Anda di halaman 1dari 6

Rhinitis alergik : dampak, diagnostik, treatmen, dan manajemen.

abstrak

Rhinitis alergik adalah hasil dari abrnormalitas imunologik dimana individu yang atopik akan

menghasilkan immunogloblin E (IgE) terhadap bahan allergen (seperti serbuk, debu rumahan,

bulu hewan, dan cetakan). IgE akan mengaktifasi sel mast, dimana ini merupakan respon dari

mediator inflamasi. Stimulasi histamin merupakan gejala awal, produksi mukus yang

predominan, gatal pada daerah nasal, dan bersin. Leukotriene dan cytokinesis tertarik dan

meng aktifasi eosinofil dan menyebabkan inflamasi alergik, dimana ini merupakan akibat

pimer pada blokade nasal. Saat tidak di obati, maka gejala-gejala dari alergik akan

menggangu kualitas waktu tidur pasien dan aktifitas harian mereka. Edukasi pada anak-anak

terutama dapat mempengaruhi gejala yang tidak di obat. Terapi primer pada keadaan ini

adalah dengan pemberian generasi kedua dari antihistamin, dimana sangat efektif pada gejala

awal dan pemberian kortikosteroid intranasal akan bermanfaat untuk mengurani proses

infamasi dan memperbaiki blokade pada nasal. Pemberian antihistamin generasi 1 harus

dihindari karena akan membuat efek eksaserbasi psikogenik dari pada rhinitis alergik. Artikel

ini bertujuan untuk apoteker dan profesional pelayanan kesehatan lainnya untuk mengerti

tentang dampak dari rhinitis alergik yang tidak terdiagnostik dan bagaimana cara diagnosa

dan terapi yan efektif.

kata kunci : alergi, alergen, rhinitis alergik, antihistamin, kortikosteroid, histamin, imunologi,

inflamasi, serbuk.
Sumber : CNRI / science photo library

poin kunci :

 Rhinitis alergik terjadi pada individu yang memiliki riwayat atopik yang akan

memproduksi IgE terhadap alergen seperti serbuk, debu rumahan, bulu-bulu hewan,

dan cetakan.

 Pada gejala awal akan muncul stimulasi dari histamin, produksi predominan mukus,

gatal pada nasal, dan bersin. Ini merupakan respon dari non-sedasi H1 antihistamin

 subsequensi dari inflamasi alergik akan menyebabkan blokade pada nasal. Ini akan

merespon pada nasal steroid.

 Saat tidak di obati, rihinitis alergik akan menganggu kualitas tidur pasien dan

menganggu aktifitas harian pasien. Edukasi pada anak-anak mempunyai efek yang

bagus.

 Generasi pertama antihistamin harus dihindari pada terapi rhinitis alergik, karena

dapat menyebabkan efek eksersebasi psikogenik.


Pendahuluan

Rhinitis alergik merupakan alergik yang paling sering dimana prevalensinya meningat,

dimana perkiraan terakhir sebanyak 30% individu dan biasanya banyak pada remaja dan

dewasa muda walaupun tidak terlalu banyak. Terkadang penyakit ini dianggap sepele, rhinitis

alergik merupakan gejala tambahaan pada keluhan nasal dan okular, yang paling penting

hubungan antara kurangnya informasi dan perubahan pada proses kognitif. Tetapi, lebih dari

90% penyakit ini tidak di obati, terapi yang tidak cukup atau terapi yang tidak bagus. Ini akan

berdampak pada terganggunya aktifitas hidup dari pada keseharian pasien.

Efek patologik dan psikologik pasien dengan rhinitis yang tidak di obati.

Rhinitis alergik umumnya berkembang pada masa anak dan merupakan penyakit alergik

kronik paling sering pada anak-anak. Studi mengatakan anak-anak yang mengalami alergik

ini akan memiliki dampak pada multipel pada fisik dan psikologik. Gejala mereka terutama

runny nose, yang artinya anak-anak ini akan malu saat berada disekolah, penurunan interaksi

sosial, dan memiliki resiko 2 kali cedera yang disengaja. Kongesti nasal biasanya akan

menganggu waktu tidur malam dan membuat kelelahan pada siang hari. Kedua studi

menyimpulkan bahwa rhinitis yang tidak diterapi akan mempunyai efek merugikan pada anak

terutama pada proses belajar dan ujian. Paling pentingt terutama di United Kingdm (UK),

pada anak-anak usia sekolah yang mengalami rhinitis alergik, kebanyakan akan mengalami

puncak gejala pada musim semi dan musim panas, dimana saat penting pada ujian sekolah.

Hubunga antara rhinitis alergik dan efek negatif pada proses belajar harus menjadi perhatian

khusus para profesional kesehatan.

Pada orang dewasa, kualitas hidup akibat rhintis alergik stabil, efek penurunan pada orang

dewasa pada proses kognitif ( contoh:produktifits saat bekerja) , termasuk aktifitas yang

membutuhkan pemusatan perhatian, seperti mengemudi. Pada studi, penilaian terhadap efek
provokasi nasal alergen dari pasien yang memiliki alergi musiman saat berkendara. Pada

demonstrasi, gejala dan pasien yang tidak diobati mengalami penuruna kemampuan

mengemudi, yang sama dengan orang yang mempunyai kadar alkohol dalam darah 0,5 %

merupakan batas aman pada banyak negara. Pada gejala akut dan gangguan tidur dapat

membuat penurunan performa psikomotor, termasuk berkendara. Pasien dengan rhinitis

alergik sering berdampak pada kondisi fisik ( otitis media, disfungsu tuba eustasius, sinusitis)

dan kondisi alergik lainnya ( asma dan ekzema). Karena itu, rhinitis alergi adalah penyakit

yang mempunyai efek pada asfek kehidupan pasien, bisa menjadi sumber saat pertemuan

para dokter dan memiliki efek pada masyarakat. Maka dari pada itu manajemen optimal dari

penyakit ini adalah pada fisik dan mental.

Mekanisme rhinitis alegi

Awal penyebab dari alergi adalah parasitologi, saat nematoda menyerang mukosa nasal.

Tanda awal adalah imun sistem akan menstimulasi untuk menghasilkan imunoglobuln E

(IgE) akan mengikat dan sel mast primer dan sel-sel inflamsi lainnya. Proses berikutnya,

antigen nematoda akan berinteraksi dengan sel mast IgE, menyebabkan lepasnya histamin

untuk membuat lingkungan yang tidak cocok (contoh produksi mukus dan stimulasi saraf

sensoris untuk bersin). Sel mast juga memproduksi sitokin untuk menstimulasi infulks dari

sel inflamasi, eosinophil yang mengandung beberapa protein toksik dimana akan membunuh

antigen nematoda. Gambaran sistem imun pada pasien dengan rhinitis alergik terlihat pada

gambar 1.
Gambar 1. Sistem imun pada pasien rhinitis alergik

Panel A menunjukan awal dari sistem imun, panel B memperlihatkan proses respon infalamsi alergik

yang menyebabkan peningkatan keparahan dan persisten.

Panel A mendemonstrasikan (1) bahan alergen contohnya seperti serbuk, debu rumahan, bulu

hewan, dan cetakan) menembus epitelium nasal. (2) Alergen berinteraksi dengan IgE, terliha

pada tanda merah, untuk mengaktifkan sel mast. (3) Histami merupakan mediator primer

yang dilepas pada fase awal. Ada 3 efek pada efek awal : (4) stimulasi mukosal sel goblet

untuk memproduksi mukus cair, (5) stimulasi saraf sensorik untuk menbuat gata pada nasal

dan bersin, (6) vasodilatasi dan edema jaringan, dimana akan menyebabkan blokade nasal. Ini

merupakan efek dari mediasi histamin jadi antihistamin merupakan efek yang penting untuk

terapi gejala ini.

Panel B memperlihatkan respon infamasasi alergik yang meningkatkan tingkat keparahan dan

persisten dari gejala awal, menyebabkan fase kronik dari rhinitis alergik. Aktifasi sel mast

juga memproduksi sitokinesis yang menyebabkan penarikan dari sel mast yang berlebih dan

influk dari aktifasi dari sel-sel inflamasi yang lainnya, biasanya eosinifil. (7) Eosinifil

mengandung proteinceoaus mediator yang agresif (8) yang akan menstimulasi neuron

sensorik untuk meningkatkan produksi berlebih dan pelepasan neuropeptida. (9)


Neuropeptida ini akan beraktifitas di saluran kapastas vena khusus (10) akan menimbulkan

turbinat nasal, menyebabkan dilatasi dan mengurangi pengosongan. Ini merupakan awal dari

blokade nasal.

Mekanisme dari gejala okular

Pasien dengan rhinitis alergik juga dapat mengalami gejala okular yaitu memerah, gatal, dan

mata berair. Gejala klasik ini merupakan penyebab dari jatuhnya alergen pada lapisan

konjungtiva mata, dengan subsequensi aktifasi pada sel mast. Sekarang gejala ini merupakan

hasil dari refleks naso-okular dimana inflamasi alergik dihidung menstimulasi nervus

trigeminus dengan pelepasan neuropeptida di air mata. Neuropeptida akan mengaktifasi sel

mast yang akan melepaskan histamin dan sedikit menyebabkan infiltasi eosinifil dan

inflamasi alergik. Selama terjadi tingginya kadar di atmosfer, impaksi serbuk di konjtiva akan

menginduksi lebih berat gejala konjungtivis vernal dimana adanya infiltrasi dari eosinofil

yang menstimulasi inflamasi alergik. Jika konjungtivitis vernal semakin berat, maka disebut

GP.

Diagnostik rhinitis alergik oleh apoteker

Diagnosa dari rhinitis alergi sudah dibuat oleh praktisi kesehatan. Bagaimana pun, seorang

apoteker sekarang dapat membuat diagnostik primer dari rhinitis alergi dan manejemen dan

rencana terapi. Meski harus ditekankan bahwa kasus di atas merupakan kasus kompleks atau

kasus dimana ada alternatif diagnosa lain.