium
Prosedur penatalaksanaan komplikasi akut pada proses hemodialisa

Pengertian Tindakan penanganan dan penatalaksanaan komplikasi akut selama


proses hemodialisis
Tujuan untuk mempermudah perawat dan dokter pelaksana harian dalam
dalam penanganan dan penatalksanaan komplikasi akut selama
proses hemodialisis.
Kebijakan -penataksanaan komplikasi akut saat proses hemodialisis
membutuhkan penataksanaan segera.
- penataksanaan harus sesuai dengan instruksi dokter
Prosedur Komplikasi yang sering terjadi
a. Hipotensi
Hipotensi adalah tekanan darah kurang dari 90/60 mmhg
Penatalaksanaan :

Tempatkan pasien dalam posisi trendelenburg yaitu posisi


berbaring dimana kepala lebih renda dari pada pelvis
- Bolus Nacl 0,9 % (200ml atau sesuai kebutuhan
- Sementara stop ultrafitrasi, bila perlu
- Bila perlu di berikan cairan hipertonis misalnya
hipertonis saline (nacl 3%) glukosa 40 %
- Pemberian oksigen nasal untuk mempertahankan
miokardial
- Turunkan QB bila prosedur di atas tidak
menolong
- Observasi tanda vital
- Program dialis diatur sesuai dengan kebutuhan
pasien
- Hiptensi pada hemodialisa berulang perlu
diobservasi berat badan kering (dry weight)
pasien
Pencegahan
- Observasi konsumsi obat anti hipertensi pre
hemodialisis
- Bila perlu dengan sistem program profiling UF
pada mesin hemodialisis
b. Kram otot
Penatalaksanaa :
- Turunkan QB dan ultrafitrasi (UF)
- Bila terjadi kram otot disertai dengan
hipotensi,diberikan Nacl 0,9 % sesuai kebutuhan
- Penekanan kaki yang kram ke arah berlawanan
dengan perawat (didorso fleksikan)
- Usap daerah yang kram dengan lembut
- Beri bulu-buli hangat/pemanas
Pencegahan :
Menaikkan konsentrasi natrium dialisat (kolaborasi
dengan dokter )sampai dengan batas ambang
kemudian diturunkan perlahan sesuai kondisi
pasien.
c. Mual muntah
Penatalaksanaan
- Turunkan QB sampai 100ml/menit
- Kecilkan UFR sampai 0.0
- Berikan kantong plastik untuk muntah,bila perlu
berikan minyak gosok pada daerah epigastrik.
- Observasi tanda-tanda vital
- Bila tekanan darah turun, berikan Nacl 0,9 %
100-200ml
- Bila resisten dapat diberikan antimetik dengan
berkolaborasi dengan dokter
Pencegahan :
Hindari hipotensi
d. Sakit kepala
Penatalaksanaan
- Turunkan QB perlahan
- Observasi tanda vital
- Bila perlu turunkan kadar natrium
dialisat(kolaborasi dengan dokter)
- Dapat diberikan analgetik seperti
setaminofen/paracetamol(kolaborasi dengan
dokter)
Pencegahan :
- Proses hemodialisis mulai dari QB kecil lalu
dinaikkan secara bertahap
- Gunakan cairan dialisat berkarbonat
e. Nyeri dada
Penatalaksanaan :
- Turunkan QB maksimal 150/menit
- Berikan oksigen 3 liter / menit
- Kolaborasi dengan dokter bila perlu pemberiaan
obat
f. Demam dan menggigil
Demam adalah suhu rektal besar dari 38,0c atau besar dari
37,5 C atau aksila besar dari 37,2 C

Demam dan menggigil yang terjadi dalam proses


hemodialisis paling banyak disebabkan oleh reaksi pirogen
dari air RO atau catheter double lumen. Bila demam dan
menggigil ini terjadi sebelum hemodialisis perlu di cri
sumber infeksi seperti akses vaskuler atau penyakit lain .
Penatalaksanaan :
- Pemberian antihistamin, injeksi desametason 5
mg1 ampil(bila perlu),
asetaminofen/paracetamol(bila
demam)berkolaborasi dengan dokter.setiap post
hemodialisis diberikan campuran antibiotik
injeksi dan heparin dalam lumen kateter.
- Berkolaborasi dengan dokter untuk diberikan
antibiotik oral selama 5 hari berturut-turut bila
perlu.
Pencegahan:
- Perawatan akses vaskuler sebelum memulai
dialisis sesuai SOP untuk mencegah infeksi
- Evaluasi kebersihan mesin
- Pemeliharaan rutin air RO
- Pertahankan sterilitas peralatan
- Evaluasi pemakaian dialiser reus
KOMPLIKASI BERAT YANG JARANG TERJADI
A. Dialysis disequilibrium syndroma (DDS)
Penatalaksanaan:
a. DDS ringan
- Turunkan QB atau kurangi waktu hemodialisis
- Bericairan hipertonis : dextrose 40 %
b. DDS berat
- Bebaskan jalan nafas
- Hemodialisis haris segera dihentikan
- Beri cairan hipertonis seperti dextrose 40%
- Bila kejang beri anti konsulvan (diazepam)
- Bila koma, lakukan terapi supportif, perhatikan
jalan nafas
- Koma karena DDS akan membaik dalam 24 jam
- Tujuk rumah sakit bila kondisi memungkinkan
Pencegahan :
Hemodialisis akut (hemodialisis insiasi)
- Program hemodialisis untuk pasien yang
pertama kali me;lakukan hemodialisis jangan
terlalu agresif (waktu dialisis pendek kurang
lebih 2-3 jam)
- Target penurunan ureum maksimal 30-40%
Hemodilisis kronik
Bila pasien sudah tidak menjalani hemodilisis >2minggu,
perlakukan sebagai pasien hemodialisis inisiasi

B. Aritmia
Aritmia adalah suatu tanda atau gejala dari gangguan detak
jantung atau irama jantung.
Penatalaksanaan :
Bila terjadi pada waktu hemodilisis segera beri oksigen dan
lakukan terminasi hemodialisisi lalu rujuk ke rumah sakit
C. Hemolisis
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga
hemoglobin bebas ke dalam medium sekeliling nya
(plasma)
Penyebab : suhu cairan dialisat yang tinggi, cairan yang
hipotonik, blood pump tidak di up date
Penatalaksanaan :
- Hentikan pompa darah, klem bloodline
- Jangan masukkan darah dari blood line ke tubuh
pasien
- Pasien dirujuk ke RD untuk dirawat karena
hemolisis masih dapat terjadi beberapa waktu
setelahnya
FAKTOR ALAT
1. Ruptur dialiser
Penatalaksanaan : segera ganti dialiser
2. Clotting dialiser
Penatalaksanaan : segera ganti dialiser dan bloodline bila
clotting juga terjadi di dalamnya
3. Hard water syndrom
Tidak ada penatalaksanaan khusus selain memperbaiki
kualitas air RO
4. Emboli darah
Penyebabnya : masuknya udara ke dalam tubuh dari
sirkulasi ekstrakorporeal pada saat proses hemodilisis
melalui AVBL yang rusak, ketidaksempurnaan
penyambunganAVBL, bubble trap outlet kosong,
perubahan letak jarum arteri, kebocoran pada sambungan
AV fistula atau sirkuit
Gejala : kejang, sesak, batuk batuk, nyeri dada, sianosis
twitching otot, penurunan kesadaran (kadang-kadang)

Penatalaksanaan :
- Hentikan pompa darah / QB
- Klem venous line
- Pertahankan jalan napas dan kaji tanda vital
- Segera tempatkan pasien dalam posisi berbaring dan miring
ke kiri serta dada dan kepala lebih rendah
- Cardiorespiratory support oksigen 100%
Pencegahan :
- Pasang bloodline dengan baik dan bekerjalah dengan teliti
- Kontrol sistem detektor udara dan pastikan semua
sambungan pada bloodline tertutup dengan baik/ rapat
- Membebaskan udara dari sirkulasi ekstrakorporeal

Catatan :
Semua kejadian, tindakan dan terapi dicatat pada status
hemodialisis harian dan catatan terintegrasi

Unit terkait Unit hemodialisa

Kesehatan dan keselamatan kerja di ruang hemodialisa

Pengertian Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan pelaksanaan


kewaspadaan universal yang ketat (pasien, staff dan penggunaan alat
medis.
Tujuan 1. Mencegah penularan infeksi terhadap pasien, staff dan
pengguna alat medis dan non medis
2. Tujuan pengawasan infeksi adalah
a. Mengerti standart tindakan pencegahan
b. Menetapkan kebijakan untuk pencegahan infeksi
c. Mencegah terjadinya penularan melalui :
 Staff medis (dokter dan perawat ) dengan pasien dan
sebaliknya
 Peralatan medis yang digunakan
 Lingkungan kerja dan cara kerja yang baik dan benar
d. Mencegah penyebaran kuman penyakit maupun timbulnya
infeksi nasokomial di dalam ruangan hemodialisis.
Kebijakan 1. Infeksi adalah masuknya kuman atau bibit penyakit ke dalam
tubuh (sirkulasi darah) yang menimbulkan radang, meliputi
pembengkakan (tumor), kemerahan (rubor), nyeri (dolor),
panas (color), gangguan fungsi (functio lensa).
2. Infeksi berhubungan dengan darah, keluarnya cairan tubuh dan
pembuangan kotoran dari badan yang membawa bibit penyakit
menular.
3. Infeksi nasokomial adalah infeksi yang terjadi antar personal
di pusat kesehatan
4. Infeksi menjadi penyebab meningkatnya angka kesakitan dan
kematian (morbidibilitas dan mortalitas)
5. Setiap pasien baru / pasien yang telah terapi hemodialisis
sebelumnya di RS lain wajib diperiksa ulang laboratorium
terhadap hepatitis B, hepatitis C dan anti HIV
6. Ruang lingkup :prosedur ini dilaksanakan di ruang
hemodialisis, melibatkan pasien, petugas hemodialisis,
penataan ruangan, mesin hemodialisis, alat kesehatan dan
pemakain dialiser reuse
Prosedur A. Staff ruang hemodialisis
1. Setiap staff yang melakukan penusukan dengan jarum dan
aktifitas yang berkaitan dengan darah harus memakai
masker pelindung mulut, sarung tangan dan memakai
apron.
2. Pakaian seragam petugas digunakan untuk di ruangan
hemodialisis
3. Pakaian seragam petugas tidak boleh menutupi telapak
tangan dan menyentuh lantai.
4. Jangan menggunakan perhiasaan di tangan saat bertugas di
hemodialisis
5. Kenakan alas kaki yang tertutup bagian depannya selama
berada di ruang dialisis
6. Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan
sesudah melakukan tindakn medik atau non medik pada
setiap pasien
7. Setiap staff yang tertusuk jarum bekas pasien sgera diambil
tindakan pemeriksaan laboratorium pada 0 dan 3 bulan
setelah kejadian dan diberikan terapi.
8. Gunakan sarung tangan non steril setiap membersihkan
darah di ruang dialisis dengan cara disemprot klorin 0.05%
diamkan beberapa menit, dibersihkan dengan tissue atau
kain lalu di buang ke limbah infeksius.
9. Semua staff yang melayani pasien hemodialisis harus di
periksa HbsAg, anti HBs dan anti HCV secara berkala
serta anti HIV bila perlu
10. Imunisasi dengan vaksin hepatitis B harus dilakukan pada
setiap staff yang aktif melayani pasien di ruang
hemodialisis sesuai indikasi
11. Staff yang melayani pasien dengan HbsAg positif
menggunakan alat pelindung diri yang khusus digunakan
saat berada diruang isolasi dan tidak membawa keluar dari
ruangan tersebut.
B. Mesin Hemodialisis
1. Pisahkan mesin untuk hepatitis B, hepatitis C dan non
hepatitis
2. Penularan penyakit melalui mesin dialisis, antara lain pada
coppler (hanson connector), saat melakukan desinfektan
terjadi sirkulasi pada sirkuit mesin (loop)
3. Perawat melakukan desinfeksi permukaan luar (eksternal)
mesin dialisis
a. Cairan desinfektan (alkohol 70%) ditempatkan di
dalam botol, semprotkan pada lap bertekstur lembut,
lalu bersihkan seluruh permukaan mesin tanpa
terkecuali.
b. Bila terdapat percikan darah pada mesin harus segera
dibersihakan dengan larutan klorin 0.5%
4. Setiap kali prosedur dialisis selesai, perawat melakukan
dekontaminasi pada mesin dialisis baik pada bagian
permukaan luar (eksternal) maupun pada bagian dalam
mesin (internal) dengan menggunakan program “heat” dan
“citric acid” sesuai dengan panduan masing masing
pabriknya.
5. Perawat melakukan desinfeksi bagian dalam mesin
(internal)
a. Bagian dalam mesin hemodialisis harus didesinfeksi
setiap kali prosedur dialisis selesai, sesuai dengan
protokol oleh pabrik.
b. Bila terjadi kebocoran darah pada sistem resirkulasi,
dilakukan prosedur rutin disenfeksi pembilasan
sebanyak 2dua kali sebelum mesin tersebut dipakai
kembali (gunakan hopkloride 5,25%).
C. Dialiser
1. Pemprosesan dialiser reuse dilakukan dengan menerepkan
prinsif kewaspadaan universal yang ketat
2. Pasien dengan HbsaG positip tidak di benarkan memakai
dialiser reuse (harus single use )
3. Dialser reuse pada perinsipnya dapat digunakan oleh pasien
dengan anti HCV positip,namun harus menerapkan prinsip
kewaspadaan universal yang ketat
4. Tempat pemprosesan dialiser reuse terpisa antar pasien dengan
anti HCV positip dan pasien dengan non hepatitis
5. Setiap dialiser reuse di beri lebel indentifikasi lebel yang jelas
meliputi nama,tanggal lahir,nomor rekam medis
6. Dialiser disimpan pada lemari dialiser yang terhindar dari sinar
matahari dengan posisi dialisate port dialiser menghadap ke
atas dan disimpat terpisah antara hepatitis C dan non hepatitis
D. Ruang hemoduialisis 1
1. Memiliki ruangan khusus terpisah (isolasi untuk pasien
dengan HbsAg positip.
2. Lantai ruangan dialisisi di bersihkan oleh petugas
kebersihan dengan cairan disenfektan setelah ruangan tidak
digunakan lagi
3. Jarak antar masing-masing tempat tidur atau kursi tidur
dan mesin hemodialisis tidak terlalu rapat.
4. Memeliki penerangna dan sirkulasi udarah yang memadai.
5. Bersihkan (bongkar) ruangan hemodialisis dan isisnya
minimal setiap satu bulan sekali
6. Bebeaskan ruangan dan nurse station dari makan dan
minuman
7. Bersihkan ruangan dialisis sesudah proses dialisis dan bila
di perlukan saat sebelum proses dialisis
E. Tempat mencucui tangan
1. Wastafel muda terlihat oleh petugas dialisis pasien, dan
keluarga pasien
2. Wadah cairan desinfektan untuk mencuci tangan
menggunakan cara ditekan
3. Sediakan gambar proses mencuci tangan sistematis dan
benar,dan letakkan di atas wastafel
4. Lakukan pembilasan dengan posisi jari tanagn ke arah atas
5. Keringkan atngan dengan tisu atau handuk bersi
F. Tempat pembersihan dilaiser
1. Manual :
- Pisahkan tempat pembersihan dialiser untuk
hepatitis C dan non hepatitis
- Siapkan larutan streilisasi yang tepat
- Rendam tutup dialiser dengan larutan
streilisasi(michems 3,5%)dan larutan di ganti setiap
hari
- Lemari reuse ( tempat penyimpanan dialiser yang
telah dibersihkan :
 Penyimpanan dialiser dipisahkan antara dialiser
non hepatitis dan dialiser hepatitis C
 Letakkan dialiser dengan posisi dialisat port
menghadap ke atas
 Bagian luar lemari dialiser setiap hari dibersikan
dengan menyemprotkan larutan alkohol 70% ke
kain bersaih lalu di basuh keseluruh permukaan
luar lemari dialiser
G. Peralatan lain
1. Untuk mencegah penularan, oabat vial multi dosis hanya
boleh digunakan berulangmkali oleh pasien yang sama (
obat diberi nama pasien dan tanggal saat pertama kali obat
tersebut digunakan )
2. Petusa kebersihan membersihkan pralatan atau prabotan
dengan krolin 0,05%
3. Setelah selesai tindakan jarum bekas pakai tidak bolah di
tutup kembali dan alat suntik tersebut langsung di buang
ke limbah tajam .
4. Masukkan alat-alat kotor ke tempat pembuangan yang
tersedia sesuai dengan jenisnya
5. Bersihkan alat-alat yang digunakan pasien, seperti tempat
tidur,kursi,meja pasien (nakhas). Mesin dialisis dll.
6. Bersihakan stiap 1 bulan alat-alat medis yang telah
digunakan pasien seperti,
stotoskop,manset,gunting,klem,tempat tidur,kursi,lemari
samping ( nakhas) dengan sodium hipoklorida 1%
7. Setiap memasukkan obat atau mengambil darah melalui
bloodline, gunakan swab alkohol 70%
H. Linen
1. Sprei,stiklaken,sarung bantal pasien harus diganti segerah
oleh petugas cuci(menggukana sarung tangan )setelah
selesai dilaisis
2. Bila linen terpercik darah diletakkan ke dalam wadah
plastik warna kuning dan dimasukkan ke dalam keranjang
terpisah sesuai status hepatitisnya
3. Linen kotor pasien di letatakkan pada wadah sesuai dengan
stutus hepatitisnya
I. Tempta sampah
1. Tempat sampah infeksius untuk benda tajam
a. Sampah medis benda tajam seperti, jarum syringe,AV
fistula,ampul dll.
b. Wadah harus tahan tusukan
c. Jarum suntik bekas pakai dengan jarumnya, potongan
kemasan obat yang tajam seperti ampul atau sampah tajam
lainnya di letakkan di tempat ini, wadah tidak bolah diisi
penuh, maksimal 2/3 bagian lalu di tutup dengan aman
2. Tempat sampah infeksius untuk benda tidak tajam
a. Sampah infeksius seperti : kasa bekas,dialiser,sarung
tangan,syringe bekas pakai tanpa jarum, bloodline
bekas pakai CDL bekas dll
b. Wadah dilapisi kantong plastik warna kuning yang
dapat diikat kencang
c. Blooline di buang dalam keadaan klem tertutup
3. Tempat smapah non infeksius
a. Sampah non infeksius seperti : kertas pembungkus
kemasan,botol bekas minuman dll
b. Merupakan wadah dilapisi kantong plastik warna hitam
untuk menampung sampah yang tidak tercemar darah
dari cairan tubuh.
J. Pasien
1. Setiap pasien baru atau pasien yang telah berkunjung dari
RS lain maka diperiksa ulang Laboratorium terhadap
HbsAg, anti HCV,dan anti HIV
2. Pemeriksaan ulang seperti di atas bila diperlukan untuk
pasien rutin :
- Anti HCV 1X/6-9 bulan
- Anti HIV sesaui intruksi dokter
- HbsAg sesuai intruksi dokter
- Anti HBs sesuai intruksi dokter
3. Cek anti HBs pada 6 bulan setelah pemberian dosisi paksin
terakhir atau booster
4. Pasien dengan HbsAgnegatip dan anti Hbs negatip,
dilakukan paksinisasi hepatitis B segerah mungkin
5. Pasien dengan HbsAg positip
a. Harus memakai mesin hemodialisis khusus
b. Tindakan hemodilisis di ruangan khusus
c. Harus menggukan dialiser single use
K. Pelabelan
Berlaku untuk semua peratan umum dna alatb medis yang
bersangkutan dengan proses hemodilisis
Label merah : hepatitis B positip
Label kuning : hepatitis C positip
Label hijau : non hepatitis

Unit terkait Unit hemodialisis

Anda mungkin juga menyukai