Anda di halaman 1dari 51

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan adalah nikmat Allah SWT terbesar yang harus diterima

manusia dengan rasa syukur. Rasa syukur kita wujudkan dengan selalu menjaga

kesehatan yang kita dapat dan tidak lupa pula selama kita diberi kesehatan

hendaklah kita selalu menyembah kepada-Nya yang telah memberi nikmat

tersebut. Firman Allah dalam Al-Quran,”dan ingatlah juga, Tatkala Tuhanmu

memaklumkan; “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan

menambah nikmat kepadamu dan jika mengingkari (nikmat Ku), Maka

sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”( Surah Ibrahim 14:7).

Setiap manusia memiliki harga diri yang bernilai tinggi di hadapan

Allah SWT tergantung dari iman dan taqwa setiap manusia. Sehingga harga

diri harus selalu dipelihara karena sangat menentukan kesehatan jiwa

seseorang. Kunci untuk meningkatkan harga diri adalah selalu mensyukuri

nikmat Allah SWT sekecil apapun dan selalu bersangka baik atas cobaan

maupun musibah yang terjadi dalam kehidupan kita. Fenomena kesehatan jiwa

di Indonesia, merupakan masalah yang sangat mempengaruhi produktivitas,

kebahagiaan manusia dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat

yang tidak mungkin ditanggulangi oleh satu sektor saja, tetapi memerlukan

kerjasama pada multisektor. Mutu sumber daya manusia tidak akan meningkat

jika hanya mengandalkan raga manusia saja, tanpa menyelaraskan kesehatan

jiwa pula. Apabila ingin memperbaiki mutu dari sumber daya manusia, maka
ksehatan jiwa harus diperhatikan secara seksama kemudian terimplementasikan

di masyarakat. (Direja 2011).

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan

yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016),

terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21

juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan

berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman

penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak

pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk

jangka panjang ( Kemenkes RI, 2016).

Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental

emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk

usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah

penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti

skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000

penduduk ( Kemenkes RI, 2016).

Beradasarkan data di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat sebagai

pusat rujukan jiwa di provinsi Jabar menunjukkan mayoritas pasien yang

berkunjung adalah gangguan jiwa berat skizofrenia halusinasi. Berdasarkan

data periode januari-desember 2013 tercatat sebanya 13.725 kasus skizofrenia

halusinasi dengan rincian unit rawat jalan 10.029 kasus, unit rawat inap 1245

dan Unit Gawat Darurat 245 (Profil RSJ Jabar,2015 dalam Junaedi, 2016).

Gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat adalah skizofrenia

sebagai akar dari permasalahan harga diri rendah sendiri sesuai dengan masalah
utama yang penulis sajikan. Pada klien dengan harga diri rendah akan terlihat

sikap putus asa, terjadi resiko bunuh diri dan terjadi bunuh diri . Selama 3 tahun

terakhir diketahui sedikitnya 50 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri

(Keliat, 2011).

Salah satu jenis gangguan jiwa adalah gangguan konsep diri harga

diri rendah atau dalam bahasa Jawa biasa disebut minder. Jika seseorang

mengalami harga diri rendah biasanya akan dijumpai tanda dan gejala seperti

merasa bersalah, tidak mampu, ketegangan peran yang dirasakan, mudah

tersinggung sehingga menyebabkan individu ini bisa melakukan hal yang

destruktif baik ditujukan pada diri sendiri maupun kepada orang lain (Keliat,

2011).

Harga diri rendah adalah suatu kondisi dimana individu menilai

dirinya atau kemampuan dirinya negatif atau suatu perasaan menganggap

dirinya sebagai seseorang yang tidak berharga dan tidak dapat bertanggung

jawab atas kehidupannya sendiri (Nurhalimah, 2016). Harga diri rendah yang

berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat mental karena dapat

menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama kesehatan jiwa. harga

diri rendah dikarenakan penilaian internal maupun penilaian eksternal yang

negatif. Penilaian internal merupakan penilaian dari individu itu sendiri,

sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari luar diri individu

(seperti orang tua, teman saudara dan lingkungan) yang sangat mempengaruhi

penilaian individu terhadap dirinya. Harga diri rendah yang kronik dapat

menyababkan pasien mengalami isolasi social bahkan halusinasi ( Keliat,

2011).
Perawat jiwa sebagai pemberi asuhan keperawatan jiwa dapat

membantu mneingkatkan harga diri pasien melalui penerapan strategi

paleksanaan tindakan dengan menggunakan komunikasi terapeutik kepada

klien , oleh karena itu perawat dituntut mampu memberikan asuhan

keperawatan yang profesional dan dapat mempertanggung jawabkan

asuhan yang diberikan secara ilmiah.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat

masalah ini dalam membuat Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul

“Asuhan Keperawatan Jiwa pada pasien Skizofrenia dengan Harga diri rendah

di Ruangan Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

B. Rumusan Masalah

Dari hasil kesimpulan latar belakang diatas maka penulis

merumuskan masalah Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien

yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan Elang RSJ

Provinsi Jawa Barat.

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk menggambarkan Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien yang

mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan Elang

RSJ Provinsi Jawa Barat

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menggambarkan pengkajian Keperawatan Jiwa pada Pasien

yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan

Elang RSJ Provinsi Jawa Barat


b. Untuk menggambarkan diagnosa Keperawatan Jiwa pada Pasien

yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan

Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

c. Untuk menggambarkan tindakan Keperawatan Jiwa pada Pasien

yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan

Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

d. Untuk menggambarkan implementasi Keperawatan Jiwa pada

Pasien yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di

Ruangan Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

e. Untuk menggambarkan evaluasi Keperawatan Jiwa pada Pasien

yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan

Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat bagi Institusi

Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dalam upaya

mempersiapkan calon tenaga keperawatan yang memiliki pengetahuan

dan keterampilan khususnya dalam peningkatan pengetahuan dan

keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien

yang mengalami skizofrenia dengan masalah harga diri rendah

2. Manfaat bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan dan informasi bagi perawat yang ada

dirumah sakit dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan

jiwa khususnya pada pasien yang mengalami skizofrenia dengan

masalah harga diri rendah


3. Manfaat bagi pasien/keluarga

Memberikan pengetahuan serta masukan kepada keluarga/pasien

tentang cara menangani, merawat, mencegah kekambuhan dan

berkomunikasi kepada anggota keluarga yang mengalami masalah harga

diri rendah.

4. Manfaat bagi penulis

Untuk menambah referensi dan kemampuan mengaplikasikan

asuhan keperawatan jiwa khususnya pada pasien yang mengalami

skizofrenia dengan masalah harga diri rendah serta mengaplikasikan

dalam menerapkan komunikasi teraupeutik dengan menggunakan

pedekatan SP.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar skizophrenia

1. Defenisi

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang memiliki

‘arti terpisah/batu pecah’ dan phren yang berarti ‘jiwa’. Secara umum

skizofrenia diartikan sebagai pecahnya/ ketidakserasian antara afek,

kognitif, dan perilaku. Skizofrenia adalah suatu psikosis fungsional

dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmoni antara proses

pikir, afek, atau emosi (WH),2015).

2. Etiologi

a. Model diatesis stress

Skizofrenia dapat timbul karena adanya integrasi antara faktor biologis,

faktor psikososial dan lingkungan. Seseorang yang rentan (diatesis)

jika dikenai stressor akan lebih mudah untuk menjadi skizofrenia.

b. Faktor genetik

Faktor genetik mempunyai peranan dalam terjadinya suatu sizofrenia.

Ada 7 gen yang mempengaruhi perkembangan skizofrenia. Kembar

identik dipengaruhi oleh gen 28% sedangkan pada kembar monozygot

dan kembar dizygot sebesar 1,8-4% skizofrenia. Skizofrenia

kemungkinan berkaitan dengan kromosom 1, 3, 5, 11 dan kromosom

X. Pada skizofrenia kromosom-kromosom ini mengalami kelainan

yaitu saat mengkode dapat terjadi kekacauan seperti translokasi.

c. Faktor neurobiologis
Perkembangan saraf awal selama masa kehamilan ditentukan oleh

asupan gizi selama hamildan trauma psikologis selama masa

kehamilan. Pada masa kanak-kanak disfungsi situasi sosial seperti

trauma masa kecil, kekerasan dan hubungan interpersonal yang kurang

hangat diterima oleh anak sangat mempengaruhi perkembangan

neurogikal anak, sehingga anak lebih rentan mengalami skizofrenia

dikemudian hari (WH),2015)

3. Tanda dan gejala

a. Penampilan dan perilaku umum

Pasien dengan skizofrenia kronis cenderung menelantarkan

penampilannya. Kerapian dan higine pribadi juga terabaikan. Mereka

juga cenderung menarik diri secara sosial.

b. Gangguan pembicaraan

Kalimat-kalimatnya tidak saling berhubungan, kadang-kadang satu ide

belum selesai diutarakan kemudian diutarakan ide lain, atau terdapat

pemindahan maksud. Bentuk yang palingparah adalah inkoherensi.

c. Gangguan perilaku

Salah satu gangguan aktivitas motorik pada skizofrenia adalah gejala

katatonik yang dapat berupa stupor atau gaduh gelisah. Pasien dengan

stupor tidak bergerak, tidak bicara dan tidak berespon meskipun ia

sepenuhnya sadar. Sedangkan pasien dengan katatonik menunjukkan

aktivitas motorik yang tidak terkendali. Kedua keadaan ini kadang-

kadang terjadi bergantian.

d. Gangguan afek
Kadang-kadang emosi dan afek serta emosinya tidak mempunyai

kesatuan, seperti menangis berhari-hari tetapi mulutnya seperti tertawa.

e. Gangguan persepsi

Pada penderita skizofrenia halusinasi timbul tanpa penurunan

kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak

dijumpai pada keadaan lain.

f. Gangguan pikiran

Pada skizofrenia penderita tidak menginsafi hal ini dan baginya

wahamnya merupakan fakta yang tidak dapat diubah oleh siapapun.

Misalnya penderita berwaham bahwa ia adalah raja, tetapi ia bermain-

main dengan air ludahnya dan bersedia untuk melakukan pekerjaan

kasar (Yosef, 2011).

4. Macam-macam Skizofrenia

Pembagian skizofrenia menurut Yosep (2011), antara lain :

1. Skizofrenia Simplex

Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada

jenis somplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan,

gangguan proses berpikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi

jarang sekali terdapat.

2. Skizofrenia Hebefrenia

Permulaannya perlahan-perlahan/ subakut dan sering timbul pada

masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah

gangguan proses berfikir, gangguan kemauan, dan adanya


depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti

mannerism/perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada hibefrenia.

3. Skizofrenia Katatonik

Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta

sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah

katatonik atau stupor katatonik.

4. Skizofrenia Paranoid

Gejala yang menyolok ialah waham primer,disertai dengan

waham-waham sekunder dan halusinasi baru dengan pemeriksaan yang

teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi,

dan kemauan. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak

congkak dan kurang percaya pada orang lain.

5. Skizofrenia akut

Gejala skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam

keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini

timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri

berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu artiyang khusus

baginya.

6. Skizofrenia Residul

Keadaan skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas

adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa

kali serangan skizofrenia.

5. Diagnosa

a. Waham
b. Halusinasi

c. Bicara disorganisasi

d. Perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas

e. Simptom negatif

6. Penatalaksanaan

a. Farmakologi

Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia yaitu untuk

mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan. Strategi

pengobatan tergantun pada fase penyakit apakah akut atau kronis.

Tujuan pengobatan ini untuk mengurangi gejala psikotik yang parah.

Dengan fenotiazin biasanya waham dan halusinasi hilang dalamwaktu

2-3 minggu. Setelah 4-8 minggu, pasien masuk ketahap stabilisasi

sewaktu gejala-gejala sedikit demi sedikit teratasi namun resiko relaps

masih tinggi, apalagi jika pengobatan terputus dan pasien stres. Jika

gejala sudah mulai merendah, maka obat diberikan terus menerus

selama satu atau 2 tahun.

Setelah 6 bulan, pasien masukkefase rumatan (maintenance) yang

bertujuan untuk mencegah kekambuhan. Pada fase ini diberikan dosis

afektif terendah yang dapat memberikan perlindungan kekambuhan

dan tidak mengganggu fungsi psikososial pasien. Hasil pengobatan

akan lebih baik jika mulai diberikan dalam dua tahun pertama dari

penyakit (WHO,2015).

b. Terapi Elektro-konvulsi (TEK)


Seperti juga terapi konvulsi yang lain, cara kerja elektro konvulsi

belum diketahui pasti, tetapi terapi konvulsi dapat memperpendek

serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita.

Namun terapiini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang.

Terapi konvulsiini lebih mudah diberikan, dapat diberikan secara

ambulant, bahaya lebih sedikit,lebih murah, dan tidak memerlukan

tenaga yang khusus.

c. Psikoterapi dan rehabilitasi

Terapi ini dilakukan untuk mendorong penderita bergaul dengan

orang lain, penderita lain, perawat, dan dokter, agar penderita tidak

mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan buruk. Pada

terapi ini dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan

bersama. Pemikiran masalah filsafat atau kesenian bebas dalam bentuk

melukis atau bermain musik dengan bebas.

d. Labotomi prefrontal

Dapat dilakukan bila terapi lain yang diberikan secara intensif

selama5 tahun tidak berhasil dan bila penderita sangat mengganggu

dalam lingkungannya. Namun cara ini sudah ditinggalkan sekarang

(WHO, 2015)

B. Konsep Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah

1. Pengertian

Menurut Nanda (2011) dalam Hanik,dkk (2015), harga diri rendah

adalah berkembangnya persepsi diri yang negatif dalam berespon terhadap

situasi yang sedang terjadi. Sedangkam menurut Kleiat (2011) , harga diri
rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang

berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan

kemampuan diri. Harga diri rendah adalah suatu kondisi dimana individu

menilai dirinya atau kemampuan dirinya negatif atau suatu perasaan

menganggap dirinya sebagai seseorang yang tidak berharga dan tidak

dapat bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Herdman (2012), mengatakan bahwa, harga diri rendah kronik

merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjangan/ perasaan tentang

diri atau kemampuan diri Harga diri rendah yang berkepanjangan

termasuk kondisi tidak sehat mental karena dapat menyebabkan berbagai

masalah kesehatan lain, terutama kesehatan jiwa.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat kita simpulkan bahwa: harga

diri rendah dikarenakan penilaian internal maupun penilaian eksternal

yang negatif. Penilaian internal merupakan penilaian dari individu itu

sendiri, sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari luar diri

individu (seperti orang tua, teman saudara dan lingkungan) yang sangat

mempengaruhi penilaian individu terhadap dirinya.

2. Rentang Respon Konsep diri

Konsep diri seseorang terletak pada suatu rentang respons antara

ujung adaptif dan ujungmaladaptif, yaitu aktualisasi diri, konsep diri

positif, harga diri rendah, kekacauan identitas,dan depersonalisasi.


RENTANG RESPONS KONSEP-DIRI

Respons maladaptif
Respons adaptif

Aktualisasi diri Konsep diri Harga - diri Kerancuam Depersonalisasi

Gambar 2.1 Rentang Respon Konsep Diri

Rentang respons konsep diri yang paling adaptif adalah aktualisasi

diri. Menurut Maslow karakteristik aktualisasi diri meliputi:

a. Realistik,

b. 2. Cepat menyesuaikan diri dengan orang lain,

c. 3. Persepsi yang akurat dan tegas,

d. 4. Dugaan yang benar terhadap kebenaran/kesalahan,

e. 5. Akurat dalam memperbaiki masa yang akan datang,

f. 6. Mengerti seni, musik, politik, filosofi,

g. 7. Rendah hati,

h. 8. Mempunyai dedikasi untuk bekerja,

i. 9. Kreatif, fleksibel, spontan, dan mengakui kesalahan,

j. 10. Terbuka dengan ide-ide baru,

k. 11. Percaya diri dan menghargai diri,

l. 12. Kepribadian yang dewasa,

m. 13. Dapat mengambil keputusan,

n. 14. Berfokus pada masalah,

o. 15. Menerima diri seperti apa adanya,

p. 16. Memiliki etika yang kuat,

q. 17. Mampu memperbaiki kegagalan.


3. Proses terjadinya harga diri rendah

Proses terjadinya harga diri rendah dijelaskan oleh Stuarat dan Laraia

(2009) dalam konsep stress adapatasi yang teridiri dari faktor predisposisi

dan presipitasi.

a. Faktor Predisposisi yang menyebabkan timbulnya harga diri rendah

meliputi:

1) Biologis

Faktor heriditer (keturunan) seperti adanya riwayat anggota

keluarga yang mengalami gangguan jiwa Selain itu adanya

riwayat penyakit kronis atau trauma kepala merupakan merupakan

salah satu faktor penyebab gangguan jiwa,

2) Psikologis

Masalah psikologis yang dapat menyebabkan timbulnya harga diri

rendah adalah pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan,

penolakan dari lingkungan dan orang terdekat serta harapan yang

tidak realistis. Kegagalan berulang, kurang mempunyai

tanggungjawab personal dan memiliki ketergantungan yang tinggi

pada orang lain merupakan faktor lain yang menyebabkan

gangguan jiwa. Selain itu pasiendengan harga diri rendah memiliki

penilaian yang negatif terhadap gambaran dirinya, mengalami

krisis identitas, peran yang terganggu, ideal diri yang tidak

realistis.
3) Faktor Sosial Budaya

Pengaruh sosial budaya yang dapat menimbulkan harga diri rendah

adalah adanya penilaian negatif dari lingkungan terhadap klien,

sosial ekonomi rendah, pendidikan yang rendah serta adanya riwayat

penolakan lingkungan pada tahap tumbuh kembang anak.

b. FaktorPresipitasi

Faktor presipitasi yang menimbulkan harga diri rendah antara lain:

1) Riwayat trauma seperti adanya penganiayaan seksual dan pengalaman

psikologis yang tidak menyenangkan, menyaksikan peristiwa yang

mengancam kehidupan, menjadi pelaku, korban maupun saksi dari

perilaku kekerasan.

2) Ketegangan peran: Ketegangan peran dapat disebabkan karena

a) Transisi peran perkembangan: perubahan normatif yang berkaitan

dengan pertumbuhan seperti transisi dari masa kanak-kanak ke

remaja.

b) Transisi peran situasi: terjadi dengan bertambah atau berkurangnya

anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.

Transisi peran sehat-sakit: merupakan akibat pergeseran dari kondisi sehat

kesakit. Transisi ini dapat dicetuskan antara lain karena

kehilangansebahagian anggota tuhuh, perubahan ukuran, bentuk,

penampilan atau fungsi tubuh.Atau perubahan fisik yang berhubungan

dengan tumbuh kembang normal, prosedur medis dan keperawatan

(Nurhalimah, 2016).

4. Proses Asuhan Keperawatan


Pengkajian Harga Diri Rendah

Pengkajian dilakukan dengan cara wawancara dan observasi pada

pasiendan keluarga(pelaku rawat).Tanda dan gejala harga diri rendah dapat

ditemukan melalui wawancara dengan pertanyaan sebagai berikut:

a. Bagaimana penilaian Anda tentang diri sendiri?

b. Coba ceritakan apakah penilaian Anda terhadap diri sendiri mempengaruhi

hubungan Anda dengan orang lain?

c. Apa yang menjadi harapan Anda?

d. Apa saja harapan yang telah Anda capai?

e. Apa saja harapan yang belum berhasil Anda capai?

f. Apa upaya yang Anda lakukan untuk mencapai harapan yang belum

terpenuhi?

2. Tanda dan Gejala

Ungkapan negatif tentang diri sendiri merupakan salah satu tanda dan

gejala harga diri rendah. Selain itu tanda dan gejala harga diri rendah didapatkan

dari data subyektif dan obyektif, seperti tertera dibawah ini

Data Subjektif:Pasienmengungkapkan tentang:

a. Hal negatif diri sendiri atau orang lain

b. Perasaan tidak mampu

c. Pandangan hidup yang pesimis

d. Penolakan terhadap kemampuan diri

e. Mengevaluasi diri tidak mampu mengatasi situasi


Data Objektif:

a. Penurunan produktivitas

b. Tidak berani menatap lawan bicara

c. Lebih banyak menundukkan kepala saat berinteraksi

d. Bicara lambat dengan nada suara lemah

e. Bimbang, perilaku yang non asertif

f. Mengekspresikan tidak berdaya dan tidak berguna

Menurut CMHN (2006) dalam Nurhalimah (2016), tanda dan gejala harga

diri yang rendah adalah:

a. Mengkritik diri sendiri

b. Perasaan tidak mampu

c. Pandangan hidup yang pesimis

d. Penurunan produktifitas

e. Penolakan terhadap kemampuan diri

f. Kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapih, selera makan

kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara

lambat dengan nada suara lemah.

Townsend (1998) dalam Nurhalimah 2016) , menambahkan karakteristik

pasiendengan harga diri rendah adalah:

a. Ekspresi rasa malu atau bersalah

b. Ragu-ragu untuk mencoba hal-hal baru atau situasi-situasi baru


c. Hipersensitifitas terhadap kritik

Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah

Diagnosis keperawatan dirumuskan berdasarkan tanda dan gejala harga diri

rendah yang ditemukan. Pada pasiengangguan jiwa, diagnosis keperawatan yang

ditegakkan adalah:

5. Pohon masalah

Berdasarkan hasil pengkajian dapat dibuat pohon masalah sebagai berikut:

Isolasi Sosial

Harga diri rendah


CP

Mekanisme koping Mekanisme koping

individu tidak efektif keluarga tidak efektif


Gambar 5.2 Pohon Masalah Pada Harga Diri Rendah

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan gambar 5.2 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut: gangguan

Konsep Diri: Harga diri rendahmerupakan core problem (masalah utama).

Apabila harga diri rendah pasien tidak diintervensi akan mengakibatkan isolasi

sosial. Penyebab harga diri rendah pasien dikarenakan pasien memiliki

mekanisme koping yang inefektif dan dapat pula dikarenakan mekanisme koping

keluarga yang inefektif.

6. Tindakan Keperawatan Harga Diri Rendah

Tindakan keperawatan harga diri rendah dilakukan terhadap pasiendan

keluarga/ pelaku yang merawat klien. Saat melakukan pelayanan di poli

kesehatan jiwa, Puskesmas atau kunjungan rumah, perawat menemui keluarga

terlebih dahulu sebelum menemui klien.

Bersama keluarga, perawat mengidentifikasi masalah yang dialami pasiendan

keluarga.

Setelah itu, perawat menemui pasienuntuk melakukan pengkajian dan

melatih cara untuk mengatasi harga diri rendah yang dialami klien. Setelah

perawat selesai melatih pasienmaka perawat kembali menemui dan melatih

keluarga untuk merawat klien, serta menyampaikan hasil tindakan yang telah

dilakukan terhadap pasiendan tugas yang perlu keluarga lakukan yaitu untuk

membimbing pasienmelatih kegiatan yang telah diajarkan oleh perawat untuk

mengatasi harga diri rendah.


Tindakan keperawatan untuk pasiendan keluarga dilakukan pada setiap

pertemuan, minimal empat kali pertemuan dan dilanjutkan sampai pasiendan

keluarga mampu mengatasi harga diri rendah.

a. Tindakan Keperawatan untuk Pasien Harga Diri

Rendah

Tujuan: Pasien mampu:

1) Membina hubungan saling percaya

2) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3) Menilai kemampuan yang dapat digunakan

4) Menetapkan/ memilih kegiatan yang sesuai kemampuan

5) Melatih kegiatan yang telah dipilih sesuai kemampuan 6) Merencanakan

kegiatan yang telah dilatihnya

Tindakan Keperawatan:

1) Membina hubungan saling percaya, dengan cara:

• Ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien.

• Perkenalkan diri dengan klien: perkenalkan nama dan nama panggilan

yang Perawat sukai, serta tanyakan nama dan nama panggilan

pasienyang disukai.

• Tanyakan perasaan dan keluhan pasiensaat ini.

• Buat kontrak asuhan: apa yang Perawat akan lakukan bersama klien,

berapa lama akan dikerjakan, dan tempatnya dimana.

• Jelaskan bahwa Perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh

untuk kepentingan terapi.

• Tunjukkan sikap empati terhadap klien.


• Penuhi kebutuhan dasar pasienbila memungkinkan.

2) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien.

Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah :

• Identifikasi kemampuan melakukan kegiatan dan aspek positif

pasien(buat daftar kegiatan)

• Beri pujian yang realistik dan hindarkan memberikan penilaian yang

negatif setiap kali bertemu dengan klien.

3) Membantu pasiendapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah :

• Bantu pasienmenilai kegiatan yang dapat dilakukan saat ini (pilih dari

daftar kegiatan): buat daftar kegiatan yang dapat dilakukan saat ini.

• Bantu pasienmenyebutkannya dan memberi penguatan terhadap

kemampuan diri yang diungkapkan klien.

4) Membantu pasiendapat memilih/menetapkan kegiatan berdasarkan daftar

kegiatan yang dapat dilakukan.

Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah :

• Diskusikan kegiatan yang akan dipilih untuk dilatih saat pertemuan.

• Bantu pasienmemberikan alasan terhadap pilihan yang ia tetapkan.

• Latih kegiatan yang dipilih (alat dan cara melakukannya).

• Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan dua kali per hari.

• Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang

diperlihatkan klien.

5) Membantu pasiendapat merencanakan kegiatan sesuai kemampuannya dan

menyusun rencana kegiatan.


Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah :

• Berikesempatan pada pasienuntuk mencoba kegiatan yang telah

dilatihkan.

• Beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat dilakukan pasiensetiap

hari.

• Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan

setiap aktivitas.

• Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama pasiendan

keluarga.

• Beri kesempatan pasienuntuk mengungkapkan perasaannya setelah

pelaksanaan kegiatan.

• Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan

klien.

b. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga dengan PasienHarga Diri Rendah

Keluarga diharapkan dapat merawat pasienharga diri rendah di rumah dan

menjadi sistem pendukung yang efektif bagi klien.

1) Tujuan: Keluarga mampu:

a) Mengenal masalah harga diri rendah

b) Mengambil keputusan untuk merawat harga diri rendah

c) Merawat harga diri rendah

d) Memodifikasi lingkungan yang mendukung meningkatkan harga diri

klien

e) Menilai perkembangan perubahan kemampuan klien


f) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan

2) Tindakan Keperawatan:

a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat klien

b) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya harga diri

rendah dan mengambil keputusan merawat klien

c) Melatih keluarga cara merawat harga diri rendah

d) Membimbing keluarga merawat harga diri rendah

e) Melatih keluarga menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang

mendukung meningkatkan harga diri klien

f) Mendiskusikan tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan rujukan

segera ke fasilitas pelayanan kesehatan

g) Menganjurkan follow up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur.

7. Evaluasi Kemampuan Pasiendan Keluarga dalam Merawat PasienHarga Diri

Rendah

a. Keberhasilan pemberian asuhan keperawatan apabila pasiendapat:

1) Mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

2) Menilai dan memilih kemampuan yang dapat dikerjakan

3) Melatih kemampuan yang dapat dikerjakan

4) Membuat jadwal kegiatan harian

5) Melakukan kegiatan sesuai jadwal kegiatan harian

6) Merasakan manfaat melakukan kegiatan positif dalam mengatasi harga

diri rendah

b. Keberhasilan pemberian asuhan keperawatan apabila keluarga dapat:


1) Mengenal harga diri rendah yang dialami pasien(pengertian, tanda dan

gejala, dan proses terjadinya harga diri rendah)

2) Mengambil keputusan merawat harga diri rendah

3) Merawat harga diri rendah

4) Menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang mendukung

pasienuntuk meningkatkan harga dirinya

5) Memantau peningkatan kemampuan pasiendalam mengatasi harga diri

rendah

6) Melakukan follow up ke Puskesmas, mengenal tanda kambuh, dan

melakukan rujukan.

8. Dokumentasi Hasil Asuhan Keperawatan

Pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan setiap selesai melakukan

tindakan keperawatan dengan pasiendan keluarga. Berikut ini contoh

pendokumentasian asuhan keperawatan harga diri rendah pada pertemuan

pertama
BAB III

METODEOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Studi kasus oleh Yin (2011) yang menyatakan bahwa studi kasus

adalah pencarian pengetahuan secara empiris yang menyelidiki tentang

fenomena dalam kontek nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan

konteks tidak tampak dengan tegas dan dimana multi sumber bukti

digunakan.

Berdasarkan keterangan yang telah dipaparkan diatas, alasan

peneliti menggunakan studi kasus yaitu untuk memahami subjek secara

mendalam dalam memberikan Asuhan Keperawatan Jiwa pada pasien yang

mengalami skizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan Elang RSJ

Jawa Barat

B. Subjek Studi Kasus

Subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah klien yang mengalami

Masalah Harga diri rendah yang dirawat di RSJ Provinsi Jawa Barat.

Penentuan subjek dilakukan dengan melihat beberapa kriteria yaitu :

1. Kriteria Inklusi

a. Klien yang mengalami Harga diri rendah yang dirawat di Ruangan

Elang RSJ Provinsi Jawa Barat

b. Klien yang bersedia jadi responden

2. Kriteria Eksklusi

a. Klien mengalami waham.

b. Klien mengalami gangguan kesadaran


C. Fokus studi kasus

Fokus studi keperawatan ini adalah ganggaun konsep diri pada pasien

skizophrenia.

D. Defenisi Operasional

1. Skizofhrenia adalah gangguan jiwa psikotok ditaadai dengan

ganggaun proses pikira, afektif dan gangguan persepsi berdasarkan

diagnose medik dalam status rekam medik pasien.

2. Harga diri rendah adalah masalah keperawatan ditandai dengan pasien

merasa tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang

berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan

kemampuan diri.

3. Asuhan Keperawatan adalah proses pemecahan masalah yang terdiri

dari pengkajian, diagnose, perencanaa, implemenetasi dan evaluasi

E. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan selama 1 minggu di Ruangan Elang RSJ

Provinsi Jawa Barat.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara

Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data secara lisan dari

subjek yang diteliti atau bercakap-cakap berhadapan langsung

misalnya mengenai biodata klien, alasan masu RS, keluhan klien yang

dirasakan saat wawancara sedang berlangsung, hubungan sosialdan

spiritual, status mental.

2. Observasi
Proses pengambilan data melalui pengamatan perilaku pasien

melalui inspeksi, palpasi, perkusi,dan auskultasi

3. Dokumentasi

Pengumpulan data melalui pendekatan literatur catatan rekam

medis pasien

G. Analisa Data

1. Instrumen penelitian

Dalam penelitian ini alat yang digunakan peneliti adalah format

Asuhan Keperawatan Jiwa. Format yang dimaksud teridiri dari

pengkajian, diagnosa,intervensi, implementasi, dan evaluasi.

2. Pengumpilan data

Pengumpulan data dilakukan melalui cara wawancara, observasi

dan dokumentasi. Kemudian peneliti menelaah seluruh data-data yang

tersedia dengan menggunakan prinsip Asuhan Keperawatan. Cara

pengumpulan data dimulai dari peneliti mencari klien sesuai dengan

kasus atau judul penelitiannya. Setelah itu peneliti melakukan

tindakan preorientasi atau memperkenalkan diri kepada klien.

Kemudian peneliti dan klien membina hubungan saling percaya dan

meminta kesediaan klien untuk dijadikan subjek penelitian. Setelah

klien menyetujui, peneliti mulai melakukan pengkajian pada klien,

kemudian merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun rencana

keperawatan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana

dan mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan.

3. Mereduksi data
Mereduksi data berarti merangkum data yang diperoleh dengan

cara memilih hal-halyang pokok, kemudian memfokuskan pada-hal

yang penting dan tidak mengambil hal-hal yang tidak diperlukan

dalam penelitian. Dengan demikian data yang telah direduksi atau

dirangkum akan memberikan data yang lebih jelas dan mempermudah

peneliti untuk pengumpulan data selanjutnya.

4. Penyajian data

Data yang sudah terangkum, ditafsirkan dan dijelaskan untuk

menggambarkan proses Asuhan Keperawatan Jiwa pada Ny.S yang

mengalamiskizofrenia dengan Harga diri rendah di Ruangan Elang

RSJ Provinsi Jawa Barat. Penyajian data yang sudah ditafsirkan dan

dijelaskan kemudian diuraikan dalam bentuk teks atau bersifat naratif.

5. Kesimpulan

Pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dari hasil analisa data

yang telah dilakukan sebaik mungkin. Penarikan kesimpulan dalam

penelitian studi kasus ini akan menjawab rumusan masalah yang telah

dirumuskan sejak awal yaitu Bagaimanakah Asuhan Keperawatan

Jiwa pada pasien yang mengalami Skizofrenia dengan Harga diri

rendah di Ruangan Elang RSJ Provinsi Jawa Barat.

H. Etika penelitian

1. Informed Consent (surat persetujuan)

Sebelum pengambilan data dilakukan, peneliti terlebih dahulu

memperkenalkan diri dan memberikan penjelasan tentang judul studi

kasus. Menjelaskan tujuan yang akan yang dilakukan, kemudian


menjelaskan hak dan kewajiban subjek yang diteliti. Setelah dilakukan

penjelasan kepada subjek, peneliti melakukan persetujuan, dengan

subjek tentang dilakukannya penelitian.

2. Confidentiality (Kerahasiaan)

Semua informasi yang diberikan oleh subjek kepada peneliti akan

tetap dirahasiakan

3. Anominity (Tanpa nama)

Peneliti melindungi hak-hak dan privasi subjek yang diteliti. Nama

tidak digunakan dalam penelitian, serta menjaga kerahasiaan klien.

Penelitiannya menggunakan inisial sebagai identitas.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2013). Riset kesehatan dasar 2012. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia
Herdman, T.H. (2012). NANDA International Nursing Diagnoses Definition and
Classification, 2012-2014. Oxford: Wiley-Blackwell
Keliat, B.A., dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas (CMHN - Basic
Course). Jakarta: EGC
Keliat, B.A. & Akemat. (2006). Model praktik keperawatan profesional jiwa.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Nurhalimah (2016)., Modul Bahan ajar Cetak Keperawatan Jiwa, Jakarta,
Pusdiknakes RI
Stuart,G.W. (2009). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. 8th edition.
Missouri: Mosby
WHO. (2015). Shizophrenia. Diakses melalui http://www.who.int /mental_health
/topics .html
Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang Nihayati 2015), Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa., —Jakarta: Salemba Medika
Lampiran 2

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

RUANG RAWAT: TANGGAL DIRAWAT:

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : (L/P) Tanggal Pengkajian :

Umur : RM No. :

Alamat :
Pekerjaan :
Informasi :

II. ALASAN MASUK

III. FAKTOR PRESIPITASI/ RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


 RIWAYAT PENYAKIT LALU
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? ya tidak

Bila ya jelaskan

2. Pengobatan sebelumnya Berhasil Kurang berhasil Tidak berhasil


3. Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang) ya tidak

Bila ya jelaskan

 RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Pelaku/ usia Korban/ usia Saksi/
usia
1. Aniaya fisik
2. Aniaya seksual
3. Penolakan
4. Kekerasan dalam keluarga
5. Tindakan kriminal

Jelaskan :
6. Pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual):

Masalah keperawatan
:

7. Kesan Kepribadian klien : extrovert introvertlain-lain:

 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


1. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa? ya tidak
Hubungan keluarga gejala riwayat pengobatan/
perawatan

Masalah keperawatan :

V. STATUS MENTAL

1. Penampilan
tidak rapi Penggunaan pakaian Cara berpakaian tidak
seperti
tidak sesuai biasanya
Jelaskan :
Masalah keperawatan :

2. Kesadaran
 Kwantitatif/ penurunan kesadaran
compos mentis apatis/ sedasi somnolensia
sopor subkoma koma

 Kwalitatif
tidak berubah berubah
meninggi gangguan tidur: sebutkan
hipnosa disosiasi: sebutkan

3. Disorientasi
waktu tempat orang
Jelaskan :
Masalah keperawatan :

4. Aktivitas Motorik/ Prikomotor


Kelambatan:
hipokinesia, hipoaktivitas sub stupor katatonik
katalepsi flexibilitas serea
Peningkatan:
hiperkinesia, hiperaktivitas gaduh gelisah katatonik
TIK grimase tremor gagap
stereotipi mannarism katalepsi
akhopraxia
command automatism atomatisma nagativisme reaksi
konversi
verbigerasi berjalan kaku/ rigit kompulsif lain-2
sebutkan

5. Afek/ Emosi
adequat tumpul dangkal/ datar labil
inadequat anhedonia merasa kesepian eforia
ambivalen apati marah
depresif/ sedih
cemas: ringan sedang berat
panik

Jelaskan :

Masalah keperawatan :
6. Persepsi
halusinasi ilusi depersonalisasi
derealisasi

Macam Halusinasi
pendengaran penglihatan perabaan
pengecapan penghidu/ pembauan lain-lain,
sebutkan..............

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

7. Proses Pikir
 Arus Pikir
koheren inkoheren asosiasi longgar
fligt of ideas blocking pengulangan pembicaraan/
persevarasi
tangensial sirkumstansiality logorea
neologisme bicara lambat bicara cepat irelevansi
main kata-kata afasi assosiasi bunyi lain2
sebutkan....

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

 Isi Pikir
obsesif ekstasi fantasi
bunuh diri ideas of reference pikiran magis
alienasi isolasi sosial rendah diri
preokupasi pesimisme fobia
sebutkan...............
waham: sebutkan jenisnya
agama somatik, hipokondrik kebesaran curiga
nihilistik sisip pikir siar pikir kontrol
pikir
kejaran dosa

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

 Bentuk Pikir
realistik nonrealistik
autistik dereistik

8. Memori
gangguan daya ingat jangka panjang gangguan daya ingat jangka
pendek
gangguan daya ingat saat ini amnesia,
sebutkan............................
paramnesia, sebutkan jenisnya.............................................................
hipermnesia, sebutkan..........................................................................
Jelaskan :
Masalah keperawatan :

9. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung


mudah beralih tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu berhitung
sederhana

Jelaskan :
Masalah keperawatan :
10. Kemampuan Penilaian
gangguan ringan gangguan bermakna

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

11. Daya Tilik Diri/ Insight


mengingkari penyakit yang diderita menyalahkan hal-hal diluar
dirinya

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

12. Interaksi salama Wawancara


bermusuhan tidak kooperatif mudah
tersinggung
kontak mata kurang defensif curiga

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

VI. FISIK
1. Keadaan umum

2. Tanda vital: TD: N: S: P:

3. Ukur: TB: BB: turun


naik
4. Keluhan fisik: tidak ya
jelaskan...................................

5. Pemeriksaan fisik:

Jelaskan :

Masalah keperawatan :

VII. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL (sebelum dan sesudah sakit)


1. Konsep Diri
a. Citra tubuh :
b. Identitas :

c. Peran :

d. Ideal diri :

e. Harga diri :

Masalah keperawatan :

2. Genogram
3. Hubungan Sosial
a. Hubungan terkdekat :

b. Peran serta dalam kelompok/ masyarakat

c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain

Masalah keperawatan :

4. Spiritual dan Kultural


a. Nilai dan keyakinan

b. Konflik nilai/ keyakinan/ budaya

c. Kegiatan ibadah

Masalah keperawatan :

VIII. AKTIVITAS SEHARI-HARI (ADL)

1. Makan
Bantuan minimal Sebagian Bantuan
total

2. BAB/ BAK
Bantuan minimal Sebagian Bantuan
total

3. Mandi
Bantuan minimal Sebagian Bantuan
total

4. Berpakaian/ berhias
Bantuan minimal Sebagian Bantuan
total

5. Istirahat dan tidur


Tidur siang lama : s/d
Tidur malam lama : s/d
Aktivitas sebelum/ sesudah tidur : s/d

6. Penggunaan obat
Bantuan minimal Sebagian Bantuan
total

7. Pemeliharaan kesehatan
Perawatan Lanjutan Ya Tidak
Sistem pendukung Ya Tidak

8. Aktivitas di dalam rumah


Mempersiapkan makanan Ya Tidak
Menjaga kerapihan rumah Ya Tidak
Mencuci pakaian Ya Tidak
Pengaturan keuangan Ya Tidak
9. Aktivitas di luar rumah
Belanja Ya Tidak
Transportasi Ya Tidak
Lain-lain Ya Tidak

Jelaskan :
Masalah keperawatan :

IX. MEKANISME KOPING


Adatif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum Alkohor
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/ berlebih
Teknik relokasi Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif Menghindar
Olah raga Mencederai diri
Lainnya........................ Lainnya......................
Masalah keperawatan :

X. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Masalah dengan dukungan kelompok, uraikan

Masalah berhubungan dengan lingkungan, uraikan

Masalah dengan pendidikan, uraikan

Masalah dengan pekerjaan, uraikan

Masalah dengan perumahan, uraikan

Masalah dengan ekonomi, uraikan

Masalah dengan pelayanan kesehatan, uraikan

Masalah lainnya, uraikan

Masalah keperawatan :

XI. KURANG PENGETAHUAN TENTANG


Penyakit jiwa Sistem pendukung
Faktor presiptasi Penyakit fisik
Koping Obat-obatan
Lainnya

Masalah keperawatan :

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa medik :

Terapi
medik
:

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


Lampiran strategi pelaksanaan tindakan keperawatan

SP 1 Pasien: Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien,


membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan,
membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan
dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun
jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana
harian

ORIENTASI :
“Assalamualaikum, bagaimana keadaan T hari ini ? T terlihat segar“.
”Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang
pernah T lakukan?Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat
T dilakukna di rumah sakit. Setelah kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk
kita latih”
”Dimana kita duduk ? bagaimana kalau di ruang tamu ? Berapa lama ?
Bagaimana kalau 20 menit ?

KERJA :
” T, apa saja kemampuan yang T dimiliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya! Apa
pula kegiatan rumah tangga yang biasa T lakukan? Bagaimana dengan merapihkan
kamar? Menyapu ? Mencuci piring..............dst.”. “ Wah, bagus sekali ada lima
kemampuan dan kegiatan yang T miliki “.
” T, dari lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang masih dapat dikerjakan di
rumah sakit ? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua.......sampai 5 (misalnya
ada 3 yang masih bisa dilakukan). Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan
di rumah sakit ini.
”Sekarang, coba T pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini”.” O
yang nomor satu, merapihkan tempat tidur?Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita
latihan merapihkan tempat tidur T”. Mari kita lihat tempat tidur T. Coba lihat, sudah
rapihkah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapihkan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan
selimutnya. Bagus ! Sekarang kita angkat spreinya, dan kasurnya kita balik. ”Nah,
sekarang kita pasang lagi spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus !. Sekarang sebelah
kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil bantal,
rapihkan, dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita lipat selimut, nah letakkan
sebelah bawah/kaki. Bagus !”
” T sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan bedakah
dengan sebelum dirapikan? Bagus ”

“ Coba T lakukan dan jangan lupa memberi tanda MMM (mandiri) kalau T
lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) jika diingatkan bisa melakukan, dan T
(tidak) melakukan.

TERMINASI :
“Bagaimana perasaan T setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapihkan
tempat tidur ? Yach, T ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat
dilakukan di rumah sakit ini. Salah satunya, merapihkan tempat tidur, yang sudah
T praktekkan dengan baik sekali. Nah kemampuan ini dapat dilakukan juga di
rumah setelah pulang.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadual harian. T. Mau berapa kali sehari
merapihkan tempat tidur. Bagus, dua kali yaitu pagi-pagi jam berapa ? Lalu
sehabis istirahat, jam 16.00”
”Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. T masih ingat kegiatan
apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapihkan tempat tidur?
Ya bagus, cuci piring.. kalu begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8
pagi di dapur ruangan ini sehabis makan pagi Sampai jumpa ya”
SP 2 Pasien: Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan
kemampuan pasien.

ORIENTASI :
“Assalammua’laikum, bagaimana perasaan T pagi ini ? Wah, tampak cerah ”
”Bagaimana T, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore kemarin/ Tadi pag? Bagus
(kalau sudah dilakukan, kalau belum bantu lagi, sekarang kita akan latihan kemampuan
kedua. Masih ingat apa kegiatan itu T?”
”Ya benar, kita akan latihan mencuci piring di dapur ruangan ini”
”Waktunya sekitar 15 menit. Mari kita ke dapur!”

KERJA :
“ T, sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan dulu perlengkapannya, yaitu
sabut/tapes untuk membersihkan piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan air
untuk membilas., T bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh ya jangan lupa
sediakan tempat sampah untuk membuang sisa-makanan.
“Sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”
“Setelah semuanya perlengkapan tersedia, T ambil satu piring kotor, lalu buang dulu sisa
kotoran yang ada di piring tersebut ke tempat sampah. Kemudian T bersihkan piring
tersebut dengan menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun pencuci piring.
Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak ada busa sabun sedikitpun
di piring tersebut. Setelah itu T bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak
yang sudah tersedia di dapur. Nah selesai…
“Sekarang coba T yang melakukan…”
“Bagus sekali, T dapat mempraktekkan cuci pring dengan baik. Sekarang dilap tangannya

TERMINASI :
”Bagaimana perasaan T setelah latihan cuci piring ?”
“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari
T. Mau berapa kali T mencuci piring? Bagus sekali T mencuci piring tiga kali setelah
makan.”
”Besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga, setelah merapihkan tempat tidur dan
cuci piring. Masih ingat kegiatan apakah itu? Ya benar kita akan latihan mengepel”
”Mau jam berapa ? Sama dengan sekarang ? Sampai jumpa ”

Latihan dapat dilanjutkan untuk kemampuan lain sampai semua kemampuan dilatih.
Setiap kemampuan yang dimiliki akan menambah harga diri pasien.
2. Tindakan keperawatan pada keluarga
Keluarga diharapkan dapat merawat pasien dengan harga diri rendah di rumah dan
menjadi sistem pendukung yang efektif bagi pasien.
a. Tujuan :
1) Keluarga membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
pasien
2) Keluarga memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki pasien
3) Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih
dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien
4) Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien
b. Tindakan keperawatan :
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2) Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada pasien
3) Diskusi dengan keluarga kemampuan yang dimiliki pasien dan memuji
pasien atas kemampuannya
4) Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri rendah
5) Demontrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah
6) Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan cara merawat
pasien dengan harga diri rendah seperti yang telah perawat demonstrasikan
sebelumnya
7) Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah
SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
di rumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga
diri rendah, menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri
rendah, mendemonstrasikan cara merawat pasien dengan harga diri
rendah, dan memberi kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktekkan cara merawat
ORIENTASI :
“Assalammu’alaikum !”
“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”
“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat T? Berapa lama
waktu Bp/Ibu?30 menit? Baik, mari duduk di ruangan wawancara!”

KERJA :
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah T”
“Ya memang benar sekali Pak/Bu, T itu memang terlihat tidak percaya diri dan sering
menyalahkan dirinya sendiri. Misalnya pada T, sering menyalahkan dirinya dan
mengatakan dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak
Bapak/Ibu memiliki masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya pikiran-
pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Bila keadaan T ini terus menerus seperti
itu, T bisa mengalami masalah yang lebih berat lagi, misalnya T jadi malu bertemu dengan
orang lain dan memilih mengurung diri”
“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”
“Setelah kita mengerti bahwa masalah T dapat menjadi masalah serius, maka kita perlu
memberikan perawatan yang baik untuk T”
”Bpk/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki T? Ya benar, dia juga mengatakan hal yang
sama(kalau sama dengan kemampuan yang dikatakan T)
” T itu telah berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Serta
telah dibuat jadual untuk melakukannya. Untuk itu, Bapak/Ibu dapat mengingatkan T
untuk melakukan kegiatan tersebut sesuai jadual. Tolong bantu menyiapkan alat-alatnya,
ya Pak/Bu. Dan jangan lupa memberikan pujian agar harga dirinya meningkat. Ajak pula
memberi tanda cek list pada jadual yang kegiatannya”.
”Selain itu, bila T sudah tidak lagi dirawat di Rumah sakit, bapak/Ibu tetap perlu
memantau perkembangan T. Jika masalah harga dirinya kembali muncul dan tidak
tertangani lagi, bapak/Ibu dapat membawa T ke puskesmas”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktekkan cara memberikan pujian kepada T”
”Temui T dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu berikan pujian yang yang
mengatakan: Bagus sekali T, kamu sudah semakin terampil mencuci piring”
”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”
TERMINASI :
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan kita ini?”
“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah yang dihadapi T dan bagaimana cara
merawatnya?”
“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah setiap kali Bapak/Ibu
kemari lakukan seperti itu. Nanti di rumah juga demikian.”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk latihan cara memberi
pujian langsung kepada T”
“Jam berapa Bp/Ibu dating? Baik saya tunggu. Sampai jumpa.”
SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan
masalah harga diri rendah langsung kepada pasien

ORIENTASI:
“Assalamu’alaikum Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak/IBu masih ingat latihan merawat anak BapakIbu seperti yang kita pelajari dua
hari yang lalu?”
“Baik, hari ini kita akan mampraktekkannya langsung kepada T.”
”Waktunya 20 menit”.
”Sekarang mari kita temui T”

KERJA:
”Assalamu’alaikum T. Bagaimana perasaan T hari ini?”
”Hari ini saya datang bersama orang tua T. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya,
orang tua T juga ingin merawat T agar T cepat pulih.”
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan
beberapa hari lalu, yaitu memberikan pujian terhadap perkembangan anak Bapak/Ibu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang
telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana perasaan T setelah berbincang-bincang dengan Orang tua T?”
”Baiklah, sekarang saya dan orang tua T ke ruang perawat dulu”
(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan
keluarga)

TERMINASI:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi?”
« «Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada T »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak/Ibu
melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti
sekarang Pak/Bu »
« Assalamu’alaikum »

SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

ORIENTASI:
“Assalamu’alaikum Pak/Bu”
”Karena hari ini T sudah boleh pulang, maka kita akan membicarakan jadwal Tselama di
rumah”
”Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor

KERJA:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah semua
dapat dilaksanakan di rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama T dirawat
dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum
obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh T
selama di rumah. Misalnya kalau T terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran
negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku
membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat K di puskemas
Indara Puri, Puskesmas terdekat dari rumah Bapak/Ibu, ini nomor telepon puskesmasnya:
(081)355002202 xxx
”Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkembangan T selama di rumah

TERMINASI:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S untuk dibawa
pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di PKM Inderapuri. Jangan lupa kontrol ke PKM
sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”

E. EVALUASI
1. Kemampuan pasien dan keluarga

PENILAIAN KEMAMPUAN PASIEN DAN KELUARGA


DENGAN MASALAH HARGA DIRI RENDAH

Nama pasien:
...........................
Ruangan:
..................................
Nama
Perawat:..........................
Petunjuk pengisisan:
1. Berilah tanda (V) jika pasien mampu melakuykan kemampuan dibawah ini
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervisi

No Kemampuan Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl

A Pasien
1 Menyebutkan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki
2 Menilai kemampuan yang masih dapat
digunakan
3 Memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai
dengan
4 Melatih kemampuan yang telah dipilih
5 Melaksanakan kemampuan yang telah
dilatih
6 Melakukan kegiatan sesuai jadwal
B Keluarga
1 Menjelaskan pengertian serrta tanda-
tanda orang dengan harga diri rendah
2 Menyebutkan tiga cara merawat pasien
harga diri rendah (memberikan pujian,
menyediakan fasilitas untuk pasien, dan
melatih pasien melakukan kemampuan)
3 Mampu mempraktekkan cara merawat
pasien
4 Melakukan follow up sesuai rujukan