Anda di halaman 1dari 26

PROFIL ABU BAKAR ASH SIDDIQ

Abu Bakar As-Sidiq

Abu Bakar As-Sidiq adalah orang yang paling awal


memeluk agama Islam (assabiqunal awwalun), sahabat
Rasullullah Saw., dan juga khalifah pertama yang dibaiat
(ditunjuk) oleh umat Islam. Beliau lahir bersamaan
dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. pada 572
Masehi di Mekah, berasal dari keturunan Bani Taim, suku
Quraisy. Nama aslinya adalah Abdullah ibni Abi
Quhaafah.
Berdasarkan beberapa sejarawan Islam, ia adalah seorang
pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang
terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa
menafsirkan mimpi. Berdasarkan keadaan saat itu dimana
kepercayaan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW lebih
banyak menarik minat anak-anak muda, orang miskin,
kaum marjinal dan para budak, sulit diterima bahwa Abu
Bakar justru termasuk dalam mereka yang memeluk Islam
dalam periode awal dan juga berhasil mengajak penduduk
mekkah dan kaum Quraish lainnya mengikutinya
(memeluk Islam).
Abu Bakar berarti ‘ayah si gadis’, yaitu ayah dari Aisyah
istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya
adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang
kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah
(artinya ‘hamba Allah’). Sumber lain menyebutkan
namanya adalah Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Quhafah
adalah kunya atau nama panggilan ayahnya). Gelar As-
Sidiq (yang dipercaya) diberikan Nabi Muhammad SAW
sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-
Shiddiq. Sebagaimana orang-orang yang pertama masuk
Islam, cobaan yang diderita Abu Bakar As-Sidiq cukup
banyak. Namun ia senantiasa tetap setia menemani Nabi
dan bersama beliau menjadi satu-satunya teman hijrah ke
Madinah pada 622 Masehi.
Menjelang wafatnya Rasullullah, Abu Bakar ditunjuk
sebagai imam shalat menggantikannya. Hal ini
diindikasikan bahwa Abu Bakar kelak akan menggantikan
posisi Nabi memimpin umat. Setelah wafatnya
Rasullullah, maka melalui musyawarah antara kaum
Muhajirin dan Anshar memilih Abu Bakar sebagai
khalifah pertama, memulai era Khulafaur Rasyidin. Meski
ditentang oleh sebagian muslim Syiah karena menurut
mereka Nabi pernah memilih Ali bin Abi Thalib sebagai
penggantinya, namun Ali bin Abi Thalib menyatakan setia
dan mendukung Abu Bakar sebagai khalifah.
Segera setelah menjadi khalifah, urusan Abu Bakar banyak
disibukkan oleh pemadaman pemberontakan dan
pelurusan akidah masyarakat yang melenceng setelah
meninggalnya Nabi. Beliau memerangi Musailamah Al-
Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim
dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad
Saw, dan juga memungut zakat kepada suku-suku yang
tidak mau membayarnya setelah meninggalnya Nabi
Muhammad Saw. Mereka beranggapan bahwa zakat
adalah suatu bentuk upeti terhadap Rasullullah. Setelah
usainya pemberontakan dan berbagai masalah internal,
beliau melanjutkan misi Nabi Muhammad menyiarkan
syiar Islam ke seluruh dunia. Abu Bakar mengutus orang-
orang kepercayaannya ke Bizantium dan Sassanid sebagai
misi menyebarkan agama Islam. Khalid bin Walid juga
sukses menaklukkan Irak dan Suriah dengan mudah.
Beliau menjadi khalifah dalam jangka waktu 2 tahun. Abu
Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di
Madinah. Beliau dimakamkan di samping makam
Rasullullah Saw. Selanjutnya posisi khalifah digantikan
oleh Umar bin Khatab.

PERJUANGAN ABU BAKAR


Hanya dalam 2,5 tahun kepemimpinannya, rakyat
mencatatnya sebagai khalifah (pemimpin) Islam yang
sukses memberantas kemiskinan, menciptakan stabilitas
sosial dan politik, serta solidaritas kemanusiaan yang
tanpa batas. Sekalipun dia pedagang kaya, tapi
kesederhanaan dan kelembutan kepribadiannya selalu
mendasari setiap kebijakan dan kepemimpinannya
sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Padahal, boleh dikata berbagai ancaman, disintegrasi dan


cercaan yang dialamatkan kepadanya, tak kalah hebatnya
dibanding pada masa Rasulullah. Namun, itu semua
dihadapi dengan hati bening, jiwa lapang, dan pikiran
jernih. Ia senantiasa mengembalikan semua persoalan
yang dihadapinya kepada ajaran yang hanif.

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-


Tamimi. Nama kecilnya adalah Abdul Ka�bah. Gelar Abu
Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk
Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama
yang masuk Islam). Sedang Ash Shiddiq yang berarti
�amat membenarkan� adalah gelar yang diberikan
kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah
SAW dalam berbagai peristiwa.

Dari garis kedua orang tua, Usman bin Amir bin Amr bin
Sa�ad bin Taim bin Murra bin Ka�ab bin Lu�ayy bin
Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik (ayah), dan Ummu Khair
Salama binti Skhar (suku Quraisy) terlihat, Abu Bakar
termasuk dari suku terhormat, yakni suku Taim (ayah) dan
Quraisy (ibu). Kedua suku ini banyak melahirkan orang
besar.

Sejak kecil, Abu Bakar dikenal sebagai anak yang cerdas,


sabar, jujur dan lembut. Ia menjadi sahabat Nabi SAW
sejak keduanya masih usia remaja. Karena sifatnya yang
mulia itu, ia banyak disenangi dan disegani oleh
masyarakat sekitar, juga lawan maupun kawan saat
memperjuangkan Islam.

Abu Bakar yang juga mahir dalam ilmu hisab itu, dikenal
mempunyai kedudukan istimewa di sisi Nabi SAW.
Bahkan salah satu putrinya, yakni �Aisyah Ra, kemudian
dinikahi Rasulullah.

Secara universal, sesungguhnya prototipe Abu Bakar


mungkin dapat digolongkan sebagai pejuang Islam yang
sejak awal konsisten membela kaum tertindas, tak
pandang bulu. Seperti dikutip Jamil Ahmed dalam Seratus
Muslim Terkemuka, Abu Bakar tak pernah absen dalam
setiap pertempuran menegakkan kebenaran dan
menumpas penindasan.

Perjuangannya itu semakin berat sejak dirinya dipilih


sebagai khalifah, menggantikan Rasulullah yang wafat
pada 632 M. Ketika itu, wilayah kekuasaan Islam hampir
meliputi seluruh semenanjung Arabia, dan terdiri berbagai
suku.

Terpilihnya Abu Bakar yang juga disepakati kalangan


sahabat itu dinilai tepat saat negara dalam kondisi tak
menentu. Dalam pidato baiat yang dilakukan di Masjid
Nabawi, Madinah, Abu Bakar antara lain menyatakan,
"Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat
dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-
haknya seandainya Allah menghendaki, dan orang yang
kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya
sehingga saya dapat merebut hak daripadanya.

Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-


Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya,
janganlah ikuti saya."

Sebagai pemimpin, kedermawanan dan solidaritas


kemanusiaannya terhadap sesama tak diragukan lagi.
Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, kekayaannya
mencapai 40.000 dirham, nilai yang sangat besar saat itu.
Kekayaan itu seluruhnya didedikasikan bagi perjuangan
Islam. Soal ini, sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan,
punya komentar menarik. Katanya, "Zaman khalifah-
khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam.

Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan,


kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar
masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang
sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua,
termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi
memajukan agama Islam.

Ketika wafat, tidaklah ia mempunyai apa-apa kecuali uang


satu dinar. Ia biasa jalan kaki ke rumahnya maupun
kantornya. Jarang terlihat dia menunggang kuda..."

Keikhlasannya yang luar biasa demi kemakmuran rakyat


dan agamanya itu, kata Jurji, sampai-sampai menjelang
wafatnya, Abu Bakar memerintahkan keluarganya untuk
menjual sebidang tanah miliknya dan hasilnya
dikembalikan ke masyarakat sebesar jumlah uang yang
telah ia ambil dari rakyatnya itu sebagai honorarium, dan
selebihnya agar diberikan kepada Baitulmal wat Tamwil,
lembaga keuangan negara.

Stabilitas dan keamanan masyarakat, di antaranya yang


paling menonjol dalam �rapor� pemerintahan Abu
Bakar. Karena dinilai sebagai amanat negara, Abu Bakar
mengangkat Umar bin Khaththab sebagai kadi (hakim).

Namun, selama setahun sejak diangkat sebagai kadi tak


satupun pengaduan dari masyarakat muncul. Ini karena
rakyat terbiasa hidup jujur dan bersih dibanding masa
sebelum Islam. Sementara Ali, Usman, dan Zaid bin
Tsabit diangkat sebagai khatib.

Di medan pertempuran, sang khalifah juga mengajarkan


bagaimana berperang yang baik. Sepuluh pesan yang
kerap disampaikan khalifah yang wafat pada 13 H, dalam
usia 63 tahun itu, ketika hendak melepas pasukannya ke
medan perang adalah: "Jangan berkhianat, jangan
berlebih-lebihan, jangan menipu (berbuat makar), jangan
membunuh lawan dengan cara-cara sadis, jangan
membunuh anak-anak, lelaki lanjut usia, dan wanita.

Juga jangan menebang pohon-pohon kurma yang sedang


berbuah, jangan melakukan pembakaran, jangan
menyembelih domba, sapi, dan unta kecuali hanya untuk
sekadar kebutuhan makan dagingnya. Nanti kalian akan
berjumpa dengan orang-orang yang bertapa dalam biara,
maka biarkanlah mereka dan jangan mengusiknya."n hery
s/berbagai sumber

Dijamin Masuk Surga

Menjadi Muslim yang baik dan selalu taat pada agamanya


tidaklah mudah. Tapi jalan menuju hal itu selalu terbuka.
Sejarah mencatat, Abu Bakar satu dari sekian banyak
sahabat Rasulullah yang dengan tegar dan tabah
menghadapi berbagai cobaan dan tantangan dalam
mengamalkan ajaran Islam.

Tapi jangan pula ditanya seberapa besar kesetiaan Abu


Bakar kepada Rasulullah, atau sejauh mana kualitas
keimanannya kepada Allah.
Soal ini, Nabi sendiri dalam banyak sabdanya secara
khusus berujar tentang diri dan kebaikan Abu Bakar. Kata
Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari,
"Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu
berkata, "Engkau dusta! Sedangkan Abu Bakar berkata,
"Dia benar." Abu Bakar menyantuni aku dengan dirinya
dan hartanya.

Tidakkah kalian berhenti mengganggunya. Sesudah itu,


Abu Bakar tak lagi diganggu." Masuknya Abu Bakar ke
dalam Islam pun tak kalah pentingnya sebagai �ibrah
(hikmah) kita semua. Kisah itu berawal ketika Abu Bakar
bertemu Rasulullah. Kepada Rasul terakhir ini, ia
bertanya, "Ya Muhammad apakah benar apa yang
dituduhkan kaum Quraisy (kaumnya Abu Bakar sendiri,
Red) terhadapmu bahwa kamu meninggalkan tuhan-tuhan
kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri ajaran-
ajaran nenek moyang kita?" "Ya benar! Sesungguhnya
aku ini Rasul Allah dan Nabi-Nya.

Allah mengutus aku untuk menyampaikan risalah-Nya dan


mengajakmu kepada Allah yang benar. Demi Allah, itu
adalah hak. Aku mengajakmu, hai Abu Bakar kepada
Allah Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagi-Nya.
Janganlah kamu menyembah selain Allah dan patuh serta
taatlah kepada-Nya," jawab sang Nabi. Abu Bakar pun
masuk Islam.

Sejak masuknya Ash Shiddiq ke agama terakhir ini,


perjungan dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah makin
kuat. Ia yang termasuk periode awal para pemeluk Islam
itu, menjadikan seluruh jiwa, raga dan harta Abu Bakar,
hanya untuk perjuangan dakwah Rasulullah.

Perlindungan dan pengorbanannya setiap saat terhadap


sang Rasul pun dilakukannya sampai-sampai ia tak
memedulikan lagi dirinya sendiri. Soal ini, Rasulullah,
sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Tirmizi,
bersabda, "Tiada seorang pun bermanfaat bagiku
hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abu
Bakar."

Sosok Abu Bakar yang memang memiliki sifat-sifat yang


sama seperti Rasulullah, di antaranya amanah, tablig
(menyampaikan), fathanah (cerdas), teguh pendirian dan
taat beragama, rendah diri dan selalu mendahulukan
kepentingan orang lain, itulah yang membuat Rasulullah
dalam banyak hal memberikan kepercayaan pada diri Abu
Bakar.
Dengan kepemilikan hartanya yang cukup banyak,
lantaran ia memang saudagar kaya di masanya, Abu
Bakar menjadikan seluruh harta yang dimilikinya hanya
untuk mengabdi di jalan-Nya. Sekalipun dalam kondisi
sakit misalnya, Abu Bakar senantiasa menyambut ajakan
amal baik. Seperti dijelaskan sahabat Umar bin
Khaththab, "Aku tidak pernah mendahului Abu Bakar
dalam mengamalkan kebajikan. Dia yang selalu
mendahuluiku."

Perjuangan dan pengorbanan Abu Bakar yang penuh


keikhlasan itu oleh Allah akan dibalas dengan surga.
Sebagaimana diceritakan Abu Dzaar Ra, ketika Rasulullah
masuk ke rumah �Aisyah Ra, beliau mengatakan Abu
Bakar termasuk dalam al �asyarah al mubasysyiriina bil
jannah (sepuluh orang yang dijamin Rasulullah bakal
masuk surga). Dalam kelompok ini juga ada Umar bin
Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah
bin Ubaidillah, Zubair Ibnul Awwam, Abdurrahman bin
�Auf, Sa�ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu
Ubaidah Ibnul Jarrah.
Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat
berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin
Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu
Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang
ke pasar,” jawab sang khalifah.
Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau
sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah
berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.”
Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana
aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar
mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah.
Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk
khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.
Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk
membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,”
kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk
menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli
manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.
Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun
terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini
uangnya,” ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya
Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk
membeli manisan. “Wahai istriku, uang ini ternyata cukup
banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan
mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya
dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang
dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji
melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.
Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya
Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang
telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku.
Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal,
tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti
berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,”
ujarnya berwasiat.
Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya
diserahkan kepada khalifah penggantinya. “Itu sebagai
pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,”
kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh
orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada
Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati
ayahmu.”
Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan
makna dan pesan. Kita dapat mengambil pelajaran dari
sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus
terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang
khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi
menjaga amanah.
Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati
yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku
pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan
masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki
karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya
berorientasi ke atas.
Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya,
baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Maka
hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup
secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan
sosial. Wallahu ‘alam.

PROFIL Utsman bin Affan

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah


ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai
pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun
sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang
diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia
mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki
dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah
menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu
Ruqayah dan Ummu Kaltsum.
Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan
Bani Umayyah. Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz
bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar
dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (golongan
yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah Saw sendiri
menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang
paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya
kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau
biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar
masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi
perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk
engkau terus duduk dan membetulkan pakaian,
mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu
terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Saw ke
Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy
terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum
muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke
Habbasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak
lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi
Muhammad Saw untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa
Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk
menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan
Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah
hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke
Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.
Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan
berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang,
Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat
Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 1000 ekor
unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham
sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama
dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan
juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli
sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga
200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah
kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk
kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu
Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang
diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum
miskin yang menderita di musim kering.
Setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua,
diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah
selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang
diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan,
Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin
Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya
Abdurrahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin
Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri
hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara
masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman
menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang
berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang
tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman
menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-
betul mapan dan terstruktur.
Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan
perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi
(Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang
menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau
mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya;
membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan
mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid;
membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara,
Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga
membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling
besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk
mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.
Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti
gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan
menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih
kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati
pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol
untuk membunuh khalifah. Khalifah Utsman kemudian
dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari
bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski Utsman
mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak,
namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah
umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada
hari Jumat tanggal 17 Dzulhijah 35 H ketika para
pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan
membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran.
Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw
perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Beliau
dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

PERJUANGAN USMAN BIN AFFAN


1.Merenovasi dan mempercantik masjid Nabawi di Madinah
yang telah dibangun oleh Khalifah Umar Bin Khattab.
2. Membuat mushaf yang standar untuk menghindari
perselisihan pembelajaran Al-Qur'an
kemudianmenggandakannya menjadi 5 mushaf. Adapun panitia
penggandaan diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sedang para
anggotanya terdiri dari :
Abdullah Bin Zubair
Said bin Ash
Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam
Alasan diadakanya penulisan dan penggandaan mushaf Al-
Qur'an adalah :
Banyak para penghafal Al-Qur'an (Khufad) yang gugur dalam
berbagai pertempuran.
Semakin sulit memantau pembelajaran Al-Qur'an karena
kekuasaan islam sangat luas, sehingga masing masing daerah
memerlukan dasar hukum Al-Qur'an agar menyamakan dialek
dalam membaca Al-Qur'an.
Agar ada acuan yang jelas bagi para Qori' di seluruh wilayah
kekuasaan Islam apabila hendak mencocokkanbacaan tentang
Al-Qur'an, jadi tidak harus pergi ke Madinah sebagai pusat
pemerintahan dan pusat kebudayaan Islam.
3. Membentuk angkatan laut yang kuat atas usul Mu'awiyah bin
Abu Sofyan yang menjabat Gubernur di Damaskus, untuk
menjaga keamanan wilayah kekuasaan Islam dari rongrongan
pasukan musuh, terutama pasukan musuh Romawi yang masih
ingin menguasai kota Iskandariyah.
pertempuran untuk mempertahankan Iskandariyah
anatara pasukan Muslim dengan tentara Romawi terkenal
dengan Dzatus Sawari (pertempuran tiang kapal).
4. Memperluas kekuasaan Islam samapai ke berbagai
wilayah, misalnya:
Armenia. Kaum Muslimin yang berdakwah di Armenia
dipimpin oleh Salman bin Rabi'ah.
Afrika (Tunisia), Tripoli (sekarang Libia) yang dipimpin
oleh Abdullah bin Sa'ad.
Azerbaijan, dipimpin oleh Walid bin Uqbah.
Kepulauan Cyprus, dipimpin oleh Muawiyah bin Abu
Sofyan yang kemudian merambah hingga Konstatinopel,
Turki, serta negeri negeri Balkan (Yugoslavia dan
Polandia).

KETELADANAN UTSMAN BIN AFFAN


Utsman bin Affan (sekitar 574 – 656) adalah sahabat Nabi
Muhammad SAW yang merupakan Khulafaur Rasyidin yang
ke-3. Nama lengkap beliau adalah Utsman bin affan Al-
Amawi Al-Quarisyi, berasal dari Bani Umayyah. Lahir pada
tahun keenam tahun Gajah. Kira-kira lima tahun lebih muda
dari Rasullulah SAW. Nama panggilannya Abu Abdullah dan
gelarnya Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab
digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahkan dua
putrinya untuk Utsman; Roqqoyah dan Ummu Kultsum.
Utsman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi
dermawan. Beliau adalah seorang pedagang kain yang
kaya raya, kekayaan ini beliau belanjakan guna
mendapatkan keridhaan Allah, yaitu untuk pembangunan
umat dan ketinggian Islam. Beliau memiliki kekayaan
ternak lebih banyak dari pada orang arab lainya.
Ketika kaum kafir Quarisy melakukan penyiksaan
terhadap umat islam, maka Utsman bin Affan
diperintahkan untuk berhijrah ke Habsyah (Abyssinia,
Ethiopia). Ikut juga bersama beliau sahabat Abu
Khudzaifah, Zubir bin Awwam, Abdurahman bin Auf dan
lain-lain. Setelah itu datang pula perintah Nabi SAW
supaya beliau hijrah ke Madinah. Maka dengan tidak
berfikir panjang lagi beliau tinggalkan harta kekayaan,
usaha dagang dan rumah tangga guna memenuhi
panggilan Allah dan Rasul-Nya. Beliau Hijrah bersama-
sama dengan kaum Muhajirin lainya.
Semasa Nabi SAW masih hidup, Utsman pernah dipercaya
oleh Nabi untuk menjadi walikota Madinah, semasa dua
kali masa jabatan. Pertama pada perang Dzatir Riqa dan
yang kedua kalinya, saat Nabi SAW sedang melancarkan
perang Ghatfahan.
Utsman bin Affan adalah seorang ahli ekonomi yang
terkenal, tetapi jiwa sosial beliau tinggi. Beliau tidak
segan-segan mengeluarkan kekayaanya untuk kepentingan
Agama dan Masyarakat umum.
Sebagai Contoh :
Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari
seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira
sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu.
Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat
umum.
Memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah
disekitarnya.
Beliau mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda,
ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang
Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi
tersebut.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah
memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta
untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim
kering.
Masa Kekhalifahan
Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar
musyawarah dan keputusan sidang Panitia enam, yang
anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin khatab sebelum
beliau wafat. Keenam anggota panitia itu ialah Ali bin Abi
Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin
Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin
Ubaidillah.
Tiga hari setelah Umar bin khatab wafat, bersidanglah
panitia enam ini. Abdurrahman bin Auff memulai
pembicaraan dengan mengatakan siapa diantara mereka
yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan
dirinya mundur dari pencalonan. Tiga orang lainnya
menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman
ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang
meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat
pun terbelah.
Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih
Utsman. Sidangpun memutuskan Ustman sebagai
khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman adalah ipar
Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan
Ali, sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim.
Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun
Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya
adalah murni dari nurani. Ali kemudian menerima
keputusan itu.
Maka Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yang
tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H.
Pengumuman dilakukan setelah selesai Shalat dimasjid
Madinah.
Masa kekhalifannya merupakan masa yang paling
makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya
haji berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai
berdasarkan berat timbangannya.
Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan
perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi
(Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang
menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau
mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya,
membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan
mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh
khalifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotob
biasanya mengadili suatu perkara di masjid.
Pada masanya, khutbah Idul fitri dan adha didahulukan
sebelum sholat. Begitu juga adzhan pertama pada sholat
Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu
untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong
untuk kepentingan pertanian.
Di masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk
pertama kalinya, Islam mempunnyai armada laut yang
tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai
wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada
itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan
wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau
Rodhes digempur. Konstantinopelpun sempat dikepung.
Prestasi yang diperoleh selama beliau menjadi Khalifah
antara lain :
Menaklukan Syiria, kemudian mengakat Mu’awiyah
sebagai Gubernurnya.
Menaklukan Afrika Utara, dan mengakat Amr bin Ash
sebagai Gubernur disana.
Menaklukan daerah Arjan dan Persia.
Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran.
Memperluas Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil
Haram, Mekkah.
Membakukan dan meresmikan mushaf yang disebut
Mushaf Utsamani, yaitu kitab suci Al-qur’an yang dipakai
oleh seluruh umat islam seluruh dunia sekarang
ini. Khalifah Ustman membuat lima salinan dari Alquran
ini dan menyebarkannya ke berbagai wilayah Islam.