Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN FIELD STUDY DI KRIMS DENGAN KASUS “APENDISITIS AKUT”

1. Kasus
Pasien Ny,T ( 43 tahun) datang diantar keluarganya ke klinik rawat inap muslimat singosari (
KRIMS) dengan keluhan Pusing, demam, sakit di daerah perut bawah kanan kiri, batuk, mual
sejak 2 hari lalu, hari ini semakin sakit dan keluarga memutuskan untuk rawat inap di KRIMS.
Saat di KRIMS dokter mendiagnosa apendicitis akut, dokter menyarankan untuk melakukan
operasi dan pasien beserta keluarga menyetujui saran dokter. Saat ini pasien sudah rawat inap
selama 5 hari dan disarankan pulang 1 hari lagi.

2. TERAPI
INFUS RA
Komposisi : Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq, K 4 mEq, Cl 109 mEq, Ca 3
mEq , Asetat (garam) 28 mEq
Indikasi:Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut,
demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Keunggulan: Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang
mengalami gangguan hati, Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi
asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus, Pada kasus bedah, asetat dapat
mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran, Mempunyai
efek vasodilator, Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml
pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil
risiko memperburuk edema serebral.

DEXTROSE 5% 25 tpm

Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).
Kemasan : 100, 250, 500 ml.
Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi
selama dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang
(kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).
Kontraindikasi : Hiperglikemia.
Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan
iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis.

KATETER

TUJUAN DILAKUKAN KATETERISASI ADALAH:

Membantu memenuhi kebutuhan pasien untuk mengosongkan kandung kemih, terutama pada
pasien yang mengalami penyakit akut, akan operasi, sakit hebat, terbatas pergerakannya atau
pasien dengan penurunan kesadaran.
Menjaga agar kandung kemih tetap kosong, penyembuhan luka, pengobatan beberapa infeksi
dan operasi suatu organ dari sistem urin dimana kandung kemih tidak boleh tegang sehingga
menekan unsur lain.

Page 1 of 6
Menjaga agar pasien dengan keluhan inkontinensia urin ( urin terkumpul di kandung kemih
karena tidak dapat dikeluarkan) tetap kering bagian perineumnya , sehingga kulit tetap utuh
dan tidak terinfeksi.
Mengukur jumlah produksi urin oleh ginjal secara akurat.
Membantu melatih kembali atau memulihkan pengendalian kandung kemih secara normal.

ONETIC

Komposisi:ondansetron hcl
Kelas terapi: antiemetik
Indikasi: mual, muntah post operasi
Efek samping: sakit kepala, konstipasi, flashing, sedasi, diare.
Dosis: Tab 25 mg x 10 x 10
Harga: (Rp77,000).

TRAMADOL

Komposisi: tramadol hidroklorida


Kelas terapi: analgetik sedang
Indikasi: untu mngobati nyeri sedang – berat misalnya pada pasien pasca bedah
Efek samping:pusing, vertigo, tremor, gangguan tidur, konstipasi, nyeri perut
Kontra indikasi: px hipersensisivitas, depresi nafas akut
Dosis: awal 25mg 2xsehari maksimal 400 mg

FALERGI

Komposisi: citirize hcl


Indikasi : rinitis alergi tahunan dan musiman, urtikaria kronik, idiopatik
Efek samping : sakit kepala, pusing, mengantuk, agitasi, mulut kering, gangguan GIT, reaksi
hipersensitivitas, reaksi kulit dan angioderma.
Dosis:dewasa:1 tab/hari

FARMADOL

Komposisi: paracetamol
Indikasi : mialgia, sakit kepala,sakit gigi
Kontra indikasi : pada gangguan hepar dan ginjal
Kelas terapi : analgetik
Efek samping: alergi kulit,hipersensitivitas, hipotensi.
Dosis: vial dewasa 100ml inf slm 15 menit diberikan 1-4xsehari maksimal 4g

OMEPRAZOL

Komposisi : omeprazol
Indikasi : ulkus peptikum
Efek samping : jangka panjang→ intrakromatin like cell
Dosis: 20mg sehari

Page 2 of 6
VISILIN

Komposisi : ampicilin
Inidikasi: infeksi atas dan bawah.
Efek samping: gangguan GIT, Urtikaria, pruritus, anafilaksis syock, demam.
Kontra indikasi: hipersensitivitas tehadap pencilin

CEFTRIAXONE

Komposisi : ceftriaxone
Indikasi : uti, sepsis
Efek samping : gangguan GIT, pusing, anafilaksis syock.
Kelas terapi : antibiotik
Dosis: dewasa 1-2g 1x sehari maksimal 4g

ANTRAIN

Komposisi: metamizole Na
Indikasi: meredakan nyeri post operasi, nyeri kolik.
Efek samping: agranulasitosis, reaksi alergi.
Kelas terapi: analgetik
Interaksi obat: klorpomazoin.
Dosis: 1-3xsehari

RANITIDN

Komposisi: ranitidin
Indikasi: ulkus peptikum
Efek samping:pusing, insomnia, vertigo, depresi, aritmia, gangguan GIT, hipersensitivitas.
Dosis : 150mg 2xsehari

FORDIN

Komposisi: ranitidin
Indikasi : ulkus peptikum
Efek samping : pusing, insomnia, vertigo, depresi, aritmia, gangguan GIT, hipersensitivitas.
Dosis: 150mg 2xsehari (amp 50mg/2ml )

GLISERILGUAIKOLAT

Indikasi:Produksi sputum yang tidak normal. Batuk.


Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap produk guaifenesin
Efek samping : yang sering muncul adalah mual dan muntah
Dosis: Dosis dewasa :liquid/syrup, dosis secara oral 200 to 400 mg setiap 4 jam; dosis
maksimum 2400 mg/hari

Dosis anak-anak : 12 tahun keatas : liquid/syrup, dosis secara oral 200 sampai 400 mg setiap 4
jam; dosis maksimum 2400 mg/hari.

Page 3 of 6
6-12 tahun : liquid/syrup, dosis secara oral 100 sampai 200 mg setiap 4 jam; dosis maksimum
1200 mg/hari.

2-6 tahun : liquid/syrup, dosis secara oral 50 sampai 100 mg setiap 4 jam; dosis maksimum 600
mg/hari

2 tahun kebawah perlu penyesuaian dosis secara individual, pada umumnya digunakan dosis 25
sampai 50 mg secara oral setiap 4 jam; dosis maksimum 300 mg/hari.

Cara pemberian :

Secara oral : minum bersama dengan segelas penuh air, dapat digunakan bersamaan atau tidak
bersama makanan

mekanisme kerja: GG memiliki aktivitas sebagai ekspektoran dengan meningkatkan volume


dan mengurangi kekentalan sputum yang terdapat di trakhea dan bronki. Dapat meningkatkan
reflek batuk dan memudahkan untuk membuang sputum. Akan tetapi bukti objektif masih
sedikit.

CODEIN (Kodein)

Komposisi:Tiap tablet Codein 10 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan


Kodein 10 mg
Tiap tablet Codein 15 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 15 mg
Tiap tablet Codein 20 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 20 mg
Farmakologi: Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila kodein
berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan saraf pusat.
Efek analgesik kodein tergantung afinitas kodein terhadap reseptor opioid tersebut.Kodein
dapat meningkatkan ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri
pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus.Kodein juga merupakan antitusif yang
bekerja pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat batuk.
Indikasi:batuk, nyeri
Kelas terapi: - Antitusif - Analgetik
Kontraindikasi:Asma bronkial, emfisema paru-paru, trauma kepala, tekanan intrakranial yang
meninggi, alkoholisme akut, setelah operasi saluran empedu.
Dosis:Sebagai analgesik:
- Dewasa : 30 - 60 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan.
- Anak-anak : 0,5 mg/kg BB, 4-6 kali sehari

Sebagai antitusif :
- Dewasa : 10-20 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan, maks. 60 mg perhari.
- Anak6-12tahun : 5-10 mg, tiap 4 - 6 jam, maksimum 60 mg perhari.
- Anak 2-6 tahun :1 mg/kg BB perhari dalam dosis terbagi, maksimum 30 mg perhari.

Sebagai antitusif tidak dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun.


Efek Samping:- Dapat menimbulkan ketergantungan. -Mual, muntah, idiosinkrasi, pusing,
sembelit. -Depresi pernafasan terutama pada penderita asma, depresi jantung dan syok.
Peringatan dan Perhatian:
 Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan penderita asma.
Page 4 of 6
 Hindari minuman beralkohol.
 -Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan karena dapat menyebabkan kerusakan
fungsi hati.
 -Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
 Hati-hati pada pemberian jangka panjang
Interaksi Obat:
 Hendaknya hati-hati dan dosis dikurangi, apabila digunakan bersama-sama dengan
obat- obat depresan lain, anestetik, tranquilizer, sedatif, hipnotik dan alkohol.
 Tranquilizer terutama fenotiazin bekerja antagonis terhadap analgesik opiat agonis.
 -Dekstroamfetamin dapat menghambat efek analgesik opiat agonis.
 -Jangan diberikan bersama-sama dengan penghambat MAO dan dalam jangka waktu
14 hari setelah pemberian penghambat MAO.
Interaksi obat:
Pada hari terahir pasien mendapatkan terapi kodein, GG, Valergi, omeprazole
Pada obat kodein dan valergi akan meningkatkan depresi pada SSP dan meningkatkan efek
sedasi

3. Interaksi Obat
a. Cetirizin dengan codein
Interaksi antara obat cetirizine dan codein adalah dengan pemberian yang bersamaan
akan menyebabkan peningkatan efek depresan pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan efek sedasi meningkat. Hal ini bisa menimbulkan efek mengantuk pada
pasien.
Solusinya : memberikan jeda waktu minimal 2 jam, atau hanya memakai codein saja
tanpa menggunakan cetirizine pada pasien.
b. Kodein dengan GG
Pemberian kodein dengan GG akan menimbulkan efek antagonistik, hal ini
dikarenakan codein memiliki efek antitusif yang artinya menekan pusat batuk
sehingga keluhan batuk menurun, sementara GG akan menimbulkan peningkatan
rangsang terhadap batuk, hal ini dikarenakan sifat GG sebagai mukolitik yang
mengakibatkan perangsangan batuk meningkat untuk mengeluarkan dahak yang
sudah dipecah oleh GG. Jadi pemberian codein dan GG dalam waktu bersamaan
justru memiliki efek antagonistik, karena itu pada pasien keluhan batuk dari hari 1
sampai dengan hari ke 5 tidak berkurang. Pemilihan GG pada pasien juga kurang
tepat karena batuk yang terjadi pada pasien adalah batuk kering
Solusinya : hanya memberikan codein saya kepada pasien karena pasien batuk
kering.
c. Kodein dengan tramadol
Penggunaan bersamaan antara kodein dengan tramadol akan meningkatkan efek
analgetik pada pasien, hal ini mungkin sedikit menguntungkan mengingat nyeri yang
dirasakan pasien sangat hebat.
Solusinya : tidak apa-apa digunakan bersamaan mengingat efeknya yang
menguntungkan bagi pasien, dan dosis yang digunakan untuk kodein relatif kecil.

Page 5 of 6
4. Follow UP SOAP dan ESO

No Hari /Tanggal S O A P
1 Sabtu / 1 Feb  Demam T : 80/50  Rehidrasi RA 1 L/ 1
2014  Pusing N : 107 jam
 Batuk Rr : 24  Infus RA 20 tpm
 Mual S : 38  Inj. Farmadol 2x1
 Sakit di Perut amp
bawah  Inj OMZ 1x1 amp
 Inj Onetic 3x1 amp
2 Minggu / 2  Batuk T : 120/70 Kesan  Inj Farmadol amp
Feb 2014  Tidak bisa N : 98 Apendicitis 2x1
tidur Rr : 20 Akut  Inj Onetic
 Mual S : 39  Skin tes visilin (-)
 Nyeri  Inj visilin
punggung  falergi
2x1(ctm,dimenhidr
amin dll)
 Kodein 3x 10mg
 GG 3x1
 OMZ 1x1
 Infus RA
 Tramadol

3 Senin / 3 feb  Batuk T : 120/70 Apendicitis  Operasi


2014  Kembung N : 90 Akut  Inj Onetik
 Flatus Rr : 20  Kodein Per oral
 Flebitis pada S : 37  Gg per oral
tangan kiri  Inj visilin
 Nyeri post op  Ceftriaxone post
+ op, antrain dan
ranitidine
 Chateter
4 Selasa / 4 Feb  Nyeri luka T : 110/90  Inj ceftriaxone,
2014 post op +++ N : 94 2xsehari
 Flatus – Rr : 20  fordin,
 Mual – S : 37  antrain
 Muntah –  Infs D5%
 BU +  Chateter
 Batuk +
5 Rabu / 5 Feb  Nyeri luka T : 120/70  Inj OMZ, visiline
2014 post op ++ N : 98  Kodein PO
 Flatus + Rr : 20  GG PO
 Mual – S : 37  Valergi PO
 Muntah –  Chateter
 BU +
 Batuk +

Page 6 of 6