Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Periodontitis kronis menjadi masalah kesehatan mulut dan salah satu

penyebab kehilangan gigi di negara maju dan berkembang. Prevalensi

periodontitis kronis pada populasi orang dewasa secara umum di dunia sebesar

30-35% dengan 10-15% termasuk dalam periodontitis kronis yang parah (WHO,

2007 sit. Khan dkk., 2015). Periodontitis merupakan penyakit yang terjadi akibat

inflamasi gingiva yang berkepanjangan dan menyebar sampai ke jaringan

periodontal sehingga mengakibatkan attachment loss dan kerusakan tulang

alveolar (Reddy, 2008). Menurut Nield-Gehrig dan Willmann (2008),

periodontitis menyebabkan kerusakan jaringan yang bersifat irreversible.

Perawatan yang diperlukan pada penyakit periodontal bukan hanya

menghilangkan proses inflamasi pada gingiva, melainkan juga regenerasi jaringan

periodontal yang rusak akibat periodontitis (Newman dkk., 2015).

Pembentukan tulang menjadi salah satu tujuan yang penting di dalam

perawatan penyakit periodontal. Osteoblas merupakan komponen yang berperan

dalam pembentukan tulang pada proses penyembuhan periodontitis (Newman

dkk., 2015). Menurut Wilson dan Kornman (2003), perbaikan tulang oleh sel

osteoblas dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu faktor pertumbuhan. Faktor sistemik,

seperti hormon paratiroid dan hormon tiroid, berperan dalam resorpsi tulang

(Bathla, 2011).

1
2

Faktor pertumbuhan merupakan protein alami yang meregulasi aktivitas sel

termasuk regenerasi jaringan. Faktor pertumbuhan yang sebagian besar disekresi

oleh makrofag, sel endotel, fibroblas dan platelet, termasuk platelet derived

growth factor (PDGF), insulin-like growth factor (IGF), fibroblast growth factor

(FGF) dan transforming growth factor (TGF) memiliki potensi untuk mendukung

regenerasi jaringan periodontal (McCauley dan Somerman, 1998 sit. Singh dkk.,

2014). Menurut Wilson dan Kornman (2003), faktor pertumbuhan yang

berpengaruh dalam pembentukan tulang adalah bone morphogenetic proteins

(BMPs), insulin-like growth factor (IGF), platelet-derived growth factor (PDGF),

transforming growth factor β (TGF-β), dan heparin-binding growth factors

(HBGF).

Glikolipoprotein 90 diperoleh dari cacing tanah Eisenia foetida yang berasal

dari filum Annelida dan famili Lumbricidae (Gradisa dkk., 2009).

Glikolipoprotein 90 (G-90) dengan konsentrasi 10 ng/ml mampu memberikan

efek yang lebih baik dalam peningkatan FGF dan EGF dibandingkan dengan G-90

konsentrasi 10 µg/ml (Grdisa dkk., 2004). Fibroblast growth factor berperan

sebagai mitogen dan chemo-attractant bagi sel endotel serta beberapa sel

mesenkim termasuk fibroblas, osteoblas, kondrosit, sel-sel otot polos dan sel

neuroektodermal (Caffesse dan Quinones, 1993; Cochran dan Wozney, 2000;

Heldin dan Wastermark, 1999 sit. Singh dkk., 2014). Sebuah penelitian in vivo

menunjukkan bahwa FGF dapat meningkatkan pembentukan tulang dan

mempercepat laju perbaikan fraktur (Cochran dan Wozney, 1999 sit. Singh dkk.,

2014). Menurut Planell dkk. (2009), FGF berperan dalam penyembuhan tulang
3

dengan menginduksi proliferasi dan diferensiasi osteoblas. Glikolipoprotein 90

memiliki molekul bioaktif yang menstimulasi IGF (Grdisa dkk., 2009). Menurut

Planell dkk. (2009), IGF berperan menstimulasi proliferasi osteoblas dan sintesis

matriks tulang. Glikolipoprotein 90 juga berperan menstimulasi sintesis TGF

(Matausic-pisl dkk., 2010). Transforming growth factor β mampu menstimulasi

proliferasi sel mesenkim yang belum terdiferensiasi dan meningkatkan prekursor

osteoblas (Planell dkk., 2009).

Sprague dawley merupakan salah satu jenis tikus yang sering digunakan

dalam penelitian termasuk dalam studi mengenai patogenesis penyakit

periodontal. Struktur gingiva pada tikus hampir mirip dengan manusia, yaitu

terdapat sulkus gingiva yang dangkal dan attachment pada epithel junctional ke

permukaan gigi (Struillou dkk., 2010).

B. Perumusan Masalah

Apakah aplikasi 10 ng/ml glikolipoprotein 90 berpengaruh terhadap jumlah

osteoblas tulang alveolar pada periodontitis Sprague dawley.

C. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai penggunaan glikolipoprotein 90 dengan konsentrasi 10

ng/ml pernah dilakukan oleh Matausic-pisl dkk. (2010). Penelitian tersebut

menguji pengaruh glikolipoprotein 90 dari cacing tanah (Eisenia foetida) terhadap

penyembuhan luka pada kulit dorsal tikus dengan parameter jumlah jaringan

granulasi, jaringan ikat, kolagen, serta koloni bakteri pada daerah luka. Penelitian
4

lain mengenai terapi glikolipoprotein 90 pernah dilakukan oleh Parizi dkk. (2015)

namun penggunaannya dikombinasikan dengan Demineralized Bone Matrix

(DBM) dan digunakan untuk penyembuhan tulang radius pada kelinci. Penelitian

tersebut melihat perkembangan penyembuhan tulang dan sifat biomekanis tulang

tersebut. Perbedaannya adalah pada penelitian ini G-90 diaplikasikan dalam

proses penyembuhan periodontitis. Sepengetahuan penulis belum pernah

dilakukan penelitian mengenai pengaruh G-90 dengan konsentrasi 10 ng/ml

terhadap jumlah osteoblas tulang alveolar pada proses penyembuhan periodontitis.

D. Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh aplikasi 10 ng/ml glikolipoprotein 90 terhadap jumlah

osteoblas tulang alveolar pada periodontitis Sprague dawley.

E. Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi mengenai pengaruh aplikasi G-90 konsentrasi 10

ng/ml pada penyembuhan tulang alveolar tikus yang mengalami periodontitis.

2. Sebagai acuan penelitian selanjutnya mengenai pengaruh aplikasi

glikolipoprotein 90 terhadap periodontitis.